Siska (Bag.3 – Tamat)

Malam nya sebelum tidur aku dapet sms. Siska yang kirim. Ada apa ya, gak biasanya. Jangan-jangan…

 

Ndi makasih ya makan malam nya. Unforgetable evening. Sebetulnya sih aku…. ah nggak deh nanti aja. Met tidur ya…

 

Hmmm… apa maksudnya ya…? aku mencoba menghubungi Hp nya tapi sepertinya dia sengaja mematikan HP nya. Tadinya aku berniat membalas sms nya tapi aku urungkan niatku karena aku pikir percuma saja kalau HP nya dia matikan. Akhirnya aku tertidur dengan bayangan Siska menemaniku.

 

Setelah kejadian makan malam itu, aku semakin sering jalan bareng dia. Seminggu bisa tiga sampai empat kali aku jalan bareng dia. Entah itu ke mall, makan, ataupun nonton film. Selama itu kita semakin dekat. Dia sudah tidak malu lagi berjalan bergandengan tangan denganku. Layaknya sepasang kekasih saja. Padahal aku belum mendengar sepatah katapun bahwa dia menerimaku sebagai pacarnya.

 

Suatu saat aku bertanya kepadanya sewaktu kita sedang berjalan-jalan di mall.
 
“Sis…”.
“Hmm…”. Dia menjawab tanpa melihatku karena tangan nya sedang sibuk memilih baju.
“Siska… liat sini dong…”.
“Apa…”. Jawabnya sambil masih memili-milih baju
“Aku mau ngomong”.
“Serius amat… kita duduk di cafe saja…”. Jawabnya sambil menarik tanganku menuju cafe.
“Mas… lemon tea dua…”. Teriak Siska kepada pelayan cafe. Dia sudah mengerti karena kami sering datang ke sini.
 
“Ok… sekarang kita sudah duduk, kamu mau ngomong apa…?”. Tanya dia. Matanya menatap lurus kepadaku.

 

“Tapi jangan marah ya…”.
“Marah kenapa…”. Tanya dia sambil sedikit tertawa.
“Janji ya…”.
“Iya…iya…”. Jawabnya.
“Aku pengen tau status hubungan kita”. Aku bicara serius sambil menatap matanya.
“Status apa…?”. Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Nampaknya dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan.
“Ya… aku dan kamu…”.
“Maksudnya?”. Sambil masih tersenyum.
“Aku pengen tau aja… kita ini sudah pacaran belum sih…?”. Tanyaku. Aku pengen nyubit pipinya yang terus tersenyum itu… gemas.

 

“Maksudmu aku sudah jadi pacarmu apa belum gitu…?”.
“Iya Siska….”. Aku berkata semakin gemas.
“Kamu pikir aku sudah sering jalan sama kamu, makan bareng kamu, nonton bareng, curhat dan sebagainya kamu anggap apa…?”. Eehhh dia malah balik nanya.
“Ya… aku gak tau…”. Jawabku agak bingung.
“Kamu pikir aku mau jalan sama kamu kalau aku ga punya perasaan sama kamu…?”. Yah… nanya lagi.
“Kamu kan gak pernah ngomong, gak pernah ngasih jawaban apa-apa…”. Jawabku
“Memang harus dikatakan ya…?”.
“Aku hanya ingin ketegasan aja…”.
“Tapi kan gak harus… dengan sikapku selama ini juga harusnya kamu sudah tau…”. Bodohnya diriku.

 

“Jadi selama ini…”. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu…”. Aku tidak meneruskan bicara.
“Kamu apa…?”.
“Aku sudah jadi pacar kamu…?”. Antara bahagia dan heran aku bertanya. Dia hanya mengangguk.
“Jadi sekarang aku sudah resmi jadi pacar kamu…?”.
“Memang nya harus di resmikan, kayak yang merried aja…”. Jawabnya.
“Yes…”. Aku berkata agak keras.
“Huss…. pelan-pelan, orang-orang pada liat tuh…”. Aku menutup mulutku. Habisnya aku gak tahan ingin mengungkapkan kebahagiannku.
“Tapi sejak kapan…?”. Tanyaku.
“Gak penting… yang jelas aku punya perasaan yang sama dengan kamu”. Jawabnya. Aku pegang tangannya membawanya ke arah mukaku, dan aku menciumnya.

 

“Andi…. apa-apaan…”. Dia berusaha menarik tanganya tapi tidak sungguh-sungguh menariknya sehingga aku bebas memegang tangannya.
“Pulang yu…”.
“Ayo…”. Jawabnya.
“Kita mau kemana…?”. Tanya dia
“Kita jalan aja yuk…”. Jawabku
“Kamu mau ngajak aku kemana…?”. Tanya dia lagi.
“Ke ujung dunia…”. Jawabku. Dia hanya tersenyum kecil. Dia menggelayut manja dilenganku. Aku serasa menjadi laki-laki sejati. Langkahku tegap, dadaku membusung, hahaha kayak tentara.

 

Aku benar-benar bahagia, apa yang aku cita-citakan terlaksana juga. Aku bahagia karena ternyata aku bisa memilikinya. Aku sudah tidak ragu-ragu lagi dengan perasaanku kepadanya. Aku bisa menumpahkan seluruh kasih sayangku kepadanya tanpa ada ganjalan sedikitpun.
 
Sejak hari itu aku resmi jadi pacarnya. Aku bisa dengan bebas meng-ekspresikan kasih sayangku.

 

Tapi tidak selamanya kisah cinta itu indah. Itu juga yang terjadi kepadaku. Aku dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuatku harus membuang jauh rasa sayangku kepasa Siska. Yang membuatku harus mengubur dalam-dalam harapan dan angan-anganku selama ini kepadanya.

 

Aku mengurung diri di dalam ruangan kerjaku. Aku tidak pernah keluar ruangan. Makan siangpun aku minta di antar ke meja kerjaku. Aku datang ke kantor tepat waktu dan langsung duduk di depan meja. Aku pulang juga tepat waktu tanpa ada kegiatan menunggu dia dulu. Telepon Siska tidak pernah aku jawab, begitupun sms nya tidak pernah sekalipun aku balas.

 

Seminggu kejadian ini berlangsung sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Siska di dalam lift seperti yang pernah aku ungkap di awal cerita. Mungkin memang harus begini akhir kisah cintaku. Lebih baik sekarang dia tahu kenapa aku menjauhinya. Aku sudah siap melupakan dia untuk selamanya.

 

Sore hari selepas jam kerja aku berangkat ke cafe tempat biasa kita bertemu. Aku berjalan santai di dalam mall karena waktu pulang Siska masih lama. Jadi aku pikir masih ada waktu menunggu dia. Tapi aku salah duga, ketika aku sampai dia sudah ada di sana menungguku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku juga tersenyum tapi hambar kurasa.

 

Masih cantik seperti biasa. Sungguh…aku selalu terpesona apabila menatap wajahnya. Matanya selalu menampakkan binar-binar kasih. Aku kemudian duduk di depan dia. Di depannya sudah ada gelas kosong satu dan satu lagi masih tersisa setengahnya pertanda dia sudah cukup lama menungguku disini. Di depanku juga sudah ada minuman yang tampaknya sengaja dia pesan untukku.

 

“Hai… sudah lama nunggu aku..?”. Aku membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk. Matanya agak meredup pertanda ada sesuatu yang mengganjal perasaannya, mungkin tentang aku.
“Kenapa Ndi…?”.
“Apanya yang kenapa?”. Jawabku
“Yang tadi siang aku tanyakan…?”.
“Ooh itu… gak apa-apa…”.
“Gak ada apa-apa kamu bilang…?”. Tanya dia keheranan.
“Kamu tidak menjawa teleponku, tidak membalas sms ku, tidak pernah kelihatan di kantor, tapi kamu bilang tidak ada apa-apa… kamu gimana sih…?”. Tanya dia dengan semangat.

 

“Aku…. gimana ya aku ngasih tau sama kamu…”. Jawabanku menggantung.
“Kenapa Ndi…”. Dia memegang tanganku dan menarik nya. Aku tidak menjawab.
“Kamu sudah bosan sama aku…?”. Wah bosan… tidak mungkin aku bosan menatap wajahnya. Tidak mungkin aku bosan berjalan berduaan dengannya. Tidak mungkin aku bosan berlama-lama berbicara dengannya.
“Nggak…”. Hanya itu kata yang keluar dari mulutku.
“Lalu kenapa… apakah karena aku orang chinesse…?”. Wah dari mana pula pertanyaan itu berasal.

 

“Siska… aku sudah tahu dari pertama melihat kamu bahwa kamu tuh orang chinesse, so what… aku suka kamu”. Jawabku
“Atau apakah aku bukan seorang muslim, jadi kamu menjauhiku…?”. Tanya dia tak kalah sengit.
“Aku sudah tau resiko itu dari semenjak aku menyukai kamu. Jadi tidak menjadi masalah buatku apakah kamu seorang muslim atau bukan. Yang jelas aku menyukai kamu”. Jawabku
“Jadi kenapa Ndi… jawab dong…”. Dia terus mendesakku.
 
“Siska… kamu tahu kan aku menyukai kamu, aku sayang sama kamu bahkan aku sudah menumpahkan seluruh perasaanku kepadamu. Tapi mengapa disaat perasaanku begitu besar kepadamu terjadi sesuatu yang membuatku perasaanku hancur…”.
“Sesuatu apa…?”. Tanya dia

 

“Aku melihat kamu berjalan berduaan di mall ini seminggu yang lalu. Aku tadinya berpikir itu adalah teman kamu, tapi setelah aku perhatikan nampaknya dia bukan sekedar teman karena kamu terlihat mesra sekali berjalan berdua dengannya. Aku sempat iri dibuatnya, kamu terlihat bahagia sekali”. Akhirnya aku menjelaskan juga duduk perkaranya. Dia hanya terdiam mendengar penjelasanku.
“Dan aku tidak hanya sekali melihat kamu bersama dia, dua hari kemudian aku kesini lagi dan seperti malam minggu sebelumnya aku melihat kamu lagi, sedang berjalan berdua dengan dia. Sampai tiga kali berturut-turut aku lihat kamu di sini dan dengan orang yang sama”.
“Itu pacar kamu kan…?”. Tanyaku. Dia hanya diam.

 

“Jawab Sis…”. Aku bertanya lagi. Aku berkata pelan. Walaupun aku tahu dia telah menduakan aku tapi aku masih teramat sayang kepadanya.
“Iya…”. Hanya itu yang terlontar dari bibirnya.
“Duluan siapa dia sama aku…?”. Tanyaku lagi. Dia terdiam lagi.
“Siska…”. Aku terus mendesaknya.
“Dia…”. Jawabnya. Aku mengeluarkan nafas panjang. Terasa berat sekali.
“Berarti kamu menduakan dia…”.
“Tapi Ndi…”.
“Tapi apa…”.
“Aku sayang sama kamu”. Dia berkata lirih.
“Aku juga sayang sama kamu Sis… walaupun ternyata aku kamu jadikan yang kedua tapi rasa sayangku tak akan berubah. Walaupun sakit tapi aku tetap sayang sama kamu”.
 
“Siapa namanya…?”. Tanyaku. Dia terdiam lagi
“Katakan Sis…?”. Tanyaku lagi
“Memang harus ya…?”. Dia balik bertanya
“Aku hanya ingin tau”. Jawabku.
“Kevin… namanya Kevin”. Jawabnya
“Orang mana…?”.
“Orang Kelapa Gading juga”. Jawabnya
“Sejak kapan kamu berhubungan sama dia?”.
“Dia teman kuliahku dulu”. Jawabnya.
Berarti kamu sudah lama pacaran sama dia”. Dia hanya mengangguk.
“Maafkan aku Ndi… aku gak bermaksud menduakan kamu, tapi aku gak punya pilihan lain. Aku sudah punya pacar tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, aku juga sayang sama kamu”.
“Semenjak kita jalan bareng aku sudah bimbang. Tadinya aku ingin nolak kamu, tapi aku gak bisa. Gak tau kenapa aku gak bisa menjawab tidak sama kamu, makanya aku tidak berani menjawab langsung”. Dia berusaha menjelaskan duduk persoalannya. Tapi buatku, melihat dia berdua sama orang lain juga sudah cukup menjelaskan duduk persoalannya.

 

“Tidak ada yang perlu di maafkan”. Aku berkata sambil menyandarkan diri di sandaran kursi.
“Jadi kamu ingin aku memilih antara kamu atau dia…”.
“Aku tidak berkata begitu”. Jawabku.
“Atau kamu ingin aku putus dengan dia dan jalan sama kamu…”.
“Sekali lagi aku tidak berkata begitu Sis…”. Jawabku.
“Setelah apa yang aku lakukan, kamu masih mau menerimaku…?”. Tanya dia lagi.
“Siska… sebaiknya kamu kembali lagi sama dia. Aku rela melepaskan kamu walau sebetulnya berat sekali”.
“Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian, aku tau rasanya diduakan, bagaimana seandainya dia tahu apa yang kamu lakukan, pasti dia juga merasa sakit”.
“Tapi aku juga sayang kamu”. Berkali-kali dia berkata begitu seolah tidak ingin aku tinggalkan.
“Kamu juga tau kan, aku sangat sayang sama kamu”. Dia hanya mengangguk.
“Simpan saja rasa sayang mu padaku, mudah-mudahan suatu saat kita di pertemukan kembali”.
“Tapi apabila suatu saat aku kembali padamu, kamu masih mau menerimaku…?”. Dia bertanya sungguh-sungguh. Aku tidak menjawab apa-apa, tapi kepalaku perlahan mengangguk. Dia sedikit tersenyum tapi masih nampak sedikit kegetiran disana. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tak tahu. Tapi semoga saja apa yang akan dia lakukan sesuai dengan apa yang di cita-citakannya.
“Aku pulang ya… jaga diri baik-baik”. Dia hanya mengangguk.
“Tapi aku masih bolehkan menelpon kamu, sms kamu”. Tanya dia.
“Ya…”. Jawabku, walaupun aku belum tau apakah nanti aku akan menjawab teleponnya atau membalas sms nya.

 

Aku beranjak dari tempat duduk. Tidak ada gunanya aku berlama-lama disini. Hanya akan membuatku semakin sakit. Aku berdiri kemudian menghampirinya. Aku menunduk kemudian mencium keningnya sambil berbisik…

 

“Aku sayang kamu…”. Dia hanya mengangguk. Aku lihat ada bulir-bulir airmata yang siap jatuh. Aku sebetulnya ingin mendekapnya, membawanya kedalam dadaku dan mengatakan bahwa aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan menunggunya. Tapi aku ingin segera pergi dari sini.

 

Aku berbalik dan melangkah menjauh. Aku tidak lagi menengok ke arah dia. Tapi aku rasakan bahwa dia masih menatapku, melihat kepergianku. Biarlah semuanya berlalu menjadi kenangan. Cerita indah bersamanya akan aku simpan rapi di dalam dalam hatiku.

14 thoughts on “Siska (Bag.3 – Tamat)”

  1. hiks…aku gak seneng, ceritane sedih..wes di luar hujan…malah baca cerita sedih..hiks..

    mas, request..bikin cerita yang happy end ya…khan seneng kalau baca cerita percintaan yang bersatu d endingnya…

    mreka khan saling cinta, kenapa tidak bisa memiliki???hiks…

    hujan di luar jendela…!!!

  2. hmmm… jahat bener sih siska.. vi3 ga suka ama orang yang suka mendua… kalo siska tidak mendua, kisahnya mirip ama vi3.. pernah pacaran ama yang “beda” dan vi3 juga chinesse… mirip dah… tapi kisah kudu diakhiri… meski sakit… pernah baca postingan vi3 yang lirik lagunya Glen “Sekali Ini Saja”? Itu karena vi3 inget dia yang pernah ngisi hati vi3 dan harus berpisah karena tidak mungkin bersatu…
    eh vi3 kok malah jadi bikin cerita sendiri? hehehehe.. maap…

  3. Great exe ! Sad ending asiik. Dalam kehidupan emang tidak selalu sesuai dengan harapan. That’s the true. Ooo…Exe. Akhir yang bahagia setidaknya bagi Siska. Soalnya, khan dia bakal apess banget kalau nrimo kamu…ha..ha..ha

  4. Mas… jangan begitu ngapa Ending ceritanya…
    Kayak Kisah Cinta ku aja… diduakan… hik.. hik.. hik…

    Mendingan gini akhirnya Kevin tertabrak kereta Api dan akhirnya Siska balik lagi ke Andi tapi Andi udah punya istri.. akhirnya di poligami deh..

    Lho..? kok jadi nyangkut2 ke poligami… iya.. khan lagi ngetrend sekarang…

  5. ini dia, ending yg ditunggu2.. hehe… tp koq byk yg ga setuju yah.padahal kan sad ending itu langka. hidup mas exe…
    ditunggu cerpen berikutnya… 🙂

  6. *hah..* smoga ini bukan kisah nyata yah exe… klo pun nyata, smoga dikau atau yg merasakan nya bisa mendapat yang lebih baik secepatnya amiin 🙂

  7. Bingung nih ada yang suka sad ending ada yang nggak.
    *mei : sorry menyory membuat dirimu sedih 🙁
    *anie : Iya… 🙁
    *iko : semua orang bisa mendua
    *vi3 : Teringat masa lalu ya…
    *si jagoan makan : wahaha apes ya kalau sama aku 😀
    *putra : tull
    *crushdew : skenario sinetron? masih harus banyak belajar 🙂
    *phi6961 : Memang poligami sekarang lagi ngetren. Apa bikin cerita poligami aja yach 😀
    *Anonymous : Iya banyak yg ga setuju, tapi gmana ending nya memang begitu 🙂
    *mr.cappuccino : Yup wanita juga bisa mendua tapi jgn curiga sama pacar ya… 😀
    *liza : Amiin
    *spedaman : tengkyu
    *yodee : tinggal pilih fiksi boleh beneran boleh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!