Siska (Bag. 2)

Semenjak tahu nomor HP nya aku jadi sering menelepon dia. Ternyata di rumah dia bisa lebih santai kalau aku hubungi. Tapi walaupun begitu aku enggan menanyakan nomor telepon rumahnya. Lebih enak kalau menelepon dia di Hp, lebih privat gitu.

 

Biasanya aku telpon dia sekitar jam tujuh malam. Biasanya dia sudah ada di rumah dan sudah santai.

 

“Hai Siska…”. Aku sudah tidak lagi memulai pembicaraan dengan basa-basi selamat malam atau apalah itu. Soalnya sudah mulai akrab berbicara dengan dia. Aku rasa dia juga demikian. Sudah mulai berbicara terbuka kepadaku.
“Hai ndi…, ih kesel deh hari ini…”. Katanya.
“Ada apa memang nya…?”. Tanyaku.
“Aku di marahin customer Ndi, sebel banget deh. Bukan aku yang salah kok. Dia sendiri yang salah order, bukan salah aku dong kalau aku kirim sesuai dengan yang dia pesan”. Dia bicara panjang lebar.

 

“Oh gitu… terus akhirnya gimana?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Ya akhir nya di batalin, aku jadi di omelin sama atasanku, sama orang gudang, ah sebel deh pokok nya”. Dia bicara masih agak kesal.
“Sabar aja ya… kalau kerja memang gitu, harus tahan kalau ada kesalahan”. Aku mencoba menghiburnya.
“Tapi kan bukan salahku…”. Masih dengan nada kesal.
“Iya memang bukan salah kamu, tapi kamu harus sabar kalau jadi sasaran kemarahan orang. Kamu kan bekerja baru beberapa bulan, masih banyak yang harus kamu pelajari”. Aku menambahkan.

 

“Tapi aku masih kesel…”. Jawabnya lagi.
“Iya kesel boleh..tapi jangan keterusan ya… senyum dong… biar keselnya hilang…”. Aku mencoba mencairakan kekesalannya.
“Hehe iya sih.. kenapa aku keterusan ya?”. Jawabnya.
“Nah gitu dong… kan enak, jadi gak stress hehe”. Akhirnya.
 
“Kamu dah makan?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Belum nih… kenapa? Mau ngajakin? Mau dong di traktir… hehe”. Jawabnya. Kali ini dia sudah mulai bisa bercanda.

 

“Boleh ntar aku jemput ke rumah ya hehe”. Jawabku.
“Nggak usah… aku udah makan kok, tadi waktu pulang kerja makan dulu”. Kepancing juga dia.
“Kamu tuh… lagian aku juga belum tau rumah kamu, bagaimana aku bisa ke sana?”.
“Eh iya deng… kamu belum tau rumahku ya”. Jawabnya.
“Boleh dong sekali-kali main ke sana”. Tanyaku.
“Boleh aja… tapi di sini ada anjing galak, tar kamu di gigit”. Jawabnya.
“Kan ada kamu yang ngobatin hehe”. Jawabku sekenanya.
“Huuu maunya tuh”. Aku tertawa mendengarnya karena di ujung sana pastinya dia sedang mencibir.

 

“Mmmm Sis… mau gak satu saat aku ajak kamu makan?”. Aku nekad bertanya. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Mumpung aku sudah dekat sama dia.
“Boleh…boleh… Kapan?”. Jawabnya. Wah dia langsung mau. Aku bingung juga nih, kapan ya.. dan dimana soalnya aku belum tau selera dia.
“Kalo pulang kerja gimana?”. Tanyaku
“Boleh… kapan?”. Wah nembak lagi dia. Kapan ya…
“Besok jumat gimana? kan besoknya libur jadi waktunya lebih santai”. Jawabku
“Boleh… kamu mau ngajak makan di mana?”. Bingung lagi aku.
“Nah itu dia… aku belum tau selera kamu, jadi mending kamu deh yang pilih tempatnya”. Jawabku.

 

“Kok aku yang pilih… kan kamu yang ngajak. Aku jadi gak enak”.
“Gak apa-apa… kalo aku makan di mana aja ok, tapi kalo cewek kan biasanya punya tempat favorit gitu”. Alasan yang aku cari-cari sebetulnya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada nanti dia kecewa mendingan dia yang pilih sendiri.
“Oh gitu ya… kalau begitu di La Piazza Kelapa Gading aja bagaimana…?”. What… La Piazza… bisa bangkrut nih, batinku.
“Ok deh kalo gitu, besok pulang kerja kita ketemu di sana ya…”. Jawabku
“Udah dulu ya… besok aku telepon lagi”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Ok daah”.
“Daah”. Jawabku.

 

Yes… aku besok akan makan malam sama dia. Tapi… La Piazza nih, bisa abis duitku. Tapi gak apalah, yang penting aku bisa berduaan sama Siska.

 

Besok nya aku sudah gak sabar menanti sore. Rasanya lama hari ini. Apa aku sudah jatuh hati sama dia. Sampai tidak karuan begini perasaanku. Padahal hanya makan malam saja, nothing else. Tapi rasanya seperti mau menghadapi ujian matematika yang gurunya killer. Huh… hatiku tidak bisa di ajak kompromi, selalu aja dagdigdug. Padahal yang di ajak makan mungkin tidak punya perasaan apa-apa. Ah biar saja, toh cuma makan malam bukan ketemu calon mertua…lho apa maksudnya hehehe…

 

Siang hari akhirnya ku telepon dia di kantornya.
 
“Halo Sis…”.
“Halo Ndi…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanyaku
“Mmmm apa ya…?”. Jawabnya
“Lho… yang semalam itu…?”.
“Yang malam apa…?”. Jawabnya lagi.
“Masa sudah lupa… kan janji mau makan malam…”. Aku mulai kesal di buatnya. Baru malam tadi bicara masa sudah lupa lagi.
“Oh aku janji ya… lupa tuh…”. Jawab dia seenaknya.
“Ya udah kalo gitu, udah ya daah”. Aku memutuskan hubungan telp tanpa menunggu dia menjawab apa-apa lagi. Biarlah kalau memang dia lupa.

 

Satu menit kemudian Hp ku berbunyi. Aku lihat di layar HP ku yang telp Siska. Angkat jangan ya… Akhirnya telepon aku jawab juga.
 
“Halo…”. Aku mulai bicara.
“Ndi… marah ya… hahaha…”. Terdengar dia tertawa di seberang sana. Kalo dalam keadaan biasa mungkin akan terdengar indah di telingaku, tapi berhubung aku sedang kesal kepadanya jadi terdengar aneh di kupingku.
“Jangan marah ya… aku bercanda kok”. Masih terdengar sisa tawa di ujung sana.
“Oh gitu… kirain…”. Jawabku
“Kirain apa… hehehe… Serius amat… kenapa sih kamu…?”. Tanya dia.
“Gak apa-apa sih cuma… ya… gak apa-apa sih”. Jawabanku menggantung. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku sangat mengharapkan untuk bisa jalan bareng dia.

 

“Kenapa sih pengen banget jalan sama aku?”. Uh dia langsung nebak isi hatiku.
“Ya… pengen aja jalan sama kamu, pengen kenal lebih dekat”. Jawabku
“Lho kan sekarang juga sudah kenal”.
“Kan belum dekat”. Jawabku lagi
“Sedekat apa?”. Tanya dia lagi. Ini anak maunya apa sih sebetulnya. Kayak mau introgasi aja.
“Sangat dekat”. Aku jawab sekenanya saja. Akan aku layani pertanyaanya.
“Kalau sudah dekat, mau apa?”. Dia nanya makin jauh.
“Mau lebih dekat lagi”. Jawabku. Permainan apa yang sedang dia jalankan? Pertanyaanya semakin menjurus.
“Kalau sudah semakin dekat?”. Aduh apa sih maunya.
“Nempel kali…”. Jawabku sekenanya.
“Hahaha…”. Dia tertawa.

 

“Jadi bagaimana entar sore? Jadi kan…?”. Aku tanya setalah dia selesai tertawa.
“Ya jadi lah…”. Jawabnya.
“Aku tunggu di sana ya”.
“Apa nggak bareng aja dari sini?”. Hah bareng… Bisa heboh kantorku.
“Wah gak usah, aku bawa motor. Jadi aku duluan saja ya…”. Jawabku
“Oh begitu… ya udah. Aku sampe di sana sekitar jam enam”.
“Ok… sebelum jam enam aku sudah di sana”. Jawabku
“Kalau begitu sampai nanti sore ya… dah…”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Daah…”. Jawabnya sebelum menutup telepon.

 

Lega deh… mudah-mudahan nanti sore segalanya lancar tidak ada halangan apa-apa. Soalnya aku sudah ingin mengajak dia jalan semenjak aku kenal sama dia. Hmmm… kenapa ya? Ada sesuatu yang membuat aku ingin dekat sama dia. Entah apa itu.

 

Sore hari selepas pulang kerja aku langsung menuju ke Kelapa Gading tempat kita janjian. Sementara dia belum kelihatan karena memang jam pulang kantornya lebih lembat setengah jam dari kantorku.

 

Tempat parkir motorku cukup jauh dari La Piazza tidak seperti parkir mobil yang bisa langsung masuk ke sana. Sampai di dalam aku berjalan berkeliling. Bingung juga nih dimana aku makan sama dia. Akhirnya aku duduk di depan panggung yang biasanya menggelar live music. Aku lihat sekeliling masih sepi. Tapi kios yang menjajakan makanan sudah buka semua. Aku tinggal menentukan akan menunggu dia di mana dan rencana makan malamku di mana.

 

Sudah jam enam sore. Tapi dia belum kelihatan juga. Mungkin kena macet di jalan. Maklum ini akhir pekan. Biasanya semua orang keluar rumah. Akibatnya jalan menjadi macet. Jam enam seperempat HP ku berbunyi. Siska yang telepon.
 
“Halo Ndi… aku sudah sampai nih, kamu di mana?”. Tanya dia.
“Aku ada di tempat makan yang ada panggung musik nya”. Jawabku
“Oh di sana… aku ke sana sekarang”.
“Ok aku tunggu”. Jawabku

 

Tidak sampai sepuluh menit yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dia memakai atasan jas hijau tua dan bawahan memakai rok hijau tua juga. Hmm gaya eksekutif muda nih, pikirku. Padahal yang aku tahu sehari-hari dia memakai pakaian biasa saja. Biasanya dia memakai kemeja lengan pendek dan bawahan memakai celana panjang. Malam spesial kali. Kan mau makan malam sama aku. Huh geer kamu.

 

Dari jauh aku lihat dia sudah tersenyum dan melambaikan tangan. Aku juga tersenyum dan melambaikan tangan. Benar-benar cantik dia malam ini. Setelah sampai aku berdiri menyambutnya.
 
“Hai Sis… pa kabar”. Entah kenapa aku jadi grogi. Kenapa harus kata itu yang muncul. Apa tidak ada kata lain, misalnya hai sayang atau hai honey, hey dia belum jadi pacar kamu.
“Baik… lama ya nunggu aku?”.
“Nggak sebentar kok, lagian lama juga gak apa-apa. Aku pasti nunggu kamu”. Jawabku
“Maaf ya soalnya macet tadi di jalan”. Dia nampaknya tidak merespon jawabanku. Kenapa ya, kok kelihaannya dia jadi agak kaku. Tidak seperti di telepon selalu penuh canda.
“Nggak apa-apa Sis, oh iya jadi kita makan di mana?”. Aku langsung menanyakan tempat dimana kami akan makan.

 

“Kalau di sana gimana?”. Dia menunjuk ke arah pojok. Di sana ada kedai seafood.
“Ok… yuk kita ke sana”. Jawabku. Akhirnya aku berjalan berdua dengannya menuju ke arah kedai seafood. Suer… aku jadi kikuk, grogi. Tampaknya diapun demikian.
 
Setelah sampai di sana kamipun langsung duduk. Aku menggeser kursi dan mempersilahkannya duduk duluan.
 
“Makasih…”. Dia berkata. aku hanya tersenyum dan kemudian menggeser kursi di depannya lalu duduk berhadap-hadapan dengannya. Seorang pelayan datang menghampiri kami.
“Selamat malam mas, mbak, mau pesan apa?”. Si pelayan bertanya.
“Kamu mau pesan apa Sis…?”. Aku bertanya kepada Siska. Dia kemudian melihat ke arah daftar menu yang ada di depan kami.

 

“Aku pesan… udang goreng saus mentega, kalau kamu Ndi…?”. Dia balik betanya kepadaku. Aku juga melihat ke arah daftar menu yang aku pegang.
“Aku udang goreng juga tapi yang saus pedas”. Jawabku.
“Minumnya…?”. Si pelayan bertanya lagi.
“Kamu minum apa Sis..”. Tanyaku lebih dulu pada Siska.
“Aku Jus jeruk”. Jawabnya.
“Aku teh botol mbak, tapi pakai es”.
“Saya ulangi pesanannya ya… Udang goreng saus mentega satu, udang goreng saus pedas satu, jus jeruk satu dan teh botol pakai es satu”. Pelayan tersebut mengulangi pesanan kami. Aku mengangguk dan mengiyakan. Kemudian pelayan tersebut berlalu.

 

“Eh kok sama… pesan udang juga?”. Tanya Siska
“Ah nggak apa-apa cuma pengen saja pesan udang”. Jawabku, padahal aku kurang familiar sama seafood dan yang aku suka cuma udang goreng.
“Oh begitu…”. Hanya itu komentarnya. Kami saling diam untuk beberapa saat. Siska hanya diam dan sekali-kali melihat ke arahku. Aku pun demikian. Tapi bedanya aku selalu memperhatikan dia. Dia benar-benar cantik. Aku tidak salah menyukai dia.
 
“Kenapa…?”. Dia mulai membuka suara.
“Apa… eh kenapa…”. Aku tergagap.
“Kamu kok seperti menelanjangi aku…”.
“Aku emm… habis kamu cantik sih…”. Jawabku spontan. Wah aku salah ngomong nih. Tapi dia hanya tersenyum. Pipinya bersemu merah. Kelihatan sekali karena kulit nya putih.

 

“Gimana kerjaan hari ini, lancar…”. Aku mencoba membuka percakapan dengan dia.
“Lancar…”. Jawabnya.
“Nggak ada yang bikin kesel lagi…”. Tanyaku
“Nggak ada sih hehe…”. Dia mulai tersenyum.
“Syukur deh kalau begitu”. Jawaban standar keluar dari mulutku. Tak lama kemudian makanan sudah datang. Aku mempersilahkan dia makan.
“Ayo Sis, di makan…”. Aku berkata sambil mempersilahkan.
“Iya…”. Jawabnya. Dia menunduk sebentar, sepertinya dia sedang berdoa. Aku hanya memperhatikannya. Setelah selesai dia kemudia mulai makan setelah sebelumnya mengajakku.

 

Sambil makan kami mulai berbicara.

“Boleh aku nanya Ndi…?”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu pengen banget ngajak aku jalan?”. Wah masih yang tadi siang nih.
“Emang nggak boleh…”. Jawabku
“Ya boleh aja… tapi kenapa”. Tanya dia masih penasaran. Aku diam sejenak.
“Aku ingin lebih mengenal kamu. Seperti yang aku bilang tadi siang”.
“Memang kamu mau temenan sama aku? aku kan bukan… apa ya namanya…?”. Dia tidak melanjutkan.

 

“Memang ada apa…?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Gimana ya ngomongnya… maaf ya Ndi, sebelumnya. Aku kan bukan dari golongan kamu”.
“Golongan… maksudnya apa… golongan apa…?”. Aku jadi penasaran.
“Kamu tahu sendiri kan, aku ini dari golongan minoritas. Biasanya jarang ada yang mau bergaul dengan orang seperti aku”. Jawabnya. Aku sudah mengerti yang dia maksud.
“Maksud kamu Etnis…”. Dia mengangguk mengiyakan.
“Siska… aku berteman sama siapa aja. Sama orang apa aja, yang penting dia baik”. Jawabku.
“Tapi biasanya mereka selalu menganggap rendah orang-orang seperti aku”. Terlihat nada serius dalam tatapannya.

 

“Siapa bilang… setahuku tidak ada yang bersikap seperti itu, kalaupun ada mungkin hanya segelintir orang saja yang bersikap demikian. Jangan kan kamu, aku aja sering di rendahkan orang. Jadi jangan di anggap orang-orang seperti itu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, tidak ada yang rendah tidak ada yang tinggi. So lupakan saja hal-hal seperti itu, Ok”. Fuih… dari mana datangnya kata-kata itu, aku sendiri heran. Tapi memang betul, aku sendiri menganggap semua orang sama tidak ada yang beda. Aku harus mencairkan suasana ini. Tapi ternyata dia yang memulai duluan.
 
“Tapi aku masih penasaran… kenapa kamu pengen ngajak aku jalan”. Ya…. itu lagi. Tapi sekarang dia sudah mulai tersenyum lagi.
“Nah gitu dong… kan enak… tapi kenapa itu lagi yang ditanyakan…?”.
“Ya pengen tau aja… ga boleh…”. Jawabnya.
 
Karena aku suka kamu. Dari pertama melihat kamu aku sudah suka. Mau gak kamu jalan bareng sama aku. Mau gak kamu jadi pacarku. Mau gak kamu jadi kekasihku. Aku hanya berkata dalam hati. Masa harus aku ungkapkan sekarang… aku pikir belum saatnya. Dia belum tahu siapa aku.

 

“Ndi… Ndiiiii… “. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku.
“Kok jadi bengong sih…”.
“Ada yang dipikirin ya… “.
“Mikirin siapa… hayo…”.
“Nggak… nggak apa-apa…”. Jawabku.
“Tapi kok diam begitu… sambil ngeliatin aku”.
“Ada yang aneh dengan diriku…”. Dia mulai menggoda.
“Kamu cantik…”. Walah aku kelepasan lagi. Raut mukanya langsung berubah. Dia diam kemudian menunduk. Aku semakin merasa bersalah. Tapi kemudian dia melihatku lagi, tersenyum. Aku lega.

 

“Ah masa… sudah dua kali kamu bilang aku cantik tapi kan di kantor yang cantik gak cuma satu lho”. Nih anak… kayakanya menggodaku.
 
Iya tapi aku suka kamu. Jawabku dalam hati.
 
“Hei… diam lagi… aku pulang nih…”.
“Eh jangan… jangan…”. Dia berdiri tapi kemudian dia duduk lagi sambil tersenyum. Kena deh aku dikerjain.
“Jawab dong…”.
“Jawab apa…”.
“Yang tadi…”.
“Yang mana…”.
“Yang barusan… kalau nggak jawab aku pulang aja…”. Dia mengancam tapi tampaknya tidak sungguh-sungguh.
“Iya… iya… aku jawab”. Aku kumpulkan keberanian. Tidak mudah ternyata untuk mengungkapkan perasaan kepada cewek yang satu ini.
“I’m waiting….”. Dia berkata lagi.
“Karena dari sekian cewek yang aku kenal… yang cantik hanya kamu, yang manis hanya kamu, yang kuingat hanya kamu, dan… yang aku suka hanya kamu”. Meluncur juga kata-kata itu.

 

Tapi apa jawaban yang aku dapat.

 
“Hahaha…. gombal…gombal…”. Dia tertawa. Serius kok dibilang gombal sih.
“Kamu tuh ada-ada aja, jangan gara-gara sering telepon aku dan ngajak jalan aku trus kamu jadi suka sama aku”.
“Jalan juga kan baru sekali ini, masa langsung suka”. Dia meneruskan.
“Kalau jalannya sering gimana…?”. Tanyaku.
“Ya… pikir-pikir dulu lah…hehehe…”. Jawabnya
“Maksudnya…”.
“Ya… kita lihat saja nanti…”. Jawabannya menggantung. Membuatku penasaran.

 

Aku kemudian diam setelah mendengar kata-katanya. Tapi memang benar sih, masa baru kenal beberapa minggu aku langsung suka. Tapi dia juga yang terus-menerus mendesak aku, ingin tahu maksudku mengajak dia jalan.
 
“Kok jadi diem… marah ya…”.
“Kenapa harus marah… kamu nggak nolak aku kan”. Jawabku.
“Masih banyak waktu yang bisa aku gunakan untuk menunjukkan bahwa aku serius, betul gak…?”. Lanjutku lagi.
“Betul juga… kita lihat saja nanti, ok”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Kita pulang yu…. sudah malam…”. Ajaknya. Memang waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Tak terasa waktu berlalu.
“Iya ya… sudah malam. Lagian aku besok ada kerjaan di kantor…”. Jawabku.
“Besok aku telepon ya…”.
“Iya.. iya… “. Jawabnya.

 

Setelah membayar makanan, aku berjalan berdua dengannya. Sambil berjalan aku lihat kiri-kanan sepertinya banyak orang yang melihat ke arah kami. Sepertinya Siska pun menyadari hal itu. Kami saling pandang lalu tertawa kecil. Reflek aku menarik tangannya dan berjalan cepat. Aku mengantar nya ke tempat mobilnya di parkir. Aku masih menggenggam tangannya walau sudah ada di depan mobilnya.

 

“Kenapa… aku gak akan kemana-mana kok…”. Dia berkata sambil tertawa kecil.
“Eh iya sorry… “. Aku melepaskan genggaman tanganku.
“Habis… banyak orang ngeliatin tadi”.
“Biarin aja… asal jangan mengganggu kita”. Jawabnya.
“Makasih ya udah ngajak aku makan”.
“Sama-sama”. Jawabku.
“Boleh ya lain kali aku mengajak kamu jalan…”.
“Boleh aja… asal kamu yang traktir… hehehe…”. Jawabnya.
“Jangan takut… itu pasti…”.
“Nggak deng… nanti sekali-kali aku yang traktir kamu dech…”. Dia meralat ucapannya.
“Udah ya aku pulang dulu”. Dia berkata setelah berada di belakang kemudi mobilnya.
“Hati-hati ya di jalan”.

 

“Iya… kamu juga hati-hati ya… daah”. Kemudian mobilnya melaju meninggalkan aku.
“Daah… “. Aku melambaikan tangan. Dia tersenyum.

 

Aku kemudian berjalan meninggalkan tempat parkir mobil. Kemudian aku masuk lagi ke dalam Mall karena tempat parkir motorku berada jauh di belakang Mall. Selama berjalan ke tempat parkir aku mengingat lagi dia. Makan malam yang… bagaimana ya. Makan malam yang membuatku penasaran. Aku akan terus mendekatinya. Sampai dapat.
 

 

14 thoughts on “Siska (Bag. 2)”

  1. amiinn.. klo aku sih kpengen di baca oleh orang nya, biar dia bisa ngambil keputusan lanjut atau kabur, jadi exe nya ga buang waktu hehe…. smoga gayung bersambut yah exe amiinn…
    btw adik nya iman udah terjadi sebelum liburan lagiii 😀

  2. Tresno : Gpp biar dia tau.
    Liza : amiin juga. Oh adiknya iman sudah ada sebelum liburan toh.
    dita : gak apalah mengingatkan dikit hehe…
    Si Jagoan Makan : Hahaha
    Ewi : Baca dulu bag satu
    Bverly : Ayok, aku tunggu di La Piazza ya :D. Eh nama sepupumu Siska juga ya… jangan2…
    Spedaman : Siap Spedaman hehe 😀
    pyuriko : yoi…
    radioholicz : Nggah ah, sinetron mah terlalu tinggi hehehe
    tyka82 : Gitu ya.. memang sih serba salah 😀
    ratnaningsih : masih, episode tiga, terakhir.
    mei : lanjuuutt 😀

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!