Siska (Bag. 1)

“Hai ndi…”. Suara yang sangat kukenal menyapaku.
“Hai Sis…”. Aku menoleh dan tersenyum. Aku paksakan tersenyum walaupun sebetulnya aku gak mau. Mungkin lebih mirip melebarkan bibir saja.

 

Aku bertemu dia di dalam lift. Uh… sialan kenapa jam segini dia bisa keluar kantor ya, gak biasanya. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya seminggu terakhir ini.

 

“Kamu kemana aja…? Kok gak pernah kasih kabar? Aku telpon gak pernah di angkat, sms ku gak pernah di balas… kenapa?”. Tanya dia seperti berondongan pistol yang menerjangku. Aku hanya terdiam. Dia menatapku menanti jawabanku.

 

“Andi…”. Dia berkata lagi.
“Ya…”. Jawabku
“Kok diam… kenapa? Aku salah apa sama kamu?”. Tanya dia lagi.
“Nggak apa-apa, cuma…”.
“Ting… Tong…”. Bel dalam lift berbunyi. Tak terasa sudah sampai lantai satu. Aku keluar dari dalam lift dan Siska pun keluar. Aku masih diam.
“Ok deh… Sepertinya kita harus bicara. Aku tunggu di tempat biasa kita makan. Pulang kerja aku langsung ke sana. Aku keluar kantor dulu sekarang. Daaah…”.
“Daaah”. Jawabku. Aku masih terdiam. Berdiri di depan ruangan lift. Didepanku aku lihat Siska sudah masuk ke dalam mobil. Kemudian mobilnya melaju dari tempat parkir. Saat melewatiku dia membunyikan klakson. Aku melambaikan tangan sampai mobilnya melaju melewatiku.
 
Aku masih berdiri. Masih belum menyangka bertemu dia lagi.

 

“Woi…”. Ada yang berteriak di telingaku. Aku hampir saja melompat. Terdengar tawa dari belakang.
“Jangan banyak bengong, ayam tetangga gue mati kemaren”. Ternyata teman kerjaku si Erik.
“Apa hubungannya ama gue”. Jawabku
“Mati nya gara-gara bengong”.
“Iya bengong nya di tengah jalan”. Jawabku. Dia hanya tertawa. Aku kemudian berjalan bersama dia masuk ke dalam ruangan kantorku. Ruangan kantorku berada di lantai paling bawah bersatu dengan tempat parkir. Sampai di kantor aku duduk dan kemudian terdiam. Teringat kejadian tiga bulan terakhir ini.
 
***

 

Aku pertama kali melihat dia di tempat parkir. Waktu itu sudah jam pulang kantor. Aku yang sedang berdiri di tempat parkir, menghalangi mobilnya yang akan keluar dari area parkir.
 
“Hei minggir…”. Temanku Reza yang bicara.
“Apaan sih…?”. Jawabku.
“Itu mobil mau keluar, gak liat apa…”. Dia bicara lagi. Aku kemudian menengok ke belakang.
“Oh…”. Mulutku spontan membetuk huruf O. Aku langsung minggir dan mempersilahkan mobil tersebut keluar. Yang membuatku melongo bukan mobilnya tapi yang berada di balik kemudinya. Cewek!!! cakep lagi. Ketika dia lewat di depanku dia tersenyum. Aku balas senyumnya. Wuihh maniiiis sekali. Aku masih melihat mobilnya sampai dia keluar dari pelataran parkir kantor.

 

“Hoi…. bengong aja… cakep ya…. emang cakep… hehe”. si Reza temanku cengengesan.
“Iya sih cakep…”. Jawabku.
“Naksir ya…”.
“Hus… enak aja, masa baru liat langsung naksir”. Jawabku.
“Lha… itu tadi sampai bengong melongo gitu, bukannya naksir”. Dia kembali cengengesan.
“Dah ah… tuh celana loe kena rokok…”. Jawabku sekenanya.
“Mana.. mana…”. Teriak Reza kaget.
“Cari sampai tua… emang nya eloeu lagi ngeroko… heheh”. Jawabku sambil pergi dan kemudian tertawa penuh kemenangan.
“Haah sialan.. kutukupret.. “. Teriaknya sambil mengejarku.

 

Aku dan Siska berkantor di gedung yang sama. Dia berkantor di lantai dua sedangkan aku berkantor di lantai dasar. Biasanya seluruh karyawan satu gedung makan siang bersama-sama di lantai empat. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia atau aku yang tidak memperhatikan barangkali. Setelah beberapa hari melihat dia di kantin baru aku tahu dari rekan sejawatku di lantai dua bahwa dia adalah karyawan baru. Satu bulan yang lalu dia masuk katanya. Bahkan namanya pun belum ada yang mengenal di lingkungan kantornya. Setiap aku tanya kepada karyawan lantai dua jawabannya selalu tidak tahu. Heran ya, kok satu kantor nggak tahu nama. Apa aku yang terlalu bernafsu ingin mengenal dia. Tak tahulah. Yang jelas setelah beberapa hari berlalu aku semakin sering memperhatikan dia. Jadi ingin berkenalan. Biasalah, naluri laku-laki, setiap ada yang cakep sedikit pengen kenalan hehe.

 

Hari itu jumat sore. Aku jadi teringat dia terus. Apa benar aku naksir dia. Ah… aku harus tahu siapa namanya dimana rumahnya. Tapi bagaimana caranya ya? Masa aku harus ke lantai dua lalu mencari-cari dia hanya untuk kenalan… malu dong sama teman yang kerja di lantai dua. Bisa heboh dunia kalau aku melakukannya heheh. Atau aku cegat saja dia di tempat parkir. Biasanya kalau di tempat parkir tidak banyak orang. Hmm sepertinya cara terakhir yang akan aku pilih.

 

Ketika dia keluar dari lift aku hampiri dia. Dia berjalan cepat menuju mobilnya. Dia memakai celana panjang hitam dan kemeja pink lengan panjang. Serasi dengan warna kulitnya yang putih. Hampir saja aku tidak bisa mengejarnya. Sepertinya dia tahu kalau ada yang mengikutinya. Dia memperlambat langkahnya dan kemudian menoleh kesamping, kebetulan aku sudah ada di sampingnya.

 

“Hai…. boleh ganggu sebentar”. Sapaku
“Oh iya…”. Jawabnya sambil tersenyum. Geblek… cakep banget, pantes aja teman-tamanku selalu mebicarakan dia.
“Emmm boleh kenalan gak….?”. Aku bertanya sambil mengajak berjabat tangan.
“Andi…”.
“Siska…”. Jawabnya menerima jabatan tanganku sambil masih tetap tersenyum. Oh… jadi namanya Siska. Aku bergumam dalam hati.

 

“Kerja di lantai berapa?”. Aku pura-pura gak tahu.
“Aku di lantai dua, mas Andi sendiri kerja di mana?”. dia balik bertanya.
“Aku di lantai dasar”. Jawabku
“Kerja di bagian apa?”. Tanyaku lagi
“Di bagian Hypermarket”. Jawabnya.
“Kalo mas di bagian apa”. Dia balik bertanya
“Aku di bagian Logistik”. Jawabku
“Hmmm kayaknya baru lihat kamu akhir-akhir ini, baru masuk ya…”. Tanyaku lagi
“Iya aku baru satu bulan kerja di sini”. Jawabnya
“Oh begitu”. Jawabku.
“Kalau rumah di mana?”. Tanyaku lagi, eh kok langsung tanya rumah ya, emangnya mau ikut.
“Di Kelapa Gading…”. Jawabnya. Untung dia gak berprasangka macam-macam.
“Eh… makasih ya udah mau di ganggu”. Aku bermaksud mengkhiri pembicaraan.
“Iya.. gak apa-apa”. Dia pun sudah masuk ke mobilnya. Kemudian mobilnya melaju meninggalkanku. Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia juga balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

 

Berhasil juga akhirnya aku berkenalan dengan dia. Kesan pertama aku mengenalnya adalah orangnya ramah. Bisa di ajak bicara dan murah senyum. Dari pertama aku bicara dengannya sampai aku mengakhiri pembicaraan tak lepas-lepasnya dia tersenyum. Membuatku jadi agak berdebar-debar. Perawakannya kecil mungil, wajahnya bulat dengan mata yang tidak sipit kalau boleh aku bilang sih bulat. Tidak seperti kebanyakan cewek keturunan yang lain.

 

Semenjak aku berkenalan dengan nya aku semakin memperhatikan dia. Cara dia berjalan, cara berbicara, baju yang dia pakai sampai nomor polisi mobilnya pun aku hapal. Apakah aku sudah jatuh hati kepadanya? Tak tahulah, yang jelas aku selalu teringat dia. Ingin rasanya lebih mengenal dia. Sehari-hari aku hanya bertemu dia apabila datang ke kantor, makan di kantin dan sepulang kantor. Belum pernah lagi punya kesempatan untuk ngobrol banyak. Hanya ‘say hello’ saja setiap kali bertemu.

 

Seminggu setelah perkenalanku dengannya aku mencoba menghubungi dia lewat telepon kantornya.
 
“Hallo…”. Aku berbicara setelah ada yang mengangkat telepon.
“Hallo selamat sore”. Yang menjawab operator telepon kantor.
“Selamat sore, bisa bicara dengan Siska”.
“Di tunggu…”. Jawab operator, terdengar nada tunggu. Kemudian ada yang berbicara.

 

“Hallo sore…”. Suara yang aku kenal mulai bicara.
“Sore… Siska ya…”. Aku memulai pembicaraan.
“Iya… siapa nih?”. Dia bertanya.
“Andi…”. Jawabku.
“Andi yang mana ya?”. Tanya dia lagi. Huh sialan dia gak inget sama aku, tapi kalau di pikir-pikir memangnya aku siapanya dia sampai harus ingat segala. Tapi mungkin nama Andi banyak kali ya jadi dia perlu di ingatkan.

 

“Andi yang di lantai satu”. Jawabku. Hening sejenak.
“Oh… Andi”. Baru ingat dia…
“Apa kabar Sis…”. Tanyaku
“Baik…”. Jawabnya.
“Ehh ada apa ya Ndi…”. Dia sepertinya sedang sibuk atau mungkin sedang buru-buru.
“Oh gak apa-apa cuma pengen ngobrol aja”. Jawabku
“Nggg… tapi aku lagi sibuk”. Jawabnya
“Oh lagi sibuk ya… maaf ya kalau menggangu”.
“Nggak apa-apa sih…”. Jawabnya.
“Tapi aku boleh telepon lagi kan”. Tanyaku
“Boleh… tapi kalau bisa jangan ke kantor soalnya aku lagi sibuk”. Jawabnya lagi menegaskan.
“Ok deh kalau begitu, makasih ya”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Iya…”. Jawabnya dan kemudian hubungan telapon terputus.

 

Gagal. Usaha pertamaku mendekatinya. Mungkin memang dia sedang sibuk berat. Jadi gak bisa menerima telepon. Hmmm gak apa-apa sih, mungkin lain kali akan aku coba. Tapi yang jadi penasaran dia bilang jangan telepon ke kantor, lalu kemana? sedangkan nomor HP nya pun aku belum tahu. Apa dia memancing aku supaya menanyakan nomor HP nya? Bisa juga sih. Tapi masa iya ngasih nomor HP saja harus di pancing dulu(ikan kali di pancing). Tapi masuk akal juga. Memang aku yang harus menanyakan nomor HP nya. Tidak mungkin dia langsung menyebutkan nomor HP nya tanpa alasan tertentu.

 

Besoknya aku kembali mencoba menghubungi dia lewat telepon kantor. Walaupun dia bilang jangan menghubungi dia di kantor, tapi aku nekad aja. Tapi jawaban yang aku dapat masih sama.

 

“Aku lagi sibuk”.
 
Dan hari-hari berikutnya pun tetap sama.
 
“Lagi sibuk nih…”.
 
Atau
 
“Entar aja ya… soalnya lagi sibuk”.
 
Atau
 
“Bentar ya… aku sibuk benget nih”.
 
Dan jawaban standar ‘sibuk’ lainnya. Tapi yang mengherankan dia tidak pernah menolak teleponku. Pasti dia terima walau sedang sibuk dan walaupun jawabannya itu-itu juga. Padahal dia pernah bilang supaya jangan menelepon dia di kantor. Bingung… mana yang bener nih. Sepertinya harus di tempat parkir lagi nih. Menunggu dia dan menganjaknya ngobrol.

 

Sore itu aku kembali menunggunya di tempat parkir. Sebetulnya jam pulang kantorku sudah lewat. Tapi demi rasa penasaranku aku menunggu dia sampai jam pulang kantornya tiba. Jam pulang kantornya lebih lambat tiga perempat jam dari jadwal pulang kantorku.
 
Dia sudah keluar dari ruangan lift. Aku buru-buru mendekatinya.

 

“Hai Sis…”. Aku menyapanya. Dia kemudian menoleh.
“Hai…”. Dia menjawab sapaku sambil terseyum.
“Pa kabar…?”. Tanyaku.
“Baik…”. Jawabnya. Masih sambil tersenyum.
“Sibuk terus ya…”. Tanyaku.
“Iya nih…, eh maaf ya kalau aku gak bisa terima telpon lama-lama, soalnya sibuk banget”. Jawabnya menerangkan.
“Oh begitu ya… kalau tidak bisa terima telepon di kantor, boleh dong aku telp kamu di rumah?”. Tanyaku.

 

“Boleh…boleh”. Jawabnya
“Kalau begitu boleh tau nomor HP kamu?”. Tanyaku semakin nekat. Dia kemudian menghentikan langkahnya. Aku agak kaget juga, takut kalau dia tersinggung atau bagaimana.
 
“Siska…. boleh gak?”. Aku sudah kepalang basah. Dia diam sejenak, mungkin sedang berpikir. Kemudian dia berjalan lagi menuju mobilnya. Di depan pintu mobilnya aku kembali bicara.
“Jadi…?”. Tanyaku lagi
“081******…”. Dia menyebutkan nomor HP nya sambil membuka pintu mobil.
“Berapa Sis…?”. Tanyaku lagi, karena dua digit tearkhir kurang terdengar olehku.
“081******…”. Dia mengulangi sambil duduk di belakang kemudi mobilnya. Aku buru-buru mencatat di telapak tanganku karena kalau langsung aku masukkan ke HP takut lupa.

 

“Kalau sampai rumah biasanya jam berapa?”. Tanyaku. Waktu itu dia sudah ada di dalam mobil, tapi kaca mobilnya kebetulan masih di buka.
“Tergantung sih…”. Jawabnya.
“Kalau jam tujuh malam sudah sampai?”. Tanyaku lagi
“Coba aja entar telp ya…”. Jawabnya lagi.
“Ok deh kalo gitu, makasih ya”. Aku tidak ingin menghalangi nya. Karena takut kalau dia masih ada keperluan.

 

“Iya… “. Jawabnya singkat. Mobilnya kemudian melaju melewatiku. Dia membunyikan klakson mobil sambil tersenyum. Aku melambaikan tangan sambil tak lupa membalas senyumnya. Yes… akhirnya bisa juga aku tahu nomor HP nya.
 

9 thoughts on “Siska (Bag. 1)”

  1. hehehehe….mas jadi gimana selanjutnya sampe jadian ga…hehhe…jadi penasaran deh…hebat saluuuut…nekat banget ni orang dasar cowok…kalo gitu udah aza langsung dateng ke rumahnya…eh ga tau deng sok ngatur..kapan posting selanjutnya…ini cerita nyata atao cuman kaya cerpen…bikin cerpen dong bagus euy…ditunggu ya yg ke-2nya…kalo udah ada kasih tau ya…makasih

  2. @dita : Belum nih.. nanti aja kalau sudah banyak ceritanya.
    @mr.cappuccino : bagian kedua sebentar lagi, bikin buku… mau sih.
    @Si Jagoan Makan : 😉
    @Meti Mediyastuti : Iya kalau sudah update nanti di kasih tau
    @pyuriko : Beneran apa boongan… tebak sendiri deh 🙂
    @mei : campuran mei… namaku… hehehe

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!