Selamat datang Cinta

Hidup manusia memang sudah di tentukan oleh-Nya. Baik itu yang berujung bahagia maupun yang tidak. Kita tinggal mengambil hikmahnya dari semua kejadian itu.

Tak terasa waktu berlalu, empat bulan sudah aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Entah karena dia yang menghindar atau aku sendiri yang menghindari bertemu dia. Tapi aku sudah melupakan semuanya. Kenangan manis itu hanya tinggal seonggok memory di relung kalbu. Toh semua yang ia katakan ketika terakhir kali aku bertemu tidak terjadi. Telepon, sms atau pun apalah yang bisa membuatku bisa berhubungan dengannya tidak kudapati. Begitupun aku, tidak berusaha untuk mendekati dia lagi. biarlah dia bahagia dengan kehidupannya tanpa ada gangguan dariku.

Hari senin ini aku memulai pekerjaan seperti biasa. Biasanya memang hari senin pekerjaan selalu menumpuk dan semangat kerjapun biasanya agak menurun. Entah karena habis berlibur atau karena padatnya kendaraan di jalan yang kadang membuatku agak sedikit stress.
Tapi hari ini aku tidak ingin stress, tidak ingin bermalas-malasan. Aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku ingin ceria. Yahh… biarlah, sudah lama aku tidak seceria pagi ini.

Jam delapan lewat limabelas menit aku menuju ruang lift untuk naik ke lantai satu. Ada yang harus aku foto copy di sana. Di depan ruang lift tidak ada siapa-siapa, aku menunggu lift turun. Ketika aku menengok kebelakang tiba-tiba ada seseorang masuk, sepertinya…

“Hai…”
“Eh… Hai juga…”. Jawabku. Jantungku hampir copot. Siska!!! Gak nyangka aku ketemu dia lagi setelah berbulan-bulan.
“Apa kabar…?”. Aku berkata berbarengan dengannya.
“Aku baik-baik saja… seperti yang kamu lihat, kalau kamu…?”. Aku yang pertama menjawab sekaligus bertanya mengenai kabarnya.
“Yah… aku juga kurang lebih sama, sudah agak baikan sekarang”. Jawabnya.
“Lho kenapa… kamu sakit…?”.
“Nggak apa-apa…”. Jawabnya. Tapi percakapan kami berhenti karena pintu lift sudah terbuka. Aku mempersilahkannya masuk duluan kemudian aku menyusul. Kebetulan tidak ada orang lain selain kami berdua. Aku memulai lagi percakapan setelah masuk ke dalam lift.

“Bagaimana kabarnya Kevin…?”. Tanyaku, tapi mendadak mukanya sedikit suram.
“Kita ketemu yuk sore nanti, di cafe yang dulu biasa kita datangi…”. Hei ada apa ini?
“Tapi… Kevin…?”. Jawabku
“Gak usah ngomongin dia dulu ya… aku ingin ngobrol sama kamu, mau kan…?”.
Aku berpikir sejenak. Sore nanti sepertinya aku tidak ada acara kemana-mana.
“Ok… aku tunggu sepulang kerja di sana”. Jawabku. Wajahnya kembali berubah ceria. Aku sudah sampai di lanta satu, saatnya untuk keluar. Sebelum keluar aku mencoba memegang tangannya. Tidak ada upaya penolakan darinya. Dia hanya tersenyum. Aku sebetulnya ingin terus berdua dengan dia tapi pintu lift sudah terbuka.

“Aku duluan ya…”. Sambil melepaskan tangannya aku berkata.
“Sampai nanti sore ya…”.
“Ok…”. Jawabku. Kemudian pintu lift tertutup.

“Janjian nih ye…”. Cewek operator telepon di front office menggodaku.
“Mau tau aja…”. Jawabku
“Katanya udah putus…”. Eh nih anak tau dari mana lagi.
“Mau tau aja urusan orang dewasa”. Jawabku seenaknya.
“Mau nyambung lagi nih…”.
“Udah…udah tuh ada telepon masuk”. Aku berkata sambil berlalu masuk ke ruangan kantor. Dia hanya mencibir.

Aku bertemu Siska lagi. Perasaanku jadi tak karuan. Perasaan yang lama aku pendam kini muncul lagi. Ternyata aku masih sangat merindukannya. Senyumnya, matanya, bibirnya, ah segalanya tentang dia masih bisa aku ingat. Tapi dia terlihat agak kurusan, apa dia melakukan program diet ya, tak tahulah. Tapi mungkin ini yang menjadi pertanda hari ini aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Ternyata aku bertemu kembali dengan pujaan hatiku.

Tapi ada apa dengan dia? Kok sepertinya dia murung saat aku tanya kabar pacarnya? Apa dia sedang bertengkar, dan dia mau curhat sama aku? Bagaimana kalau pacarnya itu melihat, seperti dulu aku melihat dia berdua? Kalau aku ingat kejadian itu rasanya hatiku tergores kembali. Tapi biarlah, mungkin dia sedang memerlukan seseorang yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah saat ini. Biarlah hatiku sedikit perih asal dia bisa bahagia.
Setelah pertemuan tadi hatiku jadi gelisah. Aku tidak bisa berkonsentrasi kerja. Aku teringat dia terus. Siska… sebetulnya aku masih sayang sama kamu. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Siska yang telepon, sepertinya dia tahu isi hatiku saat ini.

“Halo…”.
“Hai…”. Jawabku.
“Andi… aku kangen sama kamu…”. Suara Siska di seberang sana.
“Aku juga…”. Jawabku spontan, mulutku tidak bisa di ajak kompromi. Padahal aku ingin berbicara lain.
“Bener Ndi…?”.
“Iya Sis… tapi aku tau kamu sudah punya orang lain di hatimu”. Jawabku.
“Stop talking about that please…”. Dia berkata memohon.
“Ok… ok…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanya dia sepertinya ingin memastikan perbincangan di lift tadi padi.
“Iya, pulang kerja aku langsung ke sana ya”. Jawabku.
“Ok deh kalo gitu, sampai nanti ya daah…”.
“Daah…”. Jawabku menutup pembicaraan.

Sore hari sepulang kerja aku langsung menuju ke sana. Aku tidak membawa motor hari ini jadi aku naik angkutan umum ke tempat aku dan dia biasa bertemu. Toh jaraknya tidak jauh dari kantorku dan kebetulan jalanan tidak terlalu macet hari ini. Di tempat parkir tadi aku tidak memperhatikan apakah mobilnya masih ada atau tidak. Aku tidak tahu apakah dia keluar kantor hari ini. Kalau dia keluar kantor biasanya dia sudah menunggu di sana.

Sesampainya di pintu masuk mall aku bergegas menuju ke cafe. Aku berjalan setengah berlari. Entah kenapa aku ingin segera bertemu dengannya, hampir saja aku menabrak seorang ibu yang sedang menjinjing kantong belanjaan. Setelah meminta maaf aku berjalan kembali, kali ini aku berjalan cepat tapi lebih hati-hati. Sesampainya di depan cafe ternyata dugaanku tidak meleset. Dia sudah ada di sana. Dia duduk sambil matanya menatap lurus ke arah datangnya aku. Begitu melihatku dia langsung berdiri dan tersenyum.

Hal yang tidak aku duga terjadi. Begitu sampai di hadapan dia, aku dipeluknya. Dia berkata tersendat.

“Andi… aku kangen sama kamu…”. Dia berkata sambil terus memeluk tubuhku.
“Iya aku juga kangen sama kamu, tapi lepasin dulu pelukanmu, banyak orang yang melihat tuh…”. Aku berkata sambil melepaskan pelukannya perlahan.
“Ayo duduk”. Kemudian dia duduk dan aku duduk di samping nya. Tidak seperti biasa aku duduk didepannya.

Setelah memesan minuman aku memulai pembicaraan.
“Kamu baik-baik saja kan…?”.
“Aku baik-baik saja”. Jawabnya sambil tersenyum. Tapi sepertinya dia menyimpan sesuatu di balik senyumnya itu.
“Tapi aku lihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan”. Aku melihat gelagat yang agak lain di matanya.
“Mau cerita…?”. Tanyaku. Dia menarik nafas panjang.
“Tapi sebelum cerita aku ingin bertanya sama kamu”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Yah minimal telepon atau sms gitu…”.
“Aku tidak ingin mengganggu kamu, aku ingin kamu bahagia, dan lagi kamu juga tidak pernah mencoba menghubungiku”. Jawabku.
“Ok deh lupakan soal itu, lalu aku ingin bertanya lagi, kamu…. masih sayang kan sama aku?”.
“Siska… seperti yang aku pernah bilang dulu sebelum aku berpisah bahwa aku akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun, dan hal itu berlangsung sampai sekarang. Aku tidak bisa memberikan rasa sayangku sama orang lain kecuali sama kamu”. Jawabku

“Jadi…?”. Aku kembali bertanya. Dia terdiam sejenak.
“Kamu masih ingat waktu kita terakhir kali kesini?”.
“Iya masih”. Jawabku.
“Sebetulnya waktu itu…”. Dia diam lagi. Kemudian aku mendengar jawaban yang membuatku kaget.
“Aku ingin memilih kamu…”. Dia berkata sungguh-sungguh. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi kamu tidak memberikan aku kesempatan, kamu langsung memutuskan untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa berbuat banyak, akhirnya aku terima saja keputusanmu itu”. Aku hanya terdiam mendengar penuturannya.
“Aku minta maaf, aku tidak memberikan kamu kesempatan, aku egois ya… maafin aku”.
“Gak apa-apa, semua sudah terjadi, dan kamu tidak salah”.
“Tapi kamu tau apa yang membuat aku tambah menderita?”. Sungguh aku tidak tau arah pembiraan nya ini.
“Kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelum kamu pergi”. Tanya dia kemudian.
“Iya… aku mencium keningmu dan kemudian kamu menangis”. Jawabku
“Kevin melihat kita waktu itu…”. Aku seperti di sengat lebah mendengar perkataannya.

“Jadi dia tau?”.
“Ya dia tau, setelah kamu pergi lalu dia mendatangiku dan menanyakan tentang kamu. Aku tidak bisa berbohong dan aku menceritakan semuanya. Semuanya tentang kita, tentang perasaanku padamu, tentang perasaan kita, tentang sayangku padamu. Dia tidak bisa menerima semua itu. Walaupun aku berkata bahwa aku masih sayang sama dia, tetapi dia tidak bisa menerimaku. Akhirnya saat itu juga dia memutuskanku, memutuskan hubungan yang sudah berjalan hampir dua tahun. Bisa kamu bayangkan perasaanku waktu itu. Setelah kamu memutuskanku, Kevin juga memutuskan hubungannya denganku. Hari itu aku diputuskan oleh dua orang laki-laki. Dua orang yang sangat aku sayangi. Tapi mungkin itu balasan untukku. Aku memang salah sudah mendua”. Dia mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.

Aku kembali tidak bisa berkata apa-apa. Tidak aku sangka semuanya akan berakhir begini.

“Lalu apa yang terjadi kemudian”. Aku kembali bertanya karena aku lihat dia belum selesai berbicara.
“Setelah itu aku pulang, tapi sampai di rumah aku tidak sadarkan diri di depan pintu rumah, untungnya aku bisa mengendarai mobil dengan selamat tanpa terjadi apa-apa. Aku kemudian di rawat di rumah sakit selama seminggu. Mamaku bilang wajahku sangat pucat dan tekanan darahku turun sangat drastis. Aku tidak bisa apa-apa selama seminggu itu, hanya berbaring saja di rumah sakit. Makanya aku sekarang kelihatan agak kurusan kan? Tapi sekarang aku sudah sembuh dan baik-baik saja, kan kejadiannya sudah hampir empat bulan yang lalu”. Dia mengakhiri pembicaraannya.

Aku kemudian memeluknya. Ada sedikit air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian aku mengusap dengan tanganku.

“Kenapa kamu tidak memberitahu aku Sis…?”. Aku jadi sangat menyesal telah memutuskannya waktu itu.
“Aku tidak ingin mengganggumu Ndi… lagi pula mamaku selalu menemaniku di rumah sakit, jadi aku tidak merasa kesepian”. Jawabnya
“Tapi setidaknya kamu harus bilang sama aku”.
“Iya aku memang salah tidak memberitahu kamu, tapi sekarang aku sudah sehat kok…”. Jawabnya, dan sekarang dia sudah bisa kembali tersenyum.

“Lalu sekarang perasaanmu bagaimana?”. Tanyaku
“Yah… aku sekarang sudah lega, sebetulnya aku ingin membicarakan hal ini dari pertama kali aku masuk kerja. Tapi aku takut kamu masih marah sama aku. Aku sebetulnya sering melihat kamu tapi aku tidak berani menyapamu duluan”.
“Siska… kalau tau akhirnya akan begini, aku tidak akan memutuskan kamu”.
“Gak apa-apa Ndi… semuanya sudah terjadi. Yang penting sekarang aku sudah sehat dan sudah ada di depanmu, bisa ngobrol lagi”. Aku hanya tersenyum.
“Tapi aku tidak berharap banyak, aku tahu kamu pasti masih marah sama aku. Aku juga tidak berharap yang telalu muluk bahwa kamu mau kembali lagi sama aku. Kembali mencintaiku, menyayangiku seperti dulu”.

Aku terenyuh mendengarnya. Sungguh dia laksana bidadari yang turun dari kayangan. Hatinya sangat mulia, dia bisa merelakan aku kalaupun aku tidak bisa lagi menjadi kekasihnya.

“Jadi sekarang mau kamu bagaimana?”. Akhirnya aku berkata.
“Aku terserah kamu, kalau kamu masih sayang sama aku, aku berharap kamu bisa kembali lagi padaku. Melanjutkan kisah kita yang dulu tertunda”. Dia berkata sambil menatap mataku. Menembus relung sanubariku yang paling dalam.

Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Aku tidak ingin membuatnya berlama-lama terlarut dalam penderitaan. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin membuat bidadariku ini tersenyum. Biar dia bisa membawaku terbang ke awan dengan sayapnya.

“Kalau begitu maumu, aku bersedia kembali menjadi kekasihmu, aku akan selalu di sisimu, kita arungi hidup ini berdua”.
“Bener Ndi…?”. Dia menguncang-guncangkan tanganku seperti tidak percaya.
“Iya Sis…”. Jawabku.
“Makasih Ndi… Aku sayang sama kamu”.
“Aku juga sayang sama kamu”. Jawabku.

Kemudian aku dan dia berpelukan. Aku tak perduli banyak mata yang memperhatikan kami. Rasanya tak ingin berpisah. Setelah melepaskan pelukan kemudian dia berkata.

“Besok lusa kan Hari Natal…”.
“Lalu…?”. Tanyaku.
“Kamu adalah hadiah Natal ku yang paling indah, makasih sayang”.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku berharap perbedaan ini tidak akan memisahkan kami. Justru aku berharap perbedan ini bisa menyatukan hati kami.

“Siska…”.
“Hmmm… apa…?”. Jawabnya dengan mesra.
“Aku dan kamu memang berbeda keyakinan, dan kamu juga tau itu. Tapi aku harap perbedaan ini jangan sampai memisahkan kita. Aku ingin menjalani hubungan ini di atas perbedaan itu, aku ingin menjalani hubungan ini dengan serius, kamu bagaimana?”.
“Aku setuju, jangan sampai semua itu mempengaruhi hubungan kita ya…”. Jawabnya.
“Asal kamu jangan menduakan aku lagi”. Aku berkata sambil bercanda.
“Nggak akan… Ndi, aku gak akan menduakan kamu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Swear…”. Dia berkata sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
“Iya…iya… aku percaya”. Jawabku sambil tersenyum.

“Kita pulang yuk…”.
“Terus kita kemana?”. Tanyaku.
“Ke rumahku…”.
“Lho mau ngapain?”.
“Aku ingin mengenalkan kamu sama mamaku”.
“Tapi…”. Terus terang aku belum siap bertemu dengan orang tuanya.
“Tenang aja, aku sudah menceritakan semuanya. Waktu sakit kemarin aku sudah bercerita banyak tentang kamu kepada mamaku, dan dia ok ok saja. Mamaku orangnya pengertian, bahkan dia menyuruhku untuk mengundangmu ke rumah, bagaimana?”. Aku sedikit lega mendengar penjelasannya. Walau bagaimanapun aku agak sungkan bertemu orang tuanya. Bukan apa-apa, aku baru kali ini bertemu orang tua dari wanita yang aku sayangi.
“Ok deh…”. Jawabku.

Kemudian kami pulang setelah membayar makanan dan minuman yang kami pesan. Seperti biasa sepanjang koridor mall banyak mata yang memperhatikan kami, karena tangan Siska seperti tidak mau lepas dari lenganku. Tapi sekarang aku tidak perduli, toh aku tidak merugikan mereka dan Siska pun sepertinya berpikiran sama denganku.

Sepanjang perjalanan pulang aku dan dia banyak berbicara sambil bercanda. Aku sempat mencium pipinya, hampir saja mobilnya oleng ke kiri karena dia yang mengemudikan mobil.

Sesampainya di rumah Siska aku tidak langsung turun. Terus terang hatiku berdebar-debar.

“Ayo turun”. Ajak Siska
“Ok…”. Setelah beberapa saat akhirnya aku turun juga dari mobilnya.

Rumahnya lumayan besar juga. Untuk ukuran kota metropolitan dia sepertinya dari keluarga berada. Mungkin bekerja di kantor hanya sebagai pengisi waktu saja.

“Hei… kok malah bengong, ayo masuk”. Ajaknya
“Eh iya…”. Jawabku. Kenapa aku mendadak jadi kikuk ya. Ah biarlah, yang terjadi, terjadilah.

“Maa… mama…”. Setelah membuka pintu, Siska memanggil mamanya.
“Iya sayang… gak usah teriak-teriak gitu ah…”. Jawab seseorang dari dalam. Suara perempuan, mungkin itu ibunya. Tak lama kemudian datang seorang wanita yang wajahnya mirip Siska. Oh ini ternyata ibunya Siska. Wajahnya mirip dengan dia dan sepertinya umurnya masih muda.
“Ini lho ma, ada yang ingin aku kenalin”. Siska menunjuk ke arahku. Dia kemudian melihat ke arahku. Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian membungkuk menyalaminya.
“Mama ini yang namanaya Andi, Andi ini mamaku”. Dia bergantian menyebut mamanya dan aku.

“Oh ini yang namanya Andi”. Mamanya berkata sambil tersenyum.
“Ayo silahkan duduk”.
“Makasih tante”. Jawabku.
“Maaf tante saya sudah merepotkan, sudah membuat Siska sakit”.
“Oh itu… gak apa-apa mungkin sudah jalannya harus begitu, yang penting sekarang Siska sudah sehat”.
“Iya tante”. Jawabku.
“Cuma tante titip Siska ya, jaga dia baik-baik, dia anak perempuan tante satu-satunya soalnya yang lain laki-laki semua”.
“Eh iya tante”. Aku melirik ke arah Siska, dia terseyum sambil menutup mulutnya.

Kemudian Aku, Siska dan memanya terlibat obrolan ringan. Tapi yang aku salut, mamanya tidak sekalipun menyinggung masalah keyakinanku. Aku sangat menghargai sikapnya tersebut.

Setelah berbasa-basi dan ngobrol ini itu aku akhirnya pamit pulang. Sekali lagi mamanya berpesan agar aku menjaga Siska baik-baik dan aku mengiyakan.

Siska mengantarku sampai ke depan gerbang rumahnya sementara mamanya sudah masuk.

“Sis… kok mama kamu sudah tahu tentang kita?”. Aku berkata ketika aku sudah berada di luar gerbang.
“Kaget ya… aku sudah menceritakan semuanya tadi siang sebelum kita ketemu. Dan aku berkata apabila aku bisa membawamu ke rumah berarti aku sudah jadian lagi sama kamu”. Jawabnya.
“Oh gitu… nakal ya kamu, bagaimana kalau aku tidak bersedia datang…”. Aku berkata sambil mencubit hidungnya. Dia hanya tertawa.
“Aku pulang ya… sampai besok”.
“Nggak ada yang kelupaan?”. Tanya dia
“Apa…”. Jawabku. Dia menunjuk pipinya, manja juga nih anak. Aku kemudian mencium pipinya kiri kanan lalu mencium keningnya. Matanya terpejam.
“Aku pulang ya sayang…”. Aku berbisik di telinganya.
“Hati-hati di jalan ya…”. Aku mengangguk.

Aku kemudian berjalan meninggalkan rumahnya. Dia masih melihat ke arahku walaupun jarak aku dan dia sudah jauh. Dia melambaikan tangan. Sampai aku naik angkutan pun sepertinya dia masih melihatku.

Babak baru kehidupanku sudah di mulai. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya. Aku yakin perbedaan ini akan menyatukan kami.

Jakarta, Akhir Desember 2006

NB : Boeat Elisa… maaf ya kalau cerita ini kurang berkenan. Aku sengaja mengganti namamu. Sampai sekarang aku masih tetap mengharapkanmu. Tapi sayang kita sekarang sudah jauh.

8 thoughts on “Selamat datang Cinta”

  1. Balikan yaaa,…???
    Agak sedikit kecewa,… dulu dia menduakan mas,… skrg???

    Well,… biarlah masa lalu menjadi pelajaran… kini jalanin yang sudah di depan. Semoga berjalan lancar hubungannya ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!