Nenek

Keluarga kami tidak terlalu banyak anggotanya. Nenek ku mempunyai dua orang anak laki-laki. Mereka adalah ayahku dan pamanku. Ayahku mempunyai empat orang anak, Aku dan ketiga orang adikku. Tiga laki-laki dan satu orang perempuan yang paling bungsu. Pamanku juga mempunyai empat orang anak. Anak ke satu dan kedua perempuan dan anak ketiga dan keempat laki-laki.

 

Nenek ku tinggal sendirian sehingga merasa memerlukan teman atau orang yang bisa dia urus. Jadilah aku dan satu adikku tinggal di rumah nenek dengan kata lain nenek ku lah yang mengurus aku dan adikku dari semenjak kecil. Selain itu nenek juga mengambil dua orang anak pamanku yang perempuan untuk tinggal di rumahnya. Sehingga dari masing-masing anak nya, nenek ku mengambil dua orang cucu.

 

Begitulah, kami berempat hidup dan di urus dari kecil oleh nenek sedangkan orang tuaku tinggal di kota C yang terkenal dengan tauco nya. Sementara pamanku masih tetap tinggal di S tetapi lain rumah dengan kami.
 
Awalnya aku tidak mengerti kenapa aku harus jauh dari orang tua dan tinggal di rumah nenek. Tetapi lama kelamaan pertanyaan itu mulai hilang seiring dengan berjalannya waktu hingga aku tumbuh dewasa.

 

Tetapi itu semua tidak mengurangi rasa hormat dan sayangku kepada orang tuaku sendiri. Walaupun dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah dan ibuku sendiri aku tetap menyayangi mereka karena tanpa mereka aku tak mungkin hidup di dunia ini.

 

Setelah dewasa aku baru mengerti mengapa nenek ku mengambil kami dari orangtua kami. Dan aku tambah mengerti setelah nenek ku jatuh sakit.

 

Kurang lebih satu tahun yang lalu kejadiannya. Siang itu hari minggu, aku sedang dalam perjalanan untuk suatu keperluan ke daerah D. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Aku lihat nama adikku yang muncul di layar HP.

 

“Halo…”. Aku berkata. Tidak biasanya adikku meneleponku siang-siang begini.
“Halo… Aa ini Fitri…”. Ternyata adik sepupuku yang berbicara.
“Aa…. si nenek A…”. Dia berbicara dengan nada khawatir.
“Ada apa… si nenek kenapa?”. Aku mulai menangkap ketidakberesan di rumah.
“Nenek jatuh…”.
“Jatuh dimana? Bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa jatuh segala?”. Aku langsung menghujani nya dengan pertanyaan.
“Tadi di kebun, untung ada Aa Dendi jadi tadi langsung di bawa ke rumah sakit”. Aku sudah membayangkan bagaimana keadaan nenek ku sekarang. Mungkinkah sekarang waktunya. Ah… aku tidak tahu. Semoga yang maha kuasa masih memberikan perlindungan kepada orang yang telah mengurusku selama ini.
 
Dendi adalah adikku, sedangkan Fitri adalah adik sepupuku yang kedua. Yang pertama bernama Yuli. Kami semua sudah dewasa sekarang. Aku dan adikku sekarang bekerja di Ibu kota dan setiap akhir pekan kami selalu menyempatkan diri pulang ke rumah nenek di kota S yang sejuk. Kebetulan adikku sedang berada di rumah.

 

Nenek ku sudah tua sekarang, aku tidak tahu persis berapa umurnya karena nenek ku pun tidak hapal, yang dia ingat waktu remaja dulu dia juga pernah ikut berjuang pada masa perang kemerdekaan walaupun hanya jadi perawat dan juru masak. Walaupun keadaan sudah tidak memungkinkan nenekku tetap ingin punya kegiatan. Di depan rumah kami dia membuat kebun kecil. Lumayan katanya untuk menanam singkong saja dan tanaman yang biasa di pakai untuk bumbu dapur. Walaupun kami sudah melarangnya tetap saja nenek ku memaksakan diri. Jenuh katanya kalau terus menerus diam di rumah tanpa ada kegiatan.

 

“Sekarang bagaimana keadaanya?”. Tanyaku.
“Sudah ada di rumah sekarang… tadi oleh dokter di sarankan untuk istirahat saja dan sudah di beri obat”.
“Hanya saja….”. Dia tidak meneruskan pembicaraan.
“Hanya saja apa…?”. Aku mendesak
“Tangan yang sebelah kiri dan kaki yang sebelah kiri tidak bisa di gerakkan”. Jawabnya.
“Jadi nenek kena stroke…?”. Tanyaku
“Dokter bilang sih stroke nya ringan, masih ada kemungkinan untuk sembuh, kalau untuk berbicara sih masih bisa. Tadi juga waktu tangan dan kaki nya di pijat sama dokter masih bisa berteriak”. Dia menjelaskan
 
Tubuhku langsung lemas. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nenek yang mengurusku dari kecil sekarang jatuh sakit. Terbayang sekarang dia berbaring di atas tempat tidurnya. Tidak bisa bergerak laluasa seperti sebelumnya. Air mataku sedikit menetes.

 

“Halo…. A…. masih di situ?”. Suara di seberang sana.
“Iya… iya… Aa masih di sini”. Aku tergagap.
“Ya udah sekarang Aa mau pulang ya. Paling lambat tiga jam sudah sampai. Bilang sama nenek kalau Aa lagi di perjalanan gitu”.
“Iya A…”. Jawabnya.

 

Setelah mengakhiri pembicaraan aku langsung bergegas pergi ke terminal dan naik bis yang ke arah jurusan B. Kalau aku ke B dulu biasanya banyak bis yang dari arah ibu kota lewat dan aku bisa cepat sampai di S.

 

Sesampainya di S aku langsung menuju rumah. Di rumah sudah berkumpul semua keluargaku kecuali ayahku yang belum sampai dari C. Pamanku menyambutku di luar. Setelah bersalaman aku masuk ke dalam rumah. Di dalam aku bertemu bibi dan yang lainnya. Aku langsung menyalami nenek ku yang sedang berbaring. Terlihat dia sedang menangis.

 

“Nek… apa yang terjadi? Bagaimana sampai bisa begini?”. Nenek ku hanya diam saja sambil menitikan air mata.
“Tadi kebetulan ada orang lewat dan melihat nenek terjatuh, dia langsung berteriak sehingga Dendi langsung keluar”. Yang menjawab bibiku.
“Untung ada A Dendi jadi bisa langsung di bawa ke rumah sakit”. Jawab Yuli adik sepupuku. Maklum di rumah apabila aku dan adikku bekerja yang tinggal hanya nenekku dan dua adik sepupuku yang perempuan.
 
“Apa yang terasa nek…?”. Tanyaku.
“Ini tangan dan kaki yang kiri tidak bisa di gerakkan, rasanya lemas”. Jawab nenekku
“Tapi masih bisa merasa kan…?”. Tanyaku lagi
“Iya masih, tadi juga bibi coba mencubit masih berteriak”. Jawab bibiku. Syukurlah masih ada harapan pikirku.

 

“Jadi apa rencana selanjutnya?”. Aku bertanya kepada semua orang.
“Besok kita bawa saja ke ahli pijat. Tadi paman sudah menghubungi ayahmu. Dia belum bisa ke sini. Besok kita akan ke C sama-sama, di sana ada ahli pijat yang bisa membantu. Sekalian bertemu dengan ayahmu di sana”. Jawab pamanku.
“Tapi aku besok tidak bisa ikut A… aku harus bekerja karena kabagian shift pagi”. Adikku berkata.
Aku juga sebetulnya harus bekerja besok senin. Tapi tak apalah, aku bisa mengambil cuti sehari untuk menemani nenek ku.

 

“Kalau begitu besok aku dan paman yang membawa nenek ke C. Yang lain bawa perlengkapan seadanya ya. Terus untuk kendaraan bagaimana?”. Bingung juga aku mengenai kendaraan.
“Tadi aku sudah bicara sama teman, dia bisa meminjamkan mobilnya untuk sehari”. Fitri yang menjawab.
“Tapi masa kita pinjam gratis”. Tanyaku
“Itu juga yang jadi masalah, dia tidak mau di bayar. Akhirnya fitri maksa buat mengisi bensin saja sampai penuh. Akhirnya dia setuju”. Jawabnya.
 
“Ok kalau begitu semuanya sudah siap”.
“Sekarang tinggal di siapkan apa yang mau di bawa”. aku mengakhiri diskusi kecil ini.

 

Semua orang bergegas menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa besok karena hari sudah menjelang malam. Bibiku dan Yuli yang menemani nenek di kamar sementara yang lain berbenah.

 

Besoknya kami berangkat pagi-pagi sekali menuju kota C. Mobil sudah siap dari tadi. Aku dan pamanku yang mengangkat nenek ke dalam mobil karena dia sudah tidak sanggup untuk berjalan. Yang lain memasukkan perlengkapan yang akan di bawa. Setelah semuanya siap kami langsung berangkat. Aku yang mengemudikan mobil. Pamanku duduk di depan. Ditengah nenek ku diapit oleh Bibiku dan Yuli sementara Fitri dan kedua adiknya duduk di belakang.

 

Di C aku menjemput ayahku yang sudah menunggu sejak tadi pagi. Ibuku dan adikku yang lain tidak bisa ikut karena kapasitas mobil yang tidak memungkinkan. Mereka hanya ikut mendoakan semoga nenek cepat sembuh.

 

Sesampainya di tempat yang kami tuju kami bergegas menurunkan nenek dan membawa masuk ke kamar perawatan. Di sana sudah menunggu ibu yang akan melakukan pengobatan. Kami menunggu di luar sementara nenek di obati. Kami hanya bisa berdoa dan berharap semoga nenek cepat sembuh seperti sediakala.

 

Dan begitulah, ternyata pengobatan tidak bisa di lakukan dalam sekali. Kami harus datang dan datang lagi ke tempat tersebut untuk terapi pemijatan. Satu dua kali kami masih bisa berangkat ke sana. Tetapi setelah beberapa kali kami berpikir untuk melakukan pengobatan di rumah saja. Selain karena masalah waktu dan tenaga, biaya juga yang menjadi faktor utama. Sekali jalan ke kota C, bolak-balik bisa menghabiskan dana sampai 500 ribu rupiah. Walaupun nenek ku setiap bulannya mendapatkan uang pensiun tapi tetap saja untuk kami yang mempunyai penghasilan menengah, dana sebanyak itu sungguh memberatkan.

 

Setelah berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga akhirnya di sepakati untuk memanggil saja orang yang bisa memijat ke rumah. Adikku yang mencari ke teman-teman kenalannya. Ada yang sanggup untuk datang ke rumah dan biaya nya pun tidak mahal. Bisa di bawah 100 ribu sekali datang. Lumayan bisa menghemat, sementara sisa dana bisa di gunakan untuk keperluan yang lain.

 

Lalu mengapa di awal cerita aku bisa berkata bahwa setelah dewasa aku baru mengerti mengapa nenek ku mengambil kami dari orangtua kami? Dan aku tambah mengerti setelah nenek ku jatuh sakit?

 

Ternyata permasalahannya ada pada orang tua kami. Ayahku dan pamanku ternyata kurang perhatian kepada nenekku. Yang mengurus nenek sehari-hari sekarang adalah dua adik sepupuku yang perempuan. Sementara yang lain tidak mau membantu. Hanya menanyakan sekedarnya saja lewat telephone. Datang menjenguk saja paling hanya sebulan sekali. Jangankan untuk membantu meringankan biaya pengobatan, untuk membantu sehari-hari saja susah. Ada saja alasan yang di kemukakan untuk menghindar.

 

Akhirnya aku sadar. Mungkin maksud nenek mengambil kami dari orang tua kami agar di masa tuanya nanti dia ada yang mengurus dan memperhatikan. Bisa di bayangkan apabila nenek ku tinggal sendirian. Mungkin tidak akan ada yang mengurus sampai akhir hayatnya. Kami ikhlas melakukannya. Bukan karena nenek yang mengurus kami semenjak kecil tetapi karena dia adalah nenek kami, orang tua kami juga. Apabila suatu saat nanti ayahku atau ibuku yang bernasib begini aku akan memperlakukannya sama seperti kepada nenekku.

 

Aku tidak akan berpikir karena tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibuku lalu aku tidak akan merawat mereka. Tidak… aku tidak mempunyai perasaan seperti itu. Mereka adalah orang tuaku. Karena mereka kita ada di dunia ini. Itu juga yang aku tanamkan kepada adikku dan kedua adik sepupuku. Aku bahagia karena mereka mengerti dengan jalan pikiranku dan sependapat denganku.

Sampai hari ini nenekku masih sakit dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Sampai hari ini juga aku dan adik-adikku yang lain merawatnya. Entah sampai kapan, yang jelas aku juga masih mengunjungi ayah dan ibuku di kota C yang hanya bisa menanyakan keadaan nenek ku sekarang. Sementara paman dan bibiku datang hanya sebulan sekali. Itupun hanya sebentar. Padahal kami berada di kota yang sama yaitu S.

 

Semoga saja suatu saat mereka mengerti dan di bukakan pintu hatinya. Walau bagaimanapun nenek ku adalah ibu bagi ayah dan pamanku.

 

Semoga semua ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

11 thoughts on “Nenek”

  1. seneng banget, pagi2 buka kompie dan iseng mau baca2 blog, eh nemu sebuah renungan yang bagus.
    jadi ingat dengan nenekku, aku dan adek2 juga di rawat nenek dari kecil, lebih d karenakan ibu yang harus bekerja buat kami di kota besar. Nenekku dari dulu juga sakit2an, dan kami ber3 semua sudah bekerja di kota2 besar, jauh dari nenek. Nenek hanya tinggal sendiri, sebenarnya jadi berpikir apa yang harus kami lakukan di hari tuanya???Selain perhatian dan kasih sayang…Semoga nenekku dan neneknya Aa (hehe) di berikan kesehatan dan panjang umur..aminnn

  2. semoga neneknya cepet jagjag waringkas, bahagia sejahtera sampai maut menjemput suatu saat kelak
    jadi inget lagu barudak dulu…jika ibuku tua nanti, beruban berambut putih, akan kujaga ibuku, agar senang selalu…jika ayahku tua nanti, berjalan bertongkat kayu, akan kujaga selalu, kemana ayah pergi……..ihiks, ihiks,ihiks,,,jadi inget alm, almh…semoga mereka berbahagia disana

  3. inget banget waktu dulu,,gue rebutan remote tipi ama si nenek..
    dy pengen banget nonton india,,sedangkan gue pengen banget nonton ksatria baja hitam..
    haha!! jadi pengen ktawa kalo inget2 itu..
    tapi sekarang si nenek udah ga ada.. 🙁 hikz..

  4. duh… jadi inget kakek-nenekku. ketika aku baru berniat untuk berbuat yg terbaik untuk mereka, mereka udah pada pergi meninggalkanku.

    bersyukurlah mas, masih memiliki nenek. semoga beliau cepat sembuh. setidaknya beliau masih bisa melihat mas berbahagia dgn Ani nantinya 🙂

  5. suatu hari nenek pernah bercerita padaku tentang dirinya dimasa lalu. dia menceritakan bagaimana dia jatuh cinta. aku pikir itu tidak lazim sebagaimana orang jaman dulu. bagaimana tidak ? sering aku mendengar kalau orang jaman dulu selalu saja dijodohkan. tanpa mengenal cinta. tanpa surat suratan. tanpa pacaran. langsung ke penghulu. sedangkan nenekku, dia merasakan itu semua.

    nenek mengatakan pertama kali dia melihatnya saat hujan turun. kala itu dia sedang beristirahat diteras depan rumah. rumah nenek dulu tergolong mewah. nenek bukan seorang bagsawan ataupun darah biru. dia hanya seorang pedagang yang cukup sukses dikampung. dia berdagang apa saja. gula, teh, kopi, bako, sampai kayu bakar. nenek punya radio yang waktu itu orang lain belum ada yang punya. bahkan ketika mendengarkan pidato presiden soekarno, rumah nenek didatangi ratusan orang. diteras rumah nenek inilah dia melihat almarhum kakek. orang yang sangat gagah dimatanya. orang yang sangat tampan dengan kelelahan diwajahnya. mungkin karena habis bekerja.

    nenek juga menceritakan saat itu dia seolah olah telah menjelma seperti sosok pangeran yang entah datang dari kota mana. sungguh, saat itu nenek terpesona. nenek tiba tiba saja telah jatuh hati padanya.

    ketika nenek bertemu lagi dengannya dua hari setelah kejadian itu. nenek menemukannya ketika dia duduk di depan pos ronda kampung. saat itu dia sendiri. nenek mengaku sangat terkejut pada pertemuannya itu, sebab dia tersenyum dan menatap nenek. nenek tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. apalagi ketika dia mendekat ke arah nenek. tubuh nenek seperti dialiri sesuatu. nenek gemetar. nenek berkata, itulah cinta. datang dan pergi sesuka hati. tapi walaupun kakek sudah pergi. nenek masih tetap mencintainya.

    aku jadi ingat dulu ketika kakek pergi. aku masih berumur satu setengah tahun. ingatanku benar benar tajam. tahun 1983 aku punya penyakit tidak bisa kencing. ayah dan ibu sangat bingung. akhirnya kakek mengangkatku dan memangkunya. dia bilang, “mbok ya pipis to le, nanti tak kasih uang seribu” begitu katanya. akhirnya aku bisa kencing. aku mengencingi jarik kakek. saat itu semua orang rumah tertawa. beberapa hari setelah itu kakek meninggal.

    satu tahun yang lalu. lebaran 2005. nenek meninggal. dia meninggal karena penyakit tua. tidak jelas berapa usia nenek meninggal. karena dia lahir dihari sebelum budi utomo didirikan. jadi dalam berita lelayu, aku menulisnya kurang lebih 85 tahun.

    nenek meninggal membawa semua isi kenangan rumah ini. membawa kenangan anak dan cucunya. membawa kenangan cinta kakek. aku pikir nenek meninggal dengan bahagia. betapa bahagianya orang bisa meninggal seperti itu. meninggal karena cinta. sampai akhir menutup mata.

    semoga bahagia nek. salam hangat selalu dariku. dan terima kasih sudah mengajarkanku segala sesuatu tentang cinta dan kasih sayang.

  6. Mei : Semoga ya mei… Amiin
    dewi : Makasih dewi
    yoan : Maksih ya jo
    Mamah Ani : Haturnuhun mah pidu’ana
    bebex : Banyak berdoa aja bex
    w@hyu : bersyukur dah pasti, makasih doanya. Ani…? hehehe
    pyuriko : Makasih iko.
    mata : comment apa posting *mode bingung on* , anyway makasih ceritanya. 😀
    tyka82 : Betul jeng tyka selama masih hidup teruslah membahagiakan orang tua.
    Pramudito : Dasar muka jorok… :p

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!