Dua pilihan, dua jalan dan dua kehidupan

Apa yang akan kau lakukan apabila dihadapkan pada dua pilihan yang sulit? Menghindarkah, atau akan kau hadapi dengan lapang dada? Dan kemudian memilih satu di antara dua pilihan tersebut. Walaupun dengan keputusan itu akan ada satu hati yang hancur berkeping-keping?

Jalan di depanku sekarang bercabang dua. Dua-duanya masih belum aku arungi. Aku masih ragu-ragu untuk melangkahkan kaki. Mana jalan yang benar untukku. Mana jalan yang akan menuntunku ke jalan kebaikan. Tidak ada rambu-rambu jalan yang bisa menuntunku untuk mengikuti salah satu jalan tersebut.

Aku melangkah dengan ragu mendekati persimpangan jalan tersebut. Satu langkah… masih belum terlihat apa-apa. Dua langkah… ada kesamaran di sana. Tiga langkah… mulai aku lihat rambu pertama. Yang sebelah kanan memperlihatkan rambu untuk masuk. Sementara yang sebelah kiri masih terlihat samar-samar.

Setelah melangkahkan kaki sedikit ke jalan yang ke sebelah kanan samar-samar kulihat bayangan masa laluku. Masa dimana aku pernah mengarungi hidup yang panjang tapi berakhir dengan kegagalan. Tapi masa itu sudah lewat. Jalan yang ini betul-betul jalan yang baru. Jalan yang sama sekali belum aku lewati. Jalan ini menawarkan kehidupan berdua. Di sana aku lihat ada seseorang yang menunggu dengan harap-harap cemas. Seseorang yang telah menemaniku selama hampir lima tahun terakhir semenjak aku sendiri lagi. Dia menantikan keputusanku untuk terus melangkahkan kaki ke arahnya. Walaupun belum tahu mana jalan yang akan kupilih, sepertinya dia akan tetap menungguku. Tetapi aku masih bimbang untuk melangkah ke sana.

Aku kemudian menengok ke arah sebelah kiri. Jalan ini sama sekali berbeda dengan yang sebelah kanan. Jalan ini penuh binar-binar keceriaan, penuh warna. Tapi jalan ini belum pernah aku temukan sebelumnya. Tidak seperti jalan di sebelah kanan, di sini aku tidak melihat bayangan apapun. Hanya ada sesosok putih nan mungil yang sedang menari ke sana-kemari dengan lincahnya. Sosok yang belum lama ini mengisi hatiku. Sosok yang belakangan memenuhi hari-hariku. Penuh senyum dan canda tawa. Aku pun ikut tersenyum. Aku lihat di dalam sana hanya ada keceriaan semata. Keceriaan yang sangat aku impikan. Warna-warni yang sangat aku dambakan. Tapi apakah ini hanya penglihatanku saja?

Jalan yang sebelah kanan menawarkan kehidupan yang memang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari. Kehidupan yang dulu sangat aku impikan untuk terwujud. Tetapi sekarang kebimbangan menghampiriku. Apakah aku akan melangkah saja ke sana?

Jalan yang sebelah kiri menawarkan aku petualangan. Petualangan asmara yang teramat dahsyat. Petualangan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Petualangan yang belum terlihat wujudnya, pun akhirnya. Petualangan yang mungkin saja bisa membawaku kedalam kebahagiaan, tetapi mungkin pula bisa membawaku kedalam kegagalan. Petualangan yang bisa saja tanpa akhir.

Waktu terus berjalan sementara aku belum juga mengambil keputusan. Belum juga aku menentukan pilihan. Apakah melangkah ke sebelah kanan ke jalan yang sudah direncanakan sebelumnya? Ataukah ke sebelah kiri ke jalan yang menawarkan aku petualangan baru yang penuh tantangan?

Kalau kamu berada dalam posisiku, mana jalan yang akan kau pilih? Kesebelah kanan kah? Atau kesebelah kiri?

Jakarta, Oktober 2006
Aku
Yang sedang bimbang

6 thoughts on “Dua pilihan, dua jalan dan dua kehidupan”

  1. yutie kemarin dah kesini lom ya…? kok keknya lom ada jejaknya… lupa…
    ok deh met kenal lagi aja deh n tengkiu ya dah mau liat² ditempatku. sering aja liat² gak dilarang kok….

  2. Hidup itu penuh dengan pilihan…
    Tinggal kita saja yang harus bijak menentukan pilihan itu dengan sebaik2nya…

    Apapun pilihan itu, smoga menjadi terbaik buat kita… amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!