Diplomat Bag. 8 – Melamar

Mama Farah melihat anaknya termenung setelah menerima telpon. Dia sedang duduk di ruang tengah. Farah masih terdiam ketika mamanya duduk di sampingnya.

“Barusan Yudha yang telpon?”. Tanya mama.

“Eh iya mam, barusan Yudha yang telpon. Dia sudah sampai di bandara. Tadi aku tanyakan mau dijemput atau nggak. Katanya nggak usah mam, sudah pesan taksi online katanya”. Jawab Farah.

“Oh begitu, syukur kalau dia sudah sampai dengan selamat”. Ujar mama.

“Terus dia jadi mau ke rumah kita hari ini?”. Tanya mama.

“Iya mam jadi. Tapi dia mau menyimpan koper dulu di rumah katanya mam”. Jawab Farah.

“Tapi kok kenapa anak mama jadi melamun begitu?”. Tanya mama.

“Mam… bagaimana kalau benar Yudha mau melamarku sekarang ya…?”. Tanya Farah.

“Kalau benar memangnya kenapa?”. Tanya mama.

“Apakah aku sudah siap menerima lamaran Yudha mam? Apakah aku sudah mantap mam? Apakah aku sudah siap jadi seorang istri mam?”. Tanya Farah.

Mama kemudian mendekat dan mengusap-usap rambut anak cantiknya yang sebahu.

“Mama sewaktu dulu mengandung kamu sampai melahirkan kamu, mama sudah yakin akan punya anak perempuan. Anak perempuan yang cantik yang akan jadi rebutan laki-laki. Dari dulu mama sudah tahu resikonya bagaimana mempunyai seorang anak perempuan. Mama juga sudah menduga saat-saat seperti ini akan datang. Mama tau suatu saat kamu akan diminta oleh lelaki yang mencintaimu. Mama sudah tau kalau mama harus merelakan jika suatu saat kamu akan diperistri orang. Dari semenjak kamu menjadi artis sampai sekarang sudah banyak laki-laki yang menaruh hati sama kamu, tapi dari sekian banyak laki-laki tersebut tidak ada satupun yang meyakinkan mama untuk melepaskanmu”. Mama berkata panjang lebar. Farah kemudian tidur di atas pangkuan mamanya. Matanya berkaca-kaca mendengar mamanya bicara begitu.

“Tapi entah kenapa semenjak bertemu dengan Yudha, mama jadi yakin bahwa dia adalah jodoh kamu. Semenjak dia memasuki rumah ini mama sudah melihat kalau Yudha adalah anak yang baik. Anak yang akan bertanggung jawab kepada istrinya. Anak yang akan menjadi suami yang baik, suami yang akan mati-matian menjaga kamu. Mama tau ini mungkin terlalu cepat, tapi mama pikir kalau sudah jodoh mau bagaimana lagi. Mama tiap malam selalu berdoa memohon petunjuk-Nya. Mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu sayang. Semakin mama berdoa ternyata mama semakin yakin kalau Yudha adalah jodoh kamu”.

“Iya mam, Farah mengerti”. Jawab Farah.

“Sekarang yang harus kamu lakukan adalah meyakinkan diri sendiri. Kamu harus siap dan mantap untuk menerima lamaran Yudha. Jangan ragu-ragu, apalagi mama juga sudah tau bagaimana perasaan kamu selama ini. Kalau kamu tidak punya perasaan sama Yudha, mana mungkin kamu tiap hari mau diantar jemput ke tempat syuting. Makan siang berdua, makan malam berdua. Kamu kan sebelumnya tidak pernah seperti ini”. Lanjut mama.

“Iya mam. Sebelumnya Farah memang tidak pernah seperti ini. Tapi entah kenapa dengan Yudha selalu mau kemanapun dia mengajak Farah”. Ujar Farah.

“Yakin kan dirimu sendiri. Mama tidak akan memaksamu untuk menerima lamaran Yudha. Tapi jangan jadikan kebimbangan ini menodai perasaanmu kepada Yudha”. Ujar mama.

“Iya mam, Farah ngerti”. Jawab Farah.

“Sekarang kamu siap-siap, pakai pakaian yang rapi. Kita siap-siap menerima Yudha nanti sore”. Ujar mama.

“Iya mam”. Jawab Farah. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.

***

Yudha sudah memasukkan kopernya ke dalam taksi online yang dipesannya. Dia sudah tidak sabar untuk datang ke rumah Farah dan melamarnya. Dalam hati dia merasa bahagia karena akhirnya dia sampai juga di Jakarta dan akan segera melaksanakan niatnya jauh-jauh hari untuk melamar Farah. Tapi ada juga perasaan gugup yang menghinggapinya.

Ada rasa berdebar-debar dihatinya menantikan peristiwa ini. Seandainya kedua orang tuanya masih ada, tentu semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua tentu dengan senang hati akan melamarkan Farah untuknya. Tapi sekarang keadaanya lain, dia sendiri yang harus melamar Farah untuk dirinya sendiri.

Apakah aku akan minta bantuan sahabatnya Myra dan Pras? Tapi aku tidak mau merepotkan mereka. Sudah dikenalkan dengan Farah saja merupakan anugerah yang tidak terkira untuk Yudha. Myra sudah mengenalkan nya dengan wanita yang selama dua bulan ini sudah mengisi kekosongan hatinya. Wanita yang selama dua bulan ini telah menghiasi hari-harinya dengan kebahagiaan.

Atau aku telpon mereka aja ya, mungkin dengan menelpon mereka bisa mengurangi kegugupanku, begitu pikir Yudha.

Dia kemudian membuka HP nya dan menelpon Myra.

“Halo Yud…”. Ujar Myra ketika telpon sudah tersambung.

“Halo Ya. Aku sudah sampai Jakarta. Sekarang lagi naik taksi mau ke rumah”. Ujar Yudha.

“Loh nggak langsung ke rumah Farah?”. Tanya Myra.

“Nggak Ya. Aku mau simpan dulu barang-barang yang aku bawa dari New York. Nanti sore rencananya aku mau ke rumah Farah”. Jawab Yudha.

“Jadi kan mau melamar Farah hari ini?”. Tanya Myra.

“Mmmm… jadi Ya”. Jawab Yudha.

“Loh kok kayak yang nggak yakin gitu”. Ujar Myra.

“Deg degan Ya. Walaupun hatiku sudah mantap tapi tetap saja ada rasa berdebar-debar”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kita temenin ya ke rumah Farah. Aku sama Pras sudah siap kok”. Ujar Myra.

“Nggak usah Ya. Aku nggak mau merepotkan kalian. Pras ada disitu kan?”. Tanya Yudha.

“Iya Yud, aku ada disini. Kenapa Yud? Butuh bantuan apa? Bilang saja, kita siap bantu kok”. Jawab Pras.

“Waktu dulu mau melamar Myra bagaimana Pras? Bagaimana rasanya?”. Tanya Yudha.

“Iya berdebar-debar juga sih. Tapi aku kan dilamarkan oleh orang tuaku. Jadi aku nggak terlalu punya beban berat”. Jawab Pras.

“Gimana caranya supaya tenang ya Pras?”. Tanya Yudha.

“Wah gimana ya Yud, aku juga nggak tau. Tapi sebelum berangkat ke rumah Myra, kita sekeluarga nyekar dulu ke makam kakek dan nenekku Yud. Mungkin kamu juga bisa meniru apa yang aku lakukan, kamu ziarah saja dulu ke makam orang tuamu sebelum pergi ke rumah Farah”. Jawab Pras.

“Oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu sebelum ke rumah Farah aku akan ziarah dulu ke makan orang tuaku. Terima kasih ya sarannya”. Ujar Yudha.

“Aku sudah sampai rumah nih. Tolong kalian doakan aku ya supaya lancar semuanya”. Lanjut Yudha.

“Iya kita selalu doakan kok”. Jawab Myra dan Pras.

“Sudah dulu ya. Bye”. Ujar Yudha mengakhiri pembicaraan.

“Bye…”. Jawab Myra dan Pras.

Yudha kemudian menurunkan kopernya dibantu mang Ukan. Setelah membayar ongkos taksi online, mereka kemudian masuk kedalam rumah sambil membawa koper Yudha. Bi Neni kemudian membantu mang Ukan membawa koper Yudha.

“Bi… mang… saya nggak punya waktu banyak. Tolong koper saya dibereskan. Saya mau mandi dulu”. Ujar Yudha.

“Loh… den Yudha mau kemana?”. Tanya bi Neni.

“Nanti saya jelaskan bi…”. Ujar Yudha setengah berteriak sambil berlalu ke kamar mandinya.

Setelah selesai mandi kemudian Yudha masuk ke kamarnya dan segera memakai baju batik yang paling bagus. Dia mengenakan baju batik Pekalongan berwarna merah dan hitam dengan motif kembang-kembang. Dia kemudian bergegas keluar kamar. Dia melihat kesana kemari seperti ada yang dicarinya. Kemudian mang Ukan menghampiri Yudha dan memberikan kunci mobilnya.

“Ini den…”. Kata mang Ukan.

“Oh iya terima kasih mang”. Ujar Yudha.

“Jum’at kemarin mang Ukan ke makam kan?”. Tanya Yudha.

“Iya den selalu, makam sudah mamang bersihkan”. Kata mang Ukan.

“Den Yudha mau kemana? Kok sudah rapih begitu?”. Tanya bi Neni.

“Begini bi, hari ini saya akan melamar Farah. Sebelumnya saya akan ziarah dulu ke makam mama sama papa”. Jawab Yudha.

Bi Neni dan mang Ukan kaget bukan main. Kok mendadak sekali majikannya melamar Farah. Tapi memang dari semenjak Yudha pulang dua bulan lalu mereka selalu bersama-sama. Sewaktu diajak makan dirumah ini pun sepertinya mereka sudah punya perasaan khusus dan sepertinya saling menyukai.

“Bi Neni dan mang Ukan tolong doakan semoga segalanya lancar dan lamaran saya diterima”. Lanjur Yudha.

“Perlu kami temani den…?”. Tanya bi Neni.

“Terimakasih bi. Tapi nggak usah bi. Saya sendiri saja kesana hari ini. Kalau lamaran saya diterima nanti kita akan melamar  secara resmi. Nanti bibi sama mamang juga ikut ya”. Jawab Yudha.

“Ya sudah saya berangkat dulu ya. Doakan berhasil ya”. Ujar Yudha.

“Iya den semoga berhasil”. Jawab bi Neni dan mang Ukan.

Yudha kemudian masuk kedalam mobilnya dan berangkat menuju pemakaman orang tuanya.

Sampai di sana, seperti biasa Yudha membeli dua botol air dan dua kantong bunga tabur. Setelah berada di makam orang tuanya kemudian Yudha berdoa. Setelah berdoa dia kemudian menyiramkan air diatas tanah makam orang tuanya. Setelah itu dia menaburkan bunga diatasnya.

Yudha kemudian berbicara.

“Mah… pah… Yudha hari ini akan melamar seorang wanita. Mudah-mudahan lamaran Yudha diterima. Yudha pulang ya…”. Ujar Yudha berbicara sendiri.

Dia kemudian melangkah keluar dari area pemakaman tersebut dan masuk kembali kedalam mobilnya. Benar kata Pras, ternyata setelah dia ziarah ke makam orang tuanya, hatinya jadi lebih tenang. Dia lebih bisa mengendalikan perasaan nya yang tadi tidak karuan. Dia kemudian mulai menjalankan mobilnya. Tujuannya hanya satu, ke rumah Farah.

***

Lama sekali rasanya waktu berlalu hari ini. Farah terlihat gelisah karena belum ada kabar sama sekali dari Yudha. Dia mengenakan setelan kebaya warna pink di bagian atas dan rok yang senada dengan kebayanya. Pakaian ini yang dia pakai sewaktu pertama kali bertemu dengan Yudha di resepsi pernikahan Myra dan Pras. Mama Farah melihat putri cantiknya gelisah. Dia kemudian menghampiri putrinya yang sedang gelisah tersebut. Farah terkadang duduk di sofa, sebentar kemudian dia berdiri dan melihat keluar rumah melalui jendela kacanya.

“Sudah nggak usah gelisah begitu, sebentar lagi juga Yudha datang”. Ujar mama.

“Iya mam. Tapi kok belum ada kabar dari Yudha mam. Ini kan sudah jam empat sore”. Jawab Farah.

“Dia siap-siap dulu kali di rumahnya”. Kata mama.

“Tapi semoga Yudha baik-baik saja ya mam”. Ujar Farah. Mama tersenyum melihat anak gadisnya terus-menerus gelisah.

“Kalau ada apa-apa pasti dia memberi kabar. Mama yakin dia juga sama gelisahnya seperti kamu sekarang. Mungkin dia sedang memantapkan hati buat melamar kamu”. Ujar mama.

Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Farah. Farah melihat dari kaca jendela ruang depan. Mobil Yudha ternyata yang berhenti di depan rumahnya. Farah kemudian buru-buru masuk ke kamarnya.

“Loh… kok malah masuk kamar? Itu Yudha sudah datang, kenapa kamu gak menyambutnya?”. Tanya mama heran.

“Nggak ah mam, Farah nggak sanggup. Farah deg degan”. Ujar Farah sambil duduk di pinggir tempat tidurnya. Mama tersenyum melihat kelakuan anak gadisnya.

Tok tok tok… terdengar pintu rumah ada yang mengetuk.

“Iya sebentar”. Mama Farah kemudian berjalan ke arah pintu masuk dan membuka pintu tersebut.

“Selamat sore tante…”. Yudha berdiri dan kemudian membungkuk menyalami mama Farah seperti biasa.

“Selamat sore juga, ayo masuk”. Ajak mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Yudha berkata agak gemetar. Biasanya dia tidak pernah begini ketika masuk ke rumah ini. Tapi sekarang suasananya lain sekali. Perasaan Yudha tegang kembali setelah tadi agak tenang sepulang dari makam orang tuanya. Dia lihat mama Farah berdandan rapi seperti mau pergi keluar rumah.

“Ayo silahkan duduk”. Ujar mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha. Dia melihat ke dalam ruang tengah mencari keberadaan Farah. Apa Farah masih di kamar nya ya, Yudha berkata dalam hati.

Mama Farah melihat itu dan kemudian tersenyum.

“Bagaimana perjalananmu, lancar?”. Tanya mama Farah.

“Alhamdulillah lancar tante”. Jawab Yudha.

“Syukur kalau lancar”. Ujar mama Farah.

“Jadi selanjutnya bagaimana? Tugas di Jakarta lagi?”. Tanya mama Farah. Dia berusaha mencairkan suasana karena dia lihat Yudha sepertinya tegang sekali.

“Iya tante, sepertinya satu atau dua tahun ini saya di Jakarta dulu. Biar yang muda-muda dulu katanya yang tugas di luar”. Jawab Yudha.

“Oh begitu, kalau di Jakarta ngantornya dimana?”. Tanya mama Farah. Dia melihat Yudha agak sedikit berkurang ketegangannya dengan mengajak ngobrol tentang pekerjaannya.

“Kantor saya yang di Gambir tante”. Jawab Yudha.

“Oh bukan yang di Kebayoran Baru sana ya…”. Ujar mama Farah.

“Oh bukan tante, yang di Kebayoran Baru buat training center, tapi terkadang saya juga kesana buat training staff baru kemenlu”. Jawab Yudha.

“Sekarang menterinya perempuan ya”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante, beliau menteri luar negeri perempuan pertama kita”. Jawab Yudha.

“Wah hebat ya bu menteri luar negeri kita ini”. Ujar mama Farah.

“Beliau juga kenal baik dengan almarhum orang tua saya tante, mereka satu angkatan di kementerian luar negeri”. Ujar Yudha tanpa bermaksud menyombongkan diri.

“Oh begitu…”. Ujar mama Farah.

“Sewaktu orang tua saya meninggal tiga tahun yang lalu beliau berpesan untuk menjaga amanat orang tua saya untuk terus berkarir sebagai diplomat. Beliau juga berpesan kepada saya untuk segera menikah, karena itu pesan terakhir orang tua saya tante”. Ujar Yudha. Mama Farah tersenyum mendengar ucapan Yudha. Dia sepertinya sudah memberikan tanda akan melamar Farah.

“Oh iya, kamu mau minum apa?”. Tanya mama Farah.

“Apa saja tante boleh, air putih juga nggak apa-apa”. Jawab Yudha.

“Sebentar ya tante ambilkan”. Kemudian mama Farah masuk ke ruang tengah dan terus ke arah dapur untuk mengambil air minum.

Farah dari tadi mendengarkan dengan seksama percakapan mamanya dengan Yudha. Sepertinya Yudha tadi agak tegang, terdengar dari suaranya. Tapi setelah ngobrol cukup lama dengan mamanya dia agak sedikit bisa mengurangi ketegangannya.

Mama Farah menengok ke dalam kamar anaknya sambil membawa gelas yang berisi air putih.

“Kamu nggak keluar?”. Tanya mama Farah setengah berbisik.

“Nggak ah mam… nanti saja”. Jawab Farah.

“Tapi nanti kalau mama panggil kamu keluar ya”. Ujar mama Farah.

“Iya…”. Jawab Farah sambil memberikan isyarat kepada mamanya untuk masuk lagi ke ruang tamu menemui Yudha. Mama Farah tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat sikap anak gadisnya ini.

“Ayo silahkan diminum”. Ujar mama Farah setelah dia meletakkan gelas yang berisi air putih kepada Yudha.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha kemudian dia meminum air putih yang disuguhkan mama Farah. Setelah minum dia menjadi agak segar dan tenggorokannya tidak terlalu kering akibat ketegangan tadi. Setelah selesai minum Yudha mulai berkata.

“Begini tante… saya datang hari ini ada maksud yang ingin saya sampaikan kepada tante”. Ujar Yudha kemudian dia berhenti sejenak. Mama Farah mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh anak muda ini. Walaupun dia sudah bisa menebak apa yang akan diutarakan Yudha, tapi dia juga ingin mendengar langsung maksud kedatangan Yudha sekarang.

“Saya memang baru mengenal Farah selama dua bulan. Tapi kebersamaan saya selama seminggu saya di Jakarta sudah memberikan kesan yang banyak sekali. Walaupun hanya satu minggu bersama dengan Farah tapi saya sudah merasa sangat cocok dengan Farah tante”. Ujar Yudha. Mama Farah mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan Yudha.

“Iya tante mengerti. Tante juga memperhatikan sikap kalian selama seminggu itu”. Jawab mama Farah.

“Jadi maksud nak Yudha bagaimana?”. Tanya mama Farah. Farah yang mendengarkan di kamarnya menjadi tegang, dia mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Yudha kepada mamanya.

“Saya tahu ini mungkin terlalu cepat. Maksud saya baik tante dan saya juga tidak mau berlama-lama menunggu lagi”. Jawab Yudha. Dia masih bicara berputar-putar, dia tidak ingin mama Farah berpikiran yang tidak-tidak terhadap dirinya.

“Jadi begini tante…”. Yudha masih agak tegang untuk mengutarakan maksudnya.

“Iya tante mendengarkan…”. Ujar mama Farah.

“Saya… bermaksud… untuk…”. Yudha berhenti dulu sejenak. Dia menarik nafas panjang. Mama Farah masih menunggu dengan seksama apa yang akan dikatakan Yudha. Farah pun menantikan apa yang akan dikatakan Yudha kepada mamanya.

“Saya bermaksud melamar Farah untuk menjadi istri saya”. Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Yudha. Mama Farah tersenyum, keluar juga kata-kata itu dari Yudha yang sudah dia perkirakan jauh-jauh hari. Di Dalam kamar, Farah menutup mukanya dengan kedua tangannya. Benar yang dikatakan mamanya, Yudha memang berniat untuk melamar dia menjadi istrinya.

Yudha merasa lega dengan apa yang baru saja dia katakan kepada mama Farah. Akhirnya bisa juga dia mengutarakan niatnya selama ini kepada mama Farah. Dia berharap semoga lamarannya diterima oleh Farah dan mamanya.

Sebagai orang tua rasanya dia harus bersikap bijak dan arif kepada anak muda ini. Walaupun dia sekarang menjadi ‘single parent’ tetapi dia sudah bisa menjaga dan merawat putri cantiknya ini dengan baik. Dia juga tidak mau maksud Yudha memperistri anaknya hanya keinginan sesaat saja tanpa didasari niat yang tulus, begitu pikir mama Farah.

“Begini Yudha…”. Mama Farah memulai pembicaraan untuk menjawab maksud kedatangan Yudha hari ini. Dia tidak lagi memanggil Yudha dengan sebutan nak.

“Seperti yang Yudha tahu, Farah sudah tidak mempunyai ayah. Tante membesarkan Farah seorang diri selama sepuluh tahun terakhir. Tante tahu apa yang diinginkan anak tante. Tante ingin dia selalu bahagia. Makanya selain dia terus main film, tante juga mulai berbisnis untuk bisa terus memberikan yang terbaik kepada Farah”. Ujar mama Farah.

“Apakah Yudha sudah yakin ingin menjadikan Farah sebagai istri? Jangan sampai niat Yudha ini hanya keinginan sesaat saja tanpa ada persiapan”. Tanya mama Farah.

Yudha menarik nafas, kemudian mulai berbicara lagi.

“Begini tante, saya sudah di usia yang tidak muda lagi. Saya dari semenjak lama memang tidak punya niat untuk pacaran. Apabila saya menemukan orang yang cocok, saya ingin segera melaksanakan niat saya untuk menjadikan dia istri saya. Niat saya sudah bulat untuk menjadikan Farah sebagai istri saya. Saya sudah merasa yakin dengan pilihan saya”. Jawab Yudha.

“Iya tante mengerti itu. Sama satu lagi, kami ini bukan dari golongan orang yang berada. Kami hidup biasa-biasa saja tanpa bergelimang harta dan kemewahan. Apakah kamu yakin dengan keputusanmu? Setelah Farah menikah nanti mungkin dia akan berhenti berkarir sebagai artis film. Dengan begitu sebagai suami kamu yang harus menafkahi anak tante”. Ujar mama Farah.

“Iya tante saya mengerti akan hal itu. Untuk soal golongan, saya sudah diajarkan oleh orang tua saya untuk tidak membeda-bedakan orang dari status sosialnya. Saya diajarkan untuk selalu menyamakan semua orang tanpa melihat status sosial mereka. Mengenai kebutuhan nafkah Farah dan tante saya sudah siap tante. Mohon maaf sebelumnya, selain saya berkarir sebagai diplomat ada juga beberapa peninggalan orang tua saya yang masih ada. Ada beberapa ruko yang saya sewakan, ada juga beberapa rumah peninggalan almarhum orang tua saya yang saya kontrakan. Ada yang di Jakarta dan ada juga yang di Surabaya. Saya merasa itu sudah cukup untuk menafkahi Farah tante”. Jawab Yudha.

Farah yang tadi mendengarkan dengan seksama percakapan mamanya dengan Yudha menjadi tau apa yang ada di hati Yudha. Dia ternyata sudah menyiapkan semuanya untuk calon istrinya kelak. Farah tau mamanya bukan tipe yang materialistis tapi mamanya ingin meyakinkan anaknya nanti bahagia lahir dan batin.

Hening sejenak di ruang tamu. Farah yang mendengarkan dari tadi juga menantikan apalagi yang akan dibicarakan mamanya dan Yudha.

“Jadi bagaimana tante. Lamaran saya diterima atau tidak?”. Tanya Yudha. Kali ini ketegangan nya sudah hilang. Dia berinisiatif untuk kembali melanjutkan pembicaraan dengan mama Farah. Mama Farah kemudian tersenyum, dia salut kepada Yudha. Dia sudah memberanikan diri untuk melamar putrinya seorang diri.

“Tante salut sama kamu Yudha. Orang lain apabila ingin melamar pasti minta dilamarkan oleh orang lain. Tapi kamu punya keberanian yang besar untuk melamar Farah seorang diri kepada tante”. Jawab mama Farah.

“Iya tante”. Yudha sudah mulai bisa tersenyum.

“Begini Yudha, semenjak kamu masuk ke rumah ini, tante kok melihat ada yang beda dengan kamu. Kamu orang nya sopan, rendah hati dan kelihatannya baik”. Ujar mama Farah.

“Terima kasih tante”. Jawab Yudha.

“Dan lagi tante melihat ada yang beda juga dengan penerimaan Farah kepada kamu. Sebelumnya Farah tidak pernah seperti ini sikapnya kepada laki-laki. Terus kalian kok semakin hari sepertinya semakin dekat. Terus terang tante juga heran dengan sikap Farah selama seminggu itu. Dia sering melamun dan menyendiri di kamarnya”. Ujar mama Farah lagi. Mama kok yang begitu diceritain sih, Farah berkata dalam hati.

“Tante juga sudah menduga kalau kamu akhirnya akan melamar Farah. Tante juga sudah melihat gejala itu semenjak Farah memakai cincin yang kamu berikan”. Lanjut mama Farah.

“Jadi bagaimana tante?”. Tanya Yudha sudah tidak sabar mendengar jawaban mama Farah.

“Iya… tante terima lamaran kamu”. Jawab mama Farah.

“Benar tante?”. Tanya Yudha ingin meyakinkan.

“Iya benar…”. Jawab mama Farah.

“Terima Kasih tante”. Ujar Yudha tersenyum lalu kemudian dia mencium tangan mama Farah.

“Tapi tunggu dulu”. Ujar mama Farah.

“Apalagi tante?”. Yudha bingung.

“Kan yang mau menikah Farah bukan tante, jadi ada baiknya kamu juga mendengar jawaban Farah”. Jawab mama Farah.

Wah mama kok gitu, masa aku harus jawab juga lamaran Yudha. Aduh bagaimana ini, aku kok gemeteran begini, Farah berkata dalam hati.

“Farah… sini sayang”. Panggil mama Farah.

“Iya mam…”. Kemudian perlahan Farah keluar dari kamarnya. Mukanya masih menunduk tidak berani menatap wajah Yudha.

“Sini duduk disamping mama”. Ujar mama Farah. Kemudian Farah duduk di samping mamanya. Yudha melihat dengan seksama kearah Farah. Dia tidak salah dengan pilihannya. Selain cantik alami, Farah juga anak yang penurut kepada orang tuanya. Dia yakin Farah juga akan menerima lamarannya.

“Seperti yang kamu dengar tadi, Yudha sudah mengutarakan maksudnya untuk melamar kamu. Mama sudah setuju untuk menerima lamaran Yudha. Tinggal sekarang kamu yang harus menjawab iya atau tidak”. Ujar mama Farah.

“Harus dijawab ya mam…”. Farah berbisik kepada mamanya.

“Ya iya dong, kan kamu yang mau menikah. Jadi kamu harus jawab mau apa nggak menerima lamaran Yudha”. Jawab mama Farah. Farah masih terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana menjawab lamaran Yudha.

“Jadi bagaimana?”. Mama Farah tersenyum melihat anak gadisnya bersikap seperti ini.

“Kamu terima gak lamaran Yudha?”. Tanya mama Farah.

Farah kemudian perlahan mengangguk tanda setuju.

“Kok gak ada suaranya?”. Tanya mama Farah.

“Mama…”. Kata Farah sedikit berbisik.

“Mau gak menerima lamaran Yudha?”. Mama Farah kembali tersenyum melihat kelakuan anak gadisnya.

“Iya… mau…”. Jawab Farah sambil mengangguk, suaranya hampir tidak terdengar saking pelannya dia berbicara. Dia menjawab sambil masih menundukkan kepalanya.

Yudha sekarang sudah lega. Farah dan mamanya sudah menerima lamarannya walaupun jawabannya agak lama.

“Yudha sudah mendengar sendiri kan jawaban anak tante. Dia bersedia menjadi istri kamu. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai hari pernikahan kalian nanti”. Ujar mama Farah.

“Nah sekarang tante masuk dulu, kalian ngobrol saja dulu, tapi ingat… kalian belum menikah ya”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante”. Jawab Yudha, dia mengerti apa yang dimaksud mama Farah. Mama Farah kemudian masuk ke ruang tengah.

Tinggal Yudha dan Farah yang ada di ruang tamu. Mereka berdua masih diam, tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Padahal sewaktu Yudha masih ada di Jakarta dua bulan lalu mereka selalu ngobrol apa saja.

“Farah…”. Ujar Yudha memulai pembicaraan.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Terimakasih ya. Kamu sudah menerima lamaranku. Aku bahagia sekali hari ini”. Ujar Yudha.

“Iya mas… sama”. Jawab Farah pelan.

“Oh iya aku mau nanya. Andre bilang katanya kamu nggak mau menerima job film lagi? Kenapa?”. Tanya Yudha.

“Disuruh sama mama mas”. Jawab Farah.

“Kata mama aku harus istirahat dulu main film”. Lanjut Farah.

“Kenapa harus istirahat main film?”. Tanya Yudha keheranan.

“Kan mas mau melamar aku, terus kita nikah, masa nanti aku menikah sambil terus main film”. Jawab Farah.

“Kok mama kamu sudah bisa menebak niat aku ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas, dari semenjak mas Yudha berangkat lagi ke New York mama sudah punya keyakinan kalau mas Yudha akan datang lagi dan melamarku, apalagi mas Yudha sudah memberikan aku cincin. Ternyata benar yang dikatakan mama, hari ini mas benar-benar melamar aku. Ujar Farah.

“Oh begitu”. Jawab Yudha.

“Terus kok Andre bisa bilang kalau aku ini calon suami kamu?”. Tanya Yudha. Farah kemudian tersenyum. Dia sudah tidak merasa tegang lagi sekarang.

“Jadi begini mas… aku kan gak mau terima job film dulu. Nah sekarang tuh lagi ada film baru yang akan produksi. Pemeran utama prianya itu ya Andre. Tapi dia minta sama produser untuk memintaku jadi pemeran utama wanitanya. Aku kan sudah bilang sama manajerku kalau aku mau istirahat akting dulu”. Jawab Farah.

“Oh begitu, terus…”. Kejar Yudha.

“Tapi dia maksa terus mas, dia nanya kenapa aku nggak mau jadi pemeran utama wanitanya. Nanya nya terus-terusan mas sampai Myra juga ditanya-tanya. Myra mungkin kesal ditanya-tanya terus sama Andre. Jadi ya sudah dia jawab saja kalau aku mau menikah. Eh dia bilang waktu diwawancarai wartawan kalau aku mau menikah. Jadilah rame di infotainment kalau aku mau menikah. Aku juga dikejar-kejar wartawan infotainment terus sampai hari ini. Makanya aku nggak keluar rumah dari kemarin mas”. Lanjut Farah.

“Oh begitu, sampai segitunya ya dunia infotainment kita”. Ujar Yudha.

“Tapi mulai hari ini kamu nggak usah menghindar ya. Kan aku sudah resmi melamar kamu”. Lanjut Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Eh sebentar…”. Ujar Yudha. Kemudian dia mengeluarkan HP nya. Dia kemudian menghubungi Myra. Yudha memperlihatkan kepada Farah siapa yang dihubunginya. Farah kemudian tersenyum.

“Halo Ya…”. Yudha memulai pembicaraan ketika telpon nya sudah terhubung dengan Myra. Dia mengeraskan suara HP nya supaya Farah juga mendengar percakapan mereka.

“Halo Yud, gimana lamaran kamu diterima?”. Tanya Myra langsung menanyakan kabar lamaran Yudha.

“Alhamdulillah diterima Ya. Ini ada Farah juga disampingku”. Jawab Yudha.

“Ya ampun selamat ya buat kalian. Aku bahagia banget. Selamat ya cantik… akhirnya kamu akan menikah juga”. Ujar Myra.

“Iya Yaya… terima kasih. Terima kasih juga buat semuanya ya. Kamu sudah mengenalkan aku sama Yudha dan akhirnya kita akan menikah”. Jawab Farah.

“Iya sama-sama cantik. Tapi kan ini juga karena kalian sama-sama suka. Kalau kalian tidak saling suka, kan nggak mungkin kalian sampai sejauh ini”. Ujar Myra. Yudha dan Farah saling pandang dan tersenyum.

“Oh iya Ya, sampaikan juga terima kasih sama Pras ya. Tadi aku ziarah dulu jadi perasaanku agak tenang”. Ujar Yudha.

“Iya sama-sama Yud. Selamat ya buat kalian berdua”. Pras yang menjawab. Dia juga mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.

“Jadi kapan lamaran resmi nya?”. Tanya Myra.

“Nanti aku kabari Ya. Aku harus menyiapkan semuanya termasuk memilih tanggal pernikahan kita”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau gitu, nanti kabarin ya kalau sudah pasti. Aku juga mau ikut sama Pras”. Ujar Myra.

“Oke Ya. Terimakasih ya. Bye…”. Jawab Yudha. Kemudian dia menutup telpon nya.

“Mas tadi ke makam dulu?”. Tanya Farah.

“Iya sayang… aku tadi tegang sekali. Terus Pras ngasih saran bagaimana kalau aku ziarah dulu ke makam orang tuaku”. Jawab Yudha. Dia sudah berani memanggil Farah dengan kata sayang.

“Oh begitu. Pantesan lama banget sampai kesini. Aku sampai gelisah nunggu kamu”. Ujar Farah.

“Kamu nungguin aku ya dari tadi…?”. Ujar Yudha menggoda Farah.

“Iya… aku kan kuatir mas. Takut ada apa-apa di jalan”. Jawab Farah.

“Nggak kok, nggak ada apa-apa, tadi aku cuma ziarah doang, terus langsung kesini”. Ujar Yudha.

“Terus tadi mas bilang mau melamar secara resmi, maksudnya gimana mas?”. Tanya Farah.

“Nanti Yudha akan datang bersama dengan keluarganya kesini untuk meresmikan lamarannya kepada kamu, terus mungkin tukar cincin dan kita tentukan tanggal pernikahan kalian”. Jawab mama Farah yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu.

“Iya betul tante”. Ujar Yudha.

“Oh gitu mam”. Jawab Farah.

“Tadi juga mama sudah menghubungi saudara-saudara kita yang disini maupun yang di Bandung kalau kamu akan segera menikah. Nanti mereka juga akan menyambut keluarga Yudha disini kalau tanggal lamarannya sudah ditentukan”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante, saya juga akan menghubungi ibu saya di panti, terus saya juga akan meminta kesediaan ibu menteri untuk datang, mudah-mudahan beliau juga bisa hadir”. Ujar Yudha.

“Oh begitu, wah mama harus siap-siap dong kalau begitu. Mama harus menyiapkan semuanya dari sekarang”. Ujar mama Farah.

“Iya tante kalau begitu saya pamit ya. Saya harus menyiapkan semuanya dirumah. Nanti akan saya kabari tante dan Farah perihal waktu lamaran resminya”. Ujar Yudha. Yudha kemudian berdiri dan menyalami mama Farah seperti biasa.

“Ya sudah, hati-hati ya dijalan”. Jawab mama Farah. Kemudian dia masuk lagi ke ruang tengah.

Farah dan Yudha berjalan keluar rumah.

Sebelum naik mobil, Yudha menggenggam kedua tangan Farah. Farah tersenyum, dia masih merasa canggung ada laki-laki yang memegang tangannya, walaupun laki-laki ini adalah calon suaminya.

“Aku pulang ya, nanti kalau ada apa-apa aku kabari ya. Nanti juga kalau kamu ada apa-apa segera kabari aku ya”. Ujar Yudha.

“Terus nanti untuk acara lamaran kita, bagaimana kalau pakai jasa WO saja, jadi kita nggak pusing mikirin semuanya. Nanti tolong bilangin sama mama kamu ya”. Lanjut Yudha.

“Iya mas nanti aku bilangin sama mama”. Jawab Farah. Yudha kemudian melepaskan tangan Farah.

“Aku pulang ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas, hati-hati ya dijalan”. Jawab Farah. Kemudian Yudha masuk kedalam mobilnya. Dia kemudian membuka kaca mobilnya sebelah kiri. Dia mulai menjalankan mobilnya dan melambaikan tangan kepada Farah. Farah balas melambaikan tangan, dia melihat terus mobil Yudha sampai mobilnya menghilang di tikungan jalan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *