Diplomat Bag. 7 – Pulang ke Jakarta

Yudha kemudian turun dari apartemennya. Dia berencana mau sarapan pagi di cafe seberang apartemen nya. Biasanya dia makan roti dan minum juice disana. Cafe tersebut terletak di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Meja dan kursinya pun di tempatkan di trotoar dengan payung kain di atasnya. Sekarang bulan Februari sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi sehingga udara tidak terlalu dingin disana.

“Good morning Yudha”. Sapa seorang waiters wanita di sana yang sudah mengenal Yudha karena hampir tiap hari dia sarapan disana.

“Morning… as usual please…”. Kata Yudha kepada waiters cafe tersebut. Dia memang biasa memesan Roti dan Juice di cafe tersebut dan waitersnya juga sudah tahu pesanan langganannya. Dia pun tahu Yudha dari Indonesia dan seorang muslim, jadi penyajiannya pun berbeda dengan yang biasa mereka sajikan kepada warga setempat.

“Okay…”. Jawab waiters tersebut. Kemudian dia masuk ke dalam cafe sementara Yudha duduk di kursi yang ada di trotoar.

Dia kemudian mengeluarkan HP nya dan mencoba melakukan ‘video call’ dengan Farah. Semoga Farah sudah ada di rumah.

“Hai Farah…”. Yudha melambaikan tangan ke HP nya ketika sudah ada wajah Farah disana. Sepertinya dia sudah ada di rumah dan ada ruang tengah rumahnya.

“Hai juga… Eh sekarang pagi ya disana…”. Tanya Farah.

“Iya disini sekarang pagi. Kamu sudah pulang syuting?”. Tanya Yudha.

“Iya sudah pulang tadi sore”. Jawab Farah.

“Nggak jalan-jalan dulu…?”. Tanya Yudha.

“Nggak ah mas males… pengen pulang aja langsung. Ini berdua aja sama mama lagi nonton tv”. Jawab Farah.

“Oh gitu, salam aja sama mama. Kalau aku masih di Jakarta pasti aku ajak kamu jalan, terus kita makan…”. Ujar Yudha.

“Hehe… iya mas”. Jawab Farah malu-malu.

Yudha kemudian mengencangkan jaketnya.

“Masih dingin ya mas disana?”. Tanya Farah.

“Iya masih, tapi sekarang sudah lumayan hangat jadi aku keluar apartemen nggak pake baju berlapis-lapis”. Jawab Yudha.

“Seru ya mas di New York”. Ujar Farah.

“Ya begitulah. Nanti suatu saat aku ajak kamu kesini…”. Ujar Yudha.

“Hehe… makasih mas”. Jawab Farah.

“Breakfast ready…”. Ujar seorang waiters.

“Oh thank you”. Jawab Yudha.

“Mas lagi sarapan…?”. Tanya Farah.

“Iya… nih sarapanku hanya ini…”. Ujar Yudha sambil mengarahkan HP nya ke arah makanan yang baru saja dipesannya.

“Kalau disana sarapan gitu aja mas…?”. Tanya Farah.

“Iya… ini saja yang bisa aku makan. Kalau di Jakarta kan banyak macamnya kalau sarapan. Jadi pengen cepat-cepat pulang kangen sama Jakarta”. Ujar Yudha.

“Sama kangen sama seseorang juga…”. Lanjut Yudha sambil tersenyum.

“Kangen sama siapa hayo…”. Tanya Farah, padahal dia juga tahu Yudha kangen sama siapa, siapa lagi kalau bukan kangen sama Farah.

“Sama seseorang yang kemarin aku kasih cincin…”. Jawab Yudha sambil tersenyum. Farah juga tersenyum.

“Eh barusan Myra telpon, katanya tadi pagi ke tempat kamu syuting ya…”. Tanya Yudha.

“Iya tadi dia mampir sambil ngasih oleh-oleh kain Bali”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Yudha berkata sambil menyantap sarapannya.

“Tadi juga ngobrol sama mama”. Ujar Farah.

“Dia godain kamu ya…”. Tanya Yudha.

“Biasa mas memang dia suka gitu…”. Jawab Farah.

“Apartemen mas Yudha dekat dari situ?”. Tanya Farah.

“Iya dekat. Tuh yang lantai dua yang warna hijau”. Jawab Yudha sambil mengarahkan kameranya ke arah apartemennya yang ada di lantai dua.

“Terus ke tempat kerja jauh?”. Tanya Farah

“Agak lumayan sih, aku naik bis dari sini ke tempat kerja”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas”. Ujar Farah.

“Aku berangkat kerja dulu ya… sampai nanti”. Ujar Yudha setelah menyelesaikan sarapannya.

“Iya mas hati-hati”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mengakhiri komunikasi nya dengan Farah. Ah lega rasanya sudah bisa melihat Farah dan bisa ngobrol lagi, pikir Yudha. Dia kemudian meletakkan uang di meja cafe tersebut dan beranjak dari sana menuju tempat kerjanya.

Farah pun senang bisa melihat lagi Yudha dan bisa ngobrol walaupun hanya lewat ‘video call’, dia jadi lega bisa kembali ngobrol sama Yudha. Ah aku kenapa begini ya… apakah aku jatuh cinta sama dia? Masa sih aku jatuh cinta? Tapi ada rasa kangen kalau belum melihat dia sehari, Farah berkata dalam hati.

“Kenapa… senang ya bisa ‘video call’ sama Yudha?”. Tanya mama Farah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri setelah ngobrol sama Yudha.

“Kenapa ya kok aku jadi kangen sama dia mam? Padahal kita kan baru kenal satu minggu”. Ujar Farah.

“Ya mungkin kalian sudah sama-sama cocok, sudah sehati”. Jawab mama Farah.

“Tapi aku nggak pernah kayak gini sebelumnya mam…”. Ujar Farah.

“Ya sudah nggak apa-apa, mungkin ini sudah takdir kamu harus sama Yudha”. Jawab mama.

“Mama setuju aku sama Yudha?”. Tanya Farah.

“Kan mama sudah bilang, mama setuju saja. Tinggal kamu nya yang harus mantap sama Yudha”. Jawab mama.

“Kalau nanti Yudha benar-benar melamar aku bagaimana mam? Punya komitmen saja belum…”. Ujar Farah. Dia melihat lagi ke arah jarinya yang disana melingkar cincin berlian pemberian Yudha.

“Loh kan nggak harus diungkapkan. Kalian juga sudah saling komitmen dalam hati kan. Coba sekarang mama tanya, kalau sekarang ada laki-laki lain yang mendekati kamu dan misalnya mengajakmu pacaran bagaimana?”.

“Nggak mau…”. Jawab Farah sambil cemberut.

“Kenapa…?”. Tanya mama.

“Ingat Yudha…”. Jawab Farah.

“Nah kan… begitu pun Yudha. Mama yakin dia juga tidak akan kelain hati walaupun dia sekarang jauh dari kamu”. Ujar mama.

“Begini saja… kalau besok pagi Yudha telpon kamu pas dia pulang kerja, terus telpon lagi malam hari seperti sekarang pas dia disana mau berangkat kerja, berarti sudah bisa mama pastikan kalian sudah punya komitmen dalam diri kalian masing-masing”. Lanjut mama.

“Atau kalau Yudha telat telpon kamu, terus kamu yang inisiatif telepon duluan, sudah pasti kalian sudah satu hati”. Lanjut mama lagi.

“Gitu ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya… sudah malam ayo kamu tidur, kan besok harus berangkat syuting pagi”. Ujar mama.

“Iya mam, Farah tidur dulu ya…”. Ujar Farah sambil mencium pipi mamanya. Kemudian dia masuk kamar dan berbaring di kasurnya. Matanya masih belum bisa dipejamkan. Dalam pikirannya masih ada bayangan Yudha yang belum bisa hilang dari ingatannya. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk.

‘Sweet dream ya’

Ternyata whatsapp dari Yudha.

‘Kok tahu aku mau tidur’

Balas Farah

‘Tahu dong…kan aku bisa lihat kamu lagi tiduran :D’

Balas Yudha

‘Bisa aja…’

Balas Farah

‘Selamat tidur ya’

Balas Yudha

‘Iya mas…’

Balas Farah

Kemudian Farah tertidur dengan bayangan Yudha menemani tidurnya.

***

Benar apa yang dikatakan mama Farah. Sejak saat itu setiap pagi ketika Farah mau berangkat syuting atau sedang liburan di rumah, pasti Yudha telpon dia. Begitupun malamnya waktu Yudha mau berangkat kerja pasti dia menelpon Farah lewat ‘video call’. Apabila Yudha telat telpon Farah, Farah yang berinisiatif untuk menelpon duluan. Walaupun mereka belum punya komitmen apapun tapi hati mereka masing-masing seperti sudah terikat janji.

Hampir dua bulan berlalu semenjak Yudha dan Farah berpisah. Sebentar lagi tugasnya  di New York hampir selesai. Dua bulan yang sangat indah namun sedikit menyiksa buat mereka berdua. Mereka harus berhubungan jarak jauh karena tugas Yudha.

Besok pagi dia akan kembali ke Jakarta. Tugasnya di New York sudah selesai, dia pun sudah berpamitan kepada kepala KJRI New York untuk kembali ke Jakarta. Dia juga sudah berpamitan kepada teman-teman sejawatnya untuk kembali bertugas di Jakarta.

“Saya pamit ya pak. Besok saya kembali ke Jakarta”. Ujar Yudha kepada Pak Mintoharjo atau biasa dipanggil pak Minto atasanya di KJRI New York.

“Oke Yudha, semoga selamat sampai Jakarta ya… salam sama semua tim yang ada di Jakarta”. Kata pak Minto.

“Terimakasih kamu sudah bantu-bantu saya selama tiga tahun ini”. Lanjut pak Minto.

“Iya sama-sama pak. Oh iya pak, kalau nanti saya jadi menikah saya harap bapak bisa datang menghadiri pernikahan saya”. Pinta Yudha.

“Loh sudah mau nikah? Sama siapa? Orang mana? Kok kamu nggak kelihatan sedang pacaran?”. Tanya pak Minto.

“Saya belum pacaran pak, tapi saya mau langsung lamaran. Rencananya sepulang dari sini saya mau langsung melamar dia di rumahnya pak”. Jawab Yudha.

“Kok sudah yakin mau diterima?”. Tanya pak Minto penasaran.

“InsyaAllah yakin pak”. Jawab Yudha mantap.

“Ya sudah kalau kamu yakin dan mantap, saya doakan lancar dan sukses lamarannya. Nanti kalau kamu sudah tentukan tanggalnya segera kasih tahu saya. Nanti saya jadwalkan ke resepsi pernikahan kamu. Mudah-mudahan saya bisa datang kesana”. Jawab pak Minto.

“Baik pak, kalau begitu saya izin pamit mau langsung beres-beres”. Kata Yudha.

“Iya… hati-hati ya”. Jawab pak Minto. Kemudian mereka berdua bersalaman.

Yudha bergegas pulang ke apartemennya. Dia sudah memegang tiket pesawat untuk pulang. Dia harus membereskan pakaian dan semua barang-barang yang ada disana. Rencananya apartemen yang ditempati sekarang akan diserahkan kepada penggantinya yang akan datang dari Jakarta. Biar penggantinya tersebut tidak usah susah-susah lagi mencari apartemen.

***

Yudha sudah memberitahu Farah bahwa dia akan pulang besok ke Jakarta. Dia juga sudah memberitahu mang Ukan dan bi Neni bahwa besok dia akan pulang ke Jakarta. Tinggal Myra yang belum dikasih tahu perihal kepulangannya ke Jakarta.

“Halo Ya…”. Kata Yudha membuka pembicaraan ketika dia sudah terhubung dengan Myra melalui telpon.

“Aku besok balik ke Jakarta”. Lanjut Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung ke rumah Farah?”. Tanya Myra.

“Iya tapi besok aku pulang dulu sebentar ke rumah, nyimpen koper sama barang-barangku”. Jawab Yudha.

“Bener nih nggak usah aku temenin? Aku sama Pras siap kok kalau kamu butuh bantuan”. Tanya Myra.

“Besok aku sendiri dulu saja ke rumah Farah, nanti pas lamaran resmi baru kamu sama Pras ikut ya”. Jawab Yudha.

“Rencananya kalau pas lamaran resmi aku mau minta bantuan sama bu Menteri”. Lanjut Yudha.

“Wuih… beneran nih kayaknya…”. Ujar Myra.

“Iya Ya. Kan bu Menteri juga sudah aku anggap orang tua sendiri. Beliau juga kan teman dekat orang tuaku”. Ujar Yudha.

“Ya sudah… kamu hati-hati ya besok. Jadi sampai Jakarta jam berapa?”. Tanya Myra.

“Besok dari sini jam sepuluh malam waktu New York, sampai Jakarta jam sepuluh malam juga waktu New York, jadi kalau nggak ada delay berarti aku sampai jam sepuluh pagi waktu Jakarta”. Jawab Yudha.

“Perlu dijemput nggak? Nanti aku suruh sopirku ke bandara”. Tanya Myra.

“Nggak usah Ya. Kamu kan lagi syuting. Tenang aja aku nanti naik taksi online saja”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, bye Yud…”. Ujar Myra.

“Oke bye…”. Mereka mengakhiri pembicaraan.

Yudha kembali membereskan barang-barang pribadinya untuk dibawa ke Jakarta. Ternyata lumayan banyak juga barang-barang pribadinya yang ada disini. Ada juga beberapa barang pemberian Farah. Dia sengaja mengirimkan lewat paket kilat. Selama dua bulan ini ada beberapa barang yang Farah kirimkan kepadanya di New York. Farah juga sih… padahal nggak usah kirim barang ke New York segala, nanti juga aku akan ke rumahnya, pikir Yudha. Tapi Farah bersikeras mengirimkan barang tersebut sebagai kenang-kenangan.

Ada juga beberapa cinderamata dari teman-teman sejawat Yudha di KJRI New York yang diterima hari ini. Mereka semua begitu baik kepada Yudha. Bukan karena kedekatan Yudha dengan bu Menteri, ataupun karena orang tua Yudha yang adalah senior mereka di Kemenlu, tapi karena Yudha disenangi oleh semua orang. Yudha cekatan dalam bekerja dan tidak segan-segan membantu permasalahan yang sedang dihadapi rekan sejawatnya disana.

***

Pagi-pagi Yudha sudah berkemas-kemas di apartemennya. Dia tidak ingin ada barang miliknya yang tertinggal di apartemen tersebut. Ada tiga koper besar barang Yudha yang sudah di packing bersama dengan satu tas ransel yang berisi barang-barang pribadinya termasuk foto Farah. Dia melihat lagi Foto Farah. Dia tersenyum melihat foto itu. Farah adalah penyemangatnya bekerja selama dua bulan ini. Setiap pagi dan malam mereka selalu saling memberi kabar. Apabila Yudha telat menghubungi Farah, Farah yang berinisiatif menanyakan kabar Yudha. Terasa aneh hubungan ini, mereka belum punya komitmen apapun tapi seperti sudah pacaran saja, begitu pikir Yudha.

Terdengar HP Yudha berbunyi tanda ada telpon yang masuk. Dia lihat Farah yang telpon, Yudha tersenyum dan membuka HP nya.

“Hai Farah…”. Ujar Yudha membuka percakapan ketika telpon nya tersambung dengan Farah.

“Hai mas…”. Jawab Yudha.

“Sudah malam kok belum tidur…?”. Tanya Yudha.

“Iya belum… mau telpon mas Yudha dulu hehe…”. Jawab Farah.

“Disana pagi ya mas…? Mas Yudha sudah sarapan?”. Tanya Farah.

“Sudah… tadi sebelum beres-beres aku ke bawah dulu sarapan di cafe”. Jawab Yudha.

“Oh sudah beres-beresnya mas…?”. Tanya Farah.

“Sudah… ini ada tiga koper pakaian dan barang-barang yang pernah aku beli disini. Sama satu tas ransel yang isinya cinderamata dari teman kantor sama ada juga barang-barang yang kamu kirim”. Jawab Yudha.

“Wah banyak juga ya mas…”. Ujar Farah.

“Iya lumayan”. Ujar Yudha.

“Nanti mas berangkat jam berapa ke bandara?”. Tanya Farah.

“Nanti jam satu siang aku berangkat ke bandara. Pesawatnya kan jam sepuluh malam waktu sini, jadi aku masih punya banyak waktu buat beres-beres lagi. Aku harus merapikan apartemen ini, soalnya rencananya ada penggantiku dari Jakarta yang akan menempati apartemen ini”. Jawab Yudha.

“Oh jadi ada pengganti mas Yudha yang akan tinggal disitu…”. Ujar Farah.

“Iya… biar dia gak usah lagi nyari apartemen. Lagian disini suasananya enak dan nyaman, jadi nanti penggantiku nggak susah beradaptasi sama lingkungan disini”. Jawab Yudha.

“Oh gitu… mas nanti kasih kabar ya kalau sudah berangkat ke bandara. Biarpun aku sudah tidur tapi HP ku nggak aku matikan mas”. Ujar Farah.

“Iya… nanti aku kabari kalau sudah berangkat ke bandara”. Jawab Yudha.

“Ya sudah aku tidur dulu ya… hati-hati nanti pas berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya…. sayang”. Jawab Yudha, tapi dia berkata pelan sekali ketika menyebut kata sayang. Ingin sekali dia menyapa Farah dengan kata sayang, karena memang sudah tumbuh rasa sayang di hatinya selama dua bulan ini, walaupun belum ada komitmen tapi perasaan Yudha dengan Farah sudah berkomitmen tanpa harus diungkapkan.

“Apa mas… gak kedengeran…”. Ujar Farah, dia sebetulnya mendengar kata sayang yang diucapkan Yudha barusan, tapi dia pura-pura tidak mendengar. Hatinya berbunga-bunga ketika Yudha memanggilnya dengan kata sayang. Rasanya bahagia sekali.

“Mmm nggak… nggak apa-apa. Selamat tidur ya… ‘sweet dream’ ya…” Ujar Yudha menutup pembicaraan mereka kali ini.

“Iya mas bye…”. Farah menutup telponnya. Dia tersenyum dan menutup mukanya dengan selimut. Dia senang sekali dipanggil sayang oleh Yudha. Kemudian dia tertidur ditemani bayangan Yudha.

***

Siangnya Yudha sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Dia sudah menurunkan koper dan tas ranselnya ke depan apartemennya. Dia sudah memesan taksi untuk berangkat ke bandara.

Ketika taksinya sudah datang dia kemudian memasukkan koper dan tasnya kedalam bagasi taksi tersebut. Yudha kemudian masuk kedalam taksi tersebut.

“JFK Airport please…”. Ujar Yudha.

“Okay…”. Kata pengemudi taksi tersebut. Kemudian taksi meluncur menuju bandara John F. Kennedy New York.

Yudha ingat harus memberitahu Farah kalau dia sudah berangkat ke bandara.

‘Farah aku sudah berangkat ke bandara’

Yudha mengirim pesan lewat whatsapp. Tidak ada jawaban karena Farah memang sudah tidur tapi terlihat pesannya sudah diterima pertanda HP Farah memang tidak dimatikan.

Perjalanan dari apartemen Yudha ke bandara JFK tidak memakan waktu lama. Sekitar tiga perempat jam dia sudah sampai ke bandara. Dia segera masuk ke bandara setelah membayar taksi yang ditumpanginya. Kemudian Yudha mengambil troli bandara dan menaikkan koper beserta tas nya ke atas troli tersebut. Disini memang tidak ada petugas yang bisa membawa troli seperti di bandara Soetta. Disini semuanya dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Yudha kemudian duduk di kursi tunggu penumpang. Check in pesawatnya masih belum dibuka. Dia kemudian membuka HP nya dan mengirim pesan kepada Farah.

‘Farah aku sudah di bandara JFK. Masih nunggu counter check-in. Kayaknya satu jam lagi baru buka’

Begitu isi pesannya kepada Farah.

Sekarang masih jam tiga sore berarti sekarang masih jam tiga pagi waktu Jakarta. Farah sepertinya masih tidur.

Jam empat sore counter check-in akhirnya dibuka. Para penumpang segera antri. Banyak juga ternyata penumpang pesawat yang satu jurusan dengan Yudha. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang tidak jauh berbeda dengan Yudha, wajah orang Indonesia. Yudha juga melihat artis film laki-laki yang pernah main bareng dengan Myra sahabatnya. Sepertinya dia juga melihatnya waktu resepsi pernikahan Myra. Dia juga sepertinya mengenali Yudha. Yudha kemudian mengangguk dan tersenyum. Dia sudah duluan check-in kemudian dia berjalan kembali ke ruang tunggu. Giliran Yudha untuk melakukan check-in dia menyerahkan berkas kelengkapan untuk naik pesawat. Tiket, paspor dan visa sudah dia berikan. Yudha membayar kelebihan kopernya karena yang boleh dibawa secara gratis hanya satu koper. Dia serahkan koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi sementara tas ranselnya akan dibawa kedalam kabin pesawat.

Setelah semuanya selesai dan dia sudah menerima tiket masuk pesawat, Yudha kemudian duduk di ruang tunggu. Satu jam kemudian pintu ruang boarding sudah dibuka, seluruh penumpang jurusan Jepang dan selanjutnya Indonesia dipersilahkan untuk masuk. Pesawat yang akan Yudha tumpangi merupakan maskapai penerbangan Jepang, pesawat tersebut akan transit sebentar di Bandara Narita Tokyo Jepang dan selanjutnya akan terbang ke Indonesia.

Setelah antri cukup lama akhirnya Yudha masuk juga ke ruang boarding. Walaupun masih empat jam lagi pesawat akan terbang ke Indonesia tapi demi kenyamanan penumpang, ruang pintu ruang boarding sudah bisa dimasuki oleh penumpang. Ruang boarding di JFK ini sangat luas. Ada juga beberapa cafe yang ada disini. Bisa digunakan untuk makan cemilan dan minum kopi. Tapi Yudha memilih untuk duduk saja di ruang tunggu.

Sudah jam enam pagi waktu Jakarta. Farah seharusnya sudah bangun. Yudha membuka HP nya. Di ruang boarding ini tersedia wifi yang bisa digunakan untuk para penumpang sambil menunggu masuk pesawat. Dia hubungi Farah lewat ‘video call’.

“Hai Farah”. Yudha melambaikan tangan ketika wajah Farah sudah terlihat di HP nya.

“Hai mas… lagi dimana?”. Tanya Farah.

“Ini aku sudah boarding, tapi pesawatnya masih lama”. Jawab Yudha.

“Aku tadi masih tidur waktu mas Yudha berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya nggak apa-apa, yang penting aku sudah kasih tahu kamu kalau aku sudah berangkat, jadi kamu nggak kuatir hehe…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hehe… tapi aku belum mandi nih mas… baru bangun”. Ujar Farah. Baru bangun tidur saja segitu cantiknya, apalagi sudah mandi dan berdandan, seperti ini barangkali yang disebut cantik alami, pikir Yudha.

“Iya nggak apa-apa, belum mandi saja sudah cantik”. Ujar Yudha.

“Mas bisa aja…”. Ujar Farah tersenyum simpul.

“Aku mandi dulu ya mas, nanti disambung lagi kalau aku sudah beres mandi, bye..”. Ujar Farah.

“Bye… kemudian sambungan ‘video call’ terputus.

Tiba-tiba ada suara laki-laki yang berbicara di samping Yudha.

“Itu tadi Farah ya…”. Kata orang tersebut. Ternyata orang yang tadi bertemu ketika antri mau check-in. Yudha kemudian menoleh dan tersenyum.

“Iya betul… mas kenal dengan Farah?”. Tanya Yudha.

“Ternyata anda yang beruntung mendapatkan hati Farah”. Ujar orang tersebut tanpa menjawab pertanyaan Yudha.

“Oh gitu…”. Yudha masih menerka-nerka maksud orang ini. Kemudian orang tersebut mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.

“Kenalkan nama saya Andre, saya pernah jadi lawan main Farah di satu film. Saya juga kenal dengan Myra sahabatnya. Kalau nggak salah anda juga hadir kan waktu pernikahan Myra?”. Tanya orang tersebut yang ternyata bernama Andre. Salah satu aktor film Indonesia.

“Yudha…”. Yudha menjawab sambil menerima uluran tangan Andre.

“Saya sebetulnya suka sama Farah sejak lama. Selain orang nya cantik, bakat aktingnya juga bagus. Tapi selain itu Farah orang nya nggak macam-macam. Dia tidak seperti artis kebanyakan yang baru main satu film saja lagaknya sudah seperti artis senior”. Ujar Andre. Yudha mengangguk-anggukan kepalanya. Orang disamping nya ini baru kenal sudah banyak cerita tentang Farah.

“Tapi sayang, Farah memang sepertinya belum mau berhubungan dengan laki-laki. Dia fokus di karirnya”. Lanjut Andre.

“Mas Andre sedang ada syuting di New York?”. Tanya Yudha.

“Ah nggak, saya sedang berkunjung ke saudara yang tinggal disini, sekalian ingin liburan”. Jawab Andre.

“Eh mas… tapi yang suka sama Farah banyak loh, mulai dari artis sampai pengusaha top berlomba-lomba mendapatkan hati Farah. Tapi tidak ada satupun yang diterima Farah”. Lanjut Andre.

“Oh gitu mas…”. Jawab Yudha.

“Mas Yudha lagi liburan di New York. Kok Farah nggak ikut?”. Tanya Andre.

“Oh nggak, saya bukan dalam rangka liburan di New York. Saya kerja mas, saya sedang ada tugas disini. Sekarang tugas saya sudah selesai dan hari ini pulang kembali ke Jakarta”. Jawab Yudha.

“Kerja di bidang apa?”. Tanya Andre.

“Saya kerja di konsulat mas”. Jawab Yudha.

“Oh… mas diplomat…”. Ujar Andre.

“Iya mas…”. Jawab Yudha.

“Oh jadi anda ini yang dibicarakan di infotainment”. Ujar Andre.

“Infotainment…?”. Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi.

“Menurut acara gosip yang tayang di beberapa stasiun TV, Farah sedang tidak menerima Job dulu jadi pemain film. Paling hanya jadi bintang tamu saja di beberapa acara TV”. Jawab Andre.

“Oh gitu mas…”. Ujar Yudha.

“Gosipnya Farah akan segera melangsungkan pernikahan. Ternyata anda yang akan menjadi suaminya Farah”. Ujar Andre. Yudha hanya tersenyum dan berkata aamiin dalam hati.

“Waktu di desak perihal pernikahan dan calon suaminya, Farah nggak mau jawab langsung, Myra juga sama jadi ‘miss no comment’ sekarang”. Lanjut Andre.

“Oh begitu mas”. Jawab Yudha. Dia tidak menyangka sudah begitu hebohnya berita tentang Farah di infotainment. Tapi perihal dia tidak terima job main film, Yudha baru tahu dari Andre. Farah tidak pernah menyinggung soal itu.

“Tapi satu waktu Myra keceplosan ngomong kayaknya. Dia bilang calon suami Farah seorang diplomat”. Ujar Andre.

Di Pertengahan obrolan mereka, ada ‘video call’ yang masuk ke HP Yudha. Farah yang menghubunginya.

“Hai mas…”. Ujar Farah ketika sudah terlihat wajah Yudha di telponnya.

“Hai Farah… sudah mandinya?”. Terlihat Farah sudah rapi dan berdandan. Yudha tersenyum melihat Farah yang bertambah cantik setelah dandan.

“Sudah mas… masih belum berangkat mas?”. Tanya Farah.

“Iya belum nih, tapi sepertinya sebentar lagi mau datang pesawatnya”. Jawab Yudha.

“Farah… kenal nggak sama ini?”. Yudha kemudian mengarahkan HP nya ke arah Andre.

“Hai Farah…”. Ujar Andre menyapa Farah.

“Andre… kok bisa ada disitu?”. Tanya Farah.

“Aku lagi liburan, sambil berkunjung ke saudara yang ada disini. Hari ini kebetulan aku pulang. Tadi aku lihat Yudha sedang ‘video call’, ternyata sama kamu…”. Jawab Andre. Wah Andre kan biang gosip, jangan-jangan dia tadi cerita macam-macam sama Yudha, begitu pikir Farah.

“Ternyata ini calon suami kamu…”. Ujar Andre.

“Andre… jangan gosip ya…”. Ujar Farah.

“Nggak apa-apa kali ngaku aja…”. Farah mukanya memerah, tapi Andre tidak memperhatikan itu. Yudha yang melihat perubahan raut muka Farah. Yudha kemudian tersenyum. Dia mengarahkan kembali HP nya ke arah mukanya.

“Aku harus segera masuk pesawat, sudah ada panggilan”. Ujar Yudha.

“Iya mas… hati-hati ya…”. Ujar Farah.

“Sampai ketemu di rumah ya… sayang…”. Kali ini Yudha tidak mengecilkan suara ‘sayang’ nya. Dia sudah bertekad menggunakan kata sayang untuk memanggil Farah.

“Iya mas…”. Farah tersenyum bahagia. Kemudian komunikasi terputus. Andre melihat perubahan raut muka Fara ketika berkomunikasi dengan Yudha barusan. Berarti benar ini calon suaminya Farah, beruntung sekali dia bisa mendapatkan cintanya Farah, begitu pikir Andre.

“Yuk mas Andre. Pintu pesawat sudah dibuka”. Ajak Yudha kepada Andre.

“Oh iya… duduk di kursi nomor berapa?”. Tanya Andre kepada Yudha ketika mereka sedang antri masuk ke dalam pesawat.

“Saya di 7F. Mas Andre di kursi berapa?”. Tanya Yudha.

“Wah saya di belakang di 15A. Padahal kalau duduknya dekat kita bisa ngobrol lagi”. Jawab Andre.

“Oh iya ya…”. Jawab Yudha. Betul juga pemikiran Andre. Daripada bengong sendiri bisa ada teman ngobrol kalau dekat sama dia. Sebelum HP nya dimatikan, Yudha menerima pesan whatsapp dari Farah.

‘Mas jangan dekat-dekat sama Andre, dia suka gosip’

Kata Farah di pesan whatsapp nya.

‘Iya, aku juga jauh kok duduknya sama dia’

Balas Yudha.

‘HP aku matikan ya. Sampai jumpa besok’

Balas Yudha.

‘Iya mas, hati-hati’

Balas Farah.

Yudha kemudian mematikan HP nya. Dia kemudian masuk ke dalam pesawat setelah tiketnya diperiksa oleh pramugari yang bertugas di sana.

Setelah semua penumpang duduk dan pramugari memperagakan beberapa informasi mengenai keselamatan penerbangan, pesawat kemudian lepas landas dari bandara JFK New York. Farah tunggu aku ya, aku akan datang untuk melamarmu. Begitu Yudha berkata dalam hati. Kemudian dia tertidur.

***

“Yudha sudah berangkat mam dari New York…”. Ujar Farah kepada mamanya.

“Senangnya mau kedatangan pangeran…”. Kata mama.

“Mama ada-ada saja”. Jawab Farah.

“Tapi senang kan Yudha sudah pulang dari New York…”. Ujar mama.

“Mama…”. Jawab Farah sambil memeluk mamanya.

“Jadi jam berapa Yudha sampai di bandara?”. Tanya mama.

“Besok jam sepuluh pagi mam…”. Jawab Farah.

“Eh mam… tadi dia bareng Andre naik pesawatnya”. Lanjut Farah.

“Andre yang pernah jadi lawan main film kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam, dia kan biang gosip. Pasti sudah ngomong macam-macam sama Yudha”. Jawab Farah.

“Hus… gak boleh gitu, jangan berprasangka buruk sama orang”. Ujar mama.

“Hehe… iya mam…”. Jawab Farah.

“Tapi dia kan nanya-nanya terus sama Farah kenapa nggak mau terima peran yang kemarin mam, dia berharap banget aku jadi lawan mainya di film itu mam. Dia juga nanya-nanya sama Myra mam”. Lanjut Farah.

“Paling sering nanya sih ke Myra mam. Myra kan jadi kesel dia nanya-nanya terus. Akhirnya Myra bilang sama dia bahwa aku mau nikah mam. Jadi deh rame di infotainment kalau aku mau nikah. Kan dari siapa mereka tahu kalau bukan dari Andre mam”. Ujar Farah.

“Oh gitu ceritanya… mama baru tahu”. Jawab mama.

“Tapi ada baiknya juga ya kamu nggak terima job film dulu. Nanti kalau acara nikah kamu waktunya sudah dekat gimana coba, mama kan yang pusing”. Ujar mama.

“Mama yakin banget aku mau nikah secepat itu?”. Tanya Farah.

“Mama yakin… feeling mama gak akan salah”. Jawab mama.

“Mama… aku sayang sama mama…”. Farah memeluk mamanya.

***

Selama dua bulan terakhir ini memang Farah tidak menerima job dulu. Dia hanya memenuhi kontrak yang sudah ada. Dia sudah memberitahukan kepada manajemen nya bahwa dia mau istirahat syuting film dulu. Farah memenuhi nasihat mamanya untuk tidak menerima job dulu.

“Memang ada apa, kok mau istirahat dulu?”. Tanya Jojo manajernya suatu saat.

“Nggak apa-apa, mau istirahat dulu aja”. Jawab Farah.

“Bukan mau pindah manajemen kan…”. Tanya Jojo.

“Ya ampun Jo, sejauh itu pikiran kamu. Kita kan sudah lama kerja bareng. Nggak mungkin lah aku pindah manajemen”. Jawab Farah.

“Ya terus kenapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Nanti saja ceritanya…”. Jawab Farah.

“Padahal si Andre pengen banget tuh kamu jadi pemeran utama wanitanya di film dia”. Ujar Jojo.

“Nggak ah Jo, Andre doyan banget ‘gimmick’ aku nggak suka”. Jawab Farah.

“Tapi serius nih… kenapa sih mau ‘break’ syuting dulu…”. Tanya Jojo penasaran.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Farah.

“Eh tunggu sebentar…”. Ujar Jojo kemudian dia membuka HP nya.

“Kayaknya si Andre ngomong apa gitu tentang kamu Far…”. Jojo kemudian membuka Youtube dan melihat Andre sedang di wawancara.

Di Dalam video infotainment tersebut, Andre sedang diwawancarai oleh beberapa media infotainment mengenai film barunya yang akan segera melaksanakan proses syuting.

“Bagaimana proses syuting film terbaru anda mas?”. Tanya wartawan.

“Syuting nya masih belum mulai”. Jawab Andre.

“Jadi kapan syuting nya?”. Tanya wartawan lainnya.

“Kita masih mencari pemeran utama wanitanya”. Jawab Andre.

“Jadi pemeran utama wanitanya belum ada?”. Tanya wartawan.

“Iya belum ada. Sebetulnya sih saya berharap Farah menjadi lawan main saya. Sayang dia nggak mau”. Jawab Andre.

“Jadi Farah menolak menjadi lawan main anda?”. Tanya wartawan.

“Iya begitulah…”. Jawab Andre.

“Kenapa Farah menolak menjadi lawan main anda”. Lanjut wartawan.

“Katanya sih Farah mau menikah…”. Jawab Andre.

“Farah mau menikah… menikah sama siapa… kapan… dimana…”. Semua wartawan serentak bertanya kepada Andre yang segera berlalu dari tempat wawancara tersebut.

“Saya nggak tahu, tanya saja sama orangnya”. Teriak Andre sambil masuk ke mobilnya dan berlalu. Tapi wartawan masih mengejar dia sampai mobilnya jalan menjauh.

Jojo kemudian menutup HP nya.

“Jadi kamu mau menikah… Kok nggak bilang-bilang sih…”. Tanya Jojo.

“Dasar tuh si Andre biang gosip”. Jawab Farah.

“Tapi beneran… kamu mau nikah?”. Tanya Jojo lagi.

“Baru rencana…”. Jawab Farah.

“Sama siapa? Artis juga? Atau pengusaha?”. Tanya Jojo penasaran.

“Masih rencana Jo. Nanti kalau sudah pasti, aku pasti ngasih tahu kamu”. Jawab Farah. Dilamar aja belum, sudah ramai gosip kalau aku mau nikah, pikir Farah.

“Tapi sama siapa? Ayo dong cerita…?”. Jojo makin penasaran.

“Ada yang lagi deket sih…”. Jawab Farah.

“Siapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Seorang diplomat…”. Jawab Farah.

“Wow… diplomat… diplomat mana… siapa namanya Far…?”. Desak Jojo.

“Nanti aja Jo, aku kasih tahu kalau sudah pasti”. Jawab Farah.

***

“Kamu apa nggak sebaiknya jemput Yudha?”. Tanya mama. Sabtu ini pesawat yang ditumpangi Yudha rencananya akan mendarat di bandara Soetta.

“Aku gak kepikiran mam, sampe lupa nawarin jemput Yudha di bandara”. Jawab Farah.

“Kamu sih telpon sama ‘video call’ mesra-mesraan terus, sampai lupa segalanya”. Ujar mama.

“Mesra-mesraan gimana mam…?”. Tanya Farah.

“Itu kemarin panggil sayang segala…”. Jawab mama sambil tersenyum.

“Kok mama tau sih”. Tanya Farah.

“Iya kan mama dengar”. Jawab mama.

“Yudha mam yang manggil begitu bukan Farah”. Ujar Farah.

“Tapi kamu senang kan…”. Mama menggoda anaknya.

“Ah mama…”. Farah menjawab sambil malu-malu.

“Sejak kapan Yudha memanggil kamu sayang begitu?”. Tanya mama.

“Semalam…”. Jawab Farah.

“Semalam? Kok mama nggak dengar?”. Tanya mama.

“Semalam di kamar mam waktu Farah mau tidur”. Jawab Farah.

“Hmmm… mau tidur aja harus telpon dulu. Anak mama ini sudah nggak tahan ya…”. Ujar mama.

“Nggak tahan bagaimana mam…?”. Tanya Farah.

“Nggak tahan pengen cepat-cepat ketemu pujaan hati”. Jawab mama.

“Ah mama bisa aja”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Eh sudah jam sepuluh mam, kok belum ada kabar dari Yudha ya…”. Ujar Farah.

“Tuh kan… yang sudah kangen…”. Ujar mama.

“Mama apaan sih…”. Ujar Farah.

“Mungkin delay pesawatnya”. Kata mama.

“Iya kali ya mah. Mudah-mudahan aja nggak ada apa-apa”. Jawab Farah.

“Mmm… yang lagi kasmaran”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum.

***

Sementara itu pesawat yang di tumpangi Yudha sudah mendarat di bandara Soetta. Terjadi keterlambatan di bandara Narita Jepang sehingga jadwal kedatangan pesawat tersebut terlambat dua jam.

Yudha kemudian turun dari pesawat. Dia menengok ke arah belakang dimana Andre sedang antri untuk turun dari pesawat. Ketika mengambil koper dari ban berjalan kemudian Andre menghampiri Yudha.

“Dijemput siapa pulang nya?”. Tanya Andre.

“Saya naik angkutan umum”. Jawab Yudha.

“Nggak dijemput Farah?”. Tanya Andre lagi.

“Nggak mas, kasihan kalau Farah harus jemput jauh-jauh ke bandara”. Jawab Yudha.

“Kalau mau ikut saya saja, nanti saya antar sampai rumah”. Ajak Andre.

“Nggak usah mas terima kasih. Koper saya banyak dan lagi saya sudah pesan taksi online, sudah nunggu di depan lobby”. Tolak Yudha.

“Oh begitu, ya sudah. Sampai jumpa ya, nanti kabarin tanggal nikah kalian ya”. Ujar Andre sambil berjalan meninggalkan Yudha yang masih menunggu kopernya yang berada di ban berjalan.

“Iya mas terima kasih”. Jawab Yudha.

Setelah semua kopernya terkumpul kemudian Yudha memasukkannya ke dalam troli. Dia kemudian mendorong troli tersebut ke arah lobby terminal kedatangan bandara Soetta.

Dia ingat belum memberitahu Farah kalau dia sudah sampai di bandara. Yudha kemudian membuka HP nya yang sudah diganti dengan nomor lokal Jakarta.

“Halo Farah”. Yudha memulai pembicaraan setelah HP nya tersambung dengan Farah.

“Halo mas, sudah sampai ya. Syukur kalau sudah sampai”. Ujar Farah.

“Kok telat mas…?”. Tanya Farah.

“Iya tadi pesawatnya delay di bandara Jepang. Jadinya telat dua jam sampai sini”. Jawab Yudha.

“Oh begitu mas. Eh mas aku jemput ya ke bandara…”. Ujar Farah.

“Nggak usah, ini aku sudah pesan taksi online. Sebentar lagi juga datang”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya mas”. Ujar Farah.

“Iya, sampai ketemu di rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Mmmm… mas Yudha jadi datang ke rumahku hari ini?”. Tanya Farah ingin meyakinkan perkataan Yudha sewaktu akan berangkat ke New York dua bulan yang lalu.

“Iya aku akan ke rumahmu. Tapi aku simpan dulu barang-barangku ke rumah ya. Setelah itu aku langsung ke rumahmu”. Jawab Yudha.

“Eh taksinya sudah datang, aku berangkat ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati”. Jawab Farah, kemudian telpon terputus. Farah berdebar-debar menantikan kedatangan Yudha.

Apakah benar perkiraan mamanya kalau Yudha akan melamarnya hari ini?

Apakah aku akan menerimanya kalau benar dia melamarku? Apakah aku sudah siap menikah? Apakah aku sudah yakin dengan perasaanku kepada Yudha, begitu pikir Farah. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ada keyakinan kepada Yudha, tapi ada juga rasa bimbang yang menghampirinya. Semuanya berputar-putar di kepalanya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *