Diplomat Bag. 3 – Farah Dewi

Farah melambaikan tangan ketika Yudha mulai menjalankan mobilnya dan pergi dari rumahnya. Kemudian dia masuk ke ruang tamu dan duduk disana. Lama dia termenung, mamanya yang ada di ruang tamu melihat keanehan putrinya tersebut. Tapi kemudian mama Farah tersenyum, sepertinya dia menyimpan sesuatu terhadap tamunya yang baru saja pergi, jadi biarlah dia sendiri, begitu pikir mama Farah.

Farah masih terdiam, tapi kemudian dia melihat sesuatu di kursi, ya ampun kamera Yudha ketinggalan. Bagaimana ini, takutnya kameranya dia perlukan, eh tapi biarlah kalau dia perlu juga pasti balik lagi kesini. Kok kenapa aku mengharapkan dia balik lagi ya… Aku harus telpon Myra nih, begitu pikirnya.

Dia kemudian mengambil HP nya dan menelpon Myra.

Myra yang baru saja menerima telpon dari Yudha tertawa melihat siapa yang menelpon nya. Dia memperlihatkan teleponnya kepada Pras. Mereka berdua serentak tertawa. Tapi sejurus kemudian Myra menghentikan tawanya dan mengangkat telpon dari Farah.

“Halo Ya…”. Kata Farah yang memanggil Myra dengan sebutan Yaya seperti halnya Yudha memanggilnya.

“Halo putri cantik…”. Jawab Myra. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Farah kepadanya, makanya dia menggoda Farah dengan sebutan putri cantik.

“Kamu tuh Ya… sengaja ya ngenalin aku sama Yudha dan suruh nganter aku sampai rumah”. Kata Farah.

“Iya emang sengaja…”. Jawab Myra sambil tersenyum. Dia mengeraskan suara HP nya agar Pras juga mendengar percakapan mereka. Pras tertawa tapi tanpa suara.

“Iya tapi maksudnya apa coba…”. Tanya Farah.

“Biar kalian saling kenal, siapa tahu jodoh hehe…”. Jawab Myra.

“Huh dasar…”. Ujar Farah.

“Tapi suka kan…”. Kata Myra kemudian.

“Suka gimana, baru ketemu juga”. Ujar Farah.

“Tapi kok kamu mau di foto-foto sama dia, biasanya kamu alergi sama cowok yang baru dikenal, apalagi sampai mau di foto segala…” Ujar Myra.

“Loh kok tahu aku tadi di foto-foto sama Yudha?”. Tanya Farah keheranan.

“Iya barusan sebelum kamu telpon aku, Yudha juga telpon. Dan pertanyaan nya juga sama kayak kamu sekarang, nanya-nanya kenapa aku kenalkan kalian”. Jawab Myra.

Wah Yudha nih cerita-cerita segala kalau aku dia foto di depan rumahku, Farah berkata dalam hati.

“Kenapa heran hehe…”. Ujar Myra setelah Farah terdiam sesaat.

“Nggak…”. Jawab Farah.

“Dia itu sahabatku, dan dia juga cerita tadi sudah ketemu sama mama kamu”. Ujar Myra.

“Iya sih tadi sudah ketemu sama mama”. Jawab Farah.

“Kalian ngobrol apa saja?”. Tanya Myra.

“Ih kepo…”. Jawab Farah.

“Eehh… gak mau cerita… awas ya…”. Ujar Myra sambil tersenyum. Sepertinya usaha dia ada hasilnya mengenalkan Yudha dan Farah.

“Ngomong-ngomong ini kameranya Yudha ketinggalan di rumahku, takutnya dia lagi perlu sama kameranya”. Kata Farah kemudian.

“Yah alamat nih hehe… kayaknya Yudha sengaja ninggalin kameranya di rumah kamu, biar bisa main lagi ke rumah kamu…”. Ujar Myra menggoda Farah.

“Apaan sih…”. Ujar Farah.

“Udah Far, Yudha tuh anak baik kalian kayaknya cocok…”. Pras yang berbicara.

“Eh mas Pras nguping ya dari tadi…”. Ujar Farah. Pras hanya tertawa. Myra pun ikutan tertawa.

“Ya sudah kamu kasih tahu aja sama Yudha kalau kameranya ketinggalan di rumah kamu”. Ujar Myra.

“Nggak ah…”. Jawab Farah.

“Kenapa… kok malu-malu gitu..”. Tanya Myra.

“Siapa yang malu-malu…”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau kamu malu ntar aku yang kasih tahu Yudha kalau kameranya ketinggalan di rumahmu”. Kata Myra.

“Eh Ya… tadi Yudha bilang mau lihat anak-anak di panti, maksudnya apa ya…?”. Tanya Farah.

“Tuh kan… udah ngobrol banyak, pasti kalian sudah nyambung kalau ngobrol”. Kata Myra tanpa menjawab pertanyaan Farah.

“Apaan sih, aku serius Ya…”. Kata Farah.

“Kalau itu nanti juga kamu tahu sendiri”. Ujar Myra. Apa sih Myra, pake rahasia-rahasia segala, pikir Farah dalam hati.

“Ya sudah begini saja, besok kamu bawa kamera Yudha ke tempat syuting, nanti aku kasih tahu sama Yudha kamu syuting jam berapa dan dimana”. Ujar Myra.

“Mmm… kalau itu sih Yudha sudah tahu”. Ujar Farah malu-malu.

“Hah… hahaha…”. Myra tertawa lepas.

“Kok ketawa sih, puas ya ngerjain aku”. Kata Farah.

“Habis nya aku agak aneh gitu sama kamu, kok Yudha sudah tahu kamu syuting dimana dan jam berapa, kalian ngobrol apa saja sih…”. Tanya Myra.

“Ya ngobrol biasa aja…”. Jawab Farah.

“Tapi kok hal-hal yang gitu sudah jadi pembicaraan kalian? Biasanya kamu nggak kayak gini Far…?”. Myra berkata sambil mikir jangan-jangan mereka sudah cocok satu sama lain sehingga sudah ngobrol panjang.

“Kamu sudah tahu kalau Yudha seorang diplomat?”. Tanya Myra.

“Iya”. Jawab Farah.

“Kamu tahu kalau dia seminggu cuti hanya buat menghadiri pernikahan aku sama Pras?”. Tanya Myra.

“Iya”. Jawab Farah.

“Kamu sudah tahu dia tinggal dua bulan lagi tugas di New York?”. Tanya Myra.

“Iya… Yaya apaan sih nanya-nanya terus…”. Ujar Farah.

“Hahaha…”. Myra dan Pras tertawa bahagia.

“Aku sih gak akan nanya lagi kalian ngobrol apa saja, pasti kalian sudah ngobrol banyak. Aku bahagia buat kamu cantik”. Kata Myra. Dia merasa sangat bersyukur bisa mempertemukan mereka berdua.

“Yaya… apaan sih…”. Kata Farah.

“Farah… aku mau terus terang ya sama kamu. Yudha itu sebatang kara. Dia sudah tidak punya orang tua. Dia sudah kita anggap sebagai saudara sendiri. Dan dia sekarang sedang mencari pendamping hidup. Dia tidak mau pacaran tapi ingin nya langsung menikah, makanya aku coba kenalkan dia sama kamu siapa tahu cocok”. Ujar Myra kali ini agak panjang bicaranya.

“Ya… itu juga aku sudah tahu, tadi Yudha bilang begitu sama aku…”. Farah merasa mukanya sedikit hangat. Kenapa aku seperti ini? Ada apa denganku? Pikir Farah.

“Ya ampun Farah… Yudha sudah bicara sampai sejauh itu? Luar biasa, Yudha juga tidak biasanya begini. Dulu kalau aku kenalkan dia dengan cewek-cewek sebelumnya dia nggak pernah sampai sejauh itu berbicara tentang dirinya”. Myra merasa takjub.

“Udah ah Ya, lama-lama mukaku bisa keringatan digoda terus sama kamu”. Kata Farah.

“Ciyeeee… yang malu-malu digodain terus, jangan-jangan sekarang pipi kamu sedang bersemu merah…”. Kata Myra.

“Yaya… apaan sih…”. Kata Farah sambil memegang pipinya sendiri.

“Udah ah… nanti aku telpon lagi, bye…”. Kata Farah dan langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Myra.

Myra tersenyum kepada Pras setelah selesai menggoda Farah habis-habisan.

“Mas… hari ini adalah hari bahagia kita berdua, tapi aku juga bahagia bisa mempertemukan Yudha dengan Farah. Mudah-mudahan mereka bisa berjodoh ya…”. Ujar Myra.

“Iya sayang… mudah-mudahan kita tidak salah mempertemukan mereka. Mudah-mudahan mereka bisa berlanjut ya seperti kita”. Jawab Pras.

“Iya mas, aku berdoa buat kebahagiaan mereka berdua”. Kata Myra. Pras mengangguk tanda setuju dengan perkataan istrinya.

***

Sementara di rumah Farah, dia masih duduk di ruang tamu setelah barusan digoda habis-habisan oleh Myra sahabatnya. Dia tidak habis pikir kenapa Myra berusaha menjodohkan dia dengan Yudha. Aku bukan cewek yang nggak bisa cari cowok sendiri, pake di jodoh-jodohin segala, pikir Farah.

Dia masih duduk ketika mamanya keluar dari ruang tengah dan menghampiri Farah di ruang tamu. Mama kemudian duduk di samping Farah. Farah sepertinya sedang melamun sehingga kehadiran mamanya tidak dia sadari.

“Kamu kenapa sayang…?”. Kata mama sambil memegang tangan Farah.

“Eh mama… Farah sampai kaget, kapan mama duduk?”. Tanya Farah heran.

“Kamu sih nggak biasanya melamun seperti ini, sampai-sampai mama duduk disini aja nggak sadar”. Ujar mama.

“Ini mam… kamera Yudha ketinggalan”. Jawab Farah mengalihkan pembicaraan.

“Oh kamera nya ketinggalan”. Kata mama.

“Iya tadi mungkin dia lupa habis foto-foto Farah di luar, dia nggak bawa masuk lagi ke mobilnya”. Ujar Farah.

“Oh kalian habis foto-foto…”. Kata mama heran.

“Kenapa mam… kok kayak heran gitu…”. Tanya Farah.

“Ya iyalah heran, biasanya kamu nggak mau di foto-foto, apalagi sama orang yang baru dikenal”. Jawab mama. Farah tersenyum.

“Ya nggak tau sih mam hehe… kok Farah mau ya di foto-foto sama dia padahal baru kenal hari ini”. Farah berkata sambil mencoba membuka kamera Yudha. Dia juga mempunya kamera sejenis tapi dengan spesifikasi yang lebih rendah, ini sih kamera pro banget, kata Farah dalam hati.

“Terus tadi juga nggak biasanya kamu mengantarkan minum sendiri, nggak nunggu mama yang nganter”. Kata mama kemudian.

“Oh ya…”. Farah mengingat kembali kejadian tadi. Iya juga ya kok aku nganter minum sendiri buat Yudha, pikir Farah.

“Biasanya kan kamu paling nggak mau menjamu tamu, apalagi sampai menghidangkan minuman segala”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum mendengar mama bicara begitu.

Farah kemudian membuka menu yang ada di layar kamera Yudha.

“Lihat mam, fotoku bagus-bagus kan…?”. Tanya Farah.

“Iya bagus-bagus fotonya”. Kata mama.

“Ini diambilnya ‘candid’ loh mam, jadi aku nggak diarahkan gitu mam, natural saja mam sambil ngobrol-ngobrol”. Kata Farah menerangkan.

“Oh sambil ngobrol-ngobrol…”. Kata mama menggoda putri cantiknya.

“Mama apaan sih…”. Kata Farah.

“Eh itu kan kamera orang, kamu nggak minta izin dulu sama yang punya, kok berani buka-buka kamera punya orang”. Kata mama.

“Eh iya mam hehe…”. Kata Farah.

“Nanti deh Farah minta izin nya kalau ketemu sama orang nya”. Kata Farah kemudian.

“Eh mam ada foto-foto dia lagi di Amerika mam…”. Ujar Farah memberitahu mamanya.

“Eh kamu jangan liat-liat foto orang, siapa tahu ada rahasia di dalamnya”. Mama memperingatkan Farah.

“Nggak lah mam, masa foto ada rahasia segala…”. Jawab Farah sambil melihat-lihat foto Yudha sedang berada di Amerika. Ada foto dia sedang jalan-jalan, ada foto dia sedang bekerja, ada pula foto-foto dia sedang santai di rumahnya. Tapi semuanya sendiri, tidak ada yang menemani, apalagi cewek, tidak satupun ada foto wanita disana. Berarti benar dia tidak punya pacar alias masih sendiri. Farah tersenyum lega, eh kenapa aku lega dia tidak punya pacar, pikir Farah.

“Senyum-senyum sendiri…”. Mama Farah berkata ketika dia melihat putri semata wayang nya tersenyum sambil melihat foto Yudha.

“Eh mama… lupa mama ada disini hehe…”. Kata Farah.

“Nggak biasanya kamu begini”. Kata mama, Farah hanya tersenyum.

“Yudha kelihatan nya anak baik, tadi aja sebelum pulang salim sama mama”. Ujar mama.

“Mungkin karena dia sudah tidak punya orang tua barangkali mam”. Jawab Farah.

“Maksudnya…?”. Tanya mama.

“Mama ingat gak kecelakaan pesawat tiga tahun lalu di selat karimata? Itu loh pesawat yang berangkat dari Surabaya ke Kuala Lumpur”. Tanya Farah tanpa menjawab pertanyaan mamanya.

“Iya mama masih ingat”. Jawab mama.

“Kedua orang tua Yudha menjadi salah satu korban nya mam”. Ujar Farah.

“Oh begitu, kasian juga ya”. Ujar mama.

“Dia anak tunggal mam jadi nggak punya siapa-siapa lagi sekarang”. Lanjut Farah.

“Oh gitu, sama ya kayak anak mama ini, jangan-jangan kamu juga sudah cerita tentang keluarga kita…”. Tanya mama.

“Hehe… iya mam…”. Jawab Farah malu-malu.

“Hmmm anak mama ini, dasar ya…”. Mama kemudian memeluk Farah.

“Eh tapi bener loh, mama terkesan sama Yudha, jarang loh anak jaman sekarang yang sikapnya seperti itu sama orang tua, biasanya kan acuh tak acuh saja kalau ketemu sama orang yang lebih tua”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum mendengar mamanya bicara begitu.

Farah dan mamanya memang sudah tidak saling menyimpan rahasia satu sama lain. Setelah kepergian papa nya Farah, mereka hanya tinggal berdua saja. Mama Farah jadi ‘single parent’ dan mengurus Farah sendirian sampai sebesar ini. Sampai usia Farah dua puluh lima tahun bulan Februari ini. Tak terasa sudah sepuluh tahun mereka berdua saja, paling kalau siang hari ada pak Maman supir pribadi mereka yang menemani Farah dan mamanya ke tempat syuting.

Beruntung masih ada harta peninggalan papanya Farah yang bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sampai akhirnya Farah beranjak dewasa dan bisa mencari uang sendiri dengan berprofesi menjadi seorang artis. Wajah cantiknya banyak membuat produser film dan FTV mengantri untuk menjadikannya bintang film utama. Begitupun dengan media iklan, sudah banyak produk yang menggunakan Farah sebagai bintang iklannya. Belum lagi Farah juga menjadi cover di banyak majalah ibu kota.

Tapi untuk sinetron sepertinya Farah masih menahan diri, masih belum sanggup dengan jadwal sinetron yang sangat menyita waktu. Dia masih merasa nyaman dengan jadwal film yang tidak sepadat jadwal sinetron. Mungkin suatu saat aku akan menekuni dunia sinetron, tapi belum sekarang-sekarang, begitu pikir Farah.

Untuk urusan asmara sebetulnya sudah banyak laki-laki yang berusaha mendekati Farah. Mulai dari lawan mainnya dalam film, FTV ataupun pengusaha muda. Tapi dari sekian banyak lelaki yang mendekatinya belum ada satupun yang membuatnya merasa nyaman.

Ada juga teman pengusaha Prasetya yang berusaha mati-matian untuk mendekati Farah dan berusaha mendapatkan perhatian darinya. Dari mulai memberikan hadiah yang mahal-mahal seperti cincin emas dan berlian, sampai mobil mewah pun pernah diberikan oleh orang ini. Tapi semuanya ditolak secara halus oleh Farah karena memang dia tidak merasa sreg dengan orang tersebut. Bukan juga karena orang tersebut tidak ganteng atau sebagainya, tapi ya karena Farah tidak sreg saja sama pemuda tersebut.

Farah bukan seorang yang materialistis, itu semua bukan menjadi ukuran dia dalam menilai seseorang. Tapi kalau urusan hati tidak bisa dipaksakan. Urusan rezeki sudah ada yang mengatur, begitu pikir Farah. Maka nya walaupun ada lelaki yang mati-matian mendekatinya dengan menawarkan banyak harta, Farah tidak sedikitpun tertarik. Bukan sombong atau apa, tapi memang Farah belum bisa membuka hati.

Tapi hari ini di pernikahan Myra sahabatnya, dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Yudha. Dia sahabatnya Myra juga dan baru saja datang dari New York.

Myra yang mengenalkan dia dengan Yudha. Alasan klasik sebetulnya untuk mengantarkan pulang seorang wanita ke rumahnya, tapi Farah juga tidak menolak ketika Myra menawarkan Yudha untuk mengantarnya pulang dari resepsi. Bisa-bisanya Myra mendapatkan peluang untuk mengenalkan dia dengan Yudha. Tapi kalau mama tidak telat menjemputnya mungkin perkenalan ini tidak akan terjadi.

Farah mengingat-ingat kejadian tadi siang sambil tiduran di kasurnya. Setelah tadi ngobrol dengan mamanya di ruang tamu, dia pamit kepada mamanya untuk tidur karena besok harus berangkat syuting pagi-pagi.

Awalnya Farah bersikap biasa-biasa saja kepada Yudha. Ketika di mobil pun sewaktu dia mengantar pulang dia tidak sedikitpun mempunyai perasaan lain terhadap Yudha. Tapi lama kelamaan setelah berbicara banyak dengan Yudha, dia merasa nyambung ngobrol dengan lelaki ini. Bukan karena dia seorang diplomat ataupun sepertinya orang yang berada, tetapi hatinya seperti bisa membuka diri kepada Yudha.

Apalagi setelah tadi dia banyak difoto dengan kamera Yudha, dia merasa ada yang lain dengan lelaki ini. Setelah itu mereka meneruskan obrolan di dalam rumah Farah setelah mamanya pulang. Dia semakin nyambung ngobrol dengan Yudha, apalagi setelah Yudha menggoda dia dengan mengatakan bahwa dia tidak sedang mencari pacar tapi sedang mencari istri.

Aku kan baru kenal sama Yudha, masa aku sudah punya perasaan lain kepada dia, begitu pikir Farah. Tapi kok aku teringat terus ya sama dia? Aku kok begini sih… nggak biasanya aku begini… Ah pusing… lebih baik aku tidur saja, besok aku harus berangkat syuting pagi-pagi, begitu pikir Farah.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *