Realita vs Imajinasi

Pernah dengar atau nonton film Inception? Film yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio ini rilis tahun 2010. Film ini menceritakan tentang mimpi yang bisa dikendalikan oleh manusia. Cerita dimana perbedaan antara realita dan imajinasi sangat tipis. Selain memang ceritanya bagus dari segi plot, yang membuat saya agak bertanya-tanya atau mungkin terkesan adalah ketika menceritakan tentang sekelompok manusia yang sedang dibius oleh suatu cairan tertentu, yang mengakibatkan mereka berada di suatu kondisi tidur atau lebih tepatnya mimpi yang bisa mereka kendalikan sendiri. Bahkan mimpi itu bisa mereka bagikan kepada siapa saja yang mereka mau atau mereka ajak ke dalam mimpi mereka.

Oke… saya tidak akan membahas panjang lebar tentang film ini. Apabila ada yang ingin menonton atau ingin bernostalgia kembali dengan film ini, bisa mencarinya di internet. Atau bisa membelinya di amazon. Yang ingin saya bahas disini adalah mimpi dan khayalan saya sendiri.

Saya mentasbihkan diri saya sendiri sebagai seorang novelis, walaupun belum pernah ada karya saya yang diangkat menjadi sebuah buku. Karya saya hanya saya publikasikan lewat blog novel ini.

Sebagai seorang penulis novel, tentu saja imajinasi atau khayalan adalah bahan utama saya. Boleh di tanyakan kepada penulis lain tentang ini. Tapi saya yakin mereka juga akan sependapat dengan saya.

Tahun 2018 sampai tahun 2019 ini adalah tahun produktif saya menulis. Walaupun saya sibuk bekerja di bidang IT, tapi saya sempatkan menulis novel ketika saya dalam perjalanan berangkat bekerja dan perjalanan pulang bekerja. Dalam dua tahun ini saya sudah menyelesaikan tiga buah novel. Novel terakhir sebelum saya vakum menulis adalah tahun 2006. Jauh sekali rentang waktunya sampai tahun 2018.

Tahun 2006 adalah tahun terakhir saya membuat novel. Setelah itu saya vakum menulis sampai menulis lagi tahun 2018 kemarin. Seperti yang saya sebutkan diatas, khayalan adalah bahan utama saya menulis novel. Pada tahun 2006 ke belakang, saya menulis novel berdasarkan imajinasi saya ketika saya sedang sendiri setelah pernikahan pertama saya kandas hanya dalam rentang waktu empat tahun. Ketika itu saya sedang menjalin hubungan dengan istri saya yang sekarang. Tapi saya tidak akan menceritakan kisah saya dengan istri saya yang sekarang, tapi saya akan menceritakan wanita lain. Ya… wanita lain. Terus terang saya tergoda dengan wanita lain. Wanita yang membuat saya penasaran. Anaknya mungil, lucu dan membuat saya ingin berkenalan semenjak saya pertama kali melihat dia. Memang waktu itu saya belum terikat janji suci pernikahan, tapi saya berkomitmen untuk menikah pada tahun berikutnya.

Wanita tersebut adalah karyawan perusahaan lain yang satu gedung dengan perusahaan saya. Saya sempat berkenalan dengan dia dan mengajak dia untuk ngedate. Namanya juga anak muda, pasti menggebu-gebu untuk mendekati wanita. Itu juga yang saya alami. Tapi sepertinya wanita tersebut kurang tertarik dengan saya. Entah karena saya terlalu menggebu-gebu, atau karena dia berlainan etnis dengan saya. Ya… dia orang chinese dan berbeda keyakinan dengan saya yang seorang muslim.

Dari sanalah awal mula imajinasi saya melayang kemana-mana. Mungkin karena keinginan saya yang tidak kesampaian, karena saya kecewa, jadilah saya menulis novel berdasarkan khayalan saya sendiri. Saya menulis novel seperti kesetanan. Dari pagi sampai sore saya menulis novel tersebut dan selesai hanya dalam tiga hari. Pekerjaan saya pun terbengkalai gara-gara saya menulis novel tersebut. Lalu saya publikasikan novel tersebut di blog saya, sebelum blog ini berganti nama menjadi website novel seperti sekarang. Banyak yang berkomentar dan bertanya apakah novel tersebut adalah kisah nyata? Saya tidak menjawab langsung, saya kembalikan lagi kepada para pembaca blog saya.

Kembali kepada khayalan, imajinasi atau khayalan saya sangat kuat waktu itu, sehingga mampu membuat beberapa cerpen dan novel saat saya menyukai wanita tersebut. Tapi karena keinginan saya tidak tercapai, saya akhirnya mundur teratur dan tidak mendekatinya lagi. Bertemu di lift atau di kantin pun hanya diam saja. Akhirnya saya menikah dengan pacar saya satu tahun kemudian. Satu tahun kemudian saya keluar dari perusahaan tersebut dan sudah melupakannya. Begitupun dengan kegiatan menulis novel, sudah saya lupakan dan blog ini tidak diurus sama sekali. Mati suri…!

Cerita berlanjut sepuluh tahun kemudian. Ya… sepuluh tahun! Rentang waktu yang sangat lama untuk kegiatan menulis. Tapi seperti dejavu, saya menulis lagi karena sedang suka dengan seseorang. Bukan suka kepada wanita seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi suka sebagai fans saja. Saya sadar kalau saya sudah mempunyai keluarga yang harus saya sayangi sepenuh hati.

Ada seorang artis wanita muda penuh talenta. Cantik dan banyak judul sinetron dan FTV yang sudah dibintanginya. Mulai dari sinetron yang judulnya alay-alay, sampai sinetron serius dan sitkom. Akting nya memang diakui oleh semua orang terlebih kalau memerankan tokoh antagonis. Luar biasa memang wanita ini. Pesonanya bisa membius siapapun. Bahkan acara sekelas ‘The Comment‘ di Net. TV pun menamai artis ini dengan sebutan ‘Our Own Favorit’ atau kesukaan kita semua. Tinggi, langsing, putih dan cantik, standar wanita cantik di Indonesia. Sama satu lagi, dia sering banget ganti-ganti gaya rambut. Kadang juga rambutnya di highlight dengan warna rambut yang bermacam-macam sehingga kalau dilihat wajahnya sering berubah-ubah sesuai dengan gaya rambutnya.

Followersnya di Instagram sudah mencapai 348K lebih. Disanalah saya sering melihat keseharian dia, pulang pergi syuting dan keseharian dia selama di lokasi syuting. Selain di IG, banyak juga yang memposting videonya di Youtube. Saya sudah sering DM dia mengomentari setiap InstaStory nya. Tapi ya… namanya juga artis, gak mungkin dia balas DM orang yang nggak dikenal walaupun itu adalah fans nya sendiri. Lagipula saya memang tidak mengharapkan balasan DM dia, hanya ingin berkomentar saja di InstaStory nya.

Bulan Agustus tahun 2018 adalah awal mula saya melihat aktingnya di TV, ketika dia main di sebuah sitkom dan langsung jatuh hati. Insting saya menulis tiba-tiba hidup kembali dan saya mulai menulis lagi. Tentu dengan artis ini sebagai bahan khayalan saya. Tapi jangan salah ya, saya tidak mengkhayal yang jorok-jorok seperti kebanyakan cerita-cerita yang ada di internet. Syukur sekarang cerita-cerita seperti itu sudah di blok kominfo lewat google dan search engine besar lainnya seperti bing dan yahoo. Khayalan saya berkelana kemana-mana dengan artis ini sebagai pemerannya. Satu novel selesai bersamaan dengan selesainya sitkom tersebut. Ternyata bakat menulis saya masih ada. Khayalan saya bisa terbang kemana-mana dengan artis ini sebagai role model saya.

Mulai saat itu saya memutuskan untuk menekuni kegiatan menulis lagi. Berkhayal yang tinggi-tinggi sampai setinggi langit. Saya berkhayal kemanapun yang saya mau. Menjadi apapun yang saya mau. Menceritakan apapun yang saya mau. Ternyata dengan menulis, saya bisa menumpahkan perasaan saya yang selama ini hanya ada di pikiran saya. Saya bisa menuliskan apapun yang saya mau walaupun itu hanyalah sebatas khayalan semata.

Ternyata dunia khayalan memang indah. Saya bisa bebas mengekspresikan apapun yang saya mau. Tetapi realita tetaplah realita. Saya di dunia nyata sangatlah berbeda dengan saya di dunia khayalan. Walaupun apabila ada karakter laki-laki di novel saya, tidak akan jauh berbeda dengan karakter saya di dunia nyata. Tetapi khayalan tetapkah khayalan. Di dunia khayalan saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, tetapi tidak demikian dengan dunia nyata. Saya harus kembali lagi berhadapan dengan dunia nyata yang tidak seindah dunia khayal yang saya ciptakan. Dunia nyata bukanlah dunia yang bisa kita kendalikan sendiri. Dunia nyata milik semua orang. Ada orang tua, saudara, istri dan anak saya yang memerankan diri mereka masing-masing, tanpa bisa saya kendalikan seperti halnya di dunia khayalan saya.

Oh iya… istri saya sangat tidak setuju saya menulis novel atau cerpen. Suatu saat saya menulis salah satu novel saya waktu hari libur. Istri saya marah sekali melihat tulisan saya yang menceritakan salah satu tokoh novel saya. Dia bilang tidak ada gunanya menulis novel, untuk apa menulis novel, memang bisa menghasilkan uang dengan menulis novel, kamu menceritakan diri kamu sendiri dalam novel, dan lain sebagainya ocehan istri saya ketika mengetahui saya sedang menulis novel.

Akhirnya saya tidak pernah menulis novel ketika saya sedang liburan dan berada didalam rumah. Saya menulis novel saya saat saya sedang dalam perjalanan pergi dan pulang bekerja. Saya bekerja di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan rumah saya di daerah Gadog, Bogor. Jadi saya mempunyai waktu luang yang sangat banyak ketika melakukan perjalanan di dalam bis. Novel saya yang baru-baru ini ditulis, semuanya saya buat ketika dalam perjalanan pulang pergi Bogor-Jakarta. Editing pun saya lakukan dalam perjalanan pulang pergi bekerja. Setelah proses editing selesai, barulah saya pindahkan ke dalam format blog atau kedalam format MS-Word yang siap cetak apabila nanti ada kesempatan saya untuk mencetak novel tersebut. Tulisan ini pun saya buat ketika saya sedang dalam perjalanan pulang pergi bekerja Bogor-Jakarta.

Mungkinkah kegiatan menulis saya merupakan ekspresi dari semua khayalan saya yang tidak dapat saya ungkapkan di dunia nyata? Mungkinkah novel saya merupakan bentuk kekecewaan dari realita yang terjadi dalam kehidupan saya? Kekecewaan terhadap keluarga mungkin? Atau kekecewaan terhadap istri? Anak? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya hanya menulis apa yang ada di otak saya saat itu. Tapi saya tidak kecewa kepada kehidupan yang saya alami sekarang. Saya malah bersyukur diberikan anugrah untuk bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya. Tidak banyak orang yang bisa menuliskan apa yang ada di dalam pikiran mereka kedalam sebuah tulisan.

Namun akhir-akhir ini, khayalan yang saya tulis terasa menjadi hal yang nyata di depan saya. Terasa hanya ada awan tipis yang memisahkan antara dunia khayalan saya dengan dunia nyata. Terus terang nyali saya ciut membayangkan tulisan saya menjadi kenyataan. Apa yang harus saya lakukan apabila semua yang saya tulis merupakan perjalanan hidup saya sendiri? Apa yang harus saya katakan kepada semua orang kalau saya menulis masa depan saya sendiri? Kalau ingat itu semua saya bergidik, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi saya sudah terlanjur menumpahkan khayalan saya ke dalam bentuk tulisan. Apakah saya harus menghapus semua novel saya? Novel yang sudah saya buat dengan segenap perasaan saya?

Tapi satu hal yang pasti bahwa realita tidaklah seindah khayalan.

Tetaplah menulis Aji!.

Missing U

Aku kehabisan kata-kata untuk menulis.

Dimanakah kamu?

Menulis bikin percaya diri

Hal yang saya rasakan sekarang adalah menulis kok bikin lebih pede ya?

Sudah lebih dari dua pekan saya kembali aktif menulis. Padahal kegiatan ini sudah saya tinggalkan sejak sepuluh tahun yang lalu. Karena kesibukan jadi semua yang pernah saya mulai terbengkalai.

Dulu saya aktif menulis di blog, banyak dari teman-teman blogger yang menyarankan saya untuk membukukan atau lebih tepatnya membuat novel dari tulisan saya yang ada di blog. Waktu itu masih belum terpikir sampai kesana karena saya menulis hanya sekedar menyalurkan hobi saja.

Tapi setelah di pikir-pikir mungkin saat nya saya sekarang membukukan tulisan saya yang ada di blog menjadi sebuah novel, di ajukan ke penerbit dan di cetak. Atau kalau belum bisa di terima penerbit ya cetak sendiri saja kemudian ajukan ISBN sendiri.

Saya pikir saya menulis untuk melanjutkan cerita saya yang tertidur selama sepuluh tahun, ternyata saya sekarang mempunyai ide baru untuk menuliskan cerita yang lain, mumpung masih ada kesempatan dan kemampuan untuk menulis.

Nah yang saya rasakan kok sekarang saya jadi lebih percaya diri ya setelah menulis ceita baru…

Saya rasa lebih percaya diri menatap kedepan, ehem ehem… hehehe…

SEMANGAT

Terus terang bahan tulisan saya adalah seorang cewek yang lumayan lagi naik daun di industri TV Indonesia sebagai pemain sinetron.

Videonya banyak bertebaran di internet sehingga saya tidak kesulitan untuk mendalami karakter cewek tersebut.

Nggak saya sebutkan disini ya… ntar saya kena copyright issue. Saya juga sebetulnya punya cita-cita untuk memberikan terlebih dahulu novel ini ke cewek tersebut sebelum mencetaknya.

Biar dikasih review dulu dan apabila di izinkan saya akan menyebut namanya dalam novel tersebut biar lebih seru.

Tapi saya sebutkan saja ya ciri-cirinya… Cewek minang, kalo dulu rambutnya suka di poni, kulit putih, langsing, wajahnya…wah ga tau deh gimana menceritakan kecantikan wajahnya, sering nongol di The Comment. Dah itu aja clue nya.

So segitu dulu tulisan saya hari ini.
I will be back.

Lupa….

Lupa ya kamu punya blog… he eh nih lupa, bahkan layout nya pun sudah lupa kayak gimana. Pas tadi iseng liat eh iya juga ya ternyata terakhir kali update udah ganti skin, bisa-bisa nya lupa sama blog sendiri.

Aduh… gara-gara lagi develop software jadi lupa, kadang nggak nge-net sama sekali seharian. Cerita juga belum ada yang selesai, atau memang sudah tidak ada gairah untuk itu??? Apakah gairahku berhubungan dengan perasaan yang tidak lagi ada??? Aku sendiri tak tahu. Aku sudah lama tidak berjumpa lagi dengan sesosok perasaan itu yang biasanya hadir setiap hari menemaniku.

Sudahlah… gak usah kau ungkit cerita lama, hanya menambah beban pikiran saja, fokus saja kepada project yang sedang kamu kerjakan!

Eh… back to project, sekarang aku lagi fokus mengerjakan project ERP. Mudah-mudahan review-nya bisa segera aku selesaikan. Ini berhubungan dengan masa depanku. Aku tak mungkin selamanya bekerja di sini, ingin rasanya punya perusahaan sendiri, develope software sendiri, dan gak usah terima gaji tapi kita bisa menghidupi orang lain. Projectnya sendiri sedang aku kerjakan di blogku yang lain.

Mudah-mudahan gak lupa lagi deh sama blog ku ini hehehe… soalnya mau update cerita baru di sini.

Pulang kampung

Dua minggu aku pulang kampung. tujuanku untuk menenangkan diri sekaligus mengistirahatkan sejenak pikiranku dari rutinitas pekerjaan. Tidak ada televisi, radio, musik, berita atau bahkan internet yang selalu menjadi rutinitasku dalam bekerja. Aku ingin menikmati sejuknya gunung dingin nya air di kampungku. Kicau burung di pagi hari, bunyi jangkrik dan kodok di malam hari, benar-benar membuatku lupa akan rutinitasku di ibu kota.

 

Sehari-hari aku pergi ke sawah atau ke kebun. Sesekali aku juga pergi ke hutan dekat rumahku. Hmm segarnya alam desa ini membuatku betah berlama-lama di sini. Apabila malam sudah menjelang biasanya aku pergi ke sawah dengan beberapa teman lamaku untuk mencari belut. Pengalaman yang benar-benar tak terlupakan.

 

Tapi ada satu hal yang menggelitik hatiku. Ketika aku sedang jalan-jalan dan bertemu teman sekampung, selalu saja pertanyaan yang sama mampir kepadaku.
 
Hari senin aku bertemu Deni, biasa di panggil Bejo. Dia teman sekolahku semasa SD dulu. Dia membawa serta anaknya yang sudah berumur 7 tahun. Kami ngobrol lama mengenang masa-masa dulu.

 

“Kapan kamu nikah Ndi… aku aja udah punya anak tiga”.
“Hah… tiga, trus ini yang kamu bawa anak ke berapa?”. Jawabku.
“Ini anak ku yang pertama, yang kedua umurnya lima tahun dan yang ketiga umurnya baru dua tahun”.
“Ayo dong cepat kawin, tar keburu tua lho…”. Tambahnya lagi.
“Wah belum tau nih Jo… pacar aja belum ada apalagi kawin ga tau kapan”. Jawabku.

 

Besoknya aku ketemu Nani, tetangga rumahku. Hanya terhalang dua rumah di samping kiri rumahku. Hampir aku tidak mengenalinya lagi, soalnya sekarang tubuhnya mendadak bengkak, lain dengan dulu yang kelihatan kurus.
 
“Hei Ndi… kapan datang…?”.
“Hei Nan… aku datang dua hari yang lalu, kok kamu jadi bengkak begini Nan…”. Aku bicara sambil tersenyum.
“Wajarlah… namanya juga udah punya anak dua”.
“Hah… dua…”. Lagi-lagi aku kaget.
“Iya dua, kenapa kaget ya… makanya cepat-cepat kawin tar keburu kiamat baru tau rasa heheh”. Dia berkata sambil tertawa.

 

Besoknya dan hari-hari seterusnya aku selalu bertemu teman sekampungku yang selalu menanyakan kapan aku menikah. Kebanyakan mereka sudah mempunyai anak, ada yang dua, tiga bahkan Wahyu temanku yang lain sudah punya anak empat.

 

Tapi… Hei… aku ke sini untuk berlibur, untuk menenangkan pikiran, bukan untuk berpikir tentang pernikahan. Biarlah aku gak mau berpikir dulu tentang itu, yang jelas aku ingin menikmati liburan ini dengan sebaik-baiknya tanpa di bebani oleh pikiran yang macam-macam.

 

Walaupun begitu, setiap mau tidur aku kepikiran juga tentang yang satu ini. Kapan aku menikah ya… sedangkan calon pun belum ada. Kalau di pikir-pikir mungkin aku terlalu mementingkan pekerjaan dan karirku di kantor. Tak sedikitpun ada pikiran untuk mencari jodoh. Mungkin ada satu dua teman kantorku yang aku taksir, tapi tidak lebih dari itu hanya sekedar suka saja. Tidak ada pikiran untuk mendekati dan dijadikan pacar misalnya atau bahkan mengajaknya menikah. Hal seperti itu masih jauh dalam jangkauanku. Tapi setelah bertemu dengan teman-temanku semasa kecil yang sudah menikah dan mempunyai banyak anak, mau gak mau aku jadi berpikir untuk melangkah ke arah itu.

 

Aku jadi berpikir siapa yang yang cocok jadi pendampingku… apakah Dina yang langsing dan selalu berpenampilan rapi, ataukah Leni yang padat berisi dan selalu terlihat berdandan di kantor. Atau Ria yang selalu memintaku untuk membantu tugas-tugas kantornya, padahal aku pikir tugas tersebut sangat mudah dikerjakan tanpa harus aku ikut membantunya. Ada juga tetangga kost ku yang selalu genit apabila bertemu denganku, ah bukan dia kayaknya, terlalu genit sih. Ada juga kolega ku di perusahaan lain, dia menjabat manager accounting di sana. Kami sering ngobrol mengenai segala hal sampai hal pribadi pun kami bicarakan. Tapi yang ini nggak juga, terlalu tinggi buatku walaupun dalam segala hal selalu nyambung.

 

Tapi kenapa aku jadi berpikir sejauh itu ya… belum apa-apa sudah mengira-ngira siapa bakal calon istriku nanti. Pendekatan saja belum apalagi mengajaknya menikah. Aku jadi tersenyum sendiri mengingat hal ini.

 

Biarlah semua berjalan apa adanya. Jodoh ada di tangan Tuhan, tapi kita wajib berusaha. Sekembalinya ke Jakarta nanti, aku ingin memulai sesuatu yang baru. Aku ingin lebih tegar dalam menghadapi hidup. Aku ingin hidupku menjadi berarti. Sekarang aku ingin menghabiskan sisa liburanku dengan bersenang-senang sepuasnya.

 

CJR, Februari 2007

Still

Tenggelam

Aku hanyalah seorang manusia, yang mencoba memainkan sedikit peran dalam hidup ini. Manusia yang mempunyai sedikit bekal ilmu untuk mengerti peran yang sedang aku jalankan ini. Tapi terkadang hidup tak seperti apa yang kita inginkan. Hidup setiap orang sudah ditentukan lika-liku jalannya. Tidak setiap yang kita harapkan selalu terwujud.

Bertahun tahun sudah peran ini aku jalankan. Berbagai cobaan hidup sudah aku dapatkan. Berbagai peristiwa diri sudah aku lewatkan. Tetapi sampai kapankah aku mampu menghadapi segala cobaan hidup ini? Terkadang diri ini kuat dan tabah dalam menghadapi sebuah peristiwa, tetapi di lain waktu aku sangat lemah dalam menghadapinya.

Ketika aku melewati cobaan itu dengan sukses terasa ada kelagaan di hati ini, tetapi ketika cobaan itu begitu dahsyatnya mendera terkadang aku sampai tenggelam untuk bisa melewatinya. Ya… tenggelam dalam ketidak pastian, tenggelam dalam ketidak menenetuan, aku hanya bisa termenung sendiri. Bukan meratapi nasib, tetapi lebih kepada kenapa semua ini harus terjadi, seharusnya aku bisa menghindarinya, seharusnya semua ini tidak perlu terjadi jikalau aku begini, jikalau aku begitu. Pernyataan yang tak bermakna itu selalu muncul di kala aku sedang merasakan beban berat yang aku pikul.

Apakah hidup ini hanya berupa cobaan? Apakah tabu menanyakan kenapa cobaan ini datang kepadaku?

Entah kapan aku bisa berdiri kembali dengan tegak. Bisa sehari, bisa seminggu, bisa sebulan bahkan bisa setahun sampai aku tidak merasakannya lagi.

Saat ini aku sedang tenggelam.

Gak jadi pindahan

Aku sudah coba beberapa layanan blog gratis yang ada di internet. Mulai dari wordpress.org, blogthing.com, blogsome.com sampai blog.co.uk, semua nya bagus menurut ukuran ku. Setelah membuat account dan melihat-lihat lebih dalam, hampir semua atau mungkin semuannya menggunakan wordpress. Memang tampilan juga lebih bagus akan tetapi setelah mengutak-atik menu dan html terasa ada yang canggung. Apa mungkin aku sudah terbiasa dengan menu-menu yang ada di blogspot kali.

Akhirnya setelah di pikir-pikir dan melihat performa blogspot yang mulai cepat aku putuskan kembali ke laptoooop *niru gaya tukul hehe*. Ya sudah lah aku cari-cari template yang rada bagusan dan akhirnya dapet juga. Lumayan ada penyegaran dikit.

Memang susah kali ya pindah kelain hati hehehe…

Warna baru

Pfuiih….. setelah berhari-hari tertunda, akhirnya jadi juga aku ganti tampilan.Sebetulnya dari hari senin kemarin aku ingin ganti template tapi berhubung kerjaan banyak jadi tertunda terus. Tapi walaupun setting template sambil bekerja bolak-balik akhirnya kelar juga.
Sekalian aku mengubah tampilan blog link. Aku sertakan foto dari blogger. Kalau ada yang tidak berkenan fotonya di tampilkan silahkan melakukan unjuk rasa hehehe… tapi apabila berkenan saya haturkan terimakasih.

Pindahan

Akhirnya jadi juga aku pindah. Hari minggu kemarin dengan menggunakan mobil box (pinjam dari kantor hehehe) aku pindahan ke rumah baruku di Cibinong. Memang sih jauh dari Jakarta tempat kerjaku tapi setidaknya aku sekarang punya status baru bukan lagi sebagai anak kost hehehe.

Rumah tampak depan.


Ruang tengah yang masih kosong.

Barang-barang bawaanku dari Jakarta masih berserakan.

Kamar yang masih kosong.

Dapur yang belum jadi.

Chelsea sama Everton lagi maen.

Akhirnya Chelsea menang 3-2 setelah sebelumnya ketinggalan 1-2. Drogba emang hebat, eh gak ada hubungannya sama pindahan ya hehe.

Semoga saja rumah ini bisa menjadi tempatku ‘berteduh’. Bisa menjadi sumber inspirasiku. Bisa lebih menjelajahi alam imajinasiku.
Tapi aku masih sendiri hiks.

Ada yang mau nemenin gak 😀