Diplomat Bag. 6 – Kembali ke New York

Besoknya Yudha sudah bersiap-siap pagi sekali, dia ada sedikit urusan yang mendadak ingin dia lakukan. Yudha berangkat menggunakan mobilnya menuju kawasan perumahan di Jakarta Timur. Dia bermaksud untuk mencari tahu kondisi rumah yang ada disini. Apabila cocok dia memberikan tanda jadi kepada pengelola perumahan ini.

Setelah berputar-putar mengelilingi kawasan perumahan ini, dia menjatuhkan pilihan kepada rumah yang sudah siap huni yang ada disini. Kemudian Yudha masuk ke kantor pengelola perumahan ini dan membayar tanda jadi setelah dia menyetujui syarat-syarat kepemilikan rumah tersebut.

Yudha kemudian menghubungi Farah lewat whatsapp.

‘Hari ini pulang syuting jam berapa’

Yudha mengirimkan pesan kepada Farah.

‘Saya sampai rumah sekitar jam 7 malam mas’

Balas Farah

‘Boleh nggak saya ke rumah kamu nanti malam?’

Balas Yudha

‘Iya boleh mas’

Balas Farah

‘Kamu sedang break syuting?’

Balas Yudha

‘Iya mas saya lagi break syuting’

Balas Farah

‘Ya sudah kalau gitu, sampai nanti malam ya’

Balas Yudha

‘Iya mas’

Balas Farah

Mereka kemudian mengakhiri komunikasi.

Siang ini Yudha berencana untuk pergi ke Jatinegara. Dia akan mengambil pesanannya berupa cincin berlian yang akan diberikan kepada Farah. Dia tidak punya ide lain untuk memberikan kenang-kenangan kepada Farah. Dia ingin memberikan sesuatu yang membuat Farah ingat terus kepada dia. Tadinya dia berniat untuk membeli kalung, tapi setelah dipikir-pikir cincin sepertinya lebih cocok.

***

Farah memainkan HP nya ketika sedang ‘break’ syuting. Dia melihat-lihat HP nya tapi terlihat matanya menerawang pertanda pikirannya tidak sedang disini. Mama Farah melihat itu dan kemudian bertanya kepada Farah.

“Kenapa sayang…”.

“Eh… nggak apa-apa mam”. Jawab Farah.

“Barusan Yudha yang whatsapp kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam”. Jawab Farah.

“Kok jadi diem?”. Tanya mama

“Nanti malam dia mau ke rumah katanya mam, dia mau pamitan mau balik ke New York”. Jawab Farah.

“Oh sudah mau berangkat lagi ya”. Ujar mama.

“Katanya  besok sabtu dia mau berangkat mam, jadi malam ini mau pamitan ke rumah kita”. Ujar Farah.

“Oh gitu, ya sudah nanti kita tunggu saja di rumah”. Ujar mama.

“Kamu sedih ditinggal Yudha?”. Tanya mama.

“Nggak sedih sih mam, tapi gimana ya, perasaan ada yang hilang gitu mam”. Jawab Farah.

“Anak mama kayaknya sudah menyimpan perasaan ya sama Yudha…”. Ujar mama

“Ah mama… tapi gimana ya mam… Farah juga bingung”. Jawab Farah.

“Nggak usah bingung, kalau kalian sudah saling suka ya nggak apa-apa”. Ujar mama lagi.

“Mama hanya bisa mendoakan kalau kalian memang jodoh ya nggak akan kemana”. Lanjut mama.

“Mama kok sudah bicara jauh seperti itu sih”. Ujar Farah. Mama Farah tersenyum sambil mengusap rambut anak gadis kesayangannya.

“Udah mau ‘take’, ayo…”. Ujar mama.

“Iya mam…”. Farah kemudian berdiri dan memulai lagi syuting nya.

Sore hari setelah syuting selesai, Farah dan mamanya bergegas untuk pulang ke rumahnya.

“Kok buru-buru tante?”. Tanya bang Yopy ketika Farah dan mamanya sudah bersiap-siap untuk pulang dari tempat syuting.

“Ini ada yang mau datang ke rumah jadi kita buru-buru pulang”. Jawab mama Farah.

“Oh gitu, kok nggak dianter siapa itu namanya, Yudha… iya Yudha…”. Kata bang Yopy.

“Yudha nya sudah mau pulang lagi ke New York”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Mama Farah hanya tersenyum melihat anaknya sedikit cemberut.

“Ooo… pantesan nggak antar jemput lagi”. Ujar bang Yopy.

“Kita duluan ya…”. Kata mama Farah.

“Iya tante”. Jawab bang Yopy.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil.

“Pak maman, kita langsung pulang saja ya, nggak usah kemana-mana dulu”. Ujar mama Farah.

“Baik bu”. Jawab pak Maman. Pak Maman mulai menjalankan mobilnya. Sementara Farah masih terdiam.

“Sudah nggak usah banyak pikiran, mama yakin kalau Yudha juga punya perasaan yang sama seperti kamu”. Ujar mama.

“Gitu ya mam…”. Jawab Farah.

“Kalau Farah ngasih sesuatu sama Yudha malu nggak ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kamu mau ngasih apa?”. Tanya mama.

“Menurut mama apa ya kira-kira?”. Tanya Farah.

“Ya sesuatu yang bisa mengingatkan dia sama kamu, kayak foto gitu misalnya”. Jawab mama.

“Kok foto sih mam…”. Tanya Farah.

“Fotonya jangan yang kecil, yang agak besar terus pakai figura yang bagus”. Jawab mama.

“Kalau yang kayak gitu kan ada mam di kamar Farah”. Ujar Farah.

“Ya sudah kamu pilih aja salah satu, terus kamu kasih ke Yudha”. Ujar mama. Farah berpikir kira-kira foto yang mana yang akan dia kasih ke Yudha. Kenapa ya dengan perasaanku. Kok seperti ini kepada Yudha. Padahal mereka baru kenal selama satu minggu. Apa karena selama satu minggu ini mereka berdua terus. Tapi kalau dipikir-pikir, aku juga nggak akan mau jalan sama dia kalau memang aku juga nggak ada perasaan sedikitpun kepada Yudha, begitu pikir Farah dalam hati. Mama Farah melihat anaknya melamun, dia kemudian tersenyum.

“Tuh kan melamun lagi…”. Ujar mama.

“Eh iya mam hehe”. Farah menjawab sambil tersenyum malu.

“Yuk turun, sudah sampai”. Ajak mama.

“Iya mam…”. Jawab Farah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Sebelum masuk, Farah menengok ke arah jalan, siapa tau Yudha sudah ada disitu, tapi ternyata dia belum datang.

“Ayo masuk sayang… nanti juga dia datang kok”. Ajak mama.

“Hehe iya mam…”. Jawab Farah.

Pak Maman kemudian pamit setelah memarkirkan mobilnya.

“Saya pamit ya bu”. Ujar pak Maman.

“Iya pak, terima kasih ya. Oh iya besok pak Maman masuk ya. Ada yang harus diantar besok”. Mama Farah tidak biasanya menyuruh pak Maman masuk hari sabtu. Tapi dia sudah punya firasat kalau pak Maman akan berguna besok.

“Baik bu, besok saya datang pagi, saya pamit”. Ujar pak Maman.

“Iya pak”. Jawab mama Farah.

“Kok pak Maman di suruh masuk besok mam…?”. Tanya Farah setelah pak Maman pergi.

“Nggak apa-apa, besok mungkin pak Maman berguna buat nganter kamu”. Jawab mama.

“Nganter kemana mam…?”. Tanya Farah masih bingung.

“Sudah… percaya deh sama mama”. Jawab mama.

Setengah jam kemudian terdengar ada suara mobil yang berhenti didepan rumah Farah. Yudha ternyata sudah sampai di rumah Farah.

“Tuh yang kamu tunggu sudah datang, ayo cepat temui”. Ujar mama kepada Farah.

“Iya mam…”. Farah tersenyum, tapi dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya berpisah dengan Yudha. Dia kemudian keluar rumah untuk menyambut Yudha.

“Hai Farah…”. Yudha berkata setelah turun dari mobil.

“Hai mas… ayo masuk”. Ajak Farah. Mereka berdua kemudian masuk ke ruang tamu. Lalu mama Farah masuk dari ruang tengah.

“Malam tante”. Ujar Yudha sambil membungkuk menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam juga, katanya besok mau kembali ke New York ya?”. Tanya mama Farah.

“Iya tante, besok saya berangkat ke New York, makanya saya datang malam ini untuk pamitan”. Jawab Yudha.

“Oh gitu, ya sudah kalian ngobrol dulu ya. Tante masuk dulu”. Kata mama Farah, dia sudah mengerti kalau Yudha ingin ngobrol berdua dengan Farah.

Sejenak mereka berdua terdiam. Hanya duduk saja sambil melamun. Kemudian Yudha yang memulai pembicaraan.

“Farah…”.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Besok saya berangkat lagi ke New York”. Ujar Yudha.

“Besok ya mas…”. Jawab Farah.

“Iya… saya terbang sekitar jam tiga sore dari bandara”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah, dia hanya menjawab iya karena tidak tahu harus menjawab apa. Ada apa dengan perpisahan ini? Padahal mereka belum punya ikatan apa-apa tapi kok terasa berat ya berpisah dengan Yudha, pikir Farah.

“Terima kasih ya, selama seminggu ini sudah menemani saya”. Ujar Yudha.

“Saya yang seharusnya berterima kasih sama mas Yudha. Saya sudah diantar jemput ke tempat syuting, ditraktir makan, diajak makan di rumah mas Yudha”. Jawab Farah menata kembali kenangannya selama seminggu ini dengan Yudha.

“Iya sama-sama, saya senang kok bisa antar jemput kamu, bisa ngobrol berdua sama kamu sambil makan, saya nggak akan melupakan semua itu”. Jawab Yudha. Farah merasa bahagia dengan perkataan Yudha. Ternyata dia juga senang berdua terus dengan aku, apakah aku juga senang? Tapi aku nggak tahu bagaimana perasaanku sekarang, yang jelas aku merasa berat berpisah dengan dia, ada apa denganku, pikir Farah.

“Besok diantar siapa ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Saya berangkat sendiri, sudah biasa sendiri tidak ada yang menemani ke bandara”. Kalau kamu yang menemani sih aku mau Farah, Yudha berkata dalam hati.

“Oh sendiri ya mas”. Ujar Farah.

“Iya sendiri”. Jawab Yudha.

Mereka kemudian terdiam kembali.

Yudha sudah memegang kotak cincin yang ada di saku jaketnya, tapi masih belum dikeluarkan. Dia masih bimbang apakah akan memberikan cincin ini kepada Farah. Apakah nanti Farah tidak berpikiran macam-macam ya, begitu pikir Yudha. Sebelum berangkat ke rumah Farah, dia mampir dulu di toko cincin untuk mengambil pesanannya dua hari yang lalu.

Farah sudah menyiapkan kotak putih yang berisi foto dia dan sebuah boneka, boneka kelinci kesayangannya akan dia berikan kepada Yudha. Dia ingin agar Yudha tidak melupakan dia apabila sudah di New York nanti. Apakah akan aku berikan sekarang saja kotak itu? Bagaimana ya tanggapan Yudha menerima kotak itu nanti? Apakah dia tidak berpikiran macam-macam kepadaku? Norak nggak ya memberikan foto kepada orang yang baru dikenal? Pikiran Farah dipenuhi dengan banyak pertanyaan.

Mereka masih terdiam tanpa berkata apa-apa. Yudha sedang berpikir untuk memberikan cincin kepada Farah, sedangkan Farah sedang berpikir untuk memberikan foto dan boneka kepada Yudha.

“Farah…”. Akhirnya Yudha mulai lagi bicara.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya pamit ya, saya harus siap-siap untuk membereskan barang di rumah”. Ujar Yudha. Kok pulang sih, kenapa cepat sekali, kok nggak nunggu aku ngasih foto dulu? Farah berkata dalam hati.

“Farah…”. Yudha berkata lagi setelah melihat Farah diam lagi.

“Eh iya mas, sebentar ya…”. Dia kemudian masuk ke ruang tengah untuk memanggil mamanya. Tak lama kemudian Farah dan mamanya masuk kembali ke ruang tamu.

“Sudah mau pulang ya”. Kata mama Farah.

“Iya tante, saya harus siap-siap biar besok nggak terburu-buru berangkatnya”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, selamat jalan ya, semoga selamat sampai New York”. Ujar mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Farah dan Yudha kemudian berjalan berdua keluar rumah Farah, mama Farah masuk lagi ke ruang tengah, dia masih heran dengan sikap anaknya, sepertinya dia berat melepas kepergian Yudha, dasar anak muda, begitu pikiran mama Farah.

“Saya berangkat ya Farah”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya dua bulan lagi selesai tugas di New York, setelah itu saya kembali tugas di Jakarta”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas”. Hanya itu yang bisa dijawab oleh Farah.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Saya tidak akan melupakan kamu”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Aku juga tidak akan melupakan kamu, aku akan selalu ingat kamu mas, Farah berkata dalam hati.

“Saya berangkat ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas, hati-hati ya dijalan, semoga selamat sampai New York”. Jawab Farah. Yudha tersenyum kemudian dia masuk kedalam mobilnya. Mobilnya kemudian berjalan dan dia melambaikan tangan kepada Farah, Farah balas melambaikan tangan.

Farah kemudian masuk kedalam ruang tamu rumahnya. Dia kemudian duduk dan terdiam. Dia menyesali diri sendiri kenapa dia tidak jadi memberikan fotonya kepada Yudha. Kenapa dia tadi diam saja tidak langsung memberikannya kepada Yudha.

***

Sabtu ini adalah jadwal Yudha kembali ke New York. Pagi ini dia sudah siap-siap untuk berangkat ke Bandara Soetta. Sewaktu berangkat dari New York seminggu yang lalu dia hanya mendapat tiket pesawat kelas ekonomi karena terburu-buru memesan tiket. Hari ini dia masih bisa memesan kelas bisnis jauh-jauh hari. Hari ini dia terbang jam tiga sore dari Bandara Soetta.

Yudha masih duduk di ruang tamu. Koper yang berisi baju dan perlengkapan dia sudah ada di samping nya, siap untuk dibawa. Dia tidak membawa banyak perlengkapan karena toh dia pikir hanya sebentar tugas di New York. Tangannya masih menggenggam HP, dia masih teringat dengan Farah yang telah mengisi hari-harinya seminggu belakangan ini.

Dia masih ingat sewaktu kemarin berpamitan kepada Farah dan mamanya di rumah Farah. Terasa ada ruang yang kosong yang hilang dari hatinya. Walaupun dia baru mengenal Farah selama seminggu, tapi ternyata hatinya sudah terpaut oleh gadis ini. Entah dengan Farah, apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan Yudha.

Sehari sebelumnya Yudha membeli sebuah cincin putih bermata berlian. Cincin mungil itu sedianya akan dia berikan kepada Farah sebagai kenang-kenangan. Tapi kemarin sewaktu dia akan memberikan cincin itu dia masih ragu untuk memberikannya. Takut Farah menganggapnya gampang memberikan hadiah kepada gadis yang baru dikenalnya. Yudha kemudian merogoh jaketnya dan mengambil kotak perhiasan kecil yang berisi cincin berlian tersebut. Dia melihat cincin itu lagi, sepertinya sangat cocok dikenakan di jari manis Farah.

Mang ukan dan bi Neni melihat majikannya sedang memperhatikan cincin. Mereka melihat satu sama lain. Mungkin majikannya sedang jatuh cinta dengan gadis barunya. Hari Kamis kemarin Farah dibawa ke rumah dan dikenalkan kepada mang Ukan dan bi Neni. Gadis cantik teman Myra, seorang artis film yang sedang naik daun. Mungkin gadis ini sudah mencuri hati majikannya ini, sampai-sampai mau kembali ke New York pun masih ragu untuk berangkat.

Yudha juga teringat pesan Myra sebelumnya. Walaupun dia sedang berbulan madu di Bali tapi Myra menyempatkan waktu untuk menanyakan kabar hubungan Yudha dan Farah. Myra sepertinya sudah tahu apa yang dirasakan Yudha dan Farah saat ini. Makanya dia berpesan kepada Yudha untuk tidak menyia-nyiakan Farah.

“Pesawatnya berangkat jam berapa den…”. Tanya bi Neni.

“Jam tiga sore bi”. Jawab Yudha.

“Ingat sama non Farah ya den…”. Tanya bi Neni lagi.

“Hehe… iya bi, kemarin rencananya cincin ini mau saya berikan kepada Farah bi, tapi saya masih ragu takut dia berpikir macam-macam”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih saja den ke non Farah”. Ujar bi Neni.

“Iya ya bi…. tapi saya sudah mau berangkat bi. Nanti saja kalau saya sudah pulang dua bulan lagi”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih sekarang saja den, kalau nanti-nanti sudah keburu kadaluarsa”. Ujar bi Neni.

“Jangan sampai non Farah diambil orang den…”. Lanjut bi Neni.

Yudha jadi terdiam. Benar juga apa yang dikatakan bi Neni. Bagaimana kalau ada yang suka sama Farah dan aku keduluan sama dia? Begitu pikir Yudha. Lebih baik aku telpon dia sekarang dan mengajaknya bertemu.

Yudha sedang membuka kontak Farah di HP nya, tiba-tiba HP nya berbunyi. Farah yang telpon dia. Kemudian dia mengangkat telpon nya.

“Halo… Farah…”. Ujar Yudha memulai pembicaraan.

“Halo mas… belum berangkat…?”. Tanya Farah.

“Belum Far…”. Jawab Yudha.

“Oh belum ya…”. Farah berkata.

“Rencananya mau berangkat jam berapa mas…?”. Tanya Farah.

“Nanti sih sebentar lagi, santai kok. Kan aku terbang jam tiga sore, paling aku check-in jam dua belas siang”. Jawab Yudha. Eh kok jadi aku… Farah pun menyadari ada kata-kata yang berubah dari Yudha.

“Mmmm Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya….”. Jawab Farah.

“Bisa nggak kita ketemu sebelum aku berangkat?”. Tanya Yudha.

“Mmmm boleh mas, tadinya aku juga mau bilang begitu. Tapi mas nggak usah kesini ya, aku saja yang ke rumah mas Yudha”. Kata Farah.

“Oh gitu…”. Jawab Yudha.

“Aku berangkat sekarang”. Ujar Farah.

“Oh iya…”. Jawab Yudha.

Kemudian telpon terputus, Farah juga ingin ketemu aku. Apakah ini pertanda? Begitu pikir Yudha.

***

Sebelumnya di rumah Farah…

Pagi itu dia masih duduk di ruang tamu. Di pangkuannya ada kotak putih berisikan boneka kelinci warna pink berukuran sedang dan pigura berukuran poster berisikan foto Farah sedang tersenyum. Sebetulnya dia ingin memberikan kotak ini kemarin malam sewaktu Yudha berpamitan kepadanya untuk berangkat lagi ke New York. Tapi dia tidak jadi memberikan kotak itu kepada Yudha. Dia tidak ingin lelaki ini berpikiran macam-macam kepadanya. Dia jadi ragu untuk memberikan kotak ini. Tapi pagi ini dia memutuskan untuk memberikan kotak ini kepada Yudha supaya hatinya lega.

Apa aku telpon dia saja ya, mumpung masih pagi siapa tahu dia belum berangkat, begitu pikir Farah.

Kemudian dia menghubungi Yudha dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Yudha sebelum dia terbang. Ternyata Yudha pun mempunyai keinginan yang sama untuk bertemu dengan nya sebelum terbang ke New York. Tapi kali ini Farah yang akan datang ke rumahnya.

“Mam… aku ke rumah Yudha ya…”. Ujar Farah kepada mamanya. Mama Farah tersenyum melihat anaknya bersemangat pergi ke rumah Yudha. Mama Farah sudah tahu apa yang ada di pikiran anak gadisnya. Dia pikir tak apa-apa dia menemui Yudha di rumahnya.

“Kamu berangkat sama pa Maman saja. Terus antar Yudha sampai ke bandara ya…”. Ujar mama.

“Mam…”. Farah memandang mama nya.

“Sudah ayo cepat, nanti keburu siang…”. Ujar mama.

“Mama…”. Farah kemudian memeluk mamanya. Mamanya sangat mengerti dia, walaupun tidak berkata apa-apa tapi dia tahu apa yang diinginkan anaknya.

“Farah berangkat ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya hati-hati di jalan…”. Mama berkata sambil mencium pipi putrinya kiri kanan.

Farah kemudian berangkat ke rumah Yudha. Sepanjang perjalanan dia teringat terus kepada Yudha. Dia akan berpisah dengan pemuda ini, walaupun Yudha sudah berkata bahwa dia hanya dua bulan di New York dan akan secepatnya pulang ke Jakarta, tapi seperti ada sesuatu yang akan hilang. Selama seminggu ini semenjak dia dikenalkan dengan Yudha di pesta pernikahan Myra sahabatnya, dia selalu bersama pemuda ini setiap hari. Walaupun hanya sebentar tapi kesan yang ditinggalkan terlalu banyak untuk dilupakan.

Malam tadi Myra menelpon dia dari Bali. Dia sudah bercerita semua kepada Myra dan kebersamaan dia dengan Yudha selama seminggu ini. Myra pun sempat heran dengan kebersamaan mereka berdua. Tapi dibalik itu semua Myra sangat bersyukur bisa mengenalkan Farah dan Yudha. Myra berpesan kepada Farah untuk bersabar, kalau jodoh tak kan kemana.

***

Jam sepuluh pagi akhirnya Farah sampai di rumah Yudha. Tadi dia sudah memberikan alamat rumah Yudha kepada pak Maman sehingga supirnya tersebut dengan mudah sampai di rumah Yudha. Pintu pagar kemudian dibuka oleh mang Ukan. Mang Ukan mempersilahkan Farah untuk langsung ke ruang tamu, dia bilang Yudha sudah menunggu dari tadi. Sementara pak Maman dan mang Ukan berjalan menuju ruang belakang.

Pintu ruang tamu sudah terbuka. Kemudian Farah perlahan-lahan masuk ke ruangan tersebut. Dia lihat Yudha duduk sendiri sambil memegang sesuatu di tangan nya. Sepertinya sebuah kotak, tapi dia tidak melihat apa isinya.

“Ehem… mas…”. Farah berkata pelan.

Yudha agak kaget dan buru-buru memasukkan kota yang di pegang nya ke dalam saku jaket nya. Dia melihat Farah berdiri di pintu masuk.

“Eh sudah datang…”. Kata Yudha.

“Iya baru saja mas…”. Jawab Farah.

“Ayo duduk…”. Ajak Yudha. Kemudian Farah duduk bersebelahan dengan Yudha. Dia lihat di samping sudah ada koper yang akan Yudha bawa, dia sepertinya sudah siap berangkat.

“Mas Yudha berangkat ke bandara naik apa?”. Tanya Farah.

“Naik bis dari terminal Rawamangun”. Jawab Yudha. Dia biasanya berangkat ke bandara  dari terminal tersebut.

“Oh begitu, bagaimana kalau aku antar saja ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Memang nya pak Maman ada?”. Tanya Yudha. Biasanya supir Farah libur di hari sabtu dan minggu. Tapi hari ini mama Farah meminta pa Maman untuk masuk.

“Iya mas, tadi mama minta pak Maman masuk buat nganterin mas Yudha ke bandara”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang saja ya”. Ajak Yudha.

“Iya mas kita berangkat sekarang saja”. Ujar Farah.

Kemudian mereka berdua berjalan keluar rumah. Farah berjalan duluan diikuti Yudha sambil membawa koper.

“Pak Maman… yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Iya mbak…”. Jawab pak Maman, dia tinggalkan kopi yang baru diminumnya setengah gelas, tadi bi Neni menyuguhkan kopi buat temen ngobrol sama mang Ukan.

“Mang Ukan, bi Neni saya berangkat ya, baik-baik ya di rumah”. Ujar Yudha.

“Saya berangkat diantar Farah langsung ke bandara”. Lanjut Yudha.

“Iya den…”. Kata mang Ukan dan bi Neni.

“Saya berangkat ya mang… bi…”. Kata Farah kepada mang Ukan dan bi Neni.

“Iya non… hati-hati di jalan”. Kata bi Neni.

Farah dan Yudha kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka duduk bersebelahan. Mobil tersebut selanjutnya berjalan meninggalkan rumah Yudha. Sejenak mereka berdua terdiam. Baik Yudha maupun Farah sama-sama tidak tahu harus mulai bicara apa. Mereka masih sibuk dengan khayalan nya masing-masing.

Farah berpikir seandainya saja Yudha masih lama tinggal di Jakarta dan terus menemaninya setiap hari. Tapi toh hanya dua bulan Yudha di New York. Nanti setelah itu dia akan kembali lagi ke Jakarta dan bertemu dengannya. Farah tersenyum sendiri.

Yudha masih berpikir untuk memberikan cincin yang ada di sakunya. Apa yang akan dia katakan ketika memberikan cincin ini? Apakah aku akan melamarnya langsung? Terlalu cepatkah?

“Mas sampai New York jam berapa?”. Tanya Farah membuka pembicaraan.

“Besok sekitar jam tiga sore juga, sama dengan waktu berangkat. Tapi kalau waktu disana berarti jam tiga pagi”. Jawab Yudha.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya nanti aku kabari kalau sudah sampai New York. Nanti aku ganti nomor HP ya sampai disana. Nanti aku whatsapp nomor barunya ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Mereka berdua kemudian terdiam kembali. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Padahal dari pertama kali mereka bertemu biasanya terus-terusan ngobrol, ada saja yang mereka jadikan topik pembicaraan. Tapi sekarang Yudha akan berangkat ke New York, Farah seperti kehilangan semangat untuk ngobrol. Bicara pun hanya sekedarnya saja dengan Yudha.

Akhirnya mobil yang dikemudikan pak Maman sampai juga di bandara Soetta. Mobil kemudian bergerak masuk ke terminal tiga bandara Soetta tempat terminal keberangkatan keluar negeri. Yudha melihat ke arah Farah, dia masih diam dan pandangan nya masih keluar jendela mobil. Di pangkuannya ada kotak warna putih, dia tidak memperhatikan mulai kapan Farah memegang kotak tersebut.

“Farah… turun yuk…”. Ajak Yudha setelah pak Maman menghentikan mobilnya di depan lobby terminal tiga.

“Eh… iya…”. Farah berkata tergagap karena dia masih melamun. Yudha menyadari itu dan sepertinya dia mantap untuk memberikan cincin berlian yang ada di sakunya kepada Farah.

Mereka kemudian berjalan berdua masuk ke dalam kawasan terminal tiga bandara Soetta sementara pak Maman membawa mobil ke tempat parkir.

Yudha langsung melakukan proses check-in dengan memberikan dokumen-dokumen yang biasanya diperlukan seperti paspor dan visa, tidak lupa tiket pesawat juga dia berikan. Farah melihat dari kejauhan, Yudha melihat ke arah Farah dan tersenyum.

Setelah semuanya selesai kemudian Yudha menghampiri Farah. Dia mengajak Farah untuk duduk dulu di Cafe yang ada disana sebelum Yudha masuk ke ruang boarding. Farah hanya diam saja ketika tangan nya ditarik Yudha untuk duduk di meja cafe tersebut. Mereka berdua kemudian duduk berhadap-hadapan. Farah masih memegang kotak putih yang berisi boneka dan fotonya.

“Mas… ini aku ada sesuatu buat mas Yudha”. Ujar Farah sambil memberikan kotak tersebut kepada Yudha.

“Apa ini…”. Tanya Yudha.

“Dibuka saja mas…”. Jawab Farah.

Kemudian Yudha membuka kotak tersebut. Ternyata isinya sebuah boneka kelinci warna pink dan sebuah foto Farah. Yudha kemudian tersenyum.

“Biar mas Yudha nggak lupa sama aku… itu boneka kesayanganku mas…”. Ujar Farah. Malu rasanya memberikan sesuatu kepada lelaki yang baru dikenalnya ini. Tapi dia tepis semua ini demi perasaannya kepada Yudha.

“Terima kasih ya… aku akan ingat kamu terus kok…”. Jawab Yudha.

“Iya mas, walaupun kita baru seminggu kenal tapi entahlah aku sepertinya sudah lama mengenal mas Yudha”. Lanjut Farah.

Yudha kemudian menggeser kotak tersebut ke sebelah kirinya. Dia kemudian memasukkan tangan ke saku jaketnya dan mengambil kotak kecil berisi cincin berlian yang dibelinya tempo hari. Yudha kemudian menggenggam tangan Farah. Jantung Farah berdetak kencang ketika Yudha menggenggam tangan nya, dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang lelaki. Tapi kemudian Yudha melepaskan genggaman tangannya. Farah kemudian melihat ke arah telapak tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang diletakkan Yudha disana. Sebuah kotak kecil berwarna perak.

“Apa ini mas…?”. Tanya Farah.

“Dibuka saja…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah membuka kotak tersebut. Isinya sebuah cincin putih, bermatakan berlian. Farah menutup mulut dengan telapak tangannya, bagus sekali cincin ini. Walaupun sekilas Farah bisa melihat bahwa cincin tersebut adalah cincin berlian. Apakah Yudha…

“Kamu nggak usah bilang apa-apa. Cincin itu boleh dipakai boleh juga nggak. Cincin itu aku berikan biar kamu nggak melupakan aku”. Ujar Yudha.

“Tapi mas…”. Farah berkata.

“Mas Yudha… bukan melamarku kan…?”. Tanya Farah. Hatinya tak karuan.

“Kalaupun ini kamu anggap bahwa aku melamar kamu nggak apa-apa”. Jawab Yudha.

“Yang pasti aku akan datang dua bulan lagi ke rumahmu”. Lanjut nya.

“Dua bulan lagi…”. Ujar Farah.

“Ya… sekembalinya dari New York aku akan langsung datang ke rumahmu”. Jawab Yudha mantap.

“Buat apa mas… kan sekarang juga aku ada disini”. Ujar Farah. Yudha tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Dia harus berangkat sekarang. Pintu ruang boarding sudah dibuka dan penumpang tujuan New York sudah bisa masuk ke ruang tunggu boarding.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Aku harus berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik ya…”. Kata Yudha.

“Eh… iya mas…”. Jawab Farah.

“Terutama jaga hatimu…”. Lanjut Yudha. Farah tersenyum dan mukanya bersemu merah. Mereka memang belum mempunyai komitmen apa-apa, tapi sepertinya keduanya sudah mengerti akan perasaan masing-masing.

Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu ruang boarding. Koper Yudha sudah masuk ke bagasi jadi dia berjalan santai tanpa membawa apa-apa, hanya sebuah kotak putih pemberian Farah yang dia pegang di tangan kiri. Di sebelah kanan nya Farah berjalan perlahan, dia masih menggenggam kotak yang berisi cincin pemberian Yudha. Yudha mencoba memegang tangan Farah. Farah hanya diam saja melihat Yudha memegang tangannya. Kenapa hatiku jadi tak karuan begini, pikir Farah.

Mereka berdua berhenti di depan pintu masuk pemeriksaan penumpang.

“Aku hanya bisa mengantar sampai sini mas”. Ujar Farah.

“Terima kasih untuk semuanya ya, semoga mas selamat sampai tujuan”. Lanjut Farah.

“Terima kasih juga ya, kamu sudah mau mengantarku sampai bandara”. Jawab Yudha. Farah mengangguk.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya… aku berangkat ya…”. Yudha berkata sambil melepas genggaman tangan Farah.

“Iya mas…”. Jawab Farah. Yudha tersenyum dan berjalan ke arah petugas pemeriksaan penumpang. Farah masih berdiri melihat Yudha yang sedang menyerahkan berkas-berkas keberangkatan dia untuk diperiksa petugas. Setelah selesai kemudian dia melangkah masuk menuju koridor ruang boarding. Hanya sampai disini dia bisa melihat Farah. Dia kemudian berbalik, Farah masih berdiri disana dan melambaikan tangan. Yudha pun melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan. Farah berkata hati-hati dari kejauhan tanpa suara, Yudha mengangguk dan kemudian melangkah masuk ke ruang tunggu boarding.

***

Farah menarik nafas panjang. Dia kemudian melangkah menuju lobby terminal tiga. Dia menghubungi pak Maman untuk menjemputnya di lobby. Dia berjalan sambil masih memegang kotak cincin pemberian Yudha. Pak maman sudah sampai depan lobby, Farah kemudian masuk kedalam mobil.

“Kita kemana lagi mbak…”. Tanya pak Maman.

“Kita langsung pulang saja pak”. Jawab Farah.

“Baik mbak…”. Ujar pak Maman. Dia kemudian mengarahkan mobil menuju rumah Farah.

Sepanjang jalan Farah masih melihat kotak cincin tersebut. Tutup kotak tersebut dibuat transparan di atasnya sehingga dia bisa melihat cincin itu. Farah perlahan membuka kotak tersebut, tak ada salahnya dia mencoba memakai cincin tersebut. Farah kemudian memasukkan cincin tersebut ke jari manis tangan kanan nya. Cincin itu pas sekali di jarinya, dari mana Yudha tahu ukuran jarinya, pikir Farah. Dia kemudian tersenyum dan membolak-balikan tangannya.

Sesampainya di rumah, Farah langsung masuk ke ruang tamu.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah kemudian duduk di sofa ruangan itu.

Mama Farah keluar dari ruang tengah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri.

“Yudha sudah berangkat?”. Tanya mama.

“Sudah mam, tadi aku antar sampai pintu ruang boarding”. Jawab Farah.

“Oh begitu, syukur kalau sudah berangkat. Eh itu apa…?”. Tanya mama sambil melihat ke arah jari manis kanan anaknya.

“Tadi Yudha yang ngasih mam”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Jadi… Yudha melamar kamu…?”. Tanya mama kaget.

“Nggak sih mam… tadi dia ngasih buat kenang-kenangan saja katanya. Tadi aku juga nanya apa dia melamarku tapi dia nggak bilang iya atau tidak. Nanti saja katanya dua bulan lagi dia mau datang kerumah”. Terang Farah.

“Oh begitu, berarti dia ingin memastikan kamu tidak kelain hati”. Ujar mama sambil tersenyum.

“Nggak tahu juga sih mam…”. Jawab Farah.

“Tapi perasaan kamu gimana…?”. Tanya mama.

“Ya… senang sih mam”. Jawab Farah.   

“Seandainya nanti Yudha melamar kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama…”. Farah memeluk mamanya.

“Kalau memang Yudha jodoh kamu, mama nggak keberatan sama sekali. Mama merasa kamu juga punya pemikiran yang sama dengan Yudha. Sejak dia masuk rumah ini mama lihat sikap kamu lain kepada dia, beda dengan sikap kamu kepada lelaki lain sebelum ini yang mencoba mendekati kamu”. Ujar mama.

“Tadi dia bilang apa sebelum berangkat?”. Tanya mama.

“Tadi dia bilang jaga diri baik-baik dan terutama jaga hatimu… gitu mam…”. Jawab Farah.

“Hmmmm… romantis banget sih, kalian tuh belum juga jadian tapi sikapnya udah kayak pacaran…”. Kata mama.

“Ah mama…”. Kata Farah malu-malu.

“Kira-kira dua bulan lagi dia mau ngapain ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kalau nanti ternyata dia melamar kamu bagaimana? Mau langsung diterima?”. Tanya mama.

“Ah gak tau ah mam…”. Jawab Farah.

“Ih… anak mama malu-malu”. Ujar mama.

“Farah… mama ini sudah mulai tua… jadi alangkah baiknya kamu segera menikah”. Lanjut mama.

“Ih mama… kok langsung nyuruh Farah menikah sih…”. Ujar Farah.

“Belum tentu juga Yudha ngajak aku nikah”. Lanjutnya.

“Tapi mama yakin, dia akan datang kesini dan melamar kamu”. Ujar mama.

“Mama tahu dari mana?”. Tanya Farah.

“Ya… feeling mama saja. Feeling mama nggak pernah salah loh…”. Jawab mama.

“Kalau nanti dia melamar kamu sama mama, mama akan langsung terima. Itu juga kalau kamu mau”. Lanjut mama.

“Kalau nanti kamu nikah, jadi karir artis kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama… belum apa-apa udah bicara sejauh itu sih…”. Jawab Farah.

“Kamu belum ada kontrak baru lagi kan…?”. Tanya mama.

“Belum sih mam… tapi setelah film yang sekarang aku main di dua FTV lagi mam, paling satu bulan lebih syuting nya”. Jawab Farah.

“Setelah itu kamu nggak usah terima kontrak dulu ya…”. Ujar mama.

“Mama… itu semua kan masih jauh, Farah aja masih belum mikir sejauh itu”. Jawab Farah.

“Udah… feeling mama gak akan salah. Mama juga ingin cepat-cepat punya cucu…”. Kata mama Farah sambil tersenyum.

“Ya ampun mama… sampai sejauh itu pemikiran mama…”. Ujar Farah. Mereka berdua kembali berpelukan.

Mama hanya tersenyum mendengar anaknya berkata begitu. Tapi dia yakin dengan perasaannya bahwa Yudha akan melamar anaknya sepulang dari New York nanti. Sudah saatnya untuk Farah bahagia, dia juga ingin secepatnya punya cucu. Yudha anak baik, walaupun mereka baru saling kenal selama seminggu, tapi dalam seminggu ini mereka selalu jalan berdua, menemani Farah di tempat syuting, makan bareng dan diantar pulang sampai rumah. Mama Farah senang dengan perkembangan anak gadisnya. Dia pun percaya sama Yudha sehingga dia tidak berkata apa-apa ketika mereka berdua jalan bareng.

***

Dua puluh empat jam kemudian Yudha sudah sampai di New York. Selama di pesawat pikiran nya tak bisa lepas dari sosok Farah. Kotak yang berisi boneka dan foto Farah tak lepas dari pangkuannya selama di pesawat. Yudha sudah yakin sekali dengan perasaannya. Dia akan segera melamarnya setibanya kembali ke Jakarta. Setelah pesawatnya mendarat dia memesan taksi dan bergegas menuju apartemennya. Waktu menunjukkan jam empat pagi ketika dia tiba di apartemen nya. Besok pagi dia harus segera bertugas di KJRI. Yudha tak sabar ingin segera menyelesaikan tugas nya disini dan kembali ke Jakarta.

Yudha membuka kotak yang diberikan Farah. Dia mengambil boneka dan disimpan di tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil foto Farah kemudian ditempatkan di meja kerjanya. Dia tersenyum melihat foto tersebut. Farah memang cantik… Oh iya aku harus segera memberitahukan nomorku disini kepada Farah, pikir Yudha. Dia kemudian mengambil HP nya, dia mengetikkan nomor barunya dan mengirimkannya kepada Farah lewat whatsapp.

‘Farah ini nomor baruku. Aku sudah sampai di New York, sekarang lagi istirahat di apartemen.’

Begitu pesan Yudha, dia kemudian menyimpan HP nya di meja. HP nya kemudian berbunyi tanda ada pesan masuk.

‘Iya mas, syukur kamu sudah sampai dengan selamat.’

Balas Farah

‘Kamu lagi ngapain?’

Balas Yudha

‘Aku lagi duduk di kamar’

Balas Farah

‘Kamu nggak kemana-mana?’

Balas Yudha

‘Nggak ah mas lagi males pengen di rumah aja.’

Balas Farah

‘Eh sebentar mas aku mau kirim foto.’

Kemudian ada pesan masuk yang berisi foto. Ternyata itu foto tangan Farah, di jarinya sudah memakai cincin yang diberikan Yudha kemarin.

Yudha tersenyum melihatnya. Dia tidak salah dengan perasaannya.

‘Bagus nggak mas?’

Balas Farah

‘Iya bagus, pas sekali ya di jari manismu’

Balas Yudha

‘Terimakasih ya mas, kok mas Yudha tahu ukuran jariku?’

Balas Farah

‘Aku kira-kira saja, ternyata pas juga ya di jarimu.’

Balas Yudha

‘Oh iya, mas Yudha langsung kerja pagi ini?’

Balas Farah

‘Iya langsung kerja, masih banyak tugas.’

Balas Yudha

‘Ya sudah mas istirahat dulu jadi nanti kerja sudah segar lagi.’

Balas Farah

‘Iya, aku istirahat dulu ya. Salam sama mama ya.’

Balas Yudha.

Yudha kemudian merebahkan diri di tempat tidur. Sebelumnya dia mengambil fotonya dengan boneka pemberian Farah. Dia kemudian mengirimkannya kepada Farah, lalu tertidur pulas.

***

Farah sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Dia sudah mulai melakukan proses syuting film nya. Tapi hari-harinya terasa kosong sekarang, tidak ada Yudha yang menjemput dia sehabis syuting.

Yudha pun sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Bedanya sekarang Yudha lebih semangat bekerja, dia ingin segera menyelesaikan tugas nya yang hanya tersisa dua bulan lagi di New York. Dia ingin segera kembali ke Jakarta dan segera melamar Farah. Secepat inikah dia akan melamar Farah? Menyatakan perasaan saja belum, apalagi sampai pacaran. Tapi niat Yudha dari semenjak bertemu dan kenalan adalah ingin mencari istri bukan mencari pacar. Kapan lagi dia punya kesempatan langka seperti ini. Ada wanita cantik yang sepertinya juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya, begitu pikir Yudha.

Farah seperti biasa diantar mamanya ke lokasi syuting. Kali ini mama Farah tidak ada urusan apa-apa jadi seharian menemani Farah syuting. Ketika Farah sedang ‘break’ syuting, dia dikagetkan dengan kedatangan sahabatnya Myra.

“Hai Farah…”. Sapa Myra.

“Hai Yaya… ya ampun kapan kamu pulang dari Bali?”. Tanya Farah. Mereka kemudian berpelukan. Myra kemudian menyalami mama Farah.

“Siang tante…”. Kata Myra.

“Eh Myra… sudah pulang bulan madu, tambah cerah kayaknya…”. Ujar mama Farah.

“Ah tante bisa aja”. Jawab Myra.

“Eh… bagaimana Yudha…”. Tanya Myra kepada Farah.

“Bagaimana apanya…”. Jawab Farah.

“Ya… hubungan kalian…”. Tanya Myra.

“Ya… biasa aja…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yee… biasa aja tapi senyum-senyum malu gitu”. Ujar Myra.

“Eh itu apa…?”. Myra melihat di jari manis Farah ada cincin berkilau melingkar disana. Itu pasti cincin berlian, pikir Myra.

“Oh ini… dikasih sama Yudha…”. Jawab Farah malu-malu.

“Hah… Yudha sudah melamar kamu… kapan… kok gak bilang-bilang sih… awas ya Yudha…”. Kata Myra gemas.

“Bukan… Yudha belum melamarku. Dia hanya bilang ini kenang-kenangan saja dari dia katanya”. Jawab Farah.

“Waah… kenang-kenangan kok cincin berlian sih… eh tadi kamu bilang Yudha belum melamar kamu”. Kata Myra.

“Iya belum…”. Jawab Farah.

“Berarti dia mau melamar kamu dong…”. Kata Myra menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih…”. Jawab Farah tersenyum malu-malu.

“Tuh… kan malu-malu… kamu tuh semenjak kenal sama Yudha kok jadi suka malu-malu gitu sih. Kemarin-kemarin kayaknya kamu nggak pernah gini deh…”. Ujar Myra.

“Ah biasa aja kali…”. Jawab Farah.

“Terus Yudha sudah berangkat ya sabtu kemarin…”. Ujar Myra.

“Iya sabtu kemarin jam tiga sore dia terbang ke New York”. Jawab Farah.

“Iya Farah juga ikut nganter kok ke bandara”. Mama Farah yang tadi diam saja ikut berbicara. Farah hanya tersenyum.

“Oohhh… nganterin sampai bandara… cie… cie… yang nganterin ke bandara…”. Kata Myra kembali menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih. Seneng banget ya godain aku…”. Muka Farah sedikit memerah.

“Ih tante… liat mukanya Farah merah gitu. Kayaknya ada sesuatu nih… cerita dong…”. Mama Farah hanya tersenyum.

“Yudha bilang jaga hatimu ya…”. Mama Farah yang bicara.

“Mama… apaan sih…”. Muka Farah semakin merah.

“Ya ampun… ’so sweet’… Yudha bilang gitu… kayaknya sepulang dari New York mau langsung lamaran nih…”. Kata Myra terus-terusan menggoda Farah.

“Udah ah… aku mau ‘take’ dulu…”. Ujar Farah menghindari Myra yang terus-terusan menggodanya. Myra hanya tertawa melihat Farah malu-malu dia godain. Kemudian Myra duduk disamping mama Farah.

“Menurut tante bagaimana Yudha…?”. Tanya Myra kepada mama Farah.

“Yudha anaknya baik, sopan dan kelihatannya memang mereka saling suka. Tapi masih belum saling menyatakan”. Jawab mama Farah. Myra merasa lega, tidak salah dia mengenalkan Yudha kepada keluarga ini.

“Terus selanjutnya bagaimana tan?”. Tanya Myra.

“Yudha bilang dua bulan lagi sehabis dari New York akan datang langsung ke rumah”. Jawab mama Farah.

“Wah jangan-jangan Yudha memang berniat melamar Farah tan…”. Ujar Myra.

“Feeling tante juga begitu…”. Jawab mama Farah.

“Terus bagaimana tan… kalau memang benar Yudha mau melamar Farah, diterima gak kira-kira…?”. Tanya Myra penasaran.

“Tante sih setuju-setuju saja, hanya Farah nya masih malu-malu gitu kalau ditanya”. Jawab mama Farah. Myra semakin lega. Sepertinya dia harus memberitahu Yudha soal ini biar dia tambah semangat.

“Oh iya tan… ini ada oleh-oleh dari Bali”. Kata Myra sambil memberikan dua kantong yang masing-masing berisi kain pantai khas Bali.

“Waduh yang bulan madu sempat-sempatnya beli oleh-oleh. Terimakasih ya…”. Jawab mama Farah.

“Iya sama-sama tante. Oh iya saya langsung jalan ya mau ke tempat syuting”. Ujar Myra pamitan.

“Iya terimakasih ya oleh-olehnya”. Jawab mama Farah.

Myra kemudian melambaikan tangan ke arah Farah yang bersiap melakukan adegan syuting. Farah juga melambaikan tangan.

Myra kemudian melangkah menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari lokasi syuting Farah. Dia harus segera berangkat ke lokasi syuting. Tadi dia menyempatkan datang ke tempat syuting Farah, dia ingin tahu perkembangan hubungan sahabatnya itu dengan Yudha. Ternyata perkembangan nya sangat positif, dia juga tidak menyangka akan secepat ini mereka berhubungan. Mungkin sudah saling cocok jadi tidak harus nunggu lama untuk saling memahami satu sama lain.

***

Pagi ini Yudha sudah siap-siap berangkat ke tempat kerjanya di KJRI New York. Kemarin seharian dia mulai menyesuaikan diri lagi dengan situasi kerja yang ada di New York. Dia belum sempat menghubungi Farah lagi karena kesibukan pekerjaannya. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikannya karena seminggu cuti pulang ke Jakarta.

Dia kemudian duduk di sofa dan melihat ke arah tempat tidurnya. Apartemen Yudha memang tidak terlalu besar, hanya satu ruangan saja ukuran studio. Tidak ada ruang tamu atau ruang yang lain, jadi tempat tidur dan sofa berada dalam satu ruangan. Dia sengaja tidak menyewa apartemen yang terlalu besar. Selain karena harga sewa apartemen di New York yang begitu mahal, juga karena dia pikir hanya tiga tahun saja dia tugas di New York.

Kelinci pink yang diberikan Farah masih ada disana. Juga foto Farah yang sedang tersenyum masih ada di mejanya. Yudha tersenyum mengingat kembali Farah. Dia akan menghubunginya hari ini. Semoga dia sudah pulang syuting. Baru saja Yudha akan berangkat, ada telpon whatsapp yang masuk, Myra ternyata yang telpon.

“Halo Yud…”. Myra memulai percakapan.

“Halo Ya… kamu sudah pulang dari Bali…?”. Tanya Yudha.

“Ah aku gak mau jawab dulu. Kamu melamar Farah? Kok gak bilang-bilang sih…”. Tanya Myra.

“Kamu sudah ketemu Farah?”. Tanya Yudha.

“Ih Yudha… bukanya jawab malah nanya lagi…”. Ujar Myra.

“Aku belum melamar dia. Hanya ngasih kenang-kenangan saja supaya dia nggak lupa sama aku”. Jawab Yudha. Sepertinya Myra sudah tahu kalau dia memberikan cincin kepada Farah.

“Kenang-kenangan kok cincin berlian sih…”. Myra mencibir.

“Ya habis apalagi… yang ada dipikiranku hanya cincin yang cocok. Kalau kalung nanti terlalu gimana gitu…”. Jawab Yudha.

“Wah kalung… lebih-lebih kalau itu”. Ujar Myra. Yudha tertawa mendengar sahabatnya bicara begitu.

“Eh… terus apa kata Farah…?”. Tanya Yudha.

“Biasa lah… dia masih malu-malu. Aku godain habis-habisan tadi siang sampai mukanya merah hehe…”. Kata Myra.

“Yaya… tega banget sih kamu… kasian kan Farah…”. Ujar Yudha.

“Duh… yang kasian…”. Kata Myra tertawa. Dia juga ingin menggoda Yudha. Yudha hanya tertawa digodain Myra seperti itu.

“Eh… tapi gimana rencana kamu selanjutnya? Mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Iya… mau sih… tapi kecepetan nggak sih Ya… aku kan baru kenal dia seminggu”. Ujar Yudha.

“Ya nggak apa-apa Yud, kalian nggak usah pacaran, langsung nikah aja. Nanti pacaran nya kalau sudah nikah aja”. Jawab Myra.

“Langsung nikah ya…”. Ujar Yudha.

“Ya iya lah… habis mau ngapain lagi. Nggak usah nunggu lama. Mamanya Farah juga udah setuju kok..”. Ujar Myra.

“Masa… dari mana kamu tahu?”. Tanya Yudha.

“Tadi waktu aku ke tempat syuting Farah, ada mamanya juga disana. Aku tanya langsung sama mamanya Farah. Dia bilang sih setuju-setuju saja kalau kamu melamar Farah. Hanya Farah nya masih malu-malu kalau ditanya. Jadi kamu harus meyakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Oh gitu ya…”. Jawab Yudha.

“Katanya pas pulang nanti ke Jakarta kamu mau langsung ke rumahnya? Mau langsung melamar dia kan…”. Tanya Myra.

“Loh kok tau…?”. Tanya Yudha.

“Mamanya Farah yang bilang. Kamu tuh nggak ngasih tau aku sih perkembangan terakhir hubungan kamu sama Farah”. Ujar Myra.

“Bukan begitu, aku belum sempat Ya. Kemarin pas sampai disini aku langsung kerja, banyak kerjaan yang tertunda karena aku pulang ke Jakarta. Lagian aku nggak mau ganggu bulan madu kamu”. Jawab Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Kayaknya gitu sih…”. Jawab Yudha.

“Jangan kayaknya dong… kamu harus yakin. Udah lamar aja langsung”. Ujar Myra.

“Iya Ya…. Aku nanti pas pulang ke Jakarta mau langsung ke rumahnya buat melamar dia”.

“Sendirian…? Kalau kamu mau, nanti aku sama Pras bisa kok nemenin”. Ujar Myra.

“Gimana Yud…”. Tanya Myra.

“Apa mau sendirian aja?”. Lanjut Myra.

“Iya sendirian aja dulu kali”. Jawab Yudha.

“Nanti kalau semuanya lancar, aku akan mengadakan lamaran secara resmi. Kamu juga nanti datang ya…”. Lanjut Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Kamu mau kerja kan…”. Tanya Myra.

“Iya ini aku mau jalan, tapi mau sarapan dulu di cafe”. Jawab Yudha.

“Jangan lupa, kamu harus yakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Iya nanti aku telpon lagi Farah”. Jawab Yudha.

“Udah dulu ya bye…”. Myra mengakhiri pembicaraan.

“Bye juga…”. Jawab Yudha kemudian menutup HP nya.

Yudha kemudian bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya di KJRI.

***