Diplomat Bag. 5 – Binar-binar Bahagia

Farah kemudian masuk ke ruang tengah dimana mama nya sedang menonton TV. Farah kemudian duduk di samping mamanya dan terdiam. Raut mukanya nampak murung.

“Kamu kenapa…?”. Tanya mama.

“Aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh gitu… tumben…”. Tanya mama.

“Tadi aku ikut Yudha ziarah ke makam orang tuanya mam, dia tadi sedikit menangis disana, aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh begitu…”. Mama tersenyum.

“Terus kamu kemana lagi?”. Tanya mama.

“Sebelum ziarah tadi dia ke panti asuhan dulu mam, dia bagi-bagi tas sama bingkisan disana”. Jawab Farah.

“Oh begitu, dia sudah biasa mungkin berkunjung kesana”.  Ujar mama.

“Bukan biasa mam, ternyata Yudha tuh anak panti sana mam, dia diadopsi sama orang tuanya yang meninggal kecelakaan itu mam. Tadi juga aku ketemu sama ibu asuhnya disana dan dia cerita banyak tentang Yudha mam”. Ujar Farah.

“Oh begitu, eh… tapi tunggu, kok kalian sudah sejauh itu sih…?”. Tanya mama. Wajah Farah kemudian sedikit memerah.

“Loh kok anak mama malu gitu…”. Tanya mama tersenyum. Farah kemudian memeluk mamanya.

“Mama…”. Farah berkata. Dia masih memeluk mamanya.

“Kamu kenapa…? Suka ya sama Yudha?”. Tanya mamanya.

“Ah mama… baru saja kenal dua hari…”. Jawab Farah.

“Tapi kok kalian sudah akrab begitu…”. Tanya mama.

“Ya… gak tahu sih mam, Farah juga nggak ngerti, kalau ngobrol sama Yudha kok aku nyambung ya mam…”. Jawab Farah. Dia memang tidak pernah menyimpan rahasia kepada mamanya. Apa yang dia rasakan biasanya selalu diceritakan kepada mamanya.

Mamanya sudah tahu sifat anak gadisnya ini, biasanya dia tidak pernah seperti ini kepada lelaki yang dia kenal sebelumnya. Apa benar anaknya suka sama Yudha? Mungkin juga Yudha suka sama anaknya, besok juga dia mau lihat anaknya syuting lagi. Tapi biarlah, anaknya sudah pantas punya pendamping. Kalau memang Yudha jodohnya Farah apa mau dikata. Yudha juga sikapnya baik, walaupun baru dua hari mengenal dia tapi sepertinya dia anak yang baik dan penurut, buktinya kalau ketemu dia selalu menyalaminya seperti kepada orang tuanya sendiri.

***

Sesuai dengan janjinya kemarin, jam sepuluh pagi Yudha sudah ada di lokasi syuting Farah. Sebelumnya dia sudah kontak Farah untuk memberikan lokasi tempat dimana dia syuting hari ini lewat whatsapp. Yudha memarkirkan kendaraannya di lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat syuting. Dia melihat Farah sedang melaksanakan proses syuting. Tidak terlihat mobilnya di sana, jadi benar mamanya Farah hanya mengantarkan Farah ke lokasi syuting dan langsung pergi bertemu dengan teman bisnisnya.

Sudah waktunya istirahat siang, syuting pun sementara berhenti untuk istirahat. Setelah jam makan siang biasanya syuting akan dilanjutkan kembali. Farah sedang duduk di kursi pemain. Dia melihat sekeliling, belum terlihat Yudha atau mobilnya, padahal Yudha sudah ada disekitar lokasi syuting hanya tempatnya agak jauh sehingga tidak terlihat Farah. Mungkin Yudha tidak jadi datang, begitu pikir Farah.

Yudha sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah Farah yang sedang duduk. Dia melambaikan tangan ke arah Farah, Farah tersenyum dan mengajaknya mendekat ke kursi tempat duduknya, ternyata dia datang juga, Farah berkata dalam hati.

“Hai mas… Kok jalan nya dari sebelah sana? Jauh ya parkir mobilnya?”. Tanya Farah.

“Nggak kok dekat, cuma mobilnya nggak kelihatan dari sini, saya sudah datang dari tadi dan lihat kamu syuting”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ternyata dia sudah datang dari tadi, Farah tersenyum.

“Kamu lagi istirahat kan?”. Tanya Yudha, Farah mengangguk mengiyakan.

“Kita makan yuk…”. Ajak Yudha.

“Iya boleh”. Kali ini Farah mulai terbiasa dengan ajakan makan dari Yudha sehingga tidak berpikir dua kali menerima ajakan lelaki ini.

“Bang Yopy saya makan dulu ya…”. Farah berkata kepada bang Yopy yang sedang duduk di kursi sutradara.

“Oke, nanti kita ‘take’ lagi jam dua ya, jangan telat…”. Kata bang Yopy.

“Iya bang…”. Jawab Farah sambil berjalan bersama Yudha menuju mobilnya.

“Kita makan dimana?”. Tanya Yudha setelah mereka berdua berada didalam mobil Yudha.

“Saya terserah mas Yudha saja makan dimana”. Jawab Farah.

“Kita makan ayam saja mau nggak?”. Tanya Yudha sambil menjalankan mobilnya.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

“Ada tempat makan ayam yang enak disini”. Ujar Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah.

“Namanya Ayam Kriwil”. Ujar Yudha.

“Mas Yudha hobi kuliner ya, banyak tahu tempat makan di Jakarta”. Kata Farah.

“Nggak juga, hanya saja semenjak kecil mama papa selalu mengajak makan di luar rumah setiap pekan, dan tempatnya beda-beda, jadi saya banyak mengenal berbagai makanan”. Terang Yudha.

“Mama sama papa mas Yudha sayang banget ya kayaknya sama mas Yudha”. Ujar Farah,

“Iya begitulah, mungkin karena mereka tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain saya, jadi saya selalu mereka bawa kemana saja termasuk ke tempat makan favorit mereka”. Jawab Yudha.

“Nah… kita sudah sampai”. Ujar Yudha.

Setelah Yudha memarkirkan kendaraan di depan, mereka kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam area resto ayam tersebut. Mereka berdua memesan makanan dan makan berdua di resto tersebut. Mereka makan sambil ngobrol tentang film yang sekarang sedang diperankan oleh Farah. Dari obrolan mereka Yudha menjadi tahu banyak tentang industri film yang ada di Indonesia khususnya di Jakarta. Farah banyak bercerita tentang perjalanan karirnya di dunia film. Entah mengapa dia selalu ingin bercerita apa saja kepada lelaki di hadapannya ini. Yudha juga selalu menjadi pendengar yang baik apabila Farah sedang bercerita tentang dirinya.

Selesai makan mereka kembali ke tempat syuting Farah.

“Kamu selesai syuting jam berapa?”. Tanya Yudha ketika Farah sudah kembali duduk di kursi pemain.

“Sekitar jam lima sore mas, soalnya hari ini nggak ada ‘scene’ malam jadi saya bisa pulang sebelum malam”. Jawab Farah.

“Mama kamu jemput jam berapa?”. Tanya Yudha lagi.

“Belum tahu mas”. Jawab Farah.

“Suka lama kalau dia pergi sama tante Tika”. Lanjut Farah.

“Gini aja, saya ada keperluan sebentar, nanti saya jemput kamu jam lima sore”. Ujar Yudha.

“Jangan mas… saya sudah banyak merepotkan mas Yudha”. Ujar Farah, padahal dalam hatinya dia ingin Yudha menjemputnya sore nanti dan mengantarkannya sampai rumah.

“Nggak kok… nggak repot…”. Jawab Yudha.

“Saya pergi dulu ya, nanti saya jam lima kesini lagi”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Yudha kemudian pergi dari lokasi syuting Farah. Dia ingin memberikan sesuatu kepada Farah sebelum dia kembali ke New York. Dia bergegas mengendarai mobilnya menuju ke arah Jatinegara, disana ada sesuatu yang akan dibelinya dan diberikan kepada Farah.

Jam empat sore Yudha sudah tiba kembali ke lokasi syuting. Sepertinya syuting sudah selesai karena kru sudah membereskan peralatan syuting dan para pemain pun sudah duduk di tempatnya masing-masing. Yudha melihat Farah sedang duduk dan memainkan HP nya. Dia kemudian mendekatinya.

“Sudah selesai syuting nya?”. Tanya Yudha ketika sudah berada di samping Farah.

“Eh mas Yudha, sejak kapan ada disini, kok gak bilang-bilang, kaget saya…”. Jawab Farah, dia kaget karena sedang membuka kontak HP nya dan berencana menghubungi Yudha, untung Yudha tidak memperhatikan, pikirnya.

“Baru saja datang, tadi saya lihat kok sudah selesai syutingnya, jadi saya langsung saja kesini”. Ujar yudha.

“Iya mas, ini cuacanya mendung jadi kurang mendukung buat syuting, jadi bang Yopy putuskan besok saja syuting dilanjutkan”. Jawab Farah.

“Oh gitu… jadi kita pulang sekarang?”. Tanya Yudha.

“Mmmm sebentar saya telpon mama dulu ya…”. Jawab Farah kemudian dia menghubungi mamanya.

“Halo mam… masih lama sama tante Tika?”. Tanya Farah.

“Iya masih lama, kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah,

“Iya sudah selesai, kalau gitu Farah pulang diantar Yudha saja ya…”. Kali ini dia tidak meminta izin dan langsung bilang mau diantar Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, mama sampai rumah jam tujuh malam. Hati-hati ya…”. Ujar mama.

“Iya mam… daah”. Farah kemudian menutup HP nya.

“Ayo mas kita pulang…”. Ajak Farah. Kemudian dia menghampiri bang Yopy.

“Bang saya pulang duluan ya, sampai besok…”. Ujar Farah kepada bang Yopy.

“Oke… kok sekarang dijemput terus…”. Ujar bang Yopy.

“Sekalian pulang bang…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Ya sudah, sampai besok…”. Jawab bang Yopy. Yudha mengangguk ke arah bang Yopy. Mereka kemudian berjalan ke arah mobil Yudha.

“Kita kemana dulu Far…?”. Tanya Yudha.

“Mama kamu masih lama kan sampai rumah…”. Lanjut Yudha.

“Iya sih masih lama…”. Jawab Farah.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu…”. Ajak Yudha.

“Jalan-jalan kemana?”. Tanya Farah.

“Kalau ke mall gimana? Ke Mall Kelapa Gading saja yang dekat dari sini”. Jawab Yudha.

“Mmmm boleh deh…”. Jawab Farah, mereka berdua tersenyum. Yudha segera mengarahkan mobilnya menuju ke arah Kelapa Gading.

Farah dan Yudha sudah terbiasa untuk ngobrol berdua sejak dua hari ini. Ada saja topik pembicaraan mereka, mulai dari film yang dibintangi Farah sampai urusan politik yang menjadi bidang pekerjaan Yudha di New York. Mereka betah berlama-lama ngobrol, walaupun berbeda profesi tetapi mereka selalu nyambung dalam setiap obrolan.

Setibanya di mall, mereka langsung turun dan Yudha menyerahkan mobilnya ke vallet service yang ada disana. Mereka kemudian berjalan memasuki lobby mall. Yudha melihat ada beberapa orang yang melihat ke arah Farah dan berbisik-bisik. Wajar mereka memperhatikan Farah karena dia kan artis, begitu pikir Yudha.

“Kamu mau makan apa jalan dulu aja…?”. Tanya Yudha.

“Kita jalan dulu aja yuk…”. Jawab Farah. Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor mall, mereka berjalan sambil terus ngobrol.

“Eh ada baju yang bagus, mampir ya sebentar”. Ujar Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha, kemudian mereka mampir di salah satu butik yang ada di mall tersebut. Farah masih memilih-milih baju sementara Yudha masih setia mendampinginya. Sesekali Farah meminta pendapat Yudha mengenai baju yang dipegang nya, Yudha selalu bilang bagus ketika Farah menanyakan pendapatnya.

“Kok bilang bagus terus mas…?”. Tanya Farah.

“Iya memang bagus, baju apapun cocok kalau kamu yang pakai”. Jawab Yudha. Farah tersenyum simpul. Kenapa dia selalu malu-malu ya di depan pemuda ini. Farah sudah memilih baju dan akan membayarnya di kasir. Yudha berinisiatif untuk membayar baju yang dibeli Farah.

“Udah mas gak usah, saya merepotkan mas Yudha terus dari kemarin”. Ujar Farah.

“Tapi bener kok nggak merepotkan”. Jawab Yudha.

“Lain kali saja ya mas…”. Ujar Farah.

“Ya sudah, tapi kalau sekarang kita makan nanti saya yang bayar ya”. Ujar Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berjalan kembali di koridor mall tersebut.

“Kita makan yuk…”. Ajak Farah.

“Ayo, kamu mau makan dimana?”. Tanya Yudha.

“Di ‘Japanese Food’ aja yuk, disini ada menu ‘all you can eat’ yang enak”. Jawab Farah.

Mereka kemudian memasuki gerai masakan Jepang yang ada di mall tersebut.

“Silahkan mas… mbak.. untuk berapa orang?”. Sapa pelayan yang ada disitu.

“Dua orang saja”. Jawab Yudha.

“Silahkan lewat sini”. Kemudian pelayan yang ada disana menunjukkan meja untuk berdua yang ada disana.

“Kamu sering kesini?”. Tanya Yudha.

“Nggak juga sih, sama Myra juga pernah makan disini”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar Yudha. Kemudian ada pelayan yang menyuguhkan beberapa makanan yang siap untuk diolah di depan meja mereka.

“Kamu mau ngambil sayuran…?”. Tanya Yudha.

“Nggak mas, saya yang ada disini saja”. Jawab Farah.

“Ya sudah saya ambil sayuran dulu ya…”. Yudha kemudian berdiri dan menghampiri meja buffet yang ada disana. Walaupun Farah bilang tidak akan ambil sayuran tapi dia berinisiatif untuk mengambil beberapa sayuran dan beberapa makanan lagi disana.

“Kok dua piring mas…?”. Tanya Farah ketika Yudha kembali ke meja mereka dan membawa dua piring yang berisi sayuran dan makanan lain.

“Siapa tahu kamu mau jadi nggak usah ngambil lagi…”. Jawab Yudha.

“Oh iya mas… terima kasih ya…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

Kemudian mereka berdua mulai memasukkan makanan kedalam panci rebus yang ada disana. Setelah matang mereka mulai menyantap makanan tersebut. Selama itu mereka sesekali meneruskan obrolan apa saja tentang mereka berdua. Yudha merasa semakin mengenal wanita cantik di depannya ini.  Terasa tidak ada batasan lagi apabila ngobrol dengan Farah. Apa saja selalu Farah ceritakan, sesekali mereka tertawa apabila ada obrolan lucu yang mereka bicarakan.

Satu jam kemudian mereka selesai makan di restoran Jepang tersebut. Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berdua berjalan kembali menelusuri lorong mall menuju ke lobby mall tersebut.

“Kita langsung pulang?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, sudah mulai gelap”. Jawab Farah.

Yudha kemudian menghampiri petugas vallet untuk mengambil mobilnya sementara Farah duduk menunggu di kursi tunggu yang ada disana. Yudha kemudian menghampiri Farah yang sedang duduk, sementara petugas valet mengambil mobil Yudha yang sedang di parkir di basement mall tersebut.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Aku kan sudah beberapa kali ini ke rumah kamu, terus sudah bertemu juga dengan mama kamu”. Kata Yudha.

“Iya.. terus kenapa mas…?”. Tanya Farah.

“Mau nggak aku ajak kamu ke rumahku?”. Tanya Yudha.

“Oh gitu mas. Boleh sih mas…”. Jawab Farah.

“Besok atau lusa aku ajak kamu ke rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Eh itu mobilnya sudah datang mas”. Lanjut Farah.

“Oh iya…”. Kemudian dia membuka pintu untuk Farah seperti biasa.

“Terima kasih mas”. Ujar Farah ketika dia masuk kedalam mobil. Yudha kemudian bergegas masuk ke mobilnya.

“Nanti aku kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan, mereka sudah menemaniku semenjak kecil, semenjak masih ada mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Iya mas boleh…”. Ujar Farah tanpa berusaha menolak ajakan Yudha. Sepertinya Farah memang ingin terus berada di dekat Yudha.

Yudha kemudian mengarahkan mobilnya menuju rumah Farah. Sepanjang perjalanan mereka masih terus ngobrol. Selalu ada saja topik pembicaraan mereka. Mereka bicara apa saja sampai tiba di rumah Farah. Terlihat mobil Farah sudah ada di depan rumahnya. Yudha kemudian turun diikuti oleh Farah.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah ketika dia masuk ke rumahnya. Yudha mengikutinya dari belakang. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu.

“Kalian jalan lagi…?”. Kata mama Farah ketika dia keluar dari ruang tengah.

“Iya mam…”. Kata Farah sambil tersenyum.

“Maaf ya tante saya mengajak Farah jalan terus”. Ujar Yudha sambil menyalami mamanya Farah seperti biasa.

“Kok minta maaf sih, seharusnya tante yang mengucapkan terimakasih. Nak Yudha sudah menjemput Farah dari lokasi syuting”. Jawab mama Farah.

“Oh iya kalian sudah makan…?”. Tanya mama Farah.

“Sudah mam, tadi makan di Mall Kelapa Gading”. Jawab Farah.

“Hmmm… makan berdua terus..”. Ujar mama Farah sambil tersenyum menggoda Farah.

“Mama apaan sih…”. Jawab Farah malu-malu.

“Tadi siang kalian makan dimana…?”. Mama Farah sudah punya firasat kalau tadi siang pun mereka makan berdua.

“Maaf tante tadi siang juga saya ngajak makan Farah”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Tuh kan… pasti kalian makan berdua lagi”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa kok, tante senang kalau Farah ada yang memperhatikan, kadang kalau nggak ada tante dia susah makannya. Makan di tempat syuting juga jarang, padahal kan ada nasi box tapi dia suka nggak mau makan”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante…”. Jawab Yudha.

“Oh iya, besok mama mau berangkat pagi sama jeng Tika. besok kamu berangkat agak siang kan, naik taksi saja ya…”. Ujar mama kepada Farah.

“Oh kalau tidak keberatan biar saya saja yang antar Farah ke lokasi syuting tante”. Ujar Yudha antusias.

“Oh begitu, tapi merepotkan nggak…?”. Tanya mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Nggak kok tante, nggak sama sekali. Saya juga sedang tidak ada kegiatan seminggu ini. Biar saya saja besok yang antar Farah”. Ujar Yudha.

“Tuh kan Yudha nya juga mau kok…”. Kata mama kepada Farah.

“Kalau begitu saya pamit dulu tante, besok pagi saya kesini lagi”. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Terima kasih ya sudah bersedia nganter Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha. Kemudian dia keluar diikuti oleh Farah.

“Saya pulang dulu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas, terima kasih ya, hati-hati dijalan”. Jawab Farah.

“Iya…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

Dia kemudian masuk ke mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Farah, dia melambaikan tangan kepada Farah dan Farah pun membalas lambaian tangan Yudha.

***

Besoknya sesuai perkataan Yudha kemarin, dia sudah ada di rumah Farah pagi-pagi. Farah masih bersiap-siap membereskan keperluan syutingnya. Mama Farah juga sudah bersiap-siap berangkat diantar pak Maman sopir mereka. Setelah ngobrol sebentar kemudian mereka bertiga berangkat dari rumah Farah. Mama Farah berangkat diantar pak Maman sopirnya sementara Farah berangkat ke tempat syuting diantar Yudha.

Farah dan Yudha semakin sering ngobrol berdua dan makan berdua. Sepertinya sudah terjalin hubungan antara mereka berdua, tapi mereka berdua belum saling menyatakan. Hanya saja Yudha selalu bilang bahwa dia nyaman berdua terus dengan Farah. Farah masih malu-malu menjawab perkataan Yudha.

Besoknya pun Yudha mengantar Farah lagi ke tempat syuting. Seperti biasa mereka bertiga berangkat bersama dari rumah Farah dengan tujuan masing-masing. Mama Farah berangkat menemui jeng Tika sementara Farah dan Yudha berangkat ke tempat syuting.

Siang ini Farah syuting tidak sampai sore. Tadi siang mereka kembali makan berdua di daerah rawamangun, tempat makan baru lagi yang Yudha kenalkan kepada Farah. Yudha sudah menghubungi bi Neni untuk masak makanan kesukaan Yudha di rumah. Dia akan mengajak Farah makan di rumahnya hari ini.

“Sudah selesai syuting nya…?”. Tanya Yudha ketika Farah menghampirinya di tempat duduknya.

“Sudah mas…”. Jawab Farah.

“Masih siang, mama kamu juga belum pulang kan…”. Tanya Yudha.

“Iya nih mas, mama sekarang bisnis terus sama tante Tika”. Jawab Farah.

“Ya sudah, kalau begitu mau nggak hari ini saya ajak kamu ke rumah saya?”. Tanya Yudha.

“Tapi malu ah mas…”. Jawab Farah.

“Nggak ada siapa-siapa kok di rumah, hanya ada bi Neni dan mang Ukan”. Ujar Yudha.

“Mau ya…”. Lanjut Yudha.

“Tapi saya minta izin mama dulu ya…”. Jawab Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah menelpon mamanya.

“Mam… masih lama sama tante Tika…?”. Tanya Farah.

“Iya nih… mama masih ada sedikit urusan. Kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam sudah beres dari tadi. Masih siang mam beresnya”. Jawab Farah.

“Mam… aku minta izin mau ke rumahnya Yudha, boleh…?”. Tanya Farah.

“Hmmm… anak mama nih, sudah mau serius kayaknya…”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Mama sih… bisnis sama tante Tika terus”. Lanjut Farah.

“Iya ini juga kan demi kamu sayang…”. Jawab mama Farah.

“Jadi gimana… boleh nggak…”. Tanya Farah.

“Iya boleh… hati-hati ya sayang”. Jawab mama Farah. Dia tidak berprasangka macam-macam kepada Yudha. Dia yakin Yudha tidak bermaksud apa-apa dengan mengajak Farah main ke rumahnya. Mama Farah yakin Yudha anak baik dan tidak punya itikad buruk kepada Farah.

“Makasih ya mam… sampai ketemu di rumah ya…”. Farah kemudian menutup telponnya.

“Gimana… boleh…”. Tanya Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Ayo…”. Jawab Yudha.

Kemudian mereka berdua berangkat dari tempat syuting. Tujuannya hanya satu, ke rumah Yudha.

Sesampainya di rumah Yudha kemudian mereka berdua turun. Mang Ukan yang membuka pintu pagar rumah Yudha. Rumah yang masih asri, pikir Farah. Masih ada pohon-pohon besar di halamannya yang luas. Ada taman juga yang terawat rapih di depan rumah tersebut. Rumahnya pun masih bergaya klasik khas jaman dulu dengan atap yang masih tinggi. Farah tidak menyangka di Jakarta masih ada rumah seperti ini.

“Yuk masuk…”. Ajak Yudha setelah melihat Farah hanya berdiri sambil melihat ke sekeliling rumah.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Kamu kaget ya… masih ada rumah seperti ini di Jakarta”. Ujar Yudha sambil melangkah masuk ke ruang tamu.

“Iya mas, jarang loh ada rumah seperti ini di Jakarta. Rumahnya adem mas, banyak pohon dan ada taman juga di depan. Nggak seperti rumah saya, halaman depan habis semua untuk parkir mobil”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mendengar perkataan Farah.

“Ayo silahkan duduk”. Ujar Yudha kepada Farah. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu. Ruang tamunya juga masih bergaya klasik. Lantainya pun terbuat dari batu pualam yang sudah jarang sekali ditemukan sekarang ini.

“Kamu mau minum apa?”. Tanya Yudha.

“Apa saja boleh mas…”. Jawab Farah.

“Sebentar ya…”. Ujar Yudha. Kemudian dia masuk ke dalam. Tak lama kemudian Yudha sudah masuk ke ruang tamu lagi, kali ini dia ke ruang tamu bertiga dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi Neni masuk sambil membawa nampan yang berisi dua gelas Jus Jeruk. Seperti kata Yudha kemarin, dia ingin mengenalkan Farah kepada bi Neni dan mang Ukan.

“Farah… ini saya kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi… mang… kenalkan ini namanya Farah. Dia artis juga seperti Myra, dia sahabatnya Myra”. Ujar Yudha memperkenalkan bi Neni dan mang Ukan. Kemudian mereka bersalaman. Farah tersenyum, bi Neni dan mang Ukan mengangguk. Bi Neni kemudian meletakkan dua gelas Jus Jeruk di atas meja tamu.

“Bi Neni sama mang Ukan ini sudah menemani keluarga saya sejak saya kecil, jadi sudah saya anggap keluarga saya sendiri, bi Neni biasanya yang masak sehari-hari, kalau mang Ukan merawat taman yang ada di depan”. Terang Yudha.

“Oh dirumah non ini kemarin den Yudha ketinggalan kamera ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi benar”. Jawab Farah.

“Hehe… benar bi… Saya ketinggalan kamera di rumah Farah”. Yudha juga menjawab.

“Bibi sama mamang masuk dulu ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi…”. Jawab Farah. Kemudian mereka berdua masuk lagi ke ruang dalam.

“Jadi tiga tahun ini mereka hanya berdua saja disini sementara saya tugas di New York”. Ujar Yudha setelah bi Neni dan mang Ukan masuk kedalam.

“Oh gitu mas”. Jawab Farah.

“Kalau mang Ukan tiap hari Jum’at suka membersihkan makam mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas, pantes saja waktu kemarin kita ziarah, makamnya bersih dan rapih ya…”. Ujar Farah. Yudha kemudian terdiam.

“Mas Yudha ingat mama papa ya…”. Ujar Farah.

“Selalu ingat Far… tapi sudah takdir”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Hanya saja saya belum bisa memenuhi amanat mereka untuk segera menikah”. Lanjut Yudha.

“Tapi calonnya sudah ada kan…”. Tanya Farah memancing Yudha.

“Dulu sih saya sempat dikenalkan sama beberapa orang, tapi ya gitu, nggak ada yang cocok. Myra juga sempat mengenalkan teman nya tapi sama juga, belum ada yang cocok. Mungkin karena pekerjaan saya yang harus terus bepergian keluar negeri, jadi susah cari yang cocok”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas. Tapi sekarang nggak ada yang lagi deket sama mas Yudha?”. Tanya Farah lagi.

“Ada sih yang lagi deket”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Siapa mas…?”. Tanya Farah. Hatinya jadi tak karuan. Ternyata ada yang lagi deket sama Yudha selain aku, begitu pikir Farah.

“Kan kamu yang lagi deket sama saya sekarang”. Jawab Yudha. Farah mukanya agak sedikit memerah.

“Mas bisa aja”. Ujar Farah.

Bi Neni tiba-tiba masuk ke ruang tamu.

“Makanannya sudah siap den”. Kata bi Neni.

“Oh iya bi terima kasih”. Jawab Yudha, kemudian bi Neni masuk lagi kedalam.

“Yuk Far, kita makan”. Ajak Yudha.

“Oh iya mas. Mas Yudha ngajakin aku kesini buat ngajak makan…”. Ujar Farah.

“Iya… sekalian nyobain masakan bi Neni. Dari kemarin kan kita makan di luar terus, sekali-kali kamu nyobain masakan rumah saya”. Jawab Yudha.

“Yuk…”. Ajak Yudha sambil berdiri.

“Iya mas”. Jawab Farah. Kemudian dia ikut berdiri.

“Yuk ke sebelah sini”. Yudha menunjukkan ruang dalam rumahnya kepada Farah.

Yudha kemudian berjalan duluan diikuti Farah. Farah melewati ruang tengah yang sepertinya ruang keluarga. Ruangannya luas, isinya ada sofa dan beberapa peralatan elektronik seperti TV yang besar dan ada juga yang sepertinya satu set ‘home theater’. Yudha berjalan terus melewati ruang tengah. Sampailah kemudian mereka di ruang makan. Ada meja panjang yang berisi beberapa kursi. Kursinya model lama yang terlihat mewah dengan ukiran di sandaran kursinya. Ada beberapa mangkuk yang berisi makanan sudah tertata rapih diatas meja makan.

“Ayo silahkan duduk”. Ajak Yudha sambil menggeserkan kursi untuk Farah.

“Terima kasih mas”. Jawab Farah. Lalu dia duduk di kursi yang barusan digeser oleh Yudha. Yudha pun duduk di samping Farah.

“Silahkan non dicicipi makanannya, ini makanan kesukaan den Yudha”. Kata bi Neni.

“Iya bi, terima kasih ya”. Jawab Farah, kemudian bi Neni meninggalkan mereka berdua.

Yudha kemudian memberikan piring dan sendok kepada Farah. Dia kemudian mengambil mangkuk nasi dan menyendokkan nasi ke atas piring yang ada di depan Farah.

“Sudah mas, cukup segini aja”. Ujar Farah.

“Kalau ini biasanya saya yang banyak makan, ini makanan favorit saya”. Kata Yudha setelah dia mengambil nasi dan menaruh nya di atas piring. Kemudian dia mengambil daging gepuk dan kemudian sayur lodeh. Ketika Yudha akan mengambilkan lauk dan sayur kemudian Farah berkata.

“Biar saya yang ambil sendiri mas…”. Ujar Farah. Kemudian dia mengambil sendiri lauk dan sayuran yang ada di meja makan.

“Silahkan pilih saja ya yang kamu mau”. Ujar Yudha sambil mulai makan.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Biasanya dulu kami selalu makan bertiga, saya disini dan mama papa disitu”. Ujar Yudha sambil menunjuk ke arah depannya.

Selanjutnya mereka ngobrol lagi seperti biasa. Yudha banyak bercerita tentang rumahnya dan orang tuanya ketika mereka masih ada. Farah banyak bertanya mengenai keadaan rumah dan situasi disini ketika orang tua Yudha masih ada. Sekarang tidak nampak kesedihan di raut wajah Yudha ketika dia menceritakan orang tuanya yang sudah tiada. Dia nampak bahagia ada Farah disampingnya yang bisa diajak untuk berbicara.

Setelah selesai makan kemudian mereka duduk kembali di ruang tamu, sementara meja makan dibereskan oleh bi Neni.

“Oh iya besok hari Jum’at kamu masih syuting ditempat tadi?”. Tanya Yudha.

“Besok pindah lagi mas syuting nya, tadi kata bang Yopy syutingnya di daerah Matraman”. Jawab Farah.

“Oh gitu, syuting memang sering pindah-pindah begitu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas tergantung dari set lokasinya, tapi pernah juga sih saya syuting di satu tempat saja, seperti di studio Persari yang di Ciganjur”. Jawab Farah.

“Oh gitu ya, jadi semua adegan dilaksanakan di satu tempat saja?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, kalau di studio Persari tempatnya sangat luas, mau adegan apapun ada disana. Dirumah, dikebun, di jalan atau setting seperti hutan juga ada disana. Jadi bisa menghemat budget kalau kata bang Yopy”. Jawab Farah.

“Oh gitu, jadi bang Yopy yang menentukan budget?”. Tanya Yudha.

“Bukan mas, produser yang menentukan budget, bang Yopy hanya melaksanakan saja di lapangan”. Jawab Farah. Dia sedikit banyak mengetahuinya dari pembicaraan dengan bang Yopy.

“Oh begitu”. Ujar Yudha.

“Oh iya sudah hampir malam, mama kamu sudah pulang belum?”. Tanya Yudha.

“Sebentar mas, saya telpon mama dulu”. Ujar Farah kemudian dia membuka HP nya.

“Halo mam… sudah dimana?”. Tanya Farah.

“Mama sudah mau sampai rumah nih, kamu masih di rumah Yudha?” Tanya mama Farah.

“Iya mam, kalau gitu aku pulang sekarang ya”. Jawab Farah.

“Iya hati-hati ya…”. Ujar mama Farah. Kemudian Farah menutup telponnya.

“Mama sudah pulang mas…”. Ujar Farah kepada Yudha.

“Kalau begitu kita pulang sekarang saja”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Bi… saya nganter Farah pulang dulu ya”. Ujar Yudha kepada bi Neni yang segera datang menemui mereka.

“Oh iya den”. Ujar bi Neni.

“Terima kasih ya bi, masakan nya enak…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Iya sama-sama non, bibi senang masakannya bisa cocok sama non Farah”. Jawab bi Neni.

“Saya pulang dulu ya bi”. Ujar Farah.

“Iya non hati-hati dijalan”. Jawab bi Neni.

“Iya bi”. Jawab Farah sambil melangkah keluar dari rumah diikuti Yudha. Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan Yudha mulai menjalankan mobilnya. Yudha berpikir seandainya Farah menjadi istrinya pasti bisa sering berduaan dirumah seperti tadi. Belum apa-apa sudah berpikir jauh, Yudha jadi tersenyum sendiri.

“Hayo senyum-senyum sendiri, kenapa… mikir yang jorok lagi ya…”. Ujar Farah menyelidik.

“Nggak…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Terus kenapa senyum-senyum sendiri?”. Tanya Farah.

“Senang aja sudah bisa mengajak kamu main kerumah. Bisa makan berdua, bisa ngobrol berdua”. Jawab Yudha.

“Oh gitu…”. Ujar Farah. Dia pun sebetulnya merasa senang bisa berdua dengan Yudha. Hanya saja dia masih malu untuk mengungkapkan ini semua.

Jarak antara rumah Yudha dengan rumah Farah memang tidak terlalu jauh. Sebentar saja mereka sudah sampai di depan rumah Farah. Yudha sebetulnya masih ingin berdua dengan Farah, tapi nggak enak sama mama Farah terus-terusan berdua begini padahal mereka belum lama kenal dan tidak punya ikatan apa-apa. Tampak mobil Farah sudah ada didepan rumahnya pertanda mama Farah sudah sampai rumah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan memasuki rumah Farah. Waktu itu hari sudah gelap pertanda malam sudah datang.

“Farah pulang mam…”. Seperti biasa Farah memanggil mamanya ketika sudah sampai rumah. Mama Farah kemudian keluar dari ruang tengah.

“Oh kalian sudah pulang. Hari ini kemana saja?”. Tanya mama Farah. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam tante…”. Ujar Yudha.

“Iya malam juga”. Jawab mama Farah.

“Ah mama, kan tadi Farah sudah bilang kalau ke rumahnya Yudha”. Jawab Farah.

“Iya siapa tau kalian kemana lagi gitu”. Ujar mama Farah.

“Nggak kok tante, tadi sepulang dari syuting kita langsung ke rumah saya”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Kalian sudah makan? Pasti sudah kan…”. Ujar mama Farah tanpa menunggu jawaban dari keduanya.

“Iya sudah mam, tadi aku makan di rumah Yudha mam. Masakannya bi Neni enak mam”. Ujar Farah.

“Bi Neni…?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam, bi Neni itu yang selama ini selalu masak dan bantu-bantu di rumahnya mas Yudha”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar mama Farah.

“Bi Neni di bagian dapur terus mang Ukan yang merawat rumah dan taman”. Terang Farah.

“Oh gitu, anak mama sudah hafal ya sama orang yang ada di rumah Yudha…”. Ujar mama Farah. Yudha tersenyum mendengar percakapan Farah dan mamanya.

“Mama apaan sih”. Kata Farah tersenyum malu.

“Oh iya tante, besok tante masih ada keperluan tidak? Kalau tante masih sibuk biar saya saja yang antar Farah”. Ujar Yudha menawarkan diri.

“Besok tante tidak kemana-mana, jadi besok biar tante saja yang antar Farah”. Jawab mama Farah.

“Oh iya baik tante”. Jawab Yudha, padahal dia masih ingin berdua terus sama Farah. Besok adalah hari terakhir dia di Jakarta. Hari sabtu dia harus kembali ke New York untuk bertugas.

“Lagipula tante nggak enak sama nak Yudha, dari kemarin antar jemput Farah terus, merepotkan nak Yudha terus”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa tante, nggak merepotkan kok”. Jawab Yudha.

“Iya terimakasih sudah antar jemput Farah terus, tapi besok biar tante saja yang antar Farah”. Ujar mama Farah.

Mama Farah sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Yudha. Dia pasti ingin berdua terus sama anaknya. Tapi besok dia memang tidak ada kegiatan, jadi sebaiknya dia saja yang mengantar Farah ke lokasi syuting.

“Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, sudah malam”. Ujar Yudha.

“Oh iya, sekali lagi terima kasih ya sudah bersedia antar jemput Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Yudha kemudian keluar dari rumah diantar Farah. Sebelum masuk ke mobilnya, Yudha berbicara kepada Farah di teras rumahnya.

“Hari sabtu lusa saya mau berangkat lagi ke New York. Kalau kamu tidak ada acara lagi sehabis pulang syuting, saya mau kesini lagi untuk pamitan ya”. Ujar Yudha.

“Oh iya ya, mas Yudha sudah seminggu ya di Jakarta, jadi sabtu berangkat lagi ke New York ya…”. Ada nada kecewa disana.

“Iya saya berangkat hari sabtu, padahal saya masih ingin berlama-lama disini”. Ujar Yudha.

“Oh mas Yudha masih ada urusan di Jakarta?”. Tanya Farah.

“Iya masih ada urusan disini”. Jawab Yudha.

“Urusan apa mas?”. Tanya Farah.

“Urusan hati sama kamu…”. Ujar Yudha tersenyum. Dia ingin sekali-kali bicara seperti ini kepada Farah.

“Mas bisa aja… bisa ternyata ya mas Yudha ngegombal”. Jawab Farah. Pipinya bersemu merah.

“Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati ya”. Jawab Farah. Yudha mengangguk dan berjalan menuju pintu mobilnya. Dia kemudian mulai menyalakan mobilnya, dia melambaikan tangan kepada Farah sambil tersenyum. Farah balas melambaikan tangan. Yudha kemudian meninggalkan rumah Farah.

***