Diplomat Bag. 4 – Tidak Mau Pacaran

Pagi-pagi sekali Farah sudah siap-siap berangkat ke tempat syuting di daerah Kelapa Gading. Pak Maman supirnya sudah datang dari subuh tadi. Mamanya pun sudah bersiap-siap menemani putri tercintanya ke lokasi syuting.

“Ayo sayang kita berangkat. Ini kan hari senin, hari pertama masuk kerja, suka macet di jalan kalau kita nggak cepat berangkat”. Kata mama.

“Iya mam, sebentar Farah bawa kamera nya Yudha, takut nanti dia mau ngambil di lokasi syuting”. Jawab Farah.

“Loh memang dia tahu kamu syuting dimana?”. Tanya mama.

“Tahu sih mam, kemarin dia bilang pengen liat aku syuting dan minta aku ‘share location’ tempat syuting nya”. Jawab Farah.

“Waduh baru sehari kenalan udah mau nengokin syuting…”. Kata mama menggoda Farah.

“Mama apaan sih…”. Ujar Farah malu-malu.

“Oh iya, nanti siang mama mau pergi arisan dulu ya, jadi mobil mama pake dulu ya, nanti kalau kamu sudah selesai syuting kabari mama, nanti pak Maman jemput ke lokasi”. Ujar mama.

“Oke mam, yuk berangkat”. Ajak Farah.

Mereka kemudian berangkat ke lokasi syuting.

***

Yudha pagi-pagi sekali sudah bangun. Bi Neni sudah menyiapkan sarapan untuk majikannya, sementara mang Ukan sedang membersihkan halaman depan.

“Sarapannya sudah siap den, kok pagi-pagi sekali sudah rapi, mau berangkat kemana? Katanya mau istirahat di rumah?”. Tanya bi Neni.

“Tadinya pengen istirahat bi, tapi saya jadi ingat anak-anak di panti, pagi ini mau ngasih oleh-oleh buat mereka sekalian pengen nengok ke sana soalnya sudah lama nggak kesana”. Jawab Yudha.

“Loh bukannya hari ini juga mau ziarah ke makam mama sama papa den?”. Tanya bi Neni sambil menyiapkan roti bakar coklat keju yang masih panas. Yudha biasanya menyantap sepotong roti panggang sebelum beraktifitas. Masih sama seperti dulu ketika orang tuanya masih ada.`

“Iya bi, nanti sehabis dari panti, saya langsung ke makam”. Jawab Yudha.

“Oh iya bi, bibi sama mang Ukan lihat kamera saya nggak?”. Tanya Yudha.

“Nggak den, memangnya aden simpan dimana kameranya?”. Tanya bi Neni.

“Itu dia bi saya lupa semalam saya simpan dimana ya…”. Yudha masih berpikir keras dimana dia simpan kameranya.

“Coba diingat-ingat kemarin den Yudha kemana saja? Siapa tahu ketinggalan di tempat lain”. Tanya bi Neni. Yudha mengingat-ingat kejadian kemarin. Dia mengantar pulang Farah dari resepsi pernikahan Myra. Dia tersenyum sendiri apabila ingat cewek ini, kemarin dia mengantarnya pulang dan sempat foto-foto di depan rumahnya.

“Den… kok senyum-senyum sendiri…”. Kata bi Neni.

“Eh… nggak bi, jadi ingat kemarin saya foto-foto di depan rumah orang”. Jawab Yudha.

“Nah siapa tahu ketinggalan di sana…”. Ujar bi Neni.

“Oh iya bi benar, sepertinya ketinggalan di rumah dia, soalnya waktu pulang saya nggak ingat bawa kamera ke mobil”. Jawab Yudha.

“Foto-foto sama siapa den…?”. Tanya bi Neni.

“Temannya Myra bi, kemarin sehabis dari resepsi saya antar dia pulang. Terus foto-foto di rumahnya”. Jawab Yudha.

“Oh… ya udah den, diambil saja kesana siapa tahu orang nya masih di rumah”. Ujar bi Neni.

“Wah kayaknya orang nya sudah berangkat syuting bi”. Ujar Yudha.

“Syuting den…”. Bi Neni heran.

“Iya bi, artis film, cantik bi hehe…”. Ujar Yudha setelah menyelesaikan sarapannya.

“Nanti saya kenalin sama bibi”. Yudha berkata sambil bersiap-siap pergi. Bi Neni hanya tersenyum mendengar majikannya membicarakan wanita, tumben Yudha membicarakan wanita di meja makan, pikir bi Neni.

“Saya berangkat ya bi…”. Ujar Yudha sambil membawa kunci mobil.

“Iya den, hati-hati”. Jawab bi Neni.

Kemudian Yudha keluar menuju garasi mobilnya.

“Mobilnya sudah saya bersihkan den”. Kata mang Ukan ketika bertemu majikannya di luar rumah. Dia masih menyapu halaman ketika Yudha keluar dari rumah.

“Iya mang makasih ya”. Jawab Yudha.

“Hari ini saya ke panti ya mang, terus mau langsung ke makam”. Kata Yudha setelah dia masuk kedalam mobilnya dan mulai menghidupkan mobilnya.

“Iya den hati-hati, tadi dus yang kemarin aden bawa sudah mamang masukkan ke belakang mobil”. Ujar mang Ukan sambil membuka pintu pagar rumah Yudha.

“Iya mang, makasih ya, saya berangkat ya mang”. Ujar Yudha.

Yudha kemudian mulai menjalankan mobilnya. Dia berniat membeli beberapa keperluan sekolah buat anak-anak di panti. Biasanya sebulan sekali dia berkunjung ke panti sewaktu masih bertugas di Jakarta. Sudah tiga tahun dia tidak melihat anak-anak di panti semenjak dia bertugas di New York.

***

Yudha mengarahkan mobilnya menuju Pasar Senen, lumayan juga lalu-lintas hari ini, agak lumayan padat. Oh iya ini kan hari senin, hari pertama orang kerja, pantas saja agak macet dijalan. Dia membutuhkan waktu yang agak lama untuk menuju Pasar Senen. Disana dia biasanya membeli peralatan sekolah kalau dia mau berkunjung ke panti. Ada toko langganannya yang biasa membuatkan paket peralatan sekolah yang terdiri dari tas, buku dan peralatan tulis menulis.

Yudha memarkirkan mobilnya setelah tiba di depan toko buku langganannya. Kemudian dia turun dari mobil dan masuk ke toko tersebut.

“Selamat pagi koh…”. Kata Yudha setelah dia masuk kedalam toko tersebut.

“Selamat pagi Pak Yudha, wah… sudah lama banget nggak mampir kesini”. Kata ko Ahong pemilik toko tersebut sambil tersenyum dan menyalami Yudha.

“Iya koh, saya tugas di luar negeri tiga tahun ini. Baru pulang lagi kemarin pagi”. Jawab Yudha.

“Ini ada oleh-oleh buat ko Ahong sama anak-anak disini”. Ujar Yudha sambil memberikan satu dus berisi kaos dan beberapa cinderamata gantungan kunci dan hiasan meja. Tadi pagi dia sudah menyiapkan beberapa dus oleh-oleh dari New York. Dia juga menyiapkan beberapa dus untuk dibagikan di panti nanti.

“Wah terimakasih Pak Yudha, pake bawa oleh-oleh segala…”. Kata ko Ahong.

“Sedikit aja koh…”. Kata Yudha.

“Oh iya saya mau beli beberapa paket peralatan tulis menulis, sama sekalian tas nya ya koh”. Lanjut Yudha.

“Ada sudah siap, mau berapa paket?”. Tanya ko Ahong.

“Sekitar tiga puluh koh”. Jawab Yudha.

“Ya sudah sebentar saya ambil dulu di gudang”. Kata ko Ahong sambil masuk kedalam gudang toko tersebut bersama beberapa karyawannya.

Yudha kemudian keluar dan membuka pintu bagasi mobilnya. Disana sudah tertata beberapa dus oleh-oleh yang dibawanya dari New York. Kemudian datang ko Ahong dan beberapa anak buahnya membawa tas yang berisi buku dan peralatan sekolah. Tak lama semua tas yang berisi buku dan peralatan sekolah tersebut sudah masuk semua ke belakang mobil Yudha.

Setelah membayar paket tas yang dia beli kemudian Yudha pamitan kepada ko Ahong.

“Terima kasih koh, saya jalan dulu”. Kata Yudha.

“Iya terimakasih juga Pak Yudha, lain kali mampir lagi”. Kata ko Ahong.

“Iya koh…”. Yudha kemudian pergi meninggalkan toko buku tersebut untuk menuju ke panti tempat dia dulu dibesarkan.

***

Hari-hari di panti adalah hari yang selalu membahagiakan buat Yudha. Para pengasuh panti selalu baik kepada dia dan selalu memberikan yang terbaik kepada Yudha. Tidak heran dia menjadi anak kesayangan di panti tersebut, selain karena rajin dan pintar, Yudha juga tidak pernah membantah apa yang disuruh oleh para pengasuh dan kakak-kakaknya yang ada di panti tersebut. Walaupun dia sebatang kara tetapi semua yang ada di panti tersebut adalah keluarganya yang selalu menjadi penghibur dia setiap hari.

Dia masih ingat dimana hari itu keluarga Prawiranegara datang ke panti untuk mengadopsi anak. Waktu itu dia masih berumur 6 tahun dan sudah bersiap untuk masuk Sekolah Dasar. Dia berpikir akan kehilangan salah satu adik asuhnya yang ada di panti tersebut. Walaupun sebetulnya hal tersebut sudah biasa terjadi di tempatnya, ada saja orang yang datang dan mengadopsi anak yang ada di panti tersebut, mulai dari bayi yang baru bisa duduk maupun anak balita yang sudah bisa berlarian kesana-kemari.

Hari itu ternyata dia yang akan pergi dari panti tersebut. Dia sempat kaget dan tak menyangka setelah diberitahukan oleh pengurus panti yang bernama bu Irma.

“Yudha kesini nak…”. Pinta Bu Irma memanggil Yudha.

“Baik bu…”. Jawab Yudha. Di ruangan Bu Irma sedang dudung dua orang pasangan suami istri Bapak dan Ibu Prawiranegara.

“Sini kasih salam sama bapak dan ibu”. Kata Bu Irma. Kemudian Yudha menyalami Bapak dan Ibu Prawiranegara dengan meletakkan tangan mereka di kening Yudha. Mereka tersenyum ketika melihat Yudha.

“Begini Yud… bapak dan ibu Prawiranegara ini ingin mengangkat anak dari panti ini, tapi beliau ingin nya anak yang sudah agak besar tidak ingin anak yang masih kecil. Nah ibu dan beberapa pengurus yang lain menilai kamu yang paling cocok buat bapak dan ibu ini”. Kata bu Irma. Yudha terkejut bukan main dengan perkataan dari bu Irma. Dia pikir akan kehilangan salah satu adik asuhnya, ternyata dia sendiri yang harus meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah menjadi bagian hidupnya selama ini. Susah senang sudah dia rasakan ketika berada di rumah panti ini.

Bu Irma bertanya lagi dengan lemah lembut kepada Yudha setelah dia melihat anak asuhnya ini terdiam beberapa saat.

“Bagaimana Yudha, kamu bersedia kan…?”. Tanya bu Irma. Bapak dan Ibu Prawiranegara tersenyum kemudian Ibu Prawiranegara mulai bicara.

“Ibu tidak akan memaksa kamu untuk tinggal bersama kami, ya kan pah…”. Ujar Ibu Prawiranegara sambil melirik kepada suaminya.

“Kalau Yudha nanti tidak betah tinggal bersama kami, boleh kok kamu pulang ke sini lagi, tapi nanti semua kebutuhan kamu kita semua yang sediakan”. Kata Ibu Prawiranegara.

Yudha masih terdiam, dia bukannya tidak mau menjadi anak dari keluarga ini, tetapi dia masih berpikir berat untuk meninggalkan rumah panti ini.

“Bagaimana Yud…?”. Tanya bu Irma. Dia yakin Yudha akan menerima Bapak dan Ibu Prawiranegara sebagai orang tua barunya. Yudha seorang anak yang penurut, selama ini dia tidak pernah membantah apa yang diperintahkan oleh dia dan kakak asuhnya.

“Baik bu, saya bersedia”. Jawab Yudha setelah beberapa lama diam.

“Nah gitu dong, ibu tahu kamu anak baik dan anak yang penurut, sekarang kamu siap-siap ya, bawa beberapa barang yang menjadi kebutuhanmu”. Ujar Bu Irma kemudian. Bapak dan Ibu Prawiranegara lega mendengar Yudha bersedia menjadi anak barunya. Mereka sudah diberitahukan oleh pengurus dan beberapa kakak asuh Yudha bagaimana sifat dan perangai Yudha. Mereka semua menyarankan Bapak dan Ibu Prawiranegara untuk mengangkat Yudha sebagai anak angkatnya.

Yudha sudah keluar dari kamarnya dengan membawa tas kecil yang berisi beberapa barang pribadinya. Berat sekali dia meninggalkan panti ini, dimana semua orang yang dia kenal sangat baik kepada dia. Dia sudah berpamitan kepada semua kakak asuhnya dan semua adik asuhnya yang ada di sini. Semua tidak bisa menahan tangis melihat kepergian Yudha. Mereka semua sayang kepada Yudha.

Bapak dan Ibu Prawiranegara melihat ini dan tersenyum kepada Yudha.

“Kalau kamu kangen sama saudara-saudaramu disini, boleh kok sekali-kali kamu main kesini”. Ujar Ibu Prawiranegara. Yudha hanya mengangguk, kemudian dia menyalami Bu Irma. Bu irma kemudian memeluk Yudha.

“Kamu yang betah ya disana, jangan kecewakan Bapak dan Ibu Prawiranegara, semua yang mereka perintahkan harus kamu turuti ya…”. Ujar Bu Irma sambil menangis. Dia berat sekali melepaskan anak kesayangannya ini. Tapi demi kebahagiaan dan masa depan Yudha dia harus merelakannya tinggal dengan Bapak dan Ibu Prawiranegara.

“Baik bu…”. Jawab Yudha.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil yang sudah disediakan oleh Bapak dan Ibu Prawiranegara. Yudha melambaikan tangan kepada Bu Irma dan saudara-saudaranya yang ditinggalkan di panti tersebut. Bapak dan Ibu Prawiranegara tersenyum melihat itu semua, mudah-mudahan anak ini menjadi penerus mereka kelak. Jadilah mulai hari itu Yudha tinggal bersama Bapak dan Ibu Prawiranegara dan mengganti namanya menjadi Yudha Prawiranegara.

***

Sudah lewat jam sepuluh pagi tapi mobil Yudha masih terjebak macet depan ITC Cempaka Mas. Sepertinya dia akan telat sampai ke panti. Nanti di panti dia berencana untuk melepaskan kangen dengan para pengurus panti dan anak-anak disana. Sekalian juga dia ingin foto-foto disana. Oh iya kameraku kan masih ada di rumah Farah, begitu pikir Yudha, tapi kalau ke rumahnya jam segini sudah nggak ada berangkat syuting. Bukannya aku mau melihat Farah syuting ya? Kemarin aku tanya dia berangkat syuting jam berapa dan rencananya dia mau ‘share location’ tempat syutingnya, pikir Yudha.

Yudha kemudian mengeluarkan HP nya dan mencoba menghubungi Farah lewat whatsapp.

‘Hai Farah’

Yudha memulai pembicaraan

‘Hai juga’

Balas Farah

‘Boleh nggak share location kamu sekarang? Itu juga kalau kamu nggak sibuk’

Balas Yudha

‘Nggak kok, saya lagi break syuting, ini saya kirim share location nya’

Balas Farah

‘Oke terima kasih’

Balas Yudha

‘Sama-sama’

Balas Farah

Mereka kemudian mengakhiri komunikasi whatsapp.

Farah sudah mengirim lokasi dia syuting di Kelapa Gading. Yudha kemudian mengarahkan mobilnya ke lokasi yang di maksud.

Setelah sampai di lokasi terlihat banyak orang sedang berkerumun, ada kru dan ada juga orang yang sedang menonton syuting tersebut. Lokasinya ada di daerah Kelapa Gading Utara di deretan ruko-ruko yang tidak banyak kesibukan. Yudha kemudian memarkirkan mobilnya agak jauh dari kerumunan orang tersebut. Dia sudah melihat Farah sedang melaksanakan proses syuting dari kejauhan.

Yudha kemudian perlahan menghampiri lokasi syuting tersebut. Dia berbaur dengan orang yang sedang menonton syuting tersebut. Dia melihat Farah sedang beradu akting dengan lawan mainnya, sementara Farah serius sedang akting sehingga tidak menyadari kehadiran Yudha di tempat itu.

“Cut…”. Kata seorang lelaki yang sedang duduk dari tadi dan memperhatikan syuting yang sedang berlangsung.

“Oke syuting hari ini selesai, besok kita lanjut”. Kata lelaki tersebut lagi.

Kemudian semua orang serentak sibuk membereskan tempat syuting dan peralatannya. Sementara Farah duduk di kursi pemain yang sudah disediakan. Dia kelihatan sendiri tanpa ditemani mama nya. Yudha kemudian melambaikan tangannya ke arah Farah. Farah balas melambaikan tangan dan memanggil Yudha dengan isyarat tangan untuk menghampirinya.

“Hai Farah…”. Ujar Yudha sambil tersenyum ketika dia sudah mendekati Farah.

“Hai juga…”. Jawab Farah sambil tersenyum. Ada beberapa kru yang melihat kejadian langka ini. Farah didatangi laki-laki, siapa ya laki-laki tersebut? Mereka saling berbisik satu sama lain.

“Sudah selesai syuting nya?”. Tanya Yudha.

“Sudah… ini baru selesai. Ayo duduk dulu”. Ajak Farah. Kemudian Yudha duduk di kursi pemain yang sedang kosong.

“Saya mau nanya, apa ada kamera saya yang tertinggal di rumah kamu?”. Tanya Yudha langsung menanyakan kamera yang kemarin dia bawa.

“Oh iya ada, nih kameranya juga saya bawa”. Jawab Farah. Kemudian dia mengeluarkan kamera milik Yudha dari dalam tas nya.

“Wah terimakasih ya, sudah dibawakan sampai ke tempat kamu syuting”. Ujar Yudha.

“Iya sama-sama”. Jawab Farah.

“Kameranya sih gak terlalu penting, yang penting isinya”. Ujar Yudha tersenyum.

“Isinya foto Mas Yudha kan…?”. Tanya Farah tapi kemudian dia menutup mulutnya sambil tersenyum malu.

“Maaf ya, saya semalam lihat-lihat isi kamera nya mas Yudha, saya nggak minta izin dulu”. Lanjut Farah.

“Nggak apa-apa, nggak ada rahasia kok”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Yang penting bukan foto saya, tapi foto yang kemarin kita ambil di rumahmu”. Lanjut Yudha lagi, Farah tersenyum mendengar perkataan Yudha. Sejak kapan aku malu-malu di depan cowok, begitu pikir Farah.

“Ehem…ehem…”. Ada lelaki yang berdehem di samping Farah. Farah kemudian melihat ke arah suara tersebut. Ternyata sutradara nya bang Yopy yang berdehem.

“Eh bang Yopy…”. Ujar Farah.

“Siapa nih…?”. Tanya bang Yopy sambil melihat kepada Yudha.

“Oh ini Yudha bang, teman saya. Mas Yudha ini kenalkan sutradara saya namanya bang Yopy”. Jawab Farah. Kemudian bang Yopy dan Yudha bersalaman.

“Kamu cocok kayaknya kalau main film, nggak tertarik buat jadi artis?”. Tanya bang Yopy kepada Yudha.

“Nggak bisa bang… dia sudah kerja”. Farah yang menjawab. Yudha hanya tersenyum.

“Kan nggak apa-apa sambil kerja juga”. Lanjut bang Yopy lagi.

“Nggak bisa bang…”. Farah lagi-lagi menjawab.

“Kamu tuh dari tadi jawab terus, biar Yudha dong yang jawab”. Kata bang Yopy lagi.

“Mohon maaf saya nggak bisa bang…”. Akhirnya Yudha menjawab juga.

“Kenapa…? kayaknya kamu cocok jadi pemeran utama”. Kata bang Yopy.

“Yudha itu diplomat bang, kerja nya di luar negeri terus”. Farah juga yang menjawab. Yudha kembali tersenyum.

“Oh diplomat… eh ini gebetan kamu ya…?”. Tanya bang Yopy kepada Farah.

“Abang ada-ada saja, ini tuh sahabatnya Myra, dia baru datang dari New York, kemarin juga hadir di resepsi nya Myra, abang memang nggak lihat dia nyanyi kemarin?”. Tanya Farah.

“Oh sahabatnya Myra, oh iya saya dengar ada yang nyanyi tapi nggak tahu siapa orangnya, suaranya bagus…”. Lanjut bang Yopy.

“Hehe terima kasih bang…”. Ujar Yudha.

“Ya sudah kalian lanjut lagi, tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin jadi artis, kontak saya ya…”. Kata bang Yopy masih gigih mengajak Yudha menjadi pemain film.

“Oke bang terima kasih”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kamu sendirian…?”. Tanya Yudha kepada Farah setelah bang Yopy pergi.

“Tadi dianter sama mama, tapi mama pergi lagi mau arisan katanya, nanti mau jemput lagi kalau sudah selesai”. Jawab Farah.

“Tapi kok belum datang…?”. Tanya Yudha.

“Iya nih, mama suka kebiasaan kalau gini. Tadi sudah aku telpon katanya masih di tempat teman arisannya”. Jawab Farah.

“Kalau tidak keberatan, boleh saya antar kamu pulang?”. Tanya Yudha. Mumpung ada kesempatan lagi buat mendekati Farah, pikir Yudha.

“Ah nggak usah, nanti merepotkan”. Jawab Farah.

“Nggak kok… nggak merepotkan”. Ujar Yudha.

“Tapi mas Yudha nggak ada acara kemana-mana kan…?”. Tanya Farah.

“Ada sih… tapi bukan acara resmi, hanya mau ke panti saja lihat anak-anak”. Jawab Yudha. Farah kemudian teringat cerita Myra kemarin, sewaktu dia tanya mengenai panti dan anak-anak, dia tidak mau menjawab dan berkata nanti juga kamu tahu sendiri. Jadi penasaran, ada apa dengan panti dan anak-anak? Pikir Farah.

“Nanti saya antar kamu pulang, tapi sebelumnya saya nengok anak-anak dulu di panti. Bagaimana?”. Tanya Yudha.

“Tenang… saya nggak akan macam-macam kok…”. Ujar Yudha tersenyum.

“Bukan begitu, saya takut mengganggu acara mas Yudha”. Jawab Farah.

“Nggak kok… sama sekali nggak mengganggu”. Ujar Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, sebentar saya telpon mama dulu biar dia nggak jemput kesini”. Ujar Farah.

Kemudian Farah menghubungi mamanya yang sedang arisan.

“Halo mam, arisan nya masih lama?”. Tanya Farah.

“Iya mama masih di tempat arisan”. Jawab mama.

“Kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama.

“Iya sudah selesai mam”. Jawab Farah.

“Ya sudah mama suruh pak Maman jemput kamu ya…”. Lanjut mama.

“Eh gak usah mah…”. Jawab Farah.

“Loh kok nggak usah. Katanya syuting nya sudah selesai”. Mama bertanya keheranan.

“Mmmm boleh nggak aku pulang diantar Yudha…?”. Tanya Farah.

“Oh Yudha ada disitu. Ya sudah kalau Yudha mau antar kamu pulang boleh. Tapi hati-hati ya…”. Jawab mama. Anak semata wayang nya sepertinya sudah punya perasaan sama pemuda ini. Jadi biarlah, mungkin mereka sedang mau jalan berdua.

“Makasih ya mam… sampai ketemu di rumah ya…bye”. Farah mengakhiri pembicaraan dengan mamanya.

“Yuk mas kita berangkat”. Ajak Farah kepada Yudha.

“Ayo…”. Jawab Yudha. Kemudian Farah dan Yudha menghampiri bang Yopy yang sedang duduk sambil membaca ‘script’.

“Bang saya pulang dulu ya…”. Ujar Farah.

“Ok… kok gak diantar mama?”. Tanya bang Yopy.

“Saya diantar mas Yudha bang”. Jawab Farah. Yudha mengangguk dan tersenyum kepada bang Yopy.

“Oke hati-hati sampai ketemu besok ya. Jangan lupa besok syuting di Rawamangun ya…”. Lanjut bang Yopy.

“Oke bang, saya jalan dulu, bye”. Farah kemudian berjalan berdua dengan Yudha menuju mobil Yudha yang diparkir agak jauh dari lokasi syuting.

Yudha membukakan pintu mobil untuk Farah ketika mereka sudah berada di samping mobil Yudha.

“Terima kasih…”. Ujar Farah. Yudha tersenyum dan menutup kembali pintu mobil setelah Farah naik. Kemudian dia bergegas masuk ke pintu sebelah kanan dimana kemudi mobil berada. Setelah duduk kemudian Yudha menghidupkan mobilnya.

“Bang Yopy lucu ya…”. Ujar Yudha sambil menjalankan mobilnya.

“Lucu bagaimana…?”. Tanya Farah.

“Itu tadi langsung ngajak main film”. Jawab Yudha.

“Mungkin mas Yudha cocok kali jadi artis”. Ujar Farah sedikit menggoda.

“Wah mana ada saya tampang artis. Lagipula saya nggak bisa akting sama sekali. Kalau nyanyi sih boleh…”. Jawab Yudha.

Mobil Yudha sudah keluar dari daerah Kelapa Gading. Kemudian berbelok ke arah timur menuju Jalan Raya Bekasi. Di daerah Bekasi Baratlah tempat panti asuhan Yudha berada, tempat dia tinggal sampai usia enam tahun.

“Kita mau ke daerah mana mas?”. Tanya Farah.

“Kita mau ke daerah Pekayon Bekasi Barat. Disana ada panti asuhan anak-anak. Saya sudah lama tidak kesana. Dan saya bawa oleh-oleh buat mereka, itu sudah saya siapkan di belakang”. Kata Yudha. Dia berkata tanpa bermaksud menyombongkan diri kepada Farah.

Farah menengok kebelakang, dia melihat ada setumpuk kardus dan tas yang tersusun rapi di belakang.

“Nanti kamu tolong bantu bagikan ya, mau kan…”. Pinta Yudha.

“Oh iya boleh”. Jawab Farah. Farah masih penasaran dengan sikap Yudha. Dia juga tahu banyak orang-orang kaya yang biasa menyumbang ke panti asuhan. Tapi ada sesuatu dengan Yudha yang dia belum ceritakan.

Yudha melihat sekilas wajah Farah. Sepertinya dia penasaran dengan sikap Yudha. Nanti setibanya di panti akan dia ceritakan semuanya.

“Kamu penasaran ya…?”. Tanya Yudha. Farah hanya tersenyum dan mengangguk.

“Nanti saya ceritakan sesampainya disana. Tuh tempatnya sudah kelihatan”. Ujar Yudha. Kemudian mobilnya dia belokkan ke sebuah panti asuhan yang sangat asri. Masih banyak pepohonan disana. Yudha kemudian memarkirkan kendaraannya dekat dengan pintu masuk panti tersebut.

Yudha kemudian turun dari mobil diikuti oleh Farah. Belum lagi mereka masuk sudah ada yang berteriak dari dalam.

“Kak Yudha datang… hore kak Yudha datang…”. Teriak seorang anak kecil dari dalam. Kemudian bermunculan lah anak kecil seusia sekolah dasar yang menyambut Yudha dan mengelilinginya. Mereka semua berebut menyalami Yudha.

“Ayo semuanya berbaris. Kak Yudha mau ngasih kalian hadiah”. Ujar Yudha kemudian dia membuka pintu bagian belakang mobilnya. Anak-anak tersebut kemudian berebut berbaris dan ingin lebih dahulu menerima hadian dari Yudha.

“Sini saya bantu”. Ujar Farah tanpa diminta ketika Yudha sudah membuka pintu belakang mobilnya. Yudha tersenyum dan kemudian menyerahkan tas yang berisi buku dan alat tulis kepada Farah. Satu persatu tas tersebut diberikan Farah kepada anak-anak yang sudah berbaris. Mereka menerima tas tersebut dengan suka cita sambil mengucapkan terimakasih dan menyalami Farah.

Terus terang ini adalah pengalaman baru buat Farah. Dia belum pernah datang ke panti asuhan sebelumnya. Setelah semua anak mendapatkan tas nya masing-masing, mereka kemudian berlarian kembali masuk kedalam rumah. Tinggal tersisa beberapa anak yang sudah agak besar.

“Santi, Edo dan yang lain ayo sini”. Yudha memanggil mereka semua untuk mendekat ke mobilnya. Dia kemudian menyerahkan beberapa dus yang masih tersisa di mobilnya.

“Ini ada oleh-oleh buat kalian semua, nanti dibagi rata ya semuanya”. Ujar Yudha.

“Iya kak, terima kasih kak”. Jawab mereka sambil mereka menerima dus-dus dari dalam mobil Yudha. Kemudian mereka semua masuk kembali kedalam rumah. Tinggal seorang wanita setengah baya yang masih berdiri melihat semua kejadian barusan.

Yudha kemudian menghampiri wanita tersebut setelah menutup pintu belakang mobilnya. Dia berjalan diikuti oleh Farah.

Yudha kemudian menyalami wanita tersebut dengan meletakkan tangan wanita tersebut di keningnya.

“Apa kabar bu?”. Tanya Yudha. Kemudian wanita tersebut memeluk Yudha. Seperti seorang ibu yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan anaknya. Jangan-jangan ini ibu nya Yudha. Tapi kan mama papa Yudha sudah meninggal kecelakaan, Farah berkata dalam hati.

“Ibu sehat kan…?”. Tanya Yudha.

“Iya alhamdulillah ibu sehat. Ibu kangen sama kamu. Kamu makin ganteng aja, betah ya di New York”. Ujar wanita tersebut yang ternyata adalah Bu Irma yang mengurus Yudha dari semenjak bayi.

“Alhamdulillah betah bu”. Jawab Yudha. Bu Irma kemudian melirik ke arah Farah setelah melepas kangen dengan Yudha.

“Ini siapa…?”. Tanya bu Irma.

“Oh iya… ini namanya Farah bu. Dia artis film juga sama seperti Myra. Dia sahabatnya Myra bu”. Jawab Yudha. Kemudian Farah menyalami bu Irma sama seperti Yudha menyalaminya.

“Oh iya ayo silahkan duduk”. Ajak bu Irma. Kemudian mereka duduk di ruang depan panti tersebut.

“Kamu kapan pulang dari New York? Kok nggak ngasih kabar?”. Tanya Bu Irma.

“Saya datang kemarin pagi bu, langsung ke resepsinya Myra”. Jawab Yudha.

“Saya hanya dapat cuti seminggu buat menghadiri resepsi Myra. Sabtu depan saya sudah harus kembali lagi ke New York. Kan tinggal dua bulan lagi saya selesai tugas di New York”. Lanjut Yudha.

“Oh iya kemarin resepsinya Myra ya. Ibu nggak bisa datang, maklum di panti tidak ada yang jaga kalau ibu pergi”. Ujar bu Irma.

“Iya bu, Myra juga maklum kok”. Lanjut Yudha. Bu Irma kemudian melirik ke arah Farah dan kemudian ke arah Yudha. Dia memberi kode kepada Yudha. Yudha mengerti apa yang ingin ditanyakan ibu asuhnya ini. Dia kemudian tersenyum.

“Kemarin setelah selesai resepsi pernikahan Myra, saya dikenalkan dengan Farah oleh Myra bu”. Ujar Yudha. Farah tersenyum.

“Karena mama nya Farah telat jemput dia di resepsi, jadi Yudha yang antar dia sampai rumahnya”. Lanjut Yudha.

“Oh begitu”. Ujar bu Irma.

“Cantik…”. Bu Irma berkata kepada Yudha tanpa suara. Yudha tersenyum.

“Mas Yudha sudah sering datang kesini?”. Tanya Farah. Yudha hanya tersenyum.

“Jadi begini Far… saya sebetulnya anak panti sini. Ini namanya bu Irma, beliau yang merawat saya mulai dari bayi sampai usia enam tahun. Bu Irma juga tidak tahu siapa bapak dan ibu saya, yang dia ingat ada seorang gadis muda yang menitipkan seorang bayi pada waktu malam hari, dan gadis muda tersebut tidak memberitahukan jati dirinya kepada bu Irma. Setelah menitipkan saya, gadis itu langsung pergi begitu saja. Semenjak bayi hingga usia enam tahun saya dirawat oleh bu Irma, jadi bu Irma juga sudah saya anggap ibu sendiri. Pada saat usia saya enam tahun datanglah Bapak dan Ibu Prawiranegara kesini, mereka bermaksud untuk mengangkat saya menjadi anak mereka karena mereka belum dikaruniai seorang anak. Sejak saat itu lah saya diangkat anak oleh mereka dan disekolahkan sampai bisa meneruskan cita-cita mereka menjadikan anaknya seorang diplomat, karena mereka pun adalah seorang diplomat”. Yudha berbicara panjang lebar kepada Farah. Farah kemudian mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Ibu sebetulnya juga berat melepas Yudha waktu itu, Yudha anak yang baik, rajin, pintar dan tidak pernah membantah apa yang ibu perintahkan. Tapi demi masa depan Yudha, ibu merelakan dia menjadi anak bapak dan ibu Prawiranegara”. Lanjut bu Irma.

“Semua kakak asuh dan pengurus panti ini sayang sekali sama Yudha, waktu Yudha akan pergi semua menangis tak terkecuali ibu”. Lanjutnya lagi.

Farah hanya terdiam mendengar penjelasan bu Irma. Matanya sedikit berkaca-kaca mendengar semua cerita tentang Yudha. Pantas saja Myra berkata begitu ketika dia menanyakan tentang panti yang dimaksud Yudha. Tak disangka perjalanan hidup pemuda di samping nya ini.

“Udah ah bu, saya kok jadi sedih ya kalau ingat semua itu”. Ujar Yudha.

“Iya Yud… tapi alhamdulillah ya sekarang kamu sudah berhasil, kamu sudah bisa mewujudkan cita-cita mama dan papamu”. Ujar bu Irma.

“Oh iya bu, setelah dari sini saya akan langsung ke makam mama sama papa. Jadi saya gak lama ya bu. Saya pamit ya… nanti saya kesini lagi”. Yudha berkata sambil berdiri.

“Loh kok buru-buru…”. Ujar bu Irma.

“Iya bu kan saya harus mengantar putri cantik ini ke rumahnya”. Kata Yudha. Farah hanya tersenyum.

“Oh iya ya… ya sudah kalian hati-hati di jalan”. Ujar bu Irma.

Kemudian Yudha dan Farah menyalami bu Irma. Mereka berdua berjalan ke arah mobil Yudha. Seperti biasa Yudha yang membukakan pintu mobil untuk Farah. Mobil Yudha kemudian meninggalkan panti tersebut.

“Kok jadi diam…?”. Tanya Yudha kepada Farah setelah mereka berada di Jalan Raya Bekasi mengarah ke Jakarta.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Farah.

“Kaget ya waktu tahu saya sebetulnya anak panti…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.

“Iya… kaget juga sih. Tapi saya salut sama mas Yudha. Walaupun mas sekarang tidak punya saudara lagi tapi masih ingat sama anak-anak di panti sana”. Jawab Farah.

“Ya mereka juga sudah saya anggap saudara sendiri, kalau ingat anak-anak tadi saya jadi teringat diri saya sendiri ketika masih kecil”. Jawab Yudha.

“Luar biasa ya perjalanan hidup mas Yudha. Tapi sekarang mas Yudha sudah berhasil ya, sudah bisa mewujudkan cita-cita mama sama papa mas Yudha”. Ujar Farah.

“Ya… ini juga semua berkat didikan mama sama papa, mereka berdua selalu memberikan nasehat yang berguna sewaktu dulu masih ada”. Jawab Yudha.

“Oh iya… kita langsung ke rumah kamu ya…”. Kata Yudha kemudian.

“Loh katanya mas Yudha mau ke makam mama papa?”. Tanya Farah.

“Ya maksudnya nanti kalau sudah antar kamu sampai rumah…”. Jawab Yudha.

“Boleh saya ikut mas Yudha ziarah ke makam?”. Tanya Farah.

“Boleh saja… tapi kamu nggak ada acara lagi? Nanti kalau mama kamu nyari kamu gimana?”. Tanya Yudha.

“Nanti saya bilang sama mama kalau saya belum sampai rumah”. Jawab Farah.

“Kamu bener mau mengantar saya ke makam?”. Tanya Yudha. Farah hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Yudha.

“Oke deh kalau gitu, kita ziarah dulu ya…”. Ujar Yudha. Kemudian Yudha mengarahkan mobilnya menuju pemakaman yang ada di daerah Pondok Kopi, disanalah tempat mama dan papanya dimakamkan.

Setelah sampai ke pemakaman, kemudian Yudha dan Farah turun dari mobil dan berjalan menuju ke komplek pemakaman tersebut. Di depan pintu masuk sudah berjajar ibu-ibu yang menjual bunga tabur dan air yang biasa digunakan oleh para peziarah di tempat pemakaman tersebut. Yudha membeli dua kantong bunga tabur dan dua botol air.

Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam area pemakaman. Makam-makam yang ada disini berjajar rapi dan kelihatan bersih dari kotoran sampah dan dedaunan. Maklum komplek pemakaman ini dikelola oleh pemerintah daerah. Sesampainya di makam orang tuanya, Yudha kemudian duduk di samping makam tersebut, Farah pun ikut duduk di samping Yudha. Makam mama papa Yudha dibuat berdampingan satu sama lain. Makamnya tampak bersih dan rapi, wajar saja karena setiap pekan mang Ukan selalu datang kesini dan membersihkan makam ini.

Yudha kemudian melafalkan ayat suci dan berdoa sambil mengangkat tangannya. Setelah selesai kemudian dia menaburkan bunga dan menyiramkan air ke atas tanah makam. Farah ikut membantu menaburkan bunga dan menyiramkan air. Pertama mereka menaburkan bunga dan menyiramkan air diatas makam mamanya kemudian berlanjut ke atas makam papanya.

Setelah selesai, Yudha mengusapkan tangannya di atas pusara mamanya. Kemudian dia melakukannya juga di atas pusara papanya.

“Mah… pah… Yudha datang. Maaf Yudha baru bisa ziarah lagi. Semoga mama dan papa bahagia disana, Yudha selalu berdoa buat mama dan papa”. Ujar Yudha yang tampak bersedih.

Di Samping nya nampak Farah meneteskan air mata. Dia merasakan sekali kesedihan Yudha yang ditinggalkan sekaligus oleh kedua orangtuanya. Yudha kemudian melirik ke arah Farah.

“Yudha datang bersama teman baru Yudha, namanya Farah”. Yudha berkata seolah orang tuanya bisa mendengar apa yang dia katakan.

“Mama sama papa yang tenang ya disana, Yudha banyak teman yang menyayangi Yudha, anak-anak panti dan bu Irma juga menyayangi Yudha”. Lanjut Yudha kemudian.

Yudha dan Farah kemudian terdiam. Pikiran keduanya melayang-layang ke masa lalu. Yudha teringat kedua orang tuanya sedangkan Farah jadi teringat papanya.

Yudha kemudian tersadar dan segera bangkit berdiri.

“Mah… pah… Yudha pulang dulu ya, nanti Yudha kembali lagi kesini”. Ujar Yudha.

“Yuk… Far…”. Ajak Yudha kepada Farah. Farah mengangguk. Kemudian mereka berjalan berdua menyusuri pemakaman menuju pintu keluar. Farah sepertinya mengalami kesulitan ketika berjalan menyusuri area pemakaman. Yudha memperhatikan hal itu. Yudha kemudian memegang tangan Farah supaya tidak terjatuh. Farah kaget melihat tangan nya di pegang Yudha, tapi dia pun tidak berusaha untuk menghindar atau melepaskan pegangan tangan Yudha. Jadilah mereka berpegangan tangan sampai keluar dari area pemakaman.

Yudha melepaskan pegangan tangannya ketika dia membukakan pintu mobil untuk Farah. Kemudian Yudha masuk dan mulai menghidupkan mobilnya.

“Maaf ya tadi saya jadi membuatmu menangis…”. Ujar Yudha.

“Nggak apa-apa”. Jawab Farah.

“Maaf juga tadi saya pegang tangan kamu, takut kamu jatuh…”. Ujar Yudha lagi.

“Iya nggak apa-apa”. Kali ini Farah berkata sambil tersenyum. Biasanya kalau ada laki-laki yang menyentuhnya dia akan menepis tangan tersebut. Kecuali mungkin di film yang dia bintangi. Tapi itu juga sebatas pegang tangan saja nggak lebih. Farah tidak mau beradegan lebih dari itu. Makanya dia selalu pilih-pilih peran yang akan dia terima, jangan sampai ada adegan mesra di dalamnya, apalagi kalau sampai ada adegan ciuman, wah sudah deh dia tolak mentah-mentah film tersebut.

Tapi sekarang ketika dia tidak sedang main film, kemudian ada laki-laki yang memegang tangannya dia diam saja. Apa ya yang salah denganku, begitu pikir Farah.

“Oh iya, kamu sudah kasih tau mama kamu kalau kita sudah mau pulang ke rumah?”. Tanya Yudha.

“Oh iya sebentar saya telpon mama dulu”. Jawab Farah. Kemudian dia mengeluarkan HP nya dan menelpon mamanya.

“Halo mam, sudah sampai mana?”. Tanya Farah.

“Mama masih di tempat arisan”. Jawab mama Farah.

“Tapi sebentar lagi mama pulang kok. Kamu tunggu ya…”. Lanjutnya lagi.

“Oke mam…”. Jawab Farah, kemudian dia menutup telpon nya.

“Mama masih di tempat arisan, mana jauh lagi tempatnya”. Ujar Farah.

“Jadi masih lama…”. Tanya Yudha.

“Mama bilang sih sebentar lagi mau pulang. Tapi perjalanan dari sana lumayan jauh, di Jakarta Barat”. Jawab Farah.

“Bagaimana kalau kita makan dulu? Kamu pasti lapar kan?”. Tanya Yudha.

“Iya sih, tapi dari tadi saya diantar mas Yudha terus. Nggak enak ah merepotkan terus”. Jawab Farah.

“Nggak kok tenang aja. Saya punya langganan bakmi ayam yang enak di Rawamangun”. Ujar Yudha.

“Bakmi ayam suka kan…?”. Tanya Yudha.

“Suka sih… tapi bener nggak merepotkan mas Yudha…?”. Tanya Farah ingin meyakinkan.

“Nggak kok… yuk berangkat”. Yudha berkata sambil menjalankan mobilnya.

***

Bakmi langganan Yudha tidak terlalu jauh letaknya dari pemakaman di Pondok Kopi. Sepanjang jalan mereka berdua tetap melanjutkan obrolan. Sesampainya disana Yudha kemudian memarkirkan kendaraanya dan turun bersama dengan Farah.

“Oh Bakmi Aseng…”. Ujar Farah.

“Sering kesini juga…?”. Tanya Yudha.

“Nggak sering sih tapi pernah beberapa kali makan disini, memang enak bakmi nya”. Jawab Farah.

“Kalau begitu gak salah saya ngajak kamu kesini. Selera kita gak jauh beda ya…”. Ujar Yudha. Farah hanya tersenyum mendengar perkataan Yudha.

“Yuk masuk…”. Ajak Yudha. Kemudian mereka masuk dan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan. Meja yang mereka tempati hanya cukup untuk dua orang. Jadilah mereka duduk berhadap-hadapan.

“Mas bakmi nya dua ya…”. Ujar Yudha kepada pelayan.

“Minumnya apa mas?”. Tanya pelayan tersebut.

“Kamu mau minum apa Far…?”. Tanya Yudha kepada Farah.

“Saya es teh manis saja”. Jawab Farah.

“Es teh manis nya dua ya”. Jawab Yudha kepada pelayan tersebut.

“Mas Yudha sering makan disini?”. Tanya Farah.

“Dulu sebelum tugas di luar sih lumayan sering”. Jawab Yudha.

“Sudah lama nggak kesini, kangen sama makanan di Jakarta”. Lanjut Yudha.

“Mas Yudha di New York jarang makan makanan Indonesia ya…”. Tanya Farah.

“Ya begitu lah… makanan disana kebanyakan ‘junk food’. Terus agak susah nyari makanan halal disana. Waktu pertama sampai disana saya sampai nyari-nyari ke pinggiran, akhirnya ketemu sama komunitas India. Lumayan mereka banyak menyajikan masakan halal”. Jawab Yudha.

Kemudian datang pelayan yang membawa pesanan bakmi ayam dan es teh manis. Mereka melanjutkan obrolan sambil mulai menyantap bakmi.

“Jadi disana nggak pernah makan masakan Indonesia dong…”. Tanya Farah.

“Nggak juga sih, kadang sesekali makan di kantor, ada juru masak asal Indonesia di sana, tapi khusus untuk Kepala KJRI sama keluarganya. Kita biasanya makan bareng di kantor seminggu sekali”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah.

“Tapi rasanya tetap beda dengan masakan asli Indonesia”. Lanjut Yudha.

“Susah kali nyari bahan-bahannya ya mas…”. Ujar Farah.

“Iya… katanya harus langsung bawa dari sini kalau mau enak”. Jawab Yudha.

“Yang enak waktu saya tugas di Belanda. Disana banyak banget masakan Indonesia. Bahkan masakan tradisional pun sudah banyak yang beredar di sana”. Lanjut Yudha.

“Oh ya… Kok bisa mas…?”. Tanya Farah.

“Iya saya juga heran, bahkan di minimarket disana sudah banyak masakan Indonesia kalengan. Mulai dari rendang sampai sayur asem ada”. Jawab Yudha.

“Oh gitu, mas Yudha masakan favoritnya apa?”. Tanya Farah. Kok aku jadi nanya-nanya sih… pikir Farah. Tapi kemudian Yudha menjawab sehingga Farah tidak memikirkan lagi apa yang ada di pikirannya.

“Saya paling suka sayur lodeh. Kalau di rumah biasanya ada bi Neni yang masak sayur lodeh”. Jawab Yudha.

“Bi Neni…?”. Tanya Farah.

“Di rumah ada yang bantu-bantu masak namanya bi Neni. Dia yang selalu masak sejak saya kecil”. Jawab Yudha.

“Tapi sewaktu saya makan sayur lodeh kalengan di Belanda, ternyata masakan si bibi kalah enaknya”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kalau kamu paling suka masakan apa?”. Tanya Yudha.

“Kalau saya makan apa saja yang dimasak sama mama”. Jawab Farah.

“Wah mama kamu jago masak dong…”. Ujar Yudha.

“Ya nggak juga, mama banyak masak masakan sunda, soalnya mama kan keturunan sunda”. Jawab Farah.

“Wah boleh tuh kalau saya sesekali mencicipi masakan mama kamu…”. Ujar Yudha.

“Pasti mama kamu juga bisa masak sayur lodeh”. Lanjut Yudha.

“Iya pernah juga sih masak sayur lodeh”. Jawab Farah.

“Yuk kita pulang…”. Ajak Yudha. Mereka sudah selesai makan dan Yudha sudah menyelesaikan pembayaran di kasir. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah mobil Yudha.

“Terimakasih ya saya sudah di traktir makan”. Ujar Farah.

“Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih”. Jawab Yudha sambil membukakan pintu mobil untuk Farah seperti biasa. Farah kemudian naik ke mobil dan Yudha menutup pintu mobilnya.

“Kamu sudah menemani saya ke panti sampai ziarah ke makam mama sama papa”. Ujar Yudha setelah dia berada di belakang kemudi mobilnya.

“Iya sama-sama, seru juga ya di panti banyak anak-anak”. Kata Farah.

“Seru ya…”. Ujar Yudha sambil menjalankan mobilnya menuju rumah Farah.

“Iya rame, kalau saya kan di rumah hanya berdua saja sama mama, paling kalau siang cuma ada pak Maman saja yang menemani”. Ujar Farah.

“Oh gitu, nanti kalau saya kesana lagi mau ikut?”. Tanya Yudha.

“Boleh nanti kasih tahu saja kapan mas Yudha kesana”. Jawab Farah.

“Oh iya mas Yudha rencananya mau kemana saja liburan seminggu?”. Tanya Farah.

“Belum tahu sih, rencana buat menjenguk anak-anak di panti sudah, ziarah sudah. Paling saya di rumah saja”. Jawab Yudha.

“Oh begitu mas…”. Ujar Farah.

“Eh besok kamu syuting dimana?”. Tanya Yudha.

“Di daerah Rawamangun mas?”. Jawab Farah.

“Boleh nggak saya lihat kamu syuting besok?”. Tanya Yudha.

“Mmmm… boleh aja sih”. Jawab Farah. Wah jangan-jangan dia mau ngajak aku jalan lagi kayak hari ini, pikir Farah.

“Besok tolong ‘share location’ ya tempatnya dimana…”. Ujar Yudha.

“Boleh… besok saya ‘share location’ tempatnya”. Ujar Farah.

Mobil Yudha sudah sampai di depan rumah Farah. Waktu sudah menunjukkan jam tiga sore, lumayan juga hari ini dia bareng sama Farah terus. Terlihat mobil Farah sudah ada di rumah, berarti mamanya sudah pulang.

“Yuk mas masuk dulu…”. Ajak Farah.

“Iya…”. Kali ini Yudha tidak berpikir dua kali untuk menerima ajakan Farah mampir ke rumahnya.

Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah Farah.

“Mama… Farah pulang…”. Teriak Farah ketika dia membuka pintu depan rumahnya. Dia kemudian duduk di ruang tamu.

“Duduk mas…”. Ajak Farah.

“Iya terimakasih”. Jawab Yudha.

“Eh anak mama sudah pulang”. Mama Farah masuk ke ruang tamu dari dalam.

“Sore tante…”. Kemudian Yudha menyalami mama Farah seperti kemarin.

“Aduh maaf ya sudah merepotkan nak Yudha sampai jemput Farah di lokasi syuting”. Ujar mama Farah.

“Iya gak apa-apa tante. Malah saya yang terima kasih tadi sudah ditemani seharian sama Farah”. Jawab Yudha.

“Oh iya, besok kamu syuting dimana sayang?”. Tanya mama kepada Farah. Dia berpikir kemana saja anaknya dibawa sama Yudha? Dia akan tanyakan setelah Yudha pulang.

“Besok syuting di Rawamangun”. Jawab Farah.

“Besok seperti biasa ya, mama drop kamu disana, soalnya mama ada janji sama jeng Tika teman arisan mama. Dia ngajak mama bisnis”. Ujar mama Farah.

“Yah mama… biasa nih kalau sudah sama tante Tika pasti lupa sama Farah”. Ujar Farah.

“Bukan begitu, kan ini juga demi kamu. Kalau bisnis mama lancar, kan kamu gak usah capek-capek syuting lagi”. Jawab mama Farah. Yudha mendengarkan dengan seksama percakapan kedua orang ini. Jadi mama Farah bisnis juga selain nganter anaknya.

“Ya sudah deh kalau begitu, tapi mama nanti kasih kabar ya”. Ujar Farah.

“Iya…”. Jawab mama Farah.

“Oh iya kalian sudah makan?”. Tanya mama Farah.

“Sudah mam, tadi Farah makan bakmi ayam di Rawamangun bareng Yudha”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu kedalam. Oh iya nak Yudha mau minum apa?”. Tanya mama Farah. Yudha sudah mau menjawab tapi Farah lebih dahulu bicara.

“Biar Farah yang ambil mam”. Jawab Farah.

“Oh iya”. Mama Farah heran dengan sikap anaknya.

Farah dan mamanya kemudian masuk kedalam dan terus menuju ke ruang makan.

“Kok kamu yang ambil minum?”. Tanya mama Farah.

“Nggak apa-apa mam…”. Ujar Farah tersenyum. Dia kemudian menuangkan air putih kedalam gelas.

“Tadi kalian kemana saja…?”. Tanya mama.

“Nanti aja ya Farah cerita kalau orang nya sudah pulang”. Jawab Farah kemudian dia menuju ke ruang tamu membawa segelas air putih.

“Silahkan diminum mas…”. Ujar Farah sambil duduk di ruang tamu.

“Iya terima kasih”. Jawab Yudha.

“Mas Yudha minumnya air putih terus…”. Tanya Farah.

“Iya memang saya banyak minum air putih tapi minum yang lain juga suka, tadi kan minum es teh manis juga waktu makan bakmi”. Jawab Yudha.

“Oh iya ya, mas Yudha nggak merokok?”. Tanya Farah.

“Nggak saya nggak pernah merokok”. Jawab Yudha. Farah lega, dia memang nggak begitu suka sama laki-laki perokok. Kenapa aku jadi lega ya? Pikir Farah.

“Memang kenapa…”. Tanya Yudha penasaran.

“Saya nggak suka asap rokok, suka pusing… syukur deh mas Yudha nggak merokok”. Jawab Farah. Kenapa dia bersyukur aku nggak merokok? Pikir Yudha.

“Oh iya besok kamu berangkat syuting jam berapa?”. Tanya Yudha.

“Sekitar jam delapan pagi. Besok syuting nya agak lama, soalnya ‘scene’ nya agak banyak nggak seperti tadi hanya sedikit ‘scene’ nya”. Jawab Farah.

“Oh gitu, besok saya ke tempat syuting kamu jam sepuluh pagi ya”. Ujar Yudha.

“Iya boleh”. Jawab Farah. Mereka berdua kemudian terdiam. Pikiran mereka berdua sedang berkelana ke masa depan.

Yudha sedang berpikir untuk terus mendekati Farah dan mungkin suatu saat akan mengajaknya menikah. Hah… menikah… apa aku sudah punya rencana sejauh itu sama Farah? Apa Farah mau aku ajak nikah? Baru saja kenal dua hari. Tapi aku merasa cocok sama  gadis ini, orang nya baik dan tidak macam-macam seperti gadis kebanyakan. Dan yang paling Yudha suka adalah kalau ngobrol selalu nyambung sama dia walaupun mereka tidak punya banyak kesamaan. Wajahnya yang cantik selalu tersenyum. Cantik… ya memang dia cantik… Pikir Yudha dalam hati. Dia kemudian tersenyum.

Farah berpikir kok lelaki ini ingin selalu lihat dia syuting? Tapi kok aku juga nggak nolak waktu dia bilang mau lihat aku syuting besok. Apa aku suka sama dia? Baru saja kenal dua hari. Tapi dua hari saja sudah banyak kesannya. Tadi tanganku dipegang dan aku tidak berusaha menolak atau melepaskan tangan? Tapi aku juga tahu dia tidak bermaksud macam-macam sama aku. Ah pusing… aku kenapa sih…

Farah kemudian melirik ke arah Yudha. Dia lihat Yudha sedang tersenyum.

“Kok senyum-senyum sendiri mas…?”. Tanya Farah.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Yudha.

“Senyum-senyum kenapa… awas ya mikirin yang jorok-jorok ya heheh…”. Ujar Farah.

“Nggak lah… cuma saya kepikiran saja, baru dua hari saja kita ketemu…”. Jawab Yudha.

“Tapi kok saya merasa nyambung ya kalau ngobrol sama kamu”. Lanjut Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah, pipinya agak sedikit memerah, untung Yudha tidak memperhatikan, kalau dia lihat kan malu, begitu pikir Farah.

“Kamu merasa begitu nggak…?”. Tanya Yudha.

Farah tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Wah Yudha kok nanya gitu sih, aku kan malu, pikir Farah. Tapi kenapa aku malu ya…

Yudha kemudian tersenyum.

“Oh iya, sudah sore. Saya pamit dulu ya”. Ujar Yudha. Oh mau pulang ya… kok buru-buru dia ya… mau kemana dia… eh kok aku… kenapa sih aku…. Farah berkata dalam hati.

“Farah… saya pamit dulu…”. Ujar Yudha melihat Farah terdiam.

“Eh… iya sebentar…”. Jawab Farah. Kemudian dia masuk ke ruang tengah memanggil mamanya.

“Sudah mau pulang ya…”. Ujar mama Farah ketika sudah masuk ke ruang tamu.

“Iya tante, takut Farah mau istirahat, besok kan syuting lagi”. Jawab Yudha.

“Oh iya besok saya minta izin mau lihat Farah syuting lagi, boleh ya tante?”. Tanya Yudha.

“Oh iya boleh silahkan”. Jangan-jangan dia mau jemput Farah lagi… begitu pikir mama Farah.

“Ya sudah kalau begitu saya pamit, terima kasih tante”. Ujar Yudha sambil menyalami mama Farah seperti biasa.

Kemudian Yudha keluar ditemani Farah.

“Saya pamit ya, sampai besok…”. Ujar Yudha.

“Iya sampai besok, Mmm… hati-hati di jalan mas”. Ujar Farah.

“Iya… terima kasih”. Yudha tersenyum. Kemudian dia masuk kedalam mobilnya. Dia melambaikan tangan kepada Farah ketika mobilnya mulai meninggalkan rumah Farah. Farah juga balas melambaikan tangan. Farah kemudian masuk kedalam rumah setelah mobil Yudha belok di tikungan rumahnya.

***