Diplomat Bag. 2 – Yudha Prawiranegara

Yudha kemudian mengarahkan kendaraannya ke arah kayu putih dimana rumahnya berada. Lumayan juga pulang dari acara pernikahan Myra dapat kenalan artis cantik. Tapi jangan-jangan ini ulah Myra biar aku bisa kenalan sama Farah. Aku harus telpon dia. Begitu pikir Yudha.

Kemudian Yudha mengambil HP nya menelpon Myra, dia mungkin sudah ada di rumahnya setelah pesta pernikahan tadi.

“Halo Ya…”. Yudha memanggil Myra dengan nama panggilan kecilnya Yaya.
“Halo Yud…”. Jawab Myra di seberang sana.
“Kamu ngerjain aku ya, pake ngenalin aku sama Farah segala”. Terdengar tawa Myra di seberang sana.
“Kamu tuh… sudah saatnya punya pasangan. Jangan kelamaan jomblo. Makanya waktu tadi Farah datang dan mengucapkan selamat sambil memeluk, aku sudah ngasih kode sama kamu. Ini ada cewek yang mau aku kenalin”. Jawab Myra.
“Bilang terima kasih apa, sudah aku kenalin sama cewek cantik”. Lanjut Myra.
“Iya terima kasih”. Jawab Yudha.

“Eh… tadi bagaimana? Nganterin sampai rumahnya kan?”. Tanya Myra.
“Iya aku nganterin sampai rumahnya, terus nunggu sampai mama nya pulang”. Jawab Yudha.
“Sudah ketemu juga sama mama nya”. Lanjut Yudha.
“Waduh… mau lanjut nih kayaknya”. Myra berkata diseberang sana.
“Udah Yud, pepet terus sampai dapat, aku dukung seratus persen hehe…”. Pras yang berkata, ternyata suara HP nya sudah dikeraskan sehingga Pras juga bisa mendengar percakapan mereka.
“Jadi kalian ngobrol apa saja?”. Tanya Myra.
“Ya banyak lah, aku juga sempat foto-foto dia sambil nunggu mamanya pulang”. Jawab Yudha jujur.
“Wah tumben Farah mau di foto sama orang yang baru dikenal, dia biasanya alergi sama cowok. Wah udah deh ini namanya tanda-tanda. Udah kamu seriusin aja sama dia jangan di tunda-tunda”. Lanjut Myra. Yudha kemudian terdiam.
“Yud… dengar aku nggak?”. Tanya Myra.
“Iya aku dengar”. Jawab Yudha.
“Ya udah aku sudah sampai rumah nih. Nanti sambung lagi”. Ujar Yudha mengakhiri pembicaraan.
“Okay… nanti kalau ada perkembangan cerita ya… bye”. Myra kemudian memutus hubungan telepon.

Yudha sudah sampai di depan rumahnya. Kemudian ada yang membukakan pagar untuknya. Mang Ukan yang membuka pagar, dia yang selama ini merawat taman di depan rumahnya sekaligus menjaga rumahnya selama dia di New York. Mang Ukan tinggal bersama istrinya yaitu Bi Neni di rumah Yudha. Mereka sudah lama ikut keluarga Yudha semenjak dia masih kecil, semasa mama papanya masih ada. Mereka juga sudah Yudha anggap sebagai keluarga sendiri.

Tadi sewaktu Yudha telepon dengan Myra sebetulnya dia jadi teringat mamanya, makanya tadi agak terdiam sesaat. Teringat cita-cita mamanya yang ingin segera mempunyai cucu, namun sebelum cita-citanya terwujud, beliau sudah dipanggil yang maha kuasa. Yudha masih terdiam setelah memarkirkan kendaraan di garasi rumahnya. Mang Ukan yang melihat majikan nya terdiam kemudian menghampiri Yudha.

“Den… kok nggak turun?”. Tanya mang Ukan sambil mengetuk pintu kaca mobil. Dia memanggil Yudha dengan sebutan aden.
“Eh iya mang…”. Jawab Yudha menghentikan lamunannya. Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya.
“Mau langsung makan den…?”. Tanya bi Neni.
“Bibi sudah siapkan makanan kesukaan den Yudha. Sayur lodeh sama gepuk. Pasti sudah kangen kan sama masakan bibi…”. Kata bi Neni. Dia sudah mulai menyiapkan masakan kesukaan majikan nya ini semenjak dia tahu kalau majikannya akan pulang ke Indonesia.
“Oh iya tuh pasti enak. Sudah lama saya nggak makan masakan Indonesia. Bibi sama mamang sudah makan belum? Ayo makan bareng…”. Ajak Yudha.
“Bibi sama mamang sudah makan tadi sore”. Kata bi Neni sambil menyiapkan piring dan peralatan makan lain nya.
“Ya sudah kalau begitu, saya makan dulu ya bi”. Ujar Yudha.
“Iya den, bibi tinggal ke ruang tengah ya”. Kata bi Neni sambil berlalu meninggalkan Yudha di meja makan sendiri.

Yudha kemudian mulai makan. Dulu sewaktu mama papa nya masih ada, di meja ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sekarang Yudha merasa sendiri, walaupun di rumah ini masih ada mang Ukan dan bi Neni yang selalu setia menemani.

Mungkin sudah saatnya aku mencari pasangan hidup. Mungkin itu juga yang Myra inginkan sehingga dia mengenalkan aku dengan Farah, begitu pikir Yudha. Sudah saatnya dia punya pasangan hidup, untuk apa punya harta dan jabatan tapi tidak punya siapapun untuk berbagi.


Orang tua Yudha juga sebetulnya seorang diplomat. Pasangan suami istri bapak dan Ibu Prawiranegara ini banyak menghabiskan waktunya di luar negeri sebagai duta bangsa. Mereka sudah pergi melanglang buana dari mulai negara tetangga di Asia, negara Eropa, Amerika sampai Afrika.

Namun sayang, sampai di usia yang cukup untuk mempunyai seorang anak, mereka tidak juga dikaruniai seorang anak pun. Setelah berpikir lama dan tugas nya di luar negeri selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak.

Mereka mengambil seorang anak yang sudah agak besar. Tidak seperti kebanyakan orang yang mengadopsi anak di saat mereka masih bayi, orang tua Yudha mengangkat dia sebagai anak pada saat usianya enam tahun. Waktu itu dia baru masuk sekolah dasar. Orang tua Yudha berpikir tidak mau repot mengurus anak dari kecil sehingga memutuskan untuk mengadopsi anak yang sudah besar dari salah satu panti asuhan yang ada di daerah pinggiran Ibu Kota.

Jadilah Yudha anak dari pasangan diplomat ini. Pemilihan Yudha pun dilakukan secara selektif di panti tersebut. Atas saran dari pengurus panti, mereka merekomendasikan Yudha untuk menjadi anak pasangan tersebut. Selain karena Yudha seorang anak yang rajin dan pintar, dia juga adalah seorang anak yang penurut. Segala sesuatu yang diperintahkan oleh pengurus panti maupun kakak asuhnya di panti selalu dia laksanakan dengan sepenuh hati tanpa ada alasan menolak ataupun membantah.

Setelah Yudha menjadi anak diplomat ini jadilah dia berganti nama menjadi Yudha Prawiranegara. Orangtuanya menyekolahkan Yudha di sekolah elit dan berkelas. Mereka ingin Yudha menjadi anak yang berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang berhasil. Mereka juga ingin Yudha meneruskan jejak mereka menjadi seorang diplomat.

Bapak dan Ibu Prawiranegara selalu mengajarkan Yudha untuk menjadi orang yang santun dalam bergaul namun tegas dalam berbicara. Didikan orang tuanya selalu ditaati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Sehingga di sekolah pun Yudha mempunyai banyak teman karena dia pandai bergaul dengan sesama temannya.

Setelah tamat SMA, Yudha meneruskan kuliah di Trisakti jurusan Hubungan Internasional. Itu semua adalah keinginan orang tua Yudha agar dia menjadi seorang diplomat seperti orang tuanya, dan Yudha pun menuruti kemauan orang tuanya tersebut tanpa membantah sedikitpun.

Disanalah Yudha mengenal Myra dan kemudian Prasetya yang saat itu sudah menjadi pacar Myra. Mereka kemudian menjadi sahabat sampai mereka lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Myra melanjutkan karir sebagai artis sampai saat ini, Prasetya mulai menjadi pengusaha dan Yudha menjadi seorang diplomat sesuai keinginan orang tuanya.

Yudha sebetulnya bukan seorang yang tidak pernah mengenal wanita, banyak yang sudah dikenalkan sahabat-sahabatnya kepada Yudha biar dia tidak jomblo terus. Ada juga beberapa wanita yang Yudha sukai namun karena waktu itu dia juga disibukkan oleh tugasnya sebagai seorang diplomat, sehingga tidak ada wanita yang sempat menjadi pacarnya walaupun ada yang sempat dekat dengan dia. Tugasnya yang harus selalu bepergian ke berbagai negara membuat dia belum mendapatkan pasangan hingga saat ini.

Setelah cukup berkarir sebagai seorang diplomat, orang tua Yudha mulai mendorong dia untuk segera mempunyai pasangan. Walaupun tidak secara langsung diutarakan oleh mereka kepada Yudha.

Suatu saat ketika mereka bertiga selesai makan malam, mama Yudha mulai berbicara.

“Yud…”. Mama mulai berkata.
“Iya mah…”. Jawab Yudha.
“Sepertinya kalau ada anak kecil yang lari-lari di rumah ini seru juga ya…”. Kata mama.
“Maksudnya mah…?”. Yudha belum menangkap apa yang dibicarakan mama nya. Papa nya tersenyum mendengar istrinya berbicara begitu, dia sudah tahu kemana arah pembicaraan istrinya tersebut.

“Ya seru aja seperti kamu masih kecil dulu main-main di rumah”. Kata mama kemudian. Yudha masih terdiam belum mengerti arah pembicaraan mamanya.
“Maksud mamamu, dia ingin segera menimang cucu”. Papa menjelaskan sambil tersenyum. Papa kemudian menghentikan membaca koran dan serius mengikuti pembicaraan mereka.
“Oh gitu pah…”. Jawab Yudha baru mengerti.
“Cepat-cepatlah kamu cari pasangan, nanti kenalin sama mama ya…”. Kata mama.
“Sekarang kamu lagi dekat sama siapa?”. Tanya mama.
“Ada sih mah yang dekat sama Yudha, nanti deh Yudha kenalkan sama mama”. Jawab Yudha.
“Bener ya nanti dikenalkan sama mama”. Lanjut mama sambil tersenyum.
“Iya mah, nanti Yudha kenalkan”. Jawab Yudha.

“Eh ngomong-ngomong bagaimana hubungan temanmu Myra dan Pras?”. Tanya papa.
“Masih berjalan seperti biasa pah, tapi agaknya orang tua Myra masih gimana gitu pah, kan Pras bukan keturunan ningrat seperti keluarga Myra”. Jawab Yudha.
“Kalau mama sama papa gak seperti itu”. Mama meneruskan.
“Walaupun kita keturunan Prawiranegara, tapi kalau masalah jodoh itu semua kita serahkan kepada kamu, asalkan wanitanya baik dan memang kamu suka, kita tidak akan melarang, iya kan pah…”. Ujar mama.

“Iya benar yang dikatakan mama kamu”. Jawab papa.
“Jaman sekarang sudah tidak ada pengaruhnya hal seperti itu”. Lanjut papa.
“Iya pah nanti kalau ada waktu Yudha kenalkan dengan wanita yang sedang dekat dengan Yudha. Tapi ini kan sebentar lagi Yudha berangkat ke New York, ntar kepotong lagi deh hubungan Yudha…”. Ujar Yudha. Waktu itu dia tidak lama lagi akan bertugas ke New York menjadi atase politik dan perdagangan.
“Ya nggak apa-apa kan, namanya juga kenalan siapa tahu kalau cocok walaupun jauh tetap nyambung kan…”. Kata mama.
“Iya sih mah, tapi kali ini kan Yudha tugas agak lama mah, tiga tahun mah…”. Lanjut Yudha.
“Oh iya ya, kali ini kamu tugas agak lama ya di New York”. Ujar Papa.
“Iya pah, lumayan lama”. Ujar Yudha.

“Oh iya Yud, lusa papa sama mama mau ke Surabaya, nengok rumah sama kebun yang ada disana, setelah itu kita mau langsung ke Kuala Lumpur dari Surabaya naik pesawat paling pagi. Ada resepsi teman papa mu di Kuala Lumpur. Anaknya menikah dengan orang Malaysia. Mama jadi pengen cepat-cepat menikahkan kamu”. Kata mama sambil tersenyum.
“Iya mah, mudahan-mudahan cita-cita mama cepat terwujud, Yudha mohon doanya saja ya mah”. Kata Yudha.
“Iya, mama sama papa selalu mendoakan kamu”. Kata mama.
“Kamu nggak apa-apa kan ditinggal agak lama…”. Tanya mama.
“Iya mah nggak apa-apa kan ada mang Ukan sama bi Neni yang nemenin Yudha di rumah”. Jawab Yudha.
“Ya udah, kalau gitu mama sama papa mau siap-siap dulu ya mau menyiapkan kebutuhan buat lusa”. Kata mama.
“Iya mah”. Jawab Yudha.

Dari sekian banyak percakapan yang terjadi antara orang tuanya dan dia, itulah pembicaraan terakhir yang selalu di ingat oleh Yudha. Mama nya sudah ingin melihat dia mempunyai pasangan dan segera mempunyai keturunan, ingin segera menimang cucu katanya.

Lusa nya Yudha tidak bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke Bandara, hanya pada pagi hari sewaktu masih di rumah mereka berpamitan dan saling peluk, Yudha sedang banyak pekerjaan di kantornya sehingga dengan berat hati tidak bisa menemani kedua orang tuanya berangkat ke Surabaya. Yudha tidak tahu bahwa itulah pelukan dan pertemuan terakhir dengan kedua orang tuanya.

Dua hari setelah kepergian mereka, Yudha melihat berita di televisi bahwa ada pesawat AirAsia yang mengalami kecelakaan di sekitar Selat Karimata. Dia teringat kedua orang tuanya yang tadi pagi berangkat dari Surabaya menuju Kuala Lumpur. Tadi sebelum ‘take off’ dia sempat berbincang dengan mama nya dan mengabarkan bahwa mereka akan menggunakan pesawat AirAsia, karena pesawat Garuda yang sebelumnya mereka pesan tidak jadi berangkat karena mengalami kendala teknis.

Hatinya berdebar tak karuan, jangan-jangan kedua orang tuanya ada dalam pesawat tersebut. Dia berusaha mencari informasi manifest pesawat tersebut. Dan benar saja seperti perkiraan dia, orang tuanya adalah penumpang dari pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut. Tapi dia masih mengharapkan keajaiban dari kejadian tersebut, siapa tahu orang tuanya masih hidup atau mereka tidak jadi berangkat.

Ketika sedang duduk termenung di kantornya, ada telpon yang masuk ke kantornya.

“Halo…”. Ujar Yudha.
“Saya bisa berbicara dengan Yudha Prawiranegara?”. Tanya seorang perempuan di seberang sana.
“Iya dengan saya sendiri”. Jawab Yudha.
“Dimohon kesediaan saudara untuk datang ke Surabaya, untuk melakukan test DNA dan identifikasi korban pesawat AirAsia”. Katanya.
“Iya…. ba.. baik… bu…”. Yudha berkata tersendat. Kemudian telpon terputus. Perasaannya hancur, kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan pesawat tersebut. Dia masih duduk setelah menerima telpon tadi. Kemudian banyak rekan kantornya yang menghampirinya. Memberikan ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpanya. Tak terasa ada air mata yang menetes dari ujung matanya. Dia mencoba tegar menerima musibah ini, tapi hatinya tidak bisa dipungkiri, dia sudah merasa kehilang kedua orang tuanya walaupun dia belum melihat dengan mata kepala sendiri jenazah orang tuanya.

Singkat cerita dia berangkat ke Bandara Juanda Surabaya dan melakukan tes DNA disana. Dia sudah memberitahukan kepada petugas bahwa dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya tersebut, tapi tes tetap dilakukan untuk kepentingan administrasi. Setelah seharian menunggu akhirnya satu persatu korban kecelakaan pesawat tersebut datang ke Bandara Juanda Surabaya. Tiba giliran Yudha untuk mengenali orang tuanya.

Di depannya sudah ada dua peti mati yang masih tertutup, petugas masih belum membuka peti mati tersebut, biasanya mereka menunggu aba-aba dari keluarga korban. Setelah Yudha mengangguk kemudian mereka membuka satu persatu peti mati tersebut. Yang pertama dibuka adalah peti mati jenazah mamanya, dia bisa mengenalinya karena tubuh dan wajah dari mamanya tidak mengalami kerusakan. Wajahnya masih berseri seperti waktu dia terakhir berpelukan. Yudha tertunduk, air matanya tidak bisa dibendung, dia memeluk mamanya, menciumnya. Dia menangis tersedu-sedu, dia berusaha tegar menerima musibah ini. Walaupun beliau bukan ibu kandung nya tapi kasih sayangnya mengalir seperti ibu kandungnya sendiri. Giliran peti mati papanya dia buka, sama seperti mama, mukanya pun masih sangat bisa dikenali karena tidak rusak. Papanya seperti tersenyum seperti hari-hari dimana mereka bersama. Dia memeluk papanya dan menciumi jasadnya. Kemudian dia ditenangkan oleh petugas dan dipersilahkan untuk kembali keluar ruang peti mati tersebut.

Ketika sudah keluar dia masih tidak bisa menahan kesedihan, tampak diluar ada dua orang sahabatnya yaitu sepasang kekasih Myra dan Pras, mereka segera menyusul Yudha ke Surabaya begitu mendengar kabar duka dari sahabatnya tersebut. Myra memeluk Yudha, kemudian Pras juga memeluk Yudha. Mereka merasakan sekali kehilangan dari sahabatnya tersebut. Kemudian mereka duduk.

“Kita turut berduka cita ya Yud…”. Ujar Myra.
“Kita tadi langsung terbang kesini begitu mendengar beritanya”. Ujar Pras.
“Iya… terima kasih”. Ujar Yudha.
“Yang sabar ya Yud…”. Myra melanjutkan.
“Iya Ya, sudah takdir dari yang maha kuasa, mungkin ini sudah menjadi suratan hidupku selalu sendiri”. Jawab Yudha.
“Jangan begitu Yud, kita selalu ada buat mu kok”. Ujar Pras sambil menepuk pundah Yudha.
“Iya terima kasih kalian sudah datang jauh-jauh menghiburku”. Jawab Yudha.

Jenazah orang tua Yudha kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya. Sahabatnya masih setia menunggu di pemakaman ketika Yudha tidak juga beranjak dari pemakaman kedua orang tuanya.

“Udah Yud, kamu harus kuat, yuk kita pulang”. Ajak Myra.
“Iya Yud, mereka sudah tenang disana, jangan kamu beratkan mereka dengan kesedihan kamu”. Ujar Pras.
“Nggak kok, nggak apa-apa, kalian duluan saja, aku masih ingin disini, nanti juga sebelum malam aku pulang”. Jawab Yudha. Pras kemudian memberi kode kepada Myra untuk meninggalkan Yudha sendiri, mungkin dia ingin sendiri dulu disini.
“Ya sudah kita pulang dulu Yud, jangan kelamaan disini ya, nanti kalau ada apa-apa kasih kabar ke kita ya”. Ujar Myra, Yudha mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Mereka kemudian meninggalkan Yudha sendiri.

Sampai hari ketujuh selamatan kepergian orang tua Yudha, dia masih merasakan kehilangan yang teramat dalam. Padahal sebentar lagi dia harus segera terbang ke New York. Jadwal kerjanya tidak bisa diundur dan harus berangkat sesuai jadwal. Mungkin ini juga yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa kepada Yudha. Mungkin dengan tugas barunya di New York nanti, dia bisa melupakan sejenak kesedihan ditinggal oleh orang tuanya.

Yudha kemudian berangkat tugas ke New York dua minggu kemudian. Dia berharap di tempat barunya dia bisa mendapatkan ketenangan dan melupakan sejenak kesedihan ditinggal kedua orang tuanya. Rumahnya dia titipkan kepada pengurus rumahnya yang sudah lama menemani keluarga Prawiranegara. Jadi dia tenang selama bertugas di New York. Dia juga berpesan untuk selalu melihat makan kedua orang tuanya untuk selalu dijaga dan dibersihkan setiap pekan.


Tak terasa sudah tiga tahun Yudha bertugas di New York dan sudah mulai bisa melupakan kesedihan ditinggal kedua orang tuanya. Sebelum menghabiskan masa tugasnya dia sempatkan untuk pulang ke Indonesia menghadiri acara pernikahan kedua sahabatnya Myra dan Pras.

Dia teringat pesta pernikahan tadi dan bertemu dengan seorang artis ibu kota yang menurut Myra sudah direncanakan untuk dikenalkan kepada Yudha. Dia tersenyum sendiri apabila ingat kejadian tadi sewaktu dia mengantarkan Farah ke rumahnya. Walaupun baru bertemu dan berkenalan hari ini, ada sesuatu dalam diri Farah yang menarik hatinya.

Bi Neni melihat majikan nya senyum-senyum sendiri jadi merasa aneh. Dia kemudian menghampiri Yudha untuk membereskan meja makan, karena dia lihat Yudha sudah selesai makan dan hanya melamun saja sambil senyum sendiri.

“Sudah selesai makan nya den…”. Tanya bi Neni.
“Eh iya sudah bi…”. Jawab Yudha.
“Kok senyum-senyum sendiri, ada apa den…”. Tanya bi Neni lagi.
“Nggak ada apa-apa bi hehe…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.
“Kalau sudah makannya, sini bibi bereskan tempat makannya”. Kemudian bi Neni mulai membereskan meja makan. Sementara Yudha masuk ke kamarnya untuk istirahat. Besok dia berencana mau berziarah ke makam kedua orang tuanya, karena selama tiga tahun ini dia belum sempat berziarah sama sekali. Tugas nya di New York yang menyebabkan dia belum sekalipun berziarah ke makam kedua orang tuanya. Tapi menurut mang Ukan, makam kedua orang tuanya selalu dia bersihkan setiap pekan dan sampai sekarang masih bersih dan terawat.


Cerita sebelumnya Chapter 01 – The Wedding