Diplomat Bag. 1 – The Wedding

Gedung pernikahan di Bidakara hari ini ramai sekali. Kendaraan hilir mudik keluar masuk dari gedung tersebut. Banyak tamu-tamu penting hadir disana. Tidak mengherankan karena yang menjadi raja dan ratu sehari adalah salah seorang pesohor yang ada di Ibu Kota Jakarta.

Hari minggu ini adalah hari pernikahan seorang artis film Indonesia yang bernama Myra Hadiningrat. Dia dipersunting oleh pujaan hatinya seorang pengusaha muda yang bernama Prasetya. Myra berpenampilan sangat cantik hari itu, memakai gaun pengantin serba putih. Serasi dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat, bibirnya yang merah merona senantiasa tersenyum ketika menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang datang. Wajah cantiknya selalu menampakan binar kebahagian, tak salah Prasetya mempersunting wanita ini. Perawakan nya yang tinggi langsing sangat serasi dengan Prasetya yang juga berperawakan tinggi tegap.

Jam delapan pagi tadi sudah dilaksanakan akad nikah di gedung yang sama. Selanjutnya setelah selesai acara adat dilanjutkan dengan resepsi pernikahan pada jam 11 siang. Pernikahan yang mewah untuk ukuran seorang artis sekalipun. Maklum dia dipersunting oleh seorang pengusaha sukses Indonesia. Ruangan resepsi dipenuhi dengan hiasan cantik berupa bunga warna-warni yang disusun sedemikian rupa sehingga memberikan kesan elegan dan mewah. Kursi pengantin berwarna emas dengan hiasan bunga mawar putih di sekeliling kursi yang diduduki oleh kedua mempelai dan kedua orang tua mempelai.

Sudah banyak tamu yang memberikan selamat kepada kedua mempelai, para tamu antri untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai dan kedua orang tua mereka. Tamu yang hadir pun kebanyakan adalah para pesohor negeri ini. Mulai dari para pejabat, pengusaha dan tentu saja teman artis dari sang pengantin wanita Myra.

Jam satu siang tamu mulai agak berkurang yang antri untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Tampak kedua mempelai sudah mulai jarang berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Dari kejauhan berjalan seorang pemuda dengan setelan jas warna biru tua dan celana jeans, berperawan tinggi tegap berjalan pelan. Wajahnya masih menampakan kelelahan, sepertinya dia baru menempuh perjalanan jauh. Dia berjalan sambil melihat ke kiri dan kanan, siapa tahu ada orang yang dikenalnya sedang duduk di kursi makan. Tapi nihil, ternyata tidak ada satu orang pun yang dikenal nya ada disitu. Tadinya dia bermaksud untuk bertegur sapa dahulu sebelum naik ke panggung tempat mempelai wanita dan pria duduk. Jadilah dia langsung berjalan menuju panggung dimana kedua mempelai menunggu tamu.

“Yudha….”. Teriak seseorang. Suara perempuan memanggil nama pemuda tersebut. Ternyata yang memanggil adalah mempelai wanita. Yudha tersenyum sambil berjalan ke arah kedua mempelai. Setelah sampai kemudian sang mempelai wanita yaitu Myra memeluk Yudha. Sang mempelai pria hanya tersenyum melihat kelakuan wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.

“Selamat ya… maaf aku nggak bisa menghadiri resepsi pernikahan kalian, pesawatku delay di Singapura, jadi deh terlambat sampai Bandara Soetta.”. Ujar Yudha.
“Iya nggak apa-apa, sudah syukur kamu bisa sampai hari ini jauh-jauh dari New York”. Balas Myra. Yudha kemudian beralih memeluk Prasetya sang mempelai pria.
“Selamat ya Pras, akhirnya jadi juga kalian menikah”. Yudha berkata sambil tersenyum dan masih memeluk prasetya.
“Iya terimakasih juga, kamu sudah jauh-jauh datang menghadiri pernikahan kita”. Jawab Prasetya.

“Yud, kamu jangan pulang dulu, nanti selesai resepsi kita ngobrol-ngobrol ya disini”. Myra berkata setelah Yudha selesai memeluk suaminya.
“Iya aku nggak akan pulang dulu”. Kata Yudha.
“Ayo kamu makan sana, pasti kamu lapar dan masih jet lag habis turun dari pesawat”. Ujar Prasetya.
“Oke aku ke tempat makan dulu ya…”. Yudha kemudian berjalan menuju ke tempat makan.

Yudha bersyukur akhirnya Myra sahabatnya ini jadi juga menikah dengan pujaan hatinya Prasetya. Padahal yang dia dengar dari Myra sebelumnya, orang tua Myra agak kurang setuju dia menikah dengan Prasetya, karena alasan bibit bebet dan bobot dari Prasetya yang bukan keturunan ningrat. Maklum orang tua Myra masih ada hubungan kekerabatan dengan keraton kesultanan Solo. Tapi sepertinya mereka bisa meyakinkan orang tua Myra sehingga bisa melangsungkan pernikahan hari ini.

Yudha sudah mengambil beberapa potong kue dan minuman yang dihidangkan di pesta pernikahan tersebut. Dia masih merasa belum lapar karena tadi begitu turun dari pesawat sempat makan dulu di café bandara. Tadi dia sempat pulang ke rumah dan berangkat mengendarai mobilnya. Dia beruntung bisa diberikan cuti seminggu oleh atasannya walaupun persetujuan nya mepet sampai hari H pernikahan Myra dan Pras. Tapi bagus juga ada sisa hari yang bisa dia gunakan untuk istirahat di Jakarta sambil jalan-jalan.

Yudha sebetulnya hanya tinggal dua bulan lagi bertugas di New York dari tiga tahun dinasnya disana, makanya atasannya tidak memberikan dia ijin cuti karena mendekati akhir tugas dia. Tapi Yudha bersikeras minta cuti karena akan menghadiri pernikahan sahabatnya. Akhirnya ijin pun diberikan oleh atasannya.

Sambil menyantap potongan kue, Yudha melihat sekeliling. Banyak juga teman Myra dan Pras yang menghadiri pernikahan mereka. Rata-rata masih muda dan berpenampilan layaknya artis Ibu Kota. Dia maklum karena Myra adalah artis terkenal. Dia kemudian melihat ke arah pengantin yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.

Ketika giliran seorang wanita yang mengucapkan selamat kepada Myra, dia girang banget dan memeluk erat wanita tersebut. Sambil memeluk wanita tersebut, Myra melihat ke arah Yudha dan tangannya menunjuk wanita yang dipelukannya tersebut. Yudha tidak mengerti maksud dari Myra dan hanya mengangkat tangan dan berkata ‘Apa’ tanpa mengeluarkan suara. Wanita tersebut mengenakan kebaya gaun berwarna pink, tapi Yudha tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari wanita tersebut.

“Baik para tamu undangan sekalian, terima kasih telah datang ke resepsi pernikahan dari Myra dan Pras”. Ujar MC di panggung band pengiring pernikahan.
“Apabila dari hadirin sekalian yang ingin menyumbangkan lagu, silahkan untuk naik ke atas panggung”. Lanjut MC tersebut.
“Mas Jery… sini…”. Panggil Myra kepada MC tersebut. Kemudian Jery sang MC berjalan ke arah Myra di kursi pengantin. Myra kemudian berbisik kepada Jery.
“Mas tolong panggil yang namanya Yudha, suruh naik ke atas panggung dan nyanyi ya…”.
“Ok siip, akan saya panggil”. Jawab Jery. Kemudian dia naik kembali ke atas panggung tempat band pengiring pernikahan berada.

“Atas permintaan dari pengantin, kami panggil Yudha untuk naik ke atas panggung ini”. Ujar Jery.

Yudha yang sedang duduk dan menikmati hidangan di meja kaget bukan main. Dia melihat ke arah MC dan ke arah pengantin. Di kursi pengantin Myra tersenyum dan mengangkat jempol. Wah Myra ngerjain aku kayaknya nih, pikir Yudha.

“Sekali lagi kami panggil saudara Yudha ke atas panggung”. Jery sekali lagi memanggil Yudha. Akhirnya Yudha berdiri dan mulai melangkah ke arah panggung.
“Oke kita kasih tepuk tangan untuk Yudha yang akan menyumbangkan lagu di pernikahan Myra dan Pras”. Para tamu serentak memberikan tepuk tangan nya ketika Yudha melangkah ke arah panggung dan kemudian naik ke atas panggung. Setibanya Yudha di atas panggung kemudian dia membungkuk ke arah para tamu undangan dan kepada kedua mempelai.

“Oke kita ngobrol dulu sebentar”. Kata Jery.
“Yudha ini temannya siapa? Myra atau Pras?”. Tanya Jery.
“Saya teman keduanya, tapi saya lebih dulu kenal dengan Myra, dia teman kuliah saya”. Jawab Yudha.
“Mau nyanyi lagu apa?”. Tanya Jery. Kemudian Yudha berbisik kepada Jery. Jery mengangguk lalu memberitahukan lagu yang akan dibawakan oleh Yudha kepada para pemain band pengiring pernikahan.
“Baik selamat siang, perkenalkan saya Yudha. Kali ini saya akan membawakan lagu khusus untuk kedua mempelai”. Ujar Yudha sambil menunjuk ke arah kedua mempelai. Kemudian dia memberikan kode untuk mulai kepada personel band pengiring pernikahan.
“Ini dia ‘Angel’ dari John Secada”. Kemudian Yudha mulai menyanyikan ‘Angel’ nya John Secada.

Suara Yudha menggema di area ruangan pernikahan tersebut. Suara yang bisa menyamai suara penyanyi aslinya. Semua mata tertuju ke panggung band pengiring dan mengagumi suara dari Yudha. Tepuk tangan kemudian mengiringi selesainya Yudha bernyanyi di atas panggung. Kemudian dia kembali ke tempat duduk semula dengan tatapan mata dari undangan yang ada di pernikahan tersebut. Lega rasanya sudah bisa kembali bernyanyi, pikir Yudha. Ada beberapa pasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik Yudha, sepertinya mereka sangat mengagumi talenta anak muda ini. Termasuk teman Myra yang tadi di tunjuk olehnya kepada Yudha. Myra melihat gelagat tersebut dari atas tempat duduknya, dia kemudian tersenyum.

Jam tiga sore tamu undangan sudah berangsur meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Tinggal beberapa orang saja yang masih setia duduk, termasuk Yudha dan beberapa teman seprofesi Myra. Myra masih bercakap-cakap di tempat duduk tamu undangan ketika seorang wanita menghampirinya.

“Hai Farah… sini kita ngobrol bareng”. Panggil Myra kepada wanita tersebut yang ternyata bernama Farah, Farah Dewi lengkapnya. Dia juga salah satu artis Ibu Kota yang sedang naik daun, tapi tidak secemerlang Myra karirnya. Waktu itu Prasetya juga sedang bercakap-cakap dengan beberapa temannya tapi di meja yang lain.
“Kamu datang sama siapa?”. Tanya Myra.
“Aku tadi diantar sopir, tadi dia balik lagi ke rumah soalnya mau anter mama ke undangan juga”. Jawab Farah.
“Terus bagaimana, sekarang sudah datang sopirnya?”. Tanya Myra lagi.
“Itu dia, sudah di telepon dari tadi masih belum nyambung juga”. Jawab Farah.
“Oh begitu, ya sudah, sebentar tunggu disini”. Myra kemudian memalingkan wajahnya ke tempat duduk Yudha. Dia kemudian memanggilnya.

“Yudha… sini”. Panggil Myra. Yudha kemudian menghampiri mereka.
“Duduk Yud…”. Pinta Myra kepada Yudha. Kemudian dia ikut duduk satu meja, sebelumnya dia tersenyum dan mengangguk ke arah Farah.
“Nih kenalin ini sahabatku namanya Farah, dia artis juga loh… Farah kenalin ini namanya Yudha, dia sahabatku juga”. Yudha kemudian tersenyum kepada Farah.
“Yudha…”.
“Farah…”.
Mereka menyebut nama masing-masing sambil bersalaman. Setelah mereka selesai bersalaman kemudian Myra berkata.
“Far… Yudha ini sahabatku semenjak kuliah, dia baru datang dari New York. Sengaja datang buat menghadiri pernikahanku”. Yudha hanya tersenyum mendengar perkataan Myra.
“Oh begitu”. Ujar Farah.
“Yud kamu bawa mobil kan…?”. Tanya Myra.
“Iya bawa, kenapa memang…”. Jawab Yudha. Wah Myra nih, jangan-jangan nyuruh orang ini nganter aku, begitu pikir Farah.
“Boleh nggak aku minta tolong”. Ujar Myra.
“Iya boleh, minta tolong apa?”. Tanya Yudha.

“Tolong antar sahabat baikku ini pulang ke rumahnya, soalnya sopirnya belum datang”. Jawab Myra. Wah bener nih Myra ada-ada saja nyuruh aku dianter sama Yudha, kan nggak enak baru saja kenal, masa sudah merepotkan dia.
“Boleh…”. Jawab Yudha, dia tidak punya pikiran apa-apa saat itu, hanya mengantar pulang tidak masalah sepertinya, begitu pikirnya.
“Eh nggak usah, nanti merepotkan”. Farah berkata sambil melirik ke arah Myra dan sedikit cemberut. Myra hanya tersenyum melihatnya.
“Udah nggak apa-apa, percaya deh sama aku, Yudha orang nya baik”. Ujar Myra, dia tahu Farah tidak mau merepotkan orang, tapi dia pikir ini kesempatan dia untuk mempertemukan mereka berdua. Dia sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari. Dia tahu Yudha sedang jomblo, Farah pun demikian. Apa salahnya kalau mereka dikenalkan siapa tahu cocok dan akhirnya jadian, begitu rencana Myra. Dan akhirnya hal itu kesampaian sekarang, mumpung ada moment Farah sedang sendirian dan Yudha juga sedang ada di Jakarta.

“Ayolah…”. Kata Myra melihat Farah masih diam saja. Sementara Yudha menunggu apa yang akan dikatakan Farah.
“Ya sudah, oke deh”. Farah akhirnya menyerah dan menerima permintaan Myra.
“Nah gitu dong…”. Ujar Myra kepada Farah.
“Ayo sana antar…”. Myra berkata kepada Yudha sambil menyuruhnya pergi.

Yudha kemudian berjalan bersama dengan Farah menuju keluar gedung pernikahan tersebut. Mereka berdua hanya diam tak berkata apapun ketika berjalan. Masih bingung apa yang harus dibicarakan. Ketika sudah berada di lobby Yudha kemudian memanggil ‘vallet’ untuk mengambil kendaraan yang di parkirnya. Beberapa saat kemudian datang kendaraan BMW warna putih seri X1.

“Silahkan pak”. Kata petugas ‘valet’.
“Terimakasih”. Kata Yudha setelah menerima kendaraannya. Kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Farah.
“Silahkan…”. Yudha berkata sambil mempersilahkan Farah untuk naik.
“Terimakasih…”. Jawab Farah. Seleranya oke juga, begitu fikir Farah setelah dia ada di dalam mobil itu. Kemudian Yudha menutup pintu mobil dan berjalan ke tempat kemudi mobil tersebut.
“Kita ke arah mana?”. Tanya Yudha setelah berada di belakang kemudi mobil.
“Ke arah Jakarta Timur, rumah saya di Duren Sawit”. Jawab Farah.
“Tapi bener nggak nih, saya nggak merepotkan…”. Tanya Farah. Dia masih sungkan dengan orang yang baru dikenalnya ini.
“Nggak apa-apa, saya lagi nggak ada acara kemana-mana setelah dari pernikahan Myra tadi”. Jawab Yudha. Farah agak lega mendengar penjelasan nya, soalnya dia takut merepotkan sampai Yudha harus mengantarnya pulang. Ini lagi Myra, ada-ada saja nyuruh Yudha nganter aku, Farah berkata dalam hati.

“Ngomong-ngomong kamu sudah lama kenal sama Myra?”. Tanya Yudha setelah mobilnya berada di Tol TB Simatupang. Dia mencoba memecah kesunyian karena terlihat Farah masih sungkan sama dia.
“Ya cukup lama juga, setelah kerja bareng jadi pemain film, mungkin sekitar lima tahun kita kenal satu sama lain”. Jawab Farah.
“Oh gitu, pantesan kalian akrab banget”. Farah hanya tersenyum.
“Kalau Mas Yudha, sudah kenal lama sama Myra?”. Wah dia panggil mas sama aku hehe, pikir Yudha dalam hati.
“Saya sudah kenal sama Myra semenjak kuliah dulu, dia teman dekat saya di kampus, kita sering kerja sama bareng kalau ada kegiatan di kampus”. Jawab Yudha.
“Oh saya kira pernah dekat dalam hal apa gitu…”. Ujar Farah, dia jadi ingin menggoda orang yang baru dikenalnya ini.
“Wah nggak lah, saya juga kan kenal sama Pras, mereka kan sudah jalan bareng semenjak kuliah dulu”. Jawab Yudha.

“Oh iya, tadi suaranya bagus loh waktu mas Yudha nyanyi lagu Angel”. Ujar Farah.
“Terima kasih”. Jawab Yudha sambil tersenyum.
“Kenapa nggak jadi penyanyi saja, pasti banyak loh produser yang tertarik”. Kata Farah lagi.
“Nggak boleh jadi penyanyi sama mama”. Jawab Yudha polos. Wah anak mamih nih, begitu pikir Farah.
“Mama bilang jadi penyanyi tidak akan menjamin apa-apa di masa depan, lebih baik serius kuliah dan berkarir saja”. Jawab Yudha.
“Oh begitu, tapi tadi kok mau nyanyi?”. Tanya Farah.
“Soalnya mama sudah gak ada, jadi saya berani nyanyi lagi”. Jawab Yudha. Ada sedikit kesedihan disana.
“Oh maaf…”. Kata Farah. Farah terdiam beberapa saat karena merasa gak enak dengan Yudha.
“Nggak apa-apa”. Ujar Yudha.

“Oh iya, kalau kita keluar Tol Bintara bisa kan…?”. Tanya Yudha melihat Farah jadi terdiam.
“Iya bisa, eh maaf ya tadi saya salah ngomong ya…”. Ujar Farah.
“Nggak apa-apa, orang tua saya sudah tiga tahun yang lalu meninggal. Kecelakaan Pesawat sewaktu mau berangkat ke Malaysia tahun 2015 kemarin, yang kecelakaan Air Asia itu”. Kata Yudha.
“Jadi kedua orang tua mas meninggal waktu itu?”. Tanya Farah.
“Iya mereka meninggal sebelum saya berangkat ke New York”. Jawab Yudha.
“Saya turut berduka cita ya mas, maaf saya jadi mengingatkan mas sama orang tua mas”. Ujar Farah merasa bersalah.
“Ah tidak apa-apa, semua sudah takdir dan kejadiannya juga kan sudah lumayan lama”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kita sudah keluar Tol Bintara nih, jadi kita ke arah mana?”. Tanya Yudha.
“Mas ikut saja terus jalur BKT, nanti setelah ketemu ‘fly over’ kita putar balik ke arah Malaka, rumah saya di Jalan Malaka Raya, nanti persis nya saya kasih tahu”. Jawab Farah.

Kemudian mobil Yudha bergerak menyusuri jalan samping BKT ke arah Casablanca. Setelah ada ‘fly over’ kemudian putar balik ke arah ke Jalan Malaka Raya. Selama itu hening di dalam mobil tidak ada yang bicara. Farah hanya diam saja, dia jadi sangat merasa bersalah mengingatkan Yudha akan orang tuanya yang sudah meninggal.

“Kok jadi diam?”. Tanya Yudha.
“Nggak apa-apa, saya jadi merasa bersalah tadi”. Jawab Farah.
“Sudah tidak apa-apa, nggak usah merasa bersalah segala. Saya nggak apa-apa kok”. Kata Yudha.
“Bener mas…”. Tanya Farah.
“Iya bener…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.
“Jadi rumahnya di sebelah mana?”. Tanya Yudha setelah mobilnya berada di Malaka Raya.
“Nanti ada pertigaan di depan, terus masuk saja ke Jalan Wijaya Kusuma III”. Jawab Farah.

Kemudian mobil Yudha masuk ke Jalan Wijaya Kusuma III.
“Nah itu rumah saya yang sebelah kanan yang cat biru muda”. Kata Farah.
“Oh yang nomor 223A ya…”. Tanya Yudha.
“Iya bener”. Jawab Farah.
Setelah mobil Yudha berhenti di depan rumah Farah, mereka berdua kemudian keluar dari mobil. Tak seperti tadi sewaktu berangkat dari pesta pernikahan Myra, kali ini Farah keluar sendiri tanpa dibukakan pintu oleh Yudha.

Farah berusaha membuka pintu pagar rumahnya, tapi ternyata masih terkunci. Jangan-jangan mama belum pulang nih, pikir Farah. Gawat kalau begini, aku harus nunggu nih.
“Kenapa…”. Tanya Yudha.
“Sepertinya mama saya belum pulang, pintu pagar masih di kunci”. Jawab Farah.
“Ya sudah di tunggu saja, saya temenin nggak apa-apa kan…”. Tanya Yudha.
“Tapi mas Yudha nggak ada acara kemana gitu…”. Tanya Farah.
“Nggak ada…”. Jawab Yudha.
“Hari ini saya nggak ada acara kemana-mana, saya nggak punya rencana kemana-mana selama seminggu ini”. Lanjut Yudha.
“Kok seminggu?”. Tanya Farah aneh. Mereka melanjutkan percakapan sambil bersandar di depan mobil Yudha.
“Iya saya hanya dapat cuti selama satu minggu, dan tidak ada rencana kemana-mana selain menghadiri pernikahan Myra, setelah itu saya langsung balik ke New York”. Jawab Yudha.

Yudha kemudian masuk kedalam mobil dan mengambil sesuatu. Ternyata dia mengambil kamera Sony DSLR miliknya. Mau apa dia? Begitu pikir Farah.

“Sambil ngobrol dan menunggu mama kamu pulang, boleh nggak saya ambil beberapa foto kamu?”. Tanya Yudha. Dia pikir momen ini harus di abadikan. Selagi ada wanita cantik di depannya.
“Oh mau ambil foto, Mmm boleh aja sih, tapi buat apa?”. Tanya Farah.
“Ya… buat kenang-kenangan aja, siapa tau nanti saya ingat kamu waktu di New York. Kan tinggal liat fotonya aja”. Kata Yudha mencoba menggoda Farah. Farah hanya tersenyum mendengar perkataan Yudha.
“Fotonya sambil ngobrol aja ya, jadi kayak ‘candid’ gitu”. Ujar Yudha.
“Oh gitu, oke deh”. Jawab Farah. Jadilah Yudha fotografer dadakan di depan rumah Farah. Dia tampak anggun menggunakan kebaya dengan terusan warna pink. Sambil sesekali berpose, Farah meneruskan obrolan tadi.

“Mas Yudha di New York kerja apa?”. Tanya Farah.
“Oh… saya di New York kerja di KJRI”. Jawab Yudha.
“KJRI…? Maksudnya kedubes gitu?”. Tanya Farah.
“Bukan… kalau KBRI atau Kedubes Indonesia kan di Washington, kalau di New York KJRI, setingkat dibawah KBRI, hanya Konsulat Jenderal saja”. Jawab Yudha.
“Jadi mas Yudha ini semacam diplomat begitu?”. Tanya Farah.
“Iya, saya atase politik dan perdagangan”. Jawab Yudha.
“Wah enak dong jalan-jalan terus di luar negeri…”. Kata Farah.
“Ya ada enaknya ada nggak enaknya, kadang kangen juga sih ingin pulang ke Indonesia, suasananya yang tidak bisa di gantikan, walaupun Jakarta macet tapi tetap saja kangen pengen pulang”. Jawab Yudha.

“Selain di New York, mas Yudha sudah tugas kemana saja?”. Tanya Farah.
“Sebelum di New York saya tugas di beberapa negara Eropa. Belanda, Perancis dan Spanyol. Tapi tidak lama hanya setahun. Sekarang yang paling lama di Amerika selama tiga tahun”. Jawab Yudha.

Banyak foto yang sudah diambil kamera Yudha. Foto-foto candid yang tidak di arahkan layaknya foto profesional. Tapi walaupun begitu banyak foto yang hasilnya bagus. Selain karena diambil saat masih siang, model fotonya pun cantik dan fotogenik. Kemudian Yudha memperlihatkan hasil foto tadi kepada Farah.

“Wah bagus juga ya foto-fotonya”. Ujar Farah.
“Boleh dong dikirim ke HP saya” Lanjutnya.
“Iya boleh, nomor HP nya berapa?”. Tanya Yudha.
“Oh iya, ini nomor HP saya”. Kemudian Farah menyebutkan nomor HP nya. Yudha mengeluarkan HP nya dan mencatat nomor Farah.
“Saya ‘misscall’ ya…”. Ujar Yudha. Kemudian dia menelpon HP Farah.
“Sudah masuk nih, saya ‘save’ ya”. Kata Farah.
“Oke”. Ujar Yudha.

Setelah itu kembali mereka melanjutkan obrolan seputar masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Namun mamanya Farah masih belum kelihatan juga.

“Mas Yudha kalau mau pulang nggak apa-apa kok. Saya ditinggal sendiri nggak apa-apa kan sudah di depan rumah sendiri”. Ujar Farah.
“Tenang saja, saya tunggu sampai mama kamu datang”. Jawab Yudha.
“Bener nih nggak apa-apa? Nggak ada yang marah nih kalau nemenin saya?”. Ujar Farah sedikit menggoda.
“Wah siapa yang marah…”. Ujar Yudha.
“Ya… siapa tahu, pacar mungkin…”. Farah berkata sambil tersenyum.
“Wah saya belum punya pacar…”. Jawab Yudha.
“Ah masa… cowok biasanya suka bohong kalau ketemu cewek yang baru dikenal”. Ujar Farah.

“Bener kok, saya belum punya pacar. Dan saya juga nggak mau punya pacar”. Jawab Yudha.
“Loh… kok nggak mau punya pacar?”. Tanya Farah heran.
“Saya lagi nggak nyari pacar. Saya lagi nyari istri”. Jawab Yudha sambil tersenyum. Wajah Farah bersemu merah, terlihat karena kulitnya yang putih bersih. Kena aku dikerjain, begitu pikir Farah.

“Enak ya kalau jadi istri diplomat bisa jalan-jalan keluar negeri”. Ujar Farah kemudian.
“Ada enak dan nggak enak nya sih. Kalau pengalaman beberapa teman yang sudah menikah mereka biasanya kangen pulang kalau sudah tugas. Karena harus terus menemani suami mereka dimana mereka bertugas”. Jawab Yudha.
“Kalau kamu jadi artis kan enak, terus juga terkenal dan jadi selebritis”. Ujar Yudha.
“Sama juga ada enak dan nggak enaknya”. Ujar Farah.
“Memang ada nggak enak nya jadi artis?”. Tanya Yudha.
“Iya banyak juga, salah satunya kalau sudah dibully sama netizen. Wah nggak enak banget pokoknya. Jaman sekarang jadi artis di dunia nyata sekaligus jadi artis di dunia maya. Harus pinter-pinter pokoknya”. Jawab Farah.

Ketika sedang asik bercakap-cakap, Farah melihat mobil Nissan Serena nya sedang menuju ke rumahnya. Sepertinya mama nya juga sudah melihat Farah.

“Nah… tuh mama saya sudah datang”. Ujar Farah. Ketika mobil Farah sudah di depan rumahnya kemudian mama nya Farah turun.

“Loh kamu sudah dirumah? Mama pikir masih di resepsi Myra. Tadi nya Pak Maman mau mama suruh jemput kamu”. Ujar mama Farah.
“Mama sih, Farah telepon dari tadi nggak di angkat-angkat. Jadi Farah di anter pulang sama temennya Myra”. Ujar Farah. Yudha mengangguk dan tersenyum kemudian menyalami mama Farah.

“Perkenalkan tante, saya Yudha. Saya teman nya Myra. Tadi kebetulan saya juga mau pulang dari resepsi, jadi sekalian saya antar Farah pulang”. Ujar Yudha.
“Oh iya, terimakasih ya sudah mengantar Farah pulang. Ayo masuk dulu”. Ajak mama Farah.
“Iya mas Yudha kita masuk dulu”. Ajak Farah. Yudha nampak masih kebingungan antara menerima ajakan mereka atau tidak. Tapi apabila menolak rasanya tidak enak juga.
“Baik tante”. Jawab Yudha.
“Nah gitu dong…”. Ujar mama Farah.

“Silahkan duduk”. Ujar Farah ketika sudah ada di ruang tamu. Sementara mama Farah masuk ke ruang keluarga dan terus menuju dapur rumah mereka.
“Terima kasih”. Jawab Yudha.
“Mau minum apa?”. Tanya Farah.
“Nggak usah repot-repot”. Jawab Yudha.
“Nggak repot kok, mau kopi, teh atau juice?”. Tanya Farah.
“Saya nggak minum kopi, air putih saja cukup”. Jawab Yudha. Farah memandang aneh ke arah Yudha. Kok ada ya laki-laki yang nggak suka kopi, jangan-jangan dia nggak merokok juga, pikir Farah.
“Oh iya sebentar ya…”. Ujar Farah. Kemudian dia masuk kedalam.

Di dapur dia melihat mamanya sedang menyiapkan segelas orange juice.

“Buat siapa mam?”. Tanya Farah.
“Buat temen kamu”. Jawab mama.
“Nggak usah mam”. Ujar Farah.
“Loh kok nggak usah?”. Tanya mama.
“Sudah Farah tawarin Juice, Kopi sama teh. Dia nggak mau katanya air putih saja”. Jawab Farah.
“Masa sih…”. Mama memandang heran.
“Hidup sehat barangkali mam. Dia diplomat loh mam. Baru datang dari New York”. Ujar Farah.
“Oh ya… hebat dong, ganteng lagi…”. Mama menggoda Farah sambil tersenyum.
“Ah mama, baru saja kenal”. Ujar Farah malu-malu.
“Eh kok anak mama malu-malu gitu, suka ya…”. Tanya mama.
“Mama ada-ada saja, baru saja kenal masa sudah suka”. Farah berkata sambil menuangkan segelas air putih. Kemudian bersiap membawanya ke ruang tamu. Mamanya hanya tersenyum melihat anak gadisnya berjalan sambil membawa segelas air putih. Tidak biasanya dia begini, biasanya malas-malasan kalau ada tamu, mana mau dia sampai membawa gelas segala buat tamunya, jangan-jangan ada mau nya nih, begitu pikir mama Farah.

Di ruang tamu, Yudha masih duduk menunggu Farah keluar. Sambil duduk dia melihat sekeliling ruang tamu, ruang tamu yang sederhana dan minimalis. Dia lihat di bawah meja ada beberapa majalah. Dia coba mengambil majalah tersebut. Ada foto Farah disana. Model juga dia ternyata, pikir Yudha. Foto nya bagus dan cantik, ups… Yudha tersenyum sendiri. Dia lihat di meja ruang tamu ada beberapa foto Farah terpajang disana. Fotonya bagus-bagus dan ya… memang cantik, Yudha kembali tersenyum sendiri.

“Loh kok senyum-senyum sendiri?”. Farah berkata sambil menghampiri Yudha dengan membawa segelas air putih.
“Eh… nggak apa-apa”. Jawab Yudha tergagap.
“Maaf ya saya lihat-lihat majalahnya tanpa ijin”. Lanjut Yudha.
“Oh itu, gak apa-apa”. Ujar Farah tersenyum.
“Foto nya bagus-bagus”. Ujar Yudha.
“Tapi kok hanya sendiri?”. Lanjutnya.
“Maksudnya…?”. Farah malah bertanya tanpa menjawab pertanyaan Yudha.
“Nggak berdua sama pacar gitu…”. Tanya Yudha sambil tersenyum.
“Oh itu, kirain apa. Mmm… lagi nggak ada aja”. Jawab Farah.
“Maksudnya nggak ada… nggak punya pacar…?”. Tanya Yudha. Farah mengangguk pelan. Malu-malu dia ternyata, begitu pikir Yudha.

“Silahkan diminum”. Ujar Farah setelah sunyi sesaat.
“Oh iya terima kasih”. Jawab Yudha, kemudian dia meminum air putih yang tadi dibawa Farah.
“Oh iya sekarang lagi syuting apa?”. Tanya Yudha.
“Lagi syuting Web Series”. Jawab Farah.
“Web series?”. Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi. Farah hanya tersenyum.
“Maksudnya sinetron?”. Tanya Yudha.
“Bukan… syuting film seperti biasa, tapi tayang nya di internet nggak di TV atau di bioskop”. Jawab Farah.
“Oh begitu, saya baru tahu ada film yang seperti itu”. Jawab Yudha terus terang. Dia jarang memperhatikan hal semacam ini. Wajar memang, karena sehari-hari yang dia kerjakan hanya perihal politik dan perdagangan luar negeri.
“Syuting nya dimana?”. Tanya Yudha kemudian.
“Masih di seputar Jakarta juga, hari kemarin syuting di Kelapa Gading”. Jawab Farah.
“Wah dekat dengan rumah saya tuh”. Ujar Yudha.
“Rumah mas Yudha dimana memangnya?”. Tanya Farah.
“Di daerah Kayu Putih yang mau ke arah Kelapa Gading”. Jawab Yudha.
“Oh disana ya…”. Jawab Farah. Dalam hati dia bergumam, nih cowok ‘high class’ banget sih, mobil BMW seri terbaru, rumah di Kayu Putih yang kata orang disana daerah elit. Tapi kok masih jomblo ya…

“Oh iya, kalau syuting mulai jam berapa?”. Tanya Yudha. Kenapa juga dia nanya syuting ku jam berapa, pikir Farah. Tapi akhirnya dia jawab juga.
“Biasa sih berangkat dari rumah jam tujuh pagi, saya di temenin mama kalau syuting”. Jawab Farah tanpa ditanya dia memberitahu bahwa mama nya setiap hari ikut dia syuting.
“Enak ya kamu kemana-mana masih bisa di temenin mama, kalau saya sekarang sendiri kalau kemana-mana”. Ujar Yudha.
“Mas Yudha memang nggak punya saudara?”. Tanya Farah.
“Nggak… saya anak tunggal, jadi sekarang juga di rumah sendiri saja. Ada sih di rumah yang jaga rumah sama yang mengurus kebun, paling kalau di rumah ya bertiga saja sama mereka”. Jawab yudha.

“Wah sama dong, saya juga anak tunggal”. Ujar Farah.
“Oh ya… kok bisa sama ya…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.
“Iya makanya mama selalu menemani kalau sedang syuting, nggak ada siapa-siapa soalnya kalau di rumah, suka kesel katanya”. Farah berkata sambil melihat ke arah foto-foto yang ada di meja ruang tamu.
“Di rumah nggak ada siapa-siapa? Kalau papa kamu nggak di rumah?”. Tanya Yudha.
“Papa sudah nggak ada mas, beliau meninggal sepuluh tahun yang lalu”. Jawab Farah.
“Oh.. maaf”. Ujar Yudha.
“Nggak apa-apa mas, papa sudah lama banget meninggalnya, saya sudah terbiasa hidup berdua sama mama”. Jawab Farah sedikit tersenyum.
“Saya juga kalau teringat orang tua rasanya gimana gitu, teringat kebaikan mereka, terutama mama… masih terngiang-ngiang di telinga saya ingin segera mempunyai cucu, tapi apa daya saya tidak bisa secepatnya menikah karena ada ikatan dinas di deplu”. Ujar Yudha.
“Eh kok saya jadi curhat ya…”. Ujarnya lagi sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa mas, tapi maaf ya saya jadi mengingatkan kembali kepada orang tua mas Yudha”. Farah berkata begitu sambil menyesali dirinya yang mengingatkan kembali tragedi yang menimpa orang tua Yudha.
“Nggak apa-apa, namanya juga takdir tidak bisa dihindari”. Ujar Yudha.

“Oh iya, mas Yudha setelah cuti nanti kembali lagi ke New York?”. Tanya Farah.
“Iya, nanti hari sabtu depan saya berangkat lagi”. Jawab Yudha.
“Oh, begitu ya”. Ada nada penyesalan disana. Yudha pun melihat itu. Lalu dia berkata.
“Tapi saya tugas di New York hanya tinggal dua bulan lagi. Habis itu saya kembali tugas di Jakarta”. Katanya sambil tersenyum.
“Oh hanya tinggal dua bulan lagi”. Farah berkata sambil tersenyum juga, sudah mulai nyambung nih ngobrol sama dia.
“Iya… tapi saya juga tidak tahu berapa lama tugas di Jakarta, nanti kalau saya sudah balik ke Jakarta boleh ya saya main lagi ke rumahmu?”. Tanya Yudha.
“Tapi itu juga kalau kamu nggak sedang syuting”. Yudha melanjutkan.
“Oh iya boleh aja”. Jawab Farah.

Tak terasa suasana sudah berangsur-angsur gelap, pertanda sudah mulai menjelang malam. Sepertinya dia harus pamit pulang dari rumah Farah, begitu pikir Yudha.

“Sudah mau malam, saya pamit pulang dulu ya…”. Ujar Yudha.
“Oh iya sebentar”. Farah berkata sambil masuk kedalam ruang keluarga. Dia memberitahu mamanya kalau Yudha mau pamit pulang.
“Kok buru-buru?”. Tanya mama Farah sambil keluar dari dalam ruang keluarga.
“Iya tante sudah mau malam, lain kali saya mampir lagi”. Jawab Yudha. Kemudian dia menyalami mama Farah. Dia menyalami mama Farah seperti kepada orang tua sendiri, meletakkan tangan mama Farah di kening Yudha, alias salim. Farah dan mama nya saling pandang, tapi dibalik itu semua mama Farah jadi terkesan karena jarang ada anak muda sekarang yang berperilaku seperti itu.

“Libur di rumah aja dong nggak kemana-mana?”. Tanya Farah ketika mereka sudah berada di luar rumah. Sementara mama Farah sudah masuk lagi ke dalam.
“Iya nggak kemana-mana, paling saya lihat anak-anak di panti”. Jawab Yudha.
“Anak-anak? Di panti?”. Tanya Farah heran.
“Eh iya maaf, saya kok jadi cerita terus ya sama kamu”. Jawab Yudha.
“Maksudnya…?”. Farah masih bingung.
“Lain kali saja saya cerita, masih banyak waktu kok. Mmm… boleh saya lihat kamu syuting? Besok kamu syuting kan?”. Tanya Yudha.
“Iya… besok saya syuting, masih di Kelapa Gading juga”. Jawab Farah.
“Besok di ‘share location’ ya tempatnya”. Ujar Yudha.
“Boleh… besok saya ‘share location’ tempatnya”. Ngapain ya dia mau lihat aku syuting segala. Ah biarkan saja, mungkin dia nggak ada pekerjaan di rumah.

Kemudian Yudha masuk kedalam mobilnya. Farah masih berdiri di depan teras rumahnya. Yudha membuka pintu kaca sebelah kiri. Dia melambaikan tangan dan menekan klakson mobil. Farah menjawab dengan melambaikan tangan juga. Kemudian mobil Yudha perlahan berjalan meninggalkan rumah Farah.


Bersambung ke Chapter 02 – Yudha Prawiranegara