Realita vs Imajinasi

Pernah dengar atau nonton film Inception? Film yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio ini rilis tahun 2010. Film ini menceritakan tentang mimpi yang bisa dikendalikan oleh manusia. Cerita dimana perbedaan antara realita dan imajinasi sangat tipis. Selain memang ceritanya bagus dari segi plot, yang membuat saya agak bertanya-tanya atau mungkin terkesan adalah ketika menceritakan tentang sekelompok manusia yang sedang dibius oleh suatu cairan tertentu, yang mengakibatkan mereka berada di suatu kondisi tidur atau lebih tepatnya mimpi yang bisa mereka kendalikan sendiri. Bahkan mimpi itu bisa mereka bagikan kepada siapa saja yang mereka mau atau mereka ajak ke dalam mimpi mereka.

Oke… saya tidak akan membahas panjang lebar tentang film ini. Apabila ada yang ingin menonton atau ingin bernostalgia kembali dengan film ini, bisa mencarinya di internet. Atau bisa membelinya di amazon. Yang ingin saya bahas disini adalah mimpi dan khayalan saya sendiri.

Saya mentasbihkan diri saya sendiri sebagai seorang novelis, walaupun belum pernah ada karya saya yang diangkat menjadi sebuah buku. Karya saya hanya saya publikasikan lewat blog novel ini.

Sebagai seorang penulis novel, tentu saja imajinasi atau khayalan adalah bahan utama saya. Boleh di tanyakan kepada penulis lain tentang ini. Tapi saya yakin mereka juga akan sependapat dengan saya.

Tahun 2018 sampai tahun 2019 ini adalah tahun produktif saya menulis. Walaupun saya sibuk bekerja di bidang IT, tapi saya sempatkan menulis novel ketika saya dalam perjalanan berangkat bekerja dan perjalanan pulang bekerja. Dalam dua tahun ini saya sudah menyelesaikan tiga buah novel. Novel terakhir sebelum saya vakum menulis adalah tahun 2006. Jauh sekali rentang waktunya sampai tahun 2018.

Tahun 2006 adalah tahun terakhir saya membuat novel. Setelah itu saya vakum menulis sampai menulis lagi tahun 2018 kemarin. Seperti yang saya sebutkan diatas, khayalan adalah bahan utama saya menulis novel. Pada tahun 2006 ke belakang, saya menulis novel berdasarkan imajinasi saya ketika saya sedang sendiri setelah pernikahan pertama saya kandas hanya dalam rentang waktu empat tahun. Ketika itu saya sedang menjalin hubungan dengan istri saya yang sekarang. Tapi saya tidak akan menceritakan kisah saya dengan istri saya yang sekarang, tapi saya akan menceritakan wanita lain. Ya… wanita lain. Terus terang saya tergoda dengan wanita lain. Wanita yang membuat saya penasaran. Anaknya mungil, lucu dan membuat saya ingin berkenalan semenjak saya pertama kali melihat dia. Memang waktu itu saya belum terikat janji suci pernikahan, tapi saya berkomitmen untuk menikah pada tahun berikutnya.

Wanita tersebut adalah karyawan perusahaan lain yang satu gedung dengan perusahaan saya. Saya sempat berkenalan dengan dia dan mengajak dia untuk ngedate. Namanya juga anak muda, pasti menggebu-gebu untuk mendekati wanita. Itu juga yang saya alami. Tapi sepertinya wanita tersebut kurang tertarik dengan saya. Entah karena saya terlalu menggebu-gebu, atau karena dia berlainan etnis dengan saya. Ya… dia orang chinese dan berbeda keyakinan dengan saya yang seorang muslim.

Dari sanalah awal mula imajinasi saya melayang kemana-mana. Mungkin karena keinginan saya yang tidak kesampaian, karena saya kecewa, jadilah saya menulis novel berdasarkan khayalan saya sendiri. Saya menulis novel seperti kesetanan. Dari pagi sampai sore saya menulis novel tersebut dan selesai hanya dalam tiga hari. Pekerjaan saya pun terbengkalai gara-gara saya menulis novel tersebut. Lalu saya publikasikan novel tersebut di blog saya, sebelum blog ini berganti nama menjadi website novel seperti sekarang. Banyak yang berkomentar dan bertanya apakah novel tersebut adalah kisah nyata? Saya tidak menjawab langsung, saya kembalikan lagi kepada para pembaca blog saya.

Kembali kepada khayalan, imajinasi atau khayalan saya sangat kuat waktu itu, sehingga mampu membuat beberapa cerpen dan novel saat saya menyukai wanita tersebut. Tapi karena keinginan saya tidak tercapai, saya akhirnya mundur teratur dan tidak mendekatinya lagi. Bertemu di lift atau di kantin pun hanya diam saja. Akhirnya saya menikah dengan pacar saya satu tahun kemudian. Satu tahun kemudian saya keluar dari perusahaan tersebut dan sudah melupakannya. Begitupun dengan kegiatan menulis novel, sudah saya lupakan dan blog ini tidak diurus sama sekali. Mati suri…!

Cerita berlanjut sepuluh tahun kemudian. Ya… sepuluh tahun! Rentang waktu yang sangat lama untuk kegiatan menulis. Tapi seperti dejavu, saya menulis lagi karena sedang suka dengan seseorang. Bukan suka kepada wanita seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi suka sebagai fans saja. Saya sadar kalau saya sudah mempunyai keluarga yang harus saya sayangi sepenuh hati.

Ada seorang artis wanita muda penuh talenta. Cantik dan banyak judul sinetron dan FTV yang sudah dibintanginya. Mulai dari sinetron yang judulnya alay-alay, sampai sinetron serius dan sitkom. Akting nya memang diakui oleh semua orang terlebih kalau memerankan tokoh antagonis. Luar biasa memang wanita ini. Pesonanya bisa membius siapapun. Bahkan acara sekelas ‘The Comment‘ di Net. TV pun menamai artis ini dengan sebutan ‘Our Own Favorit’ atau kesukaan kita semua. Tinggi, langsing, putih dan cantik, standar wanita cantik di Indonesia. Sama satu lagi, dia sering banget ganti-ganti gaya rambut. Kadang juga rambutnya di highlight dengan warna rambut yang bermacam-macam sehingga kalau dilihat wajahnya sering berubah-ubah sesuai dengan gaya rambutnya.

Followersnya di Instagram sudah mencapai 348K lebih. Disanalah saya sering melihat keseharian dia, pulang pergi syuting dan keseharian dia selama di lokasi syuting. Selain di IG, banyak juga yang memposting videonya di Youtube. Saya sudah sering DM dia mengomentari setiap InstaStory nya. Tapi ya… namanya juga artis, gak mungkin dia balas DM orang yang nggak dikenal walaupun itu adalah fans nya sendiri. Lagipula saya memang tidak mengharapkan balasan DM dia, hanya ingin berkomentar saja di InstaStory nya.

Bulan Agustus tahun 2018 adalah awal mula saya melihat aktingnya di TV, ketika dia main di sebuah sitkom dan langsung jatuh hati. Insting saya menulis tiba-tiba hidup kembali dan saya mulai menulis lagi. Tentu dengan artis ini sebagai bahan khayalan saya. Tapi jangan salah ya, saya tidak mengkhayal yang jorok-jorok seperti kebanyakan cerita-cerita yang ada di internet. Syukur sekarang cerita-cerita seperti itu sudah di blok kominfo lewat google dan search engine besar lainnya seperti bing dan yahoo. Khayalan saya berkelana kemana-mana dengan artis ini sebagai pemerannya. Satu novel selesai bersamaan dengan selesainya sitkom tersebut. Ternyata bakat menulis saya masih ada. Khayalan saya bisa terbang kemana-mana dengan artis ini sebagai role model saya.

Mulai saat itu saya memutuskan untuk menekuni kegiatan menulis lagi. Berkhayal yang tinggi-tinggi sampai setinggi langit. Saya berkhayal kemanapun yang saya mau. Menjadi apapun yang saya mau. Menceritakan apapun yang saya mau. Ternyata dengan menulis, saya bisa menumpahkan perasaan saya yang selama ini hanya ada di pikiran saya. Saya bisa menuliskan apapun yang saya mau walaupun itu hanyalah sebatas khayalan semata.

Ternyata dunia khayalan memang indah. Saya bisa bebas mengekspresikan apapun yang saya mau. Tetapi realita tetaplah realita. Saya di dunia nyata sangatlah berbeda dengan saya di dunia khayalan. Walaupun apabila ada karakter laki-laki di novel saya, tidak akan jauh berbeda dengan karakter saya di dunia nyata. Tetapi khayalan tetapkah khayalan. Di dunia khayalan saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, tetapi tidak demikian dengan dunia nyata. Saya harus kembali lagi berhadapan dengan dunia nyata yang tidak seindah dunia khayal yang saya ciptakan. Dunia nyata bukanlah dunia yang bisa kita kendalikan sendiri. Dunia nyata milik semua orang. Ada orang tua, saudara, istri dan anak saya yang memerankan diri mereka masing-masing, tanpa bisa saya kendalikan seperti halnya di dunia khayalan saya.

Oh iya… istri saya sangat tidak setuju saya menulis novel atau cerpen. Suatu saat saya menulis salah satu novel saya waktu hari libur. Istri saya marah sekali melihat tulisan saya yang menceritakan salah satu tokoh novel saya. Dia bilang tidak ada gunanya menulis novel, untuk apa menulis novel, memang bisa menghasilkan uang dengan menulis novel, kamu menceritakan diri kamu sendiri dalam novel, dan lain sebagainya ocehan istri saya ketika mengetahui saya sedang menulis novel.

Akhirnya saya tidak pernah menulis novel ketika saya sedang liburan dan berada didalam rumah. Saya menulis novel saya saat saya sedang dalam perjalanan pergi dan pulang bekerja. Saya bekerja di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan rumah saya di daerah Gadog, Bogor. Jadi saya mempunyai waktu luang yang sangat banyak ketika melakukan perjalanan di dalam bis. Novel saya yang baru-baru ini ditulis, semuanya saya buat ketika dalam perjalanan pulang pergi Bogor-Jakarta. Editing pun saya lakukan dalam perjalanan pulang pergi bekerja. Setelah proses editing selesai, barulah saya pindahkan ke dalam format blog atau kedalam format MS-Word yang siap cetak apabila nanti ada kesempatan saya untuk mencetak novel tersebut. Tulisan ini pun saya buat ketika saya sedang dalam perjalanan pulang pergi bekerja Bogor-Jakarta.

Mungkinkah kegiatan menulis saya merupakan ekspresi dari semua khayalan saya yang tidak dapat saya ungkapkan di dunia nyata? Mungkinkah novel saya merupakan bentuk kekecewaan dari realita yang terjadi dalam kehidupan saya? Kekecewaan terhadap keluarga mungkin? Atau kekecewaan terhadap istri? Anak? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya hanya menulis apa yang ada di otak saya saat itu. Tapi saya tidak kecewa kepada kehidupan yang saya alami sekarang. Saya malah bersyukur diberikan anugrah untuk bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya. Tidak banyak orang yang bisa menuliskan apa yang ada di dalam pikiran mereka kedalam sebuah tulisan.

Namun akhir-akhir ini, khayalan yang saya tulis terasa menjadi hal yang nyata di depan saya. Terasa hanya ada awan tipis yang memisahkan antara dunia khayalan saya dengan dunia nyata. Terus terang nyali saya ciut membayangkan tulisan saya menjadi kenyataan. Apa yang harus saya lakukan apabila semua yang saya tulis merupakan perjalanan hidup saya sendiri? Apa yang harus saya katakan kepada semua orang kalau saya menulis masa depan saya sendiri? Kalau ingat itu semua saya bergidik, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi saya sudah terlanjur menumpahkan khayalan saya ke dalam bentuk tulisan. Apakah saya harus menghapus semua novel saya? Novel yang sudah saya buat dengan segenap perasaan saya?

Tapi satu hal yang pasti bahwa realita tidaklah seindah khayalan.

Tetaplah menulis Aji!.

Menulis bikin percaya diri

Hal yang saya rasakan sekarang adalah menulis kok bikin lebih pede ya?

Sudah lebih dari dua pekan saya kembali aktif menulis. Padahal kegiatan ini sudah saya tinggalkan sejak sepuluh tahun yang lalu. Karena kesibukan jadi semua yang pernah saya mulai terbengkalai.

Dulu saya aktif menulis di blog, banyak dari teman-teman blogger yang menyarankan saya untuk membukukan atau lebih tepatnya membuat novel dari tulisan saya yang ada di blog. Waktu itu masih belum terpikir sampai kesana karena saya menulis hanya sekedar menyalurkan hobi saja.

Tapi setelah di pikir-pikir mungkin saat nya saya sekarang membukukan tulisan saya yang ada di blog menjadi sebuah novel, di ajukan ke penerbit dan di cetak. Atau kalau belum bisa di terima penerbit ya cetak sendiri saja kemudian ajukan ISBN sendiri.

Saya pikir saya menulis untuk melanjutkan cerita saya yang tertidur selama sepuluh tahun, ternyata saya sekarang mempunyai ide baru untuk menuliskan cerita yang lain, mumpung masih ada kesempatan dan kemampuan untuk menulis.

Nah yang saya rasakan kok sekarang saya jadi lebih percaya diri ya setelah menulis ceita baru…

Saya rasa lebih percaya diri menatap kedepan, ehem ehem… hehehe…

SEMANGAT

Terus terang bahan tulisan saya adalah seorang cewek yang lumayan lagi naik daun di industri TV Indonesia sebagai pemain sinetron.

Videonya banyak bertebaran di internet sehingga saya tidak kesulitan untuk mendalami karakter cewek tersebut.

Nggak saya sebutkan disini ya… ntar saya kena copyright issue. Saya juga sebetulnya punya cita-cita untuk memberikan terlebih dahulu novel ini ke cewek tersebut sebelum mencetaknya.

Biar dikasih review dulu dan apabila di izinkan saya akan menyebut namanya dalam novel tersebut biar lebih seru.

Tapi saya sebutkan saja ya ciri-cirinya… Cewek minang, kalo dulu rambutnya suka di poni, kulit putih, langsing, wajahnya…wah ga tau deh gimana menceritakan kecantikan wajahnya, sering nongol di The Comment. Dah itu aja clue nya.

So segitu dulu tulisan saya hari ini.
I will be back.

Sepenggal percakapan yang tertunda

“Hai Lis…”.
“Hai…”. Seulas senyum menghiasi bibirnya
“Bagaimana kabarmu…?”.
“Baik…”. Jawabnya
“Kemarin kebanjiran…?”. Pertanyaan yang gak perlu
“Yah begitulah…”. Jawabnya singkat
“Terus kamu gak ngungsi…?”.
“Ih… ngungsi, kayak jaman perang aja”. Dia tertawa
“Kan rumahku agak tinggi, jadi air gak terlalu banyak masuk ke rumah, lagi pula kita bisa naik ke lantai dua jadi aman”.
“Oh gitu…”.
“Tapi kan daerah Kelapa Gading di kepung air…”.
“Ih… di kepung, kayak banyak musuh aja…”. Lagi-lagi aku salah ngomong.
“Memang sih aku gak bisa ke mana-mana, dua hari itu hanya di rumah saja. Paling kalau mau beli makanan baru pergi ke Carefour”.

Aku dan dia berbicara panjang mengenai banjir yang melanda Jakarta minggu kemarin. Aku juga tidak bisa ke mana-mana karena akses ke Jakarta tertutup semua. Aku hanya bisa menyaksikan tayangan televisi yang menayangkan daerah-daerah di Jakarta yang sudah terendam air, termasuk juga rumahnya di Kelapa Gading.

“Waktu banjir kemarin aku mencoba menelepon kamu, tapi gak bisa…”.
“Iya… memang jaringan Mentari drop semua minggu kemarin, aku juga gak bisa telepon ke mana-mana”. Jawabnya. (Yang pake Mentari jangan sensi ya heheh)
“Kamu kan pake XL… katanya masih bisa ya…”.
“Iya… tapi itu juga kalau mau isi pulsa susah banget”. Jawabku.
“Maaf ya Lis… aku gak bisa bantuin kamu apa-apa, soalnya untuk ke Jakarta saja akses susah banget, apalagi ke rumah kamu, mungkin harus pake perahu karet kali ya…”.
“Iya memang harus pake perahu karet, Tapi gak apa-apa kok, makasih udah mau niat bantu”.
“Sekarang sudah beres-beres rumah?”.
“Iya kemarin waktu air sudah surut, di rumah langsung bersih-bersih, kebetulan ada tukang yang biasa beres-beres di rumahku jadi gak terlalu repot”. Jawabnya
“Mobil kamu gimana?”.
“Wah jangan di tanya Ndi… di depan rumah sudah tidak kelihatan, setelah surut ternyata ada di ujung jalan”. Dia berkata sambil tertawa renyah.
“Trus masih bisa di betulin…?”.
“Sekarang sudah di bengkel… mungkin sekitar seminggu baru selesai”. Jawabnya
“Kamu ke kantor pake apa dong…?”.
“Aku di antar kakak…”.
“Oh kirain…”. Jawabku
“Kirain apa…?”. Tanya dia serius
“Aku kira di antar sama seseorang”. Jawabku
“Seseorang siapa…?”. Dia bertanya sambil tersenyum
“Itu tuh yang suka kamu jemput di kantornya…”.
“Oh itu…”. Dia hanya tersenyum, seperti sudah tahu kemana arah pembicaraanku. Tetapi dia tidak meneruskan jawabannya, hanya sampai di situ saja.

“Eh… sudah hampir jam satu siang, aku turun dulu ya…”.
“Iya gak terasa udah mau masuk kerja lagi”. Jawabku
“Aku duluan ya… thanks dah nanyain kabarku”.
“Iya… aku juga senang kamu baik-baik aja”. Entah apa maksud perkataanku ini. Dia hanya tersenyum.

Kemudian dia beranjak pergi dari meja makan. Kami tadi makan siang bersama dia kantin lantai empat. Tidak biasanya aku berani menghampirinya, dan sempat bicara panjang lebar dengannya. Biasanya aku hanya menyapanya sambil lewat apabila bertemu dengannya.

Dia masih seperti kemarin, tidak ada yang berubah dalam dirinya. Lembut dan selalu penuh senyum. Entah mengapa aku tidak bisa melupakannya, padahal sudah hampir setahun berlalu semenjak aku memberikan sekuntum mawar putih kepadanya, tanda aku mempunyai perasaan khusus kepadanya. Mungkin bunga itu sudah dia buang entah ke mana. Tapi yang jelas perasaanku padanya tidak pernah pupus. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih mengharapkannya, tapi sayang… selain memang dia sudah mempunyai ‘orang lain’ , dia selalu bersikap biasa-biasa saja di depanku.

Ada teman blogku yang bilang, sudah lupakan saja dia lanjutkan hidupmu. Tunjukkan siapa dirimu, berprestasilah setinggi mungkin, apabila kamu sudah meraih itu semua, jangankan Elisa… selusin cewek bisa mendekatimu sekaligus. Yeah… kalau di pikir-pikir ada benarnya juga perkataan dia. Untuk apa aku menunggu sesuatu yang belum pasti aku miliki. Selain karena perbedaan status sosial, aku juga di hadapkan pada kenyataan bahwa dia lain keyakinan dan lain etnis denganku. Padahal pada saat sekarang ini perbedaan seperti itu sudah banyak yang bilang ‘gak jaman’ atau ‘kuno lu’ atau ‘dasar kolot’ dan ungkapan lainnya yang sejenis.

Tapi apa mau di kata… aku sudah mencoba segala upaya untuk melupakan dia, yang terjadi aku semakin pusing di buatnya. Semakin mencoba melupakan aku semakin tersiksa di buatnya. Apa memang aku sendiri yang tidak mau melupakannya. Entahlah aku juga tidak tahu jawabnya. Sorry Jed… gue belum bisa melaksanakan anjuran you waktu itu. Mencoba sudah… tapi belum berhasil juga. Kurang maksimal kali ye…

Biarlah semua ini berjalan apa adanya. Biarlah perasaan ini berlalu. Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa melupakannya. Masih banyak yang harus aku urus, rumah yang baru aku tempati, pekerjaan yang menumpuk, blog yang terbengkalai. Blog… ya ya blog… Aku seperti mati suri sebulan ini. Aku tidak sempat lagi blogwalking, banyak comment yang belum sempat aku baca, banyak shoutbox yang belum sempat aku balas. Life must go on. Aku harus menyongsong hari esok, tidak ada yang bisa melakukannya selain diriku sendiri.

Keep figthting man…

Mengapa Aku Berubah

Kehidupan manusia memang tidak akan ada habisnya. Kisah demi kisah harus di jalani seiring berjalannya waktu. Mulai dari pangkuan ibu lalu tumbuh menjadi orang dewasa, dari tidak mengerti apa-apa menjadi orang yang tahu mana yang salah dan mana yang benar.

 

Aku menikah pada tahun 1996. Pernikahanku berlangsung cukup meriah. Walaupun dengan dana yang pas-pasan tetapi bisa dilaksanakan dengan meriah untuk ukuran kota tempat asalku.
 
Orang tuaku kurang menyetujui pernikahanku waktu itu. Alasannya aku belum cukup umur. Maklum saja aku baru berumur 23 tahun saat memutuskan untuk menikah. Aku di sarankan untuk bekerja dulu dengan sungguh-sungguh karena memang waktu itu aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Bogor. Di sanalah aku bertemu dengan calon istriku yang kebetulan satu pekerjaan denganku, Rina namanya. Dia juga sama-sama merantau ke kota Bogor dari kota asalku dulu.

 

Tapi atas dasar nafsu dan keangkuhan aku memaksakan kehendak untuk menikah. Nafsu… memang aku sangat ingin menikah dengan dia. Aku sudah berhubungan sangat jauh dengan dia. Selain memang hubungan ku sudah terlalu dekat, aku sudah seringkali menginap di rumah dia sehingga membuat orang tuanya khawatir akan keadaan ini. Mungkin takut anaknya terlanjur hamil hehe. Angkuh… ya, memang egoku sangat besar waktu itu. Selain merasa sudah mampu menghidupi seorang istri aku juga merasa mendapat dukungan dari kakek dan nenek ku sehingga orang tua ku tidak di dengar.

 

Padahal waktu itu ada seorang gadis yang menungguku di tempat asalku. Dia adalah tetangga dekat rumahku. Walaupun kami belum berikrar apa-apa tapi aku tahu dari pembicaraan sehari-hari kalau dia sangat mengharapkan aku, begitupun keluarganya. Orang tuanya malah sudah berterus terang kepadaku kalau dia sangat bangga bila nanti Rani bisa aku persunting.

 

Tapi memang pada dasarnya manusia serba ingin tahu. Setelah tahu ingin merasakan. Setelah merasakan sekali ingin lagi, dan setelah itu ingin memiliki. Setelah tahu nikmatnya bercinta, akhirnya aku ketagihan. Ingin lagi, lagi dan lagi. Tak perduli apa kata orang. Tak perduli nasehat orang tua. Semua norma yang ada aku dobrak. Telingaku sudah tidak lagi bisa mendengar. Tertutup oleh desahan-desahan manja. Mataku sudah tidak bisa melihat. Terbutakan oleh buaian-buaian mesra seorang perempuan.

 

Betapa kecewanya orang tuaku. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuanku. Tapi yang namanya orang tua memang selalu pemaaf. Melihat anaknya berkelakuan seperti itu tetap saja mereka terima dengan lapang dada. Yang paling merasa tersakiti adalah Rani. Betapa kecewanya dia mendengar aku menikah. Memberitahu dia pun aku tidak. Apalagi memberinya sepucuk undangan. Aku sama sekali tidak memperdulikan perasaanya waktu itu. Beberapa hari setelah resepsi pernikahaanku dia mengirimkan surat kepadaku. Dia mengungkapkan kekecewaanya atas keputusanku menikah saat itu. Dari isi suratnya aku mengetahui seberapa besar perasaannya kepadaku. Betapa bodohnya aku. Menyia-nyiakan orang yang selama ini menungguku. Pada saat resepsi pernikahan, orang tua Rani datang. Dia mencium kening dan pipiku serta memelukku habis-habisan. Sampai-sampai orang lain heran di buatnya. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Aku sudah menikah sekarang. Tidak mungkin aku mengulang waktu.

 

Jadi mengapa aku berubah? Dari seorang laki-laki pendiam menjadi orang yang sangat ketagihan bercinta. Apakah perubahan selalu terjadi karena seorang wanita?

Menikah???

07/10/2006 20:15:05 Ani wrote :
Ntar udah lebrn kt kwin ya, trus pndh rmh… kt slametan aja trus pndh, akad nikah aja.

 

07/10/2006 20:18:20 Aku wrote :
Tapi aku g enak sma ortu mu dek, masa ga ada rame2 dikit. Kmu kan cwek yg paling kcil di klrgamu.

 

07/10/2006 20:21:45 Ani Wrote :
Gpp mas… aku pgn cpt2 nikah, aku dah ga tahan gini terus. Usia ku dah brpa coba? Smpe kpn aku hrs trs nunggu?

 

Aku termenung. Mencoba mencerna sms yang baru saja aku terima. Tapi apalagi yang harus di cerna. Semuanya sudah jelas. Dia mengajak untuk segera menikah. Sebagai laki-laki normal aku juga ingin segera menikah. Walaupun aku sudah pernah mengalaminya sekali. Dulu sekali.

 

Sepuluh tahun yang lalu aku pernah menikah tetapi kemudian semuanya berakhir hanya dalam waktu lima tahun. Setelah itu aku belum pernah lagi mencoba untuk berhubungan dengan yang namanya wanita. Baru dua tahun belakangan ini aku menjalin kasih lagi dengan seorang wanita. Umurnya dua tahun di bawahku. Orangnya pengertian. Dia sangat mengerti dengan posisiku yang berstatus duda cerai sedangkan dia masih gadis. Dia menerima aku apa adanya. Tapi dia belum menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada keluarganya. Nanti saja kalau waktunya sudah tepat dia akan menceritakan semuanya. Begitu dia bilang.

 

“Dek… bagaimana dengan orang tuamu?” suatu saat aku bertanya. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan dek padahal namanya Andriani.
“Apanya yang bagaimana mas?”. Dia balik bertanya.
“Mengenai statusku”. “Aku kan sekarang duda, apa mereka mau menerimaku?”.
 
“Kita lihat saja nanti mas, “Toh yang akan menjalani aku, bukan mereka. Baik buruknya mas aku sudah tahu semuanya. Pasti mereka akan mengembalikan semuanya kepadaku”. Dia menjelaskan.

 

“Mungkin yang akan bereaksi paling keras adalah kakak iparku”. Dia melanjutkan. Kakak iparnya memang agak dominan di keluarganya. Dia adalah suami dari Nina, kakaknya yang kedua. Sedangkan kakaknya yang pertama yaitu Elis, walaupun sudah mempunyai suami tetapi dalam masalah keluarga berada di bawah dia.

 

“Dia pernah berkata kalau statusnya nggak jelas nggak usah di teruskan. Bagaimana kalau dia duda apalagi punya istri kan rugi keluarga kita. Menikahkan perawan sama duda. Begitu katanya mas”. Aku hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasannya.
 
“Lalu kalau nanti dia menghalang-halangi bagamana dek?”. Tanyaku
“Aku akan melawan mas, memang dia itu siapa. Orang tuaku saja tidak akan menghalang-halangi aku kenapa dia yang jadi repot”. Jawabnya sedikit tegas.

 

“Aku tulus mencintai mas, aku terima mas apa adanya”.
“Iya dek aku juga tahu”. Aku terenyuh mendengar penjelasannya.
“Jadi tunggu apa lagi? Kapan mas akan melamarku?”.
“Menikah kan butuh biaya dek”. Jawabku
“Aku sedang mengumpulkan uang dulu. Kamu juga kan tahu keadaan keluargaku. Jadi semuanya harus aku yang menanggung”. Jawabku
“Iya tapi sampai kapan mas?”.
“Sabar lah dek, tunggu barang dua atau tiga bulan lagi. Mudah-mudahan uang ku sudah kumpul”. Jawabku

 

“Mas tahu gak… tiga bulan lagi itu sudah masuk tahun 2007, umurku sudah berapa mas?”.
“Iya mas juga tahu dek… umurmu sudah gak muda lagi. Tapi kan untuk biaya nikah, kita memerlukan dana yang tidak sedikit”. Aku mencoba menjelaskan lagi.
“Ya sudah terserah mas deh kalau begitu, aku ikut saja. Tapi aku harap jangan lama-lama ya mas”. Akhirnya dia pasrah juga.

 

Setelah percakapan itu dia belum pernah lagi menyinggung mengenai masalah pernikahan kami. Sebetulnya yang aku butuhkan memang hanya uang untuk biaya pernikahan. Aku sudah menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga jauh-jauh hari. Bahkan aku sudah menyiapkan rumah untuk kami berdua nanti. Walaupun rumah BTN tetapi cukuplah untuk tinggal kami berdua.

 

Aku mengira dari percakapan terakhir kami lah dia mulai berpikir untuk menyegerakan pernikahan kami. Padahal aku belum menyiapkan dana sedikitpun. Aku bermaksud mengumpulkan dana dari gajian bulanan dan THR tahun ini di tambah dengan bonus akhir tahun. Makanya aku meminta waktu kepadanya selama tiga bulan. Aku rasa cukuplah untuk mengumpulkan uang. Walaupun tidak banyak tapi mungkin bisa di gunakan untuk melaksanakan pesta kecil-kecilan di rumahnya.

 

Tapi setelah menerima sms dari nya dan berpikir berulang-ulang, apakah aku akan nekad saja menikah dengan dia tanpa ada pesta? Walaupun itu pesta kecil-kecilan? Mudah-mudahan setelah hari raya lebaran nanti aku sudah bisa menentukan sikap. Apakah aku akan menerima usulnya untuk menikah sederhana saja atau menunggu saja sampai uangku terkumpul. Aku berdoa semoga Yang Maha Kuasa memberiku petunjuk.

 

Amiin.

 

***

Perpisahan dua hati

Aku menghela nafas panjang.

“Aku khawatir sama kamu”. Aku akhirnya berbicara juga.
“Apa yang kamu khawatirkan sayang…”. Dia berbicara sambil tersenyum dan menggelayut manja di lenganku.
“Gaya nyetirmu itu lho”.
“Memang kenapa dengan gaya nyetirku?”. Dia tertawa renyah.
“Ah kamu seperti nggak tau, kamu tuh kalo jalan suka ngebut trus terlalu berani kalau mau nyalip mobil dari sebelah kanan”. Aku berkata dengan nada khawatir.
“Hehe… tenang sayang, don’t worry honey I’ll be fine”. Dia berkata dengan nada meyakinkan.
“Yah… gak apa-apa deh kalo gitu, tapi aku cuma mau pesan hati-hati kalo di jalan sendiri ya, soalnya kalau sendiri kamu nggak ada yang ngingetin”. Aku berkata sungguh-sungguh.
“Ok honey, ok honey”. Jawabnya.

Itulah pembicaraan terakhirku dengannya.

Aku memang selalu khawatir dengannya. Sebagai seorang kekasih wajar kalau aku mengkhawatirkannya. Terlebih lagi dia seorang cewek. Memang semenjak kenal dengan dia aku sudah tahu kalau dia suka bawa mobil dengan gayanya itu. Wajarlah, memang dia orang kaya. Semuanya selalu bisa dia penuhi. Sehingga berdampak terhadap pribadinya yang serba berani, serba lugas, dan sangat percaya diri. Tidak seperti aku. Aku hanya mahasiswa biasa. Bisa kuliah saja sudah bersyukur banget. Belajar nyetir mobil saja baru-baru ini. Dan itupun dia yang mengajariku. Sampai akhirnya aku bisa membawa mobil dengan lancar dan mendapatkan SIM.

Kami berhubungan semenjak setahun lalu. Aku pertama kali bertemu dengannya secara tidak sengaja pada pemilihan penyiar radio kampus. Aku tahu kalau namanya Maharani dari kartu peserta yang dia pakai di dada bagian kirinya. Orangnya tinggi semampai dengan kulitnya yang putih bersih, sepertinya sering dirawat. Aku dan dia sama-sama masuk final. Kami bersaing dengan sengit. Dia yang pandai bicara dengan aku yang sudah punya pengalaman dibidang siaran. Di kotaku dulu aku punya studio radio yang aku kelola bersama teman-teman sekolahku.

Akhirnya setelah perjuangan yang melelahkan aku keluar sebagai pemenang dan dia meraih juara kedua berdasarkan pilihan dari pendengar yang semuanya adalah mahasiswa di kampusku. Sebagai saingan kami tidak saling memusuhi maka jadilah kami berdua penyiar baru di radio kampus. Dari situlah kami mulai dekat. Sering siarang bareng dan pulang bareng larut malam setelah siaran selesai. Kami jadi sering berbicara terbuka. Mulai dari masalah kuliah, sampai curhat-curhatan. Sampai akhirnya aku tahu kalau dia anak tunggal dari keluarga yang serba ada. Tapi karena kedua orangtuanya bekerja jadilah dia anak yang kurang kasih sayang. Setelah dia bertemu denganku jadilah aku tempat semua curahan hatinya.

Mungkin ada benarnya juga pepatah jawa yang mengatakan weting tresno jalaran soko kulino yang artinya jatuh cinta karena sering bertemu. Setelah sekian lama kami mengenal diri masing-masing akhirnya aku memberanikan diri menyatakan cinta kepadanya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Dia pun punya perasaan yang sama terhadapku. Aku masih ingat saat-saat aku menyatakan perasaanku kepadanya.

Waktu itu hari jumat. Kebetulan sabtu kami tidak ada kuliah. Jadi jumat malam bisa leluasa jalan-jalan. Sepulang siaran bareng aku mengajaknya makan di cafe seberang kampus. Dia agak merasa heran tak biasanya aku yang mengajak dia makan. Biasanya dia yang menentukan kapan dan dimana kami akan makan. Maklumlah semuanya juga dia yang bayar. Dia selalu tidak mau kalau aku yang membayar makan.

“Ada apa sih Ren…?”. Dia mencoba membuka pembicaraan setelah kami memesan makanan dan minuman.
“Rani… kamu ingat gak sudah berapa lama kita kenal dan jalan bareng?”. Jawabanku malah berisi pertanyaan.
“Kamu kenapa sih, sakit ya…?”. Dia tertawa.
“Aku gak apa-apa, jawab dong…”. Aku mendesaknya.
“Okey okey, hmm kalau gak salah aku kenal kamu bulan september tahun lalu. Sekarang sudah bulan juli berarti sudah hampir setaun ya semenjak kita kenal. Tepatnya sepuluh bulan kali. Betul gak?”. Dia berkata sambil keningnya berkerut.

“Ya betul kamu gak salah, kita sudah kenal hampir setaun”. Aku membenarkan.
“Selama waktu itu apa yang kamu rasakan?”. Aku bertanya lagi.
“Hhihih… kamu kenapa sih, kok pertanyaan nya aneh-aneh dari tadi”.
“Ya gak apa-apa cuma pengen tau aja”.

“Emm apa ya… aku selama ini sudah begitu dekat dengan kamu. Kamu sudah tau semuanya tentang aku, keluargaku, kehidupanku, semuanya sudah aku ceritakan kepadamu. Selama ini cuma kamu yang dekat sama aku”. Dia berkata sambil menatap mataku seakan-akan ingin menemukan jawaban yang sama disana. “Kalau kamu gimana?”. Akhirnya dia bertanya juga.
“Yah kamu tau sendiri lah. Yang dekat sama aku kan cuma kamu. Kamu sudah memberiku banyak hal. Belajar mengungkap kan isi hati sampai kamu ngajarin aku caranya nyetir mobil, iya kan…”. Jawabku
“Hehehe iya sih, tapi jangan diceritain sampai mendetil begitu dong, aku gak suka kamu ngungkit-ngungkit kebaikanku. Entar kalau aku tagih baru tau rasa lho hihihi”. Dia masih saja bercanda.

“Aku mau bicara serius nih sama kamu”. Entah kenapa aku mulai grogi.
“Mau bicara apa… ayo dong ngomong, kayak ke orang lain aja”. Aku lihat mimik mukanya mulai serius.
“Aku juga bingung mau mulai dari mana…”. Jawabku
“Ah kamu bikin aku penasaran aja, mau ngomong apa sih?”. Dia mendesakku.
“Aku… aku… “. Belum sempat aku meneruskan bicara.
“Permisi mas, mbak”. Pelayan cafe datang dengan makanan dan minuman yang sudah kami pesan. Huh sialan… baru aja aku mau ngomong. Aku menunggu dia selesai menyimpan makanan dan minuman.

“Permisi mas, mba, silahkan dinikmati”. Akhirnya pelayan itu pun pergi. Rani hanya tersenyum melihat kejadian tadi.

“So… mau makan dulu atau mau ngomong dulu”.
“Tapi enaknya sih ngomong dulu kali ya, aku makin penasaran, ayo dong…”. Pintanya
“Ok deh aku ngomong sekarang, tapi sebelum aku selesai bicara, kamu gak boleh bicara ya”. Aku mulai bisa mengendalikan diri lagi.
“Ok Ok fine…”. Jawabnya
“Boleh gak aku pegang tangan kamu?”. Tanyaku
“Rendy, Rendy… ya boleh dong. Biasanya juga kan gak perlu minta ijin segala, kamu aneh deh hari ini”. Jawabnya. Aku mulai memegang tangannya. Aku ingin dia merasakan getar-getar perasaan dihatiku. Aku genggam tangannya. Aku ingin mulai mengutarakan isi hatiku lewat sentuhan tanganku. Sepertinya dia juga mulai merasakan. Tatapan matanya berubah sendu, sayu, tidak seperti tadi yang terus mengerling-ngerling manja.

“Kita sudah kenal hampir setahun, selama itu pula kita sudah mengenal diri masing-masing. Aku sudah tau sifat kamu dari yang manja sampai yang urakan, dari yang paling bagus sampai yang paling jelek, begitu pula sebaliknya kamu sudah tau siapa aku”. Aku mulai bicara lagi.
Dia membuka bibirnya seperti akan berbicara. Tetapi dengan cepat aku menempelkan ujung telunjukku di bibirnya. Dia tidak jadi berbicara. Hanya saja tatapan matanya mulai berubah. Seperti ingin menengok lebih dalam lagi ke dalam mataku. Seperti ingin tau ada apakah gerangan di dalam sana.

“Selama ini aku selalu menjadi curahan segala isi hatimu, aku tahu kamu kurang merasa diperhatikan oleh orang tuamu. Maka dari itu aku selalu berusaha untuk bisa menampung segala keluh kesahmu, segala kegundahanmu. Aku curahkan segala perhatianku kepadamu supaya kehausanmu akan kasih sayang terpenuhi. Aku terus berusaha dan akan terus berusaha untuk mengerti hatimu”. Kata-kata itu meluncur deras dari mulutku. Entah kenapa aku seperti lancar mengungkapkan segala isi hatiku.

Sampai disini aku menghentikan ucapanku. Aku lihat matanya mulai berkaca-kaca pertanda dia juga mengerti yang aku ungkapkan.

“Rani… aku tidak mau terus begini. Aku tidak mau kamu mencurahkan segala perhatianmu kepadaku hanya sebagai seorang sahabat dekat. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin… “. Sampai disini aku berhenti bicara. Aku kehabisan kata-kata. Aku tatap matanya. Dia semakin berkaca-kaca. Aku kumpulkan kekuatanku. Aku tarik nafas panjang dan kemudian mulai bicara lagi.
“Maharani… aku sayang kamu, maukah kau jadi kekasihku…?”. Akhirnya kata itupun keluar juga. Kata yang dari semenjak tadi mengganjal dihatiku. Seperti lepas keluar menuju ke kedalaman kalbunya. Mengetuk pintu hatinya.

Mendengar kata-kata itu dia hanya diam. Perlahan-lahan matanya yang berkaca-kaca itu mulai mengeluarkan isinya. Air matanya berlinang. Dia menangis. Entah apa yang ada dihatinya. Aku sendiri tidak tahu. Selama ini aku selalu tahu apa yang ada didalam hatinya. Tapi kini semuanya seperti gelap tak berujung.

“Aku sudah selesai bicara, sekarang kamu boleh bicara. Aku berharap kamu menjawabnya sekarang”. Aku memulai lagi pembicaraan yang sejenak terhenti oleh aliran air matanya.
“Rendi… “. Dia menghentikan pembicaraan
“Aku… “. Dia berhenti lagi karena dia berbicara sambil menangis. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin mengusap air matanya. Tapi aku urungkan niatku karena dia mulai bicara lagi.
“Rendi… “. Dia mengehntikan lagi bicaranya.
“Aku… “. Dia menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk kebawah sedikit kemudian keatas lagi. Akhirnya dia mengangguk-ngangguk. Apakah ini pertanda dia menerimaku?
“Say something Rani… “. Aku menggerakkan tangannya.

“Iyah Ren..di… Aku ju..ga sa..yang kamu… A..ku mau kamu jadi kekasihku”. Dia berkata masih sambil menangis sehingga kata-kata yang keluar sedikit terbata-bata.
Aku seperti kejatuhan bintang dari langit. Mendadak semuanya serba indah. Semuanya serba mempesona. Aku kembali menggerakkan tangannya.

“Betul Ran… , aku tidak salah dengar kan…?” Aku ingin memastikan sekali lagi. Tapi dia tidak menjawab. Hanya anggukan kepala yang menjadi jawabannya. Aku genggam erat tangannya. Dia juga menggenggam erat tanganku. Makanan yang sudah kami pesan tidak lagi kami perdulikan. Dia mulai berdiri. Aku juga mulai berdiri. Aku lepas tangannya. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan.
Dia mendekatiku. Aku menantikan apa yang akan dilakukannya. Ternyata dia menubrukku. Dia memelukku erat sekali. Kalau aku tidak siap bisa jatuh tadi. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kanan ku. Aku juga mulai memeluknya. Aku tidak memperdulikan tatapan pelayan kafe. Untung yang makan malam di cafe ini hanya kami. Jadi tidak terlalu riskan dilihat orang. Dia tersedu-sedu dibahuku. Aku mengusap-usap rambutnya yang panjang.
“Rendi aku sayang kamu, aku sayang kamu banget. Aku mau jadi kekasihmu”. Dia bicara sambil masih memelukku.
“Iya Rani… aku juga sayang kamu, aku cinta kamu. Aku gak mau kamu jauh dariku selamanya. Sekarang kita pulang yuk, aku jadi tidak lapar”.
“Iya sama, aku juga jadi gak lapar”. Jawabnya

Aku mengeluarkan dompet. Mengambil uang seratus ribu kemudian aku simpan di meja. Biasanya makan disini paling mahal juga lima puluh ribu. Jadi aku kasih saja semuanya hitung-hitung tanda terima kasihku sama cefe ini karena mengijinkanku mengungkapkan perasaan hatiku disini.

Aku menghentikan pelukanku. Rani juga demikian. Aku panggil pelayan cafe.

“Mas.. mas…”. Dia menghampiriku.
“Kami tidak jadi makan, tapi kami bayar kok. Ini uangnya. Kembalinya ambil saja, terima kasih ya…”. Aku kemudian berjalan keluar sambil menggandeng Rani yang dari tadi hanya menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Oh iya terimakasih banyak mas”. Pelayan tersebut tersenyum penuh arti. Entah karena kelakuan kami atau karena kembalian yang tidak aku ambil.

Kami sudah sampai di depan mobil. Rani masih saja memelukku dari samping sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Aku tidak menyangka ternyata perasaannya juga sama denganku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan.
“Kita pulang yuk… “. Aku mulai bicara karena dia tidak juga memulai pembicaraan.
“Tapi kamu yang nyetir ya…”. Akhirnya dia bicara juga. sambil menyerahkan kunci mobilnya kepadaku
“Ok sayang…”. Aku mengecup keningnya. Dia menengadahkan kepalanya. Bibirnya yang ranum tersenyum. Ingin rasanya aku mencium bibirnya. Tapi ini di tempat parkir. Nggak enak kalau dilihat orang.

Aku membuka pintu mobil kemudian mempersilahkannya masuk. Dia kemudian masuk. Aku menutupkan pintu mobil untuknya. Aku memutar menuju mobil bagian kanan. Aku masuk dan langsung duduk di belakang kemudi. Setelah menutup pintu mobil aku tidak langsung menghidupkan mobil. Aku menatap matanya. Dia juga menatapku.

“Kenapa tadi kamu mencium keningku?”. Dia mulai berbicara. Dia sudah tidak tersedu-sedu lagi. Aku tadi sempat menhapus air matanya yang masih membasahi pipinya yang putih.
“Karena aku ingin”. Jawabku.
“Selain itu…”.
“Karena aku suka kamu, karena aku sayang kamu”. Jawabku. Dia tersenyum aku juga tersenyum. Aku kembali mengecup keningnya. Dia memejamkan mata seakan ingin merasakan kecupan bibirku di keningnya. Aku menghentikan kecupanku. Dia membuka matanya. Bibirnya terbuka seakan mempersilahkan aku untuk masuk. Aku mendekat. Terasa semburan nafasnya di hidungku. Harum semerbak. Membuatku ingin segera menyentuhnya. Berenang-renang di kebasahan bibirnya. Sedetik lagi bibir kami bersentuhan…
“Tiiiiin……..”. Aku melonjak kaget. Begitupun dia. Aku tidak sengaja menekankan sikutku di klakson mobil. Kami tertawa. Indah sekali malam itu.
“Yuk kita pulang”. Aku memutuskan untuk mengantarnya pulang.
“Ok sayang, antar aku pulang ya… tapi nanti kamu mampir sebentar. Dirumah tidak ada siapa-siapa cuma ada si bibi. Ayah ibuku sedag keluar kota. Aku takut sendirian”. Dia merengek manja.
“Iya nanti aku temani sebentar. Tapi sebentar aja ya”. Jawabku.
“Ok sayang”. Jawabnya. Dia sudah mulai mengucapkan kata-kata sayang kepadaku.
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.

Berkendara malam-malam ternyata enak juga ya. Apalagi disamping ada seseorang yang sangat kita sayangi. Selama perjalanan kami hanya diam tapi sesekali masih saling pandang dan menyunggingkan senyum.

Akhirnya kami sampai di depan rumahnya. Aku bunyikan klakson sekali dan terlihat pembantunya Rani keluar sambil membukakan pintu pagar. Setelah memasukkan mobil ke garasi aku masuk ke dalam rumah bersama dia yang terus memeluk tanganku sejak keluar dari mobil tadi. Kami duduk di sofa depan televisi. Rumahnya memang besar. Seperti istana saja. Maklumlah orang kaya.

“Sudah malam sayang, aku harus pulang”. Aku mulai bicara.
“Nggak usah pulang ya… please temani aku tidur”. Dia seperti anak yang merengek meminta uang jajan.
“Tapi kita disini hanya berdua, aku takut terjadi hal yang tidak kita inginkan”. Aku berkata sungguh-sungguh.
“Nggak akan sayang. Aku tidur di sofa saja. Aku ingin tidur pangkuanmu boleh kan?”. Dia sedikit memelas. Aku kasihan juga kepadanya. Aku terlalu sayang kepadanya. Akhirnya aku mengangguk. Dia tersenyum dan memelukku erat. Aku ambil bantal kursi yang ada di pinngir. Aku letakkan di atas pangkuanku. Dia mengerti apa yang aku lakukan, kemudian dia merebahkan diri di sofa dan kepalanya dia jatuhkan di pangkuanku. Dia melihatku ke atas dan tersenyum. Aku tersenyum dan mendekatkan kepalaku kebawah. Aku kecup mesra keningnya.

“I love you Rani…”. Aku berbisik.
“I love you too Rendy…”. Dia juga berbisik.
“Aku bobo ya sayang…”. Dia kembali berbisik. Aku mengangguk. Dia kelihatan mengantuk. Aku juga sebetulnya mengantuk tapi aku ingin dia yang tidur duluan. Dia tersenyum dan akhirnya memejamkan mata. Tak berapa lama terdengar nafasnya yang halus mulai teratur pertanda dia benar-benar sudah tidur. Akupun tidak kuasa lagi menahan kantuk. Akhirnya akupun tertidur pulas dalam posisi duduk dan memangku kepala Rani. Kami lupa kalau kami belum sempat makan malam.

Begitulah akhirnya aku menginap di rumahnya. Aku tidak melakukan yang macam-macam terhadapnya. Walaupun dia tidak akan menolak apabila aku meminta yang lain. Aku teramat sayang kepadanya sehingga aku akan bertekad menjaganya semampu yang aku bisa.
Sampai suatu hari berita yang tidak aku harapkan itu tiba.

Hari itu seperti biasa aku berangkat kuliah pagi. Hari ini Handphone ku tidak berbunyi. Biasanya pagi-pagi Rani sudah mengabari aku kalau dia sedang di jalan atau sudah sampai kampus. Tempat kost ku dengan dia memang berbeda tujuan. Jadi tidak mungkin dia menjemput aku. Aku sampai di kampus jam sembilan pagi. Kebetulan kuliah belum dimulai. Aku lihat di tempat parkir mobilnya belum kelihatan. Hmmm kok belum datang ya. Ah mungkin kena macet pikirku. Sambil menunggunya aku duduk di taman kampus. Tak lama kemudian HP ku berbunyi. Aku lihat yang telepon Rani. Aku tersenyum sendiri. Aku angkat HP ku.

“Halo sayang… kamu kemana aja”. Sapaku. Yang menjawab ternyata bukan Rani.
“Rendy… ini Rendy kan…?”. Suara sedu-sedan seorang wanita. Aku mengernyitkan dahi. Oh itu suara ibunya. Kok ibunya yang pegang HP.
“Oh ibu… iya ini Rendy, maaf saya kira Rani yang telpon”. Sampai di sini aku belum sadar apa yang terjadi.
“HP Rani ada sama ibu ya… Rani nya kemana bu?”. Aku mulai menduga-duga apa yang terjadi. Semoga saja tidak ada apa-apa dengan Rani.
“Kamu harus kuat ya nak…”. Suara sedu-sedan masih terdengar di seberang sana.
“Memang ada apa bu? apa yang terjadi? Rani dimana?”. Aku bertanya dengan nada khawatir.
“Ibu tau kalian saling menyayangi, tapi kamu harus kuat menerima cobaan ini…”. Ibu nya berkata lagi.
“Katakan bu, apa yang terjadi dengan Rani…?”. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar kabar tersebut.

“Rani kecelakaan tadi pagi sewaktu mau berangkat kuliah, Mobilnya bertabrakan dengan minibus. Sekarang dia sedang ada di UGD Rumah Sakit Cipto. Kamu segera kesini ya nak…”. Terdengar suara ibunya seperti menangis. Kemudian hubungan telepon terputus. Petir seperti menggelegar di dekat telingaku mendengar kabar ini. Betapa tidak, tanpa ada pertanda apa-apa aku harus mendengar kekasihku mengalami kecelakaan. Aku sedikit limbung. Aku mencoba menguasai keadaan. Aku segera bergegas menuju ke RS Cipto.
Sampai di sana aku langsung berlari ke arah ruang UGD. Begitu masuk aku bertemu dengan Ayah dan Ibu nya Rani. Aku langsung menyalami mereka.

“Bagaimana keadaan Rani Pak, Bu…?”. Aku langsung bertanya setelah selesai bersalaman. Bukan jawaban yang aku dapat tapi rangkulan dari ibu nya Rani serta tepukan dari ayah Rani di pundakku. Ibu nya Rani menangis di pelukanku. Aku jadi tidak enak juga. Tapi mungkin karena kedekatanku dengan keluarga ini yang menyebabkan ibunya Rani tidak sungkan kepadaku. Setelah agak mereda dia melepaskan pelukannya.

“Kamu harus tabah ya Rendy…”. Ibu nya berkata.
“Iya nak kamu harus bisa menerima kenyataan ini ya…”. Ayahnya Rani menimpali.
“Iya bu, pak… tapi bagaimana keadaan Rani?”. Aku berkata dengan cemas.
“Kamu lihat sendiri saja ya… tapi kamu harus tabah, kelihatannya dia sudah sadar”. Ibu nya berkata lagi.
“Baik bu, saya masuk dulu”. Aku kemudian masuk keruang UGD setelah mengenakan baju putih yang disediakan oleh rumah sakit.

Aku lihat Rani berbaring. Selang oksigen tampak masih ada di hidung nya. Tangannya dilingkari selang infus. Sementara di pergelangan tangannya nampak terpasang alat pengukur denyut nadi. Tidak seperti yang aku bayangkan, dia kelihatan baik-baik saja. Tidak nampak ada bekas bercak darah di tubuhnya layaknya orang yang habis kecelakaan. Aku kemudian menghampirinya di sebelah kanan ranjang.

“Hai sayang…”. Aku berkata pelan di sebelah telinganya. Dia membuka matanya pelan. Matanya melirik ke arah datang nya suara. Kemudian ia tersenyum.
“Hai……”. Suaranya terdengar parau.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, apa yang terasa?” Aku bertanya sambil memegang tangannya.
“Aku baik-baik saja sayang…. uhuk..uhuk…”. Dia terbatuk pelan.
“Kamu lihat sendiri kan, aku baik-baik saja…”. Dia berkata lagi. Aku mencium tangannya yang masih aku pegang. Dia tersenyum kemudian memejamkan matanya sebentar seperti menahan sakit.
“Kenapa sayang…. apanya yang sakit?”. Aku berkata dengan nada khawatir.
“Nggak apa-apa kok, cuma agak nyeri di bagian dada”. Dia kembali terbatuk-batuk. Aku mulai curiga dengan keadaannya. Jangan-jangan dia terluka dalam, mengingat Ibu dan Ayah Rani yang selalu memintaku tetap tabah dan dari sikap mereka yang seakan-akan seperti takut kehilangan anaknya. Ada apa sebenarnya.
“Kenapa sayang kok jadi melamun?”. Rani berkata memecahkan kesunyian.
“Gak apa-apa… tapi kamu baik-baik saja kan? maksudku untuk kecelakaan mobil yang berat kamu tidak berdarah sama sekali, jangan-jangan kamu terluka dalam…”. Aku menjelaskan.
“Kamu sayang gak sama aku?”. Dia berkata sambil tersenyum. Dia bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.

“Aku sayang banget sama kamu, memang kenapa?”. Jawabku.
“Gak apa-apa, hmmm kamu cinta gak sama aku?”. Dia bertanya lagi.
“Iya dong… kenapa sih kok aneh pertanyaan kamu”. Aku semakin penasaran.
“Kamu harus janji untuk mencintaiku selamanya”. Dia berkata lagi.
“Iya aku akan mencintaimu selamanya”. Jawabku
“Walaupun aku sudah gak ada lagi disisimu…?”. Dia berkata lagi, kali ini sambil mengernyitkan dahi.
“Iya… eh kamu ngomong apa sih?” Tanyaku. Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Jangan-jangan ada yang dia sembunyikan dariku.
“Aku sudah gak kuat Rendy….”. Dia meringis kesakitan.
“Kamu kenapa sayang…”. Aku berkata dengan nada khawatir. Aku melirik ke belakang. Aku lihat Ayah dan Ibu nya Rani sudah masuk. Mereka masih saling berpelukan dan telihat masih menangis.

Seorang perawat kemudian masuk di ikuti oleh seorang laki-laki berpakaian putih. Tampaknya dia adalah dokter yang merawat Rani. Aku melepaskan genggaman tangan Rani setelah di beri isyarat oleh suster untuk menyingkir. Aku lihat dokter tersebut memeriksa beberapa bagian tubuh Rani terutama pada bagian dada. Aku jadi bertanya-tanya, jangan-jangan dada bagian dalamnya ada yang terluka. Lama juga dokter tersebut memeriksa Rani. Setelah selesai memeriksa dan membuka stetoskop dia berbalik ke arah kami. Aku yang duluan bertanya.

“Bagaimana keadaanya dokter?”. Tanyaku.
“Anda keluarganya…?”. Dokter tersebut malah bertanya.
“Betul dok…”. Jawabku
“Orang tuanya?”. Tanya dokter itu lagi.
“Kami orang tuanya dok..”. Ayah Rani yang menjawab.
“Bisa saya bicara sebentar”. Kemudian dokter tersebut mengajak Ayah Rani menuju salah satu sudut ruangan. Mereka berbicara serius sementara aku dan Ibunya Rani memperhatikan mereka dengan cemas. Aku lihat lagi ke arah Rani yang sedang diperiksa oleh suster. Tak lama kemudian dokter tersebut pergi beserta suster meninggalkan kami berempat. Aku kemudian menghampiri sisi ranjang Rani. Dia masih memejamkan mata seperti menahan sakit. Ayah Rani kemudian mendekat.

“Bagaimana pak…”. Tanya Ibu nya Rani dengan cemas. Ayah Rani tidak berkata apa-apa, yang terlihat malah cucuran air matanya. Baru aku lihat ayahnya Rani menangis. Dia menggelengkan kepala. Dengan serta merta ibu nya Rani memeluk ayahnya Rani. Mereka kembali menangis tersedu-sedu. Aku yang hanya bisa diam melihat tingkah mereka sudah mengerti apa arti dari gelengan kepala ayahnya Rani. Mungkinkah… mungkinkah kekasihku ini tidak tertolong lagi. Aku berharap masih bisa tertolong. Aku kemudian menggenggam tangan Rani kembali. Dia membuka matanya perlahan.

“Randy…”. Dia berkata pelan.
“Iya sayang aku di sini”. Jawabku sambil memegang tangannya.
“Maah…. Paah….”. Terdengar Rani memanggil orang tuanya.
“Iya sayang mama di sini papa juga disini”. Jawab ibu Rani sambil masih terisak. Kemudian mereka menghampiri dari sebelah kiri ranjang.
Aku masih menggenggam tangannya. Aku tidak ingin melepaskannya.
“Sayang… kalau aku sudah tidak ada, kamu harus berjanji selalu mengunjungiku pusaraku”. Rani berkata sambil berlinang air mata.
“Jangan berkata begitu sayang, aku tidak mau kau tinggakan, kamu harus kuat sayang”. Aku yang selama ini selalu tegar mau tak mau meneteskan air mata juga mendengar dia berbicara begitu.
“Tidak sayang… aku harus pergi. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Selamanya”. Dia berkata lagi.
“Walaupun nanti alam kita berbeda aku akan tetap mencintaimu”. Dia meneruskan.
“Jangan tinggalkan aku sayang… aku gak mau hidup sendiri tanpa kamu”. Air mataku sudah mulai menetes lebih deras.

“Tidak sayang… aku harus menghadap-Nya. Kamu harus kuat menerima semua ini”. Dia berkata lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutku seperti tercekat. Tidak bisa mengeluarkan suara. Ibu dan Ayahnya hanya terisak melihat pembicaraan kami.
“Mama… papa…”. Dia kemudian menengok ke arah orangtuanya.
“Iya sayang mama disini”. Ibu nya yang menjawab.
“Aku punya permintaan terakhir”. Dia berkata lagi
“Iya sayang… apa yang kamu minta akan kami kabulkan”. Ibu nya menjawab lagi.
“Mama dan papa harus berjanji jika Rani sudah tidak ada, Rendy harus di angkat anak oleh mama papa. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kita”. Aku sempat kaget mendengarnya. Di saat seperti ini dia masih juga memikirkan aku. Betapa mulia hatinya. Di saat-saat terakhir masih sempat memikirkan orang lain.

“Iya sayang mama dan papa berjanji untuk melakukannya, iya kan pa…”. Ibu nya berkata sambil melihat ke arah papa nya Rani. Ayahnya hanya mengangguk tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Lagi pula kami sudah menganggap Rendy sebagai anak sendiri, iya kan Ren…”. Tanya ibunya Rani. Aku hanya mengangguk tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mataku sudah tidak bisa di tahan lagi.
“Aku sudah tenang sekarang. Aku sudah tidak punya beban lagi. Mah…pah… kalian harus tabah ya… aku titip Rendy…”. Rani berkata dengan suara yang semakin lemah.
“Iya sayang… mama akan menjaga dia, kami akan menganggapnya sebagai pengganti kamu”. Ibu nya menjawab dengan tegar, seakan dia sudah merelakan anaknya tercinta pergi untuk selamanya.
“Rendy… kamu juga harus kuat ya sayang. Tolong jaga mama dan papaku, anggap mereka sebagai orang tua kamu sendiri ya…”. Aku hanya mengangguk.
“Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Jangan lupakan aku”. Suaranya semakin melemah saja.
“Aku juga sayang dan cinta sama kamu”. Suaraku hampir-hampir tak terdengar.
“Maah… paah… aku pergi yaaa… jaga diri kalian baik-baik”. Kata-kata terakhir untuk orang tuanya terucap.
“Rendy aku pergi ya… jaga diri baik-baik, kamu harus ingat cinta kita tidak akan pernah berakhir”. Suaranya sudah hampir hilang.
“Iya sayang aku akan selalu mencintaimu”. Aku berbicara dengan suara parau.

“Selamat tinggal semuanya…”. Dia berkata sambil perlahan-lahan menutup matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. Akhirnya dia diam tak bergerak. Dadanya sudah tidak lagi turun naik pertanda dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Pertanda dia sudah diambil oleh yang punya. Pergi menghadap sang pencipta. Ibu Rani menjerit melihat anaknya sudah meninggal. Dia hanya bisa memeluk suaminya sambil terus menangis.
Sedangkan aku yang dari tadi terus menggenggam tangannya, hanya bisa memanggil namanya.

“Rani… Rani… bangun sayang… bangun…”. Aku menggoncangkan tubuhnya.
“Rani……….. aku menjatuhkan wajahku di dadanya. Aku menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil kehilangan ibunya. Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.

Perjalanan hidupku dengan Rani memang harus berakhir disini. Tetapi hati kami tetap bersatu walaupun sekarang sudah berbeda tempat dan waktu.

Selamat jalan Rani…. selamat jalan Maharaniku, semoga engkau diterima di sisi-Nya. Amiin.

Jakarta, 05 Oktober 2006.

Elegi ban bocor

Pagi yang sejuk. Sejak kapan yah Jakarta sejuk hehehe. Perasaan ingin pake jaket. Ah pake jas aja biar gak terlalu gerah kalau nanti siang jadi berubah panas. Aku keluar dari tempat kost jam enam pagi. Aku ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja.

 

Seperti biasa aku berjalan menyusuri kawasan perbelanjaan ITC Cempaka Mas yang masih sepi. Setiap hari aku berjalan dari tempat kost menuju tempat pemberhentian Kopaja. Jurusan ke arah kantorku kebetulan biasa mangkal di sebelah timur parkir Cempaka Mas.

 

Sampai di ujung timur dari tempat parkir Cempaka Mas aku berbelok ke arah pabrik motor Honda. Hmm Kopaja nya belum kelihatan. Aku terus berjalan menyusuri jalan layang yang belum juga selesai. Entah sampai kapan jalan layang ini akan mulai dibangun sementara besi beton dan jembatan cor sudah jadi tetapi belum juga pondasinya didirikan.

 

Ketika aku sedang berjalan terlihat dikejauhan kendaraan yang sangat aku kenal. Hei… bukankan itu Hyundainya Elisa? Ngapain dia disini. Dan lagi ini kan masih pagi. Yang aku tahu biasanya dia sampai kantor saja jam delapan lewat. Mana mungkin dia jam segini sudah jalan dari rumah. Elisa adalah karyawan lantai dua di kantorku. Dia satu gedung dengan kantorku tapi beda perusahaan. Aku sebetulnya menyukai dia tapi belum sempat nembak dia(belum berani euy).

 

Aku pastikan lagi bahwa benar itu mobilnya dia. Yup betul, itu memang mobil dia. Aku tidak mungkin lupa dengan nomor polisinya B5668AZ. Hmm… sedang apa dia disini?

 

Aku berjalan pelan mendekati mobilnya. Takut dia kaget. Soalnya dia tidak tahu aku tinggal di daerah sini. Aku semakin dekat dengan mobilnya. Aku memperhatikan kebelakang kemudi mobilnya. Tapi sosok Elisa tidak aku temukan disana. Aku hapal betul sosoknya walaupun aku melihatnya dari belakang. Yang aku temukan disana adalah sosok wanita setengah baya dengan pakaian khas kantor. Dia kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah sisi sebelah kiri mobil dan melihat ke arah ban depan mobil. Oh itu masalahnya. Ban depan sebelah kiri mobilnya bocor.

 

Aku pikir kenapa tidak membantunya? Siapa tahu itu mamanya Elisa. Itung-itung pedekate ke anaknya, kan tidak salah mengenal ibunya juga. Aku memberanikan diri menyapa.

 

“Selamat pagi…”.
“Eh selamat pagi juga…”. Dia agak kaget menjawab.
“Ban nya kempes ya bu?”. Sebetulnya pertanyaan yang tidak perlu aku lontarkan karena aku juga sudah tahu kalau ban mobilnya bocor.
“Iya nih, mana harus cepat-cepat sampai kantor lagi”. Jawabnya.
“Boleh saya bantu?”. Aku mencoba mengajukan diri membantu.

 

Dia menatapku lurus tanpa senyum. Kayaknya kalau Elisa menatap tanpa senyum kepadaku mungkin seperti ini kali hehehe. Dia agak menyelidik kepadaku. Maklum ini Jakarta. Bisa saja tawaran pertolongan berakhir dengan kejahatan seperti yang terjadi di berita-berita televisi. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya itu. Sebelum berbicara lagi aku berdehem sebentar.

 

“Emm… Ibu ada hubungan apa dengan Elisa?”. Aku mencoba memecahkan kesunyian diantara kami. Ibu itu terkejut dengan pertanyaan yang aku ajukan. Tapi kemudian rona mukanya berubah ramah.

 

“Oh Elisa… itu anak saya, mas ini siapa ya…?”. Dia menerangkan. Betul ternyata dugaanku, dia ibunya Elisa.
“Kenalkan bu, nama saya Andi. Saya kenal Elisa soalnya saya satu gedung sama dia, tapi kami lain perusahaan”. Aku menjelaskan.

 

“Oh begitu…, tapi dari mana mas tahu kalau ini mobilnya Elisa?”. Dia sedikit menyelidik. Untung dia tidak melanjutkan dengan pertanyaan yang terlalu jauh. Aku gak mau ditanya-tanya sama ibu dari cewek yang aku taksir. Malu dong.

 

“Saya hapal mobilnya bu, nomor nya juga saya hapal. B5668AZ kan”. Aku menjelaskan. Dia menyelidik lagi sambil agak sedikit tersenyum. Mungkin dia penasaran dengan orang yang baru dia kenal ini, kok bisa-bisanya hapal nomor mobil anaknya.

 

“Lho mas ini siapa sih, kok sampai hapal nomor mobil anak saya?”. Aduh pertanyaan ini benar-benar tidak ingin aku jawab. Bagaimana kalau nanti ketahuan aku sedang mengincar anaknya.
“Ya hapal saja bu, soalnya sering lihat mobilnya”. Dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ah bodo amat. Aku kemudian bertanya lagi sebelum dia berbicara lebih jauh.
“Boleh saya bantu bu, ada ban serep, kunci sama dongkrak tidak?”. Aku buru-buru menawarkan bantuan.
“Oh boleh-boleh, semuanya ada di bagasi belakang”. Dia kemudian menuju ke arah bagasi dan menunjukkan peralatan yang aku butuhkan.

 

Aku kemudian mengambil peralatan yang aku butuhkan. Ban serep, Kunci untuk membuka ban dan tidak lupa dongkrak untuk mengangkat mobil.

 

Setelah semuanya siap aku langsung membuka ban yang bocor tersebut untuk diganti dengan ban yang baru. Sambil aku bekerja dia bertanya kepadaku.

 

“Mas ini siapa? Kenal anak saya dimana? Kok mau bantuin saya?”. Aduh akhirnya dia menyelidik juga.
“Ah saya hanya kenal saja bu, satu gedung pasti sering bertemu. Lalu perihal membatu ya sesama orang harus saling tolong menolong kan, tapi maaf jangan panggil saya mas, panggil saja Andi”. Aku bisa menjelaskan juga walaupun aku takut dia semakin menyelidik.

 

“Tapi sepertinya tidak mungkin kamu teman biasa, kalau hanya teman saja mana mungkin hapal sama nomor mobil segala?” Dia semakin menyelidik. Aku tidak berusaha menjawabnya. Aku pura-pura sibuk membuka mur mobil satu-persatu.

 

“Ngomong-ngomong mobil ini tidak dipakai Elisa bu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Kalau aku jawab pasti dia semakin ingin bertanya lebih jauh.
“Eit… jangan coba mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia menjawab sambil tersenyum. Aku bisa melihatnya karena aku bertanya sambil melirik ke arahnya.

 

“Kebetulan mobil ibu lagi ke bengkel, sedangkan sekarang harus cepat-cepat sampai kantor soalnya ada rapat penting pagi ini di sana, yah terpaksa deh Elisa yang ngalah”. Akhirnya dia mau menjawab juga.
 
“Oh begitu, kalau mobil ini ibu pakai berarti Elisa gak pake mobil dong bu?”. Aku bertanya kembali.
“Iya… dia ada yang mengantar ke kantor”. Dia berkata sambil sedikit tertawa. Aku sudah selesai membongkar ban yang bocor. Dongkrak sudah aku naikkan dan sekarang tinggal memasukkan ban yang baru dan menguncinya dengan mur yang tadi.

 

“Tenang saja dia tidak di antar siapa-siapa kok, dia diantar papanya ke kantor”. Ada sedikit suara kemenangan disana. Aku sudah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
“Oh begitu…”. Ada sedikit kelegaan dihatiku.
“Lega kan dia tidak di antar siapa-siapa”. Busyet… tau juga dia isi hatiku.
“Ah ibu bisa saja”. Aku hanya bisa tersenyum simpul.
“Ibu juga pernah muda, ibu tahu apa yang ada di pikiran kamu”. Dia berkata lagi.

 

Tak terasa akhirnya pekerjaanku selasai. Ban sudah kupasang dan mur-mur nya sudah aku kencangkan sedemikian rupa, tak lupa aku mengencangkan secara diagonal agar ban menjadi seimbang. Kemudian aku memasukkan ban yang bocor dan peralatan lainnya ke dalam bagasi mobil.

 

“Ok bu sudah selesai semua. Jangan lupa ban yang bocornya segera ditambal”. Aku berkata sambil membersihkan sisa-sisa tanah yang masih ada di tanganku.
“Aduh makasih banyak ya Andi…, sudah merepotkan kamu”.
“Sama-sama bu, saya senang kok bisa membantu”. Jawabku.
“Senang kan bisa membantu mobil cewek yang kamu taksir”. Tak henti-hentinya dia menggoda.
“Ah kata siapa saya naksir sama Elisa?”. Aku mencoba menghindar.
“Jangan pura-pura… dari semua yang kamu katakan, ibu tahu apa isi hati kamu”. Dia berkata lagi
“Pokoknya nanti ibu sampaikan deh sama Elisa kalau kamu yang membantu ibu, Ok”. Apa juga coba untungnya ngasih tahu Elisa.

 

“Kamu suka kan sama Elisa?”. Dia langsung menebak. Aku tidak bisa menjawab. Dan memang aku enggan untuk menjawabnya. Masa di depan orang tua cewek yang aku sukai aku terus terang sih.
“Sudah siang bu, bukannya ibu harus cepat-cepat ke kantor?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu pintar mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia berkata sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

“Sekali lagi terimakasih ya, coba kalau nggak ada kamu bisa-bisa ibu nggak bisa ngantor hari ini. Mana ada bengkel dekat sini”. Dia berbicara serius kali ini.
“Iya bu sama-sama, itu juga kebetulan saja saya lewat sini”. Jawabku.
“Ok deh kalo begitu, ibu jalan dulu yah, eh mau dianter gak?”. Dia bertanya
“Wah nggak usah bu, saya naik umum saja. Lagian ibu kan mau langsung naik tol”. Aduh aku salah ngomong lagi.
“Lho tau dari mana ibu mau naik tol?”. Dia kembali menyelidik.
“Ah cuma nebak aja kok, soalnya kalau ke arah tanjung priuk atau ke arah cawang tidak mungkin ibu putar balik di sini”. Aku menjelaskan.
“Kamu pasti bohong, pasti sudah tahu dari Elisa. Nanti ibu tanyakan sama dia, kamu pasti teman dekatnya Elisa”. Dia sedikit mengancam walaupun masih tersenyum.
“Saya bukan siapa-siapa nya Elisa bu, bener deh gak bohong”. Jawabku.
“Ok deh gak apa-apa kalau gak mau terus terang, yang jelas ibu mengucapkan terimakasih banyak sudah dibantu”. Dia sungguh-sungguh berkata.

 

“Iya bu sama-sama”. Jawabku
 
“Kalau ada waktu main ke rumah ya, biar bertemu sama Elisa, bisa ngobrol dengan tenang, ok”. Pintanya.
“Iya bu terimakasih”. Jawabku, kemudian dia masuk ke dalam mobil.
“Sudah tahu kan rumah ibu?”. Tanya dia.
“Eh iya… eh belum bu”. Aku tergagap. Aku keceplosan ngomong lagi.
“Tuh kan kamu berbohong lagi. Tapi ya sudahlah, pokoknya nanti ibu kasih tahu Elisa supaya mengundang kamu ke rumah”.
“Iya bu makasih”. Aku tidak bisa berkata lagi.

 

Setelah menutup kaca mobil kemudian mobilnya pun berjalan meninggalkanku. Dia membunyikan klakson sebelum berjalan. Aku melambaikan tangan. Kebetulan kopaja yang aku tunggu sudah datang. Akhirnya aku naik. Huh pengalaman yang sungguh diluar dugaan. Aku bertemu dengan ibunya Elisa. Eh aku lupa tidak menanyakan namanya. Ah gak apa-apa, aku kan bukan suka sama ibunya tapi suka sama anaknya hehehe.

Sepatu Besi

Waktu menunjukkan pukul 06.30 sewaktu aku sampai di halte angkutan umum. Masih pagi. Belum banyak orang yang menunggu angkutan. Teman-teman sekolahkupun belum ada yang kelihatan. Santai dulu ah. Jam masuk sekolah masih lama. Masih setengah jam lagi.
 

Jam 06.35 Pak Dodi guru bahasa Indonesia di sekolahku lewat. Kebetulan hari ini dia mengajar di jam pertama.

 

“Pagi pak….”. Aku menyapanya
“Pagi Boy, belum berangkat?”. Dia menjawab sekaligus bertanya
“Belum pak sebentar lagi”. Jawabku
“Ya udah Bapak duluan ya”. Dia berkata sambil menyetop angkutan yang lewat.
“Baik pak”. Aku menjawab.

 

Aku kembali duduk di bangku halte dan meneruskan cuci mataku. Mulai banyak orang yang berlalu-lalang di depan halte. Banyak juga cewek yang lewat. Biasa lah aku duduk sambil menggoda mereka.

 

Jam 06.45 Siska teman sekelasku lewat. Aku tahu dia naksir sama aku. Soalnya beberapa waktu yang lalu Reni temannya pernah bilang padaku kalau dia menitipkan salam kepadaku.

 

“Hai Boy….Belum berangkat?”. Dia bertanya
“Belum nih”. Aku menjawab
“Ngapain sih duduk disitu, ayo berangkat bareng aku”. Dia mengajak sambil mengembangkan senyum manis.
“Tar dulu ah, masih limabelas menit lagi kan bel”. Jawabku.
“Ya udah. Aku duluan ya, dah”. Dia berkata dengan sedikit kecewa. Langsung menyetop angkutan dan naik tanpa melihatku lagi.

 

Sebodo amat. Emang gue pikirin. Mending juga nongkrong dulu di sini sambil cuci mata. Menyegarkan pikiran dan otak hehehe. Aku belum berangkat ke sekolah karena memang jarak antara halte ini dan sekolahku tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam lima menit. Disekolah juga mau ngapain. Paling ngegodain cewek sekelas. Bosen 4L. Lu lagi lu lagi.

 

Jam 06.50 Aku bersiap-siap menyetop angkutan. Aku rasa sudah saatnya berangkat kesekolah. aku berusaha menyetop angkutan yang lewat di halte. Tapi ya ampun kok penuh semua. Aku berusaha menghentikan beberapa angkutan yang lewat tapi tidak ada yang berhenti. Temanku juga ada yang naik angkutan dan lewat didepanku. Dia juga kebagian berdiri di pintu. Wah gawat nih. Aku bisa kesiangan. Waktu bel sekolah tinggal lima menit lagi. Aduh gawat…gawat.

 

Akhirnya ada juga angkutan yang berhenti didepanku. Itu juga aku berebut dengan orang lain yang akan naik. Aku kebagian berdiri dipintu. Selamat-selamat…… akhirnya aku bisa juga naik angkutan. Mudah-mudahan tidak sampai kesiangan.

 

Sampai di sekolah aku berlari menuju pintu gerbang. Satpam sudah bersiap-siap menutup pintu karena memang bel sudah berbunyi. Banyak juga teman-temanku yang kesiangan. Mereka berlarian menuju ke arah pintu gerbang. Aku beruntung karena bisa masuk sebelum pintu gerbang ditutup satpam. Aku tidak melihat teman-teman yang lain yang kesiangan karena aku berkonsentrasi untuk mengejar pelajaran pertamanya pak Dodi. Mudah-mudahan di belum masuk ke kelas.

 

Aku berlari di lorong sekolah karena memang kelasku berada di ujung koridor. Sepi terlihat di sepanjang lorong karena memang pelajaran sudah dimulai. Akhirnya aku sampai juga di depan kelasku. Aku lihat Pak Dodi sudah memulai pelajaran. Dia sedang menerangkan sesuatu. Aku bisa melihat karena memang pintu masuk kelas terbuka lebar. Aku mengetuk pintu masuk kelas.

 

“Selamat pagi pak…..”. Aku mengucapkan salam. Pak Dodi kemudian menoleh ke arah pintu.
“Selamat pagi juga Boy, atau selamat siang tepatnya”. Dia berkata sambil menyindir.
“Maaf pak, saya kesiangan”. Aku berkata sambil menunduk malu.

 

Terdengar suara koor dari deretan teman-temanku. aku melirik ke arah teman-temanku. Mereka pada tertawa cekikikan sambil mencibir. Aku balik mencibir kearah mereka. Aku melihat kearah Siska. Dia hanya tersenyum kepadaku. Aku kembali menghadap ke arah Pak Dodi.

 

“Ya sudah, silahkan kamu duduk”. Pak Dodi akhirnya mempersilahkan aku duduk.
“Terimakasih pak”. Aku menjawab.
“Ya…ya…. tapi lain kali jangan pake sepatu besi ya, jadi kamu susah berjalan, akhirnya terlambat masuk kelas”. Pak Dodi kembali berkata sambil tetap menyindirku.
“Hahaha…….”. Terdegar ledakan tawa dari teman-teman sekelasku.

 

Mati aku.