Selamat datang Cinta

Hidup manusia memang sudah di tentukan oleh-Nya. Baik itu yang berujung bahagia maupun yang tidak. Kita tinggal mengambil hikmahnya dari semua kejadian itu.

Tak terasa waktu berlalu, empat bulan sudah aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Entah karena dia yang menghindar atau aku sendiri yang menghindari bertemu dia. Tapi aku sudah melupakan semuanya. Kenangan manis itu hanya tinggal seonggok memory di relung kalbu. Toh semua yang ia katakan ketika terakhir kali aku bertemu tidak terjadi. Telepon, sms atau pun apalah yang bisa membuatku bisa berhubungan dengannya tidak kudapati. Begitupun aku, tidak berusaha untuk mendekati dia lagi. biarlah dia bahagia dengan kehidupannya tanpa ada gangguan dariku.

Hari senin ini aku memulai pekerjaan seperti biasa. Biasanya memang hari senin pekerjaan selalu menumpuk dan semangat kerjapun biasanya agak menurun. Entah karena habis berlibur atau karena padatnya kendaraan di jalan yang kadang membuatku agak sedikit stress.
Tapi hari ini aku tidak ingin stress, tidak ingin bermalas-malasan. Aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku ingin ceria. Yahh… biarlah, sudah lama aku tidak seceria pagi ini.

Jam delapan lewat limabelas menit aku menuju ruang lift untuk naik ke lantai satu. Ada yang harus aku foto copy di sana. Di depan ruang lift tidak ada siapa-siapa, aku menunggu lift turun. Ketika aku menengok kebelakang tiba-tiba ada seseorang masuk, sepertinya…

“Hai…”
“Eh… Hai juga…”. Jawabku. Jantungku hampir copot. Siska!!! Gak nyangka aku ketemu dia lagi setelah berbulan-bulan.
“Apa kabar…?”. Aku berkata berbarengan dengannya.
“Aku baik-baik saja… seperti yang kamu lihat, kalau kamu…?”. Aku yang pertama menjawab sekaligus bertanya mengenai kabarnya.
“Yah… aku juga kurang lebih sama, sudah agak baikan sekarang”. Jawabnya.
“Lho kenapa… kamu sakit…?”.
“Nggak apa-apa…”. Jawabnya. Tapi percakapan kami berhenti karena pintu lift sudah terbuka. Aku mempersilahkannya masuk duluan kemudian aku menyusul. Kebetulan tidak ada orang lain selain kami berdua. Aku memulai lagi percakapan setelah masuk ke dalam lift.

“Bagaimana kabarnya Kevin…?”. Tanyaku, tapi mendadak mukanya sedikit suram.
“Kita ketemu yuk sore nanti, di cafe yang dulu biasa kita datangi…”. Hei ada apa ini?
“Tapi… Kevin…?”. Jawabku
“Gak usah ngomongin dia dulu ya… aku ingin ngobrol sama kamu, mau kan…?”.
Aku berpikir sejenak. Sore nanti sepertinya aku tidak ada acara kemana-mana.
“Ok… aku tunggu sepulang kerja di sana”. Jawabku. Wajahnya kembali berubah ceria. Aku sudah sampai di lanta satu, saatnya untuk keluar. Sebelum keluar aku mencoba memegang tangannya. Tidak ada upaya penolakan darinya. Dia hanya tersenyum. Aku sebetulnya ingin terus berdua dengan dia tapi pintu lift sudah terbuka.

“Aku duluan ya…”. Sambil melepaskan tangannya aku berkata.
“Sampai nanti sore ya…”.
“Ok…”. Jawabku. Kemudian pintu lift tertutup.

“Janjian nih ye…”. Cewek operator telepon di front office menggodaku.
“Mau tau aja…”. Jawabku
“Katanya udah putus…”. Eh nih anak tau dari mana lagi.
“Mau tau aja urusan orang dewasa”. Jawabku seenaknya.
“Mau nyambung lagi nih…”.
“Udah…udah tuh ada telepon masuk”. Aku berkata sambil berlalu masuk ke ruangan kantor. Dia hanya mencibir.

Aku bertemu Siska lagi. Perasaanku jadi tak karuan. Perasaan yang lama aku pendam kini muncul lagi. Ternyata aku masih sangat merindukannya. Senyumnya, matanya, bibirnya, ah segalanya tentang dia masih bisa aku ingat. Tapi dia terlihat agak kurusan, apa dia melakukan program diet ya, tak tahulah. Tapi mungkin ini yang menjadi pertanda hari ini aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Ternyata aku bertemu kembali dengan pujaan hatiku.

Tapi ada apa dengan dia? Kok sepertinya dia murung saat aku tanya kabar pacarnya? Apa dia sedang bertengkar, dan dia mau curhat sama aku? Bagaimana kalau pacarnya itu melihat, seperti dulu aku melihat dia berdua? Kalau aku ingat kejadian itu rasanya hatiku tergores kembali. Tapi biarlah, mungkin dia sedang memerlukan seseorang yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah saat ini. Biarlah hatiku sedikit perih asal dia bisa bahagia.
Setelah pertemuan tadi hatiku jadi gelisah. Aku tidak bisa berkonsentrasi kerja. Aku teringat dia terus. Siska… sebetulnya aku masih sayang sama kamu. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Siska yang telepon, sepertinya dia tahu isi hatiku saat ini.

“Halo…”.
“Hai…”. Jawabku.
“Andi… aku kangen sama kamu…”. Suara Siska di seberang sana.
“Aku juga…”. Jawabku spontan, mulutku tidak bisa di ajak kompromi. Padahal aku ingin berbicara lain.
“Bener Ndi…?”.
“Iya Sis… tapi aku tau kamu sudah punya orang lain di hatimu”. Jawabku.
“Stop talking about that please…”. Dia berkata memohon.
“Ok… ok…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanya dia sepertinya ingin memastikan perbincangan di lift tadi padi.
“Iya, pulang kerja aku langsung ke sana ya”. Jawabku.
“Ok deh kalo gitu, sampai nanti ya daah…”.
“Daah…”. Jawabku menutup pembicaraan.

Sore hari sepulang kerja aku langsung menuju ke sana. Aku tidak membawa motor hari ini jadi aku naik angkutan umum ke tempat aku dan dia biasa bertemu. Toh jaraknya tidak jauh dari kantorku dan kebetulan jalanan tidak terlalu macet hari ini. Di tempat parkir tadi aku tidak memperhatikan apakah mobilnya masih ada atau tidak. Aku tidak tahu apakah dia keluar kantor hari ini. Kalau dia keluar kantor biasanya dia sudah menunggu di sana.

Sesampainya di pintu masuk mall aku bergegas menuju ke cafe. Aku berjalan setengah berlari. Entah kenapa aku ingin segera bertemu dengannya, hampir saja aku menabrak seorang ibu yang sedang menjinjing kantong belanjaan. Setelah meminta maaf aku berjalan kembali, kali ini aku berjalan cepat tapi lebih hati-hati. Sesampainya di depan cafe ternyata dugaanku tidak meleset. Dia sudah ada di sana. Dia duduk sambil matanya menatap lurus ke arah datangnya aku. Begitu melihatku dia langsung berdiri dan tersenyum.

Hal yang tidak aku duga terjadi. Begitu sampai di hadapan dia, aku dipeluknya. Dia berkata tersendat.

“Andi… aku kangen sama kamu…”. Dia berkata sambil terus memeluk tubuhku.
“Iya aku juga kangen sama kamu, tapi lepasin dulu pelukanmu, banyak orang yang melihat tuh…”. Aku berkata sambil melepaskan pelukannya perlahan.
“Ayo duduk”. Kemudian dia duduk dan aku duduk di samping nya. Tidak seperti biasa aku duduk didepannya.

Setelah memesan minuman aku memulai pembicaraan.
“Kamu baik-baik saja kan…?”.
“Aku baik-baik saja”. Jawabnya sambil tersenyum. Tapi sepertinya dia menyimpan sesuatu di balik senyumnya itu.
“Tapi aku lihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan”. Aku melihat gelagat yang agak lain di matanya.
“Mau cerita…?”. Tanyaku. Dia menarik nafas panjang.
“Tapi sebelum cerita aku ingin bertanya sama kamu”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Yah minimal telepon atau sms gitu…”.
“Aku tidak ingin mengganggu kamu, aku ingin kamu bahagia, dan lagi kamu juga tidak pernah mencoba menghubungiku”. Jawabku.
“Ok deh lupakan soal itu, lalu aku ingin bertanya lagi, kamu…. masih sayang kan sama aku?”.
“Siska… seperti yang aku pernah bilang dulu sebelum aku berpisah bahwa aku akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun, dan hal itu berlangsung sampai sekarang. Aku tidak bisa memberikan rasa sayangku sama orang lain kecuali sama kamu”. Jawabku

“Jadi…?”. Aku kembali bertanya. Dia terdiam sejenak.
“Kamu masih ingat waktu kita terakhir kali kesini?”.
“Iya masih”. Jawabku.
“Sebetulnya waktu itu…”. Dia diam lagi. Kemudian aku mendengar jawaban yang membuatku kaget.
“Aku ingin memilih kamu…”. Dia berkata sungguh-sungguh. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi kamu tidak memberikan aku kesempatan, kamu langsung memutuskan untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa berbuat banyak, akhirnya aku terima saja keputusanmu itu”. Aku hanya terdiam mendengar penuturannya.
“Aku minta maaf, aku tidak memberikan kamu kesempatan, aku egois ya… maafin aku”.
“Gak apa-apa, semua sudah terjadi, dan kamu tidak salah”.
“Tapi kamu tau apa yang membuat aku tambah menderita?”. Sungguh aku tidak tau arah pembiraan nya ini.
“Kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelum kamu pergi”. Tanya dia kemudian.
“Iya… aku mencium keningmu dan kemudian kamu menangis”. Jawabku
“Kevin melihat kita waktu itu…”. Aku seperti di sengat lebah mendengar perkataannya.

“Jadi dia tau?”.
“Ya dia tau, setelah kamu pergi lalu dia mendatangiku dan menanyakan tentang kamu. Aku tidak bisa berbohong dan aku menceritakan semuanya. Semuanya tentang kita, tentang perasaanku padamu, tentang perasaan kita, tentang sayangku padamu. Dia tidak bisa menerima semua itu. Walaupun aku berkata bahwa aku masih sayang sama dia, tetapi dia tidak bisa menerimaku. Akhirnya saat itu juga dia memutuskanku, memutuskan hubungan yang sudah berjalan hampir dua tahun. Bisa kamu bayangkan perasaanku waktu itu. Setelah kamu memutuskanku, Kevin juga memutuskan hubungannya denganku. Hari itu aku diputuskan oleh dua orang laki-laki. Dua orang yang sangat aku sayangi. Tapi mungkin itu balasan untukku. Aku memang salah sudah mendua”. Dia mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.

Aku kembali tidak bisa berkata apa-apa. Tidak aku sangka semuanya akan berakhir begini.

“Lalu apa yang terjadi kemudian”. Aku kembali bertanya karena aku lihat dia belum selesai berbicara.
“Setelah itu aku pulang, tapi sampai di rumah aku tidak sadarkan diri di depan pintu rumah, untungnya aku bisa mengendarai mobil dengan selamat tanpa terjadi apa-apa. Aku kemudian di rawat di rumah sakit selama seminggu. Mamaku bilang wajahku sangat pucat dan tekanan darahku turun sangat drastis. Aku tidak bisa apa-apa selama seminggu itu, hanya berbaring saja di rumah sakit. Makanya aku sekarang kelihatan agak kurusan kan? Tapi sekarang aku sudah sembuh dan baik-baik saja, kan kejadiannya sudah hampir empat bulan yang lalu”. Dia mengakhiri pembicaraannya.

Aku kemudian memeluknya. Ada sedikit air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian aku mengusap dengan tanganku.

“Kenapa kamu tidak memberitahu aku Sis…?”. Aku jadi sangat menyesal telah memutuskannya waktu itu.
“Aku tidak ingin mengganggumu Ndi… lagi pula mamaku selalu menemaniku di rumah sakit, jadi aku tidak merasa kesepian”. Jawabnya
“Tapi setidaknya kamu harus bilang sama aku”.
“Iya aku memang salah tidak memberitahu kamu, tapi sekarang aku sudah sehat kok…”. Jawabnya, dan sekarang dia sudah bisa kembali tersenyum.

“Lalu sekarang perasaanmu bagaimana?”. Tanyaku
“Yah… aku sekarang sudah lega, sebetulnya aku ingin membicarakan hal ini dari pertama kali aku masuk kerja. Tapi aku takut kamu masih marah sama aku. Aku sebetulnya sering melihat kamu tapi aku tidak berani menyapamu duluan”.
“Siska… kalau tau akhirnya akan begini, aku tidak akan memutuskan kamu”.
“Gak apa-apa Ndi… semuanya sudah terjadi. Yang penting sekarang aku sudah sehat dan sudah ada di depanmu, bisa ngobrol lagi”. Aku hanya tersenyum.
“Tapi aku tidak berharap banyak, aku tahu kamu pasti masih marah sama aku. Aku juga tidak berharap yang telalu muluk bahwa kamu mau kembali lagi sama aku. Kembali mencintaiku, menyayangiku seperti dulu”.

Aku terenyuh mendengarnya. Sungguh dia laksana bidadari yang turun dari kayangan. Hatinya sangat mulia, dia bisa merelakan aku kalaupun aku tidak bisa lagi menjadi kekasihnya.

“Jadi sekarang mau kamu bagaimana?”. Akhirnya aku berkata.
“Aku terserah kamu, kalau kamu masih sayang sama aku, aku berharap kamu bisa kembali lagi padaku. Melanjutkan kisah kita yang dulu tertunda”. Dia berkata sambil menatap mataku. Menembus relung sanubariku yang paling dalam.

Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Aku tidak ingin membuatnya berlama-lama terlarut dalam penderitaan. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin membuat bidadariku ini tersenyum. Biar dia bisa membawaku terbang ke awan dengan sayapnya.

“Kalau begitu maumu, aku bersedia kembali menjadi kekasihmu, aku akan selalu di sisimu, kita arungi hidup ini berdua”.
“Bener Ndi…?”. Dia menguncang-guncangkan tanganku seperti tidak percaya.
“Iya Sis…”. Jawabku.
“Makasih Ndi… Aku sayang sama kamu”.
“Aku juga sayang sama kamu”. Jawabku.

Kemudian aku dan dia berpelukan. Aku tak perduli banyak mata yang memperhatikan kami. Rasanya tak ingin berpisah. Setelah melepaskan pelukan kemudian dia berkata.

“Besok lusa kan Hari Natal…”.
“Lalu…?”. Tanyaku.
“Kamu adalah hadiah Natal ku yang paling indah, makasih sayang”.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku berharap perbedaan ini tidak akan memisahkan kami. Justru aku berharap perbedan ini bisa menyatukan hati kami.

“Siska…”.
“Hmmm… apa…?”. Jawabnya dengan mesra.
“Aku dan kamu memang berbeda keyakinan, dan kamu juga tau itu. Tapi aku harap perbedaan ini jangan sampai memisahkan kita. Aku ingin menjalani hubungan ini di atas perbedaan itu, aku ingin menjalani hubungan ini dengan serius, kamu bagaimana?”.
“Aku setuju, jangan sampai semua itu mempengaruhi hubungan kita ya…”. Jawabnya.
“Asal kamu jangan menduakan aku lagi”. Aku berkata sambil bercanda.
“Nggak akan… Ndi, aku gak akan menduakan kamu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Swear…”. Dia berkata sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
“Iya…iya… aku percaya”. Jawabku sambil tersenyum.

“Kita pulang yuk…”.
“Terus kita kemana?”. Tanyaku.
“Ke rumahku…”.
“Lho mau ngapain?”.
“Aku ingin mengenalkan kamu sama mamaku”.
“Tapi…”. Terus terang aku belum siap bertemu dengan orang tuanya.
“Tenang aja, aku sudah menceritakan semuanya. Waktu sakit kemarin aku sudah bercerita banyak tentang kamu kepada mamaku, dan dia ok ok saja. Mamaku orangnya pengertian, bahkan dia menyuruhku untuk mengundangmu ke rumah, bagaimana?”. Aku sedikit lega mendengar penjelasannya. Walau bagaimanapun aku agak sungkan bertemu orang tuanya. Bukan apa-apa, aku baru kali ini bertemu orang tua dari wanita yang aku sayangi.
“Ok deh…”. Jawabku.

Kemudian kami pulang setelah membayar makanan dan minuman yang kami pesan. Seperti biasa sepanjang koridor mall banyak mata yang memperhatikan kami, karena tangan Siska seperti tidak mau lepas dari lenganku. Tapi sekarang aku tidak perduli, toh aku tidak merugikan mereka dan Siska pun sepertinya berpikiran sama denganku.

Sepanjang perjalanan pulang aku dan dia banyak berbicara sambil bercanda. Aku sempat mencium pipinya, hampir saja mobilnya oleng ke kiri karena dia yang mengemudikan mobil.

Sesampainya di rumah Siska aku tidak langsung turun. Terus terang hatiku berdebar-debar.

“Ayo turun”. Ajak Siska
“Ok…”. Setelah beberapa saat akhirnya aku turun juga dari mobilnya.

Rumahnya lumayan besar juga. Untuk ukuran kota metropolitan dia sepertinya dari keluarga berada. Mungkin bekerja di kantor hanya sebagai pengisi waktu saja.

“Hei… kok malah bengong, ayo masuk”. Ajaknya
“Eh iya…”. Jawabku. Kenapa aku mendadak jadi kikuk ya. Ah biarlah, yang terjadi, terjadilah.

“Maa… mama…”. Setelah membuka pintu, Siska memanggil mamanya.
“Iya sayang… gak usah teriak-teriak gitu ah…”. Jawab seseorang dari dalam. Suara perempuan, mungkin itu ibunya. Tak lama kemudian datang seorang wanita yang wajahnya mirip Siska. Oh ini ternyata ibunya Siska. Wajahnya mirip dengan dia dan sepertinya umurnya masih muda.
“Ini lho ma, ada yang ingin aku kenalin”. Siska menunjuk ke arahku. Dia kemudian melihat ke arahku. Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian membungkuk menyalaminya.
“Mama ini yang namanaya Andi, Andi ini mamaku”. Dia bergantian menyebut mamanya dan aku.

“Oh ini yang namanya Andi”. Mamanya berkata sambil tersenyum.
“Ayo silahkan duduk”.
“Makasih tante”. Jawabku.
“Maaf tante saya sudah merepotkan, sudah membuat Siska sakit”.
“Oh itu… gak apa-apa mungkin sudah jalannya harus begitu, yang penting sekarang Siska sudah sehat”.
“Iya tante”. Jawabku.
“Cuma tante titip Siska ya, jaga dia baik-baik, dia anak perempuan tante satu-satunya soalnya yang lain laki-laki semua”.
“Eh iya tante”. Aku melirik ke arah Siska, dia terseyum sambil menutup mulutnya.

Kemudian Aku, Siska dan memanya terlibat obrolan ringan. Tapi yang aku salut, mamanya tidak sekalipun menyinggung masalah keyakinanku. Aku sangat menghargai sikapnya tersebut.

Setelah berbasa-basi dan ngobrol ini itu aku akhirnya pamit pulang. Sekali lagi mamanya berpesan agar aku menjaga Siska baik-baik dan aku mengiyakan.

Siska mengantarku sampai ke depan gerbang rumahnya sementara mamanya sudah masuk.

“Sis… kok mama kamu sudah tahu tentang kita?”. Aku berkata ketika aku sudah berada di luar gerbang.
“Kaget ya… aku sudah menceritakan semuanya tadi siang sebelum kita ketemu. Dan aku berkata apabila aku bisa membawamu ke rumah berarti aku sudah jadian lagi sama kamu”. Jawabnya.
“Oh gitu… nakal ya kamu, bagaimana kalau aku tidak bersedia datang…”. Aku berkata sambil mencubit hidungnya. Dia hanya tertawa.
“Aku pulang ya… sampai besok”.
“Nggak ada yang kelupaan?”. Tanya dia
“Apa…”. Jawabku. Dia menunjuk pipinya, manja juga nih anak. Aku kemudian mencium pipinya kiri kanan lalu mencium keningnya. Matanya terpejam.
“Aku pulang ya sayang…”. Aku berbisik di telinganya.
“Hati-hati di jalan ya…”. Aku mengangguk.

Aku kemudian berjalan meninggalkan rumahnya. Dia masih melihat ke arahku walaupun jarak aku dan dia sudah jauh. Dia melambaikan tangan. Sampai aku naik angkutan pun sepertinya dia masih melihatku.

Babak baru kehidupanku sudah di mulai. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya. Aku yakin perbedaan ini akan menyatukan kami.

Jakarta, Akhir Desember 2006

NB : Boeat Elisa… maaf ya kalau cerita ini kurang berkenan. Aku sengaja mengganti namamu. Sampai sekarang aku masih tetap mengharapkanmu. Tapi sayang kita sekarang sudah jauh.

Siska (Bag.3 – Tamat)

Malam nya sebelum tidur aku dapet sms. Siska yang kirim. Ada apa ya, gak biasanya. Jangan-jangan…

 

Ndi makasih ya makan malam nya. Unforgetable evening. Sebetulnya sih aku…. ah nggak deh nanti aja. Met tidur ya…

 

Hmmm… apa maksudnya ya…? aku mencoba menghubungi Hp nya tapi sepertinya dia sengaja mematikan HP nya. Tadinya aku berniat membalas sms nya tapi aku urungkan niatku karena aku pikir percuma saja kalau HP nya dia matikan. Akhirnya aku tertidur dengan bayangan Siska menemaniku.

 

Setelah kejadian makan malam itu, aku semakin sering jalan bareng dia. Seminggu bisa tiga sampai empat kali aku jalan bareng dia. Entah itu ke mall, makan, ataupun nonton film. Selama itu kita semakin dekat. Dia sudah tidak malu lagi berjalan bergandengan tangan denganku. Layaknya sepasang kekasih saja. Padahal aku belum mendengar sepatah katapun bahwa dia menerimaku sebagai pacarnya.

 

Suatu saat aku bertanya kepadanya sewaktu kita sedang berjalan-jalan di mall.
 
“Sis…”.
“Hmm…”. Dia menjawab tanpa melihatku karena tangan nya sedang sibuk memilih baju.
“Siska… liat sini dong…”.
“Apa…”. Jawabnya sambil masih memili-milih baju
“Aku mau ngomong”.
“Serius amat… kita duduk di cafe saja…”. Jawabnya sambil menarik tanganku menuju cafe.
“Mas… lemon tea dua…”. Teriak Siska kepada pelayan cafe. Dia sudah mengerti karena kami sering datang ke sini.
 
“Ok… sekarang kita sudah duduk, kamu mau ngomong apa…?”. Tanya dia. Matanya menatap lurus kepadaku.

 

“Tapi jangan marah ya…”.
“Marah kenapa…”. Tanya dia sambil sedikit tertawa.
“Janji ya…”.
“Iya…iya…”. Jawabnya.
“Aku pengen tau status hubungan kita”. Aku bicara serius sambil menatap matanya.
“Status apa…?”. Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Nampaknya dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan.
“Ya… aku dan kamu…”.
“Maksudnya?”. Sambil masih tersenyum.
“Aku pengen tau aja… kita ini sudah pacaran belum sih…?”. Tanyaku. Aku pengen nyubit pipinya yang terus tersenyum itu… gemas.

 

“Maksudmu aku sudah jadi pacarmu apa belum gitu…?”.
“Iya Siska….”. Aku berkata semakin gemas.
“Kamu pikir aku sudah sering jalan sama kamu, makan bareng kamu, nonton bareng, curhat dan sebagainya kamu anggap apa…?”. Eehhh dia malah balik nanya.
“Ya… aku gak tau…”. Jawabku agak bingung.
“Kamu pikir aku mau jalan sama kamu kalau aku ga punya perasaan sama kamu…?”. Yah… nanya lagi.
“Kamu kan gak pernah ngomong, gak pernah ngasih jawaban apa-apa…”. Jawabku
“Memang harus dikatakan ya…?”.
“Aku hanya ingin ketegasan aja…”.
“Tapi kan gak harus… dengan sikapku selama ini juga harusnya kamu sudah tau…”. Bodohnya diriku.

 

“Jadi selama ini…”. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu…”. Aku tidak meneruskan bicara.
“Kamu apa…?”.
“Aku sudah jadi pacar kamu…?”. Antara bahagia dan heran aku bertanya. Dia hanya mengangguk.
“Jadi sekarang aku sudah resmi jadi pacar kamu…?”.
“Memang nya harus di resmikan, kayak yang merried aja…”. Jawabnya.
“Yes…”. Aku berkata agak keras.
“Huss…. pelan-pelan, orang-orang pada liat tuh…”. Aku menutup mulutku. Habisnya aku gak tahan ingin mengungkapkan kebahagiannku.
“Tapi sejak kapan…?”. Tanyaku.
“Gak penting… yang jelas aku punya perasaan yang sama dengan kamu”. Jawabnya. Aku pegang tangannya membawanya ke arah mukaku, dan aku menciumnya.

 

“Andi…. apa-apaan…”. Dia berusaha menarik tanganya tapi tidak sungguh-sungguh menariknya sehingga aku bebas memegang tangannya.
“Pulang yu…”.
“Ayo…”. Jawabnya.
“Kita mau kemana…?”. Tanya dia
“Kita jalan aja yuk…”. Jawabku
“Kamu mau ngajak aku kemana…?”. Tanya dia lagi.
“Ke ujung dunia…”. Jawabku. Dia hanya tersenyum kecil. Dia menggelayut manja dilenganku. Aku serasa menjadi laki-laki sejati. Langkahku tegap, dadaku membusung, hahaha kayak tentara.

 

Aku benar-benar bahagia, apa yang aku cita-citakan terlaksana juga. Aku bahagia karena ternyata aku bisa memilikinya. Aku sudah tidak ragu-ragu lagi dengan perasaanku kepadanya. Aku bisa menumpahkan seluruh kasih sayangku kepadanya tanpa ada ganjalan sedikitpun.
 
Sejak hari itu aku resmi jadi pacarnya. Aku bisa dengan bebas meng-ekspresikan kasih sayangku.

 

Tapi tidak selamanya kisah cinta itu indah. Itu juga yang terjadi kepadaku. Aku dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuatku harus membuang jauh rasa sayangku kepasa Siska. Yang membuatku harus mengubur dalam-dalam harapan dan angan-anganku selama ini kepadanya.

 

Aku mengurung diri di dalam ruangan kerjaku. Aku tidak pernah keluar ruangan. Makan siangpun aku minta di antar ke meja kerjaku. Aku datang ke kantor tepat waktu dan langsung duduk di depan meja. Aku pulang juga tepat waktu tanpa ada kegiatan menunggu dia dulu. Telepon Siska tidak pernah aku jawab, begitupun sms nya tidak pernah sekalipun aku balas.

 

Seminggu kejadian ini berlangsung sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Siska di dalam lift seperti yang pernah aku ungkap di awal cerita. Mungkin memang harus begini akhir kisah cintaku. Lebih baik sekarang dia tahu kenapa aku menjauhinya. Aku sudah siap melupakan dia untuk selamanya.

 

Sore hari selepas jam kerja aku berangkat ke cafe tempat biasa kita bertemu. Aku berjalan santai di dalam mall karena waktu pulang Siska masih lama. Jadi aku pikir masih ada waktu menunggu dia. Tapi aku salah duga, ketika aku sampai dia sudah ada di sana menungguku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku juga tersenyum tapi hambar kurasa.

 

Masih cantik seperti biasa. Sungguh…aku selalu terpesona apabila menatap wajahnya. Matanya selalu menampakkan binar-binar kasih. Aku kemudian duduk di depan dia. Di depannya sudah ada gelas kosong satu dan satu lagi masih tersisa setengahnya pertanda dia sudah cukup lama menungguku disini. Di depanku juga sudah ada minuman yang tampaknya sengaja dia pesan untukku.

 

“Hai… sudah lama nunggu aku..?”. Aku membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk. Matanya agak meredup pertanda ada sesuatu yang mengganjal perasaannya, mungkin tentang aku.
“Kenapa Ndi…?”.
“Apanya yang kenapa?”. Jawabku
“Yang tadi siang aku tanyakan…?”.
“Ooh itu… gak apa-apa…”.
“Gak ada apa-apa kamu bilang…?”. Tanya dia keheranan.
“Kamu tidak menjawa teleponku, tidak membalas sms ku, tidak pernah kelihatan di kantor, tapi kamu bilang tidak ada apa-apa… kamu gimana sih…?”. Tanya dia dengan semangat.

 

“Aku…. gimana ya aku ngasih tau sama kamu…”. Jawabanku menggantung.
“Kenapa Ndi…”. Dia memegang tanganku dan menarik nya. Aku tidak menjawab.
“Kamu sudah bosan sama aku…?”. Wah bosan… tidak mungkin aku bosan menatap wajahnya. Tidak mungkin aku bosan berjalan berduaan dengannya. Tidak mungkin aku bosan berlama-lama berbicara dengannya.
“Nggak…”. Hanya itu kata yang keluar dari mulutku.
“Lalu kenapa… apakah karena aku orang chinesse…?”. Wah dari mana pula pertanyaan itu berasal.

 

“Siska… aku sudah tahu dari pertama melihat kamu bahwa kamu tuh orang chinesse, so what… aku suka kamu”. Jawabku
“Atau apakah aku bukan seorang muslim, jadi kamu menjauhiku…?”. Tanya dia tak kalah sengit.
“Aku sudah tau resiko itu dari semenjak aku menyukai kamu. Jadi tidak menjadi masalah buatku apakah kamu seorang muslim atau bukan. Yang jelas aku menyukai kamu”. Jawabku
“Jadi kenapa Ndi… jawab dong…”. Dia terus mendesakku.
 
“Siska… kamu tahu kan aku menyukai kamu, aku sayang sama kamu bahkan aku sudah menumpahkan seluruh perasaanku kepadamu. Tapi mengapa disaat perasaanku begitu besar kepadamu terjadi sesuatu yang membuatku perasaanku hancur…”.
“Sesuatu apa…?”. Tanya dia

 

“Aku melihat kamu berjalan berduaan di mall ini seminggu yang lalu. Aku tadinya berpikir itu adalah teman kamu, tapi setelah aku perhatikan nampaknya dia bukan sekedar teman karena kamu terlihat mesra sekali berjalan berdua dengannya. Aku sempat iri dibuatnya, kamu terlihat bahagia sekali”. Akhirnya aku menjelaskan juga duduk perkaranya. Dia hanya terdiam mendengar penjelasanku.
“Dan aku tidak hanya sekali melihat kamu bersama dia, dua hari kemudian aku kesini lagi dan seperti malam minggu sebelumnya aku melihat kamu lagi, sedang berjalan berdua dengan dia. Sampai tiga kali berturut-turut aku lihat kamu di sini dan dengan orang yang sama”.
“Itu pacar kamu kan…?”. Tanyaku. Dia hanya diam.

 

“Jawab Sis…”. Aku bertanya lagi. Aku berkata pelan. Walaupun aku tahu dia telah menduakan aku tapi aku masih teramat sayang kepadanya.
“Iya…”. Hanya itu yang terlontar dari bibirnya.
“Duluan siapa dia sama aku…?”. Tanyaku lagi. Dia terdiam lagi.
“Siska…”. Aku terus mendesaknya.
“Dia…”. Jawabnya. Aku mengeluarkan nafas panjang. Terasa berat sekali.
“Berarti kamu menduakan dia…”.
“Tapi Ndi…”.
“Tapi apa…”.
“Aku sayang sama kamu”. Dia berkata lirih.
“Aku juga sayang sama kamu Sis… walaupun ternyata aku kamu jadikan yang kedua tapi rasa sayangku tak akan berubah. Walaupun sakit tapi aku tetap sayang sama kamu”.
 
“Siapa namanya…?”. Tanyaku. Dia terdiam lagi
“Katakan Sis…?”. Tanyaku lagi
“Memang harus ya…?”. Dia balik bertanya
“Aku hanya ingin tau”. Jawabku.
“Kevin… namanya Kevin”. Jawabnya
“Orang mana…?”.
“Orang Kelapa Gading juga”. Jawabnya
“Sejak kapan kamu berhubungan sama dia?”.
“Dia teman kuliahku dulu”. Jawabnya.
Berarti kamu sudah lama pacaran sama dia”. Dia hanya mengangguk.
“Maafkan aku Ndi… aku gak bermaksud menduakan kamu, tapi aku gak punya pilihan lain. Aku sudah punya pacar tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, aku juga sayang sama kamu”.
“Semenjak kita jalan bareng aku sudah bimbang. Tadinya aku ingin nolak kamu, tapi aku gak bisa. Gak tau kenapa aku gak bisa menjawab tidak sama kamu, makanya aku tidak berani menjawab langsung”. Dia berusaha menjelaskan duduk persoalannya. Tapi buatku, melihat dia berdua sama orang lain juga sudah cukup menjelaskan duduk persoalannya.

 

“Tidak ada yang perlu di maafkan”. Aku berkata sambil menyandarkan diri di sandaran kursi.
“Jadi kamu ingin aku memilih antara kamu atau dia…”.
“Aku tidak berkata begitu”. Jawabku.
“Atau kamu ingin aku putus dengan dia dan jalan sama kamu…”.
“Sekali lagi aku tidak berkata begitu Sis…”. Jawabku.
“Setelah apa yang aku lakukan, kamu masih mau menerimaku…?”. Tanya dia lagi.
“Siska… sebaiknya kamu kembali lagi sama dia. Aku rela melepaskan kamu walau sebetulnya berat sekali”.
“Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian, aku tau rasanya diduakan, bagaimana seandainya dia tahu apa yang kamu lakukan, pasti dia juga merasa sakit”.
“Tapi aku juga sayang kamu”. Berkali-kali dia berkata begitu seolah tidak ingin aku tinggalkan.
“Kamu juga tau kan, aku sangat sayang sama kamu”. Dia hanya mengangguk.
“Simpan saja rasa sayang mu padaku, mudah-mudahan suatu saat kita di pertemukan kembali”.
“Tapi apabila suatu saat aku kembali padamu, kamu masih mau menerimaku…?”. Dia bertanya sungguh-sungguh. Aku tidak menjawab apa-apa, tapi kepalaku perlahan mengangguk. Dia sedikit tersenyum tapi masih nampak sedikit kegetiran disana. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tak tahu. Tapi semoga saja apa yang akan dia lakukan sesuai dengan apa yang di cita-citakannya.
“Aku pulang ya… jaga diri baik-baik”. Dia hanya mengangguk.
“Tapi aku masih bolehkan menelpon kamu, sms kamu”. Tanya dia.
“Ya…”. Jawabku, walaupun aku belum tau apakah nanti aku akan menjawab teleponnya atau membalas sms nya.

 

Aku beranjak dari tempat duduk. Tidak ada gunanya aku berlama-lama disini. Hanya akan membuatku semakin sakit. Aku berdiri kemudian menghampirinya. Aku menunduk kemudian mencium keningnya sambil berbisik…

 

“Aku sayang kamu…”. Dia hanya mengangguk. Aku lihat ada bulir-bulir airmata yang siap jatuh. Aku sebetulnya ingin mendekapnya, membawanya kedalam dadaku dan mengatakan bahwa aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan menunggunya. Tapi aku ingin segera pergi dari sini.

 

Aku berbalik dan melangkah menjauh. Aku tidak lagi menengok ke arah dia. Tapi aku rasakan bahwa dia masih menatapku, melihat kepergianku. Biarlah semuanya berlalu menjadi kenangan. Cerita indah bersamanya akan aku simpan rapi di dalam dalam hatiku.

Siska (Bag. 2)

Semenjak tahu nomor HP nya aku jadi sering menelepon dia. Ternyata di rumah dia bisa lebih santai kalau aku hubungi. Tapi walaupun begitu aku enggan menanyakan nomor telepon rumahnya. Lebih enak kalau menelepon dia di Hp, lebih privat gitu.

 

Biasanya aku telpon dia sekitar jam tujuh malam. Biasanya dia sudah ada di rumah dan sudah santai.

 

“Hai Siska…”. Aku sudah tidak lagi memulai pembicaraan dengan basa-basi selamat malam atau apalah itu. Soalnya sudah mulai akrab berbicara dengan dia. Aku rasa dia juga demikian. Sudah mulai berbicara terbuka kepadaku.
“Hai ndi…, ih kesel deh hari ini…”. Katanya.
“Ada apa memang nya…?”. Tanyaku.
“Aku di marahin customer Ndi, sebel banget deh. Bukan aku yang salah kok. Dia sendiri yang salah order, bukan salah aku dong kalau aku kirim sesuai dengan yang dia pesan”. Dia bicara panjang lebar.

 

“Oh gitu… terus akhirnya gimana?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Ya akhir nya di batalin, aku jadi di omelin sama atasanku, sama orang gudang, ah sebel deh pokok nya”. Dia bicara masih agak kesal.
“Sabar aja ya… kalau kerja memang gitu, harus tahan kalau ada kesalahan”. Aku mencoba menghiburnya.
“Tapi kan bukan salahku…”. Masih dengan nada kesal.
“Iya memang bukan salah kamu, tapi kamu harus sabar kalau jadi sasaran kemarahan orang. Kamu kan bekerja baru beberapa bulan, masih banyak yang harus kamu pelajari”. Aku menambahkan.

 

“Tapi aku masih kesel…”. Jawabnya lagi.
“Iya kesel boleh..tapi jangan keterusan ya… senyum dong… biar keselnya hilang…”. Aku mencoba mencairakan kekesalannya.
“Hehe iya sih.. kenapa aku keterusan ya?”. Jawabnya.
“Nah gitu dong… kan enak, jadi gak stress hehe”. Akhirnya.
 
“Kamu dah makan?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Belum nih… kenapa? Mau ngajakin? Mau dong di traktir… hehe”. Jawabnya. Kali ini dia sudah mulai bisa bercanda.

 

“Boleh ntar aku jemput ke rumah ya hehe”. Jawabku.
“Nggak usah… aku udah makan kok, tadi waktu pulang kerja makan dulu”. Kepancing juga dia.
“Kamu tuh… lagian aku juga belum tau rumah kamu, bagaimana aku bisa ke sana?”.
“Eh iya deng… kamu belum tau rumahku ya”. Jawabnya.
“Boleh dong sekali-kali main ke sana”. Tanyaku.
“Boleh aja… tapi di sini ada anjing galak, tar kamu di gigit”. Jawabnya.
“Kan ada kamu yang ngobatin hehe”. Jawabku sekenanya.
“Huuu maunya tuh”. Aku tertawa mendengarnya karena di ujung sana pastinya dia sedang mencibir.

 

“Mmmm Sis… mau gak satu saat aku ajak kamu makan?”. Aku nekad bertanya. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Mumpung aku sudah dekat sama dia.
“Boleh…boleh… Kapan?”. Jawabnya. Wah dia langsung mau. Aku bingung juga nih, kapan ya.. dan dimana soalnya aku belum tau selera dia.
“Kalo pulang kerja gimana?”. Tanyaku
“Boleh… kapan?”. Wah nembak lagi dia. Kapan ya…
“Besok jumat gimana? kan besoknya libur jadi waktunya lebih santai”. Jawabku
“Boleh… kamu mau ngajak makan di mana?”. Bingung lagi aku.
“Nah itu dia… aku belum tau selera kamu, jadi mending kamu deh yang pilih tempatnya”. Jawabku.

 

“Kok aku yang pilih… kan kamu yang ngajak. Aku jadi gak enak”.
“Gak apa-apa… kalo aku makan di mana aja ok, tapi kalo cewek kan biasanya punya tempat favorit gitu”. Alasan yang aku cari-cari sebetulnya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada nanti dia kecewa mendingan dia yang pilih sendiri.
“Oh gitu ya… kalau begitu di La Piazza Kelapa Gading aja bagaimana…?”. What… La Piazza… bisa bangkrut nih, batinku.
“Ok deh kalo gitu, besok pulang kerja kita ketemu di sana ya…”. Jawabku
“Udah dulu ya… besok aku telepon lagi”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Ok daah”.
“Daah”. Jawabku.

 

Yes… aku besok akan makan malam sama dia. Tapi… La Piazza nih, bisa abis duitku. Tapi gak apalah, yang penting aku bisa berduaan sama Siska.

 

Besok nya aku sudah gak sabar menanti sore. Rasanya lama hari ini. Apa aku sudah jatuh hati sama dia. Sampai tidak karuan begini perasaanku. Padahal hanya makan malam saja, nothing else. Tapi rasanya seperti mau menghadapi ujian matematika yang gurunya killer. Huh… hatiku tidak bisa di ajak kompromi, selalu aja dagdigdug. Padahal yang di ajak makan mungkin tidak punya perasaan apa-apa. Ah biar saja, toh cuma makan malam bukan ketemu calon mertua…lho apa maksudnya hehehe…

 

Siang hari akhirnya ku telepon dia di kantornya.
 
“Halo Sis…”.
“Halo Ndi…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanyaku
“Mmmm apa ya…?”. Jawabnya
“Lho… yang semalam itu…?”.
“Yang malam apa…?”. Jawabnya lagi.
“Masa sudah lupa… kan janji mau makan malam…”. Aku mulai kesal di buatnya. Baru malam tadi bicara masa sudah lupa lagi.
“Oh aku janji ya… lupa tuh…”. Jawab dia seenaknya.
“Ya udah kalo gitu, udah ya daah”. Aku memutuskan hubungan telp tanpa menunggu dia menjawab apa-apa lagi. Biarlah kalau memang dia lupa.

 

Satu menit kemudian Hp ku berbunyi. Aku lihat di layar HP ku yang telp Siska. Angkat jangan ya… Akhirnya telepon aku jawab juga.
 
“Halo…”. Aku mulai bicara.
“Ndi… marah ya… hahaha…”. Terdengar dia tertawa di seberang sana. Kalo dalam keadaan biasa mungkin akan terdengar indah di telingaku, tapi berhubung aku sedang kesal kepadanya jadi terdengar aneh di kupingku.
“Jangan marah ya… aku bercanda kok”. Masih terdengar sisa tawa di ujung sana.
“Oh gitu… kirain…”. Jawabku
“Kirain apa… hehehe… Serius amat… kenapa sih kamu…?”. Tanya dia.
“Gak apa-apa sih cuma… ya… gak apa-apa sih”. Jawabanku menggantung. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku sangat mengharapkan untuk bisa jalan bareng dia.

 

“Kenapa sih pengen banget jalan sama aku?”. Uh dia langsung nebak isi hatiku.
“Ya… pengen aja jalan sama kamu, pengen kenal lebih dekat”. Jawabku
“Lho kan sekarang juga sudah kenal”.
“Kan belum dekat”. Jawabku lagi
“Sedekat apa?”. Tanya dia lagi. Ini anak maunya apa sih sebetulnya. Kayak mau introgasi aja.
“Sangat dekat”. Aku jawab sekenanya saja. Akan aku layani pertanyaanya.
“Kalau sudah dekat, mau apa?”. Dia nanya makin jauh.
“Mau lebih dekat lagi”. Jawabku. Permainan apa yang sedang dia jalankan? Pertanyaanya semakin menjurus.
“Kalau sudah semakin dekat?”. Aduh apa sih maunya.
“Nempel kali…”. Jawabku sekenanya.
“Hahaha…”. Dia tertawa.

 

“Jadi bagaimana entar sore? Jadi kan…?”. Aku tanya setalah dia selesai tertawa.
“Ya jadi lah…”. Jawabnya.
“Aku tunggu di sana ya”.
“Apa nggak bareng aja dari sini?”. Hah bareng… Bisa heboh kantorku.
“Wah gak usah, aku bawa motor. Jadi aku duluan saja ya…”. Jawabku
“Oh begitu… ya udah. Aku sampe di sana sekitar jam enam”.
“Ok… sebelum jam enam aku sudah di sana”. Jawabku
“Kalau begitu sampai nanti sore ya… dah…”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Daah…”. Jawabnya sebelum menutup telepon.

 

Lega deh… mudah-mudahan nanti sore segalanya lancar tidak ada halangan apa-apa. Soalnya aku sudah ingin mengajak dia jalan semenjak aku kenal sama dia. Hmmm… kenapa ya? Ada sesuatu yang membuat aku ingin dekat sama dia. Entah apa itu.

 

Sore hari selepas pulang kerja aku langsung menuju ke Kelapa Gading tempat kita janjian. Sementara dia belum kelihatan karena memang jam pulang kantornya lebih lembat setengah jam dari kantorku.

 

Tempat parkir motorku cukup jauh dari La Piazza tidak seperti parkir mobil yang bisa langsung masuk ke sana. Sampai di dalam aku berjalan berkeliling. Bingung juga nih dimana aku makan sama dia. Akhirnya aku duduk di depan panggung yang biasanya menggelar live music. Aku lihat sekeliling masih sepi. Tapi kios yang menjajakan makanan sudah buka semua. Aku tinggal menentukan akan menunggu dia di mana dan rencana makan malamku di mana.

 

Sudah jam enam sore. Tapi dia belum kelihatan juga. Mungkin kena macet di jalan. Maklum ini akhir pekan. Biasanya semua orang keluar rumah. Akibatnya jalan menjadi macet. Jam enam seperempat HP ku berbunyi. Siska yang telepon.
 
“Halo Ndi… aku sudah sampai nih, kamu di mana?”. Tanya dia.
“Aku ada di tempat makan yang ada panggung musik nya”. Jawabku
“Oh di sana… aku ke sana sekarang”.
“Ok aku tunggu”. Jawabku

 

Tidak sampai sepuluh menit yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dia memakai atasan jas hijau tua dan bawahan memakai rok hijau tua juga. Hmm gaya eksekutif muda nih, pikirku. Padahal yang aku tahu sehari-hari dia memakai pakaian biasa saja. Biasanya dia memakai kemeja lengan pendek dan bawahan memakai celana panjang. Malam spesial kali. Kan mau makan malam sama aku. Huh geer kamu.

 

Dari jauh aku lihat dia sudah tersenyum dan melambaikan tangan. Aku juga tersenyum dan melambaikan tangan. Benar-benar cantik dia malam ini. Setelah sampai aku berdiri menyambutnya.
 
“Hai Sis… pa kabar”. Entah kenapa aku jadi grogi. Kenapa harus kata itu yang muncul. Apa tidak ada kata lain, misalnya hai sayang atau hai honey, hey dia belum jadi pacar kamu.
“Baik… lama ya nunggu aku?”.
“Nggak sebentar kok, lagian lama juga gak apa-apa. Aku pasti nunggu kamu”. Jawabku
“Maaf ya soalnya macet tadi di jalan”. Dia nampaknya tidak merespon jawabanku. Kenapa ya, kok kelihaannya dia jadi agak kaku. Tidak seperti di telepon selalu penuh canda.
“Nggak apa-apa Sis, oh iya jadi kita makan di mana?”. Aku langsung menanyakan tempat dimana kami akan makan.

 

“Kalau di sana gimana?”. Dia menunjuk ke arah pojok. Di sana ada kedai seafood.
“Ok… yuk kita ke sana”. Jawabku. Akhirnya aku berjalan berdua dengannya menuju ke arah kedai seafood. Suer… aku jadi kikuk, grogi. Tampaknya diapun demikian.
 
Setelah sampai di sana kamipun langsung duduk. Aku menggeser kursi dan mempersilahkannya duduk duluan.
 
“Makasih…”. Dia berkata. aku hanya tersenyum dan kemudian menggeser kursi di depannya lalu duduk berhadap-hadapan dengannya. Seorang pelayan datang menghampiri kami.
“Selamat malam mas, mbak, mau pesan apa?”. Si pelayan bertanya.
“Kamu mau pesan apa Sis…?”. Aku bertanya kepada Siska. Dia kemudian melihat ke arah daftar menu yang ada di depan kami.

 

“Aku pesan… udang goreng saus mentega, kalau kamu Ndi…?”. Dia balik betanya kepadaku. Aku juga melihat ke arah daftar menu yang aku pegang.
“Aku udang goreng juga tapi yang saus pedas”. Jawabku.
“Minumnya…?”. Si pelayan bertanya lagi.
“Kamu minum apa Sis..”. Tanyaku lebih dulu pada Siska.
“Aku Jus jeruk”. Jawabnya.
“Aku teh botol mbak, tapi pakai es”.
“Saya ulangi pesanannya ya… Udang goreng saus mentega satu, udang goreng saus pedas satu, jus jeruk satu dan teh botol pakai es satu”. Pelayan tersebut mengulangi pesanan kami. Aku mengangguk dan mengiyakan. Kemudian pelayan tersebut berlalu.

 

“Eh kok sama… pesan udang juga?”. Tanya Siska
“Ah nggak apa-apa cuma pengen saja pesan udang”. Jawabku, padahal aku kurang familiar sama seafood dan yang aku suka cuma udang goreng.
“Oh begitu…”. Hanya itu komentarnya. Kami saling diam untuk beberapa saat. Siska hanya diam dan sekali-kali melihat ke arahku. Aku pun demikian. Tapi bedanya aku selalu memperhatikan dia. Dia benar-benar cantik. Aku tidak salah menyukai dia.
 
“Kenapa…?”. Dia mulai membuka suara.
“Apa… eh kenapa…”. Aku tergagap.
“Kamu kok seperti menelanjangi aku…”.
“Aku emm… habis kamu cantik sih…”. Jawabku spontan. Wah aku salah ngomong nih. Tapi dia hanya tersenyum. Pipinya bersemu merah. Kelihatan sekali karena kulit nya putih.

 

“Gimana kerjaan hari ini, lancar…”. Aku mencoba membuka percakapan dengan dia.
“Lancar…”. Jawabnya.
“Nggak ada yang bikin kesel lagi…”. Tanyaku
“Nggak ada sih hehe…”. Dia mulai tersenyum.
“Syukur deh kalau begitu”. Jawaban standar keluar dari mulutku. Tak lama kemudian makanan sudah datang. Aku mempersilahkan dia makan.
“Ayo Sis, di makan…”. Aku berkata sambil mempersilahkan.
“Iya…”. Jawabnya. Dia menunduk sebentar, sepertinya dia sedang berdoa. Aku hanya memperhatikannya. Setelah selesai dia kemudia mulai makan setelah sebelumnya mengajakku.

 

Sambil makan kami mulai berbicara.

“Boleh aku nanya Ndi…?”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu pengen banget ngajak aku jalan?”. Wah masih yang tadi siang nih.
“Emang nggak boleh…”. Jawabku
“Ya boleh aja… tapi kenapa”. Tanya dia masih penasaran. Aku diam sejenak.
“Aku ingin lebih mengenal kamu. Seperti yang aku bilang tadi siang”.
“Memang kamu mau temenan sama aku? aku kan bukan… apa ya namanya…?”. Dia tidak melanjutkan.

 

“Memang ada apa…?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Gimana ya ngomongnya… maaf ya Ndi, sebelumnya. Aku kan bukan dari golongan kamu”.
“Golongan… maksudnya apa… golongan apa…?”. Aku jadi penasaran.
“Kamu tahu sendiri kan, aku ini dari golongan minoritas. Biasanya jarang ada yang mau bergaul dengan orang seperti aku”. Jawabnya. Aku sudah mengerti yang dia maksud.
“Maksud kamu Etnis…”. Dia mengangguk mengiyakan.
“Siska… aku berteman sama siapa aja. Sama orang apa aja, yang penting dia baik”. Jawabku.
“Tapi biasanya mereka selalu menganggap rendah orang-orang seperti aku”. Terlihat nada serius dalam tatapannya.

 

“Siapa bilang… setahuku tidak ada yang bersikap seperti itu, kalaupun ada mungkin hanya segelintir orang saja yang bersikap demikian. Jangan kan kamu, aku aja sering di rendahkan orang. Jadi jangan di anggap orang-orang seperti itu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, tidak ada yang rendah tidak ada yang tinggi. So lupakan saja hal-hal seperti itu, Ok”. Fuih… dari mana datangnya kata-kata itu, aku sendiri heran. Tapi memang betul, aku sendiri menganggap semua orang sama tidak ada yang beda. Aku harus mencairkan suasana ini. Tapi ternyata dia yang memulai duluan.
 
“Tapi aku masih penasaran… kenapa kamu pengen ngajak aku jalan”. Ya…. itu lagi. Tapi sekarang dia sudah mulai tersenyum lagi.
“Nah gitu dong… kan enak… tapi kenapa itu lagi yang ditanyakan…?”.
“Ya pengen tau aja… ga boleh…”. Jawabnya.
 
Karena aku suka kamu. Dari pertama melihat kamu aku sudah suka. Mau gak kamu jalan bareng sama aku. Mau gak kamu jadi pacarku. Mau gak kamu jadi kekasihku. Aku hanya berkata dalam hati. Masa harus aku ungkapkan sekarang… aku pikir belum saatnya. Dia belum tahu siapa aku.

 

“Ndi… Ndiiiii… “. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku.
“Kok jadi bengong sih…”.
“Ada yang dipikirin ya… “.
“Mikirin siapa… hayo…”.
“Nggak… nggak apa-apa…”. Jawabku.
“Tapi kok diam begitu… sambil ngeliatin aku”.
“Ada yang aneh dengan diriku…”. Dia mulai menggoda.
“Kamu cantik…”. Walah aku kelepasan lagi. Raut mukanya langsung berubah. Dia diam kemudian menunduk. Aku semakin merasa bersalah. Tapi kemudian dia melihatku lagi, tersenyum. Aku lega.

 

“Ah masa… sudah dua kali kamu bilang aku cantik tapi kan di kantor yang cantik gak cuma satu lho”. Nih anak… kayakanya menggodaku.
 
Iya tapi aku suka kamu. Jawabku dalam hati.
 
“Hei… diam lagi… aku pulang nih…”.
“Eh jangan… jangan…”. Dia berdiri tapi kemudian dia duduk lagi sambil tersenyum. Kena deh aku dikerjain.
“Jawab dong…”.
“Jawab apa…”.
“Yang tadi…”.
“Yang mana…”.
“Yang barusan… kalau nggak jawab aku pulang aja…”. Dia mengancam tapi tampaknya tidak sungguh-sungguh.
“Iya… iya… aku jawab”. Aku kumpulkan keberanian. Tidak mudah ternyata untuk mengungkapkan perasaan kepada cewek yang satu ini.
“I’m waiting….”. Dia berkata lagi.
“Karena dari sekian cewek yang aku kenal… yang cantik hanya kamu, yang manis hanya kamu, yang kuingat hanya kamu, dan… yang aku suka hanya kamu”. Meluncur juga kata-kata itu.

 

Tapi apa jawaban yang aku dapat.

 
“Hahaha…. gombal…gombal…”. Dia tertawa. Serius kok dibilang gombal sih.
“Kamu tuh ada-ada aja, jangan gara-gara sering telepon aku dan ngajak jalan aku trus kamu jadi suka sama aku”.
“Jalan juga kan baru sekali ini, masa langsung suka”. Dia meneruskan.
“Kalau jalannya sering gimana…?”. Tanyaku.
“Ya… pikir-pikir dulu lah…hehehe…”. Jawabnya
“Maksudnya…”.
“Ya… kita lihat saja nanti…”. Jawabannya menggantung. Membuatku penasaran.

 

Aku kemudian diam setelah mendengar kata-katanya. Tapi memang benar sih, masa baru kenal beberapa minggu aku langsung suka. Tapi dia juga yang terus-menerus mendesak aku, ingin tahu maksudku mengajak dia jalan.
 
“Kok jadi diem… marah ya…”.
“Kenapa harus marah… kamu nggak nolak aku kan”. Jawabku.
“Masih banyak waktu yang bisa aku gunakan untuk menunjukkan bahwa aku serius, betul gak…?”. Lanjutku lagi.
“Betul juga… kita lihat saja nanti, ok”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Kita pulang yu…. sudah malam…”. Ajaknya. Memang waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Tak terasa waktu berlalu.
“Iya ya… sudah malam. Lagian aku besok ada kerjaan di kantor…”. Jawabku.
“Besok aku telepon ya…”.
“Iya.. iya… “. Jawabnya.

 

Setelah membayar makanan, aku berjalan berdua dengannya. Sambil berjalan aku lihat kiri-kanan sepertinya banyak orang yang melihat ke arah kami. Sepertinya Siska pun menyadari hal itu. Kami saling pandang lalu tertawa kecil. Reflek aku menarik tangannya dan berjalan cepat. Aku mengantar nya ke tempat mobilnya di parkir. Aku masih menggenggam tangannya walau sudah ada di depan mobilnya.

 

“Kenapa… aku gak akan kemana-mana kok…”. Dia berkata sambil tertawa kecil.
“Eh iya sorry… “. Aku melepaskan genggaman tanganku.
“Habis… banyak orang ngeliatin tadi”.
“Biarin aja… asal jangan mengganggu kita”. Jawabnya.
“Makasih ya udah ngajak aku makan”.
“Sama-sama”. Jawabku.
“Boleh ya lain kali aku mengajak kamu jalan…”.
“Boleh aja… asal kamu yang traktir… hehehe…”. Jawabnya.
“Jangan takut… itu pasti…”.
“Nggak deng… nanti sekali-kali aku yang traktir kamu dech…”. Dia meralat ucapannya.
“Udah ya aku pulang dulu”. Dia berkata setelah berada di belakang kemudi mobilnya.
“Hati-hati ya di jalan”.

 

“Iya… kamu juga hati-hati ya… daah”. Kemudian mobilnya melaju meninggalkan aku.
“Daah… “. Aku melambaikan tangan. Dia tersenyum.

 

Aku kemudian berjalan meninggalkan tempat parkir mobil. Kemudian aku masuk lagi ke dalam Mall karena tempat parkir motorku berada jauh di belakang Mall. Selama berjalan ke tempat parkir aku mengingat lagi dia. Makan malam yang… bagaimana ya. Makan malam yang membuatku penasaran. Aku akan terus mendekatinya. Sampai dapat.
 

 

Siska (Bag. 1)

“Hai ndi…”. Suara yang sangat kukenal menyapaku.
“Hai Sis…”. Aku menoleh dan tersenyum. Aku paksakan tersenyum walaupun sebetulnya aku gak mau. Mungkin lebih mirip melebarkan bibir saja.

 

Aku bertemu dia di dalam lift. Uh… sialan kenapa jam segini dia bisa keluar kantor ya, gak biasanya. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya seminggu terakhir ini.

 

“Kamu kemana aja…? Kok gak pernah kasih kabar? Aku telpon gak pernah di angkat, sms ku gak pernah di balas… kenapa?”. Tanya dia seperti berondongan pistol yang menerjangku. Aku hanya terdiam. Dia menatapku menanti jawabanku.

 

“Andi…”. Dia berkata lagi.
“Ya…”. Jawabku
“Kok diam… kenapa? Aku salah apa sama kamu?”. Tanya dia lagi.
“Nggak apa-apa, cuma…”.
“Ting… Tong…”. Bel dalam lift berbunyi. Tak terasa sudah sampai lantai satu. Aku keluar dari dalam lift dan Siska pun keluar. Aku masih diam.
“Ok deh… Sepertinya kita harus bicara. Aku tunggu di tempat biasa kita makan. Pulang kerja aku langsung ke sana. Aku keluar kantor dulu sekarang. Daaah…”.
“Daaah”. Jawabku. Aku masih terdiam. Berdiri di depan ruangan lift. Didepanku aku lihat Siska sudah masuk ke dalam mobil. Kemudian mobilnya melaju dari tempat parkir. Saat melewatiku dia membunyikan klakson. Aku melambaikan tangan sampai mobilnya melaju melewatiku.
 
Aku masih berdiri. Masih belum menyangka bertemu dia lagi.

 

“Woi…”. Ada yang berteriak di telingaku. Aku hampir saja melompat. Terdengar tawa dari belakang.
“Jangan banyak bengong, ayam tetangga gue mati kemaren”. Ternyata teman kerjaku si Erik.
“Apa hubungannya ama gue”. Jawabku
“Mati nya gara-gara bengong”.
“Iya bengong nya di tengah jalan”. Jawabku. Dia hanya tertawa. Aku kemudian berjalan bersama dia masuk ke dalam ruangan kantorku. Ruangan kantorku berada di lantai paling bawah bersatu dengan tempat parkir. Sampai di kantor aku duduk dan kemudian terdiam. Teringat kejadian tiga bulan terakhir ini.
 
***

 

Aku pertama kali melihat dia di tempat parkir. Waktu itu sudah jam pulang kantor. Aku yang sedang berdiri di tempat parkir, menghalangi mobilnya yang akan keluar dari area parkir.
 
“Hei minggir…”. Temanku Reza yang bicara.
“Apaan sih…?”. Jawabku.
“Itu mobil mau keluar, gak liat apa…”. Dia bicara lagi. Aku kemudian menengok ke belakang.
“Oh…”. Mulutku spontan membetuk huruf O. Aku langsung minggir dan mempersilahkan mobil tersebut keluar. Yang membuatku melongo bukan mobilnya tapi yang berada di balik kemudinya. Cewek!!! cakep lagi. Ketika dia lewat di depanku dia tersenyum. Aku balas senyumnya. Wuihh maniiiis sekali. Aku masih melihat mobilnya sampai dia keluar dari pelataran parkir kantor.

 

“Hoi…. bengong aja… cakep ya…. emang cakep… hehe”. si Reza temanku cengengesan.
“Iya sih cakep…”. Jawabku.
“Naksir ya…”.
“Hus… enak aja, masa baru liat langsung naksir”. Jawabku.
“Lha… itu tadi sampai bengong melongo gitu, bukannya naksir”. Dia kembali cengengesan.
“Dah ah… tuh celana loe kena rokok…”. Jawabku sekenanya.
“Mana.. mana…”. Teriak Reza kaget.
“Cari sampai tua… emang nya eloeu lagi ngeroko… heheh”. Jawabku sambil pergi dan kemudian tertawa penuh kemenangan.
“Haah sialan.. kutukupret.. “. Teriaknya sambil mengejarku.

 

Aku dan Siska berkantor di gedung yang sama. Dia berkantor di lantai dua sedangkan aku berkantor di lantai dasar. Biasanya seluruh karyawan satu gedung makan siang bersama-sama di lantai empat. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia atau aku yang tidak memperhatikan barangkali. Setelah beberapa hari melihat dia di kantin baru aku tahu dari rekan sejawatku di lantai dua bahwa dia adalah karyawan baru. Satu bulan yang lalu dia masuk katanya. Bahkan namanya pun belum ada yang mengenal di lingkungan kantornya. Setiap aku tanya kepada karyawan lantai dua jawabannya selalu tidak tahu. Heran ya, kok satu kantor nggak tahu nama. Apa aku yang terlalu bernafsu ingin mengenal dia. Tak tahulah. Yang jelas setelah beberapa hari berlalu aku semakin sering memperhatikan dia. Jadi ingin berkenalan. Biasalah, naluri laku-laki, setiap ada yang cakep sedikit pengen kenalan hehe.

 

Hari itu jumat sore. Aku jadi teringat dia terus. Apa benar aku naksir dia. Ah… aku harus tahu siapa namanya dimana rumahnya. Tapi bagaimana caranya ya? Masa aku harus ke lantai dua lalu mencari-cari dia hanya untuk kenalan… malu dong sama teman yang kerja di lantai dua. Bisa heboh dunia kalau aku melakukannya heheh. Atau aku cegat saja dia di tempat parkir. Biasanya kalau di tempat parkir tidak banyak orang. Hmm sepertinya cara terakhir yang akan aku pilih.

 

Ketika dia keluar dari lift aku hampiri dia. Dia berjalan cepat menuju mobilnya. Dia memakai celana panjang hitam dan kemeja pink lengan panjang. Serasi dengan warna kulitnya yang putih. Hampir saja aku tidak bisa mengejarnya. Sepertinya dia tahu kalau ada yang mengikutinya. Dia memperlambat langkahnya dan kemudian menoleh kesamping, kebetulan aku sudah ada di sampingnya.

 

“Hai…. boleh ganggu sebentar”. Sapaku
“Oh iya…”. Jawabnya sambil tersenyum. Geblek… cakep banget, pantes aja teman-tamanku selalu mebicarakan dia.
“Emmm boleh kenalan gak….?”. Aku bertanya sambil mengajak berjabat tangan.
“Andi…”.
“Siska…”. Jawabnya menerima jabatan tanganku sambil masih tetap tersenyum. Oh… jadi namanya Siska. Aku bergumam dalam hati.

 

“Kerja di lantai berapa?”. Aku pura-pura gak tahu.
“Aku di lantai dua, mas Andi sendiri kerja di mana?”. dia balik bertanya.
“Aku di lantai dasar”. Jawabku
“Kerja di bagian apa?”. Tanyaku lagi
“Di bagian Hypermarket”. Jawabnya.
“Kalo mas di bagian apa”. Dia balik bertanya
“Aku di bagian Logistik”. Jawabku
“Hmmm kayaknya baru lihat kamu akhir-akhir ini, baru masuk ya…”. Tanyaku lagi
“Iya aku baru satu bulan kerja di sini”. Jawabnya
“Oh begitu”. Jawabku.
“Kalau rumah di mana?”. Tanyaku lagi, eh kok langsung tanya rumah ya, emangnya mau ikut.
“Di Kelapa Gading…”. Jawabnya. Untung dia gak berprasangka macam-macam.
“Eh… makasih ya udah mau di ganggu”. Aku bermaksud mengkhiri pembicaraan.
“Iya.. gak apa-apa”. Dia pun sudah masuk ke mobilnya. Kemudian mobilnya melaju meninggalkanku. Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia juga balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

 

Berhasil juga akhirnya aku berkenalan dengan dia. Kesan pertama aku mengenalnya adalah orangnya ramah. Bisa di ajak bicara dan murah senyum. Dari pertama aku bicara dengannya sampai aku mengakhiri pembicaraan tak lepas-lepasnya dia tersenyum. Membuatku jadi agak berdebar-debar. Perawakannya kecil mungil, wajahnya bulat dengan mata yang tidak sipit kalau boleh aku bilang sih bulat. Tidak seperti kebanyakan cewek keturunan yang lain.

 

Semenjak aku berkenalan dengan nya aku semakin memperhatikan dia. Cara dia berjalan, cara berbicara, baju yang dia pakai sampai nomor polisi mobilnya pun aku hapal. Apakah aku sudah jatuh hati kepadanya? Tak tahulah, yang jelas aku selalu teringat dia. Ingin rasanya lebih mengenal dia. Sehari-hari aku hanya bertemu dia apabila datang ke kantor, makan di kantin dan sepulang kantor. Belum pernah lagi punya kesempatan untuk ngobrol banyak. Hanya ‘say hello’ saja setiap kali bertemu.

 

Seminggu setelah perkenalanku dengannya aku mencoba menghubungi dia lewat telepon kantornya.
 
“Hallo…”. Aku berbicara setelah ada yang mengangkat telepon.
“Hallo selamat sore”. Yang menjawab operator telepon kantor.
“Selamat sore, bisa bicara dengan Siska”.
“Di tunggu…”. Jawab operator, terdengar nada tunggu. Kemudian ada yang berbicara.

 

“Hallo sore…”. Suara yang aku kenal mulai bicara.
“Sore… Siska ya…”. Aku memulai pembicaraan.
“Iya… siapa nih?”. Dia bertanya.
“Andi…”. Jawabku.
“Andi yang mana ya?”. Tanya dia lagi. Huh sialan dia gak inget sama aku, tapi kalau di pikir-pikir memangnya aku siapanya dia sampai harus ingat segala. Tapi mungkin nama Andi banyak kali ya jadi dia perlu di ingatkan.

 

“Andi yang di lantai satu”. Jawabku. Hening sejenak.
“Oh… Andi”. Baru ingat dia…
“Apa kabar Sis…”. Tanyaku
“Baik…”. Jawabnya.
“Ehh ada apa ya Ndi…”. Dia sepertinya sedang sibuk atau mungkin sedang buru-buru.
“Oh gak apa-apa cuma pengen ngobrol aja”. Jawabku
“Nggg… tapi aku lagi sibuk”. Jawabnya
“Oh lagi sibuk ya… maaf ya kalau menggangu”.
“Nggak apa-apa sih…”. Jawabnya.
“Tapi aku boleh telepon lagi kan”. Tanyaku
“Boleh… tapi kalau bisa jangan ke kantor soalnya aku lagi sibuk”. Jawabnya lagi menegaskan.
“Ok deh kalau begitu, makasih ya”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Iya…”. Jawabnya dan kemudian hubungan telapon terputus.

 

Gagal. Usaha pertamaku mendekatinya. Mungkin memang dia sedang sibuk berat. Jadi gak bisa menerima telepon. Hmmm gak apa-apa sih, mungkin lain kali akan aku coba. Tapi yang jadi penasaran dia bilang jangan telepon ke kantor, lalu kemana? sedangkan nomor HP nya pun aku belum tahu. Apa dia memancing aku supaya menanyakan nomor HP nya? Bisa juga sih. Tapi masa iya ngasih nomor HP saja harus di pancing dulu(ikan kali di pancing). Tapi masuk akal juga. Memang aku yang harus menanyakan nomor HP nya. Tidak mungkin dia langsung menyebutkan nomor HP nya tanpa alasan tertentu.

 

Besoknya aku kembali mencoba menghubungi dia lewat telepon kantor. Walaupun dia bilang jangan menghubungi dia di kantor, tapi aku nekad aja. Tapi jawaban yang aku dapat masih sama.

 

“Aku lagi sibuk”.
 
Dan hari-hari berikutnya pun tetap sama.
 
“Lagi sibuk nih…”.
 
Atau
 
“Entar aja ya… soalnya lagi sibuk”.
 
Atau
 
“Bentar ya… aku sibuk benget nih”.
 
Dan jawaban standar ‘sibuk’ lainnya. Tapi yang mengherankan dia tidak pernah menolak teleponku. Pasti dia terima walau sedang sibuk dan walaupun jawabannya itu-itu juga. Padahal dia pernah bilang supaya jangan menelepon dia di kantor. Bingung… mana yang bener nih. Sepertinya harus di tempat parkir lagi nih. Menunggu dia dan menganjaknya ngobrol.

 

Sore itu aku kembali menunggunya di tempat parkir. Sebetulnya jam pulang kantorku sudah lewat. Tapi demi rasa penasaranku aku menunggu dia sampai jam pulang kantornya tiba. Jam pulang kantornya lebih lambat tiga perempat jam dari jadwal pulang kantorku.
 
Dia sudah keluar dari ruangan lift. Aku buru-buru mendekatinya.

 

“Hai Sis…”. Aku menyapanya. Dia kemudian menoleh.
“Hai…”. Dia menjawab sapaku sambil terseyum.
“Pa kabar…?”. Tanyaku.
“Baik…”. Jawabnya. Masih sambil tersenyum.
“Sibuk terus ya…”. Tanyaku.
“Iya nih…, eh maaf ya kalau aku gak bisa terima telpon lama-lama, soalnya sibuk banget”. Jawabnya menerangkan.
“Oh begitu ya… kalau tidak bisa terima telepon di kantor, boleh dong aku telp kamu di rumah?”. Tanyaku.

 

“Boleh…boleh”. Jawabnya
“Kalau begitu boleh tau nomor HP kamu?”. Tanyaku semakin nekat. Dia kemudian menghentikan langkahnya. Aku agak kaget juga, takut kalau dia tersinggung atau bagaimana.
 
“Siska…. boleh gak?”. Aku sudah kepalang basah. Dia diam sejenak, mungkin sedang berpikir. Kemudian dia berjalan lagi menuju mobilnya. Di depan pintu mobilnya aku kembali bicara.
“Jadi…?”. Tanyaku lagi
“081******…”. Dia menyebutkan nomor HP nya sambil membuka pintu mobil.
“Berapa Sis…?”. Tanyaku lagi, karena dua digit tearkhir kurang terdengar olehku.
“081******…”. Dia mengulangi sambil duduk di belakang kemudi mobilnya. Aku buru-buru mencatat di telapak tanganku karena kalau langsung aku masukkan ke HP takut lupa.

 

“Kalau sampai rumah biasanya jam berapa?”. Tanyaku. Waktu itu dia sudah ada di dalam mobil, tapi kaca mobilnya kebetulan masih di buka.
“Tergantung sih…”. Jawabnya.
“Kalau jam tujuh malam sudah sampai?”. Tanyaku lagi
“Coba aja entar telp ya…”. Jawabnya lagi.
“Ok deh kalo gitu, makasih ya”. Aku tidak ingin menghalangi nya. Karena takut kalau dia masih ada keperluan.

 

“Iya… “. Jawabnya singkat. Mobilnya kemudian melaju melewatiku. Dia membunyikan klakson mobil sambil tersenyum. Aku melambaikan tangan sambil tak lupa membalas senyumnya. Yes… akhirnya bisa juga aku tahu nomor HP nya.