Menikah???

07/10/2006 20:15:05 Ani wrote :
Ntar udah lebrn kt kwin ya, trus pndh rmh… kt slametan aja trus pndh, akad nikah aja.

 

07/10/2006 20:18:20 Aku wrote :
Tapi aku g enak sma ortu mu dek, masa ga ada rame2 dikit. Kmu kan cwek yg paling kcil di klrgamu.

 

07/10/2006 20:21:45 Ani Wrote :
Gpp mas… aku pgn cpt2 nikah, aku dah ga tahan gini terus. Usia ku dah brpa coba? Smpe kpn aku hrs trs nunggu?

 

Aku termenung. Mencoba mencerna sms yang baru saja aku terima. Tapi apalagi yang harus di cerna. Semuanya sudah jelas. Dia mengajak untuk segera menikah. Sebagai laki-laki normal aku juga ingin segera menikah. Walaupun aku sudah pernah mengalaminya sekali. Dulu sekali.

 

Sepuluh tahun yang lalu aku pernah menikah tetapi kemudian semuanya berakhir hanya dalam waktu lima tahun. Setelah itu aku belum pernah lagi mencoba untuk berhubungan dengan yang namanya wanita. Baru dua tahun belakangan ini aku menjalin kasih lagi dengan seorang wanita. Umurnya dua tahun di bawahku. Orangnya pengertian. Dia sangat mengerti dengan posisiku yang berstatus duda cerai sedangkan dia masih gadis. Dia menerima aku apa adanya. Tapi dia belum menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada keluarganya. Nanti saja kalau waktunya sudah tepat dia akan menceritakan semuanya. Begitu dia bilang.

 

“Dek… bagaimana dengan orang tuamu?” suatu saat aku bertanya. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan dek padahal namanya Andriani.
“Apanya yang bagaimana mas?”. Dia balik bertanya.
“Mengenai statusku”. “Aku kan sekarang duda, apa mereka mau menerimaku?”.
 
“Kita lihat saja nanti mas, “Toh yang akan menjalani aku, bukan mereka. Baik buruknya mas aku sudah tahu semuanya. Pasti mereka akan mengembalikan semuanya kepadaku”. Dia menjelaskan.

 

“Mungkin yang akan bereaksi paling keras adalah kakak iparku”. Dia melanjutkan. Kakak iparnya memang agak dominan di keluarganya. Dia adalah suami dari Nina, kakaknya yang kedua. Sedangkan kakaknya yang pertama yaitu Elis, walaupun sudah mempunyai suami tetapi dalam masalah keluarga berada di bawah dia.

 

“Dia pernah berkata kalau statusnya nggak jelas nggak usah di teruskan. Bagaimana kalau dia duda apalagi punya istri kan rugi keluarga kita. Menikahkan perawan sama duda. Begitu katanya mas”. Aku hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasannya.
 
“Lalu kalau nanti dia menghalang-halangi bagamana dek?”. Tanyaku
“Aku akan melawan mas, memang dia itu siapa. Orang tuaku saja tidak akan menghalang-halangi aku kenapa dia yang jadi repot”. Jawabnya sedikit tegas.

 

“Aku tulus mencintai mas, aku terima mas apa adanya”.
“Iya dek aku juga tahu”. Aku terenyuh mendengar penjelasannya.
“Jadi tunggu apa lagi? Kapan mas akan melamarku?”.
“Menikah kan butuh biaya dek”. Jawabku
“Aku sedang mengumpulkan uang dulu. Kamu juga kan tahu keadaan keluargaku. Jadi semuanya harus aku yang menanggung”. Jawabku
“Iya tapi sampai kapan mas?”.
“Sabar lah dek, tunggu barang dua atau tiga bulan lagi. Mudah-mudahan uang ku sudah kumpul”. Jawabku

 

“Mas tahu gak… tiga bulan lagi itu sudah masuk tahun 2007, umurku sudah berapa mas?”.
“Iya mas juga tahu dek… umurmu sudah gak muda lagi. Tapi kan untuk biaya nikah, kita memerlukan dana yang tidak sedikit”. Aku mencoba menjelaskan lagi.
“Ya sudah terserah mas deh kalau begitu, aku ikut saja. Tapi aku harap jangan lama-lama ya mas”. Akhirnya dia pasrah juga.

 

Setelah percakapan itu dia belum pernah lagi menyinggung mengenai masalah pernikahan kami. Sebetulnya yang aku butuhkan memang hanya uang untuk biaya pernikahan. Aku sudah menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga jauh-jauh hari. Bahkan aku sudah menyiapkan rumah untuk kami berdua nanti. Walaupun rumah BTN tetapi cukuplah untuk tinggal kami berdua.

 

Aku mengira dari percakapan terakhir kami lah dia mulai berpikir untuk menyegerakan pernikahan kami. Padahal aku belum menyiapkan dana sedikitpun. Aku bermaksud mengumpulkan dana dari gajian bulanan dan THR tahun ini di tambah dengan bonus akhir tahun. Makanya aku meminta waktu kepadanya selama tiga bulan. Aku rasa cukuplah untuk mengumpulkan uang. Walaupun tidak banyak tapi mungkin bisa di gunakan untuk melaksanakan pesta kecil-kecilan di rumahnya.

 

Tapi setelah menerima sms dari nya dan berpikir berulang-ulang, apakah aku akan nekad saja menikah dengan dia tanpa ada pesta? Walaupun itu pesta kecil-kecilan? Mudah-mudahan setelah hari raya lebaran nanti aku sudah bisa menentukan sikap. Apakah aku akan menerima usulnya untuk menikah sederhana saja atau menunggu saja sampai uangku terkumpul. Aku berdoa semoga Yang Maha Kuasa memberiku petunjuk.

 

Amiin.

 

***

Anak Asu

Ini ada cerita lama dari teman milis. Kalo yang ngerti basa jawa pasti ngakak abis. Om AJW mohon maaf ya kalo sempat lihat tulisan nya aku masukin blog. Ceritanya begini :

Pas acara perpisahan arek TK, setiap murid nggowo kado gawe bu gurune.

Sing pertama maju anake pedagang bunga. Bu gurune ngambung kadone ambek mbedhek,
“Isine kembang yo….”.
“Seratus buat bu guru..” jare anake pedagang bunga.

Sing kedua maju anake wong dhodhol mracang. Ambek bu gurune kadone dikocok-kocok. Wah iki rodok angel mbedheke, pikire.
“Isine permen yo…”.
“Pinter bu guru..” jare anake wong dhodhol mracang.

Mari ngono, maju anake wong dhodhol es krim. Pas kadone diangkat, dhadhak netes. Ambek bu gurune tetesane diincipi.
“Es krime rasa anggur yo…” jare bu gurune kemeruh.
“Salah…” jare areke.
“Rasa stroberi tah…?” bu gurune kemeruh maneh.
“Salah ..” jare areke.
“Wis aku nyerah, rasa opo sih iku” takok bu gurune.
“Isinya anak asu kok bu guru…”

Dua pilihan, dua jalan dan dua kehidupan

Apa yang akan kau lakukan apabila dihadapkan pada dua pilihan yang sulit? Menghindarkah, atau akan kau hadapi dengan lapang dada? Dan kemudian memilih satu di antara dua pilihan tersebut. Walaupun dengan keputusan itu akan ada satu hati yang hancur berkeping-keping?

Jalan di depanku sekarang bercabang dua. Dua-duanya masih belum aku arungi. Aku masih ragu-ragu untuk melangkahkan kaki. Mana jalan yang benar untukku. Mana jalan yang akan menuntunku ke jalan kebaikan. Tidak ada rambu-rambu jalan yang bisa menuntunku untuk mengikuti salah satu jalan tersebut.

Aku melangkah dengan ragu mendekati persimpangan jalan tersebut. Satu langkah… masih belum terlihat apa-apa. Dua langkah… ada kesamaran di sana. Tiga langkah… mulai aku lihat rambu pertama. Yang sebelah kanan memperlihatkan rambu untuk masuk. Sementara yang sebelah kiri masih terlihat samar-samar.

Setelah melangkahkan kaki sedikit ke jalan yang ke sebelah kanan samar-samar kulihat bayangan masa laluku. Masa dimana aku pernah mengarungi hidup yang panjang tapi berakhir dengan kegagalan. Tapi masa itu sudah lewat. Jalan yang ini betul-betul jalan yang baru. Jalan yang sama sekali belum aku lewati. Jalan ini menawarkan kehidupan berdua. Di sana aku lihat ada seseorang yang menunggu dengan harap-harap cemas. Seseorang yang telah menemaniku selama hampir lima tahun terakhir semenjak aku sendiri lagi. Dia menantikan keputusanku untuk terus melangkahkan kaki ke arahnya. Walaupun belum tahu mana jalan yang akan kupilih, sepertinya dia akan tetap menungguku. Tetapi aku masih bimbang untuk melangkah ke sana.

Aku kemudian menengok ke arah sebelah kiri. Jalan ini sama sekali berbeda dengan yang sebelah kanan. Jalan ini penuh binar-binar keceriaan, penuh warna. Tapi jalan ini belum pernah aku temukan sebelumnya. Tidak seperti jalan di sebelah kanan, di sini aku tidak melihat bayangan apapun. Hanya ada sesosok putih nan mungil yang sedang menari ke sana-kemari dengan lincahnya. Sosok yang belum lama ini mengisi hatiku. Sosok yang belakangan memenuhi hari-hariku. Penuh senyum dan canda tawa. Aku pun ikut tersenyum. Aku lihat di dalam sana hanya ada keceriaan semata. Keceriaan yang sangat aku impikan. Warna-warni yang sangat aku dambakan. Tapi apakah ini hanya penglihatanku saja?

Jalan yang sebelah kanan menawarkan kehidupan yang memang sudah aku rencanakan jauh-jauh hari. Kehidupan yang dulu sangat aku impikan untuk terwujud. Tetapi sekarang kebimbangan menghampiriku. Apakah aku akan melangkah saja ke sana?

Jalan yang sebelah kiri menawarkan aku petualangan. Petualangan asmara yang teramat dahsyat. Petualangan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Petualangan yang belum terlihat wujudnya, pun akhirnya. Petualangan yang mungkin saja bisa membawaku kedalam kebahagiaan, tetapi mungkin pula bisa membawaku kedalam kegagalan. Petualangan yang bisa saja tanpa akhir.

Waktu terus berjalan sementara aku belum juga mengambil keputusan. Belum juga aku menentukan pilihan. Apakah melangkah ke sebelah kanan ke jalan yang sudah direncanakan sebelumnya? Ataukah ke sebelah kiri ke jalan yang menawarkan aku petualangan baru yang penuh tantangan?

Kalau kamu berada dalam posisiku, mana jalan yang akan kau pilih? Kesebelah kanan kah? Atau kesebelah kiri?

Jakarta, Oktober 2006
Aku
Yang sedang bimbang

Perpisahan dua hati

Aku menghela nafas panjang.

“Aku khawatir sama kamu”. Aku akhirnya berbicara juga.
“Apa yang kamu khawatirkan sayang…”. Dia berbicara sambil tersenyum dan menggelayut manja di lenganku.
“Gaya nyetirmu itu lho”.
“Memang kenapa dengan gaya nyetirku?”. Dia tertawa renyah.
“Ah kamu seperti nggak tau, kamu tuh kalo jalan suka ngebut trus terlalu berani kalau mau nyalip mobil dari sebelah kanan”. Aku berkata dengan nada khawatir.
“Hehe… tenang sayang, don’t worry honey I’ll be fine”. Dia berkata dengan nada meyakinkan.
“Yah… gak apa-apa deh kalo gitu, tapi aku cuma mau pesan hati-hati kalo di jalan sendiri ya, soalnya kalau sendiri kamu nggak ada yang ngingetin”. Aku berkata sungguh-sungguh.
“Ok honey, ok honey”. Jawabnya.

Itulah pembicaraan terakhirku dengannya.

Aku memang selalu khawatir dengannya. Sebagai seorang kekasih wajar kalau aku mengkhawatirkannya. Terlebih lagi dia seorang cewek. Memang semenjak kenal dengan dia aku sudah tahu kalau dia suka bawa mobil dengan gayanya itu. Wajarlah, memang dia orang kaya. Semuanya selalu bisa dia penuhi. Sehingga berdampak terhadap pribadinya yang serba berani, serba lugas, dan sangat percaya diri. Tidak seperti aku. Aku hanya mahasiswa biasa. Bisa kuliah saja sudah bersyukur banget. Belajar nyetir mobil saja baru-baru ini. Dan itupun dia yang mengajariku. Sampai akhirnya aku bisa membawa mobil dengan lancar dan mendapatkan SIM.

Kami berhubungan semenjak setahun lalu. Aku pertama kali bertemu dengannya secara tidak sengaja pada pemilihan penyiar radio kampus. Aku tahu kalau namanya Maharani dari kartu peserta yang dia pakai di dada bagian kirinya. Orangnya tinggi semampai dengan kulitnya yang putih bersih, sepertinya sering dirawat. Aku dan dia sama-sama masuk final. Kami bersaing dengan sengit. Dia yang pandai bicara dengan aku yang sudah punya pengalaman dibidang siaran. Di kotaku dulu aku punya studio radio yang aku kelola bersama teman-teman sekolahku.

Akhirnya setelah perjuangan yang melelahkan aku keluar sebagai pemenang dan dia meraih juara kedua berdasarkan pilihan dari pendengar yang semuanya adalah mahasiswa di kampusku. Sebagai saingan kami tidak saling memusuhi maka jadilah kami berdua penyiar baru di radio kampus. Dari situlah kami mulai dekat. Sering siarang bareng dan pulang bareng larut malam setelah siaran selesai. Kami jadi sering berbicara terbuka. Mulai dari masalah kuliah, sampai curhat-curhatan. Sampai akhirnya aku tahu kalau dia anak tunggal dari keluarga yang serba ada. Tapi karena kedua orangtuanya bekerja jadilah dia anak yang kurang kasih sayang. Setelah dia bertemu denganku jadilah aku tempat semua curahan hatinya.

Mungkin ada benarnya juga pepatah jawa yang mengatakan weting tresno jalaran soko kulino yang artinya jatuh cinta karena sering bertemu. Setelah sekian lama kami mengenal diri masing-masing akhirnya aku memberanikan diri menyatakan cinta kepadanya. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan. Dia pun punya perasaan yang sama terhadapku. Aku masih ingat saat-saat aku menyatakan perasaanku kepadanya.

Waktu itu hari jumat. Kebetulan sabtu kami tidak ada kuliah. Jadi jumat malam bisa leluasa jalan-jalan. Sepulang siaran bareng aku mengajaknya makan di cafe seberang kampus. Dia agak merasa heran tak biasanya aku yang mengajak dia makan. Biasanya dia yang menentukan kapan dan dimana kami akan makan. Maklumlah semuanya juga dia yang bayar. Dia selalu tidak mau kalau aku yang membayar makan.

“Ada apa sih Ren…?”. Dia mencoba membuka pembicaraan setelah kami memesan makanan dan minuman.
“Rani… kamu ingat gak sudah berapa lama kita kenal dan jalan bareng?”. Jawabanku malah berisi pertanyaan.
“Kamu kenapa sih, sakit ya…?”. Dia tertawa.
“Aku gak apa-apa, jawab dong…”. Aku mendesaknya.
“Okey okey, hmm kalau gak salah aku kenal kamu bulan september tahun lalu. Sekarang sudah bulan juli berarti sudah hampir setaun ya semenjak kita kenal. Tepatnya sepuluh bulan kali. Betul gak?”. Dia berkata sambil keningnya berkerut.

“Ya betul kamu gak salah, kita sudah kenal hampir setaun”. Aku membenarkan.
“Selama waktu itu apa yang kamu rasakan?”. Aku bertanya lagi.
“Hhihih… kamu kenapa sih, kok pertanyaan nya aneh-aneh dari tadi”.
“Ya gak apa-apa cuma pengen tau aja”.

“Emm apa ya… aku selama ini sudah begitu dekat dengan kamu. Kamu sudah tau semuanya tentang aku, keluargaku, kehidupanku, semuanya sudah aku ceritakan kepadamu. Selama ini cuma kamu yang dekat sama aku”. Dia berkata sambil menatap mataku seakan-akan ingin menemukan jawaban yang sama disana. “Kalau kamu gimana?”. Akhirnya dia bertanya juga.
“Yah kamu tau sendiri lah. Yang dekat sama aku kan cuma kamu. Kamu sudah memberiku banyak hal. Belajar mengungkap kan isi hati sampai kamu ngajarin aku caranya nyetir mobil, iya kan…”. Jawabku
“Hehehe iya sih, tapi jangan diceritain sampai mendetil begitu dong, aku gak suka kamu ngungkit-ngungkit kebaikanku. Entar kalau aku tagih baru tau rasa lho hihihi”. Dia masih saja bercanda.

“Aku mau bicara serius nih sama kamu”. Entah kenapa aku mulai grogi.
“Mau bicara apa… ayo dong ngomong, kayak ke orang lain aja”. Aku lihat mimik mukanya mulai serius.
“Aku juga bingung mau mulai dari mana…”. Jawabku
“Ah kamu bikin aku penasaran aja, mau ngomong apa sih?”. Dia mendesakku.
“Aku… aku… “. Belum sempat aku meneruskan bicara.
“Permisi mas, mbak”. Pelayan cafe datang dengan makanan dan minuman yang sudah kami pesan. Huh sialan… baru aja aku mau ngomong. Aku menunggu dia selesai menyimpan makanan dan minuman.

“Permisi mas, mba, silahkan dinikmati”. Akhirnya pelayan itu pun pergi. Rani hanya tersenyum melihat kejadian tadi.

“So… mau makan dulu atau mau ngomong dulu”.
“Tapi enaknya sih ngomong dulu kali ya, aku makin penasaran, ayo dong…”. Pintanya
“Ok deh aku ngomong sekarang, tapi sebelum aku selesai bicara, kamu gak boleh bicara ya”. Aku mulai bisa mengendalikan diri lagi.
“Ok Ok fine…”. Jawabnya
“Boleh gak aku pegang tangan kamu?”. Tanyaku
“Rendy, Rendy… ya boleh dong. Biasanya juga kan gak perlu minta ijin segala, kamu aneh deh hari ini”. Jawabnya. Aku mulai memegang tangannya. Aku ingin dia merasakan getar-getar perasaan dihatiku. Aku genggam tangannya. Aku ingin mulai mengutarakan isi hatiku lewat sentuhan tanganku. Sepertinya dia juga mulai merasakan. Tatapan matanya berubah sendu, sayu, tidak seperti tadi yang terus mengerling-ngerling manja.

“Kita sudah kenal hampir setahun, selama itu pula kita sudah mengenal diri masing-masing. Aku sudah tau sifat kamu dari yang manja sampai yang urakan, dari yang paling bagus sampai yang paling jelek, begitu pula sebaliknya kamu sudah tau siapa aku”. Aku mulai bicara lagi.
Dia membuka bibirnya seperti akan berbicara. Tetapi dengan cepat aku menempelkan ujung telunjukku di bibirnya. Dia tidak jadi berbicara. Hanya saja tatapan matanya mulai berubah. Seperti ingin menengok lebih dalam lagi ke dalam mataku. Seperti ingin tau ada apakah gerangan di dalam sana.

“Selama ini aku selalu menjadi curahan segala isi hatimu, aku tahu kamu kurang merasa diperhatikan oleh orang tuamu. Maka dari itu aku selalu berusaha untuk bisa menampung segala keluh kesahmu, segala kegundahanmu. Aku curahkan segala perhatianku kepadamu supaya kehausanmu akan kasih sayang terpenuhi. Aku terus berusaha dan akan terus berusaha untuk mengerti hatimu”. Kata-kata itu meluncur deras dari mulutku. Entah kenapa aku seperti lancar mengungkapkan segala isi hatiku.

Sampai disini aku menghentikan ucapanku. Aku lihat matanya mulai berkaca-kaca pertanda dia juga mengerti yang aku ungkapkan.

“Rani… aku tidak mau terus begini. Aku tidak mau kamu mencurahkan segala perhatianmu kepadaku hanya sebagai seorang sahabat dekat. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin… “. Sampai disini aku berhenti bicara. Aku kehabisan kata-kata. Aku tatap matanya. Dia semakin berkaca-kaca. Aku kumpulkan kekuatanku. Aku tarik nafas panjang dan kemudian mulai bicara lagi.
“Maharani… aku sayang kamu, maukah kau jadi kekasihku…?”. Akhirnya kata itupun keluar juga. Kata yang dari semenjak tadi mengganjal dihatiku. Seperti lepas keluar menuju ke kedalaman kalbunya. Mengetuk pintu hatinya.

Mendengar kata-kata itu dia hanya diam. Perlahan-lahan matanya yang berkaca-kaca itu mulai mengeluarkan isinya. Air matanya berlinang. Dia menangis. Entah apa yang ada dihatinya. Aku sendiri tidak tahu. Selama ini aku selalu tahu apa yang ada didalam hatinya. Tapi kini semuanya seperti gelap tak berujung.

“Aku sudah selesai bicara, sekarang kamu boleh bicara. Aku berharap kamu menjawabnya sekarang”. Aku memulai lagi pembicaraan yang sejenak terhenti oleh aliran air matanya.
“Rendi… “. Dia menghentikan pembicaraan
“Aku… “. Dia berhenti lagi karena dia berbicara sambil menangis. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin mengusap air matanya. Tapi aku urungkan niatku karena dia mulai bicara lagi.
“Rendi… “. Dia mengehntikan lagi bicaranya.
“Aku… “. Dia menatapku dalam-dalam. Kepalanya tertunduk kebawah sedikit kemudian keatas lagi. Akhirnya dia mengangguk-ngangguk. Apakah ini pertanda dia menerimaku?
“Say something Rani… “. Aku menggerakkan tangannya.

“Iyah Ren..di… Aku ju..ga sa..yang kamu… A..ku mau kamu jadi kekasihku”. Dia berkata masih sambil menangis sehingga kata-kata yang keluar sedikit terbata-bata.
Aku seperti kejatuhan bintang dari langit. Mendadak semuanya serba indah. Semuanya serba mempesona. Aku kembali menggerakkan tangannya.

“Betul Ran… , aku tidak salah dengar kan…?” Aku ingin memastikan sekali lagi. Tapi dia tidak menjawab. Hanya anggukan kepala yang menjadi jawabannya. Aku genggam erat tangannya. Dia juga menggenggam erat tanganku. Makanan yang sudah kami pesan tidak lagi kami perdulikan. Dia mulai berdiri. Aku juga mulai berdiri. Aku lepas tangannya. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan.
Dia mendekatiku. Aku menantikan apa yang akan dilakukannya. Ternyata dia menubrukku. Dia memelukku erat sekali. Kalau aku tidak siap bisa jatuh tadi. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kanan ku. Aku juga mulai memeluknya. Aku tidak memperdulikan tatapan pelayan kafe. Untung yang makan malam di cafe ini hanya kami. Jadi tidak terlalu riskan dilihat orang. Dia tersedu-sedu dibahuku. Aku mengusap-usap rambutnya yang panjang.
“Rendi aku sayang kamu, aku sayang kamu banget. Aku mau jadi kekasihmu”. Dia bicara sambil masih memelukku.
“Iya Rani… aku juga sayang kamu, aku cinta kamu. Aku gak mau kamu jauh dariku selamanya. Sekarang kita pulang yuk, aku jadi tidak lapar”.
“Iya sama, aku juga jadi gak lapar”. Jawabnya

Aku mengeluarkan dompet. Mengambil uang seratus ribu kemudian aku simpan di meja. Biasanya makan disini paling mahal juga lima puluh ribu. Jadi aku kasih saja semuanya hitung-hitung tanda terima kasihku sama cefe ini karena mengijinkanku mengungkapkan perasaan hatiku disini.

Aku menghentikan pelukanku. Rani juga demikian. Aku panggil pelayan cafe.

“Mas.. mas…”. Dia menghampiriku.
“Kami tidak jadi makan, tapi kami bayar kok. Ini uangnya. Kembalinya ambil saja, terima kasih ya…”. Aku kemudian berjalan keluar sambil menggandeng Rani yang dari tadi hanya menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Oh iya terimakasih banyak mas”. Pelayan tersebut tersenyum penuh arti. Entah karena kelakuan kami atau karena kembalian yang tidak aku ambil.

Kami sudah sampai di depan mobil. Rani masih saja memelukku dari samping sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Aku tidak menyangka ternyata perasaannya juga sama denganku. Aku tidak bertepuk sebelah tangan.
“Kita pulang yuk… “. Aku mulai bicara karena dia tidak juga memulai pembicaraan.
“Tapi kamu yang nyetir ya…”. Akhirnya dia bicara juga. sambil menyerahkan kunci mobilnya kepadaku
“Ok sayang…”. Aku mengecup keningnya. Dia menengadahkan kepalanya. Bibirnya yang ranum tersenyum. Ingin rasanya aku mencium bibirnya. Tapi ini di tempat parkir. Nggak enak kalau dilihat orang.

Aku membuka pintu mobil kemudian mempersilahkannya masuk. Dia kemudian masuk. Aku menutupkan pintu mobil untuknya. Aku memutar menuju mobil bagian kanan. Aku masuk dan langsung duduk di belakang kemudi. Setelah menutup pintu mobil aku tidak langsung menghidupkan mobil. Aku menatap matanya. Dia juga menatapku.

“Kenapa tadi kamu mencium keningku?”. Dia mulai berbicara. Dia sudah tidak tersedu-sedu lagi. Aku tadi sempat menhapus air matanya yang masih membasahi pipinya yang putih.
“Karena aku ingin”. Jawabku.
“Selain itu…”.
“Karena aku suka kamu, karena aku sayang kamu”. Jawabku. Dia tersenyum aku juga tersenyum. Aku kembali mengecup keningnya. Dia memejamkan mata seakan ingin merasakan kecupan bibirku di keningnya. Aku menghentikan kecupanku. Dia membuka matanya. Bibirnya terbuka seakan mempersilahkan aku untuk masuk. Aku mendekat. Terasa semburan nafasnya di hidungku. Harum semerbak. Membuatku ingin segera menyentuhnya. Berenang-renang di kebasahan bibirnya. Sedetik lagi bibir kami bersentuhan…
“Tiiiiin……..”. Aku melonjak kaget. Begitupun dia. Aku tidak sengaja menekankan sikutku di klakson mobil. Kami tertawa. Indah sekali malam itu.
“Yuk kita pulang”. Aku memutuskan untuk mengantarnya pulang.
“Ok sayang, antar aku pulang ya… tapi nanti kamu mampir sebentar. Dirumah tidak ada siapa-siapa cuma ada si bibi. Ayah ibuku sedag keluar kota. Aku takut sendirian”. Dia merengek manja.
“Iya nanti aku temani sebentar. Tapi sebentar aja ya”. Jawabku.
“Ok sayang”. Jawabnya. Dia sudah mulai mengucapkan kata-kata sayang kepadaku.
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.

Berkendara malam-malam ternyata enak juga ya. Apalagi disamping ada seseorang yang sangat kita sayangi. Selama perjalanan kami hanya diam tapi sesekali masih saling pandang dan menyunggingkan senyum.

Akhirnya kami sampai di depan rumahnya. Aku bunyikan klakson sekali dan terlihat pembantunya Rani keluar sambil membukakan pintu pagar. Setelah memasukkan mobil ke garasi aku masuk ke dalam rumah bersama dia yang terus memeluk tanganku sejak keluar dari mobil tadi. Kami duduk di sofa depan televisi. Rumahnya memang besar. Seperti istana saja. Maklumlah orang kaya.

“Sudah malam sayang, aku harus pulang”. Aku mulai bicara.
“Nggak usah pulang ya… please temani aku tidur”. Dia seperti anak yang merengek meminta uang jajan.
“Tapi kita disini hanya berdua, aku takut terjadi hal yang tidak kita inginkan”. Aku berkata sungguh-sungguh.
“Nggak akan sayang. Aku tidur di sofa saja. Aku ingin tidur pangkuanmu boleh kan?”. Dia sedikit memelas. Aku kasihan juga kepadanya. Aku terlalu sayang kepadanya. Akhirnya aku mengangguk. Dia tersenyum dan memelukku erat. Aku ambil bantal kursi yang ada di pinngir. Aku letakkan di atas pangkuanku. Dia mengerti apa yang aku lakukan, kemudian dia merebahkan diri di sofa dan kepalanya dia jatuhkan di pangkuanku. Dia melihatku ke atas dan tersenyum. Aku tersenyum dan mendekatkan kepalaku kebawah. Aku kecup mesra keningnya.

“I love you Rani…”. Aku berbisik.
“I love you too Rendy…”. Dia juga berbisik.
“Aku bobo ya sayang…”. Dia kembali berbisik. Aku mengangguk. Dia kelihatan mengantuk. Aku juga sebetulnya mengantuk tapi aku ingin dia yang tidur duluan. Dia tersenyum dan akhirnya memejamkan mata. Tak berapa lama terdengar nafasnya yang halus mulai teratur pertanda dia benar-benar sudah tidur. Akupun tidak kuasa lagi menahan kantuk. Akhirnya akupun tertidur pulas dalam posisi duduk dan memangku kepala Rani. Kami lupa kalau kami belum sempat makan malam.

Begitulah akhirnya aku menginap di rumahnya. Aku tidak melakukan yang macam-macam terhadapnya. Walaupun dia tidak akan menolak apabila aku meminta yang lain. Aku teramat sayang kepadanya sehingga aku akan bertekad menjaganya semampu yang aku bisa.
Sampai suatu hari berita yang tidak aku harapkan itu tiba.

Hari itu seperti biasa aku berangkat kuliah pagi. Hari ini Handphone ku tidak berbunyi. Biasanya pagi-pagi Rani sudah mengabari aku kalau dia sedang di jalan atau sudah sampai kampus. Tempat kost ku dengan dia memang berbeda tujuan. Jadi tidak mungkin dia menjemput aku. Aku sampai di kampus jam sembilan pagi. Kebetulan kuliah belum dimulai. Aku lihat di tempat parkir mobilnya belum kelihatan. Hmmm kok belum datang ya. Ah mungkin kena macet pikirku. Sambil menunggunya aku duduk di taman kampus. Tak lama kemudian HP ku berbunyi. Aku lihat yang telepon Rani. Aku tersenyum sendiri. Aku angkat HP ku.

“Halo sayang… kamu kemana aja”. Sapaku. Yang menjawab ternyata bukan Rani.
“Rendy… ini Rendy kan…?”. Suara sedu-sedan seorang wanita. Aku mengernyitkan dahi. Oh itu suara ibunya. Kok ibunya yang pegang HP.
“Oh ibu… iya ini Rendy, maaf saya kira Rani yang telpon”. Sampai di sini aku belum sadar apa yang terjadi.
“HP Rani ada sama ibu ya… Rani nya kemana bu?”. Aku mulai menduga-duga apa yang terjadi. Semoga saja tidak ada apa-apa dengan Rani.
“Kamu harus kuat ya nak…”. Suara sedu-sedan masih terdengar di seberang sana.
“Memang ada apa bu? apa yang terjadi? Rani dimana?”. Aku bertanya dengan nada khawatir.
“Ibu tau kalian saling menyayangi, tapi kamu harus kuat menerima cobaan ini…”. Ibu nya berkata lagi.
“Katakan bu, apa yang terjadi dengan Rani…?”. Aku sudah tidak sabar ingin mendengar kabar tersebut.

“Rani kecelakaan tadi pagi sewaktu mau berangkat kuliah, Mobilnya bertabrakan dengan minibus. Sekarang dia sedang ada di UGD Rumah Sakit Cipto. Kamu segera kesini ya nak…”. Terdengar suara ibunya seperti menangis. Kemudian hubungan telepon terputus. Petir seperti menggelegar di dekat telingaku mendengar kabar ini. Betapa tidak, tanpa ada pertanda apa-apa aku harus mendengar kekasihku mengalami kecelakaan. Aku sedikit limbung. Aku mencoba menguasai keadaan. Aku segera bergegas menuju ke RS Cipto.
Sampai di sana aku langsung berlari ke arah ruang UGD. Begitu masuk aku bertemu dengan Ayah dan Ibu nya Rani. Aku langsung menyalami mereka.

“Bagaimana keadaan Rani Pak, Bu…?”. Aku langsung bertanya setelah selesai bersalaman. Bukan jawaban yang aku dapat tapi rangkulan dari ibu nya Rani serta tepukan dari ayah Rani di pundakku. Ibu nya Rani menangis di pelukanku. Aku jadi tidak enak juga. Tapi mungkin karena kedekatanku dengan keluarga ini yang menyebabkan ibunya Rani tidak sungkan kepadaku. Setelah agak mereda dia melepaskan pelukannya.

“Kamu harus tabah ya Rendy…”. Ibu nya berkata.
“Iya nak kamu harus bisa menerima kenyataan ini ya…”. Ayahnya Rani menimpali.
“Iya bu, pak… tapi bagaimana keadaan Rani?”. Aku berkata dengan cemas.
“Kamu lihat sendiri saja ya… tapi kamu harus tabah, kelihatannya dia sudah sadar”. Ibu nya berkata lagi.
“Baik bu, saya masuk dulu”. Aku kemudian masuk keruang UGD setelah mengenakan baju putih yang disediakan oleh rumah sakit.

Aku lihat Rani berbaring. Selang oksigen tampak masih ada di hidung nya. Tangannya dilingkari selang infus. Sementara di pergelangan tangannya nampak terpasang alat pengukur denyut nadi. Tidak seperti yang aku bayangkan, dia kelihatan baik-baik saja. Tidak nampak ada bekas bercak darah di tubuhnya layaknya orang yang habis kecelakaan. Aku kemudian menghampirinya di sebelah kanan ranjang.

“Hai sayang…”. Aku berkata pelan di sebelah telinganya. Dia membuka matanya pelan. Matanya melirik ke arah datang nya suara. Kemudian ia tersenyum.
“Hai……”. Suaranya terdengar parau.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, apa yang terasa?” Aku bertanya sambil memegang tangannya.
“Aku baik-baik saja sayang…. uhuk..uhuk…”. Dia terbatuk pelan.
“Kamu lihat sendiri kan, aku baik-baik saja…”. Dia berkata lagi. Aku mencium tangannya yang masih aku pegang. Dia tersenyum kemudian memejamkan matanya sebentar seperti menahan sakit.
“Kenapa sayang…. apanya yang sakit?”. Aku berkata dengan nada khawatir.
“Nggak apa-apa kok, cuma agak nyeri di bagian dada”. Dia kembali terbatuk-batuk. Aku mulai curiga dengan keadaannya. Jangan-jangan dia terluka dalam, mengingat Ibu dan Ayah Rani yang selalu memintaku tetap tabah dan dari sikap mereka yang seakan-akan seperti takut kehilangan anaknya. Ada apa sebenarnya.
“Kenapa sayang kok jadi melamun?”. Rani berkata memecahkan kesunyian.
“Gak apa-apa… tapi kamu baik-baik saja kan? maksudku untuk kecelakaan mobil yang berat kamu tidak berdarah sama sekali, jangan-jangan kamu terluka dalam…”. Aku menjelaskan.
“Kamu sayang gak sama aku?”. Dia berkata sambil tersenyum. Dia bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.

“Aku sayang banget sama kamu, memang kenapa?”. Jawabku.
“Gak apa-apa, hmmm kamu cinta gak sama aku?”. Dia bertanya lagi.
“Iya dong… kenapa sih kok aneh pertanyaan kamu”. Aku semakin penasaran.
“Kamu harus janji untuk mencintaiku selamanya”. Dia berkata lagi.
“Iya aku akan mencintaimu selamanya”. Jawabku
“Walaupun aku sudah gak ada lagi disisimu…?”. Dia berkata lagi, kali ini sambil mengernyitkan dahi.
“Iya… eh kamu ngomong apa sih?” Tanyaku. Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Jangan-jangan ada yang dia sembunyikan dariku.
“Aku sudah gak kuat Rendy….”. Dia meringis kesakitan.
“Kamu kenapa sayang…”. Aku berkata dengan nada khawatir. Aku melirik ke belakang. Aku lihat Ayah dan Ibu nya Rani sudah masuk. Mereka masih saling berpelukan dan telihat masih menangis.

Seorang perawat kemudian masuk di ikuti oleh seorang laki-laki berpakaian putih. Tampaknya dia adalah dokter yang merawat Rani. Aku melepaskan genggaman tangan Rani setelah di beri isyarat oleh suster untuk menyingkir. Aku lihat dokter tersebut memeriksa beberapa bagian tubuh Rani terutama pada bagian dada. Aku jadi bertanya-tanya, jangan-jangan dada bagian dalamnya ada yang terluka. Lama juga dokter tersebut memeriksa Rani. Setelah selesai memeriksa dan membuka stetoskop dia berbalik ke arah kami. Aku yang duluan bertanya.

“Bagaimana keadaanya dokter?”. Tanyaku.
“Anda keluarganya…?”. Dokter tersebut malah bertanya.
“Betul dok…”. Jawabku
“Orang tuanya?”. Tanya dokter itu lagi.
“Kami orang tuanya dok..”. Ayah Rani yang menjawab.
“Bisa saya bicara sebentar”. Kemudian dokter tersebut mengajak Ayah Rani menuju salah satu sudut ruangan. Mereka berbicara serius sementara aku dan Ibunya Rani memperhatikan mereka dengan cemas. Aku lihat lagi ke arah Rani yang sedang diperiksa oleh suster. Tak lama kemudian dokter tersebut pergi beserta suster meninggalkan kami berempat. Aku kemudian menghampiri sisi ranjang Rani. Dia masih memejamkan mata seperti menahan sakit. Ayah Rani kemudian mendekat.

“Bagaimana pak…”. Tanya Ibu nya Rani dengan cemas. Ayah Rani tidak berkata apa-apa, yang terlihat malah cucuran air matanya. Baru aku lihat ayahnya Rani menangis. Dia menggelengkan kepala. Dengan serta merta ibu nya Rani memeluk ayahnya Rani. Mereka kembali menangis tersedu-sedu. Aku yang hanya bisa diam melihat tingkah mereka sudah mengerti apa arti dari gelengan kepala ayahnya Rani. Mungkinkah… mungkinkah kekasihku ini tidak tertolong lagi. Aku berharap masih bisa tertolong. Aku kemudian menggenggam tangan Rani kembali. Dia membuka matanya perlahan.

“Randy…”. Dia berkata pelan.
“Iya sayang aku di sini”. Jawabku sambil memegang tangannya.
“Maah…. Paah….”. Terdengar Rani memanggil orang tuanya.
“Iya sayang mama di sini papa juga disini”. Jawab ibu Rani sambil masih terisak. Kemudian mereka menghampiri dari sebelah kiri ranjang.
Aku masih menggenggam tangannya. Aku tidak ingin melepaskannya.
“Sayang… kalau aku sudah tidak ada, kamu harus berjanji selalu mengunjungiku pusaraku”. Rani berkata sambil berlinang air mata.
“Jangan berkata begitu sayang, aku tidak mau kau tinggakan, kamu harus kuat sayang”. Aku yang selama ini selalu tegar mau tak mau meneteskan air mata juga mendengar dia berbicara begitu.
“Tidak sayang… aku harus pergi. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Selamanya”. Dia berkata lagi.
“Walaupun nanti alam kita berbeda aku akan tetap mencintaimu”. Dia meneruskan.
“Jangan tinggalkan aku sayang… aku gak mau hidup sendiri tanpa kamu”. Air mataku sudah mulai menetes lebih deras.

“Tidak sayang… aku harus menghadap-Nya. Kamu harus kuat menerima semua ini”. Dia berkata lagi. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutku seperti tercekat. Tidak bisa mengeluarkan suara. Ibu dan Ayahnya hanya terisak melihat pembicaraan kami.
“Mama… papa…”. Dia kemudian menengok ke arah orangtuanya.
“Iya sayang mama disini”. Ibu nya yang menjawab.
“Aku punya permintaan terakhir”. Dia berkata lagi
“Iya sayang… apa yang kamu minta akan kami kabulkan”. Ibu nya menjawab lagi.
“Mama dan papa harus berjanji jika Rani sudah tidak ada, Rendy harus di angkat anak oleh mama papa. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kita”. Aku sempat kaget mendengarnya. Di saat seperti ini dia masih juga memikirkan aku. Betapa mulia hatinya. Di saat-saat terakhir masih sempat memikirkan orang lain.

“Iya sayang mama dan papa berjanji untuk melakukannya, iya kan pa…”. Ibu nya berkata sambil melihat ke arah papa nya Rani. Ayahnya hanya mengangguk tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Lagi pula kami sudah menganggap Rendy sebagai anak sendiri, iya kan Ren…”. Tanya ibunya Rani. Aku hanya mengangguk tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mataku sudah tidak bisa di tahan lagi.
“Aku sudah tenang sekarang. Aku sudah tidak punya beban lagi. Mah…pah… kalian harus tabah ya… aku titip Rendy…”. Rani berkata dengan suara yang semakin lemah.
“Iya sayang… mama akan menjaga dia, kami akan menganggapnya sebagai pengganti kamu”. Ibu nya menjawab dengan tegar, seakan dia sudah merelakan anaknya tercinta pergi untuk selamanya.
“Rendy… kamu juga harus kuat ya sayang. Tolong jaga mama dan papaku, anggap mereka sebagai orang tua kamu sendiri ya…”. Aku hanya mengangguk.
“Aku sayang kamu, aku cinta kamu. Jangan lupakan aku”. Suaranya semakin melemah saja.
“Aku juga sayang dan cinta sama kamu”. Suaraku hampir-hampir tak terdengar.
“Maah… paah… aku pergi yaaa… jaga diri kalian baik-baik”. Kata-kata terakhir untuk orang tuanya terucap.
“Rendy aku pergi ya… jaga diri baik-baik, kamu harus ingat cinta kita tidak akan pernah berakhir”. Suaranya sudah hampir hilang.
“Iya sayang aku akan selalu mencintaimu”. Aku berbicara dengan suara parau.

“Selamat tinggal semuanya…”. Dia berkata sambil perlahan-lahan menutup matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. Akhirnya dia diam tak bergerak. Dadanya sudah tidak lagi turun naik pertanda dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Pertanda dia sudah diambil oleh yang punya. Pergi menghadap sang pencipta. Ibu Rani menjerit melihat anaknya sudah meninggal. Dia hanya bisa memeluk suaminya sambil terus menangis.
Sedangkan aku yang dari tadi terus menggenggam tangannya, hanya bisa memanggil namanya.

“Rani… Rani… bangun sayang… bangun…”. Aku menggoncangkan tubuhnya.
“Rani……….. aku menjatuhkan wajahku di dadanya. Aku menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil kehilangan ibunya. Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.

Perjalanan hidupku dengan Rani memang harus berakhir disini. Tetapi hati kami tetap bersatu walaupun sekarang sudah berbeda tempat dan waktu.

Selamat jalan Rani…. selamat jalan Maharaniku, semoga engkau diterima di sisi-Nya. Amiin.

Jakarta, 05 Oktober 2006.

Elegi ban bocor

Pagi yang sejuk. Sejak kapan yah Jakarta sejuk hehehe. Perasaan ingin pake jaket. Ah pake jas aja biar gak terlalu gerah kalau nanti siang jadi berubah panas. Aku keluar dari tempat kost jam enam pagi. Aku ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja.

 

Seperti biasa aku berjalan menyusuri kawasan perbelanjaan ITC Cempaka Mas yang masih sepi. Setiap hari aku berjalan dari tempat kost menuju tempat pemberhentian Kopaja. Jurusan ke arah kantorku kebetulan biasa mangkal di sebelah timur parkir Cempaka Mas.

 

Sampai di ujung timur dari tempat parkir Cempaka Mas aku berbelok ke arah pabrik motor Honda. Hmm Kopaja nya belum kelihatan. Aku terus berjalan menyusuri jalan layang yang belum juga selesai. Entah sampai kapan jalan layang ini akan mulai dibangun sementara besi beton dan jembatan cor sudah jadi tetapi belum juga pondasinya didirikan.

 

Ketika aku sedang berjalan terlihat dikejauhan kendaraan yang sangat aku kenal. Hei… bukankan itu Hyundainya Elisa? Ngapain dia disini. Dan lagi ini kan masih pagi. Yang aku tahu biasanya dia sampai kantor saja jam delapan lewat. Mana mungkin dia jam segini sudah jalan dari rumah. Elisa adalah karyawan lantai dua di kantorku. Dia satu gedung dengan kantorku tapi beda perusahaan. Aku sebetulnya menyukai dia tapi belum sempat nembak dia(belum berani euy).

 

Aku pastikan lagi bahwa benar itu mobilnya dia. Yup betul, itu memang mobil dia. Aku tidak mungkin lupa dengan nomor polisinya B5668AZ. Hmm… sedang apa dia disini?

 

Aku berjalan pelan mendekati mobilnya. Takut dia kaget. Soalnya dia tidak tahu aku tinggal di daerah sini. Aku semakin dekat dengan mobilnya. Aku memperhatikan kebelakang kemudi mobilnya. Tapi sosok Elisa tidak aku temukan disana. Aku hapal betul sosoknya walaupun aku melihatnya dari belakang. Yang aku temukan disana adalah sosok wanita setengah baya dengan pakaian khas kantor. Dia kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah sisi sebelah kiri mobil dan melihat ke arah ban depan mobil. Oh itu masalahnya. Ban depan sebelah kiri mobilnya bocor.

 

Aku pikir kenapa tidak membantunya? Siapa tahu itu mamanya Elisa. Itung-itung pedekate ke anaknya, kan tidak salah mengenal ibunya juga. Aku memberanikan diri menyapa.

 

“Selamat pagi…”.
“Eh selamat pagi juga…”. Dia agak kaget menjawab.
“Ban nya kempes ya bu?”. Sebetulnya pertanyaan yang tidak perlu aku lontarkan karena aku juga sudah tahu kalau ban mobilnya bocor.
“Iya nih, mana harus cepat-cepat sampai kantor lagi”. Jawabnya.
“Boleh saya bantu?”. Aku mencoba mengajukan diri membantu.

 

Dia menatapku lurus tanpa senyum. Kayaknya kalau Elisa menatap tanpa senyum kepadaku mungkin seperti ini kali hehehe. Dia agak menyelidik kepadaku. Maklum ini Jakarta. Bisa saja tawaran pertolongan berakhir dengan kejahatan seperti yang terjadi di berita-berita televisi. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya itu. Sebelum berbicara lagi aku berdehem sebentar.

 

“Emm… Ibu ada hubungan apa dengan Elisa?”. Aku mencoba memecahkan kesunyian diantara kami. Ibu itu terkejut dengan pertanyaan yang aku ajukan. Tapi kemudian rona mukanya berubah ramah.

 

“Oh Elisa… itu anak saya, mas ini siapa ya…?”. Dia menerangkan. Betul ternyata dugaanku, dia ibunya Elisa.
“Kenalkan bu, nama saya Andi. Saya kenal Elisa soalnya saya satu gedung sama dia, tapi kami lain perusahaan”. Aku menjelaskan.

 

“Oh begitu…, tapi dari mana mas tahu kalau ini mobilnya Elisa?”. Dia sedikit menyelidik. Untung dia tidak melanjutkan dengan pertanyaan yang terlalu jauh. Aku gak mau ditanya-tanya sama ibu dari cewek yang aku taksir. Malu dong.

 

“Saya hapal mobilnya bu, nomor nya juga saya hapal. B5668AZ kan”. Aku menjelaskan. Dia menyelidik lagi sambil agak sedikit tersenyum. Mungkin dia penasaran dengan orang yang baru dia kenal ini, kok bisa-bisanya hapal nomor mobil anaknya.

 

“Lho mas ini siapa sih, kok sampai hapal nomor mobil anak saya?”. Aduh pertanyaan ini benar-benar tidak ingin aku jawab. Bagaimana kalau nanti ketahuan aku sedang mengincar anaknya.
“Ya hapal saja bu, soalnya sering lihat mobilnya”. Dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ah bodo amat. Aku kemudian bertanya lagi sebelum dia berbicara lebih jauh.
“Boleh saya bantu bu, ada ban serep, kunci sama dongkrak tidak?”. Aku buru-buru menawarkan bantuan.
“Oh boleh-boleh, semuanya ada di bagasi belakang”. Dia kemudian menuju ke arah bagasi dan menunjukkan peralatan yang aku butuhkan.

 

Aku kemudian mengambil peralatan yang aku butuhkan. Ban serep, Kunci untuk membuka ban dan tidak lupa dongkrak untuk mengangkat mobil.

 

Setelah semuanya siap aku langsung membuka ban yang bocor tersebut untuk diganti dengan ban yang baru. Sambil aku bekerja dia bertanya kepadaku.

 

“Mas ini siapa? Kenal anak saya dimana? Kok mau bantuin saya?”. Aduh akhirnya dia menyelidik juga.
“Ah saya hanya kenal saja bu, satu gedung pasti sering bertemu. Lalu perihal membatu ya sesama orang harus saling tolong menolong kan, tapi maaf jangan panggil saya mas, panggil saja Andi”. Aku bisa menjelaskan juga walaupun aku takut dia semakin menyelidik.

 

“Tapi sepertinya tidak mungkin kamu teman biasa, kalau hanya teman saja mana mungkin hapal sama nomor mobil segala?” Dia semakin menyelidik. Aku tidak berusaha menjawabnya. Aku pura-pura sibuk membuka mur mobil satu-persatu.

 

“Ngomong-ngomong mobil ini tidak dipakai Elisa bu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Kalau aku jawab pasti dia semakin ingin bertanya lebih jauh.
“Eit… jangan coba mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia menjawab sambil tersenyum. Aku bisa melihatnya karena aku bertanya sambil melirik ke arahnya.

 

“Kebetulan mobil ibu lagi ke bengkel, sedangkan sekarang harus cepat-cepat sampai kantor soalnya ada rapat penting pagi ini di sana, yah terpaksa deh Elisa yang ngalah”. Akhirnya dia mau menjawab juga.
 
“Oh begitu, kalau mobil ini ibu pakai berarti Elisa gak pake mobil dong bu?”. Aku bertanya kembali.
“Iya… dia ada yang mengantar ke kantor”. Dia berkata sambil sedikit tertawa. Aku sudah selesai membongkar ban yang bocor. Dongkrak sudah aku naikkan dan sekarang tinggal memasukkan ban yang baru dan menguncinya dengan mur yang tadi.

 

“Tenang saja dia tidak di antar siapa-siapa kok, dia diantar papanya ke kantor”. Ada sedikit suara kemenangan disana. Aku sudah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
“Oh begitu…”. Ada sedikit kelegaan dihatiku.
“Lega kan dia tidak di antar siapa-siapa”. Busyet… tau juga dia isi hatiku.
“Ah ibu bisa saja”. Aku hanya bisa tersenyum simpul.
“Ibu juga pernah muda, ibu tahu apa yang ada di pikiran kamu”. Dia berkata lagi.

 

Tak terasa akhirnya pekerjaanku selasai. Ban sudah kupasang dan mur-mur nya sudah aku kencangkan sedemikian rupa, tak lupa aku mengencangkan secara diagonal agar ban menjadi seimbang. Kemudian aku memasukkan ban yang bocor dan peralatan lainnya ke dalam bagasi mobil.

 

“Ok bu sudah selesai semua. Jangan lupa ban yang bocornya segera ditambal”. Aku berkata sambil membersihkan sisa-sisa tanah yang masih ada di tanganku.
“Aduh makasih banyak ya Andi…, sudah merepotkan kamu”.
“Sama-sama bu, saya senang kok bisa membantu”. Jawabku.
“Senang kan bisa membantu mobil cewek yang kamu taksir”. Tak henti-hentinya dia menggoda.
“Ah kata siapa saya naksir sama Elisa?”. Aku mencoba menghindar.
“Jangan pura-pura… dari semua yang kamu katakan, ibu tahu apa isi hati kamu”. Dia berkata lagi
“Pokoknya nanti ibu sampaikan deh sama Elisa kalau kamu yang membantu ibu, Ok”. Apa juga coba untungnya ngasih tahu Elisa.

 

“Kamu suka kan sama Elisa?”. Dia langsung menebak. Aku tidak bisa menjawab. Dan memang aku enggan untuk menjawabnya. Masa di depan orang tua cewek yang aku sukai aku terus terang sih.
“Sudah siang bu, bukannya ibu harus cepat-cepat ke kantor?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu pintar mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia berkata sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

“Sekali lagi terimakasih ya, coba kalau nggak ada kamu bisa-bisa ibu nggak bisa ngantor hari ini. Mana ada bengkel dekat sini”. Dia berbicara serius kali ini.
“Iya bu sama-sama, itu juga kebetulan saja saya lewat sini”. Jawabku.
“Ok deh kalo begitu, ibu jalan dulu yah, eh mau dianter gak?”. Dia bertanya
“Wah nggak usah bu, saya naik umum saja. Lagian ibu kan mau langsung naik tol”. Aduh aku salah ngomong lagi.
“Lho tau dari mana ibu mau naik tol?”. Dia kembali menyelidik.
“Ah cuma nebak aja kok, soalnya kalau ke arah tanjung priuk atau ke arah cawang tidak mungkin ibu putar balik di sini”. Aku menjelaskan.
“Kamu pasti bohong, pasti sudah tahu dari Elisa. Nanti ibu tanyakan sama dia, kamu pasti teman dekatnya Elisa”. Dia sedikit mengancam walaupun masih tersenyum.
“Saya bukan siapa-siapa nya Elisa bu, bener deh gak bohong”. Jawabku.
“Ok deh gak apa-apa kalau gak mau terus terang, yang jelas ibu mengucapkan terimakasih banyak sudah dibantu”. Dia sungguh-sungguh berkata.

 

“Iya bu sama-sama”. Jawabku
 
“Kalau ada waktu main ke rumah ya, biar bertemu sama Elisa, bisa ngobrol dengan tenang, ok”. Pintanya.
“Iya bu terimakasih”. Jawabku, kemudian dia masuk ke dalam mobil.
“Sudah tahu kan rumah ibu?”. Tanya dia.
“Eh iya… eh belum bu”. Aku tergagap. Aku keceplosan ngomong lagi.
“Tuh kan kamu berbohong lagi. Tapi ya sudahlah, pokoknya nanti ibu kasih tahu Elisa supaya mengundang kamu ke rumah”.
“Iya bu makasih”. Aku tidak bisa berkata lagi.

 

Setelah menutup kaca mobil kemudian mobilnya pun berjalan meninggalkanku. Dia membunyikan klakson sebelum berjalan. Aku melambaikan tangan. Kebetulan kopaja yang aku tunggu sudah datang. Akhirnya aku naik. Huh pengalaman yang sungguh diluar dugaan. Aku bertemu dengan ibunya Elisa. Eh aku lupa tidak menanyakan namanya. Ah gak apa-apa, aku kan bukan suka sama ibunya tapi suka sama anaknya hehehe.

Sepatu Besi

Waktu menunjukkan pukul 06.30 sewaktu aku sampai di halte angkutan umum. Masih pagi. Belum banyak orang yang menunggu angkutan. Teman-teman sekolahkupun belum ada yang kelihatan. Santai dulu ah. Jam masuk sekolah masih lama. Masih setengah jam lagi.
 

Jam 06.35 Pak Dodi guru bahasa Indonesia di sekolahku lewat. Kebetulan hari ini dia mengajar di jam pertama.

 

“Pagi pak….”. Aku menyapanya
“Pagi Boy, belum berangkat?”. Dia menjawab sekaligus bertanya
“Belum pak sebentar lagi”. Jawabku
“Ya udah Bapak duluan ya”. Dia berkata sambil menyetop angkutan yang lewat.
“Baik pak”. Aku menjawab.

 

Aku kembali duduk di bangku halte dan meneruskan cuci mataku. Mulai banyak orang yang berlalu-lalang di depan halte. Banyak juga cewek yang lewat. Biasa lah aku duduk sambil menggoda mereka.

 

Jam 06.45 Siska teman sekelasku lewat. Aku tahu dia naksir sama aku. Soalnya beberapa waktu yang lalu Reni temannya pernah bilang padaku kalau dia menitipkan salam kepadaku.

 

“Hai Boy….Belum berangkat?”. Dia bertanya
“Belum nih”. Aku menjawab
“Ngapain sih duduk disitu, ayo berangkat bareng aku”. Dia mengajak sambil mengembangkan senyum manis.
“Tar dulu ah, masih limabelas menit lagi kan bel”. Jawabku.
“Ya udah. Aku duluan ya, dah”. Dia berkata dengan sedikit kecewa. Langsung menyetop angkutan dan naik tanpa melihatku lagi.

 

Sebodo amat. Emang gue pikirin. Mending juga nongkrong dulu di sini sambil cuci mata. Menyegarkan pikiran dan otak hehehe. Aku belum berangkat ke sekolah karena memang jarak antara halte ini dan sekolahku tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam lima menit. Disekolah juga mau ngapain. Paling ngegodain cewek sekelas. Bosen 4L. Lu lagi lu lagi.

 

Jam 06.50 Aku bersiap-siap menyetop angkutan. Aku rasa sudah saatnya berangkat kesekolah. aku berusaha menyetop angkutan yang lewat di halte. Tapi ya ampun kok penuh semua. Aku berusaha menghentikan beberapa angkutan yang lewat tapi tidak ada yang berhenti. Temanku juga ada yang naik angkutan dan lewat didepanku. Dia juga kebagian berdiri di pintu. Wah gawat nih. Aku bisa kesiangan. Waktu bel sekolah tinggal lima menit lagi. Aduh gawat…gawat.

 

Akhirnya ada juga angkutan yang berhenti didepanku. Itu juga aku berebut dengan orang lain yang akan naik. Aku kebagian berdiri dipintu. Selamat-selamat…… akhirnya aku bisa juga naik angkutan. Mudah-mudahan tidak sampai kesiangan.

 

Sampai di sekolah aku berlari menuju pintu gerbang. Satpam sudah bersiap-siap menutup pintu karena memang bel sudah berbunyi. Banyak juga teman-temanku yang kesiangan. Mereka berlarian menuju ke arah pintu gerbang. Aku beruntung karena bisa masuk sebelum pintu gerbang ditutup satpam. Aku tidak melihat teman-teman yang lain yang kesiangan karena aku berkonsentrasi untuk mengejar pelajaran pertamanya pak Dodi. Mudah-mudahan di belum masuk ke kelas.

 

Aku berlari di lorong sekolah karena memang kelasku berada di ujung koridor. Sepi terlihat di sepanjang lorong karena memang pelajaran sudah dimulai. Akhirnya aku sampai juga di depan kelasku. Aku lihat Pak Dodi sudah memulai pelajaran. Dia sedang menerangkan sesuatu. Aku bisa melihat karena memang pintu masuk kelas terbuka lebar. Aku mengetuk pintu masuk kelas.

 

“Selamat pagi pak…..”. Aku mengucapkan salam. Pak Dodi kemudian menoleh ke arah pintu.
“Selamat pagi juga Boy, atau selamat siang tepatnya”. Dia berkata sambil menyindir.
“Maaf pak, saya kesiangan”. Aku berkata sambil menunduk malu.

 

Terdengar suara koor dari deretan teman-temanku. aku melirik ke arah teman-temanku. Mereka pada tertawa cekikikan sambil mencibir. Aku balik mencibir kearah mereka. Aku melihat kearah Siska. Dia hanya tersenyum kepadaku. Aku kembali menghadap ke arah Pak Dodi.

 

“Ya sudah, silahkan kamu duduk”. Pak Dodi akhirnya mempersilahkan aku duduk.
“Terimakasih pak”. Aku menjawab.
“Ya…ya…. tapi lain kali jangan pake sepatu besi ya, jadi kamu susah berjalan, akhirnya terlambat masuk kelas”. Pak Dodi kembali berkata sambil tetap menyindirku.
“Hahaha…….”. Terdegar ledakan tawa dari teman-teman sekelasku.

 

Mati aku.

First Post

Tempat dimana kehausanku akan tulisan terpenuhi. Tulisan yang mengungkapkan perasaan seseorang. Atau diwakili oleh orang lain. Selamat membaca.