Realita vs Imajinasi

Pernah dengar atau nonton film Inception? Film yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio ini rilis tahun 2010. Film ini menceritakan tentang mimpi yang bisa dikendalikan oleh manusia. Cerita dimana perbedaan antara realita dan imajinasi sangat tipis. Selain memang ceritanya bagus dari segi plot, yang membuat saya agak bertanya-tanya atau mungkin terkesan adalah ketika menceritakan tentang sekelompok manusia yang sedang dibius oleh suatu cairan tertentu, yang mengakibatkan mereka berada di suatu kondisi tidur atau lebih tepatnya mimpi yang bisa mereka kendalikan sendiri. Bahkan mimpi itu bisa mereka bagikan kepada siapa saja yang mereka mau atau mereka ajak ke dalam mimpi mereka.

Oke… saya tidak akan membahas panjang lebar tentang film ini. Apabila ada yang ingin menonton atau ingin bernostalgia kembali dengan film ini, bisa mencarinya di internet. Atau bisa membelinya di amazon. Yang ingin saya bahas disini adalah mimpi dan khayalan saya sendiri.

Saya mentasbihkan diri saya sendiri sebagai seorang novelis, walaupun belum pernah ada karya saya yang diangkat menjadi sebuah buku. Karya saya hanya saya publikasikan lewat blog novel ini.

Sebagai seorang penulis novel, tentu saja imajinasi atau khayalan adalah bahan utama saya. Boleh di tanyakan kepada penulis lain tentang ini. Tapi saya yakin mereka juga akan sependapat dengan saya.

Tahun 2018 sampai tahun 2019 ini adalah tahun produktif saya menulis. Walaupun saya sibuk bekerja di bidang IT, tapi saya sempatkan menulis novel ketika saya dalam perjalanan berangkat bekerja dan perjalanan pulang bekerja. Dalam dua tahun ini saya sudah menyelesaikan tiga buah novel. Novel terakhir sebelum saya vakum menulis adalah tahun 2006. Jauh sekali rentang waktunya sampai tahun 2018.

Tahun 2006 adalah tahun terakhir saya membuat novel. Setelah itu saya vakum menulis sampai menulis lagi tahun 2018 kemarin. Seperti yang saya sebutkan diatas, khayalan adalah bahan utama saya menulis novel. Pada tahun 2006 ke belakang, saya menulis novel berdasarkan imajinasi saya ketika saya sedang sendiri setelah pernikahan pertama saya kandas hanya dalam rentang waktu empat tahun. Ketika itu saya sedang menjalin hubungan dengan istri saya yang sekarang. Tapi saya tidak akan menceritakan kisah saya dengan istri saya yang sekarang, tapi saya akan menceritakan wanita lain. Ya… wanita lain. Terus terang saya tergoda dengan wanita lain. Wanita yang membuat saya penasaran. Anaknya mungil, lucu dan membuat saya ingin berkenalan semenjak saya pertama kali melihat dia. Memang waktu itu saya belum terikat janji suci pernikahan, tapi saya berkomitmen untuk menikah pada tahun berikutnya.

Wanita tersebut adalah karyawan perusahaan lain yang satu gedung dengan perusahaan saya. Saya sempat berkenalan dengan dia dan mengajak dia untuk ngedate. Namanya juga anak muda, pasti menggebu-gebu untuk mendekati wanita. Itu juga yang saya alami. Tapi sepertinya wanita tersebut kurang tertarik dengan saya. Entah karena saya terlalu menggebu-gebu, atau karena dia berlainan etnis dengan saya. Ya… dia orang chinese dan berbeda keyakinan dengan saya yang seorang muslim.

Dari sanalah awal mula imajinasi saya melayang kemana-mana. Mungkin karena keinginan saya yang tidak kesampaian, karena saya kecewa, jadilah saya menulis novel berdasarkan khayalan saya sendiri. Saya menulis novel seperti kesetanan. Dari pagi sampai sore saya menulis novel tersebut dan selesai hanya dalam tiga hari. Pekerjaan saya pun terbengkalai gara-gara saya menulis novel tersebut. Lalu saya publikasikan novel tersebut di blog saya, sebelum blog ini berganti nama menjadi website novel seperti sekarang. Banyak yang berkomentar dan bertanya apakah novel tersebut adalah kisah nyata? Saya tidak menjawab langsung, saya kembalikan lagi kepada para pembaca blog saya.

Kembali kepada khayalan, imajinasi atau khayalan saya sangat kuat waktu itu, sehingga mampu membuat beberapa cerpen dan novel saat saya menyukai wanita tersebut. Tapi karena keinginan saya tidak tercapai, saya akhirnya mundur teratur dan tidak mendekatinya lagi. Bertemu di lift atau di kantin pun hanya diam saja. Akhirnya saya menikah dengan pacar saya satu tahun kemudian. Satu tahun kemudian saya keluar dari perusahaan tersebut dan sudah melupakannya. Begitupun dengan kegiatan menulis novel, sudah saya lupakan dan blog ini tidak diurus sama sekali. Mati suri…!

Cerita berlanjut sepuluh tahun kemudian. Ya… sepuluh tahun! Rentang waktu yang sangat lama untuk kegiatan menulis. Tapi seperti dejavu, saya menulis lagi karena sedang suka dengan seseorang. Bukan suka kepada wanita seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi suka sebagai fans saja. Saya sadar kalau saya sudah mempunyai keluarga yang harus saya sayangi sepenuh hati.

Ada seorang artis wanita muda penuh talenta. Cantik dan banyak judul sinetron dan FTV yang sudah dibintanginya. Mulai dari sinetron yang judulnya alay-alay, sampai sinetron serius dan sitkom. Akting nya memang diakui oleh semua orang terlebih kalau memerankan tokoh antagonis. Luar biasa memang wanita ini. Pesonanya bisa membius siapapun. Bahkan acara sekelas ‘The Comment‘ di Net. TV pun menamai artis ini dengan sebutan ‘Our Own Favorit’ atau kesukaan kita semua. Tinggi, langsing, putih dan cantik, standar wanita cantik di Indonesia. Sama satu lagi, dia sering banget ganti-ganti gaya rambut. Kadang juga rambutnya di highlight dengan warna rambut yang bermacam-macam sehingga kalau dilihat wajahnya sering berubah-ubah sesuai dengan gaya rambutnya.

Followersnya di Instagram sudah mencapai 348K lebih. Disanalah saya sering melihat keseharian dia, pulang pergi syuting dan keseharian dia selama di lokasi syuting. Selain di IG, banyak juga yang memposting videonya di Youtube. Saya sudah sering DM dia mengomentari setiap InstaStory nya. Tapi ya… namanya juga artis, gak mungkin dia balas DM orang yang nggak dikenal walaupun itu adalah fans nya sendiri. Lagipula saya memang tidak mengharapkan balasan DM dia, hanya ingin berkomentar saja di InstaStory nya.

Bulan Agustus tahun 2018 adalah awal mula saya melihat aktingnya di TV, ketika dia main di sebuah sitkom dan langsung jatuh hati. Insting saya menulis tiba-tiba hidup kembali dan saya mulai menulis lagi. Tentu dengan artis ini sebagai bahan khayalan saya. Tapi jangan salah ya, saya tidak mengkhayal yang jorok-jorok seperti kebanyakan cerita-cerita yang ada di internet. Syukur sekarang cerita-cerita seperti itu sudah di blok kominfo lewat google dan search engine besar lainnya seperti bing dan yahoo. Khayalan saya berkelana kemana-mana dengan artis ini sebagai pemerannya. Satu novel selesai bersamaan dengan selesainya sitkom tersebut. Ternyata bakat menulis saya masih ada. Khayalan saya bisa terbang kemana-mana dengan artis ini sebagai role model saya.

Mulai saat itu saya memutuskan untuk menekuni kegiatan menulis lagi. Berkhayal yang tinggi-tinggi sampai setinggi langit. Saya berkhayal kemanapun yang saya mau. Menjadi apapun yang saya mau. Menceritakan apapun yang saya mau. Ternyata dengan menulis, saya bisa menumpahkan perasaan saya yang selama ini hanya ada di pikiran saya. Saya bisa menuliskan apapun yang saya mau walaupun itu hanyalah sebatas khayalan semata.

Ternyata dunia khayalan memang indah. Saya bisa bebas mengekspresikan apapun yang saya mau. Tetapi realita tetaplah realita. Saya di dunia nyata sangatlah berbeda dengan saya di dunia khayalan. Walaupun apabila ada karakter laki-laki di novel saya, tidak akan jauh berbeda dengan karakter saya di dunia nyata. Tetapi khayalan tetapkah khayalan. Di dunia khayalan saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, tetapi tidak demikian dengan dunia nyata. Saya harus kembali lagi berhadapan dengan dunia nyata yang tidak seindah dunia khayal yang saya ciptakan. Dunia nyata bukanlah dunia yang bisa kita kendalikan sendiri. Dunia nyata milik semua orang. Ada orang tua, saudara, istri dan anak saya yang memerankan diri mereka masing-masing, tanpa bisa saya kendalikan seperti halnya di dunia khayalan saya.

Oh iya… istri saya sangat tidak setuju saya menulis novel atau cerpen. Suatu saat saya menulis salah satu novel saya waktu hari libur. Istri saya marah sekali melihat tulisan saya yang menceritakan salah satu tokoh novel saya. Dia bilang tidak ada gunanya menulis novel, untuk apa menulis novel, memang bisa menghasilkan uang dengan menulis novel, kamu menceritakan diri kamu sendiri dalam novel, dan lain sebagainya ocehan istri saya ketika mengetahui saya sedang menulis novel.

Akhirnya saya tidak pernah menulis novel ketika saya sedang liburan dan berada didalam rumah. Saya menulis novel saya saat saya sedang dalam perjalanan pergi dan pulang bekerja. Saya bekerja di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan rumah saya di daerah Gadog, Bogor. Jadi saya mempunyai waktu luang yang sangat banyak ketika melakukan perjalanan di dalam bis. Novel saya yang baru-baru ini ditulis, semuanya saya buat ketika dalam perjalanan pulang pergi Bogor-Jakarta. Editing pun saya lakukan dalam perjalanan pulang pergi bekerja. Setelah proses editing selesai, barulah saya pindahkan ke dalam format blog atau kedalam format MS-Word yang siap cetak apabila nanti ada kesempatan saya untuk mencetak novel tersebut. Tulisan ini pun saya buat ketika saya sedang dalam perjalanan pulang pergi bekerja Bogor-Jakarta.

Mungkinkah kegiatan menulis saya merupakan ekspresi dari semua khayalan saya yang tidak dapat saya ungkapkan di dunia nyata? Mungkinkah novel saya merupakan bentuk kekecewaan dari realita yang terjadi dalam kehidupan saya? Kekecewaan terhadap keluarga mungkin? Atau kekecewaan terhadap istri? Anak? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya hanya menulis apa yang ada di otak saya saat itu. Tapi saya tidak kecewa kepada kehidupan yang saya alami sekarang. Saya malah bersyukur diberikan anugrah untuk bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya. Tidak banyak orang yang bisa menuliskan apa yang ada di dalam pikiran mereka kedalam sebuah tulisan.

Namun akhir-akhir ini, khayalan yang saya tulis terasa menjadi hal yang nyata di depan saya. Terasa hanya ada awan tipis yang memisahkan antara dunia khayalan saya dengan dunia nyata. Terus terang nyali saya ciut membayangkan tulisan saya menjadi kenyataan. Apa yang harus saya lakukan apabila semua yang saya tulis merupakan perjalanan hidup saya sendiri? Apa yang harus saya katakan kepada semua orang kalau saya menulis masa depan saya sendiri? Kalau ingat itu semua saya bergidik, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi saya sudah terlanjur menumpahkan khayalan saya ke dalam bentuk tulisan. Apakah saya harus menghapus semua novel saya? Novel yang sudah saya buat dengan segenap perasaan saya?

Tapi satu hal yang pasti bahwa realita tidaklah seindah khayalan.

Tetaplah menulis Aji!.