Diplomat Bag. 7 – Pulang ke Jakarta

Yudha kemudian turun dari apartemennya. Dia berencana mau sarapan pagi di cafe seberang apartemen nya. Biasanya dia makan roti dan minum juice disana. Cafe tersebut terletak di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Meja dan kursinya pun di tempatkan di trotoar dengan payung kain di atasnya. Sekarang bulan Februari sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi sehingga udara tidak terlalu dingin disana.

“Good morning Yudha”. Sapa seorang waiters wanita di sana yang sudah mengenal Yudha karena hampir tiap hari dia sarapan disana.

“Morning… as usual please…”. Kata Yudha kepada waiters cafe tersebut. Dia memang biasa memesan Roti dan Juice di cafe tersebut dan waitersnya juga sudah tahu pesanan langganannya. Dia pun tahu Yudha dari Indonesia dan seorang muslim, jadi penyajiannya pun berbeda dengan yang biasa mereka sajikan kepada warga setempat.

“Okay…”. Jawab waiters tersebut. Kemudian dia masuk ke dalam cafe sementara Yudha duduk di kursi yang ada di trotoar.

Dia kemudian mengeluarkan HP nya dan mencoba melakukan ‘video call’ dengan Farah. Semoga Farah sudah ada di rumah.

“Hai Farah…”. Yudha melambaikan tangan ke HP nya ketika sudah ada wajah Farah disana. Sepertinya dia sudah ada di rumah dan ada ruang tengah rumahnya.

“Hai juga… Eh sekarang pagi ya disana…”. Tanya Farah.

“Iya disini sekarang pagi. Kamu sudah pulang syuting?”. Tanya Yudha.

“Iya sudah pulang tadi sore”. Jawab Farah.

“Nggak jalan-jalan dulu…?”. Tanya Yudha.

“Nggak ah mas males… pengen pulang aja langsung. Ini berdua aja sama mama lagi nonton tv”. Jawab Farah.

“Oh gitu, salam aja sama mama. Kalau aku masih di Jakarta pasti aku ajak kamu jalan, terus kita makan…”. Ujar Yudha.

“Hehe… iya mas”. Jawab Farah malu-malu.

Yudha kemudian mengencangkan jaketnya.

“Masih dingin ya mas disana?”. Tanya Farah.

“Iya masih, tapi sekarang sudah lumayan hangat jadi aku keluar apartemen nggak pake baju berlapis-lapis”. Jawab Yudha.

“Seru ya mas di New York”. Ujar Farah.

“Ya begitulah. Nanti suatu saat aku ajak kamu kesini…”. Ujar Yudha.

“Hehe… makasih mas”. Jawab Farah.

“Breakfast ready…”. Ujar seorang waiters.

“Oh thank you”. Jawab Yudha.

“Mas lagi sarapan…?”. Tanya Farah.

“Iya… nih sarapanku hanya ini…”. Ujar Yudha sambil mengarahkan HP nya ke arah makanan yang baru saja dipesannya.

“Kalau disana sarapan gitu aja mas…?”. Tanya Farah.

“Iya… ini saja yang bisa aku makan. Kalau di Jakarta kan banyak macamnya kalau sarapan. Jadi pengen cepat-cepat pulang kangen sama Jakarta”. Ujar Yudha.

“Sama kangen sama seseorang juga…”. Lanjut Yudha sambil tersenyum.

“Kangen sama siapa hayo…”. Tanya Farah, padahal dia juga tahu Yudha kangen sama siapa, siapa lagi kalau bukan kangen sama Farah.

“Sama seseorang yang kemarin aku kasih cincin…”. Jawab Yudha sambil tersenyum. Farah juga tersenyum.

“Eh barusan Myra telpon, katanya tadi pagi ke tempat kamu syuting ya…”. Tanya Yudha.

“Iya tadi dia mampir sambil ngasih oleh-oleh kain Bali”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Yudha berkata sambil menyantap sarapannya.

“Tadi juga ngobrol sama mama”. Ujar Farah.

“Dia godain kamu ya…”. Tanya Yudha.

“Biasa mas memang dia suka gitu…”. Jawab Farah.

“Apartemen mas Yudha dekat dari situ?”. Tanya Farah.

“Iya dekat. Tuh yang lantai dua yang warna hijau”. Jawab Yudha sambil mengarahkan kameranya ke arah apartemennya yang ada di lantai dua.

“Terus ke tempat kerja jauh?”. Tanya Farah

“Agak lumayan sih, aku naik bis dari sini ke tempat kerja”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas”. Ujar Farah.

“Aku berangkat kerja dulu ya… sampai nanti”. Ujar Yudha setelah menyelesaikan sarapannya.

“Iya mas hati-hati”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mengakhiri komunikasi nya dengan Farah. Ah lega rasanya sudah bisa melihat Farah dan bisa ngobrol lagi, pikir Yudha. Dia kemudian meletakkan uang di meja cafe tersebut dan beranjak dari sana menuju tempat kerjanya.

Farah pun senang bisa melihat lagi Yudha dan bisa ngobrol walaupun hanya lewat ‘video call’, dia jadi lega bisa kembali ngobrol sama Yudha. Ah aku kenapa begini ya… apakah aku jatuh cinta sama dia? Masa sih aku jatuh cinta? Tapi ada rasa kangen kalau belum melihat dia sehari, Farah berkata dalam hati.

“Kenapa… senang ya bisa ‘video call’ sama Yudha?”. Tanya mama Farah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri setelah ngobrol sama Yudha.

“Kenapa ya kok aku jadi kangen sama dia mam? Padahal kita kan baru kenal satu minggu”. Ujar Farah.

“Ya mungkin kalian sudah sama-sama cocok, sudah sehati”. Jawab mama Farah.

“Tapi aku nggak pernah kayak gini sebelumnya mam…”. Ujar Farah.

“Ya sudah nggak apa-apa, mungkin ini sudah takdir kamu harus sama Yudha”. Jawab mama.

“Mama setuju aku sama Yudha?”. Tanya Farah.

“Kan mama sudah bilang, mama setuju saja. Tinggal kamu nya yang harus mantap sama Yudha”. Jawab mama.

“Kalau nanti Yudha benar-benar melamar aku bagaimana mam? Punya komitmen saja belum…”. Ujar Farah. Dia melihat lagi ke arah jarinya yang disana melingkar cincin berlian pemberian Yudha.

“Loh kan nggak harus diungkapkan. Kalian juga sudah saling komitmen dalam hati kan. Coba sekarang mama tanya, kalau sekarang ada laki-laki lain yang mendekati kamu dan misalnya mengajakmu pacaran bagaimana?”.

“Nggak mau…”. Jawab Farah sambil cemberut.

“Kenapa…?”. Tanya mama.

“Ingat Yudha…”. Jawab Farah.

“Nah kan… begitu pun Yudha. Mama yakin dia juga tidak akan kelain hati walaupun dia sekarang jauh dari kamu”. Ujar mama.

“Begini saja… kalau besok pagi Yudha telpon kamu pas dia pulang kerja, terus telpon lagi malam hari seperti sekarang pas dia disana mau berangkat kerja, berarti sudah bisa mama pastikan kalian sudah punya komitmen dalam diri kalian masing-masing”. Lanjut mama.

“Atau kalau Yudha telat telpon kamu, terus kamu yang inisiatif telepon duluan, sudah pasti kalian sudah satu hati”. Lanjut mama lagi.

“Gitu ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya… sudah malam ayo kamu tidur, kan besok harus berangkat syuting pagi”. Ujar mama.

“Iya mam, Farah tidur dulu ya…”. Ujar Farah sambil mencium pipi mamanya. Kemudian dia masuk kamar dan berbaring di kasurnya. Matanya masih belum bisa dipejamkan. Dalam pikirannya masih ada bayangan Yudha yang belum bisa hilang dari ingatannya. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk.

‘Sweet dream ya’

Ternyata whatsapp dari Yudha.

‘Kok tahu aku mau tidur’

Balas Farah

‘Tahu dong…kan aku bisa lihat kamu lagi tiduran :D’

Balas Yudha

‘Bisa aja…’

Balas Farah

‘Selamat tidur ya’

Balas Yudha

‘Iya mas…’

Balas Farah

Kemudian Farah tertidur dengan bayangan Yudha menemani tidurnya.

***

Benar apa yang dikatakan mama Farah. Sejak saat itu setiap pagi ketika Farah mau berangkat syuting atau sedang liburan di rumah, pasti Yudha telpon dia. Begitupun malamnya waktu Yudha mau berangkat kerja pasti dia menelpon Farah lewat ‘video call’. Apabila Yudha telat telpon Farah, Farah yang berinisiatif untuk menelpon duluan. Walaupun mereka belum punya komitmen apapun tapi hati mereka masing-masing seperti sudah terikat janji.

Hampir dua bulan berlalu semenjak Yudha dan Farah berpisah. Sebentar lagi tugasnya  di New York hampir selesai. Dua bulan yang sangat indah namun sedikit menyiksa buat mereka berdua. Mereka harus berhubungan jarak jauh karena tugas Yudha.

Besok pagi dia akan kembali ke Jakarta. Tugasnya di New York sudah selesai, dia pun sudah berpamitan kepada kepala KJRI New York untuk kembali ke Jakarta. Dia juga sudah berpamitan kepada teman-teman sejawatnya untuk kembali bertugas di Jakarta.

“Saya pamit ya pak. Besok saya kembali ke Jakarta”. Ujar Yudha kepada Pak Mintoharjo atau biasa dipanggil pak Minto atasanya di KJRI New York.

“Oke Yudha, semoga selamat sampai Jakarta ya… salam sama semua tim yang ada di Jakarta”. Kata pak Minto.

“Terimakasih kamu sudah bantu-bantu saya selama tiga tahun ini”. Lanjut pak Minto.

“Iya sama-sama pak. Oh iya pak, kalau nanti saya jadi menikah saya harap bapak bisa datang menghadiri pernikahan saya”. Pinta Yudha.

“Loh sudah mau nikah? Sama siapa? Orang mana? Kok kamu nggak kelihatan sedang pacaran?”. Tanya pak Minto.

“Saya belum pacaran pak, tapi saya mau langsung lamaran. Rencananya sepulang dari sini saya mau langsung melamar dia di rumahnya pak”. Jawab Yudha.

“Kok sudah yakin mau diterima?”. Tanya pak Minto penasaran.

“InsyaAllah yakin pak”. Jawab Yudha mantap.

“Ya sudah kalau kamu yakin dan mantap, saya doakan lancar dan sukses lamarannya. Nanti kalau kamu sudah tentukan tanggalnya segera kasih tahu saya. Nanti saya jadwalkan ke resepsi pernikahan kamu. Mudah-mudahan saya bisa datang kesana”. Jawab pak Minto.

“Baik pak, kalau begitu saya izin pamit mau langsung beres-beres”. Kata Yudha.

“Iya… hati-hati ya”. Jawab pak Minto. Kemudian mereka berdua bersalaman.

Yudha bergegas pulang ke apartemennya. Dia sudah memegang tiket pesawat untuk pulang. Dia harus membereskan pakaian dan semua barang-barang yang ada disana. Rencananya apartemen yang ditempati sekarang akan diserahkan kepada penggantinya yang akan datang dari Jakarta. Biar penggantinya tersebut tidak usah susah-susah lagi mencari apartemen.

***

Yudha sudah memberitahu Farah bahwa dia akan pulang besok ke Jakarta. Dia juga sudah memberitahu mang Ukan dan bi Neni bahwa besok dia akan pulang ke Jakarta. Tinggal Myra yang belum dikasih tahu perihal kepulangannya ke Jakarta.

“Halo Ya…”. Kata Yudha membuka pembicaraan ketika dia sudah terhubung dengan Myra melalui telpon.

“Aku besok balik ke Jakarta”. Lanjut Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung ke rumah Farah?”. Tanya Myra.

“Iya tapi besok aku pulang dulu sebentar ke rumah, nyimpen koper sama barang-barangku”. Jawab Yudha.

“Bener nih nggak usah aku temenin? Aku sama Pras siap kok kalau kamu butuh bantuan”. Tanya Myra.

“Besok aku sendiri dulu saja ke rumah Farah, nanti pas lamaran resmi baru kamu sama Pras ikut ya”. Jawab Yudha.

“Rencananya kalau pas lamaran resmi aku mau minta bantuan sama bu Menteri”. Lanjut Yudha.

“Wuih… beneran nih kayaknya…”. Ujar Myra.

“Iya Ya. Kan bu Menteri juga sudah aku anggap orang tua sendiri. Beliau juga kan teman dekat orang tuaku”. Ujar Yudha.

“Ya sudah… kamu hati-hati ya besok. Jadi sampai Jakarta jam berapa?”. Tanya Myra.

“Besok dari sini jam sepuluh malam waktu New York, sampai Jakarta jam sepuluh malam juga waktu New York, jadi kalau nggak ada delay berarti aku sampai jam sepuluh pagi waktu Jakarta”. Jawab Yudha.

“Perlu dijemput nggak? Nanti aku suruh sopirku ke bandara”. Tanya Myra.

“Nggak usah Ya. Kamu kan lagi syuting. Tenang aja aku nanti naik taksi online saja”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, bye Yud…”. Ujar Myra.

“Oke bye…”. Mereka mengakhiri pembicaraan.

Yudha kembali membereskan barang-barang pribadinya untuk dibawa ke Jakarta. Ternyata lumayan banyak juga barang-barang pribadinya yang ada disini. Ada juga beberapa barang pemberian Farah. Dia sengaja mengirimkan lewat paket kilat. Selama dua bulan ini ada beberapa barang yang Farah kirimkan kepadanya di New York. Farah juga sih… padahal nggak usah kirim barang ke New York segala, nanti juga aku akan ke rumahnya, pikir Yudha. Tapi Farah bersikeras mengirimkan barang tersebut sebagai kenang-kenangan.

Ada juga beberapa cinderamata dari teman-teman sejawat Yudha di KJRI New York yang diterima hari ini. Mereka semua begitu baik kepada Yudha. Bukan karena kedekatan Yudha dengan bu Menteri, ataupun karena orang tua Yudha yang adalah senior mereka di Kemenlu, tapi karena Yudha disenangi oleh semua orang. Yudha cekatan dalam bekerja dan tidak segan-segan membantu permasalahan yang sedang dihadapi rekan sejawatnya disana.

***

Pagi-pagi Yudha sudah berkemas-kemas di apartemennya. Dia tidak ingin ada barang miliknya yang tertinggal di apartemen tersebut. Ada tiga koper besar barang Yudha yang sudah di packing bersama dengan satu tas ransel yang berisi barang-barang pribadinya termasuk foto Farah. Dia melihat lagi Foto Farah. Dia tersenyum melihat foto itu. Farah adalah penyemangatnya bekerja selama dua bulan ini. Setiap pagi dan malam mereka selalu saling memberi kabar. Apabila Yudha telat menghubungi Farah, Farah yang berinisiatif menanyakan kabar Yudha. Terasa aneh hubungan ini, mereka belum punya komitmen apapun tapi seperti sudah pacaran saja, begitu pikir Yudha.

Terdengar HP Yudha berbunyi tanda ada telpon yang masuk. Dia lihat Farah yang telpon, Yudha tersenyum dan membuka HP nya.

“Hai Farah…”. Ujar Yudha membuka percakapan ketika telpon nya tersambung dengan Farah.

“Hai mas…”. Jawab Yudha.

“Sudah malam kok belum tidur…?”. Tanya Yudha.

“Iya belum… mau telpon mas Yudha dulu hehe…”. Jawab Farah.

“Disana pagi ya mas…? Mas Yudha sudah sarapan?”. Tanya Farah.

“Sudah… tadi sebelum beres-beres aku ke bawah dulu sarapan di cafe”. Jawab Yudha.

“Oh sudah beres-beresnya mas…?”. Tanya Farah.

“Sudah… ini ada tiga koper pakaian dan barang-barang yang pernah aku beli disini. Sama satu tas ransel yang isinya cinderamata dari teman kantor sama ada juga barang-barang yang kamu kirim”. Jawab Yudha.

“Wah banyak juga ya mas…”. Ujar Farah.

“Iya lumayan”. Ujar Yudha.

“Nanti mas berangkat jam berapa ke bandara?”. Tanya Farah.

“Nanti jam satu siang aku berangkat ke bandara. Pesawatnya kan jam sepuluh malam waktu sini, jadi aku masih punya banyak waktu buat beres-beres lagi. Aku harus merapikan apartemen ini, soalnya rencananya ada penggantiku dari Jakarta yang akan menempati apartemen ini”. Jawab Yudha.

“Oh jadi ada pengganti mas Yudha yang akan tinggal disitu…”. Ujar Farah.

“Iya… biar dia gak usah lagi nyari apartemen. Lagian disini suasananya enak dan nyaman, jadi nanti penggantiku nggak susah beradaptasi sama lingkungan disini”. Jawab Yudha.

“Oh gitu… mas nanti kasih kabar ya kalau sudah berangkat ke bandara. Biarpun aku sudah tidur tapi HP ku nggak aku matikan mas”. Ujar Farah.

“Iya… nanti aku kabari kalau sudah berangkat ke bandara”. Jawab Yudha.

“Ya sudah aku tidur dulu ya… hati-hati nanti pas berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya…. sayang”. Jawab Yudha, tapi dia berkata pelan sekali ketika menyebut kata sayang. Ingin sekali dia menyapa Farah dengan kata sayang, karena memang sudah tumbuh rasa sayang di hatinya selama dua bulan ini, walaupun belum ada komitmen tapi perasaan Yudha dengan Farah sudah berkomitmen tanpa harus diungkapkan.

“Apa mas… gak kedengeran…”. Ujar Farah, dia sebetulnya mendengar kata sayang yang diucapkan Yudha barusan, tapi dia pura-pura tidak mendengar. Hatinya berbunga-bunga ketika Yudha memanggilnya dengan kata sayang. Rasanya bahagia sekali.

“Mmm nggak… nggak apa-apa. Selamat tidur ya… ‘sweet dream’ ya…” Ujar Yudha menutup pembicaraan mereka kali ini.

“Iya mas bye…”. Farah menutup telponnya. Dia tersenyum dan menutup mukanya dengan selimut. Dia senang sekali dipanggil sayang oleh Yudha. Kemudian dia tertidur ditemani bayangan Yudha.

***

Siangnya Yudha sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Dia sudah menurunkan koper dan tas ranselnya ke depan apartemennya. Dia sudah memesan taksi untuk berangkat ke bandara.

Ketika taksinya sudah datang dia kemudian memasukkan koper dan tasnya kedalam bagasi taksi tersebut. Yudha kemudian masuk kedalam taksi tersebut.

“JFK Airport please…”. Ujar Yudha.

“Okay…”. Kata pengemudi taksi tersebut. Kemudian taksi meluncur menuju bandara John F. Kennedy New York.

Yudha ingat harus memberitahu Farah kalau dia sudah berangkat ke bandara.

‘Farah aku sudah berangkat ke bandara’

Yudha mengirim pesan lewat whatsapp. Tidak ada jawaban karena Farah memang sudah tidur tapi terlihat pesannya sudah diterima pertanda HP Farah memang tidak dimatikan.

Perjalanan dari apartemen Yudha ke bandara JFK tidak memakan waktu lama. Sekitar tiga perempat jam dia sudah sampai ke bandara. Dia segera masuk ke bandara setelah membayar taksi yang ditumpanginya. Kemudian Yudha mengambil troli bandara dan menaikkan koper beserta tas nya ke atas troli tersebut. Disini memang tidak ada petugas yang bisa membawa troli seperti di bandara Soetta. Disini semuanya dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Yudha kemudian duduk di kursi tunggu penumpang. Check in pesawatnya masih belum dibuka. Dia kemudian membuka HP nya dan mengirim pesan kepada Farah.

‘Farah aku sudah di bandara JFK. Masih nunggu counter check-in. Kayaknya satu jam lagi baru buka’

Begitu isi pesannya kepada Farah.

Sekarang masih jam tiga sore berarti sekarang masih jam tiga pagi waktu Jakarta. Farah sepertinya masih tidur.

Jam empat sore counter check-in akhirnya dibuka. Para penumpang segera antri. Banyak juga ternyata penumpang pesawat yang satu jurusan dengan Yudha. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang tidak jauh berbeda dengan Yudha, wajah orang Indonesia. Yudha juga melihat artis film laki-laki yang pernah main bareng dengan Myra sahabatnya. Sepertinya dia juga melihatnya waktu resepsi pernikahan Myra. Dia juga sepertinya mengenali Yudha. Yudha kemudian mengangguk dan tersenyum. Dia sudah duluan check-in kemudian dia berjalan kembali ke ruang tunggu. Giliran Yudha untuk melakukan check-in dia menyerahkan berkas kelengkapan untuk naik pesawat. Tiket, paspor dan visa sudah dia berikan. Yudha membayar kelebihan kopernya karena yang boleh dibawa secara gratis hanya satu koper. Dia serahkan koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi sementara tas ranselnya akan dibawa kedalam kabin pesawat.

Setelah semuanya selesai dan dia sudah menerima tiket masuk pesawat, Yudha kemudian duduk di ruang tunggu. Satu jam kemudian pintu ruang boarding sudah dibuka, seluruh penumpang jurusan Jepang dan selanjutnya Indonesia dipersilahkan untuk masuk. Pesawat yang akan Yudha tumpangi merupakan maskapai penerbangan Jepang, pesawat tersebut akan transit sebentar di Bandara Narita Tokyo Jepang dan selanjutnya akan terbang ke Indonesia.

Setelah antri cukup lama akhirnya Yudha masuk juga ke ruang boarding. Walaupun masih empat jam lagi pesawat akan terbang ke Indonesia tapi demi kenyamanan penumpang, ruang pintu ruang boarding sudah bisa dimasuki oleh penumpang. Ruang boarding di JFK ini sangat luas. Ada juga beberapa cafe yang ada disini. Bisa digunakan untuk makan cemilan dan minum kopi. Tapi Yudha memilih untuk duduk saja di ruang tunggu.

Sudah jam enam pagi waktu Jakarta. Farah seharusnya sudah bangun. Yudha membuka HP nya. Di ruang boarding ini tersedia wifi yang bisa digunakan untuk para penumpang sambil menunggu masuk pesawat. Dia hubungi Farah lewat ‘video call’.

“Hai Farah”. Yudha melambaikan tangan ketika wajah Farah sudah terlihat di HP nya.

“Hai mas… lagi dimana?”. Tanya Farah.

“Ini aku sudah boarding, tapi pesawatnya masih lama”. Jawab Yudha.

“Aku tadi masih tidur waktu mas Yudha berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya nggak apa-apa, yang penting aku sudah kasih tahu kamu kalau aku sudah berangkat, jadi kamu nggak kuatir hehe…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hehe… tapi aku belum mandi nih mas… baru bangun”. Ujar Farah. Baru bangun tidur saja segitu cantiknya, apalagi sudah mandi dan berdandan, seperti ini barangkali yang disebut cantik alami, pikir Yudha.

“Iya nggak apa-apa, belum mandi saja sudah cantik”. Ujar Yudha.

“Mas bisa aja…”. Ujar Farah tersenyum simpul.

“Aku mandi dulu ya mas, nanti disambung lagi kalau aku sudah beres mandi, bye..”. Ujar Farah.

“Bye… kemudian sambungan ‘video call’ terputus.

Tiba-tiba ada suara laki-laki yang berbicara di samping Yudha.

“Itu tadi Farah ya…”. Kata orang tersebut. Ternyata orang yang tadi bertemu ketika antri mau check-in. Yudha kemudian menoleh dan tersenyum.

“Iya betul… mas kenal dengan Farah?”. Tanya Yudha.

“Ternyata anda yang beruntung mendapatkan hati Farah”. Ujar orang tersebut tanpa menjawab pertanyaan Yudha.

“Oh gitu…”. Yudha masih menerka-nerka maksud orang ini. Kemudian orang tersebut mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.

“Kenalkan nama saya Andre, saya pernah jadi lawan main Farah di satu film. Saya juga kenal dengan Myra sahabatnya. Kalau nggak salah anda juga hadir kan waktu pernikahan Myra?”. Tanya orang tersebut yang ternyata bernama Andre. Salah satu aktor film Indonesia.

“Yudha…”. Yudha menjawab sambil menerima uluran tangan Andre.

“Saya sebetulnya suka sama Farah sejak lama. Selain orang nya cantik, bakat aktingnya juga bagus. Tapi selain itu Farah orang nya nggak macam-macam. Dia tidak seperti artis kebanyakan yang baru main satu film saja lagaknya sudah seperti artis senior”. Ujar Andre. Yudha mengangguk-anggukan kepalanya. Orang disamping nya ini baru kenal sudah banyak cerita tentang Farah.

“Tapi sayang, Farah memang sepertinya belum mau berhubungan dengan laki-laki. Dia fokus di karirnya”. Lanjut Andre.

“Mas Andre sedang ada syuting di New York?”. Tanya Yudha.

“Ah nggak, saya sedang berkunjung ke saudara yang tinggal disini, sekalian ingin liburan”. Jawab Andre.

“Eh mas… tapi yang suka sama Farah banyak loh, mulai dari artis sampai pengusaha top berlomba-lomba mendapatkan hati Farah. Tapi tidak ada satupun yang diterima Farah”. Lanjut Andre.

“Oh gitu mas…”. Jawab Yudha.

“Mas Yudha lagi liburan di New York. Kok Farah nggak ikut?”. Tanya Andre.

“Oh nggak, saya bukan dalam rangka liburan di New York. Saya kerja mas, saya sedang ada tugas disini. Sekarang tugas saya sudah selesai dan hari ini pulang kembali ke Jakarta”. Jawab Yudha.

“Kerja di bidang apa?”. Tanya Andre.

“Saya kerja di konsulat mas”. Jawab Yudha.

“Oh… mas diplomat…”. Ujar Andre.

“Iya mas…”. Jawab Yudha.

“Oh jadi anda ini yang dibicarakan di infotainment”. Ujar Andre.

“Infotainment…?”. Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi.

“Menurut acara gosip yang tayang di beberapa stasiun TV, Farah sedang tidak menerima Job dulu jadi pemain film. Paling hanya jadi bintang tamu saja di beberapa acara TV”. Jawab Andre.

“Oh gitu mas…”. Ujar Yudha.

“Gosipnya Farah akan segera melangsungkan pernikahan. Ternyata anda yang akan menjadi suaminya Farah”. Ujar Andre. Yudha hanya tersenyum dan berkata aamiin dalam hati.

“Waktu di desak perihal pernikahan dan calon suaminya, Farah nggak mau jawab langsung, Myra juga sama jadi ‘miss no comment’ sekarang”. Lanjut Andre.

“Oh begitu mas”. Jawab Yudha. Dia tidak menyangka sudah begitu hebohnya berita tentang Farah di infotainment. Tapi perihal dia tidak terima job main film, Yudha baru tahu dari Andre. Farah tidak pernah menyinggung soal itu.

“Tapi satu waktu Myra keceplosan ngomong kayaknya. Dia bilang calon suami Farah seorang diplomat”. Ujar Andre.

Di Pertengahan obrolan mereka, ada ‘video call’ yang masuk ke HP Yudha. Farah yang menghubunginya.

“Hai mas…”. Ujar Farah ketika sudah terlihat wajah Yudha di telponnya.

“Hai Farah… sudah mandinya?”. Terlihat Farah sudah rapi dan berdandan. Yudha tersenyum melihat Farah yang bertambah cantik setelah dandan.

“Sudah mas… masih belum berangkat mas?”. Tanya Farah.

“Iya belum nih, tapi sepertinya sebentar lagi mau datang pesawatnya”. Jawab Yudha.

“Farah… kenal nggak sama ini?”. Yudha kemudian mengarahkan HP nya ke arah Andre.

“Hai Farah…”. Ujar Andre menyapa Farah.

“Andre… kok bisa ada disitu?”. Tanya Farah.

“Aku lagi liburan, sambil berkunjung ke saudara yang ada disini. Hari ini kebetulan aku pulang. Tadi aku lihat Yudha sedang ‘video call’, ternyata sama kamu…”. Jawab Andre. Wah Andre kan biang gosip, jangan-jangan dia tadi cerita macam-macam sama Yudha, begitu pikir Farah.

“Ternyata ini calon suami kamu…”. Ujar Andre.

“Andre… jangan gosip ya…”. Ujar Farah.

“Nggak apa-apa kali ngaku aja…”. Farah mukanya memerah, tapi Andre tidak memperhatikan itu. Yudha yang melihat perubahan raut muka Farah. Yudha kemudian tersenyum. Dia mengarahkan kembali HP nya ke arah mukanya.

“Aku harus segera masuk pesawat, sudah ada panggilan”. Ujar Yudha.

“Iya mas… hati-hati ya…”. Ujar Farah.

“Sampai ketemu di rumah ya… sayang…”. Kali ini Yudha tidak mengecilkan suara ‘sayang’ nya. Dia sudah bertekad menggunakan kata sayang untuk memanggil Farah.

“Iya mas…”. Farah tersenyum bahagia. Kemudian komunikasi terputus. Andre melihat perubahan raut muka Fara ketika berkomunikasi dengan Yudha barusan. Berarti benar ini calon suaminya Farah, beruntung sekali dia bisa mendapatkan cintanya Farah, begitu pikir Andre.

“Yuk mas Andre. Pintu pesawat sudah dibuka”. Ajak Yudha kepada Andre.

“Oh iya… duduk di kursi nomor berapa?”. Tanya Andre kepada Yudha ketika mereka sedang antri masuk ke dalam pesawat.

“Saya di 7F. Mas Andre di kursi berapa?”. Tanya Yudha.

“Wah saya di belakang di 15A. Padahal kalau duduknya dekat kita bisa ngobrol lagi”. Jawab Andre.

“Oh iya ya…”. Jawab Yudha. Betul juga pemikiran Andre. Daripada bengong sendiri bisa ada teman ngobrol kalau dekat sama dia. Sebelum HP nya dimatikan, Yudha menerima pesan whatsapp dari Farah.

‘Mas jangan dekat-dekat sama Andre, dia suka gosip’

Kata Farah di pesan whatsapp nya.

‘Iya, aku juga jauh kok duduknya sama dia’

Balas Yudha.

‘HP aku matikan ya. Sampai jumpa besok’

Balas Yudha.

‘Iya mas, hati-hati’

Balas Farah.

Yudha kemudian mematikan HP nya. Dia kemudian masuk ke dalam pesawat setelah tiketnya diperiksa oleh pramugari yang bertugas di sana.

Setelah semua penumpang duduk dan pramugari memperagakan beberapa informasi mengenai keselamatan penerbangan, pesawat kemudian lepas landas dari bandara JFK New York. Farah tunggu aku ya, aku akan datang untuk melamarmu. Begitu Yudha berkata dalam hati. Kemudian dia tertidur.

***

“Yudha sudah berangkat mam dari New York…”. Ujar Farah kepada mamanya.

“Senangnya mau kedatangan pangeran…”. Kata mama.

“Mama ada-ada saja”. Jawab Farah.

“Tapi senang kan Yudha sudah pulang dari New York…”. Ujar mama.

“Mama…”. Jawab Farah sambil memeluk mamanya.

“Jadi jam berapa Yudha sampai di bandara?”. Tanya mama.

“Besok jam sepuluh pagi mam…”. Jawab Farah.

“Eh mam… tadi dia bareng Andre naik pesawatnya”. Lanjut Farah.

“Andre yang pernah jadi lawan main film kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam, dia kan biang gosip. Pasti sudah ngomong macam-macam sama Yudha”. Jawab Farah.

“Hus… gak boleh gitu, jangan berprasangka buruk sama orang”. Ujar mama.

“Hehe… iya mam…”. Jawab Farah.

“Tapi dia kan nanya-nanya terus sama Farah kenapa nggak mau terima peran yang kemarin mam, dia berharap banget aku jadi lawan mainya di film itu mam. Dia juga nanya-nanya sama Myra mam”. Lanjut Farah.

“Paling sering nanya sih ke Myra mam. Myra kan jadi kesel dia nanya-nanya terus. Akhirnya Myra bilang sama dia bahwa aku mau nikah mam. Jadi deh rame di infotainment kalau aku mau nikah. Kan dari siapa mereka tahu kalau bukan dari Andre mam”. Ujar Farah.

“Oh gitu ceritanya… mama baru tahu”. Jawab mama.

“Tapi ada baiknya juga ya kamu nggak terima job film dulu. Nanti kalau acara nikah kamu waktunya sudah dekat gimana coba, mama kan yang pusing”. Ujar mama.

“Mama yakin banget aku mau nikah secepat itu?”. Tanya Farah.

“Mama yakin… feeling mama gak akan salah”. Jawab mama.

“Mama… aku sayang sama mama…”. Farah memeluk mamanya.

***

Selama dua bulan terakhir ini memang Farah tidak menerima job dulu. Dia hanya memenuhi kontrak yang sudah ada. Dia sudah memberitahukan kepada manajemen nya bahwa dia mau istirahat syuting film dulu. Farah memenuhi nasihat mamanya untuk tidak menerima job dulu.

“Memang ada apa, kok mau istirahat dulu?”. Tanya Jojo manajernya suatu saat.

“Nggak apa-apa, mau istirahat dulu aja”. Jawab Farah.

“Bukan mau pindah manajemen kan…”. Tanya Jojo.

“Ya ampun Jo, sejauh itu pikiran kamu. Kita kan sudah lama kerja bareng. Nggak mungkin lah aku pindah manajemen”. Jawab Farah.

“Ya terus kenapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Nanti saja ceritanya…”. Jawab Farah.

“Padahal si Andre pengen banget tuh kamu jadi pemeran utama wanitanya di film dia”. Ujar Jojo.

“Nggak ah Jo, Andre doyan banget ‘gimmick’ aku nggak suka”. Jawab Farah.

“Tapi serius nih… kenapa sih mau ‘break’ syuting dulu…”. Tanya Jojo penasaran.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Farah.

“Eh tunggu sebentar…”. Ujar Jojo kemudian dia membuka HP nya.

“Kayaknya si Andre ngomong apa gitu tentang kamu Far…”. Jojo kemudian membuka Youtube dan melihat Andre sedang di wawancara.

Di Dalam video infotainment tersebut, Andre sedang diwawancarai oleh beberapa media infotainment mengenai film barunya yang akan segera melaksanakan proses syuting.

“Bagaimana proses syuting film terbaru anda mas?”. Tanya wartawan.

“Syuting nya masih belum mulai”. Jawab Andre.

“Jadi kapan syuting nya?”. Tanya wartawan lainnya.

“Kita masih mencari pemeran utama wanitanya”. Jawab Andre.

“Jadi pemeran utama wanitanya belum ada?”. Tanya wartawan.

“Iya belum ada. Sebetulnya sih saya berharap Farah menjadi lawan main saya. Sayang dia nggak mau”. Jawab Andre.

“Jadi Farah menolak menjadi lawan main anda?”. Tanya wartawan.

“Iya begitulah…”. Jawab Andre.

“Kenapa Farah menolak menjadi lawan main anda”. Lanjut wartawan.

“Katanya sih Farah mau menikah…”. Jawab Andre.

“Farah mau menikah… menikah sama siapa… kapan… dimana…”. Semua wartawan serentak bertanya kepada Andre yang segera berlalu dari tempat wawancara tersebut.

“Saya nggak tahu, tanya saja sama orangnya”. Teriak Andre sambil masuk ke mobilnya dan berlalu. Tapi wartawan masih mengejar dia sampai mobilnya jalan menjauh.

Jojo kemudian menutup HP nya.

“Jadi kamu mau menikah… Kok nggak bilang-bilang sih…”. Tanya Jojo.

“Dasar tuh si Andre biang gosip”. Jawab Farah.

“Tapi beneran… kamu mau nikah?”. Tanya Jojo lagi.

“Baru rencana…”. Jawab Farah.

“Sama siapa? Artis juga? Atau pengusaha?”. Tanya Jojo penasaran.

“Masih rencana Jo. Nanti kalau sudah pasti, aku pasti ngasih tahu kamu”. Jawab Farah. Dilamar aja belum, sudah ramai gosip kalau aku mau nikah, pikir Farah.

“Tapi sama siapa? Ayo dong cerita…?”. Jojo makin penasaran.

“Ada yang lagi deket sih…”. Jawab Farah.

“Siapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Seorang diplomat…”. Jawab Farah.

“Wow… diplomat… diplomat mana… siapa namanya Far…?”. Desak Jojo.

“Nanti aja Jo, aku kasih tahu kalau sudah pasti”. Jawab Farah.

***

“Kamu apa nggak sebaiknya jemput Yudha?”. Tanya mama. Sabtu ini pesawat yang ditumpangi Yudha rencananya akan mendarat di bandara Soetta.

“Aku gak kepikiran mam, sampe lupa nawarin jemput Yudha di bandara”. Jawab Farah.

“Kamu sih telpon sama ‘video call’ mesra-mesraan terus, sampai lupa segalanya”. Ujar mama.

“Mesra-mesraan gimana mam…?”. Tanya Farah.

“Itu kemarin panggil sayang segala…”. Jawab mama sambil tersenyum.

“Kok mama tau sih”. Tanya Farah.

“Iya kan mama dengar”. Jawab mama.

“Yudha mam yang manggil begitu bukan Farah”. Ujar Farah.

“Tapi kamu senang kan…”. Mama menggoda anaknya.

“Ah mama…”. Farah menjawab sambil malu-malu.

“Sejak kapan Yudha memanggil kamu sayang begitu?”. Tanya mama.

“Semalam…”. Jawab Farah.

“Semalam? Kok mama nggak dengar?”. Tanya mama.

“Semalam di kamar mam waktu Farah mau tidur”. Jawab Farah.

“Hmmm… mau tidur aja harus telpon dulu. Anak mama ini sudah nggak tahan ya…”. Ujar mama.

“Nggak tahan bagaimana mam…?”. Tanya Farah.

“Nggak tahan pengen cepat-cepat ketemu pujaan hati”. Jawab mama.

“Ah mama bisa aja”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Eh sudah jam sepuluh mam, kok belum ada kabar dari Yudha ya…”. Ujar Farah.

“Tuh kan… yang sudah kangen…”. Ujar mama.

“Mama apaan sih…”. Ujar Farah.

“Mungkin delay pesawatnya”. Kata mama.

“Iya kali ya mah. Mudah-mudahan aja nggak ada apa-apa”. Jawab Farah.

“Mmm… yang lagi kasmaran”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum.

***

Sementara itu pesawat yang di tumpangi Yudha sudah mendarat di bandara Soetta. Terjadi keterlambatan di bandara Narita Jepang sehingga jadwal kedatangan pesawat tersebut terlambat dua jam.

Yudha kemudian turun dari pesawat. Dia menengok ke arah belakang dimana Andre sedang antri untuk turun dari pesawat. Ketika mengambil koper dari ban berjalan kemudian Andre menghampiri Yudha.

“Dijemput siapa pulang nya?”. Tanya Andre.

“Saya naik angkutan umum”. Jawab Yudha.

“Nggak dijemput Farah?”. Tanya Andre lagi.

“Nggak mas, kasihan kalau Farah harus jemput jauh-jauh ke bandara”. Jawab Yudha.

“Kalau mau ikut saya saja, nanti saya antar sampai rumah”. Ajak Andre.

“Nggak usah mas terima kasih. Koper saya banyak dan lagi saya sudah pesan taksi online, sudah nunggu di depan lobby”. Tolak Yudha.

“Oh begitu, ya sudah. Sampai jumpa ya, nanti kabarin tanggal nikah kalian ya”. Ujar Andre sambil berjalan meninggalkan Yudha yang masih menunggu kopernya yang berada di ban berjalan.

“Iya mas terima kasih”. Jawab Yudha.

Setelah semua kopernya terkumpul kemudian Yudha memasukkannya ke dalam troli. Dia kemudian mendorong troli tersebut ke arah lobby terminal kedatangan bandara Soetta.

Dia ingat belum memberitahu Farah kalau dia sudah sampai di bandara. Yudha kemudian membuka HP nya yang sudah diganti dengan nomor lokal Jakarta.

“Halo Farah”. Yudha memulai pembicaraan setelah HP nya tersambung dengan Farah.

“Halo mas, sudah sampai ya. Syukur kalau sudah sampai”. Ujar Farah.

“Kok telat mas…?”. Tanya Farah.

“Iya tadi pesawatnya delay di bandara Jepang. Jadinya telat dua jam sampai sini”. Jawab Yudha.

“Oh begitu mas. Eh mas aku jemput ya ke bandara…”. Ujar Farah.

“Nggak usah, ini aku sudah pesan taksi online. Sebentar lagi juga datang”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya mas”. Ujar Farah.

“Iya, sampai ketemu di rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Mmmm… mas Yudha jadi datang ke rumahku hari ini?”. Tanya Farah ingin meyakinkan perkataan Yudha sewaktu akan berangkat ke New York dua bulan yang lalu.

“Iya aku akan ke rumahmu. Tapi aku simpan dulu barang-barangku ke rumah ya. Setelah itu aku langsung ke rumahmu”. Jawab Yudha.

“Eh taksinya sudah datang, aku berangkat ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati”. Jawab Farah, kemudian telpon terputus. Farah berdebar-debar menantikan kedatangan Yudha.

Apakah benar perkiraan mamanya kalau Yudha akan melamarnya hari ini?

Apakah aku akan menerimanya kalau benar dia melamarku? Apakah aku sudah siap menikah? Apakah aku sudah yakin dengan perasaanku kepada Yudha, begitu pikir Farah. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ada keyakinan kepada Yudha, tapi ada juga rasa bimbang yang menghampirinya. Semuanya berputar-putar di kepalanya.

***

Cerita lucu – Nenek panjang umur

Patut dicontoh…

Dokter: Nenek… Minum jamu apa, koq bisa umur sampai 120 tahun?

Nenek: apaa.., dok…???

Dokter: (agak keras) Nek… koq bisa umur sampai 120 tahun..???

Nenek: apaaaa.., dok…???
nenek kagak dengeeer…

Dokter : (berteriak) Nek… koq bisa umur sampai 120 tahun..???!!!

Nenek : OOooooooowww…
Kalo mau umur panjang, harus punya penyakit…

Dokter : (berteriak) penyakit apa itu nek…???!!!

Nenek: penyakit BUDEG..

Dokter: (berteriak) apa hubungannya penyakit BUDEG dan umur, nek..???

Nenek: Jadi kalo dipanggil TUHAN…
Kagak dengeeeer…

Cerita lucu – Cerpen huruf T

Ternyata kita Bisa bikin cerpen dr kata2 yg diawali Dg huruf yg sama, yaitu huruf “T”.
Huruf “T” ternyata luar biasa…  :

Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang Tempe Tetap Tabah, “Tempe-tempe”, Teriaknya. Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, “Tahu.. Tahu… Tahu.. !”
“Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!”, Timpal Tukang Tempe.
Tukang Tahu Tidak Terima, “Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek… !” Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, “Teplakkk..!” Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu. Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe.
Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu.
Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut, “Tidak Takut!!” Tantang Tukang Tahu.
Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan! Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab. “Tolong.. Tolong.. Tolong..”, Teriaknya Terdengar Tinggi. Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, ”Tempe.. Tempe.. Tempe.. Tapi Terus Terdengar Tembakan.. Tukang Tempepun Tertembak Tentara Teroris…Teretet tetet!! Tukang Tempe Terkapar Tertembak…. Tukang Tahupun Tertawa Terbahak…

Teletai Tudah Telitanya … Tapek Tekali… Telima Tatih…😃😜

Telamat Tilawah…

Missing U

Aku kehabisan kata-kata untuk menulis.

Dimanakah kamu?

Diplomat Bag. 6 – Kembali ke New York

Besoknya Yudha sudah bersiap-siap pagi sekali, dia ada sedikit urusan yang mendadak ingin dia lakukan. Yudha berangkat menggunakan mobilnya menuju kawasan perumahan di Jakarta Timur. Dia bermaksud untuk mencari tahu kondisi rumah yang ada disini. Apabila cocok dia memberikan tanda jadi kepada pengelola perumahan ini.

Setelah berputar-putar mengelilingi kawasan perumahan ini, dia menjatuhkan pilihan kepada rumah yang sudah siap huni yang ada disini. Kemudian Yudha masuk ke kantor pengelola perumahan ini dan membayar tanda jadi setelah dia menyetujui syarat-syarat kepemilikan rumah tersebut.

Yudha kemudian menghubungi Farah lewat whatsapp.

‘Hari ini pulang syuting jam berapa’

Yudha mengirimkan pesan kepada Farah.

‘Saya sampai rumah sekitar jam 7 malam mas’

Balas Farah

‘Boleh nggak saya ke rumah kamu nanti malam?’

Balas Yudha

‘Iya boleh mas’

Balas Farah

‘Kamu sedang break syuting?’

Balas Yudha

‘Iya mas saya lagi break syuting’

Balas Farah

‘Ya sudah kalau gitu, sampai nanti malam ya’

Balas Yudha

‘Iya mas’

Balas Farah

Mereka kemudian mengakhiri komunikasi.

Siang ini Yudha berencana untuk pergi ke Jatinegara. Dia akan mengambil pesanannya berupa cincin berlian yang akan diberikan kepada Farah. Dia tidak punya ide lain untuk memberikan kenang-kenangan kepada Farah. Dia ingin memberikan sesuatu yang membuat Farah ingat terus kepada dia. Tadinya dia berniat untuk membeli kalung, tapi setelah dipikir-pikir cincin sepertinya lebih cocok.

***

Farah memainkan HP nya ketika sedang ‘break’ syuting. Dia melihat-lihat HP nya tapi terlihat matanya menerawang pertanda pikirannya tidak sedang disini. Mama Farah melihat itu dan kemudian bertanya kepada Farah.

“Kenapa sayang…”.

“Eh… nggak apa-apa mam”. Jawab Farah.

“Barusan Yudha yang whatsapp kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam”. Jawab Farah.

“Kok jadi diem?”. Tanya mama

“Nanti malam dia mau ke rumah katanya mam, dia mau pamitan mau balik ke New York”. Jawab Farah.

“Oh sudah mau berangkat lagi ya”. Ujar mama.

“Katanya  besok sabtu dia mau berangkat mam, jadi malam ini mau pamitan ke rumah kita”. Ujar Farah.

“Oh gitu, ya sudah nanti kita tunggu saja di rumah”. Ujar mama.

“Kamu sedih ditinggal Yudha?”. Tanya mama.

“Nggak sedih sih mam, tapi gimana ya, perasaan ada yang hilang gitu mam”. Jawab Farah.

“Anak mama kayaknya sudah menyimpan perasaan ya sama Yudha…”. Ujar mama

“Ah mama… tapi gimana ya mam… Farah juga bingung”. Jawab Farah.

“Nggak usah bingung, kalau kalian sudah saling suka ya nggak apa-apa”. Ujar mama lagi.

“Mama hanya bisa mendoakan kalau kalian memang jodoh ya nggak akan kemana”. Lanjut mama.

“Mama kok sudah bicara jauh seperti itu sih”. Ujar Farah. Mama Farah tersenyum sambil mengusap rambut anak gadis kesayangannya.

“Udah mau ‘take’, ayo…”. Ujar mama.

“Iya mam…”. Farah kemudian berdiri dan memulai lagi syuting nya.

Sore hari setelah syuting selesai, Farah dan mamanya bergegas untuk pulang ke rumahnya.

“Kok buru-buru tante?”. Tanya bang Yopy ketika Farah dan mamanya sudah bersiap-siap untuk pulang dari tempat syuting.

“Ini ada yang mau datang ke rumah jadi kita buru-buru pulang”. Jawab mama Farah.

“Oh gitu, kok nggak dianter siapa itu namanya, Yudha… iya Yudha…”. Kata bang Yopy.

“Yudha nya sudah mau pulang lagi ke New York”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Mama Farah hanya tersenyum melihat anaknya sedikit cemberut.

“Ooo… pantesan nggak antar jemput lagi”. Ujar bang Yopy.

“Kita duluan ya…”. Kata mama Farah.

“Iya tante”. Jawab bang Yopy.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil.

“Pak maman, kita langsung pulang saja ya, nggak usah kemana-mana dulu”. Ujar mama Farah.

“Baik bu”. Jawab pak Maman. Pak Maman mulai menjalankan mobilnya. Sementara Farah masih terdiam.

“Sudah nggak usah banyak pikiran, mama yakin kalau Yudha juga punya perasaan yang sama seperti kamu”. Ujar mama.

“Gitu ya mam…”. Jawab Farah.

“Kalau Farah ngasih sesuatu sama Yudha malu nggak ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kamu mau ngasih apa?”. Tanya mama.

“Menurut mama apa ya kira-kira?”. Tanya Farah.

“Ya sesuatu yang bisa mengingatkan dia sama kamu, kayak foto gitu misalnya”. Jawab mama.

“Kok foto sih mam…”. Tanya Farah.

“Fotonya jangan yang kecil, yang agak besar terus pakai figura yang bagus”. Jawab mama.

“Kalau yang kayak gitu kan ada mam di kamar Farah”. Ujar Farah.

“Ya sudah kamu pilih aja salah satu, terus kamu kasih ke Yudha”. Ujar mama. Farah berpikir kira-kira foto yang mana yang akan dia kasih ke Yudha. Kenapa ya dengan perasaanku. Kok seperti ini kepada Yudha. Padahal mereka baru kenal selama satu minggu. Apa karena selama satu minggu ini mereka berdua terus. Tapi kalau dipikir-pikir, aku juga nggak akan mau jalan sama dia kalau memang aku juga nggak ada perasaan sedikitpun kepada Yudha, begitu pikir Farah dalam hati. Mama Farah melihat anaknya melamun, dia kemudian tersenyum.

“Tuh kan melamun lagi…”. Ujar mama.

“Eh iya mam hehe”. Farah menjawab sambil tersenyum malu.

“Yuk turun, sudah sampai”. Ajak mama.

“Iya mam…”. Jawab Farah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Sebelum masuk, Farah menengok ke arah jalan, siapa tau Yudha sudah ada disitu, tapi ternyata dia belum datang.

“Ayo masuk sayang… nanti juga dia datang kok”. Ajak mama.

“Hehe iya mam…”. Jawab Farah.

Pak Maman kemudian pamit setelah memarkirkan mobilnya.

“Saya pamit ya bu”. Ujar pak Maman.

“Iya pak, terima kasih ya. Oh iya besok pak Maman masuk ya. Ada yang harus diantar besok”. Mama Farah tidak biasanya menyuruh pak Maman masuk hari sabtu. Tapi dia sudah punya firasat kalau pak Maman akan berguna besok.

“Baik bu, besok saya datang pagi, saya pamit”. Ujar pak Maman.

“Iya pak”. Jawab mama Farah.

“Kok pak Maman di suruh masuk besok mam…?”. Tanya Farah setelah pak Maman pergi.

“Nggak apa-apa, besok mungkin pak Maman berguna buat nganter kamu”. Jawab mama.

“Nganter kemana mam…?”. Tanya Farah masih bingung.

“Sudah… percaya deh sama mama”. Jawab mama.

Setengah jam kemudian terdengar ada suara mobil yang berhenti didepan rumah Farah. Yudha ternyata sudah sampai di rumah Farah.

“Tuh yang kamu tunggu sudah datang, ayo cepat temui”. Ujar mama kepada Farah.

“Iya mam…”. Farah tersenyum, tapi dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya berpisah dengan Yudha. Dia kemudian keluar rumah untuk menyambut Yudha.

“Hai Farah…”. Yudha berkata setelah turun dari mobil.

“Hai mas… ayo masuk”. Ajak Farah. Mereka berdua kemudian masuk ke ruang tamu. Lalu mama Farah masuk dari ruang tengah.

“Malam tante”. Ujar Yudha sambil membungkuk menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam juga, katanya besok mau kembali ke New York ya?”. Tanya mama Farah.

“Iya tante, besok saya berangkat ke New York, makanya saya datang malam ini untuk pamitan”. Jawab Yudha.

“Oh gitu, ya sudah kalian ngobrol dulu ya. Tante masuk dulu”. Kata mama Farah, dia sudah mengerti kalau Yudha ingin ngobrol berdua dengan Farah.

Sejenak mereka berdua terdiam. Hanya duduk saja sambil melamun. Kemudian Yudha yang memulai pembicaraan.

“Farah…”.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Besok saya berangkat lagi ke New York”. Ujar Yudha.

“Besok ya mas…”. Jawab Farah.

“Iya… saya terbang sekitar jam tiga sore dari bandara”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah, dia hanya menjawab iya karena tidak tahu harus menjawab apa. Ada apa dengan perpisahan ini? Padahal mereka belum punya ikatan apa-apa tapi kok terasa berat ya berpisah dengan Yudha, pikir Farah.

“Terima kasih ya, selama seminggu ini sudah menemani saya”. Ujar Yudha.

“Saya yang seharusnya berterima kasih sama mas Yudha. Saya sudah diantar jemput ke tempat syuting, ditraktir makan, diajak makan di rumah mas Yudha”. Jawab Farah menata kembali kenangannya selama seminggu ini dengan Yudha.

“Iya sama-sama, saya senang kok bisa antar jemput kamu, bisa ngobrol berdua sama kamu sambil makan, saya nggak akan melupakan semua itu”. Jawab Yudha. Farah merasa bahagia dengan perkataan Yudha. Ternyata dia juga senang berdua terus dengan aku, apakah aku juga senang? Tapi aku nggak tahu bagaimana perasaanku sekarang, yang jelas aku merasa berat berpisah dengan dia, ada apa denganku, pikir Farah.

“Besok diantar siapa ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Saya berangkat sendiri, sudah biasa sendiri tidak ada yang menemani ke bandara”. Kalau kamu yang menemani sih aku mau Farah, Yudha berkata dalam hati.

“Oh sendiri ya mas”. Ujar Farah.

“Iya sendiri”. Jawab Yudha.

Mereka kemudian terdiam kembali.

Yudha sudah memegang kotak cincin yang ada di saku jaketnya, tapi masih belum dikeluarkan. Dia masih bimbang apakah akan memberikan cincin ini kepada Farah. Apakah nanti Farah tidak berpikiran macam-macam ya, begitu pikir Yudha. Sebelum berangkat ke rumah Farah, dia mampir dulu di toko cincin untuk mengambil pesanannya dua hari yang lalu.

Farah sudah menyiapkan kotak putih yang berisi foto dia dan sebuah boneka, boneka kelinci kesayangannya akan dia berikan kepada Yudha. Dia ingin agar Yudha tidak melupakan dia apabila sudah di New York nanti. Apakah akan aku berikan sekarang saja kotak itu? Bagaimana ya tanggapan Yudha menerima kotak itu nanti? Apakah dia tidak berpikiran macam-macam kepadaku? Norak nggak ya memberikan foto kepada orang yang baru dikenal? Pikiran Farah dipenuhi dengan banyak pertanyaan.

Mereka masih terdiam tanpa berkata apa-apa. Yudha sedang berpikir untuk memberikan cincin kepada Farah, sedangkan Farah sedang berpikir untuk memberikan foto dan boneka kepada Yudha.

“Farah…”. Akhirnya Yudha mulai lagi bicara.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya pamit ya, saya harus siap-siap untuk membereskan barang di rumah”. Ujar Yudha. Kok pulang sih, kenapa cepat sekali, kok nggak nunggu aku ngasih foto dulu? Farah berkata dalam hati.

“Farah…”. Yudha berkata lagi setelah melihat Farah diam lagi.

“Eh iya mas, sebentar ya…”. Dia kemudian masuk ke ruang tengah untuk memanggil mamanya. Tak lama kemudian Farah dan mamanya masuk kembali ke ruang tamu.

“Sudah mau pulang ya”. Kata mama Farah.

“Iya tante, saya harus siap-siap biar besok nggak terburu-buru berangkatnya”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, selamat jalan ya, semoga selamat sampai New York”. Ujar mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Farah dan Yudha kemudian berjalan berdua keluar rumah Farah, mama Farah masuk lagi ke ruang tengah, dia masih heran dengan sikap anaknya, sepertinya dia berat melepas kepergian Yudha, dasar anak muda, begitu pikiran mama Farah.

“Saya berangkat ya Farah”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya dua bulan lagi selesai tugas di New York, setelah itu saya kembali tugas di Jakarta”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas”. Hanya itu yang bisa dijawab oleh Farah.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Saya tidak akan melupakan kamu”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Aku juga tidak akan melupakan kamu, aku akan selalu ingat kamu mas, Farah berkata dalam hati.

“Saya berangkat ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas, hati-hati ya dijalan, semoga selamat sampai New York”. Jawab Farah. Yudha tersenyum kemudian dia masuk kedalam mobilnya. Mobilnya kemudian berjalan dan dia melambaikan tangan kepada Farah, Farah balas melambaikan tangan.

Farah kemudian masuk kedalam ruang tamu rumahnya. Dia kemudian duduk dan terdiam. Dia menyesali diri sendiri kenapa dia tidak jadi memberikan fotonya kepada Yudha. Kenapa dia tadi diam saja tidak langsung memberikannya kepada Yudha.

***

Sabtu ini adalah jadwal Yudha kembali ke New York. Pagi ini dia sudah siap-siap untuk berangkat ke Bandara Soetta. Sewaktu berangkat dari New York seminggu yang lalu dia hanya mendapat tiket pesawat kelas ekonomi karena terburu-buru memesan tiket. Hari ini dia masih bisa memesan kelas bisnis jauh-jauh hari. Hari ini dia terbang jam tiga sore dari Bandara Soetta.

Yudha masih duduk di ruang tamu. Koper yang berisi baju dan perlengkapan dia sudah ada di samping nya, siap untuk dibawa. Dia tidak membawa banyak perlengkapan karena toh dia pikir hanya sebentar tugas di New York. Tangannya masih menggenggam HP, dia masih teringat dengan Farah yang telah mengisi hari-harinya seminggu belakangan ini.

Dia masih ingat sewaktu kemarin berpamitan kepada Farah dan mamanya di rumah Farah. Terasa ada ruang yang kosong yang hilang dari hatinya. Walaupun dia baru mengenal Farah selama seminggu, tapi ternyata hatinya sudah terpaut oleh gadis ini. Entah dengan Farah, apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan Yudha.

Sehari sebelumnya Yudha membeli sebuah cincin putih bermata berlian. Cincin mungil itu sedianya akan dia berikan kepada Farah sebagai kenang-kenangan. Tapi kemarin sewaktu dia akan memberikan cincin itu dia masih ragu untuk memberikannya. Takut Farah menganggapnya gampang memberikan hadiah kepada gadis yang baru dikenalnya. Yudha kemudian merogoh jaketnya dan mengambil kotak perhiasan kecil yang berisi cincin berlian tersebut. Dia melihat cincin itu lagi, sepertinya sangat cocok dikenakan di jari manis Farah.

Mang ukan dan bi Neni melihat majikannya sedang memperhatikan cincin. Mereka melihat satu sama lain. Mungkin majikannya sedang jatuh cinta dengan gadis barunya. Hari Kamis kemarin Farah dibawa ke rumah dan dikenalkan kepada mang Ukan dan bi Neni. Gadis cantik teman Myra, seorang artis film yang sedang naik daun. Mungkin gadis ini sudah mencuri hati majikannya ini, sampai-sampai mau kembali ke New York pun masih ragu untuk berangkat.

Yudha juga teringat pesan Myra sebelumnya. Walaupun dia sedang berbulan madu di Bali tapi Myra menyempatkan waktu untuk menanyakan kabar hubungan Yudha dan Farah. Myra sepertinya sudah tahu apa yang dirasakan Yudha dan Farah saat ini. Makanya dia berpesan kepada Yudha untuk tidak menyia-nyiakan Farah.

“Pesawatnya berangkat jam berapa den…”. Tanya bi Neni.

“Jam tiga sore bi”. Jawab Yudha.

“Ingat sama non Farah ya den…”. Tanya bi Neni lagi.

“Hehe… iya bi, kemarin rencananya cincin ini mau saya berikan kepada Farah bi, tapi saya masih ragu takut dia berpikir macam-macam”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih saja den ke non Farah”. Ujar bi Neni.

“Iya ya bi…. tapi saya sudah mau berangkat bi. Nanti saja kalau saya sudah pulang dua bulan lagi”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih sekarang saja den, kalau nanti-nanti sudah keburu kadaluarsa”. Ujar bi Neni.

“Jangan sampai non Farah diambil orang den…”. Lanjut bi Neni.

Yudha jadi terdiam. Benar juga apa yang dikatakan bi Neni. Bagaimana kalau ada yang suka sama Farah dan aku keduluan sama dia? Begitu pikir Yudha. Lebih baik aku telpon dia sekarang dan mengajaknya bertemu.

Yudha sedang membuka kontak Farah di HP nya, tiba-tiba HP nya berbunyi. Farah yang telpon dia. Kemudian dia mengangkat telpon nya.

“Halo… Farah…”. Ujar Yudha memulai pembicaraan.

“Halo mas… belum berangkat…?”. Tanya Farah.

“Belum Far…”. Jawab Yudha.

“Oh belum ya…”. Farah berkata.

“Rencananya mau berangkat jam berapa mas…?”. Tanya Farah.

“Nanti sih sebentar lagi, santai kok. Kan aku terbang jam tiga sore, paling aku check-in jam dua belas siang”. Jawab Yudha. Eh kok jadi aku… Farah pun menyadari ada kata-kata yang berubah dari Yudha.

“Mmmm Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya….”. Jawab Farah.

“Bisa nggak kita ketemu sebelum aku berangkat?”. Tanya Yudha.

“Mmmm boleh mas, tadinya aku juga mau bilang begitu. Tapi mas nggak usah kesini ya, aku saja yang ke rumah mas Yudha”. Kata Farah.

“Oh gitu…”. Jawab Yudha.

“Aku berangkat sekarang”. Ujar Farah.

“Oh iya…”. Jawab Yudha.

Kemudian telpon terputus, Farah juga ingin ketemu aku. Apakah ini pertanda? Begitu pikir Yudha.

***

Sebelumnya di rumah Farah…

Pagi itu dia masih duduk di ruang tamu. Di pangkuannya ada kotak putih berisikan boneka kelinci warna pink berukuran sedang dan pigura berukuran poster berisikan foto Farah sedang tersenyum. Sebetulnya dia ingin memberikan kotak ini kemarin malam sewaktu Yudha berpamitan kepadanya untuk berangkat lagi ke New York. Tapi dia tidak jadi memberikan kotak itu kepada Yudha. Dia tidak ingin lelaki ini berpikiran macam-macam kepadanya. Dia jadi ragu untuk memberikan kotak ini. Tapi pagi ini dia memutuskan untuk memberikan kotak ini kepada Yudha supaya hatinya lega.

Apa aku telpon dia saja ya, mumpung masih pagi siapa tahu dia belum berangkat, begitu pikir Farah.

Kemudian dia menghubungi Yudha dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Yudha sebelum dia terbang. Ternyata Yudha pun mempunyai keinginan yang sama untuk bertemu dengan nya sebelum terbang ke New York. Tapi kali ini Farah yang akan datang ke rumahnya.

“Mam… aku ke rumah Yudha ya…”. Ujar Farah kepada mamanya. Mama Farah tersenyum melihat anaknya bersemangat pergi ke rumah Yudha. Mama Farah sudah tahu apa yang ada di pikiran anak gadisnya. Dia pikir tak apa-apa dia menemui Yudha di rumahnya.

“Kamu berangkat sama pa Maman saja. Terus antar Yudha sampai ke bandara ya…”. Ujar mama.

“Mam…”. Farah memandang mama nya.

“Sudah ayo cepat, nanti keburu siang…”. Ujar mama.

“Mama…”. Farah kemudian memeluk mamanya. Mamanya sangat mengerti dia, walaupun tidak berkata apa-apa tapi dia tahu apa yang diinginkan anaknya.

“Farah berangkat ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya hati-hati di jalan…”. Mama berkata sambil mencium pipi putrinya kiri kanan.

Farah kemudian berangkat ke rumah Yudha. Sepanjang perjalanan dia teringat terus kepada Yudha. Dia akan berpisah dengan pemuda ini, walaupun Yudha sudah berkata bahwa dia hanya dua bulan di New York dan akan secepatnya pulang ke Jakarta, tapi seperti ada sesuatu yang akan hilang. Selama seminggu ini semenjak dia dikenalkan dengan Yudha di pesta pernikahan Myra sahabatnya, dia selalu bersama pemuda ini setiap hari. Walaupun hanya sebentar tapi kesan yang ditinggalkan terlalu banyak untuk dilupakan.

Malam tadi Myra menelpon dia dari Bali. Dia sudah bercerita semua kepada Myra dan kebersamaan dia dengan Yudha selama seminggu ini. Myra pun sempat heran dengan kebersamaan mereka berdua. Tapi dibalik itu semua Myra sangat bersyukur bisa mengenalkan Farah dan Yudha. Myra berpesan kepada Farah untuk bersabar, kalau jodoh tak kan kemana.

***

Jam sepuluh pagi akhirnya Farah sampai di rumah Yudha. Tadi dia sudah memberikan alamat rumah Yudha kepada pak Maman sehingga supirnya tersebut dengan mudah sampai di rumah Yudha. Pintu pagar kemudian dibuka oleh mang Ukan. Mang Ukan mempersilahkan Farah untuk langsung ke ruang tamu, dia bilang Yudha sudah menunggu dari tadi. Sementara pak Maman dan mang Ukan berjalan menuju ruang belakang.

Pintu ruang tamu sudah terbuka. Kemudian Farah perlahan-lahan masuk ke ruangan tersebut. Dia lihat Yudha duduk sendiri sambil memegang sesuatu di tangan nya. Sepertinya sebuah kotak, tapi dia tidak melihat apa isinya.

“Ehem… mas…”. Farah berkata pelan.

Yudha agak kaget dan buru-buru memasukkan kota yang di pegang nya ke dalam saku jaket nya. Dia melihat Farah berdiri di pintu masuk.

“Eh sudah datang…”. Kata Yudha.

“Iya baru saja mas…”. Jawab Farah.

“Ayo duduk…”. Ajak Yudha. Kemudian Farah duduk bersebelahan dengan Yudha. Dia lihat di samping sudah ada koper yang akan Yudha bawa, dia sepertinya sudah siap berangkat.

“Mas Yudha berangkat ke bandara naik apa?”. Tanya Farah.

“Naik bis dari terminal Rawamangun”. Jawab Yudha. Dia biasanya berangkat ke bandara  dari terminal tersebut.

“Oh begitu, bagaimana kalau aku antar saja ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Memang nya pak Maman ada?”. Tanya Yudha. Biasanya supir Farah libur di hari sabtu dan minggu. Tapi hari ini mama Farah meminta pa Maman untuk masuk.

“Iya mas, tadi mama minta pak Maman masuk buat nganterin mas Yudha ke bandara”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang saja ya”. Ajak Yudha.

“Iya mas kita berangkat sekarang saja”. Ujar Farah.

Kemudian mereka berdua berjalan keluar rumah. Farah berjalan duluan diikuti Yudha sambil membawa koper.

“Pak Maman… yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Iya mbak…”. Jawab pak Maman, dia tinggalkan kopi yang baru diminumnya setengah gelas, tadi bi Neni menyuguhkan kopi buat temen ngobrol sama mang Ukan.

“Mang Ukan, bi Neni saya berangkat ya, baik-baik ya di rumah”. Ujar Yudha.

“Saya berangkat diantar Farah langsung ke bandara”. Lanjut Yudha.

“Iya den…”. Kata mang Ukan dan bi Neni.

“Saya berangkat ya mang… bi…”. Kata Farah kepada mang Ukan dan bi Neni.

“Iya non… hati-hati di jalan”. Kata bi Neni.

Farah dan Yudha kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka duduk bersebelahan. Mobil tersebut selanjutnya berjalan meninggalkan rumah Yudha. Sejenak mereka berdua terdiam. Baik Yudha maupun Farah sama-sama tidak tahu harus mulai bicara apa. Mereka masih sibuk dengan khayalan nya masing-masing.

Farah berpikir seandainya saja Yudha masih lama tinggal di Jakarta dan terus menemaninya setiap hari. Tapi toh hanya dua bulan Yudha di New York. Nanti setelah itu dia akan kembali lagi ke Jakarta dan bertemu dengannya. Farah tersenyum sendiri.

Yudha masih berpikir untuk memberikan cincin yang ada di sakunya. Apa yang akan dia katakan ketika memberikan cincin ini? Apakah aku akan melamarnya langsung? Terlalu cepatkah?

“Mas sampai New York jam berapa?”. Tanya Farah membuka pembicaraan.

“Besok sekitar jam tiga sore juga, sama dengan waktu berangkat. Tapi kalau waktu disana berarti jam tiga pagi”. Jawab Yudha.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya nanti aku kabari kalau sudah sampai New York. Nanti aku ganti nomor HP ya sampai disana. Nanti aku whatsapp nomor barunya ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Mereka berdua kemudian terdiam kembali. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Padahal dari pertama kali mereka bertemu biasanya terus-terusan ngobrol, ada saja yang mereka jadikan topik pembicaraan. Tapi sekarang Yudha akan berangkat ke New York, Farah seperti kehilangan semangat untuk ngobrol. Bicara pun hanya sekedarnya saja dengan Yudha.

Akhirnya mobil yang dikemudikan pak Maman sampai juga di bandara Soetta. Mobil kemudian bergerak masuk ke terminal tiga bandara Soetta tempat terminal keberangkatan keluar negeri. Yudha melihat ke arah Farah, dia masih diam dan pandangan nya masih keluar jendela mobil. Di pangkuannya ada kotak warna putih, dia tidak memperhatikan mulai kapan Farah memegang kotak tersebut.

“Farah… turun yuk…”. Ajak Yudha setelah pak Maman menghentikan mobilnya di depan lobby terminal tiga.

“Eh… iya…”. Farah berkata tergagap karena dia masih melamun. Yudha menyadari itu dan sepertinya dia mantap untuk memberikan cincin berlian yang ada di sakunya kepada Farah.

Mereka kemudian berjalan berdua masuk ke dalam kawasan terminal tiga bandara Soetta sementara pak Maman membawa mobil ke tempat parkir.

Yudha langsung melakukan proses check-in dengan memberikan dokumen-dokumen yang biasanya diperlukan seperti paspor dan visa, tidak lupa tiket pesawat juga dia berikan. Farah melihat dari kejauhan, Yudha melihat ke arah Farah dan tersenyum.

Setelah semuanya selesai kemudian Yudha menghampiri Farah. Dia mengajak Farah untuk duduk dulu di Cafe yang ada disana sebelum Yudha masuk ke ruang boarding. Farah hanya diam saja ketika tangan nya ditarik Yudha untuk duduk di meja cafe tersebut. Mereka berdua kemudian duduk berhadap-hadapan. Farah masih memegang kotak putih yang berisi boneka dan fotonya.

“Mas… ini aku ada sesuatu buat mas Yudha”. Ujar Farah sambil memberikan kotak tersebut kepada Yudha.

“Apa ini…”. Tanya Yudha.

“Dibuka saja mas…”. Jawab Farah.

Kemudian Yudha membuka kotak tersebut. Ternyata isinya sebuah boneka kelinci warna pink dan sebuah foto Farah. Yudha kemudian tersenyum.

“Biar mas Yudha nggak lupa sama aku… itu boneka kesayanganku mas…”. Ujar Farah. Malu rasanya memberikan sesuatu kepada lelaki yang baru dikenalnya ini. Tapi dia tepis semua ini demi perasaannya kepada Yudha.

“Terima kasih ya… aku akan ingat kamu terus kok…”. Jawab Yudha.

“Iya mas, walaupun kita baru seminggu kenal tapi entahlah aku sepertinya sudah lama mengenal mas Yudha”. Lanjut Farah.

Yudha kemudian menggeser kotak tersebut ke sebelah kirinya. Dia kemudian memasukkan tangan ke saku jaketnya dan mengambil kotak kecil berisi cincin berlian yang dibelinya tempo hari. Yudha kemudian menggenggam tangan Farah. Jantung Farah berdetak kencang ketika Yudha menggenggam tangan nya, dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang lelaki. Tapi kemudian Yudha melepaskan genggaman tangannya. Farah kemudian melihat ke arah telapak tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang diletakkan Yudha disana. Sebuah kotak kecil berwarna perak.

“Apa ini mas…?”. Tanya Farah.

“Dibuka saja…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah membuka kotak tersebut. Isinya sebuah cincin putih, bermatakan berlian. Farah menutup mulut dengan telapak tangannya, bagus sekali cincin ini. Walaupun sekilas Farah bisa melihat bahwa cincin tersebut adalah cincin berlian. Apakah Yudha…

“Kamu nggak usah bilang apa-apa. Cincin itu boleh dipakai boleh juga nggak. Cincin itu aku berikan biar kamu nggak melupakan aku”. Ujar Yudha.

“Tapi mas…”. Farah berkata.

“Mas Yudha… bukan melamarku kan…?”. Tanya Farah. Hatinya tak karuan.

“Kalaupun ini kamu anggap bahwa aku melamar kamu nggak apa-apa”. Jawab Yudha.

“Yang pasti aku akan datang dua bulan lagi ke rumahmu”. Lanjut nya.

“Dua bulan lagi…”. Ujar Farah.

“Ya… sekembalinya dari New York aku akan langsung datang ke rumahmu”. Jawab Yudha mantap.

“Buat apa mas… kan sekarang juga aku ada disini”. Ujar Farah. Yudha tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Dia harus berangkat sekarang. Pintu ruang boarding sudah dibuka dan penumpang tujuan New York sudah bisa masuk ke ruang tunggu boarding.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Aku harus berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik ya…”. Kata Yudha.

“Eh… iya mas…”. Jawab Farah.

“Terutama jaga hatimu…”. Lanjut Yudha. Farah tersenyum dan mukanya bersemu merah. Mereka memang belum mempunyai komitmen apa-apa, tapi sepertinya keduanya sudah mengerti akan perasaan masing-masing.

Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu ruang boarding. Koper Yudha sudah masuk ke bagasi jadi dia berjalan santai tanpa membawa apa-apa, hanya sebuah kotak putih pemberian Farah yang dia pegang di tangan kiri. Di sebelah kanan nya Farah berjalan perlahan, dia masih menggenggam kotak yang berisi cincin pemberian Yudha. Yudha mencoba memegang tangan Farah. Farah hanya diam saja melihat Yudha memegang tangannya. Kenapa hatiku jadi tak karuan begini, pikir Farah.

Mereka berdua berhenti di depan pintu masuk pemeriksaan penumpang.

“Aku hanya bisa mengantar sampai sini mas”. Ujar Farah.

“Terima kasih untuk semuanya ya, semoga mas selamat sampai tujuan”. Lanjut Farah.

“Terima kasih juga ya, kamu sudah mau mengantarku sampai bandara”. Jawab Yudha. Farah mengangguk.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya… aku berangkat ya…”. Yudha berkata sambil melepas genggaman tangan Farah.

“Iya mas…”. Jawab Farah. Yudha tersenyum dan berjalan ke arah petugas pemeriksaan penumpang. Farah masih berdiri melihat Yudha yang sedang menyerahkan berkas-berkas keberangkatan dia untuk diperiksa petugas. Setelah selesai kemudian dia melangkah masuk menuju koridor ruang boarding. Hanya sampai disini dia bisa melihat Farah. Dia kemudian berbalik, Farah masih berdiri disana dan melambaikan tangan. Yudha pun melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan. Farah berkata hati-hati dari kejauhan tanpa suara, Yudha mengangguk dan kemudian melangkah masuk ke ruang tunggu boarding.

***

Farah menarik nafas panjang. Dia kemudian melangkah menuju lobby terminal tiga. Dia menghubungi pak Maman untuk menjemputnya di lobby. Dia berjalan sambil masih memegang kotak cincin pemberian Yudha. Pak maman sudah sampai depan lobby, Farah kemudian masuk kedalam mobil.

“Kita kemana lagi mbak…”. Tanya pak Maman.

“Kita langsung pulang saja pak”. Jawab Farah.

“Baik mbak…”. Ujar pak Maman. Dia kemudian mengarahkan mobil menuju rumah Farah.

Sepanjang jalan Farah masih melihat kotak cincin tersebut. Tutup kotak tersebut dibuat transparan di atasnya sehingga dia bisa melihat cincin itu. Farah perlahan membuka kotak tersebut, tak ada salahnya dia mencoba memakai cincin tersebut. Farah kemudian memasukkan cincin tersebut ke jari manis tangan kanan nya. Cincin itu pas sekali di jarinya, dari mana Yudha tahu ukuran jarinya, pikir Farah. Dia kemudian tersenyum dan membolak-balikan tangannya.

Sesampainya di rumah, Farah langsung masuk ke ruang tamu.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah kemudian duduk di sofa ruangan itu.

Mama Farah keluar dari ruang tengah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri.

“Yudha sudah berangkat?”. Tanya mama.

“Sudah mam, tadi aku antar sampai pintu ruang boarding”. Jawab Farah.

“Oh begitu, syukur kalau sudah berangkat. Eh itu apa…?”. Tanya mama sambil melihat ke arah jari manis kanan anaknya.

“Tadi Yudha yang ngasih mam”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Jadi… Yudha melamar kamu…?”. Tanya mama kaget.

“Nggak sih mam… tadi dia ngasih buat kenang-kenangan saja katanya. Tadi aku juga nanya apa dia melamarku tapi dia nggak bilang iya atau tidak. Nanti saja katanya dua bulan lagi dia mau datang kerumah”. Terang Farah.

“Oh begitu, berarti dia ingin memastikan kamu tidak kelain hati”. Ujar mama sambil tersenyum.

“Nggak tahu juga sih mam…”. Jawab Farah.

“Tapi perasaan kamu gimana…?”. Tanya mama.

“Ya… senang sih mam”. Jawab Farah.   

“Seandainya nanti Yudha melamar kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama…”. Farah memeluk mamanya.

“Kalau memang Yudha jodoh kamu, mama nggak keberatan sama sekali. Mama merasa kamu juga punya pemikiran yang sama dengan Yudha. Sejak dia masuk rumah ini mama lihat sikap kamu lain kepada dia, beda dengan sikap kamu kepada lelaki lain sebelum ini yang mencoba mendekati kamu”. Ujar mama.

“Tadi dia bilang apa sebelum berangkat?”. Tanya mama.

“Tadi dia bilang jaga diri baik-baik dan terutama jaga hatimu… gitu mam…”. Jawab Farah.

“Hmmmm… romantis banget sih, kalian tuh belum juga jadian tapi sikapnya udah kayak pacaran…”. Kata mama.

“Ah mama…”. Kata Farah malu-malu.

“Kira-kira dua bulan lagi dia mau ngapain ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kalau nanti ternyata dia melamar kamu bagaimana? Mau langsung diterima?”. Tanya mama.

“Ah gak tau ah mam…”. Jawab Farah.

“Ih… anak mama malu-malu”. Ujar mama.

“Farah… mama ini sudah mulai tua… jadi alangkah baiknya kamu segera menikah”. Lanjut mama.

“Ih mama… kok langsung nyuruh Farah menikah sih…”. Ujar Farah.

“Belum tentu juga Yudha ngajak aku nikah”. Lanjutnya.

“Tapi mama yakin, dia akan datang kesini dan melamar kamu”. Ujar mama.

“Mama tahu dari mana?”. Tanya Farah.

“Ya… feeling mama saja. Feeling mama nggak pernah salah loh…”. Jawab mama.

“Kalau nanti dia melamar kamu sama mama, mama akan langsung terima. Itu juga kalau kamu mau”. Lanjut mama.

“Kalau nanti kamu nikah, jadi karir artis kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama… belum apa-apa udah bicara sejauh itu sih…”. Jawab Farah.

“Kamu belum ada kontrak baru lagi kan…?”. Tanya mama.

“Belum sih mam… tapi setelah film yang sekarang aku main di dua FTV lagi mam, paling satu bulan lebih syuting nya”. Jawab Farah.

“Setelah itu kamu nggak usah terima kontrak dulu ya…”. Ujar mama.

“Mama… itu semua kan masih jauh, Farah aja masih belum mikir sejauh itu”. Jawab Farah.

“Udah… feeling mama gak akan salah. Mama juga ingin cepat-cepat punya cucu…”. Kata mama Farah sambil tersenyum.

“Ya ampun mama… sampai sejauh itu pemikiran mama…”. Ujar Farah. Mereka berdua kembali berpelukan.

Mama hanya tersenyum mendengar anaknya berkata begitu. Tapi dia yakin dengan perasaannya bahwa Yudha akan melamar anaknya sepulang dari New York nanti. Sudah saatnya untuk Farah bahagia, dia juga ingin secepatnya punya cucu. Yudha anak baik, walaupun mereka baru saling kenal selama seminggu, tapi dalam seminggu ini mereka selalu jalan berdua, menemani Farah di tempat syuting, makan bareng dan diantar pulang sampai rumah. Mama Farah senang dengan perkembangan anak gadisnya. Dia pun percaya sama Yudha sehingga dia tidak berkata apa-apa ketika mereka berdua jalan bareng.

***

Dua puluh empat jam kemudian Yudha sudah sampai di New York. Selama di pesawat pikiran nya tak bisa lepas dari sosok Farah. Kotak yang berisi boneka dan foto Farah tak lepas dari pangkuannya selama di pesawat. Yudha sudah yakin sekali dengan perasaannya. Dia akan segera melamarnya setibanya kembali ke Jakarta. Setelah pesawatnya mendarat dia memesan taksi dan bergegas menuju apartemennya. Waktu menunjukkan jam empat pagi ketika dia tiba di apartemen nya. Besok pagi dia harus segera bertugas di KJRI. Yudha tak sabar ingin segera menyelesaikan tugas nya disini dan kembali ke Jakarta.

Yudha membuka kotak yang diberikan Farah. Dia mengambil boneka dan disimpan di tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil foto Farah kemudian ditempatkan di meja kerjanya. Dia tersenyum melihat foto tersebut. Farah memang cantik… Oh iya aku harus segera memberitahukan nomorku disini kepada Farah, pikir Yudha. Dia kemudian mengambil HP nya, dia mengetikkan nomor barunya dan mengirimkannya kepada Farah lewat whatsapp.

‘Farah ini nomor baruku. Aku sudah sampai di New York, sekarang lagi istirahat di apartemen.’

Begitu pesan Yudha, dia kemudian menyimpan HP nya di meja. HP nya kemudian berbunyi tanda ada pesan masuk.

‘Iya mas, syukur kamu sudah sampai dengan selamat.’

Balas Farah

‘Kamu lagi ngapain?’

Balas Yudha

‘Aku lagi duduk di kamar’

Balas Farah

‘Kamu nggak kemana-mana?’

Balas Yudha

‘Nggak ah mas lagi males pengen di rumah aja.’

Balas Farah

‘Eh sebentar mas aku mau kirim foto.’

Kemudian ada pesan masuk yang berisi foto. Ternyata itu foto tangan Farah, di jarinya sudah memakai cincin yang diberikan Yudha kemarin.

Yudha tersenyum melihatnya. Dia tidak salah dengan perasaannya.

‘Bagus nggak mas?’

Balas Farah

‘Iya bagus, pas sekali ya di jari manismu’

Balas Yudha

‘Terimakasih ya mas, kok mas Yudha tahu ukuran jariku?’

Balas Farah

‘Aku kira-kira saja, ternyata pas juga ya di jarimu.’

Balas Yudha

‘Oh iya, mas Yudha langsung kerja pagi ini?’

Balas Farah

‘Iya langsung kerja, masih banyak tugas.’

Balas Yudha

‘Ya sudah mas istirahat dulu jadi nanti kerja sudah segar lagi.’

Balas Farah

‘Iya, aku istirahat dulu ya. Salam sama mama ya.’

Balas Yudha.

Yudha kemudian merebahkan diri di tempat tidur. Sebelumnya dia mengambil fotonya dengan boneka pemberian Farah. Dia kemudian mengirimkannya kepada Farah, lalu tertidur pulas.

***

Farah sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Dia sudah mulai melakukan proses syuting film nya. Tapi hari-harinya terasa kosong sekarang, tidak ada Yudha yang menjemput dia sehabis syuting.

Yudha pun sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Bedanya sekarang Yudha lebih semangat bekerja, dia ingin segera menyelesaikan tugas nya yang hanya tersisa dua bulan lagi di New York. Dia ingin segera kembali ke Jakarta dan segera melamar Farah. Secepat inikah dia akan melamar Farah? Menyatakan perasaan saja belum, apalagi sampai pacaran. Tapi niat Yudha dari semenjak bertemu dan kenalan adalah ingin mencari istri bukan mencari pacar. Kapan lagi dia punya kesempatan langka seperti ini. Ada wanita cantik yang sepertinya juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya, begitu pikir Yudha.

Farah seperti biasa diantar mamanya ke lokasi syuting. Kali ini mama Farah tidak ada urusan apa-apa jadi seharian menemani Farah syuting. Ketika Farah sedang ‘break’ syuting, dia dikagetkan dengan kedatangan sahabatnya Myra.

“Hai Farah…”. Sapa Myra.

“Hai Yaya… ya ampun kapan kamu pulang dari Bali?”. Tanya Farah. Mereka kemudian berpelukan. Myra kemudian menyalami mama Farah.

“Siang tante…”. Kata Myra.

“Eh Myra… sudah pulang bulan madu, tambah cerah kayaknya…”. Ujar mama Farah.

“Ah tante bisa aja”. Jawab Myra.

“Eh… bagaimana Yudha…”. Tanya Myra kepada Farah.

“Bagaimana apanya…”. Jawab Farah.

“Ya… hubungan kalian…”. Tanya Myra.

“Ya… biasa aja…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yee… biasa aja tapi senyum-senyum malu gitu”. Ujar Myra.

“Eh itu apa…?”. Myra melihat di jari manis Farah ada cincin berkilau melingkar disana. Itu pasti cincin berlian, pikir Myra.

“Oh ini… dikasih sama Yudha…”. Jawab Farah malu-malu.

“Hah… Yudha sudah melamar kamu… kapan… kok gak bilang-bilang sih… awas ya Yudha…”. Kata Myra gemas.

“Bukan… Yudha belum melamarku. Dia hanya bilang ini kenang-kenangan saja dari dia katanya”. Jawab Farah.

“Waah… kenang-kenangan kok cincin berlian sih… eh tadi kamu bilang Yudha belum melamar kamu”. Kata Myra.

“Iya belum…”. Jawab Farah.

“Berarti dia mau melamar kamu dong…”. Kata Myra menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih…”. Jawab Farah tersenyum malu-malu.

“Tuh… kan malu-malu… kamu tuh semenjak kenal sama Yudha kok jadi suka malu-malu gitu sih. Kemarin-kemarin kayaknya kamu nggak pernah gini deh…”. Ujar Myra.

“Ah biasa aja kali…”. Jawab Farah.

“Terus Yudha sudah berangkat ya sabtu kemarin…”. Ujar Myra.

“Iya sabtu kemarin jam tiga sore dia terbang ke New York”. Jawab Farah.

“Iya Farah juga ikut nganter kok ke bandara”. Mama Farah yang tadi diam saja ikut berbicara. Farah hanya tersenyum.

“Oohhh… nganterin sampai bandara… cie… cie… yang nganterin ke bandara…”. Kata Myra kembali menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih. Seneng banget ya godain aku…”. Muka Farah sedikit memerah.

“Ih tante… liat mukanya Farah merah gitu. Kayaknya ada sesuatu nih… cerita dong…”. Mama Farah hanya tersenyum.

“Yudha bilang jaga hatimu ya…”. Mama Farah yang bicara.

“Mama… apaan sih…”. Muka Farah semakin merah.

“Ya ampun… ’so sweet’… Yudha bilang gitu… kayaknya sepulang dari New York mau langsung lamaran nih…”. Kata Myra terus-terusan menggoda Farah.

“Udah ah… aku mau ‘take’ dulu…”. Ujar Farah menghindari Myra yang terus-terusan menggodanya. Myra hanya tertawa melihat Farah malu-malu dia godain. Kemudian Myra duduk disamping mama Farah.

“Menurut tante bagaimana Yudha…?”. Tanya Myra kepada mama Farah.

“Yudha anaknya baik, sopan dan kelihatannya memang mereka saling suka. Tapi masih belum saling menyatakan”. Jawab mama Farah. Myra merasa lega, tidak salah dia mengenalkan Yudha kepada keluarga ini.

“Terus selanjutnya bagaimana tan?”. Tanya Myra.

“Yudha bilang dua bulan lagi sehabis dari New York akan datang langsung ke rumah”. Jawab mama Farah.

“Wah jangan-jangan Yudha memang berniat melamar Farah tan…”. Ujar Myra.

“Feeling tante juga begitu…”. Jawab mama Farah.

“Terus bagaimana tan… kalau memang benar Yudha mau melamar Farah, diterima gak kira-kira…?”. Tanya Myra penasaran.

“Tante sih setuju-setuju saja, hanya Farah nya masih malu-malu gitu kalau ditanya”. Jawab mama Farah. Myra semakin lega. Sepertinya dia harus memberitahu Yudha soal ini biar dia tambah semangat.

“Oh iya tan… ini ada oleh-oleh dari Bali”. Kata Myra sambil memberikan dua kantong yang masing-masing berisi kain pantai khas Bali.

“Waduh yang bulan madu sempat-sempatnya beli oleh-oleh. Terimakasih ya…”. Jawab mama Farah.

“Iya sama-sama tante. Oh iya saya langsung jalan ya mau ke tempat syuting”. Ujar Myra pamitan.

“Iya terimakasih ya oleh-olehnya”. Jawab mama Farah.

Myra kemudian melambaikan tangan ke arah Farah yang bersiap melakukan adegan syuting. Farah juga melambaikan tangan.

Myra kemudian melangkah menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari lokasi syuting Farah. Dia harus segera berangkat ke lokasi syuting. Tadi dia menyempatkan datang ke tempat syuting Farah, dia ingin tahu perkembangan hubungan sahabatnya itu dengan Yudha. Ternyata perkembangan nya sangat positif, dia juga tidak menyangka akan secepat ini mereka berhubungan. Mungkin sudah saling cocok jadi tidak harus nunggu lama untuk saling memahami satu sama lain.

***

Pagi ini Yudha sudah siap-siap berangkat ke tempat kerjanya di KJRI New York. Kemarin seharian dia mulai menyesuaikan diri lagi dengan situasi kerja yang ada di New York. Dia belum sempat menghubungi Farah lagi karena kesibukan pekerjaannya. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikannya karena seminggu cuti pulang ke Jakarta.

Dia kemudian duduk di sofa dan melihat ke arah tempat tidurnya. Apartemen Yudha memang tidak terlalu besar, hanya satu ruangan saja ukuran studio. Tidak ada ruang tamu atau ruang yang lain, jadi tempat tidur dan sofa berada dalam satu ruangan. Dia sengaja tidak menyewa apartemen yang terlalu besar. Selain karena harga sewa apartemen di New York yang begitu mahal, juga karena dia pikir hanya tiga tahun saja dia tugas di New York.

Kelinci pink yang diberikan Farah masih ada disana. Juga foto Farah yang sedang tersenyum masih ada di mejanya. Yudha tersenyum mengingat kembali Farah. Dia akan menghubunginya hari ini. Semoga dia sudah pulang syuting. Baru saja Yudha akan berangkat, ada telpon whatsapp yang masuk, Myra ternyata yang telpon.

“Halo Yud…”. Myra memulai percakapan.

“Halo Ya… kamu sudah pulang dari Bali…?”. Tanya Yudha.

“Ah aku gak mau jawab dulu. Kamu melamar Farah? Kok gak bilang-bilang sih…”. Tanya Myra.

“Kamu sudah ketemu Farah?”. Tanya Yudha.

“Ih Yudha… bukanya jawab malah nanya lagi…”. Ujar Myra.

“Aku belum melamar dia. Hanya ngasih kenang-kenangan saja supaya dia nggak lupa sama aku”. Jawab Yudha. Sepertinya Myra sudah tahu kalau dia memberikan cincin kepada Farah.

“Kenang-kenangan kok cincin berlian sih…”. Myra mencibir.

“Ya habis apalagi… yang ada dipikiranku hanya cincin yang cocok. Kalau kalung nanti terlalu gimana gitu…”. Jawab Yudha.

“Wah kalung… lebih-lebih kalau itu”. Ujar Myra. Yudha tertawa mendengar sahabatnya bicara begitu.

“Eh… terus apa kata Farah…?”. Tanya Yudha.

“Biasa lah… dia masih malu-malu. Aku godain habis-habisan tadi siang sampai mukanya merah hehe…”. Kata Myra.

“Yaya… tega banget sih kamu… kasian kan Farah…”. Ujar Yudha.

“Duh… yang kasian…”. Kata Myra tertawa. Dia juga ingin menggoda Yudha. Yudha hanya tertawa digodain Myra seperti itu.

“Eh… tapi gimana rencana kamu selanjutnya? Mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Iya… mau sih… tapi kecepetan nggak sih Ya… aku kan baru kenal dia seminggu”. Ujar Yudha.

“Ya nggak apa-apa Yud, kalian nggak usah pacaran, langsung nikah aja. Nanti pacaran nya kalau sudah nikah aja”. Jawab Myra.

“Langsung nikah ya…”. Ujar Yudha.

“Ya iya lah… habis mau ngapain lagi. Nggak usah nunggu lama. Mamanya Farah juga udah setuju kok..”. Ujar Myra.

“Masa… dari mana kamu tahu?”. Tanya Yudha.

“Tadi waktu aku ke tempat syuting Farah, ada mamanya juga disana. Aku tanya langsung sama mamanya Farah. Dia bilang sih setuju-setuju saja kalau kamu melamar Farah. Hanya Farah nya masih malu-malu kalau ditanya. Jadi kamu harus meyakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Oh gitu ya…”. Jawab Yudha.

“Katanya pas pulang nanti ke Jakarta kamu mau langsung ke rumahnya? Mau langsung melamar dia kan…”. Tanya Myra.

“Loh kok tau…?”. Tanya Yudha.

“Mamanya Farah yang bilang. Kamu tuh nggak ngasih tau aku sih perkembangan terakhir hubungan kamu sama Farah”. Ujar Myra.

“Bukan begitu, aku belum sempat Ya. Kemarin pas sampai disini aku langsung kerja, banyak kerjaan yang tertunda karena aku pulang ke Jakarta. Lagian aku nggak mau ganggu bulan madu kamu”. Jawab Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Kayaknya gitu sih…”. Jawab Yudha.

“Jangan kayaknya dong… kamu harus yakin. Udah lamar aja langsung”. Ujar Myra.

“Iya Ya…. Aku nanti pas pulang ke Jakarta mau langsung ke rumahnya buat melamar dia”.

“Sendirian…? Kalau kamu mau, nanti aku sama Pras bisa kok nemenin”. Ujar Myra.

“Gimana Yud…”. Tanya Myra.

“Apa mau sendirian aja?”. Lanjut Myra.

“Iya sendirian aja dulu kali”. Jawab Yudha.

“Nanti kalau semuanya lancar, aku akan mengadakan lamaran secara resmi. Kamu juga nanti datang ya…”. Lanjut Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Kamu mau kerja kan…”. Tanya Myra.

“Iya ini aku mau jalan, tapi mau sarapan dulu di cafe”. Jawab Yudha.

“Jangan lupa, kamu harus yakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Iya nanti aku telpon lagi Farah”. Jawab Yudha.

“Udah dulu ya bye…”. Myra mengakhiri pembicaraan.

“Bye juga…”. Jawab Yudha kemudian menutup HP nya.

Yudha kemudian bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya di KJRI.

***

Amal dan Niat

_INSPIRASI_

🎇*AMAL & NIAT*🎇

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia…barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

*Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti… setidaknya itu menjadi sedekah untuk dirimu.*

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum”.(HR. Muslim)

💦 Mari Awali hari ini dg Pikiran dan prilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan… Aamiin…

Puisi terakhir WS Rendra

Puisi terakhir WS Rendra
(beliau buat sesaat sebelum beliau wafat)

                               
Hidup itu seperti UAP,  yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA, 
harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku, Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …

Sebab aku yakin….
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU  adalah yang ter BAIK bagiku ..

Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

Ketika aku berat utk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
….aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN, Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA

Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.

Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi LENTERA yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk kebaikan.