Diplomat Bag. 5 – Binar-binar Bahagia

Farah kemudian masuk ke ruang tengah dimana mama nya sedang menonton TV. Farah kemudian duduk di samping mamanya dan terdiam. Raut mukanya nampak murung.

“Kamu kenapa…?”. Tanya mama.

“Aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh gitu… tumben…”. Tanya mama.

“Tadi aku ikut Yudha ziarah ke makam orang tuanya mam, dia tadi sedikit menangis disana, aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh begitu…”. Mama tersenyum.

“Terus kamu kemana lagi?”. Tanya mama.

“Sebelum ziarah tadi dia ke panti asuhan dulu mam, dia bagi-bagi tas sama bingkisan disana”. Jawab Farah.

“Oh begitu, dia sudah biasa mungkin berkunjung kesana”.  Ujar mama.

“Bukan biasa mam, ternyata Yudha tuh anak panti sana mam, dia diadopsi sama orang tuanya yang meninggal kecelakaan itu mam. Tadi juga aku ketemu sama ibu asuhnya disana dan dia cerita banyak tentang Yudha mam”. Ujar Farah.

“Oh begitu, eh… tapi tunggu, kok kalian sudah sejauh itu sih…?”. Tanya mama. Wajah Farah kemudian sedikit memerah.

“Loh kok anak mama malu gitu…”. Tanya mama tersenyum. Farah kemudian memeluk mamanya.

“Mama…”. Farah berkata. Dia masih memeluk mamanya.

“Kamu kenapa…? Suka ya sama Yudha?”. Tanya mamanya.

“Ah mama… baru saja kenal dua hari…”. Jawab Farah.

“Tapi kok kalian sudah akrab begitu…”. Tanya mama.

“Ya… gak tahu sih mam, Farah juga nggak ngerti, kalau ngobrol sama Yudha kok aku nyambung ya mam…”. Jawab Farah. Dia memang tidak pernah menyimpan rahasia kepada mamanya. Apa yang dia rasakan biasanya selalu diceritakan kepada mamanya.

Mamanya sudah tahu sifat anak gadisnya ini, biasanya dia tidak pernah seperti ini kepada lelaki yang dia kenal sebelumnya. Apa benar anaknya suka sama Yudha? Mungkin juga Yudha suka sama anaknya, besok juga dia mau lihat anaknya syuting lagi. Tapi biarlah, anaknya sudah pantas punya pendamping. Kalau memang Yudha jodohnya Farah apa mau dikata. Yudha juga sikapnya baik, walaupun baru dua hari mengenal dia tapi sepertinya dia anak yang baik dan penurut, buktinya kalau ketemu dia selalu menyalaminya seperti kepada orang tuanya sendiri.

***

Sesuai dengan janjinya kemarin, jam sepuluh pagi Yudha sudah ada di lokasi syuting Farah. Sebelumnya dia sudah kontak Farah untuk memberikan lokasi tempat dimana dia syuting hari ini lewat whatsapp. Yudha memarkirkan kendaraannya di lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat syuting. Dia melihat Farah sedang melaksanakan proses syuting. Tidak terlihat mobilnya di sana, jadi benar mamanya Farah hanya mengantarkan Farah ke lokasi syuting dan langsung pergi bertemu dengan teman bisnisnya.

Sudah waktunya istirahat siang, syuting pun sementara berhenti untuk istirahat. Setelah jam makan siang biasanya syuting akan dilanjutkan kembali. Farah sedang duduk di kursi pemain. Dia melihat sekeliling, belum terlihat Yudha atau mobilnya, padahal Yudha sudah ada disekitar lokasi syuting hanya tempatnya agak jauh sehingga tidak terlihat Farah. Mungkin Yudha tidak jadi datang, begitu pikir Farah.

Yudha sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah Farah yang sedang duduk. Dia melambaikan tangan ke arah Farah, Farah tersenyum dan mengajaknya mendekat ke kursi tempat duduknya, ternyata dia datang juga, Farah berkata dalam hati.

“Hai mas… Kok jalan nya dari sebelah sana? Jauh ya parkir mobilnya?”. Tanya Farah.

“Nggak kok dekat, cuma mobilnya nggak kelihatan dari sini, saya sudah datang dari tadi dan lihat kamu syuting”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ternyata dia sudah datang dari tadi, Farah tersenyum.

“Kamu lagi istirahat kan?”. Tanya Yudha, Farah mengangguk mengiyakan.

“Kita makan yuk…”. Ajak Yudha.

“Iya boleh”. Kali ini Farah mulai terbiasa dengan ajakan makan dari Yudha sehingga tidak berpikir dua kali menerima ajakan lelaki ini.

“Bang Yopy saya makan dulu ya…”. Farah berkata kepada bang Yopy yang sedang duduk di kursi sutradara.

“Oke, nanti kita ‘take’ lagi jam dua ya, jangan telat…”. Kata bang Yopy.

“Iya bang…”. Jawab Farah sambil berjalan bersama Yudha menuju mobilnya.

“Kita makan dimana?”. Tanya Yudha setelah mereka berdua berada didalam mobil Yudha.

“Saya terserah mas Yudha saja makan dimana”. Jawab Farah.

“Kita makan ayam saja mau nggak?”. Tanya Yudha sambil menjalankan mobilnya.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

“Ada tempat makan ayam yang enak disini”. Ujar Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah.

“Namanya Ayam Kriwil”. Ujar Yudha.

“Mas Yudha hobi kuliner ya, banyak tahu tempat makan di Jakarta”. Kata Farah.

“Nggak juga, hanya saja semenjak kecil mama papa selalu mengajak makan di luar rumah setiap pekan, dan tempatnya beda-beda, jadi saya banyak mengenal berbagai makanan”. Terang Yudha.

“Mama sama papa mas Yudha sayang banget ya kayaknya sama mas Yudha”. Ujar Farah,

“Iya begitulah, mungkin karena mereka tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain saya, jadi saya selalu mereka bawa kemana saja termasuk ke tempat makan favorit mereka”. Jawab Yudha.

“Nah… kita sudah sampai”. Ujar Yudha.

Setelah Yudha memarkirkan kendaraan di depan, mereka kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam area resto ayam tersebut. Mereka berdua memesan makanan dan makan berdua di resto tersebut. Mereka makan sambil ngobrol tentang film yang sekarang sedang diperankan oleh Farah. Dari obrolan mereka Yudha menjadi tahu banyak tentang industri film yang ada di Indonesia khususnya di Jakarta. Farah banyak bercerita tentang perjalanan karirnya di dunia film. Entah mengapa dia selalu ingin bercerita apa saja kepada lelaki di hadapannya ini. Yudha juga selalu menjadi pendengar yang baik apabila Farah sedang bercerita tentang dirinya.

Selesai makan mereka kembali ke tempat syuting Farah.

“Kamu selesai syuting jam berapa?”. Tanya Yudha ketika Farah sudah kembali duduk di kursi pemain.

“Sekitar jam lima sore mas, soalnya hari ini nggak ada ‘scene’ malam jadi saya bisa pulang sebelum malam”. Jawab Farah.

“Mama kamu jemput jam berapa?”. Tanya Yudha lagi.

“Belum tahu mas”. Jawab Farah.

“Suka lama kalau dia pergi sama tante Tika”. Lanjut Farah.

“Gini aja, saya ada keperluan sebentar, nanti saya jemput kamu jam lima sore”. Ujar Yudha.

“Jangan mas… saya sudah banyak merepotkan mas Yudha”. Ujar Farah, padahal dalam hatinya dia ingin Yudha menjemputnya sore nanti dan mengantarkannya sampai rumah.

“Nggak kok… nggak repot…”. Jawab Yudha.

“Saya pergi dulu ya, nanti saya jam lima kesini lagi”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Yudha kemudian pergi dari lokasi syuting Farah. Dia ingin memberikan sesuatu kepada Farah sebelum dia kembali ke New York. Dia bergegas mengendarai mobilnya menuju ke arah Jatinegara, disana ada sesuatu yang akan dibelinya dan diberikan kepada Farah.

Jam empat sore Yudha sudah tiba kembali ke lokasi syuting. Sepertinya syuting sudah selesai karena kru sudah membereskan peralatan syuting dan para pemain pun sudah duduk di tempatnya masing-masing. Yudha melihat Farah sedang duduk dan memainkan HP nya. Dia kemudian mendekatinya.

“Sudah selesai syuting nya?”. Tanya Yudha ketika sudah berada di samping Farah.

“Eh mas Yudha, sejak kapan ada disini, kok gak bilang-bilang, kaget saya…”. Jawab Farah, dia kaget karena sedang membuka kontak HP nya dan berencana menghubungi Yudha, untung Yudha tidak memperhatikan, pikirnya.

“Baru saja datang, tadi saya lihat kok sudah selesai syutingnya, jadi saya langsung saja kesini”. Ujar yudha.

“Iya mas, ini cuacanya mendung jadi kurang mendukung buat syuting, jadi bang Yopy putuskan besok saja syuting dilanjutkan”. Jawab Farah.

“Oh gitu… jadi kita pulang sekarang?”. Tanya Yudha.

“Mmmm sebentar saya telpon mama dulu ya…”. Jawab Farah kemudian dia menghubungi mamanya.

“Halo mam… masih lama sama tante Tika?”. Tanya Farah.

“Iya masih lama, kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah,

“Iya sudah selesai, kalau gitu Farah pulang diantar Yudha saja ya…”. Kali ini dia tidak meminta izin dan langsung bilang mau diantar Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, mama sampai rumah jam tujuh malam. Hati-hati ya…”. Ujar mama.

“Iya mam… daah”. Farah kemudian menutup HP nya.

“Ayo mas kita pulang…”. Ajak Farah. Kemudian dia menghampiri bang Yopy.

“Bang saya pulang duluan ya, sampai besok…”. Ujar Farah kepada bang Yopy.

“Oke… kok sekarang dijemput terus…”. Ujar bang Yopy.

“Sekalian pulang bang…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Ya sudah, sampai besok…”. Jawab bang Yopy. Yudha mengangguk ke arah bang Yopy. Mereka kemudian berjalan ke arah mobil Yudha.

“Kita kemana dulu Far…?”. Tanya Yudha.

“Mama kamu masih lama kan sampai rumah…”. Lanjut Yudha.

“Iya sih masih lama…”. Jawab Farah.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu…”. Ajak Yudha.

“Jalan-jalan kemana?”. Tanya Farah.

“Kalau ke mall gimana? Ke Mall Kelapa Gading saja yang dekat dari sini”. Jawab Yudha.

“Mmmm boleh deh…”. Jawab Farah, mereka berdua tersenyum. Yudha segera mengarahkan mobilnya menuju ke arah Kelapa Gading.

Farah dan Yudha sudah terbiasa untuk ngobrol berdua sejak dua hari ini. Ada saja topik pembicaraan mereka, mulai dari film yang dibintangi Farah sampai urusan politik yang menjadi bidang pekerjaan Yudha di New York. Mereka betah berlama-lama ngobrol, walaupun berbeda profesi tetapi mereka selalu nyambung dalam setiap obrolan.

Setibanya di mall, mereka langsung turun dan Yudha menyerahkan mobilnya ke vallet service yang ada disana. Mereka kemudian berjalan memasuki lobby mall. Yudha melihat ada beberapa orang yang melihat ke arah Farah dan berbisik-bisik. Wajar mereka memperhatikan Farah karena dia kan artis, begitu pikir Yudha.

“Kamu mau makan apa jalan dulu aja…?”. Tanya Yudha.

“Kita jalan dulu aja yuk…”. Jawab Farah. Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor mall, mereka berjalan sambil terus ngobrol.

“Eh ada baju yang bagus, mampir ya sebentar”. Ujar Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha, kemudian mereka mampir di salah satu butik yang ada di mall tersebut. Farah masih memilih-milih baju sementara Yudha masih setia mendampinginya. Sesekali Farah meminta pendapat Yudha mengenai baju yang dipegang nya, Yudha selalu bilang bagus ketika Farah menanyakan pendapatnya.

“Kok bilang bagus terus mas…?”. Tanya Farah.

“Iya memang bagus, baju apapun cocok kalau kamu yang pakai”. Jawab Yudha. Farah tersenyum simpul. Kenapa dia selalu malu-malu ya di depan pemuda ini. Farah sudah memilih baju dan akan membayarnya di kasir. Yudha berinisiatif untuk membayar baju yang dibeli Farah.

“Udah mas gak usah, saya merepotkan mas Yudha terus dari kemarin”. Ujar Farah.

“Tapi bener kok nggak merepotkan”. Jawab Yudha.

“Lain kali saja ya mas…”. Ujar Farah.

“Ya sudah, tapi kalau sekarang kita makan nanti saya yang bayar ya”. Ujar Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berjalan kembali di koridor mall tersebut.

“Kita makan yuk…”. Ajak Farah.

“Ayo, kamu mau makan dimana?”. Tanya Yudha.

“Di ‘Japanese Food’ aja yuk, disini ada menu ‘all you can eat’ yang enak”. Jawab Farah.

Mereka kemudian memasuki gerai masakan Jepang yang ada di mall tersebut.

“Silahkan mas… mbak.. untuk berapa orang?”. Sapa pelayan yang ada disitu.

“Dua orang saja”. Jawab Yudha.

“Silahkan lewat sini”. Kemudian pelayan yang ada disana menunjukkan meja untuk berdua yang ada disana.

“Kamu sering kesini?”. Tanya Yudha.

“Nggak juga sih, sama Myra juga pernah makan disini”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar Yudha. Kemudian ada pelayan yang menyuguhkan beberapa makanan yang siap untuk diolah di depan meja mereka.

“Kamu mau ngambil sayuran…?”. Tanya Yudha.

“Nggak mas, saya yang ada disini saja”. Jawab Farah.

“Ya sudah saya ambil sayuran dulu ya…”. Yudha kemudian berdiri dan menghampiri meja buffet yang ada disana. Walaupun Farah bilang tidak akan ambil sayuran tapi dia berinisiatif untuk mengambil beberapa sayuran dan beberapa makanan lagi disana.

“Kok dua piring mas…?”. Tanya Farah ketika Yudha kembali ke meja mereka dan membawa dua piring yang berisi sayuran dan makanan lain.

“Siapa tahu kamu mau jadi nggak usah ngambil lagi…”. Jawab Yudha.

“Oh iya mas… terima kasih ya…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

Kemudian mereka berdua mulai memasukkan makanan kedalam panci rebus yang ada disana. Setelah matang mereka mulai menyantap makanan tersebut. Selama itu mereka sesekali meneruskan obrolan apa saja tentang mereka berdua. Yudha merasa semakin mengenal wanita cantik di depannya ini.  Terasa tidak ada batasan lagi apabila ngobrol dengan Farah. Apa saja selalu Farah ceritakan, sesekali mereka tertawa apabila ada obrolan lucu yang mereka bicarakan.

Satu jam kemudian mereka selesai makan di restoran Jepang tersebut. Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berdua berjalan kembali menelusuri lorong mall menuju ke lobby mall tersebut.

“Kita langsung pulang?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, sudah mulai gelap”. Jawab Farah.

Yudha kemudian menghampiri petugas vallet untuk mengambil mobilnya sementara Farah duduk menunggu di kursi tunggu yang ada disana. Yudha kemudian menghampiri Farah yang sedang duduk, sementara petugas valet mengambil mobil Yudha yang sedang di parkir di basement mall tersebut.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Aku kan sudah beberapa kali ini ke rumah kamu, terus sudah bertemu juga dengan mama kamu”. Kata Yudha.

“Iya.. terus kenapa mas…?”. Tanya Farah.

“Mau nggak aku ajak kamu ke rumahku?”. Tanya Yudha.

“Oh gitu mas. Boleh sih mas…”. Jawab Farah.

“Besok atau lusa aku ajak kamu ke rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Eh itu mobilnya sudah datang mas”. Lanjut Farah.

“Oh iya…”. Kemudian dia membuka pintu untuk Farah seperti biasa.

“Terima kasih mas”. Ujar Farah ketika dia masuk kedalam mobil. Yudha kemudian bergegas masuk ke mobilnya.

“Nanti aku kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan, mereka sudah menemaniku semenjak kecil, semenjak masih ada mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Iya mas boleh…”. Ujar Farah tanpa berusaha menolak ajakan Yudha. Sepertinya Farah memang ingin terus berada di dekat Yudha.

Yudha kemudian mengarahkan mobilnya menuju rumah Farah. Sepanjang perjalanan mereka masih terus ngobrol. Selalu ada saja topik pembicaraan mereka. Mereka bicara apa saja sampai tiba di rumah Farah. Terlihat mobil Farah sudah ada di depan rumahnya. Yudha kemudian turun diikuti oleh Farah.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah ketika dia masuk ke rumahnya. Yudha mengikutinya dari belakang. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu.

“Kalian jalan lagi…?”. Kata mama Farah ketika dia keluar dari ruang tengah.

“Iya mam…”. Kata Farah sambil tersenyum.

“Maaf ya tante saya mengajak Farah jalan terus”. Ujar Yudha sambil menyalami mamanya Farah seperti biasa.

“Kok minta maaf sih, seharusnya tante yang mengucapkan terimakasih. Nak Yudha sudah menjemput Farah dari lokasi syuting”. Jawab mama Farah.

“Oh iya kalian sudah makan…?”. Tanya mama Farah.

“Sudah mam, tadi makan di Mall Kelapa Gading”. Jawab Farah.

“Hmmm… makan berdua terus..”. Ujar mama Farah sambil tersenyum menggoda Farah.

“Mama apaan sih…”. Jawab Farah malu-malu.

“Tadi siang kalian makan dimana…?”. Mama Farah sudah punya firasat kalau tadi siang pun mereka makan berdua.

“Maaf tante tadi siang juga saya ngajak makan Farah”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Tuh kan… pasti kalian makan berdua lagi”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa kok, tante senang kalau Farah ada yang memperhatikan, kadang kalau nggak ada tante dia susah makannya. Makan di tempat syuting juga jarang, padahal kan ada nasi box tapi dia suka nggak mau makan”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante…”. Jawab Yudha.

“Oh iya, besok mama mau berangkat pagi sama jeng Tika. besok kamu berangkat agak siang kan, naik taksi saja ya…”. Ujar mama kepada Farah.

“Oh kalau tidak keberatan biar saya saja yang antar Farah ke lokasi syuting tante”. Ujar Yudha antusias.

“Oh begitu, tapi merepotkan nggak…?”. Tanya mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Nggak kok tante, nggak sama sekali. Saya juga sedang tidak ada kegiatan seminggu ini. Biar saya saja besok yang antar Farah”. Ujar Yudha.

“Tuh kan Yudha nya juga mau kok…”. Kata mama kepada Farah.

“Kalau begitu saya pamit dulu tante, besok pagi saya kesini lagi”. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Terima kasih ya sudah bersedia nganter Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha. Kemudian dia keluar diikuti oleh Farah.

“Saya pulang dulu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas, terima kasih ya, hati-hati dijalan”. Jawab Farah.

“Iya…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

Dia kemudian masuk ke mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Farah, dia melambaikan tangan kepada Farah dan Farah pun membalas lambaian tangan Yudha.

***

Besoknya sesuai perkataan Yudha kemarin, dia sudah ada di rumah Farah pagi-pagi. Farah masih bersiap-siap membereskan keperluan syutingnya. Mama Farah juga sudah bersiap-siap berangkat diantar pak Maman sopir mereka. Setelah ngobrol sebentar kemudian mereka bertiga berangkat dari rumah Farah. Mama Farah berangkat diantar pak Maman sopirnya sementara Farah berangkat ke tempat syuting diantar Yudha.

Farah dan Yudha semakin sering ngobrol berdua dan makan berdua. Sepertinya sudah terjalin hubungan antara mereka berdua, tapi mereka berdua belum saling menyatakan. Hanya saja Yudha selalu bilang bahwa dia nyaman berdua terus dengan Farah. Farah masih malu-malu menjawab perkataan Yudha.

Besoknya pun Yudha mengantar Farah lagi ke tempat syuting. Seperti biasa mereka bertiga berangkat bersama dari rumah Farah dengan tujuan masing-masing. Mama Farah berangkat menemui jeng Tika sementara Farah dan Yudha berangkat ke tempat syuting.

Siang ini Farah syuting tidak sampai sore. Tadi siang mereka kembali makan berdua di daerah rawamangun, tempat makan baru lagi yang Yudha kenalkan kepada Farah. Yudha sudah menghubungi bi Neni untuk masak makanan kesukaan Yudha di rumah. Dia akan mengajak Farah makan di rumahnya hari ini.

“Sudah selesai syuting nya…?”. Tanya Yudha ketika Farah menghampirinya di tempat duduknya.

“Sudah mas…”. Jawab Farah.

“Masih siang, mama kamu juga belum pulang kan…”. Tanya Yudha.

“Iya nih mas, mama sekarang bisnis terus sama tante Tika”. Jawab Farah.

“Ya sudah, kalau begitu mau nggak hari ini saya ajak kamu ke rumah saya?”. Tanya Yudha.

“Tapi malu ah mas…”. Jawab Farah.

“Nggak ada siapa-siapa kok di rumah, hanya ada bi Neni dan mang Ukan”. Ujar Yudha.

“Mau ya…”. Lanjut Yudha.

“Tapi saya minta izin mama dulu ya…”. Jawab Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah menelpon mamanya.

“Mam… masih lama sama tante Tika…?”. Tanya Farah.

“Iya nih… mama masih ada sedikit urusan. Kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam sudah beres dari tadi. Masih siang mam beresnya”. Jawab Farah.

“Mam… aku minta izin mau ke rumahnya Yudha, boleh…?”. Tanya Farah.

“Hmmm… anak mama nih, sudah mau serius kayaknya…”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Mama sih… bisnis sama tante Tika terus”. Lanjut Farah.

“Iya ini juga kan demi kamu sayang…”. Jawab mama Farah.

“Jadi gimana… boleh nggak…”. Tanya Farah.

“Iya boleh… hati-hati ya sayang”. Jawab mama Farah. Dia tidak berprasangka macam-macam kepada Yudha. Dia yakin Yudha tidak bermaksud apa-apa dengan mengajak Farah main ke rumahnya. Mama Farah yakin Yudha anak baik dan tidak punya itikad buruk kepada Farah.

“Makasih ya mam… sampai ketemu di rumah ya…”. Farah kemudian menutup telponnya.

“Gimana… boleh…”. Tanya Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Ayo…”. Jawab Yudha.

Kemudian mereka berdua berangkat dari tempat syuting. Tujuannya hanya satu, ke rumah Yudha.

Sesampainya di rumah Yudha kemudian mereka berdua turun. Mang Ukan yang membuka pintu pagar rumah Yudha. Rumah yang masih asri, pikir Farah. Masih ada pohon-pohon besar di halamannya yang luas. Ada taman juga yang terawat rapih di depan rumah tersebut. Rumahnya pun masih bergaya klasik khas jaman dulu dengan atap yang masih tinggi. Farah tidak menyangka di Jakarta masih ada rumah seperti ini.

“Yuk masuk…”. Ajak Yudha setelah melihat Farah hanya berdiri sambil melihat ke sekeliling rumah.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Kamu kaget ya… masih ada rumah seperti ini di Jakarta”. Ujar Yudha sambil melangkah masuk ke ruang tamu.

“Iya mas, jarang loh ada rumah seperti ini di Jakarta. Rumahnya adem mas, banyak pohon dan ada taman juga di depan. Nggak seperti rumah saya, halaman depan habis semua untuk parkir mobil”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mendengar perkataan Farah.

“Ayo silahkan duduk”. Ujar Yudha kepada Farah. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu. Ruang tamunya juga masih bergaya klasik. Lantainya pun terbuat dari batu pualam yang sudah jarang sekali ditemukan sekarang ini.

“Kamu mau minum apa?”. Tanya Yudha.

“Apa saja boleh mas…”. Jawab Farah.

“Sebentar ya…”. Ujar Yudha. Kemudian dia masuk ke dalam. Tak lama kemudian Yudha sudah masuk ke ruang tamu lagi, kali ini dia ke ruang tamu bertiga dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi Neni masuk sambil membawa nampan yang berisi dua gelas Jus Jeruk. Seperti kata Yudha kemarin, dia ingin mengenalkan Farah kepada bi Neni dan mang Ukan.

“Farah… ini saya kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi… mang… kenalkan ini namanya Farah. Dia artis juga seperti Myra, dia sahabatnya Myra”. Ujar Yudha memperkenalkan bi Neni dan mang Ukan. Kemudian mereka bersalaman. Farah tersenyum, bi Neni dan mang Ukan mengangguk. Bi Neni kemudian meletakkan dua gelas Jus Jeruk di atas meja tamu.

“Bi Neni sama mang Ukan ini sudah menemani keluarga saya sejak saya kecil, jadi sudah saya anggap keluarga saya sendiri, bi Neni biasanya yang masak sehari-hari, kalau mang Ukan merawat taman yang ada di depan”. Terang Yudha.

“Oh dirumah non ini kemarin den Yudha ketinggalan kamera ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi benar”. Jawab Farah.

“Hehe… benar bi… Saya ketinggalan kamera di rumah Farah”. Yudha juga menjawab.

“Bibi sama mamang masuk dulu ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi…”. Jawab Farah. Kemudian mereka berdua masuk lagi ke ruang dalam.

“Jadi tiga tahun ini mereka hanya berdua saja disini sementara saya tugas di New York”. Ujar Yudha setelah bi Neni dan mang Ukan masuk kedalam.

“Oh gitu mas”. Jawab Farah.

“Kalau mang Ukan tiap hari Jum’at suka membersihkan makam mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas, pantes saja waktu kemarin kita ziarah, makamnya bersih dan rapih ya…”. Ujar Farah. Yudha kemudian terdiam.

“Mas Yudha ingat mama papa ya…”. Ujar Farah.

“Selalu ingat Far… tapi sudah takdir”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Hanya saja saya belum bisa memenuhi amanat mereka untuk segera menikah”. Lanjut Yudha.

“Tapi calonnya sudah ada kan…”. Tanya Farah memancing Yudha.

“Dulu sih saya sempat dikenalkan sama beberapa orang, tapi ya gitu, nggak ada yang cocok. Myra juga sempat mengenalkan teman nya tapi sama juga, belum ada yang cocok. Mungkin karena pekerjaan saya yang harus terus bepergian keluar negeri, jadi susah cari yang cocok”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas. Tapi sekarang nggak ada yang lagi deket sama mas Yudha?”. Tanya Farah lagi.

“Ada sih yang lagi deket”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Siapa mas…?”. Tanya Farah. Hatinya jadi tak karuan. Ternyata ada yang lagi deket sama Yudha selain aku, begitu pikir Farah.

“Kan kamu yang lagi deket sama saya sekarang”. Jawab Yudha. Farah mukanya agak sedikit memerah.

“Mas bisa aja”. Ujar Farah.

Bi Neni tiba-tiba masuk ke ruang tamu.

“Makanannya sudah siap den”. Kata bi Neni.

“Oh iya bi terima kasih”. Jawab Yudha, kemudian bi Neni masuk lagi kedalam.

“Yuk Far, kita makan”. Ajak Yudha.

“Oh iya mas. Mas Yudha ngajakin aku kesini buat ngajak makan…”. Ujar Farah.

“Iya… sekalian nyobain masakan bi Neni. Dari kemarin kan kita makan di luar terus, sekali-kali kamu nyobain masakan rumah saya”. Jawab Yudha.

“Yuk…”. Ajak Yudha sambil berdiri.

“Iya mas”. Jawab Farah. Kemudian dia ikut berdiri.

“Yuk ke sebelah sini”. Yudha menunjukkan ruang dalam rumahnya kepada Farah.

Yudha kemudian berjalan duluan diikuti Farah. Farah melewati ruang tengah yang sepertinya ruang keluarga. Ruangannya luas, isinya ada sofa dan beberapa peralatan elektronik seperti TV yang besar dan ada juga yang sepertinya satu set ‘home theater’. Yudha berjalan terus melewati ruang tengah. Sampailah kemudian mereka di ruang makan. Ada meja panjang yang berisi beberapa kursi. Kursinya model lama yang terlihat mewah dengan ukiran di sandaran kursinya. Ada beberapa mangkuk yang berisi makanan sudah tertata rapih diatas meja makan.

“Ayo silahkan duduk”. Ajak Yudha sambil menggeserkan kursi untuk Farah.

“Terima kasih mas”. Jawab Farah. Lalu dia duduk di kursi yang barusan digeser oleh Yudha. Yudha pun duduk di samping Farah.

“Silahkan non dicicipi makanannya, ini makanan kesukaan den Yudha”. Kata bi Neni.

“Iya bi, terima kasih ya”. Jawab Farah, kemudian bi Neni meninggalkan mereka berdua.

Yudha kemudian memberikan piring dan sendok kepada Farah. Dia kemudian mengambil mangkuk nasi dan menyendokkan nasi ke atas piring yang ada di depan Farah.

“Sudah mas, cukup segini aja”. Ujar Farah.

“Kalau ini biasanya saya yang banyak makan, ini makanan favorit saya”. Kata Yudha setelah dia mengambil nasi dan menaruh nya di atas piring. Kemudian dia mengambil daging gepuk dan kemudian sayur lodeh. Ketika Yudha akan mengambilkan lauk dan sayur kemudian Farah berkata.

“Biar saya yang ambil sendiri mas…”. Ujar Farah. Kemudian dia mengambil sendiri lauk dan sayuran yang ada di meja makan.

“Silahkan pilih saja ya yang kamu mau”. Ujar Yudha sambil mulai makan.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Biasanya dulu kami selalu makan bertiga, saya disini dan mama papa disitu”. Ujar Yudha sambil menunjuk ke arah depannya.

Selanjutnya mereka ngobrol lagi seperti biasa. Yudha banyak bercerita tentang rumahnya dan orang tuanya ketika mereka masih ada. Farah banyak bertanya mengenai keadaan rumah dan situasi disini ketika orang tua Yudha masih ada. Sekarang tidak nampak kesedihan di raut wajah Yudha ketika dia menceritakan orang tuanya yang sudah tiada. Dia nampak bahagia ada Farah disampingnya yang bisa diajak untuk berbicara.

Setelah selesai makan kemudian mereka duduk kembali di ruang tamu, sementara meja makan dibereskan oleh bi Neni.

“Oh iya besok hari Jum’at kamu masih syuting ditempat tadi?”. Tanya Yudha.

“Besok pindah lagi mas syuting nya, tadi kata bang Yopy syutingnya di daerah Matraman”. Jawab Farah.

“Oh gitu, syuting memang sering pindah-pindah begitu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas tergantung dari set lokasinya, tapi pernah juga sih saya syuting di satu tempat saja, seperti di studio Persari yang di Ciganjur”. Jawab Farah.

“Oh gitu ya, jadi semua adegan dilaksanakan di satu tempat saja?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, kalau di studio Persari tempatnya sangat luas, mau adegan apapun ada disana. Dirumah, dikebun, di jalan atau setting seperti hutan juga ada disana. Jadi bisa menghemat budget kalau kata bang Yopy”. Jawab Farah.

“Oh gitu, jadi bang Yopy yang menentukan budget?”. Tanya Yudha.

“Bukan mas, produser yang menentukan budget, bang Yopy hanya melaksanakan saja di lapangan”. Jawab Farah. Dia sedikit banyak mengetahuinya dari pembicaraan dengan bang Yopy.

“Oh begitu”. Ujar Yudha.

“Oh iya sudah hampir malam, mama kamu sudah pulang belum?”. Tanya Yudha.

“Sebentar mas, saya telpon mama dulu”. Ujar Farah kemudian dia membuka HP nya.

“Halo mam… sudah dimana?”. Tanya Farah.

“Mama sudah mau sampai rumah nih, kamu masih di rumah Yudha?” Tanya mama Farah.

“Iya mam, kalau gitu aku pulang sekarang ya”. Jawab Farah.

“Iya hati-hati ya…”. Ujar mama Farah. Kemudian Farah menutup telponnya.

“Mama sudah pulang mas…”. Ujar Farah kepada Yudha.

“Kalau begitu kita pulang sekarang saja”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Bi… saya nganter Farah pulang dulu ya”. Ujar Yudha kepada bi Neni yang segera datang menemui mereka.

“Oh iya den”. Ujar bi Neni.

“Terima kasih ya bi, masakan nya enak…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Iya sama-sama non, bibi senang masakannya bisa cocok sama non Farah”. Jawab bi Neni.

“Saya pulang dulu ya bi”. Ujar Farah.

“Iya non hati-hati dijalan”. Jawab bi Neni.

“Iya bi”. Jawab Farah sambil melangkah keluar dari rumah diikuti Yudha. Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan Yudha mulai menjalankan mobilnya. Yudha berpikir seandainya Farah menjadi istrinya pasti bisa sering berduaan dirumah seperti tadi. Belum apa-apa sudah berpikir jauh, Yudha jadi tersenyum sendiri.

“Hayo senyum-senyum sendiri, kenapa… mikir yang jorok lagi ya…”. Ujar Farah menyelidik.

“Nggak…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Terus kenapa senyum-senyum sendiri?”. Tanya Farah.

“Senang aja sudah bisa mengajak kamu main kerumah. Bisa makan berdua, bisa ngobrol berdua”. Jawab Yudha.

“Oh gitu…”. Ujar Farah. Dia pun sebetulnya merasa senang bisa berdua dengan Yudha. Hanya saja dia masih malu untuk mengungkapkan ini semua.

Jarak antara rumah Yudha dengan rumah Farah memang tidak terlalu jauh. Sebentar saja mereka sudah sampai di depan rumah Farah. Yudha sebetulnya masih ingin berdua dengan Farah, tapi nggak enak sama mama Farah terus-terusan berdua begini padahal mereka belum lama kenal dan tidak punya ikatan apa-apa. Tampak mobil Farah sudah ada didepan rumahnya pertanda mama Farah sudah sampai rumah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan memasuki rumah Farah. Waktu itu hari sudah gelap pertanda malam sudah datang.

“Farah pulang mam…”. Seperti biasa Farah memanggil mamanya ketika sudah sampai rumah. Mama Farah kemudian keluar dari ruang tengah.

“Oh kalian sudah pulang. Hari ini kemana saja?”. Tanya mama Farah. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam tante…”. Ujar Yudha.

“Iya malam juga”. Jawab mama Farah.

“Ah mama, kan tadi Farah sudah bilang kalau ke rumahnya Yudha”. Jawab Farah.

“Iya siapa tau kalian kemana lagi gitu”. Ujar mama Farah.

“Nggak kok tante, tadi sepulang dari syuting kita langsung ke rumah saya”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Kalian sudah makan? Pasti sudah kan…”. Ujar mama Farah tanpa menunggu jawaban dari keduanya.

“Iya sudah mam, tadi aku makan di rumah Yudha mam. Masakannya bi Neni enak mam”. Ujar Farah.

“Bi Neni…?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam, bi Neni itu yang selama ini selalu masak dan bantu-bantu di rumahnya mas Yudha”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar mama Farah.

“Bi Neni di bagian dapur terus mang Ukan yang merawat rumah dan taman”. Terang Farah.

“Oh gitu, anak mama sudah hafal ya sama orang yang ada di rumah Yudha…”. Ujar mama Farah. Yudha tersenyum mendengar percakapan Farah dan mamanya.

“Mama apaan sih”. Kata Farah tersenyum malu.

“Oh iya tante, besok tante masih ada keperluan tidak? Kalau tante masih sibuk biar saya saja yang antar Farah”. Ujar Yudha menawarkan diri.

“Besok tante tidak kemana-mana, jadi besok biar tante saja yang antar Farah”. Jawab mama Farah.

“Oh iya baik tante”. Jawab Yudha, padahal dia masih ingin berdua terus sama Farah. Besok adalah hari terakhir dia di Jakarta. Hari sabtu dia harus kembali ke New York untuk bertugas.

“Lagipula tante nggak enak sama nak Yudha, dari kemarin antar jemput Farah terus, merepotkan nak Yudha terus”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa tante, nggak merepotkan kok”. Jawab Yudha.

“Iya terimakasih sudah antar jemput Farah terus, tapi besok biar tante saja yang antar Farah”. Ujar mama Farah.

Mama Farah sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Yudha. Dia pasti ingin berdua terus sama anaknya. Tapi besok dia memang tidak ada kegiatan, jadi sebaiknya dia saja yang mengantar Farah ke lokasi syuting.

“Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, sudah malam”. Ujar Yudha.

“Oh iya, sekali lagi terima kasih ya sudah bersedia antar jemput Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Yudha kemudian keluar dari rumah diantar Farah. Sebelum masuk ke mobilnya, Yudha berbicara kepada Farah di teras rumahnya.

“Hari sabtu lusa saya mau berangkat lagi ke New York. Kalau kamu tidak ada acara lagi sehabis pulang syuting, saya mau kesini lagi untuk pamitan ya”. Ujar Yudha.

“Oh iya ya, mas Yudha sudah seminggu ya di Jakarta, jadi sabtu berangkat lagi ke New York ya…”. Ada nada kecewa disana.

“Iya saya berangkat hari sabtu, padahal saya masih ingin berlama-lama disini”. Ujar Yudha.

“Oh mas Yudha masih ada urusan di Jakarta?”. Tanya Farah.

“Iya masih ada urusan disini”. Jawab Yudha.

“Urusan apa mas?”. Tanya Farah.

“Urusan hati sama kamu…”. Ujar Yudha tersenyum. Dia ingin sekali-kali bicara seperti ini kepada Farah.

“Mas bisa aja… bisa ternyata ya mas Yudha ngegombal”. Jawab Farah. Pipinya bersemu merah.

“Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati ya”. Jawab Farah. Yudha mengangguk dan berjalan menuju pintu mobilnya. Dia kemudian mulai menyalakan mobilnya, dia melambaikan tangan kepada Farah sambil tersenyum. Farah balas melambaikan tangan. Yudha kemudian meninggalkan rumah Farah.

***

Diplomat Bag. 4 – Tidak Mau Pacaran

Pagi-pagi sekali Farah sudah siap-siap berangkat ke tempat syuting di daerah Kelapa Gading. Pak Maman supirnya sudah datang dari subuh tadi. Mamanya pun sudah bersiap-siap menemani putri tercintanya ke lokasi syuting.

“Ayo sayang kita berangkat. Ini kan hari senin, hari pertama masuk kerja, suka macet di jalan kalau kita nggak cepat berangkat”. Kata mama.

“Iya mam, sebentar Farah bawa kamera nya Yudha, takut nanti dia mau ngambil di lokasi syuting”. Jawab Farah.

“Loh memang dia tahu kamu syuting dimana?”. Tanya mama.

“Tahu sih mam, kemarin dia bilang pengen liat aku syuting dan minta aku ‘share location’ tempat syuting nya”. Jawab Farah.

“Waduh baru sehari kenalan udah mau nengokin syuting…”. Kata mama menggoda Farah.

“Mama apaan sih…”. Ujar Farah malu-malu.

“Oh iya, nanti siang mama mau pergi arisan dulu ya, jadi mobil mama pake dulu ya, nanti kalau kamu sudah selesai syuting kabari mama, nanti pak Maman jemput ke lokasi”. Ujar mama.

“Oke mam, yuk berangkat”. Ajak Farah.

Mereka kemudian berangkat ke lokasi syuting.

***

Yudha pagi-pagi sekali sudah bangun. Bi Neni sudah menyiapkan sarapan untuk majikannya, sementara mang Ukan sedang membersihkan halaman depan.

“Sarapannya sudah siap den, kok pagi-pagi sekali sudah rapi, mau berangkat kemana? Katanya mau istirahat di rumah?”. Tanya bi Neni.

“Tadinya pengen istirahat bi, tapi saya jadi ingat anak-anak di panti, pagi ini mau ngasih oleh-oleh buat mereka sekalian pengen nengok ke sana soalnya sudah lama nggak kesana”. Jawab Yudha.

“Loh bukannya hari ini juga mau ziarah ke makam mama sama papa den?”. Tanya bi Neni sambil menyiapkan roti bakar coklat keju yang masih panas. Yudha biasanya menyantap sepotong roti panggang sebelum beraktifitas. Masih sama seperti dulu ketika orang tuanya masih ada.`

“Iya bi, nanti sehabis dari panti, saya langsung ke makam”. Jawab Yudha.

“Oh iya bi, bibi sama mang Ukan lihat kamera saya nggak?”. Tanya Yudha.

“Nggak den, memangnya aden simpan dimana kameranya?”. Tanya bi Neni.

“Itu dia bi saya lupa semalam saya simpan dimana ya…”. Yudha masih berpikir keras dimana dia simpan kameranya.

“Coba diingat-ingat kemarin den Yudha kemana saja? Siapa tahu ketinggalan di tempat lain”. Tanya bi Neni. Yudha mengingat-ingat kejadian kemarin. Dia mengantar pulang Farah dari resepsi pernikahan Myra. Dia tersenyum sendiri apabila ingat cewek ini, kemarin dia mengantarnya pulang dan sempat foto-foto di depan rumahnya.

“Den… kok senyum-senyum sendiri…”. Kata bi Neni.

“Eh… nggak bi, jadi ingat kemarin saya foto-foto di depan rumah orang”. Jawab Yudha.

“Nah siapa tahu ketinggalan di sana…”. Ujar bi Neni.

“Oh iya bi benar, sepertinya ketinggalan di rumah dia, soalnya waktu pulang saya nggak ingat bawa kamera ke mobil”. Jawab Yudha.

“Foto-foto sama siapa den…?”. Tanya bi Neni.

“Temannya Myra bi, kemarin sehabis dari resepsi saya antar dia pulang. Terus foto-foto di rumahnya”. Jawab Yudha.

“Oh… ya udah den, diambil saja kesana siapa tahu orang nya masih di rumah”. Ujar bi Neni.

“Wah kayaknya orang nya sudah berangkat syuting bi”. Ujar Yudha.

“Syuting den…”. Bi Neni heran.

“Iya bi, artis film, cantik bi hehe…”. Ujar Yudha setelah menyelesaikan sarapannya.

“Nanti saya kenalin sama bibi”. Yudha berkata sambil bersiap-siap pergi. Bi Neni hanya tersenyum mendengar majikannya membicarakan wanita, tumben Yudha membicarakan wanita di meja makan, pikir bi Neni.

“Saya berangkat ya bi…”. Ujar Yudha sambil membawa kunci mobil.

“Iya den, hati-hati”. Jawab bi Neni.

Kemudian Yudha keluar menuju garasi mobilnya.

“Mobilnya sudah saya bersihkan den”. Kata mang Ukan ketika bertemu majikannya di luar rumah. Dia masih menyapu halaman ketika Yudha keluar dari rumah.

“Iya mang makasih ya”. Jawab Yudha.

“Hari ini saya ke panti ya mang, terus mau langsung ke makam”. Kata Yudha setelah dia masuk kedalam mobilnya dan mulai menghidupkan mobilnya.

“Iya den hati-hati, tadi dus yang kemarin aden bawa sudah mamang masukkan ke belakang mobil”. Ujar mang Ukan sambil membuka pintu pagar rumah Yudha.

“Iya mang, makasih ya, saya berangkat ya mang”. Ujar Yudha.

Yudha kemudian mulai menjalankan mobilnya. Dia berniat membeli beberapa keperluan sekolah buat anak-anak di panti. Biasanya sebulan sekali dia berkunjung ke panti sewaktu masih bertugas di Jakarta. Sudah tiga tahun dia tidak melihat anak-anak di panti semenjak dia bertugas di New York.

***

Yudha mengarahkan mobilnya menuju Pasar Senen, lumayan juga lalu-lintas hari ini, agak lumayan padat. Oh iya ini kan hari senin, hari pertama orang kerja, pantas saja agak macet dijalan. Dia membutuhkan waktu yang agak lama untuk menuju Pasar Senen. Disana dia biasanya membeli peralatan sekolah kalau dia mau berkunjung ke panti. Ada toko langganannya yang biasa membuatkan paket peralatan sekolah yang terdiri dari tas, buku dan peralatan tulis menulis.

Yudha memarkirkan mobilnya setelah tiba di depan toko buku langganannya. Kemudian dia turun dari mobil dan masuk ke toko tersebut.

“Selamat pagi koh…”. Kata Yudha setelah dia masuk kedalam toko tersebut.

“Selamat pagi Pak Yudha, wah… sudah lama banget nggak mampir kesini”. Kata ko Ahong pemilik toko tersebut sambil tersenyum dan menyalami Yudha.

“Iya koh, saya tugas di luar negeri tiga tahun ini. Baru pulang lagi kemarin pagi”. Jawab Yudha.

“Ini ada oleh-oleh buat ko Ahong sama anak-anak disini”. Ujar Yudha sambil memberikan satu dus berisi kaos dan beberapa cinderamata gantungan kunci dan hiasan meja. Tadi pagi dia sudah menyiapkan beberapa dus oleh-oleh dari New York. Dia juga menyiapkan beberapa dus untuk dibagikan di panti nanti.

“Wah terimakasih Pak Yudha, pake bawa oleh-oleh segala…”. Kata ko Ahong.

“Sedikit aja koh…”. Kata Yudha.

“Oh iya saya mau beli beberapa paket peralatan tulis menulis, sama sekalian tas nya ya koh”. Lanjut Yudha.

“Ada sudah siap, mau berapa paket?”. Tanya ko Ahong.

“Sekitar tiga puluh koh”. Jawab Yudha.

“Ya sudah sebentar saya ambil dulu di gudang”. Kata ko Ahong sambil masuk kedalam gudang toko tersebut bersama beberapa karyawannya.

Yudha kemudian keluar dan membuka pintu bagasi mobilnya. Disana sudah tertata beberapa dus oleh-oleh yang dibawanya dari New York. Kemudian datang ko Ahong dan beberapa anak buahnya membawa tas yang berisi buku dan peralatan sekolah. Tak lama semua tas yang berisi buku dan peralatan sekolah tersebut sudah masuk semua ke belakang mobil Yudha.

Setelah membayar paket tas yang dia beli kemudian Yudha pamitan kepada ko Ahong.

“Terima kasih koh, saya jalan dulu”. Kata Yudha.

“Iya terimakasih juga Pak Yudha, lain kali mampir lagi”. Kata ko Ahong.

“Iya koh…”. Yudha kemudian pergi meninggalkan toko buku tersebut untuk menuju ke panti tempat dia dulu dibesarkan.

***

Hari-hari di panti adalah hari yang selalu membahagiakan buat Yudha. Para pengasuh panti selalu baik kepada dia dan selalu memberikan yang terbaik kepada Yudha. Tidak heran dia menjadi anak kesayangan di panti tersebut, selain karena rajin dan pintar, Yudha juga tidak pernah membantah apa yang disuruh oleh para pengasuh dan kakak-kakaknya yang ada di panti tersebut. Walaupun dia sebatang kara tetapi semua yang ada di panti tersebut adalah keluarganya yang selalu menjadi penghibur dia setiap hari.

Dia masih ingat dimana hari itu keluarga Prawiranegara datang ke panti untuk mengadopsi anak. Waktu itu dia masih berumur 6 tahun dan sudah bersiap untuk masuk Sekolah Dasar. Dia berpikir akan kehilangan salah satu adik asuhnya yang ada di panti tersebut. Walaupun sebetulnya hal tersebut sudah biasa terjadi di tempatnya, ada saja orang yang datang dan mengadopsi anak yang ada di panti tersebut, mulai dari bayi yang baru bisa duduk maupun anak balita yang sudah bisa berlarian kesana-kemari.

Hari itu ternyata dia yang akan pergi dari panti tersebut. Dia sempat kaget dan tak menyangka setelah diberitahukan oleh pengurus panti yang bernama bu Irma.

“Yudha kesini nak…”. Pinta Bu Irma memanggil Yudha.

“Baik bu…”. Jawab Yudha. Di ruangan Bu Irma sedang dudung dua orang pasangan suami istri Bapak dan Ibu Prawiranegara.

“Sini kasih salam sama bapak dan ibu”. Kata Bu Irma. Kemudian Yudha menyalami Bapak dan Ibu Prawiranegara dengan meletakkan tangan mereka di kening Yudha. Mereka tersenyum ketika melihat Yudha.

“Begini Yud… bapak dan ibu Prawiranegara ini ingin mengangkat anak dari panti ini, tapi beliau ingin nya anak yang sudah agak besar tidak ingin anak yang masih kecil. Nah ibu dan beberapa pengurus yang lain menilai kamu yang paling cocok buat bapak dan ibu ini”. Kata bu Irma. Yudha terkejut bukan main dengan perkataan dari bu Irma. Dia pikir akan kehilangan salah satu adik asuhnya, ternyata dia sendiri yang harus meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah menjadi bagian hidupnya selama ini. Susah senang sudah dia rasakan ketika berada di rumah panti ini.

Bu Irma bertanya lagi dengan lemah lembut kepada Yudha setelah dia melihat anak asuhnya ini terdiam beberapa saat.

“Bagaimana Yudha, kamu bersedia kan…?”. Tanya bu Irma. Bapak dan Ibu Prawiranegara tersenyum kemudian Ibu Prawiranegara mulai bicara.

“Ibu tidak akan memaksa kamu untuk tinggal bersama kami, ya kan pah…”. Ujar Ibu Prawiranegara sambil melirik kepada suaminya.

“Kalau Yudha nanti tidak betah tinggal bersama kami, boleh kok kamu pulang ke sini lagi, tapi nanti semua kebutuhan kamu kita semua yang sediakan”. Kata Ibu Prawiranegara.

Yudha masih terdiam, dia bukannya tidak mau menjadi anak dari keluarga ini, tetapi dia masih berpikir berat untuk meninggalkan rumah panti ini.

“Bagaimana Yud…?”. Tanya bu Irma. Dia yakin Yudha akan menerima Bapak dan Ibu Prawiranegara sebagai orang tua barunya. Yudha seorang anak yang penurut, selama ini dia tidak pernah membantah apa yang diperintahkan oleh dia dan kakak asuhnya.

“Baik bu, saya bersedia”. Jawab Yudha setelah beberapa lama diam.

“Nah gitu dong, ibu tahu kamu anak baik dan anak yang penurut, sekarang kamu siap-siap ya, bawa beberapa barang yang menjadi kebutuhanmu”. Ujar Bu Irma kemudian. Bapak dan Ibu Prawiranegara lega mendengar Yudha bersedia menjadi anak barunya. Mereka sudah diberitahukan oleh pengurus dan beberapa kakak asuh Yudha bagaimana sifat dan perangai Yudha. Mereka semua menyarankan Bapak dan Ibu Prawiranegara untuk mengangkat Yudha sebagai anak angkatnya.

Yudha sudah keluar dari kamarnya dengan membawa tas kecil yang berisi beberapa barang pribadinya. Berat sekali dia meninggalkan panti ini, dimana semua orang yang dia kenal sangat baik kepada dia. Dia sudah berpamitan kepada semua kakak asuhnya dan semua adik asuhnya yang ada di sini. Semua tidak bisa menahan tangis melihat kepergian Yudha. Mereka semua sayang kepada Yudha.

Bapak dan Ibu Prawiranegara melihat ini dan tersenyum kepada Yudha.

“Kalau kamu kangen sama saudara-saudaramu disini, boleh kok sekali-kali kamu main kesini”. Ujar Ibu Prawiranegara. Yudha hanya mengangguk, kemudian dia menyalami Bu Irma. Bu irma kemudian memeluk Yudha.

“Kamu yang betah ya disana, jangan kecewakan Bapak dan Ibu Prawiranegara, semua yang mereka perintahkan harus kamu turuti ya…”. Ujar Bu Irma sambil menangis. Dia berat sekali melepaskan anak kesayangannya ini. Tapi demi kebahagiaan dan masa depan Yudha dia harus merelakannya tinggal dengan Bapak dan Ibu Prawiranegara.

“Baik bu…”. Jawab Yudha.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil yang sudah disediakan oleh Bapak dan Ibu Prawiranegara. Yudha melambaikan tangan kepada Bu Irma dan saudara-saudaranya yang ditinggalkan di panti tersebut. Bapak dan Ibu Prawiranegara tersenyum melihat itu semua, mudah-mudahan anak ini menjadi penerus mereka kelak. Jadilah mulai hari itu Yudha tinggal bersama Bapak dan Ibu Prawiranegara dan mengganti namanya menjadi Yudha Prawiranegara.

***

Sudah lewat jam sepuluh pagi tapi mobil Yudha masih terjebak macet depan ITC Cempaka Mas. Sepertinya dia akan telat sampai ke panti. Nanti di panti dia berencana untuk melepaskan kangen dengan para pengurus panti dan anak-anak disana. Sekalian juga dia ingin foto-foto disana. Oh iya kameraku kan masih ada di rumah Farah, begitu pikir Yudha, tapi kalau ke rumahnya jam segini sudah nggak ada berangkat syuting. Bukannya aku mau melihat Farah syuting ya? Kemarin aku tanya dia berangkat syuting jam berapa dan rencananya dia mau ‘share location’ tempat syutingnya, pikir Yudha.

Yudha kemudian mengeluarkan HP nya dan mencoba menghubungi Farah lewat whatsapp.

‘Hai Farah’

Yudha memulai pembicaraan

‘Hai juga’

Balas Farah

‘Boleh nggak share location kamu sekarang? Itu juga kalau kamu nggak sibuk’

Balas Yudha

‘Nggak kok, saya lagi break syuting, ini saya kirim share location nya’

Balas Farah

‘Oke terima kasih’

Balas Yudha

‘Sama-sama’

Balas Farah

Mereka kemudian mengakhiri komunikasi whatsapp.

Farah sudah mengirim lokasi dia syuting di Kelapa Gading. Yudha kemudian mengarahkan mobilnya ke lokasi yang di maksud.

Setelah sampai di lokasi terlihat banyak orang sedang berkerumun, ada kru dan ada juga orang yang sedang menonton syuting tersebut. Lokasinya ada di daerah Kelapa Gading Utara di deretan ruko-ruko yang tidak banyak kesibukan. Yudha kemudian memarkirkan mobilnya agak jauh dari kerumunan orang tersebut. Dia sudah melihat Farah sedang melaksanakan proses syuting dari kejauhan.

Yudha kemudian perlahan menghampiri lokasi syuting tersebut. Dia berbaur dengan orang yang sedang menonton syuting tersebut. Dia melihat Farah sedang beradu akting dengan lawan mainnya, sementara Farah serius sedang akting sehingga tidak menyadari kehadiran Yudha di tempat itu.

“Cut…”. Kata seorang lelaki yang sedang duduk dari tadi dan memperhatikan syuting yang sedang berlangsung.

“Oke syuting hari ini selesai, besok kita lanjut”. Kata lelaki tersebut lagi.

Kemudian semua orang serentak sibuk membereskan tempat syuting dan peralatannya. Sementara Farah duduk di kursi pemain yang sudah disediakan. Dia kelihatan sendiri tanpa ditemani mama nya. Yudha kemudian melambaikan tangannya ke arah Farah. Farah balas melambaikan tangan dan memanggil Yudha dengan isyarat tangan untuk menghampirinya.

“Hai Farah…”. Ujar Yudha sambil tersenyum ketika dia sudah mendekati Farah.

“Hai juga…”. Jawab Farah sambil tersenyum. Ada beberapa kru yang melihat kejadian langka ini. Farah didatangi laki-laki, siapa ya laki-laki tersebut? Mereka saling berbisik satu sama lain.

“Sudah selesai syuting nya?”. Tanya Yudha.

“Sudah… ini baru selesai. Ayo duduk dulu”. Ajak Farah. Kemudian Yudha duduk di kursi pemain yang sedang kosong.

“Saya mau nanya, apa ada kamera saya yang tertinggal di rumah kamu?”. Tanya Yudha langsung menanyakan kamera yang kemarin dia bawa.

“Oh iya ada, nih kameranya juga saya bawa”. Jawab Farah. Kemudian dia mengeluarkan kamera milik Yudha dari dalam tas nya.

“Wah terimakasih ya, sudah dibawakan sampai ke tempat kamu syuting”. Ujar Yudha.

“Iya sama-sama”. Jawab Farah.

“Kameranya sih gak terlalu penting, yang penting isinya”. Ujar Yudha tersenyum.

“Isinya foto Mas Yudha kan…?”. Tanya Farah tapi kemudian dia menutup mulutnya sambil tersenyum malu.

“Maaf ya, saya semalam lihat-lihat isi kamera nya mas Yudha, saya nggak minta izin dulu”. Lanjut Farah.

“Nggak apa-apa, nggak ada rahasia kok”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Yang penting bukan foto saya, tapi foto yang kemarin kita ambil di rumahmu”. Lanjut Yudha lagi, Farah tersenyum mendengar perkataan Yudha. Sejak kapan aku malu-malu di depan cowok, begitu pikir Farah.

“Ehem…ehem…”. Ada lelaki yang berdehem di samping Farah. Farah kemudian melihat ke arah suara tersebut. Ternyata sutradara nya bang Yopy yang berdehem.

“Eh bang Yopy…”. Ujar Farah.

“Siapa nih…?”. Tanya bang Yopy sambil melihat kepada Yudha.

“Oh ini Yudha bang, teman saya. Mas Yudha ini kenalkan sutradara saya namanya bang Yopy”. Jawab Farah. Kemudian bang Yopy dan Yudha bersalaman.

“Kamu cocok kayaknya kalau main film, nggak tertarik buat jadi artis?”. Tanya bang Yopy kepada Yudha.

“Nggak bisa bang… dia sudah kerja”. Farah yang menjawab. Yudha hanya tersenyum.

“Kan nggak apa-apa sambil kerja juga”. Lanjut bang Yopy lagi.

“Nggak bisa bang…”. Farah lagi-lagi menjawab.

“Kamu tuh dari tadi jawab terus, biar Yudha dong yang jawab”. Kata bang Yopy lagi.

“Mohon maaf saya nggak bisa bang…”. Akhirnya Yudha menjawab juga.

“Kenapa…? kayaknya kamu cocok jadi pemeran utama”. Kata bang Yopy.

“Yudha itu diplomat bang, kerja nya di luar negeri terus”. Farah juga yang menjawab. Yudha kembali tersenyum.

“Oh diplomat… eh ini gebetan kamu ya…?”. Tanya bang Yopy kepada Farah.

“Abang ada-ada saja, ini tuh sahabatnya Myra, dia baru datang dari New York, kemarin juga hadir di resepsi nya Myra, abang memang nggak lihat dia nyanyi kemarin?”. Tanya Farah.

“Oh sahabatnya Myra, oh iya saya dengar ada yang nyanyi tapi nggak tahu siapa orangnya, suaranya bagus…”. Lanjut bang Yopy.

“Hehe terima kasih bang…”. Ujar Yudha.

“Ya sudah kalian lanjut lagi, tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin jadi artis, kontak saya ya…”. Kata bang Yopy masih gigih mengajak Yudha menjadi pemain film.

“Oke bang terima kasih”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kamu sendirian…?”. Tanya Yudha kepada Farah setelah bang Yopy pergi.

“Tadi dianter sama mama, tapi mama pergi lagi mau arisan katanya, nanti mau jemput lagi kalau sudah selesai”. Jawab Farah.

“Tapi kok belum datang…?”. Tanya Yudha.

“Iya nih, mama suka kebiasaan kalau gini. Tadi sudah aku telpon katanya masih di tempat teman arisannya”. Jawab Farah.

“Kalau tidak keberatan, boleh saya antar kamu pulang?”. Tanya Yudha. Mumpung ada kesempatan lagi buat mendekati Farah, pikir Yudha.

“Ah nggak usah, nanti merepotkan”. Jawab Farah.

“Nggak kok… nggak merepotkan”. Ujar Yudha.

“Tapi mas Yudha nggak ada acara kemana-mana kan…?”. Tanya Farah.

“Ada sih… tapi bukan acara resmi, hanya mau ke panti saja lihat anak-anak”. Jawab Yudha. Farah kemudian teringat cerita Myra kemarin, sewaktu dia tanya mengenai panti dan anak-anak, dia tidak mau menjawab dan berkata nanti juga kamu tahu sendiri. Jadi penasaran, ada apa dengan panti dan anak-anak? Pikir Farah.

“Nanti saya antar kamu pulang, tapi sebelumnya saya nengok anak-anak dulu di panti. Bagaimana?”. Tanya Yudha.

“Tenang… saya nggak akan macam-macam kok…”. Ujar Yudha tersenyum.

“Bukan begitu, saya takut mengganggu acara mas Yudha”. Jawab Farah.

“Nggak kok… sama sekali nggak mengganggu”. Ujar Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, sebentar saya telpon mama dulu biar dia nggak jemput kesini”. Ujar Farah.

Kemudian Farah menghubungi mamanya yang sedang arisan.

“Halo mam, arisan nya masih lama?”. Tanya Farah.

“Iya mama masih di tempat arisan”. Jawab mama.

“Kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama.

“Iya sudah selesai mam”. Jawab Farah.

“Ya sudah mama suruh pak Maman jemput kamu ya…”. Lanjut mama.

“Eh gak usah mah…”. Jawab Farah.

“Loh kok nggak usah. Katanya syuting nya sudah selesai”. Mama bertanya keheranan.

“Mmmm boleh nggak aku pulang diantar Yudha…?”. Tanya Farah.

“Oh Yudha ada disitu. Ya sudah kalau Yudha mau antar kamu pulang boleh. Tapi hati-hati ya…”. Jawab mama. Anak semata wayang nya sepertinya sudah punya perasaan sama pemuda ini. Jadi biarlah, mungkin mereka sedang mau jalan berdua.

“Makasih ya mam… sampai ketemu di rumah ya…bye”. Farah mengakhiri pembicaraan dengan mamanya.

“Yuk mas kita berangkat”. Ajak Farah kepada Yudha.

“Ayo…”. Jawab Yudha. Kemudian Farah dan Yudha menghampiri bang Yopy yang sedang duduk sambil membaca ‘script’.

“Bang saya pulang dulu ya…”. Ujar Farah.

“Ok… kok gak diantar mama?”. Tanya bang Yopy.

“Saya diantar mas Yudha bang”. Jawab Farah. Yudha mengangguk dan tersenyum kepada bang Yopy.

“Oke hati-hati sampai ketemu besok ya. Jangan lupa besok syuting di Rawamangun ya…”. Lanjut bang Yopy.

“Oke bang, saya jalan dulu, bye”. Farah kemudian berjalan berdua dengan Yudha menuju mobil Yudha yang diparkir agak jauh dari lokasi syuting.

Yudha membukakan pintu mobil untuk Farah ketika mereka sudah berada di samping mobil Yudha.

“Terima kasih…”. Ujar Farah. Yudha tersenyum dan menutup kembali pintu mobil setelah Farah naik. Kemudian dia bergegas masuk ke pintu sebelah kanan dimana kemudi mobil berada. Setelah duduk kemudian Yudha menghidupkan mobilnya.

“Bang Yopy lucu ya…”. Ujar Yudha sambil menjalankan mobilnya.

“Lucu bagaimana…?”. Tanya Farah.

“Itu tadi langsung ngajak main film”. Jawab Yudha.

“Mungkin mas Yudha cocok kali jadi artis”. Ujar Farah sedikit menggoda.

“Wah mana ada saya tampang artis. Lagipula saya nggak bisa akting sama sekali. Kalau nyanyi sih boleh…”. Jawab Yudha.

Mobil Yudha sudah keluar dari daerah Kelapa Gading. Kemudian berbelok ke arah timur menuju Jalan Raya Bekasi. Di daerah Bekasi Baratlah tempat panti asuhan Yudha berada, tempat dia tinggal sampai usia enam tahun.

“Kita mau ke daerah mana mas?”. Tanya Farah.

“Kita mau ke daerah Pekayon Bekasi Barat. Disana ada panti asuhan anak-anak. Saya sudah lama tidak kesana. Dan saya bawa oleh-oleh buat mereka, itu sudah saya siapkan di belakang”. Kata Yudha. Dia berkata tanpa bermaksud menyombongkan diri kepada Farah.

Farah menengok kebelakang, dia melihat ada setumpuk kardus dan tas yang tersusun rapi di belakang.

“Nanti kamu tolong bantu bagikan ya, mau kan…”. Pinta Yudha.

“Oh iya boleh”. Jawab Farah. Farah masih penasaran dengan sikap Yudha. Dia juga tahu banyak orang-orang kaya yang biasa menyumbang ke panti asuhan. Tapi ada sesuatu dengan Yudha yang dia belum ceritakan.

Yudha melihat sekilas wajah Farah. Sepertinya dia penasaran dengan sikap Yudha. Nanti setibanya di panti akan dia ceritakan semuanya.

“Kamu penasaran ya…?”. Tanya Yudha. Farah hanya tersenyum dan mengangguk.

“Nanti saya ceritakan sesampainya disana. Tuh tempatnya sudah kelihatan”. Ujar Yudha. Kemudian mobilnya dia belokkan ke sebuah panti asuhan yang sangat asri. Masih banyak pepohonan disana. Yudha kemudian memarkirkan kendaraannya dekat dengan pintu masuk panti tersebut.

Yudha kemudian turun dari mobil diikuti oleh Farah. Belum lagi mereka masuk sudah ada yang berteriak dari dalam.

“Kak Yudha datang… hore kak Yudha datang…”. Teriak seorang anak kecil dari dalam. Kemudian bermunculan lah anak kecil seusia sekolah dasar yang menyambut Yudha dan mengelilinginya. Mereka semua berebut menyalami Yudha.

“Ayo semuanya berbaris. Kak Yudha mau ngasih kalian hadiah”. Ujar Yudha kemudian dia membuka pintu bagian belakang mobilnya. Anak-anak tersebut kemudian berebut berbaris dan ingin lebih dahulu menerima hadian dari Yudha.

“Sini saya bantu”. Ujar Farah tanpa diminta ketika Yudha sudah membuka pintu belakang mobilnya. Yudha tersenyum dan kemudian menyerahkan tas yang berisi buku dan alat tulis kepada Farah. Satu persatu tas tersebut diberikan Farah kepada anak-anak yang sudah berbaris. Mereka menerima tas tersebut dengan suka cita sambil mengucapkan terimakasih dan menyalami Farah.

Terus terang ini adalah pengalaman baru buat Farah. Dia belum pernah datang ke panti asuhan sebelumnya. Setelah semua anak mendapatkan tas nya masing-masing, mereka kemudian berlarian kembali masuk kedalam rumah. Tinggal tersisa beberapa anak yang sudah agak besar.

“Santi, Edo dan yang lain ayo sini”. Yudha memanggil mereka semua untuk mendekat ke mobilnya. Dia kemudian menyerahkan beberapa dus yang masih tersisa di mobilnya.

“Ini ada oleh-oleh buat kalian semua, nanti dibagi rata ya semuanya”. Ujar Yudha.

“Iya kak, terima kasih kak”. Jawab mereka sambil mereka menerima dus-dus dari dalam mobil Yudha. Kemudian mereka semua masuk kembali kedalam rumah. Tinggal seorang wanita setengah baya yang masih berdiri melihat semua kejadian barusan.

Yudha kemudian menghampiri wanita tersebut setelah menutup pintu belakang mobilnya. Dia berjalan diikuti oleh Farah.

Yudha kemudian menyalami wanita tersebut dengan meletakkan tangan wanita tersebut di keningnya.

“Apa kabar bu?”. Tanya Yudha. Kemudian wanita tersebut memeluk Yudha. Seperti seorang ibu yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan anaknya. Jangan-jangan ini ibu nya Yudha. Tapi kan mama papa Yudha sudah meninggal kecelakaan, Farah berkata dalam hati.

“Ibu sehat kan…?”. Tanya Yudha.

“Iya alhamdulillah ibu sehat. Ibu kangen sama kamu. Kamu makin ganteng aja, betah ya di New York”. Ujar wanita tersebut yang ternyata adalah Bu Irma yang mengurus Yudha dari semenjak bayi.

“Alhamdulillah betah bu”. Jawab Yudha. Bu Irma kemudian melirik ke arah Farah setelah melepas kangen dengan Yudha.

“Ini siapa…?”. Tanya bu Irma.

“Oh iya… ini namanya Farah bu. Dia artis film juga sama seperti Myra. Dia sahabatnya Myra bu”. Jawab Yudha. Kemudian Farah menyalami bu Irma sama seperti Yudha menyalaminya.

“Oh iya ayo silahkan duduk”. Ajak bu Irma. Kemudian mereka duduk di ruang depan panti tersebut.

“Kamu kapan pulang dari New York? Kok nggak ngasih kabar?”. Tanya Bu Irma.

“Saya datang kemarin pagi bu, langsung ke resepsinya Myra”. Jawab Yudha.

“Saya hanya dapat cuti seminggu buat menghadiri resepsi Myra. Sabtu depan saya sudah harus kembali lagi ke New York. Kan tinggal dua bulan lagi saya selesai tugas di New York”. Lanjut Yudha.

“Oh iya kemarin resepsinya Myra ya. Ibu nggak bisa datang, maklum di panti tidak ada yang jaga kalau ibu pergi”. Ujar bu Irma.

“Iya bu, Myra juga maklum kok”. Lanjut Yudha. Bu Irma kemudian melirik ke arah Farah dan kemudian ke arah Yudha. Dia memberi kode kepada Yudha. Yudha mengerti apa yang ingin ditanyakan ibu asuhnya ini. Dia kemudian tersenyum.

“Kemarin setelah selesai resepsi pernikahan Myra, saya dikenalkan dengan Farah oleh Myra bu”. Ujar Yudha. Farah tersenyum.

“Karena mama nya Farah telat jemput dia di resepsi, jadi Yudha yang antar dia sampai rumahnya”. Lanjut Yudha.

“Oh begitu”. Ujar bu Irma.

“Cantik…”. Bu Irma berkata kepada Yudha tanpa suara. Yudha tersenyum.

“Mas Yudha sudah sering datang kesini?”. Tanya Farah. Yudha hanya tersenyum.

“Jadi begini Far… saya sebetulnya anak panti sini. Ini namanya bu Irma, beliau yang merawat saya mulai dari bayi sampai usia enam tahun. Bu Irma juga tidak tahu siapa bapak dan ibu saya, yang dia ingat ada seorang gadis muda yang menitipkan seorang bayi pada waktu malam hari, dan gadis muda tersebut tidak memberitahukan jati dirinya kepada bu Irma. Setelah menitipkan saya, gadis itu langsung pergi begitu saja. Semenjak bayi hingga usia enam tahun saya dirawat oleh bu Irma, jadi bu Irma juga sudah saya anggap ibu sendiri. Pada saat usia saya enam tahun datanglah Bapak dan Ibu Prawiranegara kesini, mereka bermaksud untuk mengangkat saya menjadi anak mereka karena mereka belum dikaruniai seorang anak. Sejak saat itu lah saya diangkat anak oleh mereka dan disekolahkan sampai bisa meneruskan cita-cita mereka menjadikan anaknya seorang diplomat, karena mereka pun adalah seorang diplomat”. Yudha berbicara panjang lebar kepada Farah. Farah kemudian mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Ibu sebetulnya juga berat melepas Yudha waktu itu, Yudha anak yang baik, rajin, pintar dan tidak pernah membantah apa yang ibu perintahkan. Tapi demi masa depan Yudha, ibu merelakan dia menjadi anak bapak dan ibu Prawiranegara”. Lanjut bu Irma.

“Semua kakak asuh dan pengurus panti ini sayang sekali sama Yudha, waktu Yudha akan pergi semua menangis tak terkecuali ibu”. Lanjutnya lagi.

Farah hanya terdiam mendengar penjelasan bu Irma. Matanya sedikit berkaca-kaca mendengar semua cerita tentang Yudha. Pantas saja Myra berkata begitu ketika dia menanyakan tentang panti yang dimaksud Yudha. Tak disangka perjalanan hidup pemuda di samping nya ini.

“Udah ah bu, saya kok jadi sedih ya kalau ingat semua itu”. Ujar Yudha.

“Iya Yud… tapi alhamdulillah ya sekarang kamu sudah berhasil, kamu sudah bisa mewujudkan cita-cita mama dan papamu”. Ujar bu Irma.

“Oh iya bu, setelah dari sini saya akan langsung ke makam mama sama papa. Jadi saya gak lama ya bu. Saya pamit ya… nanti saya kesini lagi”. Yudha berkata sambil berdiri.

“Loh kok buru-buru…”. Ujar bu Irma.

“Iya bu kan saya harus mengantar putri cantik ini ke rumahnya”. Kata Yudha. Farah hanya tersenyum.

“Oh iya ya… ya sudah kalian hati-hati di jalan”. Ujar bu Irma.

Kemudian Yudha dan Farah menyalami bu Irma. Mereka berdua berjalan ke arah mobil Yudha. Seperti biasa Yudha yang membukakan pintu mobil untuk Farah. Mobil Yudha kemudian meninggalkan panti tersebut.

“Kok jadi diam…?”. Tanya Yudha kepada Farah setelah mereka berada di Jalan Raya Bekasi mengarah ke Jakarta.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Farah.

“Kaget ya waktu tahu saya sebetulnya anak panti…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.

“Iya… kaget juga sih. Tapi saya salut sama mas Yudha. Walaupun mas sekarang tidak punya saudara lagi tapi masih ingat sama anak-anak di panti sana”. Jawab Farah.

“Ya mereka juga sudah saya anggap saudara sendiri, kalau ingat anak-anak tadi saya jadi teringat diri saya sendiri ketika masih kecil”. Jawab Yudha.

“Luar biasa ya perjalanan hidup mas Yudha. Tapi sekarang mas Yudha sudah berhasil ya, sudah bisa mewujudkan cita-cita mama sama papa mas Yudha”. Ujar Farah.

“Ya… ini juga semua berkat didikan mama sama papa, mereka berdua selalu memberikan nasehat yang berguna sewaktu dulu masih ada”. Jawab Yudha.

“Oh iya… kita langsung ke rumah kamu ya…”. Kata Yudha kemudian.

“Loh katanya mas Yudha mau ke makam mama papa?”. Tanya Farah.

“Ya maksudnya nanti kalau sudah antar kamu sampai rumah…”. Jawab Yudha.

“Boleh saya ikut mas Yudha ziarah ke makam?”. Tanya Farah.

“Boleh saja… tapi kamu nggak ada acara lagi? Nanti kalau mama kamu nyari kamu gimana?”. Tanya Yudha.

“Nanti saya bilang sama mama kalau saya belum sampai rumah”. Jawab Farah.

“Kamu bener mau mengantar saya ke makam?”. Tanya Yudha. Farah hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Yudha.

“Oke deh kalau gitu, kita ziarah dulu ya…”. Ujar Yudha. Kemudian Yudha mengarahkan mobilnya menuju pemakaman yang ada di daerah Pondok Kopi, disanalah tempat mama dan papanya dimakamkan.

Setelah sampai ke pemakaman, kemudian Yudha dan Farah turun dari mobil dan berjalan menuju ke komplek pemakaman tersebut. Di depan pintu masuk sudah berjajar ibu-ibu yang menjual bunga tabur dan air yang biasa digunakan oleh para peziarah di tempat pemakaman tersebut. Yudha membeli dua kantong bunga tabur dan dua botol air.

Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam area pemakaman. Makam-makam yang ada disini berjajar rapi dan kelihatan bersih dari kotoran sampah dan dedaunan. Maklum komplek pemakaman ini dikelola oleh pemerintah daerah. Sesampainya di makam orang tuanya, Yudha kemudian duduk di samping makam tersebut, Farah pun ikut duduk di samping Yudha. Makam mama papa Yudha dibuat berdampingan satu sama lain. Makamnya tampak bersih dan rapi, wajar saja karena setiap pekan mang Ukan selalu datang kesini dan membersihkan makam ini.

Yudha kemudian melafalkan ayat suci dan berdoa sambil mengangkat tangannya. Setelah selesai kemudian dia menaburkan bunga dan menyiramkan air ke atas tanah makam. Farah ikut membantu menaburkan bunga dan menyiramkan air. Pertama mereka menaburkan bunga dan menyiramkan air diatas makam mamanya kemudian berlanjut ke atas makam papanya.

Setelah selesai, Yudha mengusapkan tangannya di atas pusara mamanya. Kemudian dia melakukannya juga di atas pusara papanya.

“Mah… pah… Yudha datang. Maaf Yudha baru bisa ziarah lagi. Semoga mama dan papa bahagia disana, Yudha selalu berdoa buat mama dan papa”. Ujar Yudha yang tampak bersedih.

Di Samping nya nampak Farah meneteskan air mata. Dia merasakan sekali kesedihan Yudha yang ditinggalkan sekaligus oleh kedua orangtuanya. Yudha kemudian melirik ke arah Farah.

“Yudha datang bersama teman baru Yudha, namanya Farah”. Yudha berkata seolah orang tuanya bisa mendengar apa yang dia katakan.

“Mama sama papa yang tenang ya disana, Yudha banyak teman yang menyayangi Yudha, anak-anak panti dan bu Irma juga menyayangi Yudha”. Lanjut Yudha kemudian.

Yudha dan Farah kemudian terdiam. Pikiran keduanya melayang-layang ke masa lalu. Yudha teringat kedua orang tuanya sedangkan Farah jadi teringat papanya.

Yudha kemudian tersadar dan segera bangkit berdiri.

“Mah… pah… Yudha pulang dulu ya, nanti Yudha kembali lagi kesini”. Ujar Yudha.

“Yuk… Far…”. Ajak Yudha kepada Farah. Farah mengangguk. Kemudian mereka berjalan berdua menyusuri pemakaman menuju pintu keluar. Farah sepertinya mengalami kesulitan ketika berjalan menyusuri area pemakaman. Yudha memperhatikan hal itu. Yudha kemudian memegang tangan Farah supaya tidak terjatuh. Farah kaget melihat tangan nya di pegang Yudha, tapi dia pun tidak berusaha untuk menghindar atau melepaskan pegangan tangan Yudha. Jadilah mereka berpegangan tangan sampai keluar dari area pemakaman.

Yudha melepaskan pegangan tangannya ketika dia membukakan pintu mobil untuk Farah. Kemudian Yudha masuk dan mulai menghidupkan mobilnya.

“Maaf ya tadi saya jadi membuatmu menangis…”. Ujar Yudha.

“Nggak apa-apa”. Jawab Farah.

“Maaf juga tadi saya pegang tangan kamu, takut kamu jatuh…”. Ujar Yudha lagi.

“Iya nggak apa-apa”. Kali ini Farah berkata sambil tersenyum. Biasanya kalau ada laki-laki yang menyentuhnya dia akan menepis tangan tersebut. Kecuali mungkin di film yang dia bintangi. Tapi itu juga sebatas pegang tangan saja nggak lebih. Farah tidak mau beradegan lebih dari itu. Makanya dia selalu pilih-pilih peran yang akan dia terima, jangan sampai ada adegan mesra di dalamnya, apalagi kalau sampai ada adegan ciuman, wah sudah deh dia tolak mentah-mentah film tersebut.

Tapi sekarang ketika dia tidak sedang main film, kemudian ada laki-laki yang memegang tangannya dia diam saja. Apa ya yang salah denganku, begitu pikir Farah.

“Oh iya, kamu sudah kasih tau mama kamu kalau kita sudah mau pulang ke rumah?”. Tanya Yudha.

“Oh iya sebentar saya telpon mama dulu”. Jawab Farah. Kemudian dia mengeluarkan HP nya dan menelpon mamanya.

“Halo mam, sudah sampai mana?”. Tanya Farah.

“Mama masih di tempat arisan”. Jawab mama Farah.

“Tapi sebentar lagi mama pulang kok. Kamu tunggu ya…”. Lanjutnya lagi.

“Oke mam…”. Jawab Farah, kemudian dia menutup telpon nya.

“Mama masih di tempat arisan, mana jauh lagi tempatnya”. Ujar Farah.

“Jadi masih lama…”. Tanya Yudha.

“Mama bilang sih sebentar lagi mau pulang. Tapi perjalanan dari sana lumayan jauh, di Jakarta Barat”. Jawab Farah.

“Bagaimana kalau kita makan dulu? Kamu pasti lapar kan?”. Tanya Yudha.

“Iya sih, tapi dari tadi saya diantar mas Yudha terus. Nggak enak ah merepotkan terus”. Jawab Farah.

“Nggak kok tenang aja. Saya punya langganan bakmi ayam yang enak di Rawamangun”. Ujar Yudha.

“Bakmi ayam suka kan…?”. Tanya Yudha.

“Suka sih… tapi bener nggak merepotkan mas Yudha…?”. Tanya Farah ingin meyakinkan.

“Nggak kok… yuk berangkat”. Yudha berkata sambil menjalankan mobilnya.

***

Bakmi langganan Yudha tidak terlalu jauh letaknya dari pemakaman di Pondok Kopi. Sepanjang jalan mereka berdua tetap melanjutkan obrolan. Sesampainya disana Yudha kemudian memarkirkan kendaraanya dan turun bersama dengan Farah.

“Oh Bakmi Aseng…”. Ujar Farah.

“Sering kesini juga…?”. Tanya Yudha.

“Nggak sering sih tapi pernah beberapa kali makan disini, memang enak bakmi nya”. Jawab Farah.

“Kalau begitu gak salah saya ngajak kamu kesini. Selera kita gak jauh beda ya…”. Ujar Yudha. Farah hanya tersenyum mendengar perkataan Yudha.

“Yuk masuk…”. Ajak Yudha. Kemudian mereka masuk dan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan. Meja yang mereka tempati hanya cukup untuk dua orang. Jadilah mereka duduk berhadap-hadapan.

“Mas bakmi nya dua ya…”. Ujar Yudha kepada pelayan.

“Minumnya apa mas?”. Tanya pelayan tersebut.

“Kamu mau minum apa Far…?”. Tanya Yudha kepada Farah.

“Saya es teh manis saja”. Jawab Farah.

“Es teh manis nya dua ya”. Jawab Yudha kepada pelayan tersebut.

“Mas Yudha sering makan disini?”. Tanya Farah.

“Dulu sebelum tugas di luar sih lumayan sering”. Jawab Yudha.

“Sudah lama nggak kesini, kangen sama makanan di Jakarta”. Lanjut Yudha.

“Mas Yudha di New York jarang makan makanan Indonesia ya…”. Tanya Farah.

“Ya begitu lah… makanan disana kebanyakan ‘junk food’. Terus agak susah nyari makanan halal disana. Waktu pertama sampai disana saya sampai nyari-nyari ke pinggiran, akhirnya ketemu sama komunitas India. Lumayan mereka banyak menyajikan masakan halal”. Jawab Yudha.

Kemudian datang pelayan yang membawa pesanan bakmi ayam dan es teh manis. Mereka melanjutkan obrolan sambil mulai menyantap bakmi.

“Jadi disana nggak pernah makan masakan Indonesia dong…”. Tanya Farah.

“Nggak juga sih, kadang sesekali makan di kantor, ada juru masak asal Indonesia di sana, tapi khusus untuk Kepala KJRI sama keluarganya. Kita biasanya makan bareng di kantor seminggu sekali”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah.

“Tapi rasanya tetap beda dengan masakan asli Indonesia”. Lanjut Yudha.

“Susah kali nyari bahan-bahannya ya mas…”. Ujar Farah.

“Iya… katanya harus langsung bawa dari sini kalau mau enak”. Jawab Yudha.

“Yang enak waktu saya tugas di Belanda. Disana banyak banget masakan Indonesia. Bahkan masakan tradisional pun sudah banyak yang beredar di sana”. Lanjut Yudha.

“Oh ya… Kok bisa mas…?”. Tanya Farah.

“Iya saya juga heran, bahkan di minimarket disana sudah banyak masakan Indonesia kalengan. Mulai dari rendang sampai sayur asem ada”. Jawab Yudha.

“Oh gitu, mas Yudha masakan favoritnya apa?”. Tanya Farah. Kok aku jadi nanya-nanya sih… pikir Farah. Tapi kemudian Yudha menjawab sehingga Farah tidak memikirkan lagi apa yang ada di pikirannya.

“Saya paling suka sayur lodeh. Kalau di rumah biasanya ada bi Neni yang masak sayur lodeh”. Jawab Yudha.

“Bi Neni…?”. Tanya Farah.

“Di rumah ada yang bantu-bantu masak namanya bi Neni. Dia yang selalu masak sejak saya kecil”. Jawab Yudha.

“Tapi sewaktu saya makan sayur lodeh kalengan di Belanda, ternyata masakan si bibi kalah enaknya”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kalau kamu paling suka masakan apa?”. Tanya Yudha.

“Kalau saya makan apa saja yang dimasak sama mama”. Jawab Farah.

“Wah mama kamu jago masak dong…”. Ujar Yudha.

“Ya nggak juga, mama banyak masak masakan sunda, soalnya mama kan keturunan sunda”. Jawab Farah.

“Wah boleh tuh kalau saya sesekali mencicipi masakan mama kamu…”. Ujar Yudha.

“Pasti mama kamu juga bisa masak sayur lodeh”. Lanjut Yudha.

“Iya pernah juga sih masak sayur lodeh”. Jawab Farah.

“Yuk kita pulang…”. Ajak Yudha. Mereka sudah selesai makan dan Yudha sudah menyelesaikan pembayaran di kasir. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah mobil Yudha.

“Terimakasih ya saya sudah di traktir makan”. Ujar Farah.

“Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih”. Jawab Yudha sambil membukakan pintu mobil untuk Farah seperti biasa. Farah kemudian naik ke mobil dan Yudha menutup pintu mobilnya.

“Kamu sudah menemani saya ke panti sampai ziarah ke makam mama sama papa”. Ujar Yudha setelah dia berada di belakang kemudi mobilnya.

“Iya sama-sama, seru juga ya di panti banyak anak-anak”. Kata Farah.

“Seru ya…”. Ujar Yudha sambil menjalankan mobilnya menuju rumah Farah.

“Iya rame, kalau saya kan di rumah hanya berdua saja sama mama, paling kalau siang cuma ada pak Maman saja yang menemani”. Ujar Farah.

“Oh gitu, nanti kalau saya kesana lagi mau ikut?”. Tanya Yudha.

“Boleh nanti kasih tahu saja kapan mas Yudha kesana”. Jawab Farah.

“Oh iya mas Yudha rencananya mau kemana saja liburan seminggu?”. Tanya Farah.

“Belum tahu sih, rencana buat menjenguk anak-anak di panti sudah, ziarah sudah. Paling saya di rumah saja”. Jawab Yudha.

“Oh begitu mas…”. Ujar Farah.

“Eh besok kamu syuting dimana?”. Tanya Yudha.

“Di daerah Rawamangun mas?”. Jawab Farah.

“Boleh nggak saya lihat kamu syuting besok?”. Tanya Yudha.

“Mmmm… boleh aja sih”. Jawab Farah. Wah jangan-jangan dia mau ngajak aku jalan lagi kayak hari ini, pikir Farah.

“Besok tolong ‘share location’ ya tempatnya dimana…”. Ujar Yudha.

“Boleh… besok saya ‘share location’ tempatnya”. Ujar Farah.

Mobil Yudha sudah sampai di depan rumah Farah. Waktu sudah menunjukkan jam tiga sore, lumayan juga hari ini dia bareng sama Farah terus. Terlihat mobil Farah sudah ada di rumah, berarti mamanya sudah pulang.

“Yuk mas masuk dulu…”. Ajak Farah.

“Iya…”. Kali ini Yudha tidak berpikir dua kali untuk menerima ajakan Farah mampir ke rumahnya.

Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah Farah.

“Mama… Farah pulang…”. Teriak Farah ketika dia membuka pintu depan rumahnya. Dia kemudian duduk di ruang tamu.

“Duduk mas…”. Ajak Farah.

“Iya terimakasih”. Jawab Yudha.

“Eh anak mama sudah pulang”. Mama Farah masuk ke ruang tamu dari dalam.

“Sore tante…”. Kemudian Yudha menyalami mama Farah seperti kemarin.

“Aduh maaf ya sudah merepotkan nak Yudha sampai jemput Farah di lokasi syuting”. Ujar mama Farah.

“Iya gak apa-apa tante. Malah saya yang terima kasih tadi sudah ditemani seharian sama Farah”. Jawab Yudha.

“Oh iya, besok kamu syuting dimana sayang?”. Tanya mama kepada Farah. Dia berpikir kemana saja anaknya dibawa sama Yudha? Dia akan tanyakan setelah Yudha pulang.

“Besok syuting di Rawamangun”. Jawab Farah.

“Besok seperti biasa ya, mama drop kamu disana, soalnya mama ada janji sama jeng Tika teman arisan mama. Dia ngajak mama bisnis”. Ujar mama Farah.

“Yah mama… biasa nih kalau sudah sama tante Tika pasti lupa sama Farah”. Ujar Farah.

“Bukan begitu, kan ini juga demi kamu. Kalau bisnis mama lancar, kan kamu gak usah capek-capek syuting lagi”. Jawab mama Farah. Yudha mendengarkan dengan seksama percakapan kedua orang ini. Jadi mama Farah bisnis juga selain nganter anaknya.

“Ya sudah deh kalau begitu, tapi mama nanti kasih kabar ya”. Ujar Farah.

“Iya…”. Jawab mama Farah.

“Oh iya kalian sudah makan?”. Tanya mama Farah.

“Sudah mam, tadi Farah makan bakmi ayam di Rawamangun bareng Yudha”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau begitu, mama tinggal dulu kedalam. Oh iya nak Yudha mau minum apa?”. Tanya mama Farah. Yudha sudah mau menjawab tapi Farah lebih dahulu bicara.

“Biar Farah yang ambil mam”. Jawab Farah.

“Oh iya”. Mama Farah heran dengan sikap anaknya.

Farah dan mamanya kemudian masuk kedalam dan terus menuju ke ruang makan.

“Kok kamu yang ambil minum?”. Tanya mama Farah.

“Nggak apa-apa mam…”. Ujar Farah tersenyum. Dia kemudian menuangkan air putih kedalam gelas.

“Tadi kalian kemana saja…?”. Tanya mama.

“Nanti aja ya Farah cerita kalau orang nya sudah pulang”. Jawab Farah kemudian dia menuju ke ruang tamu membawa segelas air putih.

“Silahkan diminum mas…”. Ujar Farah sambil duduk di ruang tamu.

“Iya terima kasih”. Jawab Yudha.

“Mas Yudha minumnya air putih terus…”. Tanya Farah.

“Iya memang saya banyak minum air putih tapi minum yang lain juga suka, tadi kan minum es teh manis juga waktu makan bakmi”. Jawab Yudha.

“Oh iya ya, mas Yudha nggak merokok?”. Tanya Farah.

“Nggak saya nggak pernah merokok”. Jawab Yudha. Farah lega, dia memang nggak begitu suka sama laki-laki perokok. Kenapa aku jadi lega ya? Pikir Farah.

“Memang kenapa…”. Tanya Yudha penasaran.

“Saya nggak suka asap rokok, suka pusing… syukur deh mas Yudha nggak merokok”. Jawab Farah. Kenapa dia bersyukur aku nggak merokok? Pikir Yudha.

“Oh iya besok kamu berangkat syuting jam berapa?”. Tanya Yudha.

“Sekitar jam delapan pagi. Besok syuting nya agak lama, soalnya ‘scene’ nya agak banyak nggak seperti tadi hanya sedikit ‘scene’ nya”. Jawab Farah.

“Oh gitu, besok saya ke tempat syuting kamu jam sepuluh pagi ya”. Ujar Yudha.

“Iya boleh”. Jawab Farah. Mereka berdua kemudian terdiam. Pikiran mereka berdua sedang berkelana ke masa depan.

Yudha sedang berpikir untuk terus mendekati Farah dan mungkin suatu saat akan mengajaknya menikah. Hah… menikah… apa aku sudah punya rencana sejauh itu sama Farah? Apa Farah mau aku ajak nikah? Baru saja kenal dua hari. Tapi aku merasa cocok sama  gadis ini, orang nya baik dan tidak macam-macam seperti gadis kebanyakan. Dan yang paling Yudha suka adalah kalau ngobrol selalu nyambung sama dia walaupun mereka tidak punya banyak kesamaan. Wajahnya yang cantik selalu tersenyum. Cantik… ya memang dia cantik… Pikir Yudha dalam hati. Dia kemudian tersenyum.

Farah berpikir kok lelaki ini ingin selalu lihat dia syuting? Tapi kok aku juga nggak nolak waktu dia bilang mau lihat aku syuting besok. Apa aku suka sama dia? Baru saja kenal dua hari. Tapi dua hari saja sudah banyak kesannya. Tadi tanganku dipegang dan aku tidak berusaha menolak atau melepaskan tangan? Tapi aku juga tahu dia tidak bermaksud macam-macam sama aku. Ah pusing… aku kenapa sih…

Farah kemudian melirik ke arah Yudha. Dia lihat Yudha sedang tersenyum.

“Kok senyum-senyum sendiri mas…?”. Tanya Farah.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Yudha.

“Senyum-senyum kenapa… awas ya mikirin yang jorok-jorok ya heheh…”. Ujar Farah.

“Nggak lah… cuma saya kepikiran saja, baru dua hari saja kita ketemu…”. Jawab Yudha.

“Tapi kok saya merasa nyambung ya kalau ngobrol sama kamu”. Lanjut Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah, pipinya agak sedikit memerah, untung Yudha tidak memperhatikan, kalau dia lihat kan malu, begitu pikir Farah.

“Kamu merasa begitu nggak…?”. Tanya Yudha.

Farah tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Wah Yudha kok nanya gitu sih, aku kan malu, pikir Farah. Tapi kenapa aku malu ya…

Yudha kemudian tersenyum.

“Oh iya, sudah sore. Saya pamit dulu ya”. Ujar Yudha. Oh mau pulang ya… kok buru-buru dia ya… mau kemana dia… eh kok aku… kenapa sih aku…. Farah berkata dalam hati.

“Farah… saya pamit dulu…”. Ujar Yudha melihat Farah terdiam.

“Eh… iya sebentar…”. Jawab Farah. Kemudian dia masuk ke ruang tengah memanggil mamanya.

“Sudah mau pulang ya…”. Ujar mama Farah ketika sudah masuk ke ruang tamu.

“Iya tante, takut Farah mau istirahat, besok kan syuting lagi”. Jawab Yudha.

“Oh iya besok saya minta izin mau lihat Farah syuting lagi, boleh ya tante?”. Tanya Yudha.

“Oh iya boleh silahkan”. Jangan-jangan dia mau jemput Farah lagi… begitu pikir mama Farah.

“Ya sudah kalau begitu saya pamit, terima kasih tante”. Ujar Yudha sambil menyalami mama Farah seperti biasa.

Kemudian Yudha keluar ditemani Farah.

“Saya pamit ya, sampai besok…”. Ujar Yudha.

“Iya sampai besok, Mmm… hati-hati di jalan mas”. Ujar Farah.

“Iya… terima kasih”. Yudha tersenyum. Kemudian dia masuk kedalam mobilnya. Dia melambaikan tangan kepada Farah ketika mobilnya mulai meninggalkan rumah Farah. Farah juga balas melambaikan tangan. Farah kemudian masuk kedalam rumah setelah mobil Yudha belok di tikungan rumahnya.

***

Diplomat Bag. 3 – Farah Dewi

Farah melambaikan tangan ketika Yudha mulai menjalankan mobilnya dan pergi dari rumahnya. Kemudian dia masuk ke ruang tamu dan duduk disana. Lama dia termenung, mamanya yang ada di ruang tamu melihat keanehan putrinya tersebut. Tapi kemudian mama Farah tersenyum, sepertinya dia menyimpan sesuatu terhadap tamunya yang baru saja pergi, jadi biarlah dia sendiri, begitu pikir mama Farah.

Farah masih terdiam, tapi kemudian dia melihat sesuatu di kursi, ya ampun kamera Yudha ketinggalan. Bagaimana ini, takutnya kameranya dia perlukan, eh tapi biarlah kalau dia perlu juga pasti balik lagi kesini. Kok kenapa aku mengharapkan dia balik lagi ya… Aku harus telpon Myra nih, begitu pikirnya.

Dia kemudian mengambil HP nya dan menelpon Myra.

Myra yang baru saja menerima telpon dari Yudha tertawa melihat siapa yang menelpon nya. Dia memperlihatkan teleponnya kepada Pras. Mereka berdua serentak tertawa. Tapi sejurus kemudian Myra menghentikan tawanya dan mengangkat telpon dari Farah.

“Halo Ya…”. Kata Farah yang memanggil Myra dengan sebutan Yaya seperti halnya Yudha memanggilnya.

“Halo putri cantik…”. Jawab Myra. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Farah kepadanya, makanya dia menggoda Farah dengan sebutan putri cantik.

“Kamu tuh Ya… sengaja ya ngenalin aku sama Yudha dan suruh nganter aku sampai rumah”. Kata Farah.

“Iya emang sengaja…”. Jawab Myra sambil tersenyum. Dia mengeraskan suara HP nya agar Pras juga mendengar percakapan mereka. Pras tertawa tapi tanpa suara.

“Iya tapi maksudnya apa coba…”. Tanya Farah.

“Biar kalian saling kenal, siapa tahu jodoh hehe…”. Jawab Myra.

“Huh dasar…”. Ujar Farah.

“Tapi suka kan…”. Kata Myra kemudian.

“Suka gimana, baru ketemu juga”. Ujar Farah.

“Tapi kok kamu mau di foto-foto sama dia, biasanya kamu alergi sama cowok yang baru dikenal, apalagi sampai mau di foto segala…” Ujar Myra.

“Loh kok tahu aku tadi di foto-foto sama Yudha?”. Tanya Farah keheranan.

“Iya barusan sebelum kamu telpon aku, Yudha juga telpon. Dan pertanyaan nya juga sama kayak kamu sekarang, nanya-nanya kenapa aku kenalkan kalian”. Jawab Myra.

Wah Yudha nih cerita-cerita segala kalau aku dia foto di depan rumahku, Farah berkata dalam hati.

“Kenapa heran hehe…”. Ujar Myra setelah Farah terdiam sesaat.

“Nggak…”. Jawab Farah.

“Dia itu sahabatku, dan dia juga cerita tadi sudah ketemu sama mama kamu”. Ujar Myra.

“Iya sih tadi sudah ketemu sama mama”. Jawab Farah.

“Kalian ngobrol apa saja?”. Tanya Myra.

“Ih kepo…”. Jawab Farah.

“Eehh… gak mau cerita… awas ya…”. Ujar Myra sambil tersenyum. Sepertinya usaha dia ada hasilnya mengenalkan Yudha dan Farah.

“Ngomong-ngomong ini kameranya Yudha ketinggalan di rumahku, takutnya dia lagi perlu sama kameranya”. Kata Farah kemudian.

“Yah alamat nih hehe… kayaknya Yudha sengaja ninggalin kameranya di rumah kamu, biar bisa main lagi ke rumah kamu…”. Ujar Myra menggoda Farah.

“Apaan sih…”. Ujar Farah.

“Udah Far, Yudha tuh anak baik kalian kayaknya cocok…”. Pras yang berbicara.

“Eh mas Pras nguping ya dari tadi…”. Ujar Farah. Pras hanya tertawa. Myra pun ikutan tertawa.

“Ya sudah kamu kasih tahu aja sama Yudha kalau kameranya ketinggalan di rumah kamu”. Ujar Myra.

“Nggak ah…”. Jawab Farah.

“Kenapa… kok malu-malu gitu..”. Tanya Myra.

“Siapa yang malu-malu…”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau kamu malu ntar aku yang kasih tahu Yudha kalau kameranya ketinggalan di rumahmu”. Kata Myra.

“Eh Ya… tadi Yudha bilang mau lihat anak-anak di panti, maksudnya apa ya…?”. Tanya Farah.

“Tuh kan… udah ngobrol banyak, pasti kalian sudah nyambung kalau ngobrol”. Kata Myra tanpa menjawab pertanyaan Farah.

“Apaan sih, aku serius Ya…”. Kata Farah.

“Kalau itu nanti juga kamu tahu sendiri”. Ujar Myra. Apa sih Myra, pake rahasia-rahasia segala, pikir Farah dalam hati.

“Ya sudah begini saja, besok kamu bawa kamera Yudha ke tempat syuting, nanti aku kasih tahu sama Yudha kamu syuting jam berapa dan dimana”. Ujar Myra.

“Mmm… kalau itu sih Yudha sudah tahu”. Ujar Farah malu-malu.

“Hah… hahaha…”. Myra tertawa lepas.

“Kok ketawa sih, puas ya ngerjain aku”. Kata Farah.

“Habis nya aku agak aneh gitu sama kamu, kok Yudha sudah tahu kamu syuting dimana dan jam berapa, kalian ngobrol apa saja sih…”. Tanya Myra.

“Ya ngobrol biasa aja…”. Jawab Farah.

“Tapi kok hal-hal yang gitu sudah jadi pembicaraan kalian? Biasanya kamu nggak kayak gini Far…?”. Myra berkata sambil mikir jangan-jangan mereka sudah cocok satu sama lain sehingga sudah ngobrol panjang.

“Kamu sudah tahu kalau Yudha seorang diplomat?”. Tanya Myra.

“Iya”. Jawab Farah.

“Kamu tahu kalau dia seminggu cuti hanya buat menghadiri pernikahan aku sama Pras?”. Tanya Myra.

“Iya”. Jawab Farah.

“Kamu sudah tahu dia tinggal dua bulan lagi tugas di New York?”. Tanya Myra.

“Iya… Yaya apaan sih nanya-nanya terus…”. Ujar Farah.

“Hahaha…”. Myra dan Pras tertawa bahagia.

“Aku sih gak akan nanya lagi kalian ngobrol apa saja, pasti kalian sudah ngobrol banyak. Aku bahagia buat kamu cantik”. Kata Myra. Dia merasa sangat bersyukur bisa mempertemukan mereka berdua.

“Yaya… apaan sih…”. Kata Farah.

“Farah… aku mau terus terang ya sama kamu. Yudha itu sebatang kara. Dia sudah tidak punya orang tua. Dia sudah kita anggap sebagai saudara sendiri. Dan dia sekarang sedang mencari pendamping hidup. Dia tidak mau pacaran tapi ingin nya langsung menikah, makanya aku coba kenalkan dia sama kamu siapa tahu cocok”. Ujar Myra kali ini agak panjang bicaranya.

“Ya… itu juga aku sudah tahu, tadi Yudha bilang begitu sama aku…”. Farah merasa mukanya sedikit hangat. Kenapa aku seperti ini? Ada apa denganku? Pikir Farah.

“Ya ampun Farah… Yudha sudah bicara sampai sejauh itu? Luar biasa, Yudha juga tidak biasanya begini. Dulu kalau aku kenalkan dia dengan cewek-cewek sebelumnya dia nggak pernah sampai sejauh itu berbicara tentang dirinya”. Myra merasa takjub.

“Udah ah Ya, lama-lama mukaku bisa keringatan digoda terus sama kamu”. Kata Farah.

“Ciyeeee… yang malu-malu digodain terus, jangan-jangan sekarang pipi kamu sedang bersemu merah…”. Kata Myra.

“Yaya… apaan sih…”. Kata Farah sambil memegang pipinya sendiri.

“Udah ah… nanti aku telpon lagi, bye…”. Kata Farah dan langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Myra.

Myra tersenyum kepada Pras setelah selesai menggoda Farah habis-habisan.

“Mas… hari ini adalah hari bahagia kita berdua, tapi aku juga bahagia bisa mempertemukan Yudha dengan Farah. Mudah-mudahan mereka bisa berjodoh ya…”. Ujar Myra.

“Iya sayang… mudah-mudahan kita tidak salah mempertemukan mereka. Mudah-mudahan mereka bisa berlanjut ya seperti kita”. Jawab Pras.

“Iya mas, aku berdoa buat kebahagiaan mereka berdua”. Kata Myra. Pras mengangguk tanda setuju dengan perkataan istrinya.

***

Sementara di rumah Farah, dia masih duduk di ruang tamu setelah barusan digoda habis-habisan oleh Myra sahabatnya. Dia tidak habis pikir kenapa Myra berusaha menjodohkan dia dengan Yudha. Aku bukan cewek yang nggak bisa cari cowok sendiri, pake di jodoh-jodohin segala, pikir Farah.

Dia masih duduk ketika mamanya keluar dari ruang tengah dan menghampiri Farah di ruang tamu. Mama kemudian duduk di samping Farah. Farah sepertinya sedang melamun sehingga kehadiran mamanya tidak dia sadari.

“Kamu kenapa sayang…?”. Kata mama sambil memegang tangan Farah.

“Eh mama… Farah sampai kaget, kapan mama duduk?”. Tanya Farah heran.

“Kamu sih nggak biasanya melamun seperti ini, sampai-sampai mama duduk disini aja nggak sadar”. Ujar mama.

“Ini mam… kamera Yudha ketinggalan”. Jawab Farah mengalihkan pembicaraan.

“Oh kamera nya ketinggalan”. Kata mama.

“Iya tadi mungkin dia lupa habis foto-foto Farah di luar, dia nggak bawa masuk lagi ke mobilnya”. Ujar Farah.

“Oh kalian habis foto-foto…”. Kata mama heran.

“Kenapa mam… kok kayak heran gitu…”. Tanya Farah.

“Ya iyalah heran, biasanya kamu nggak mau di foto-foto, apalagi sama orang yang baru dikenal”. Jawab mama. Farah tersenyum.

“Ya nggak tau sih mam hehe… kok Farah mau ya di foto-foto sama dia padahal baru kenal hari ini”. Farah berkata sambil mencoba membuka kamera Yudha. Dia juga mempunya kamera sejenis tapi dengan spesifikasi yang lebih rendah, ini sih kamera pro banget, kata Farah dalam hati.

“Terus tadi juga nggak biasanya kamu mengantarkan minum sendiri, nggak nunggu mama yang nganter”. Kata mama kemudian.

“Oh ya…”. Farah mengingat kembali kejadian tadi. Iya juga ya kok aku nganter minum sendiri buat Yudha, pikir Farah.

“Biasanya kan kamu paling nggak mau menjamu tamu, apalagi sampai menghidangkan minuman segala”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum mendengar mama bicara begitu.

Farah kemudian membuka menu yang ada di layar kamera Yudha.

“Lihat mam, fotoku bagus-bagus kan…?”. Tanya Farah.

“Iya bagus-bagus fotonya”. Kata mama.

“Ini diambilnya ‘candid’ loh mam, jadi aku nggak diarahkan gitu mam, natural saja mam sambil ngobrol-ngobrol”. Kata Farah menerangkan.

“Oh sambil ngobrol-ngobrol…”. Kata mama menggoda putri cantiknya.

“Mama apaan sih…”. Kata Farah.

“Eh itu kan kamera orang, kamu nggak minta izin dulu sama yang punya, kok berani buka-buka kamera punya orang”. Kata mama.

“Eh iya mam hehe…”. Kata Farah.

“Nanti deh Farah minta izin nya kalau ketemu sama orang nya”. Kata Farah kemudian.

“Eh mam ada foto-foto dia lagi di Amerika mam…”. Ujar Farah memberitahu mamanya.

“Eh kamu jangan liat-liat foto orang, siapa tahu ada rahasia di dalamnya”. Mama memperingatkan Farah.

“Nggak lah mam, masa foto ada rahasia segala…”. Jawab Farah sambil melihat-lihat foto Yudha sedang berada di Amerika. Ada foto dia sedang jalan-jalan, ada foto dia sedang bekerja, ada pula foto-foto dia sedang santai di rumahnya. Tapi semuanya sendiri, tidak ada yang menemani, apalagi cewek, tidak satupun ada foto wanita disana. Berarti benar dia tidak punya pacar alias masih sendiri. Farah tersenyum lega, eh kenapa aku lega dia tidak punya pacar, pikir Farah.

“Senyum-senyum sendiri…”. Mama Farah berkata ketika dia melihat putri semata wayang nya tersenyum sambil melihat foto Yudha.

“Eh mama… lupa mama ada disini hehe…”. Kata Farah.

“Nggak biasanya kamu begini”. Kata mama, Farah hanya tersenyum.

“Yudha kelihatan nya anak baik, tadi aja sebelum pulang salim sama mama”. Ujar mama.

“Mungkin karena dia sudah tidak punya orang tua barangkali mam”. Jawab Farah.

“Maksudnya…?”. Tanya mama.

“Mama ingat gak kecelakaan pesawat tiga tahun lalu di selat karimata? Itu loh pesawat yang berangkat dari Surabaya ke Kuala Lumpur”. Tanya Farah tanpa menjawab pertanyaan mamanya.

“Iya mama masih ingat”. Jawab mama.

“Kedua orang tua Yudha menjadi salah satu korban nya mam”. Ujar Farah.

“Oh begitu, kasian juga ya”. Ujar mama.

“Dia anak tunggal mam jadi nggak punya siapa-siapa lagi sekarang”. Lanjut Farah.

“Oh gitu, sama ya kayak anak mama ini, jangan-jangan kamu juga sudah cerita tentang keluarga kita…”. Tanya mama.

“Hehe… iya mam…”. Jawab Farah malu-malu.

“Hmmm anak mama ini, dasar ya…”. Mama kemudian memeluk Farah.

“Eh tapi bener loh, mama terkesan sama Yudha, jarang loh anak jaman sekarang yang sikapnya seperti itu sama orang tua, biasanya kan acuh tak acuh saja kalau ketemu sama orang yang lebih tua”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum mendengar mamanya bicara begitu.

Farah dan mamanya memang sudah tidak saling menyimpan rahasia satu sama lain. Setelah kepergian papa nya Farah, mereka hanya tinggal berdua saja. Mama Farah jadi ‘single parent’ dan mengurus Farah sendirian sampai sebesar ini. Sampai usia Farah dua puluh lima tahun bulan Februari ini. Tak terasa sudah sepuluh tahun mereka berdua saja, paling kalau siang hari ada pak Maman supir pribadi mereka yang menemani Farah dan mamanya ke tempat syuting.

Beruntung masih ada harta peninggalan papanya Farah yang bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sampai akhirnya Farah beranjak dewasa dan bisa mencari uang sendiri dengan berprofesi menjadi seorang artis. Wajah cantiknya banyak membuat produser film dan FTV mengantri untuk menjadikannya bintang film utama. Begitupun dengan media iklan, sudah banyak produk yang menggunakan Farah sebagai bintang iklannya. Belum lagi Farah juga menjadi cover di banyak majalah ibu kota.

Tapi untuk sinetron sepertinya Farah masih menahan diri, masih belum sanggup dengan jadwal sinetron yang sangat menyita waktu. Dia masih merasa nyaman dengan jadwal film yang tidak sepadat jadwal sinetron. Mungkin suatu saat aku akan menekuni dunia sinetron, tapi belum sekarang-sekarang, begitu pikir Farah.

Untuk urusan asmara sebetulnya sudah banyak laki-laki yang berusaha mendekati Farah. Mulai dari lawan mainnya dalam film, FTV ataupun pengusaha muda. Tapi dari sekian banyak lelaki yang mendekatinya belum ada satupun yang membuatnya merasa nyaman.

Ada juga teman pengusaha Prasetya yang berusaha mati-matian untuk mendekati Farah dan berusaha mendapatkan perhatian darinya. Dari mulai memberikan hadiah yang mahal-mahal seperti cincin emas dan berlian, sampai mobil mewah pun pernah diberikan oleh orang ini. Tapi semuanya ditolak secara halus oleh Farah karena memang dia tidak merasa sreg dengan orang tersebut. Bukan juga karena orang tersebut tidak ganteng atau sebagainya, tapi ya karena Farah tidak sreg saja sama pemuda tersebut.

Farah bukan seorang yang materialistis, itu semua bukan menjadi ukuran dia dalam menilai seseorang. Tapi kalau urusan hati tidak bisa dipaksakan. Urusan rezeki sudah ada yang mengatur, begitu pikir Farah. Maka nya walaupun ada lelaki yang mati-matian mendekatinya dengan menawarkan banyak harta, Farah tidak sedikitpun tertarik. Bukan sombong atau apa, tapi memang Farah belum bisa membuka hati.

Tapi hari ini di pernikahan Myra sahabatnya, dia bertemu dengan seorang lelaki bernama Yudha. Dia sahabatnya Myra juga dan baru saja datang dari New York.

Myra yang mengenalkan dia dengan Yudha. Alasan klasik sebetulnya untuk mengantarkan pulang seorang wanita ke rumahnya, tapi Farah juga tidak menolak ketika Myra menawarkan Yudha untuk mengantarnya pulang dari resepsi. Bisa-bisanya Myra mendapatkan peluang untuk mengenalkan dia dengan Yudha. Tapi kalau mama tidak telat menjemputnya mungkin perkenalan ini tidak akan terjadi.

Farah mengingat-ingat kejadian tadi siang sambil tiduran di kasurnya. Setelah tadi ngobrol dengan mamanya di ruang tamu, dia pamit kepada mamanya untuk tidur karena besok harus berangkat syuting pagi-pagi.

Awalnya Farah bersikap biasa-biasa saja kepada Yudha. Ketika di mobil pun sewaktu dia mengantar pulang dia tidak sedikitpun mempunyai perasaan lain terhadap Yudha. Tapi lama kelamaan setelah berbicara banyak dengan Yudha, dia merasa nyambung ngobrol dengan lelaki ini. Bukan karena dia seorang diplomat ataupun sepertinya orang yang berada, tetapi hatinya seperti bisa membuka diri kepada Yudha.

Apalagi setelah tadi dia banyak difoto dengan kamera Yudha, dia merasa ada yang lain dengan lelaki ini. Setelah itu mereka meneruskan obrolan di dalam rumah Farah setelah mamanya pulang. Dia semakin nyambung ngobrol dengan Yudha, apalagi setelah Yudha menggoda dia dengan mengatakan bahwa dia tidak sedang mencari pacar tapi sedang mencari istri.

Aku kan baru kenal sama Yudha, masa aku sudah punya perasaan lain kepada dia, begitu pikir Farah. Tapi kok aku teringat terus ya sama dia? Aku kok begini sih… nggak biasanya aku begini… Ah pusing… lebih baik aku tidur saja, besok aku harus berangkat syuting pagi-pagi, begitu pikir Farah.

***

Info leasing

SEKEDAR INFORMASI

Bank Indonesia dalam Surat Edaran BI No. 15/40/DKMP tanggal 23 September 2013 mengatur bahwa syarat uang muka/DP kendaraan bermotor melalui bank min adalah 25% utk roda 2 dan 30% untuk kendaraan roda 3 atau lebih untuk tujuan non produktif, serta 20% utk roda 3 atau lebih untuk keperluan produktif.

Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yg melarang leasing atau perusahaan pembiayaan utk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yg nunggak kredit kendaraan.

Hal itu tertuang dlm PerMen Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/ 2012 tentang pendaftaran Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yg dikeluarkan tanggal 7 Okt 2012.

Menurut UU No 42 Th 1999, fidusia adalah suatu proses mengalihkan hak milik atas suatu benda dgn dasar kepercayaan, tapi benda tersebut masih dalam penguasaan pihak yg mengalihkan.

Fidusia umumnya dimasukkan dlm perjanjian kredit kendaraan bermotor. Kita sebagai debitur membayar biaya jaminan fidusia tersebut.

Pihak leasing wajib mendaftarkan setiap transaksi kredit di depan notaris atas perjanjian fedusia ini, Jadi perjanjian fidusia ini melindungi aset konsumen, leasing tdk bisa serta merta menarik kendaraan yg gagal bayar karna dgn perjanjian fidusia, alur yg seharusnya terjadi adalah pihak leasing melaporkan ke pengadilan. Sehingga kasus Anda akan disidangkan & pengadilan akan mengeluarkan surat keputusan utk menyita kendaraan Anda dan kendaraan Anda akan dilelang oleh pengadilan & uang hasil penjualan kendaraan melalui lelang tersebut akan digunakan utk membayar utang kredit Anda ke perusahaan leasing, lalu uang sisanya akan diberikan kepada Anda.

Jadi jika kendaraan anda akan ditarik leasing, mintalah surat perjanjian fidusia dan sebelum ada surat fidusia tersebut jangan bolehkan penagih membawa kendaraan anda!

Karena jika mereka membawa sepucuk surat fidusia (yg ternyata adalah palsu) silahkan anda bawa ke hukum, pihak leasing akan didenda minimal Rp 1,5 milyar.

Tindakan Leasing melalui Debt Collector yang mengambil secara paksa kendaraan dirumah, merupakan tindak pidana Pencurian.

Jika pengambilan dilakukan dijalan, merupakan tindak pidana Perampasan.

Mereka bisa dijerat Pasal 368, Pasal 365 KUHP Ayat 2, 3 & 4

semoga ada manfaatnya

Roti Panggang Gosong

🌀 *INSPIRING STORY*

*”Roti Panggang Gosong“*

“Ketika saya masih kecil, Ibu suka membuat sarapan dan makan malam.

Suatu malam, setelah ibu bekerja keras sepanjang hari, ibu menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah.

Saat itu saya menunggu apa reaksi ayah.?

Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.

Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya.

Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu.

Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan,

“Sayang, jangan khawatir, aku suka roti panggang yang gosong”.

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ucapan selamat tidur pada ayah.
Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong?

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, “nak, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah.

Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun”.

“Tahu kah kamu nak apa yang menyakiti hati seseorang?
*”KATA KATA KASAR”.*

Lalu ayah melanjutkan, “kamu tahu, hidup itu penuh dengan *_hal-hal dan orang-orang yang tidak sempurna_*

Ayah juga bukan orang yang terbaik dalam segala hal.

Yang ayah pelajari adalah *_menerima kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan._*

Ini adalah kunci terpenting untuk mewujudkan *_hubungan yang sehat dan harmonis._*

Hidup itu terlalu pendek untuk diisi dengan *_penyesalan dan kebencian_*.
Cintai mereka yang memperlakukanmu dengan baik dan sayangi yang lainnya…”.

Sahabat dan saudaraku….,

Yang indah hanya sementara.

Yang abadi adalah kenangan.

Yang ikhlas hanya dari hati.

Yang tulus hanya dari sanubari.

Tidak mudah mencari yang hilang.

Tidak mudah mengejar impian.

Namun yang lebih susah *_mεmpεrtahankan yang sudah ada_*
Karεna walaupun tεrgεnggam bisa tεrlεpas juga.

Ingatlah pada pepatah,
*’Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini”*

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif….

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan dan jabatan yang luar biasa, namun…
*_Ketika nafas terakhir tiba,_* sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi,
Sehelai benang pun tak bisa dimiliki, .

Apalagi yang mau
diperebutkan!
Apalagi yang mau disombongkan!

Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani.

Jangan terlalu perhitungan.

Jangan hanya mau menang sεndiri.

Jangan suka sakiti sesama.

Belajarlah, tiada hari tanpa kasih sayang.

Belajarlah, selalu berlapang dada dan mengalah.

Belajarlah, lepaskan beban  hidup dengan ceria.

*Tak ada yang tak bisa diikhlaskan…*

*Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan… *

*Tak ada dendam yang tak bisa terhapus… *

Sahabat dan saudaraku….
*_Setiap detik hidup ini_* adalah energy dr sang maha

*Tak ada satupun hal jelek yang dikaruniakan-Nya. *

*Tapi sudahkah kita bersyukur?  *

Semoga bermanfaat

Diplomat Bag. 2 – Yudha Prawiranegara

Yudha kemudian mengarahkan kendaraannya ke arah kayu putih dimana rumahnya berada. Lumayan juga pulang dari acara pernikahan Myra dapat kenalan artis cantik. Tapi jangan-jangan ini ulah Myra biar aku bisa kenalan sama Farah. Aku harus telpon dia. Begitu pikir Yudha.

Kemudian Yudha mengambil HP nya menelpon Myra, dia mungkin sudah ada di rumahnya setelah pesta pernikahan tadi.

“Halo Ya…”. Yudha memanggil Myra dengan nama panggilan kecilnya Yaya.
“Halo Yud…”. Jawab Myra di seberang sana.
“Kamu ngerjain aku ya, pake ngenalin aku sama Farah segala”. Terdengar tawa Myra di seberang sana.
“Kamu tuh… sudah saatnya punya pasangan. Jangan kelamaan jomblo. Makanya waktu tadi Farah datang dan mengucapkan selamat sambil memeluk, aku sudah ngasih kode sama kamu. Ini ada cewek yang mau aku kenalin”. Jawab Myra.
“Bilang terima kasih apa, sudah aku kenalin sama cewek cantik”. Lanjut Myra.
“Iya terima kasih”. Jawab Yudha.

“Eh… tadi bagaimana? Nganterin sampai rumahnya kan?”. Tanya Myra.
“Iya aku nganterin sampai rumahnya, terus nunggu sampai mama nya pulang”. Jawab Yudha.
“Sudah ketemu juga sama mama nya”. Lanjut Yudha.
“Waduh… mau lanjut nih kayaknya”. Myra berkata diseberang sana.
“Udah Yud, pepet terus sampai dapat, aku dukung seratus persen hehe…”. Pras yang berkata, ternyata suara HP nya sudah dikeraskan sehingga Pras juga bisa mendengar percakapan mereka.
“Jadi kalian ngobrol apa saja?”. Tanya Myra.
“Ya banyak lah, aku juga sempat foto-foto dia sambil nunggu mamanya pulang”. Jawab Yudha jujur.
“Wah tumben Farah mau di foto sama orang yang baru dikenal, dia biasanya alergi sama cowok. Wah udah deh ini namanya tanda-tanda. Udah kamu seriusin aja sama dia jangan di tunda-tunda”. Lanjut Myra. Yudha kemudian terdiam.
“Yud… dengar aku nggak?”. Tanya Myra.
“Iya aku dengar”. Jawab Yudha.
“Ya udah aku sudah sampai rumah nih. Nanti sambung lagi”. Ujar Yudha mengakhiri pembicaraan.
“Okay… nanti kalau ada perkembangan cerita ya… bye”. Myra kemudian memutus hubungan telepon.

Yudha sudah sampai di depan rumahnya. Kemudian ada yang membukakan pagar untuknya. Mang Ukan yang membuka pagar, dia yang selama ini merawat taman di depan rumahnya sekaligus menjaga rumahnya selama dia di New York. Mang Ukan tinggal bersama istrinya yaitu Bi Neni di rumah Yudha. Mereka sudah lama ikut keluarga Yudha semenjak dia masih kecil, semasa mama papanya masih ada. Mereka juga sudah Yudha anggap sebagai keluarga sendiri.

Tadi sewaktu Yudha telepon dengan Myra sebetulnya dia jadi teringat mamanya, makanya tadi agak terdiam sesaat. Teringat cita-cita mamanya yang ingin segera mempunyai cucu, namun sebelum cita-citanya terwujud, beliau sudah dipanggil yang maha kuasa. Yudha masih terdiam setelah memarkirkan kendaraan di garasi rumahnya. Mang Ukan yang melihat majikan nya terdiam kemudian menghampiri Yudha.

“Den… kok nggak turun?”. Tanya mang Ukan sambil mengetuk pintu kaca mobil. Dia memanggil Yudha dengan sebutan aden.
“Eh iya mang…”. Jawab Yudha menghentikan lamunannya. Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya.
“Mau langsung makan den…?”. Tanya bi Neni.
“Bibi sudah siapkan makanan kesukaan den Yudha. Sayur lodeh sama gepuk. Pasti sudah kangen kan sama masakan bibi…”. Kata bi Neni. Dia sudah mulai menyiapkan masakan kesukaan majikan nya ini semenjak dia tahu kalau majikannya akan pulang ke Indonesia.
“Oh iya tuh pasti enak. Sudah lama saya nggak makan masakan Indonesia. Bibi sama mamang sudah makan belum? Ayo makan bareng…”. Ajak Yudha.
“Bibi sama mamang sudah makan tadi sore”. Kata bi Neni sambil menyiapkan piring dan peralatan makan lain nya.
“Ya sudah kalau begitu, saya makan dulu ya bi”. Ujar Yudha.
“Iya den, bibi tinggal ke ruang tengah ya”. Kata bi Neni sambil berlalu meninggalkan Yudha di meja makan sendiri.

Yudha kemudian mulai makan. Dulu sewaktu mama papa nya masih ada, di meja ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sekarang Yudha merasa sendiri, walaupun di rumah ini masih ada mang Ukan dan bi Neni yang selalu setia menemani.

Mungkin sudah saatnya aku mencari pasangan hidup. Mungkin itu juga yang Myra inginkan sehingga dia mengenalkan aku dengan Farah, begitu pikir Yudha. Sudah saatnya dia punya pasangan hidup, untuk apa punya harta dan jabatan tapi tidak punya siapapun untuk berbagi.


Orang tua Yudha juga sebetulnya seorang diplomat. Pasangan suami istri bapak dan Ibu Prawiranegara ini banyak menghabiskan waktunya di luar negeri sebagai duta bangsa. Mereka sudah pergi melanglang buana dari mulai negara tetangga di Asia, negara Eropa, Amerika sampai Afrika.

Namun sayang, sampai di usia yang cukup untuk mempunyai seorang anak, mereka tidak juga dikaruniai seorang anak pun. Setelah berpikir lama dan tugas nya di luar negeri selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak.

Mereka mengambil seorang anak yang sudah agak besar. Tidak seperti kebanyakan orang yang mengadopsi anak di saat mereka masih bayi, orang tua Yudha mengangkat dia sebagai anak pada saat usianya enam tahun. Waktu itu dia baru masuk sekolah dasar. Orang tua Yudha berpikir tidak mau repot mengurus anak dari kecil sehingga memutuskan untuk mengadopsi anak yang sudah besar dari salah satu panti asuhan yang ada di daerah pinggiran Ibu Kota.

Jadilah Yudha anak dari pasangan diplomat ini. Pemilihan Yudha pun dilakukan secara selektif di panti tersebut. Atas saran dari pengurus panti, mereka merekomendasikan Yudha untuk menjadi anak pasangan tersebut. Selain karena Yudha seorang anak yang rajin dan pintar, dia juga adalah seorang anak yang penurut. Segala sesuatu yang diperintahkan oleh pengurus panti maupun kakak asuhnya di panti selalu dia laksanakan dengan sepenuh hati tanpa ada alasan menolak ataupun membantah.

Setelah Yudha menjadi anak diplomat ini jadilah dia berganti nama menjadi Yudha Prawiranegara. Orangtuanya menyekolahkan Yudha di sekolah elit dan berkelas. Mereka ingin Yudha menjadi anak yang berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang berhasil. Mereka juga ingin Yudha meneruskan jejak mereka menjadi seorang diplomat.

Bapak dan Ibu Prawiranegara selalu mengajarkan Yudha untuk menjadi orang yang santun dalam bergaul namun tegas dalam berbicara. Didikan orang tuanya selalu ditaati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Sehingga di sekolah pun Yudha mempunyai banyak teman karena dia pandai bergaul dengan sesama temannya.

Setelah tamat SMA, Yudha meneruskan kuliah di Trisakti jurusan Hubungan Internasional. Itu semua adalah keinginan orang tua Yudha agar dia menjadi seorang diplomat seperti orang tuanya, dan Yudha pun menuruti kemauan orang tuanya tersebut tanpa membantah sedikitpun.

Disanalah Yudha mengenal Myra dan kemudian Prasetya yang saat itu sudah menjadi pacar Myra. Mereka kemudian menjadi sahabat sampai mereka lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Myra melanjutkan karir sebagai artis sampai saat ini, Prasetya mulai menjadi pengusaha dan Yudha menjadi seorang diplomat sesuai keinginan orang tuanya.

Yudha sebetulnya bukan seorang yang tidak pernah mengenal wanita, banyak yang sudah dikenalkan sahabat-sahabatnya kepada Yudha biar dia tidak jomblo terus. Ada juga beberapa wanita yang Yudha sukai namun karena waktu itu dia juga disibukkan oleh tugasnya sebagai seorang diplomat, sehingga tidak ada wanita yang sempat menjadi pacarnya walaupun ada yang sempat dekat dengan dia. Tugasnya yang harus selalu bepergian ke berbagai negara membuat dia belum mendapatkan pasangan hingga saat ini.

Setelah cukup berkarir sebagai seorang diplomat, orang tua Yudha mulai mendorong dia untuk segera mempunyai pasangan. Walaupun tidak secara langsung diutarakan oleh mereka kepada Yudha.

Suatu saat ketika mereka bertiga selesai makan malam, mama Yudha mulai berbicara.

“Yud…”. Mama mulai berkata.
“Iya mah…”. Jawab Yudha.
“Sepertinya kalau ada anak kecil yang lari-lari di rumah ini seru juga ya…”. Kata mama.
“Maksudnya mah…?”. Yudha belum menangkap apa yang dibicarakan mama nya. Papa nya tersenyum mendengar istrinya berbicara begitu, dia sudah tahu kemana arah pembicaraan istrinya tersebut.

“Ya seru aja seperti kamu masih kecil dulu main-main di rumah”. Kata mama kemudian. Yudha masih terdiam belum mengerti arah pembicaraan mamanya.
“Maksud mamamu, dia ingin segera menimang cucu”. Papa menjelaskan sambil tersenyum. Papa kemudian menghentikan membaca koran dan serius mengikuti pembicaraan mereka.
“Oh gitu pah…”. Jawab Yudha baru mengerti.
“Cepat-cepatlah kamu cari pasangan, nanti kenalin sama mama ya…”. Kata mama.
“Sekarang kamu lagi dekat sama siapa?”. Tanya mama.
“Ada sih mah yang dekat sama Yudha, nanti deh Yudha kenalkan sama mama”. Jawab Yudha.
“Bener ya nanti dikenalkan sama mama”. Lanjut mama sambil tersenyum.
“Iya mah, nanti Yudha kenalkan”. Jawab Yudha.

“Eh ngomong-ngomong bagaimana hubungan temanmu Myra dan Pras?”. Tanya papa.
“Masih berjalan seperti biasa pah, tapi agaknya orang tua Myra masih gimana gitu pah, kan Pras bukan keturunan ningrat seperti keluarga Myra”. Jawab Yudha.
“Kalau mama sama papa gak seperti itu”. Mama meneruskan.
“Walaupun kita keturunan Prawiranegara, tapi kalau masalah jodoh itu semua kita serahkan kepada kamu, asalkan wanitanya baik dan memang kamu suka, kita tidak akan melarang, iya kan pah…”. Ujar mama.

“Iya benar yang dikatakan mama kamu”. Jawab papa.
“Jaman sekarang sudah tidak ada pengaruhnya hal seperti itu”. Lanjut papa.
“Iya pah nanti kalau ada waktu Yudha kenalkan dengan wanita yang sedang dekat dengan Yudha. Tapi ini kan sebentar lagi Yudha berangkat ke New York, ntar kepotong lagi deh hubungan Yudha…”. Ujar Yudha. Waktu itu dia tidak lama lagi akan bertugas ke New York menjadi atase politik dan perdagangan.
“Ya nggak apa-apa kan, namanya juga kenalan siapa tahu kalau cocok walaupun jauh tetap nyambung kan…”. Kata mama.
“Iya sih mah, tapi kali ini kan Yudha tugas agak lama mah, tiga tahun mah…”. Lanjut Yudha.
“Oh iya ya, kali ini kamu tugas agak lama ya di New York”. Ujar Papa.
“Iya pah, lumayan lama”. Ujar Yudha.

“Oh iya Yud, lusa papa sama mama mau ke Surabaya, nengok rumah sama kebun yang ada disana, setelah itu kita mau langsung ke Kuala Lumpur dari Surabaya naik pesawat paling pagi. Ada resepsi teman papa mu di Kuala Lumpur. Anaknya menikah dengan orang Malaysia. Mama jadi pengen cepat-cepat menikahkan kamu”. Kata mama sambil tersenyum.
“Iya mah, mudahan-mudahan cita-cita mama cepat terwujud, Yudha mohon doanya saja ya mah”. Kata Yudha.
“Iya, mama sama papa selalu mendoakan kamu”. Kata mama.
“Kamu nggak apa-apa kan ditinggal agak lama…”. Tanya mama.
“Iya mah nggak apa-apa kan ada mang Ukan sama bi Neni yang nemenin Yudha di rumah”. Jawab Yudha.
“Ya udah, kalau gitu mama sama papa mau siap-siap dulu ya mau menyiapkan kebutuhan buat lusa”. Kata mama.
“Iya mah”. Jawab Yudha.

Dari sekian banyak percakapan yang terjadi antara orang tuanya dan dia, itulah pembicaraan terakhir yang selalu di ingat oleh Yudha. Mama nya sudah ingin melihat dia mempunyai pasangan dan segera mempunyai keturunan, ingin segera menimang cucu katanya.

Lusa nya Yudha tidak bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke Bandara, hanya pada pagi hari sewaktu masih di rumah mereka berpamitan dan saling peluk, Yudha sedang banyak pekerjaan di kantornya sehingga dengan berat hati tidak bisa menemani kedua orang tuanya berangkat ke Surabaya. Yudha tidak tahu bahwa itulah pelukan dan pertemuan terakhir dengan kedua orang tuanya.

Dua hari setelah kepergian mereka, Yudha melihat berita di televisi bahwa ada pesawat AirAsia yang mengalami kecelakaan di sekitar Selat Karimata. Dia teringat kedua orang tuanya yang tadi pagi berangkat dari Surabaya menuju Kuala Lumpur. Tadi sebelum ‘take off’ dia sempat berbincang dengan mama nya dan mengabarkan bahwa mereka akan menggunakan pesawat AirAsia, karena pesawat Garuda yang sebelumnya mereka pesan tidak jadi berangkat karena mengalami kendala teknis.

Hatinya berdebar tak karuan, jangan-jangan kedua orang tuanya ada dalam pesawat tersebut. Dia berusaha mencari informasi manifest pesawat tersebut. Dan benar saja seperti perkiraan dia, orang tuanya adalah penumpang dari pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut. Tapi dia masih mengharapkan keajaiban dari kejadian tersebut, siapa tahu orang tuanya masih hidup atau mereka tidak jadi berangkat.

Ketika sedang duduk termenung di kantornya, ada telpon yang masuk ke kantornya.

“Halo…”. Ujar Yudha.
“Saya bisa berbicara dengan Yudha Prawiranegara?”. Tanya seorang perempuan di seberang sana.
“Iya dengan saya sendiri”. Jawab Yudha.
“Dimohon kesediaan saudara untuk datang ke Surabaya, untuk melakukan test DNA dan identifikasi korban pesawat AirAsia”. Katanya.
“Iya…. ba.. baik… bu…”. Yudha berkata tersendat. Kemudian telpon terputus. Perasaannya hancur, kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan pesawat tersebut. Dia masih duduk setelah menerima telpon tadi. Kemudian banyak rekan kantornya yang menghampirinya. Memberikan ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpanya. Tak terasa ada air mata yang menetes dari ujung matanya. Dia mencoba tegar menerima musibah ini, tapi hatinya tidak bisa dipungkiri, dia sudah merasa kehilang kedua orang tuanya walaupun dia belum melihat dengan mata kepala sendiri jenazah orang tuanya.

Singkat cerita dia berangkat ke Bandara Juanda Surabaya dan melakukan tes DNA disana. Dia sudah memberitahukan kepada petugas bahwa dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya tersebut, tapi tes tetap dilakukan untuk kepentingan administrasi. Setelah seharian menunggu akhirnya satu persatu korban kecelakaan pesawat tersebut datang ke Bandara Juanda Surabaya. Tiba giliran Yudha untuk mengenali orang tuanya.

Di depannya sudah ada dua peti mati yang masih tertutup, petugas masih belum membuka peti mati tersebut, biasanya mereka menunggu aba-aba dari keluarga korban. Setelah Yudha mengangguk kemudian mereka membuka satu persatu peti mati tersebut. Yang pertama dibuka adalah peti mati jenazah mamanya, dia bisa mengenalinya karena tubuh dan wajah dari mamanya tidak mengalami kerusakan. Wajahnya masih berseri seperti waktu dia terakhir berpelukan. Yudha tertunduk, air matanya tidak bisa dibendung, dia memeluk mamanya, menciumnya. Dia menangis tersedu-sedu, dia berusaha tegar menerima musibah ini. Walaupun beliau bukan ibu kandung nya tapi kasih sayangnya mengalir seperti ibu kandungnya sendiri. Giliran peti mati papanya dia buka, sama seperti mama, mukanya pun masih sangat bisa dikenali karena tidak rusak. Papanya seperti tersenyum seperti hari-hari dimana mereka bersama. Dia memeluk papanya dan menciumi jasadnya. Kemudian dia ditenangkan oleh petugas dan dipersilahkan untuk kembali keluar ruang peti mati tersebut.

Ketika sudah keluar dia masih tidak bisa menahan kesedihan, tampak diluar ada dua orang sahabatnya yaitu sepasang kekasih Myra dan Pras, mereka segera menyusul Yudha ke Surabaya begitu mendengar kabar duka dari sahabatnya tersebut. Myra memeluk Yudha, kemudian Pras juga memeluk Yudha. Mereka merasakan sekali kehilangan dari sahabatnya tersebut. Kemudian mereka duduk.

“Kita turut berduka cita ya Yud…”. Ujar Myra.
“Kita tadi langsung terbang kesini begitu mendengar beritanya”. Ujar Pras.
“Iya… terima kasih”. Ujar Yudha.
“Yang sabar ya Yud…”. Myra melanjutkan.
“Iya Ya, sudah takdir dari yang maha kuasa, mungkin ini sudah menjadi suratan hidupku selalu sendiri”. Jawab Yudha.
“Jangan begitu Yud, kita selalu ada buat mu kok”. Ujar Pras sambil menepuk pundah Yudha.
“Iya terima kasih kalian sudah datang jauh-jauh menghiburku”. Jawab Yudha.

Jenazah orang tua Yudha kemudian dibawa ke Jakarta dan dimakamkan di pemakaman dekat rumahnya. Sahabatnya masih setia menunggu di pemakaman ketika Yudha tidak juga beranjak dari pemakaman kedua orang tuanya.

“Udah Yud, kamu harus kuat, yuk kita pulang”. Ajak Myra.
“Iya Yud, mereka sudah tenang disana, jangan kamu beratkan mereka dengan kesedihan kamu”. Ujar Pras.
“Nggak kok, nggak apa-apa, kalian duluan saja, aku masih ingin disini, nanti juga sebelum malam aku pulang”. Jawab Yudha. Pras kemudian memberi kode kepada Myra untuk meninggalkan Yudha sendiri, mungkin dia ingin sendiri dulu disini.
“Ya sudah kita pulang dulu Yud, jangan kelamaan disini ya, nanti kalau ada apa-apa kasih kabar ke kita ya”. Ujar Myra, Yudha mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Mereka kemudian meninggalkan Yudha sendiri.

Sampai hari ketujuh selamatan kepergian orang tua Yudha, dia masih merasakan kehilangan yang teramat dalam. Padahal sebentar lagi dia harus segera terbang ke New York. Jadwal kerjanya tidak bisa diundur dan harus berangkat sesuai jadwal. Mungkin ini juga yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa kepada Yudha. Mungkin dengan tugas barunya di New York nanti, dia bisa melupakan sejenak kesedihan ditinggal oleh orang tuanya.

Yudha kemudian berangkat tugas ke New York dua minggu kemudian. Dia berharap di tempat barunya dia bisa mendapatkan ketenangan dan melupakan sejenak kesedihan ditinggal kedua orang tuanya. Rumahnya dia titipkan kepada pengurus rumahnya yang sudah lama menemani keluarga Prawiranegara. Jadi dia tenang selama bertugas di New York. Dia juga berpesan untuk selalu melihat makan kedua orang tuanya untuk selalu dijaga dan dibersihkan setiap pekan.


Tak terasa sudah tiga tahun Yudha bertugas di New York dan sudah mulai bisa melupakan kesedihan ditinggal kedua orang tuanya. Sebelum menghabiskan masa tugasnya dia sempatkan untuk pulang ke Indonesia menghadiri acara pernikahan kedua sahabatnya Myra dan Pras.

Dia teringat pesta pernikahan tadi dan bertemu dengan seorang artis ibu kota yang menurut Myra sudah direncanakan untuk dikenalkan kepada Yudha. Dia tersenyum sendiri apabila ingat kejadian tadi sewaktu dia mengantarkan Farah ke rumahnya. Walaupun baru bertemu dan berkenalan hari ini, ada sesuatu dalam diri Farah yang menarik hatinya.

Bi Neni melihat majikan nya senyum-senyum sendiri jadi merasa aneh. Dia kemudian menghampiri Yudha untuk membereskan meja makan, karena dia lihat Yudha sudah selesai makan dan hanya melamun saja sambil senyum sendiri.

“Sudah selesai makan nya den…”. Tanya bi Neni.
“Eh iya sudah bi…”. Jawab Yudha.
“Kok senyum-senyum sendiri, ada apa den…”. Tanya bi Neni lagi.
“Nggak ada apa-apa bi hehe…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.
“Kalau sudah makannya, sini bibi bereskan tempat makannya”. Kemudian bi Neni mulai membereskan meja makan. Sementara Yudha masuk ke kamarnya untuk istirahat. Besok dia berencana mau berziarah ke makam kedua orang tuanya, karena selama tiga tahun ini dia belum sempat berziarah sama sekali. Tugas nya di New York yang menyebabkan dia belum sekalipun berziarah ke makam kedua orang tuanya. Tapi menurut mang Ukan, makam kedua orang tuanya selalu dia bersihkan setiap pekan dan sampai sekarang masih bersih dan terawat.


Cerita sebelumnya Chapter 01 – The Wedding

Renungan – Menang tapi kalah

🌖🌗🌘🌑🌒🌓🌔
🌻Renungan Pagi🌻

💪 MENANG 👉 TAPI KALAH

👀 Kalau ribut dengan PELANGGAN,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Pelanggan tetap akan LARI.
👀 Kalau ribut dengan REKAN sekerja,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Tiada lagi semangat bekerja dalam TIM.
👀 Kalau kita ribut dengan BOSS,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Tiada lagi MASA DEPAN di tempat itu.
👀 Kalau kita ribut dengan KELUARGA,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Hubungan kekeluargaan akan RENGGANG.
👀 Kalau kita ribut dengan GURU,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan HILANG
👀 Kalau ribut dengan KAWAN,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Yang pasti kita akan kehilangan  KAWAN.
👀 Kalau ribut dengan PASANGAN,
💪 Walaupun kita menang,
👉 Perasaan sayang pasti akan BERKURANG.
👀 Kalau kita ribut dengan SIAPAPUN,
💪 Walaupun kita MENANG,
👉 Kita tetap KALAH…
💪 Yang MENANG.. cuma EGO diri sendiri
👉 Yang SUSAH.. mengalahkan EGO diri sendiri..

Diplomat Bag. 1 – The Wedding

Gedung pernikahan di Bidakara hari ini ramai sekali. Kendaraan hilir mudik keluar masuk dari gedung tersebut. Banyak tamu-tamu penting hadir disana. Tidak mengherankan karena yang menjadi raja dan ratu sehari adalah salah seorang pesohor yang ada di Ibu Kota Jakarta.

Hari minggu ini adalah hari pernikahan seorang artis film Indonesia yang bernama Myra Hadiningrat. Dia dipersunting oleh pujaan hatinya seorang pengusaha muda yang bernama Prasetya. Myra berpenampilan sangat cantik hari itu, memakai gaun pengantin serba putih. Serasi dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat, bibirnya yang merah merona senantiasa tersenyum ketika menerima ucapan selamat dari tamu undangan yang datang. Wajah cantiknya selalu menampakan binar kebahagian, tak salah Prasetya mempersunting wanita ini. Perawakan nya yang tinggi langsing sangat serasi dengan Prasetya yang juga berperawakan tinggi tegap.

Jam delapan pagi tadi sudah dilaksanakan akad nikah di gedung yang sama. Selanjutnya setelah selesai acara adat dilanjutkan dengan resepsi pernikahan pada jam 11 siang. Pernikahan yang mewah untuk ukuran seorang artis sekalipun. Maklum dia dipersunting oleh seorang pengusaha sukses Indonesia. Ruangan resepsi dipenuhi dengan hiasan cantik berupa bunga warna-warni yang disusun sedemikian rupa sehingga memberikan kesan elegan dan mewah. Kursi pengantin berwarna emas dengan hiasan bunga mawar putih di sekeliling kursi yang diduduki oleh kedua mempelai dan kedua orang tua mempelai.

Sudah banyak tamu yang memberikan selamat kepada kedua mempelai, para tamu antri untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai dan kedua orang tua mereka. Tamu yang hadir pun kebanyakan adalah para pesohor negeri ini. Mulai dari para pejabat, pengusaha dan tentu saja teman artis dari sang pengantin wanita Myra.

Jam satu siang tamu mulai agak berkurang yang antri untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Tampak kedua mempelai sudah mulai jarang berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Dari kejauhan berjalan seorang pemuda dengan setelan jas warna biru tua dan celana jeans, berperawan tinggi tegap berjalan pelan. Wajahnya masih menampakan kelelahan, sepertinya dia baru menempuh perjalanan jauh. Dia berjalan sambil melihat ke kiri dan kanan, siapa tahu ada orang yang dikenalnya sedang duduk di kursi makan. Tapi nihil, ternyata tidak ada satu orang pun yang dikenal nya ada disitu. Tadinya dia bermaksud untuk bertegur sapa dahulu sebelum naik ke panggung tempat mempelai wanita dan pria duduk. Jadilah dia langsung berjalan menuju panggung dimana kedua mempelai menunggu tamu.

“Yudha….”. Teriak seseorang. Suara perempuan memanggil nama pemuda tersebut. Ternyata yang memanggil adalah mempelai wanita. Yudha tersenyum sambil berjalan ke arah kedua mempelai. Setelah sampai kemudian sang mempelai wanita yaitu Myra memeluk Yudha. Sang mempelai pria hanya tersenyum melihat kelakuan wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.

“Selamat ya… maaf aku nggak bisa menghadiri resepsi pernikahan kalian, pesawatku delay di Singapura, jadi deh terlambat sampai Bandara Soetta.”. Ujar Yudha.
“Iya nggak apa-apa, sudah syukur kamu bisa sampai hari ini jauh-jauh dari New York”. Balas Myra. Yudha kemudian beralih memeluk Prasetya sang mempelai pria.
“Selamat ya Pras, akhirnya jadi juga kalian menikah”. Yudha berkata sambil tersenyum dan masih memeluk prasetya.
“Iya terimakasih juga, kamu sudah jauh-jauh datang menghadiri pernikahan kita”. Jawab Prasetya.

“Yud, kamu jangan pulang dulu, nanti selesai resepsi kita ngobrol-ngobrol ya disini”. Myra berkata setelah Yudha selesai memeluk suaminya.
“Iya aku nggak akan pulang dulu”. Kata Yudha.
“Ayo kamu makan sana, pasti kamu lapar dan masih jet lag habis turun dari pesawat”. Ujar Prasetya.
“Oke aku ke tempat makan dulu ya…”. Yudha kemudian berjalan menuju ke tempat makan.

Yudha bersyukur akhirnya Myra sahabatnya ini jadi juga menikah dengan pujaan hatinya Prasetya. Padahal yang dia dengar dari Myra sebelumnya, orang tua Myra agak kurang setuju dia menikah dengan Prasetya, karena alasan bibit bebet dan bobot dari Prasetya yang bukan keturunan ningrat. Maklum orang tua Myra masih ada hubungan kekerabatan dengan keraton kesultanan Solo. Tapi sepertinya mereka bisa meyakinkan orang tua Myra sehingga bisa melangsungkan pernikahan hari ini.

Yudha sudah mengambil beberapa potong kue dan minuman yang dihidangkan di pesta pernikahan tersebut. Dia masih merasa belum lapar karena tadi begitu turun dari pesawat sempat makan dulu di café bandara. Tadi dia sempat pulang ke rumah dan berangkat mengendarai mobilnya. Dia beruntung bisa diberikan cuti seminggu oleh atasannya walaupun persetujuan nya mepet sampai hari H pernikahan Myra dan Pras. Tapi bagus juga ada sisa hari yang bisa dia gunakan untuk istirahat di Jakarta sambil jalan-jalan.

Yudha sebetulnya hanya tinggal dua bulan lagi bertugas di New York dari tiga tahun dinasnya disana, makanya atasannya tidak memberikan dia ijin cuti karena mendekati akhir tugas dia. Tapi Yudha bersikeras minta cuti karena akan menghadiri pernikahan sahabatnya. Akhirnya ijin pun diberikan oleh atasannya.

Sambil menyantap potongan kue, Yudha melihat sekeliling. Banyak juga teman Myra dan Pras yang menghadiri pernikahan mereka. Rata-rata masih muda dan berpenampilan layaknya artis Ibu Kota. Dia maklum karena Myra adalah artis terkenal. Dia kemudian melihat ke arah pengantin yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.

Ketika giliran seorang wanita yang mengucapkan selamat kepada Myra, dia girang banget dan memeluk erat wanita tersebut. Sambil memeluk wanita tersebut, Myra melihat ke arah Yudha dan tangannya menunjuk wanita yang dipelukannya tersebut. Yudha tidak mengerti maksud dari Myra dan hanya mengangkat tangan dan berkata ‘Apa’ tanpa mengeluarkan suara. Wanita tersebut mengenakan kebaya gaun berwarna pink, tapi Yudha tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari wanita tersebut.

“Baik para tamu undangan sekalian, terima kasih telah datang ke resepsi pernikahan dari Myra dan Pras”. Ujar MC di panggung band pengiring pernikahan.
“Apabila dari hadirin sekalian yang ingin menyumbangkan lagu, silahkan untuk naik ke atas panggung”. Lanjut MC tersebut.
“Mas Jery… sini…”. Panggil Myra kepada MC tersebut. Kemudian Jery sang MC berjalan ke arah Myra di kursi pengantin. Myra kemudian berbisik kepada Jery.
“Mas tolong panggil yang namanya Yudha, suruh naik ke atas panggung dan nyanyi ya…”.
“Ok siip, akan saya panggil”. Jawab Jery. Kemudian dia naik kembali ke atas panggung tempat band pengiring pernikahan berada.

“Atas permintaan dari pengantin, kami panggil Yudha untuk naik ke atas panggung ini”. Ujar Jery.

Yudha yang sedang duduk dan menikmati hidangan di meja kaget bukan main. Dia melihat ke arah MC dan ke arah pengantin. Di kursi pengantin Myra tersenyum dan mengangkat jempol. Wah Myra ngerjain aku kayaknya nih, pikir Yudha.

“Sekali lagi kami panggil saudara Yudha ke atas panggung”. Jery sekali lagi memanggil Yudha. Akhirnya Yudha berdiri dan mulai melangkah ke arah panggung.
“Oke kita kasih tepuk tangan untuk Yudha yang akan menyumbangkan lagu di pernikahan Myra dan Pras”. Para tamu serentak memberikan tepuk tangan nya ketika Yudha melangkah ke arah panggung dan kemudian naik ke atas panggung. Setibanya Yudha di atas panggung kemudian dia membungkuk ke arah para tamu undangan dan kepada kedua mempelai.

“Oke kita ngobrol dulu sebentar”. Kata Jery.
“Yudha ini temannya siapa? Myra atau Pras?”. Tanya Jery.
“Saya teman keduanya, tapi saya lebih dulu kenal dengan Myra, dia teman kuliah saya”. Jawab Yudha.
“Mau nyanyi lagu apa?”. Tanya Jery. Kemudian Yudha berbisik kepada Jery. Jery mengangguk lalu memberitahukan lagu yang akan dibawakan oleh Yudha kepada para pemain band pengiring pernikahan.
“Baik selamat siang, perkenalkan saya Yudha. Kali ini saya akan membawakan lagu khusus untuk kedua mempelai”. Ujar Yudha sambil menunjuk ke arah kedua mempelai. Kemudian dia memberikan kode untuk mulai kepada personel band pengiring pernikahan.
“Ini dia ‘Angel’ dari John Secada”. Kemudian Yudha mulai menyanyikan ‘Angel’ nya John Secada.

Suara Yudha menggema di area ruangan pernikahan tersebut. Suara yang bisa menyamai suara penyanyi aslinya. Semua mata tertuju ke panggung band pengiring dan mengagumi suara dari Yudha. Tepuk tangan kemudian mengiringi selesainya Yudha bernyanyi di atas panggung. Kemudian dia kembali ke tempat duduk semula dengan tatapan mata dari undangan yang ada di pernikahan tersebut. Lega rasanya sudah bisa kembali bernyanyi, pikir Yudha. Ada beberapa pasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik Yudha, sepertinya mereka sangat mengagumi talenta anak muda ini. Termasuk teman Myra yang tadi di tunjuk olehnya kepada Yudha. Myra melihat gelagat tersebut dari atas tempat duduknya, dia kemudian tersenyum.

Jam tiga sore tamu undangan sudah berangsur meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Tinggal beberapa orang saja yang masih setia duduk, termasuk Yudha dan beberapa teman seprofesi Myra. Myra masih bercakap-cakap di tempat duduk tamu undangan ketika seorang wanita menghampirinya.

“Hai Farah… sini kita ngobrol bareng”. Panggil Myra kepada wanita tersebut yang ternyata bernama Farah, Farah Dewi lengkapnya. Dia juga salah satu artis Ibu Kota yang sedang naik daun, tapi tidak secemerlang Myra karirnya. Waktu itu Prasetya juga sedang bercakap-cakap dengan beberapa temannya tapi di meja yang lain.
“Kamu datang sama siapa?”. Tanya Myra.
“Aku tadi diantar sopir, tadi dia balik lagi ke rumah soalnya mau anter mama ke undangan juga”. Jawab Farah.
“Terus bagaimana, sekarang sudah datang sopirnya?”. Tanya Myra lagi.
“Itu dia, sudah di telepon dari tadi masih belum nyambung juga”. Jawab Farah.
“Oh begitu, ya sudah, sebentar tunggu disini”. Myra kemudian memalingkan wajahnya ke tempat duduk Yudha. Dia kemudian memanggilnya.

“Yudha… sini”. Panggil Myra. Yudha kemudian menghampiri mereka.
“Duduk Yud…”. Pinta Myra kepada Yudha. Kemudian dia ikut duduk satu meja, sebelumnya dia tersenyum dan mengangguk ke arah Farah.
“Nih kenalin ini sahabatku namanya Farah, dia artis juga loh… Farah kenalin ini namanya Yudha, dia sahabatku juga”. Yudha kemudian tersenyum kepada Farah.
“Yudha…”.
“Farah…”.
Mereka menyebut nama masing-masing sambil bersalaman. Setelah mereka selesai bersalaman kemudian Myra berkata.
“Far… Yudha ini sahabatku semenjak kuliah, dia baru datang dari New York. Sengaja datang buat menghadiri pernikahanku”. Yudha hanya tersenyum mendengar perkataan Myra.
“Oh begitu”. Ujar Farah.
“Yud kamu bawa mobil kan…?”. Tanya Myra.
“Iya bawa, kenapa memang…”. Jawab Yudha. Wah Myra nih, jangan-jangan nyuruh orang ini nganter aku, begitu pikir Farah.
“Boleh nggak aku minta tolong”. Ujar Myra.
“Iya boleh, minta tolong apa?”. Tanya Yudha.

“Tolong antar sahabat baikku ini pulang ke rumahnya, soalnya sopirnya belum datang”. Jawab Myra. Wah bener nih Myra ada-ada saja nyuruh aku dianter sama Yudha, kan nggak enak baru saja kenal, masa sudah merepotkan dia.
“Boleh…”. Jawab Yudha, dia tidak punya pikiran apa-apa saat itu, hanya mengantar pulang tidak masalah sepertinya, begitu pikirnya.
“Eh nggak usah, nanti merepotkan”. Farah berkata sambil melirik ke arah Myra dan sedikit cemberut. Myra hanya tersenyum melihatnya.
“Udah nggak apa-apa, percaya deh sama aku, Yudha orang nya baik”. Ujar Myra, dia tahu Farah tidak mau merepotkan orang, tapi dia pikir ini kesempatan dia untuk mempertemukan mereka berdua. Dia sudah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari. Dia tahu Yudha sedang jomblo, Farah pun demikian. Apa salahnya kalau mereka dikenalkan siapa tahu cocok dan akhirnya jadian, begitu rencana Myra. Dan akhirnya hal itu kesampaian sekarang, mumpung ada moment Farah sedang sendirian dan Yudha juga sedang ada di Jakarta.

“Ayolah…”. Kata Myra melihat Farah masih diam saja. Sementara Yudha menunggu apa yang akan dikatakan Farah.
“Ya sudah, oke deh”. Farah akhirnya menyerah dan menerima permintaan Myra.
“Nah gitu dong…”. Ujar Myra kepada Farah.
“Ayo sana antar…”. Myra berkata kepada Yudha sambil menyuruhnya pergi.

Yudha kemudian berjalan bersama dengan Farah menuju keluar gedung pernikahan tersebut. Mereka berdua hanya diam tak berkata apapun ketika berjalan. Masih bingung apa yang harus dibicarakan. Ketika sudah berada di lobby Yudha kemudian memanggil ‘vallet’ untuk mengambil kendaraan yang di parkirnya. Beberapa saat kemudian datang kendaraan BMW warna putih seri X1.

“Silahkan pak”. Kata petugas ‘valet’.
“Terimakasih”. Kata Yudha setelah menerima kendaraannya. Kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Farah.
“Silahkan…”. Yudha berkata sambil mempersilahkan Farah untuk naik.
“Terimakasih…”. Jawab Farah. Seleranya oke juga, begitu fikir Farah setelah dia ada di dalam mobil itu. Kemudian Yudha menutup pintu mobil dan berjalan ke tempat kemudi mobil tersebut.
“Kita ke arah mana?”. Tanya Yudha setelah berada di belakang kemudi mobil.
“Ke arah Jakarta Timur, rumah saya di Duren Sawit”. Jawab Farah.
“Tapi bener nggak nih, saya nggak merepotkan…”. Tanya Farah. Dia masih sungkan dengan orang yang baru dikenalnya ini.
“Nggak apa-apa, saya lagi nggak ada acara kemana-mana setelah dari pernikahan Myra tadi”. Jawab Yudha. Farah agak lega mendengar penjelasan nya, soalnya dia takut merepotkan sampai Yudha harus mengantarnya pulang. Ini lagi Myra, ada-ada saja nyuruh Yudha nganter aku, Farah berkata dalam hati.

“Ngomong-ngomong kamu sudah lama kenal sama Myra?”. Tanya Yudha setelah mobilnya berada di Tol TB Simatupang. Dia mencoba memecah kesunyian karena terlihat Farah masih sungkan sama dia.
“Ya cukup lama juga, setelah kerja bareng jadi pemain film, mungkin sekitar lima tahun kita kenal satu sama lain”. Jawab Farah.
“Oh gitu, pantesan kalian akrab banget”. Farah hanya tersenyum.
“Kalau Mas Yudha, sudah kenal lama sama Myra?”. Wah dia panggil mas sama aku hehe, pikir Yudha dalam hati.
“Saya sudah kenal sama Myra semenjak kuliah dulu, dia teman dekat saya di kampus, kita sering kerja sama bareng kalau ada kegiatan di kampus”. Jawab Yudha.
“Oh saya kira pernah dekat dalam hal apa gitu…”. Ujar Farah, dia jadi ingin menggoda orang yang baru dikenalnya ini.
“Wah nggak lah, saya juga kan kenal sama Pras, mereka kan sudah jalan bareng semenjak kuliah dulu”. Jawab Yudha.

“Oh iya, tadi suaranya bagus loh waktu mas Yudha nyanyi lagu Angel”. Ujar Farah.
“Terima kasih”. Jawab Yudha sambil tersenyum.
“Kenapa nggak jadi penyanyi saja, pasti banyak loh produser yang tertarik”. Kata Farah lagi.
“Nggak boleh jadi penyanyi sama mama”. Jawab Yudha polos. Wah anak mamih nih, begitu pikir Farah.
“Mama bilang jadi penyanyi tidak akan menjamin apa-apa di masa depan, lebih baik serius kuliah dan berkarir saja”. Jawab Yudha.
“Oh begitu, tapi tadi kok mau nyanyi?”. Tanya Farah.
“Soalnya mama sudah gak ada, jadi saya berani nyanyi lagi”. Jawab Yudha. Ada sedikit kesedihan disana.
“Oh maaf…”. Kata Farah. Farah terdiam beberapa saat karena merasa gak enak dengan Yudha.
“Nggak apa-apa”. Ujar Yudha.

“Oh iya, kalau kita keluar Tol Bintara bisa kan…?”. Tanya Yudha melihat Farah jadi terdiam.
“Iya bisa, eh maaf ya tadi saya salah ngomong ya…”. Ujar Farah.
“Nggak apa-apa, orang tua saya sudah tiga tahun yang lalu meninggal. Kecelakaan Pesawat sewaktu mau berangkat ke Malaysia tahun 2015 kemarin, yang kecelakaan Air Asia itu”. Kata Yudha.
“Jadi kedua orang tua mas meninggal waktu itu?”. Tanya Farah.
“Iya mereka meninggal sebelum saya berangkat ke New York”. Jawab Yudha.
“Saya turut berduka cita ya mas, maaf saya jadi mengingatkan mas sama orang tua mas”. Ujar Farah merasa bersalah.
“Ah tidak apa-apa, semua sudah takdir dan kejadiannya juga kan sudah lumayan lama”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Kita sudah keluar Tol Bintara nih, jadi kita ke arah mana?”. Tanya Yudha.
“Mas ikut saja terus jalur BKT, nanti setelah ketemu ‘fly over’ kita putar balik ke arah Malaka, rumah saya di Jalan Malaka Raya, nanti persis nya saya kasih tahu”. Jawab Farah.

Kemudian mobil Yudha bergerak menyusuri jalan samping BKT ke arah Casablanca. Setelah ada ‘fly over’ kemudian putar balik ke arah ke Jalan Malaka Raya. Selama itu hening di dalam mobil tidak ada yang bicara. Farah hanya diam saja, dia jadi sangat merasa bersalah mengingatkan Yudha akan orang tuanya yang sudah meninggal.

“Kok jadi diam?”. Tanya Yudha.
“Nggak apa-apa, saya jadi merasa bersalah tadi”. Jawab Farah.
“Sudah tidak apa-apa, nggak usah merasa bersalah segala. Saya nggak apa-apa kok”. Kata Yudha.
“Bener mas…”. Tanya Farah.
“Iya bener…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.
“Jadi rumahnya di sebelah mana?”. Tanya Yudha setelah mobilnya berada di Malaka Raya.
“Nanti ada pertigaan di depan, terus masuk saja ke Jalan Wijaya Kusuma III”. Jawab Farah.

Kemudian mobil Yudha masuk ke Jalan Wijaya Kusuma III.
“Nah itu rumah saya yang sebelah kanan yang cat biru muda”. Kata Farah.
“Oh yang nomor 223A ya…”. Tanya Yudha.
“Iya bener”. Jawab Farah.
Setelah mobil Yudha berhenti di depan rumah Farah, mereka berdua kemudian keluar dari mobil. Tak seperti tadi sewaktu berangkat dari pesta pernikahan Myra, kali ini Farah keluar sendiri tanpa dibukakan pintu oleh Yudha.

Farah berusaha membuka pintu pagar rumahnya, tapi ternyata masih terkunci. Jangan-jangan mama belum pulang nih, pikir Farah. Gawat kalau begini, aku harus nunggu nih.
“Kenapa…”. Tanya Yudha.
“Sepertinya mama saya belum pulang, pintu pagar masih di kunci”. Jawab Farah.
“Ya sudah di tunggu saja, saya temenin nggak apa-apa kan…”. Tanya Yudha.
“Tapi mas Yudha nggak ada acara kemana gitu…”. Tanya Farah.
“Nggak ada…”. Jawab Yudha.
“Hari ini saya nggak ada acara kemana-mana, saya nggak punya rencana kemana-mana selama seminggu ini”. Lanjut Yudha.
“Kok seminggu?”. Tanya Farah aneh. Mereka melanjutkan percakapan sambil bersandar di depan mobil Yudha.
“Iya saya hanya dapat cuti selama satu minggu, dan tidak ada rencana kemana-mana selain menghadiri pernikahan Myra, setelah itu saya langsung balik ke New York”. Jawab Yudha.

Yudha kemudian masuk kedalam mobil dan mengambil sesuatu. Ternyata dia mengambil kamera Sony DSLR miliknya. Mau apa dia? Begitu pikir Farah.

“Sambil ngobrol dan menunggu mama kamu pulang, boleh nggak saya ambil beberapa foto kamu?”. Tanya Yudha. Dia pikir momen ini harus di abadikan. Selagi ada wanita cantik di depannya.
“Oh mau ambil foto, Mmm boleh aja sih, tapi buat apa?”. Tanya Farah.
“Ya… buat kenang-kenangan aja, siapa tau nanti saya ingat kamu waktu di New York. Kan tinggal liat fotonya aja”. Kata Yudha mencoba menggoda Farah. Farah hanya tersenyum mendengar perkataan Yudha.
“Fotonya sambil ngobrol aja ya, jadi kayak ‘candid’ gitu”. Ujar Yudha.
“Oh gitu, oke deh”. Jawab Farah. Jadilah Yudha fotografer dadakan di depan rumah Farah. Dia tampak anggun menggunakan kebaya dengan terusan warna pink. Sambil sesekali berpose, Farah meneruskan obrolan tadi.

“Mas Yudha di New York kerja apa?”. Tanya Farah.
“Oh… saya di New York kerja di KJRI”. Jawab Yudha.
“KJRI…? Maksudnya kedubes gitu?”. Tanya Farah.
“Bukan… kalau KBRI atau Kedubes Indonesia kan di Washington, kalau di New York KJRI, setingkat dibawah KBRI, hanya Konsulat Jenderal saja”. Jawab Yudha.
“Jadi mas Yudha ini semacam diplomat begitu?”. Tanya Farah.
“Iya, saya atase politik dan perdagangan”. Jawab Yudha.
“Wah enak dong jalan-jalan terus di luar negeri…”. Kata Farah.
“Ya ada enaknya ada nggak enaknya, kadang kangen juga sih ingin pulang ke Indonesia, suasananya yang tidak bisa di gantikan, walaupun Jakarta macet tapi tetap saja kangen pengen pulang”. Jawab Yudha.

“Selain di New York, mas Yudha sudah tugas kemana saja?”. Tanya Farah.
“Sebelum di New York saya tugas di beberapa negara Eropa. Belanda, Perancis dan Spanyol. Tapi tidak lama hanya setahun. Sekarang yang paling lama di Amerika selama tiga tahun”. Jawab Yudha.

Banyak foto yang sudah diambil kamera Yudha. Foto-foto candid yang tidak di arahkan layaknya foto profesional. Tapi walaupun begitu banyak foto yang hasilnya bagus. Selain karena diambil saat masih siang, model fotonya pun cantik dan fotogenik. Kemudian Yudha memperlihatkan hasil foto tadi kepada Farah.

“Wah bagus juga ya foto-fotonya”. Ujar Farah.
“Boleh dong dikirim ke HP saya” Lanjutnya.
“Iya boleh, nomor HP nya berapa?”. Tanya Yudha.
“Oh iya, ini nomor HP saya”. Kemudian Farah menyebutkan nomor HP nya. Yudha mengeluarkan HP nya dan mencatat nomor Farah.
“Saya ‘misscall’ ya…”. Ujar Yudha. Kemudian dia menelpon HP Farah.
“Sudah masuk nih, saya ‘save’ ya”. Kata Farah.
“Oke”. Ujar Yudha.

Setelah itu kembali mereka melanjutkan obrolan seputar masing-masing. Waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Namun mamanya Farah masih belum kelihatan juga.

“Mas Yudha kalau mau pulang nggak apa-apa kok. Saya ditinggal sendiri nggak apa-apa kan sudah di depan rumah sendiri”. Ujar Farah.
“Tenang saja, saya tunggu sampai mama kamu datang”. Jawab Yudha.
“Bener nih nggak apa-apa? Nggak ada yang marah nih kalau nemenin saya?”. Ujar Farah sedikit menggoda.
“Wah siapa yang marah…”. Ujar Yudha.
“Ya… siapa tahu, pacar mungkin…”. Farah berkata sambil tersenyum.
“Wah saya belum punya pacar…”. Jawab Yudha.
“Ah masa… cowok biasanya suka bohong kalau ketemu cewek yang baru dikenal”. Ujar Farah.

“Bener kok, saya belum punya pacar. Dan saya juga nggak mau punya pacar”. Jawab Yudha.
“Loh… kok nggak mau punya pacar?”. Tanya Farah heran.
“Saya lagi nggak nyari pacar. Saya lagi nyari istri”. Jawab Yudha sambil tersenyum. Wajah Farah bersemu merah, terlihat karena kulitnya yang putih bersih. Kena aku dikerjain, begitu pikir Farah.

“Enak ya kalau jadi istri diplomat bisa jalan-jalan keluar negeri”. Ujar Farah kemudian.
“Ada enak dan nggak enak nya sih. Kalau pengalaman beberapa teman yang sudah menikah mereka biasanya kangen pulang kalau sudah tugas. Karena harus terus menemani suami mereka dimana mereka bertugas”. Jawab Yudha.
“Kalau kamu jadi artis kan enak, terus juga terkenal dan jadi selebritis”. Ujar Yudha.
“Sama juga ada enak dan nggak enaknya”. Ujar Farah.
“Memang ada nggak enak nya jadi artis?”. Tanya Yudha.
“Iya banyak juga, salah satunya kalau sudah dibully sama netizen. Wah nggak enak banget pokoknya. Jaman sekarang jadi artis di dunia nyata sekaligus jadi artis di dunia maya. Harus pinter-pinter pokoknya”. Jawab Farah.

Ketika sedang asik bercakap-cakap, Farah melihat mobil Nissan Serena nya sedang menuju ke rumahnya. Sepertinya mama nya juga sudah melihat Farah.

“Nah… tuh mama saya sudah datang”. Ujar Farah. Ketika mobil Farah sudah di depan rumahnya kemudian mama nya Farah turun.

“Loh kamu sudah dirumah? Mama pikir masih di resepsi Myra. Tadi nya Pak Maman mau mama suruh jemput kamu”. Ujar mama Farah.
“Mama sih, Farah telepon dari tadi nggak di angkat-angkat. Jadi Farah di anter pulang sama temennya Myra”. Ujar Farah. Yudha mengangguk dan tersenyum kemudian menyalami mama Farah.

“Perkenalkan tante, saya Yudha. Saya teman nya Myra. Tadi kebetulan saya juga mau pulang dari resepsi, jadi sekalian saya antar Farah pulang”. Ujar Yudha.
“Oh iya, terimakasih ya sudah mengantar Farah pulang. Ayo masuk dulu”. Ajak mama Farah.
“Iya mas Yudha kita masuk dulu”. Ajak Farah. Yudha nampak masih kebingungan antara menerima ajakan mereka atau tidak. Tapi apabila menolak rasanya tidak enak juga.
“Baik tante”. Jawab Yudha.
“Nah gitu dong…”. Ujar mama Farah.

“Silahkan duduk”. Ujar Farah ketika sudah ada di ruang tamu. Sementara mama Farah masuk ke ruang keluarga dan terus menuju dapur rumah mereka.
“Terima kasih”. Jawab Yudha.
“Mau minum apa?”. Tanya Farah.
“Nggak usah repot-repot”. Jawab Yudha.
“Nggak repot kok, mau kopi, teh atau juice?”. Tanya Farah.
“Saya nggak minum kopi, air putih saja cukup”. Jawab Yudha. Farah memandang aneh ke arah Yudha. Kok ada ya laki-laki yang nggak suka kopi, jangan-jangan dia nggak merokok juga, pikir Farah.
“Oh iya sebentar ya…”. Ujar Farah. Kemudian dia masuk kedalam.

Di dapur dia melihat mamanya sedang menyiapkan segelas orange juice.

“Buat siapa mam?”. Tanya Farah.
“Buat temen kamu”. Jawab mama.
“Nggak usah mam”. Ujar Farah.
“Loh kok nggak usah?”. Tanya mama.
“Sudah Farah tawarin Juice, Kopi sama teh. Dia nggak mau katanya air putih saja”. Jawab Farah.
“Masa sih…”. Mama memandang heran.
“Hidup sehat barangkali mam. Dia diplomat loh mam. Baru datang dari New York”. Ujar Farah.
“Oh ya… hebat dong, ganteng lagi…”. Mama menggoda Farah sambil tersenyum.
“Ah mama, baru saja kenal”. Ujar Farah malu-malu.
“Eh kok anak mama malu-malu gitu, suka ya…”. Tanya mama.
“Mama ada-ada saja, baru saja kenal masa sudah suka”. Farah berkata sambil menuangkan segelas air putih. Kemudian bersiap membawanya ke ruang tamu. Mamanya hanya tersenyum melihat anak gadisnya berjalan sambil membawa segelas air putih. Tidak biasanya dia begini, biasanya malas-malasan kalau ada tamu, mana mau dia sampai membawa gelas segala buat tamunya, jangan-jangan ada mau nya nih, begitu pikir mama Farah.

Di ruang tamu, Yudha masih duduk menunggu Farah keluar. Sambil duduk dia melihat sekeliling ruang tamu, ruang tamu yang sederhana dan minimalis. Dia lihat di bawah meja ada beberapa majalah. Dia coba mengambil majalah tersebut. Ada foto Farah disana. Model juga dia ternyata, pikir Yudha. Foto nya bagus dan cantik, ups… Yudha tersenyum sendiri. Dia lihat di meja ruang tamu ada beberapa foto Farah terpajang disana. Fotonya bagus-bagus dan ya… memang cantik, Yudha kembali tersenyum sendiri.

“Loh kok senyum-senyum sendiri?”. Farah berkata sambil menghampiri Yudha dengan membawa segelas air putih.
“Eh… nggak apa-apa”. Jawab Yudha tergagap.
“Maaf ya saya lihat-lihat majalahnya tanpa ijin”. Lanjut Yudha.
“Oh itu, gak apa-apa”. Ujar Farah tersenyum.
“Foto nya bagus-bagus”. Ujar Yudha.
“Tapi kok hanya sendiri?”. Lanjutnya.
“Maksudnya…?”. Farah malah bertanya tanpa menjawab pertanyaan Yudha.
“Nggak berdua sama pacar gitu…”. Tanya Yudha sambil tersenyum.
“Oh itu, kirain apa. Mmm… lagi nggak ada aja”. Jawab Farah.
“Maksudnya nggak ada… nggak punya pacar…?”. Tanya Yudha. Farah mengangguk pelan. Malu-malu dia ternyata, begitu pikir Yudha.

“Silahkan diminum”. Ujar Farah setelah sunyi sesaat.
“Oh iya terima kasih”. Jawab Yudha, kemudian dia meminum air putih yang tadi dibawa Farah.
“Oh iya sekarang lagi syuting apa?”. Tanya Yudha.
“Lagi syuting Web Series”. Jawab Farah.
“Web series?”. Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi. Farah hanya tersenyum.
“Maksudnya sinetron?”. Tanya Yudha.
“Bukan… syuting film seperti biasa, tapi tayang nya di internet nggak di TV atau di bioskop”. Jawab Farah.
“Oh begitu, saya baru tahu ada film yang seperti itu”. Jawab Yudha terus terang. Dia jarang memperhatikan hal semacam ini. Wajar memang, karena sehari-hari yang dia kerjakan hanya perihal politik dan perdagangan luar negeri.
“Syuting nya dimana?”. Tanya Yudha kemudian.
“Masih di seputar Jakarta juga, hari kemarin syuting di Kelapa Gading”. Jawab Farah.
“Wah dekat dengan rumah saya tuh”. Ujar Yudha.
“Rumah mas Yudha dimana memangnya?”. Tanya Farah.
“Di daerah Kayu Putih yang mau ke arah Kelapa Gading”. Jawab Yudha.
“Oh disana ya…”. Jawab Farah. Dalam hati dia bergumam, nih cowok ‘high class’ banget sih, mobil BMW seri terbaru, rumah di Kayu Putih yang kata orang disana daerah elit. Tapi kok masih jomblo ya…

“Oh iya, kalau syuting mulai jam berapa?”. Tanya Yudha. Kenapa juga dia nanya syuting ku jam berapa, pikir Farah. Tapi akhirnya dia jawab juga.
“Biasa sih berangkat dari rumah jam tujuh pagi, saya di temenin mama kalau syuting”. Jawab Farah tanpa ditanya dia memberitahu bahwa mama nya setiap hari ikut dia syuting.
“Enak ya kamu kemana-mana masih bisa di temenin mama, kalau saya sekarang sendiri kalau kemana-mana”. Ujar Yudha.
“Mas Yudha memang nggak punya saudara?”. Tanya Farah.
“Nggak… saya anak tunggal, jadi sekarang juga di rumah sendiri saja. Ada sih di rumah yang jaga rumah sama yang mengurus kebun, paling kalau di rumah ya bertiga saja sama mereka”. Jawab yudha.

“Wah sama dong, saya juga anak tunggal”. Ujar Farah.
“Oh ya… kok bisa sama ya…”. Ujar Yudha sambil tersenyum.
“Iya makanya mama selalu menemani kalau sedang syuting, nggak ada siapa-siapa soalnya kalau di rumah, suka kesel katanya”. Farah berkata sambil melihat ke arah foto-foto yang ada di meja ruang tamu.
“Di rumah nggak ada siapa-siapa? Kalau papa kamu nggak di rumah?”. Tanya Yudha.
“Papa sudah nggak ada mas, beliau meninggal sepuluh tahun yang lalu”. Jawab Farah.
“Oh.. maaf”. Ujar Yudha.
“Nggak apa-apa mas, papa sudah lama banget meninggalnya, saya sudah terbiasa hidup berdua sama mama”. Jawab Farah sedikit tersenyum.
“Saya juga kalau teringat orang tua rasanya gimana gitu, teringat kebaikan mereka, terutama mama… masih terngiang-ngiang di telinga saya ingin segera mempunyai cucu, tapi apa daya saya tidak bisa secepatnya menikah karena ada ikatan dinas di deplu”. Ujar Yudha.
“Eh kok saya jadi curhat ya…”. Ujarnya lagi sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa mas, tapi maaf ya saya jadi mengingatkan kembali kepada orang tua mas Yudha”. Farah berkata begitu sambil menyesali dirinya yang mengingatkan kembali tragedi yang menimpa orang tua Yudha.
“Nggak apa-apa, namanya juga takdir tidak bisa dihindari”. Ujar Yudha.

“Oh iya, mas Yudha setelah cuti nanti kembali lagi ke New York?”. Tanya Farah.
“Iya, nanti hari sabtu depan saya berangkat lagi”. Jawab Yudha.
“Oh, begitu ya”. Ada nada penyesalan disana. Yudha pun melihat itu. Lalu dia berkata.
“Tapi saya tugas di New York hanya tinggal dua bulan lagi. Habis itu saya kembali tugas di Jakarta”. Katanya sambil tersenyum.
“Oh hanya tinggal dua bulan lagi”. Farah berkata sambil tersenyum juga, sudah mulai nyambung nih ngobrol sama dia.
“Iya… tapi saya juga tidak tahu berapa lama tugas di Jakarta, nanti kalau saya sudah balik ke Jakarta boleh ya saya main lagi ke rumahmu?”. Tanya Yudha.
“Tapi itu juga kalau kamu nggak sedang syuting”. Yudha melanjutkan.
“Oh iya boleh aja”. Jawab Farah.

Tak terasa suasana sudah berangsur-angsur gelap, pertanda sudah mulai menjelang malam. Sepertinya dia harus pamit pulang dari rumah Farah, begitu pikir Yudha.

“Sudah mau malam, saya pamit pulang dulu ya…”. Ujar Yudha.
“Oh iya sebentar”. Farah berkata sambil masuk kedalam ruang keluarga. Dia memberitahu mamanya kalau Yudha mau pamit pulang.
“Kok buru-buru?”. Tanya mama Farah sambil keluar dari dalam ruang keluarga.
“Iya tante sudah mau malam, lain kali saya mampir lagi”. Jawab Yudha. Kemudian dia menyalami mama Farah. Dia menyalami mama Farah seperti kepada orang tua sendiri, meletakkan tangan mama Farah di kening Yudha, alias salim. Farah dan mama nya saling pandang, tapi dibalik itu semua mama Farah jadi terkesan karena jarang ada anak muda sekarang yang berperilaku seperti itu.

“Libur di rumah aja dong nggak kemana-mana?”. Tanya Farah ketika mereka sudah berada di luar rumah. Sementara mama Farah sudah masuk lagi ke dalam.
“Iya nggak kemana-mana, paling saya lihat anak-anak di panti”. Jawab Yudha.
“Anak-anak? Di panti?”. Tanya Farah heran.
“Eh iya maaf, saya kok jadi cerita terus ya sama kamu”. Jawab Yudha.
“Maksudnya…?”. Farah masih bingung.
“Lain kali saja saya cerita, masih banyak waktu kok. Mmm… boleh saya lihat kamu syuting? Besok kamu syuting kan?”. Tanya Yudha.
“Iya… besok saya syuting, masih di Kelapa Gading juga”. Jawab Farah.
“Besok di ‘share location’ ya tempatnya”. Ujar Yudha.
“Boleh… besok saya ‘share location’ tempatnya”. Ngapain ya dia mau lihat aku syuting segala. Ah biarkan saja, mungkin dia nggak ada pekerjaan di rumah.

Kemudian Yudha masuk kedalam mobilnya. Farah masih berdiri di depan teras rumahnya. Yudha membuka pintu kaca sebelah kiri. Dia melambaikan tangan dan menekan klakson mobil. Farah menjawab dengan melambaikan tangan juga. Kemudian mobil Yudha perlahan berjalan meninggalkan rumah Farah.


Bersambung ke Chapter 02 – Yudha Prawiranegara

Petani Jagung

Di satu desa di Osaka, Jepang, terdapat petani yang menanam jagung unggulan & seringkali memenangkan penghargaan petani dengan jagung terbaik sepanjang musim.

Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara untuk menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.

Wartawan itu menemukan bahwa ternyata petani itu selalu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

_”Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung denga tetangga Anda, lalu bersaing denganya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?”_ tanya wartawan, dengan penuh rasa heran & takjub.

_”Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah & membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain._

_Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang._

_Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula”,_ jawab si Petani itu.

Petani ini sangat menyadari hukum _*”keterhubungan” ( law of attraction)*_ dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.

*****

Adalah sebuah fakta jika kita ingin menikmati kebaikan, kita harus memulai dengan  menabur kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.

Jika kita ingin bahagia, maka kita harus menabur kebahagiaan untuk orang lain.

Jika kita ingin hidup dengan kemakmuran, maka kita harus berupaya pula untuk meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar kita.

Sebaliknya, jika kita menebar keburukan dan kejelekan kepada orang-orang di sekitar kita, maka percayalah, keburukan dan kejelekan itu niscaya akan menyelimuti hidup kita.

Anda tidak akan mungkin menjadi pribadi yang sukses, jika Anda tidak berhasil menabur dan menebar kebaikan pada orang-orang di sekitar Anda.

Selamat menebar kebermanfaatan seluas-seluasnya…!!

Diplomat – Sinopsis

Perjuangan Yudha seorang diplomat muda demi mendapatkan cinta Farah seorang artis wanita yang sedang naik daun. Perkenalan mereka terjadi ketika pernikahan Myra sedang berlangsung. Ada hubungan apa antara Yudha dengan Myra? Lalu siapakah bu Imelda yang setiap hari parkir di seberang panti bu Irma?

Bagaimana akhir dari perjuangan Yudha untuk mendapatkan cinta Farah?

Silahkan dibaca selengkapnya novel yang menguras air mata ini.

Penulis

Silahkan ikut link berikut :

Sinopsis
Chapter 01 The Wedding
Chapter 02 Yudha Prawiranegara
Chapter 03 Farah Dewi
Chapter 04 Tidak Mau Pacaran
Chapter 05 Binar-Binar Bahagia
Chapter 06 Kembali ke New York
Chapter 07 Pulang ke Jakarta
Chapter 08 Melamar
Chapter 09 Bahagia Berdua
Chapter 10 Rahasia Yudha
Chapter 11 Lamaran Resmi
Chapter 12 Persiapan Pernikahan
Chapter 13 Acara Adat
Chapter 14 Hari Pernikahan
Chapter 15 Malam Pertama
Chapter 16 Rahasia Kembali Terkuak
Chapter 17 Berita Bahagia
Chapter 18 Keluarga Baru – Tamat