Lupa….

Lupa ya kamu punya blog… he eh nih lupa, bahkan layout nya pun sudah lupa kayak gimana. Pas tadi iseng liat eh iya juga ya ternyata terakhir kali update udah ganti skin, bisa-bisa nya lupa sama blog sendiri.

Aduh… gara-gara lagi develop software jadi lupa, kadang nggak nge-net sama sekali seharian. Cerita juga belum ada yang selesai, atau memang sudah tidak ada gairah untuk itu??? Apakah gairahku berhubungan dengan perasaan yang tidak lagi ada??? Aku sendiri tak tahu. Aku sudah lama tidak berjumpa lagi dengan sesosok perasaan itu yang biasanya hadir setiap hari menemaniku.

Sudahlah… gak usah kau ungkit cerita lama, hanya menambah beban pikiran saja, fokus saja kepada project yang sedang kamu kerjakan!

Eh… back to project, sekarang aku lagi fokus mengerjakan project ERP. Mudah-mudahan review-nya bisa segera aku selesaikan. Ini berhubungan dengan masa depanku. Aku tak mungkin selamanya bekerja di sini, ingin rasanya punya perusahaan sendiri, develope software sendiri, dan gak usah terima gaji tapi kita bisa menghidupi orang lain. Projectnya sendiri sedang aku kerjakan di blogku yang lain.

Mudah-mudahan gak lupa lagi deh sama blog ku ini hehehe… soalnya mau update cerita baru di sini.

Pulang kampung

Dua minggu aku pulang kampung. tujuanku untuk menenangkan diri sekaligus mengistirahatkan sejenak pikiranku dari rutinitas pekerjaan. Tidak ada televisi, radio, musik, berita atau bahkan internet yang selalu menjadi rutinitasku dalam bekerja. Aku ingin menikmati sejuknya gunung dingin nya air di kampungku. Kicau burung di pagi hari, bunyi jangkrik dan kodok di malam hari, benar-benar membuatku lupa akan rutinitasku di ibu kota.

 

Sehari-hari aku pergi ke sawah atau ke kebun. Sesekali aku juga pergi ke hutan dekat rumahku. Hmm segarnya alam desa ini membuatku betah berlama-lama di sini. Apabila malam sudah menjelang biasanya aku pergi ke sawah dengan beberapa teman lamaku untuk mencari belut. Pengalaman yang benar-benar tak terlupakan.

 

Tapi ada satu hal yang menggelitik hatiku. Ketika aku sedang jalan-jalan dan bertemu teman sekampung, selalu saja pertanyaan yang sama mampir kepadaku.
 
Hari senin aku bertemu Deni, biasa di panggil Bejo. Dia teman sekolahku semasa SD dulu. Dia membawa serta anaknya yang sudah berumur 7 tahun. Kami ngobrol lama mengenang masa-masa dulu.

 

“Kapan kamu nikah Ndi… aku aja udah punya anak tiga”.
“Hah… tiga, trus ini yang kamu bawa anak ke berapa?”. Jawabku.
“Ini anak ku yang pertama, yang kedua umurnya lima tahun dan yang ketiga umurnya baru dua tahun”.
“Ayo dong cepat kawin, tar keburu tua lho…”. Tambahnya lagi.
“Wah belum tau nih Jo… pacar aja belum ada apalagi kawin ga tau kapan”. Jawabku.

 

Besoknya aku ketemu Nani, tetangga rumahku. Hanya terhalang dua rumah di samping kiri rumahku. Hampir aku tidak mengenalinya lagi, soalnya sekarang tubuhnya mendadak bengkak, lain dengan dulu yang kelihatan kurus.
 
“Hei Ndi… kapan datang…?”.
“Hei Nan… aku datang dua hari yang lalu, kok kamu jadi bengkak begini Nan…”. Aku bicara sambil tersenyum.
“Wajarlah… namanya juga udah punya anak dua”.
“Hah… dua…”. Lagi-lagi aku kaget.
“Iya dua, kenapa kaget ya… makanya cepat-cepat kawin tar keburu kiamat baru tau rasa heheh”. Dia berkata sambil tertawa.

 

Besoknya dan hari-hari seterusnya aku selalu bertemu teman sekampungku yang selalu menanyakan kapan aku menikah. Kebanyakan mereka sudah mempunyai anak, ada yang dua, tiga bahkan Wahyu temanku yang lain sudah punya anak empat.

 

Tapi… Hei… aku ke sini untuk berlibur, untuk menenangkan pikiran, bukan untuk berpikir tentang pernikahan. Biarlah aku gak mau berpikir dulu tentang itu, yang jelas aku ingin menikmati liburan ini dengan sebaik-baiknya tanpa di bebani oleh pikiran yang macam-macam.

 

Walaupun begitu, setiap mau tidur aku kepikiran juga tentang yang satu ini. Kapan aku menikah ya… sedangkan calon pun belum ada. Kalau di pikir-pikir mungkin aku terlalu mementingkan pekerjaan dan karirku di kantor. Tak sedikitpun ada pikiran untuk mencari jodoh. Mungkin ada satu dua teman kantorku yang aku taksir, tapi tidak lebih dari itu hanya sekedar suka saja. Tidak ada pikiran untuk mendekati dan dijadikan pacar misalnya atau bahkan mengajaknya menikah. Hal seperti itu masih jauh dalam jangkauanku. Tapi setelah bertemu dengan teman-temanku semasa kecil yang sudah menikah dan mempunyai banyak anak, mau gak mau aku jadi berpikir untuk melangkah ke arah itu.

 

Aku jadi berpikir siapa yang yang cocok jadi pendampingku… apakah Dina yang langsing dan selalu berpenampilan rapi, ataukah Leni yang padat berisi dan selalu terlihat berdandan di kantor. Atau Ria yang selalu memintaku untuk membantu tugas-tugas kantornya, padahal aku pikir tugas tersebut sangat mudah dikerjakan tanpa harus aku ikut membantunya. Ada juga tetangga kost ku yang selalu genit apabila bertemu denganku, ah bukan dia kayaknya, terlalu genit sih. Ada juga kolega ku di perusahaan lain, dia menjabat manager accounting di sana. Kami sering ngobrol mengenai segala hal sampai hal pribadi pun kami bicarakan. Tapi yang ini nggak juga, terlalu tinggi buatku walaupun dalam segala hal selalu nyambung.

 

Tapi kenapa aku jadi berpikir sejauh itu ya… belum apa-apa sudah mengira-ngira siapa bakal calon istriku nanti. Pendekatan saja belum apalagi mengajaknya menikah. Aku jadi tersenyum sendiri mengingat hal ini.

 

Biarlah semua berjalan apa adanya. Jodoh ada di tangan Tuhan, tapi kita wajib berusaha. Sekembalinya ke Jakarta nanti, aku ingin memulai sesuatu yang baru. Aku ingin lebih tegar dalam menghadapi hidup. Aku ingin hidupku menjadi berarti. Sekarang aku ingin menghabiskan sisa liburanku dengan bersenang-senang sepuasnya.

 

CJR, Februari 2007