Sepenggal percakapan yang tertunda

“Hai Lis…”.
“Hai…”. Seulas senyum menghiasi bibirnya
“Bagaimana kabarmu…?”.
“Baik…”. Jawabnya
“Kemarin kebanjiran…?”. Pertanyaan yang gak perlu
“Yah begitulah…”. Jawabnya singkat
“Terus kamu gak ngungsi…?”.
“Ih… ngungsi, kayak jaman perang aja”. Dia tertawa
“Kan rumahku agak tinggi, jadi air gak terlalu banyak masuk ke rumah, lagi pula kita bisa naik ke lantai dua jadi aman”.
“Oh gitu…”.
“Tapi kan daerah Kelapa Gading di kepung air…”.
“Ih… di kepung, kayak banyak musuh aja…”. Lagi-lagi aku salah ngomong.
“Memang sih aku gak bisa ke mana-mana, dua hari itu hanya di rumah saja. Paling kalau mau beli makanan baru pergi ke Carefour”.

Aku dan dia berbicara panjang mengenai banjir yang melanda Jakarta minggu kemarin. Aku juga tidak bisa ke mana-mana karena akses ke Jakarta tertutup semua. Aku hanya bisa menyaksikan tayangan televisi yang menayangkan daerah-daerah di Jakarta yang sudah terendam air, termasuk juga rumahnya di Kelapa Gading.

“Waktu banjir kemarin aku mencoba menelepon kamu, tapi gak bisa…”.
“Iya… memang jaringan Mentari drop semua minggu kemarin, aku juga gak bisa telepon ke mana-mana”. Jawabnya. (Yang pake Mentari jangan sensi ya heheh)
“Kamu kan pake XL… katanya masih bisa ya…”.
“Iya… tapi itu juga kalau mau isi pulsa susah banget”. Jawabku.
“Maaf ya Lis… aku gak bisa bantuin kamu apa-apa, soalnya untuk ke Jakarta saja akses susah banget, apalagi ke rumah kamu, mungkin harus pake perahu karet kali ya…”.
“Iya memang harus pake perahu karet, Tapi gak apa-apa kok, makasih udah mau niat bantu”.
“Sekarang sudah beres-beres rumah?”.
“Iya kemarin waktu air sudah surut, di rumah langsung bersih-bersih, kebetulan ada tukang yang biasa beres-beres di rumahku jadi gak terlalu repot”. Jawabnya
“Mobil kamu gimana?”.
“Wah jangan di tanya Ndi… di depan rumah sudah tidak kelihatan, setelah surut ternyata ada di ujung jalan”. Dia berkata sambil tertawa renyah.
“Trus masih bisa di betulin…?”.
“Sekarang sudah di bengkel… mungkin sekitar seminggu baru selesai”. Jawabnya
“Kamu ke kantor pake apa dong…?”.
“Aku di antar kakak…”.
“Oh kirain…”. Jawabku
“Kirain apa…?”. Tanya dia serius
“Aku kira di antar sama seseorang”. Jawabku
“Seseorang siapa…?”. Dia bertanya sambil tersenyum
“Itu tuh yang suka kamu jemput di kantornya…”.
“Oh itu…”. Dia hanya tersenyum, seperti sudah tahu kemana arah pembicaraanku. Tetapi dia tidak meneruskan jawabannya, hanya sampai di situ saja.

“Eh… sudah hampir jam satu siang, aku turun dulu ya…”.
“Iya gak terasa udah mau masuk kerja lagi”. Jawabku
“Aku duluan ya… thanks dah nanyain kabarku”.
“Iya… aku juga senang kamu baik-baik aja”. Entah apa maksud perkataanku ini. Dia hanya tersenyum.

Kemudian dia beranjak pergi dari meja makan. Kami tadi makan siang bersama dia kantin lantai empat. Tidak biasanya aku berani menghampirinya, dan sempat bicara panjang lebar dengannya. Biasanya aku hanya menyapanya sambil lewat apabila bertemu dengannya.

Dia masih seperti kemarin, tidak ada yang berubah dalam dirinya. Lembut dan selalu penuh senyum. Entah mengapa aku tidak bisa melupakannya, padahal sudah hampir setahun berlalu semenjak aku memberikan sekuntum mawar putih kepadanya, tanda aku mempunyai perasaan khusus kepadanya. Mungkin bunga itu sudah dia buang entah ke mana. Tapi yang jelas perasaanku padanya tidak pernah pupus. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih mengharapkannya, tapi sayang… selain memang dia sudah mempunyai ‘orang lain’ , dia selalu bersikap biasa-biasa saja di depanku.

Ada teman blogku yang bilang, sudah lupakan saja dia lanjutkan hidupmu. Tunjukkan siapa dirimu, berprestasilah setinggi mungkin, apabila kamu sudah meraih itu semua, jangankan Elisa… selusin cewek bisa mendekatimu sekaligus. Yeah… kalau di pikir-pikir ada benarnya juga perkataan dia. Untuk apa aku menunggu sesuatu yang belum pasti aku miliki. Selain karena perbedaan status sosial, aku juga di hadapkan pada kenyataan bahwa dia lain keyakinan dan lain etnis denganku. Padahal pada saat sekarang ini perbedaan seperti itu sudah banyak yang bilang ‘gak jaman’ atau ‘kuno lu’ atau ‘dasar kolot’ dan ungkapan lainnya yang sejenis.

Tapi apa mau di kata… aku sudah mencoba segala upaya untuk melupakan dia, yang terjadi aku semakin pusing di buatnya. Semakin mencoba melupakan aku semakin tersiksa di buatnya. Apa memang aku sendiri yang tidak mau melupakannya. Entahlah aku juga tidak tahu jawabnya. Sorry Jed… gue belum bisa melaksanakan anjuran you waktu itu. Mencoba sudah… tapi belum berhasil juga. Kurang maksimal kali ye…

Biarlah semua ini berjalan apa adanya. Biarlah perasaan ini berlalu. Mungkin seiring berjalannya waktu aku bisa melupakannya. Masih banyak yang harus aku urus, rumah yang baru aku tempati, pekerjaan yang menumpuk, blog yang terbengkalai. Blog… ya ya blog… Aku seperti mati suri sebulan ini. Aku tidak sempat lagi blogwalking, banyak comment yang belum sempat aku baca, banyak shoutbox yang belum sempat aku balas. Life must go on. Aku harus menyongsong hari esok, tidak ada yang bisa melakukannya selain diriku sendiri.

Keep figthting man…

Still

Tenggelam

Aku hanyalah seorang manusia, yang mencoba memainkan sedikit peran dalam hidup ini. Manusia yang mempunyai sedikit bekal ilmu untuk mengerti peran yang sedang aku jalankan ini. Tapi terkadang hidup tak seperti apa yang kita inginkan. Hidup setiap orang sudah ditentukan lika-liku jalannya. Tidak setiap yang kita harapkan selalu terwujud.

Bertahun tahun sudah peran ini aku jalankan. Berbagai cobaan hidup sudah aku dapatkan. Berbagai peristiwa diri sudah aku lewatkan. Tetapi sampai kapankah aku mampu menghadapi segala cobaan hidup ini? Terkadang diri ini kuat dan tabah dalam menghadapi sebuah peristiwa, tetapi di lain waktu aku sangat lemah dalam menghadapinya.

Ketika aku melewati cobaan itu dengan sukses terasa ada kelagaan di hati ini, tetapi ketika cobaan itu begitu dahsyatnya mendera terkadang aku sampai tenggelam untuk bisa melewatinya. Ya… tenggelam dalam ketidak pastian, tenggelam dalam ketidak menenetuan, aku hanya bisa termenung sendiri. Bukan meratapi nasib, tetapi lebih kepada kenapa semua ini harus terjadi, seharusnya aku bisa menghindarinya, seharusnya semua ini tidak perlu terjadi jikalau aku begini, jikalau aku begitu. Pernyataan yang tak bermakna itu selalu muncul di kala aku sedang merasakan beban berat yang aku pikul.

Apakah hidup ini hanya berupa cobaan? Apakah tabu menanyakan kenapa cobaan ini datang kepadaku?

Entah kapan aku bisa berdiri kembali dengan tegak. Bisa sehari, bisa seminggu, bisa sebulan bahkan bisa setahun sampai aku tidak merasakannya lagi.

Saat ini aku sedang tenggelam.