Selamat datang Cinta

Hidup manusia memang sudah di tentukan oleh-Nya. Baik itu yang berujung bahagia maupun yang tidak. Kita tinggal mengambil hikmahnya dari semua kejadian itu.

Tak terasa waktu berlalu, empat bulan sudah aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Entah karena dia yang menghindar atau aku sendiri yang menghindari bertemu dia. Tapi aku sudah melupakan semuanya. Kenangan manis itu hanya tinggal seonggok memory di relung kalbu. Toh semua yang ia katakan ketika terakhir kali aku bertemu tidak terjadi. Telepon, sms atau pun apalah yang bisa membuatku bisa berhubungan dengannya tidak kudapati. Begitupun aku, tidak berusaha untuk mendekati dia lagi. biarlah dia bahagia dengan kehidupannya tanpa ada gangguan dariku.

Hari senin ini aku memulai pekerjaan seperti biasa. Biasanya memang hari senin pekerjaan selalu menumpuk dan semangat kerjapun biasanya agak menurun. Entah karena habis berlibur atau karena padatnya kendaraan di jalan yang kadang membuatku agak sedikit stress.
Tapi hari ini aku tidak ingin stress, tidak ingin bermalas-malasan. Aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku ingin ceria. Yahh… biarlah, sudah lama aku tidak seceria pagi ini.

Jam delapan lewat limabelas menit aku menuju ruang lift untuk naik ke lantai satu. Ada yang harus aku foto copy di sana. Di depan ruang lift tidak ada siapa-siapa, aku menunggu lift turun. Ketika aku menengok kebelakang tiba-tiba ada seseorang masuk, sepertinya…

“Hai…”
“Eh… Hai juga…”. Jawabku. Jantungku hampir copot. Siska!!! Gak nyangka aku ketemu dia lagi setelah berbulan-bulan.
“Apa kabar…?”. Aku berkata berbarengan dengannya.
“Aku baik-baik saja… seperti yang kamu lihat, kalau kamu…?”. Aku yang pertama menjawab sekaligus bertanya mengenai kabarnya.
“Yah… aku juga kurang lebih sama, sudah agak baikan sekarang”. Jawabnya.
“Lho kenapa… kamu sakit…?”.
“Nggak apa-apa…”. Jawabnya. Tapi percakapan kami berhenti karena pintu lift sudah terbuka. Aku mempersilahkannya masuk duluan kemudian aku menyusul. Kebetulan tidak ada orang lain selain kami berdua. Aku memulai lagi percakapan setelah masuk ke dalam lift.

“Bagaimana kabarnya Kevin…?”. Tanyaku, tapi mendadak mukanya sedikit suram.
“Kita ketemu yuk sore nanti, di cafe yang dulu biasa kita datangi…”. Hei ada apa ini?
“Tapi… Kevin…?”. Jawabku
“Gak usah ngomongin dia dulu ya… aku ingin ngobrol sama kamu, mau kan…?”.
Aku berpikir sejenak. Sore nanti sepertinya aku tidak ada acara kemana-mana.
“Ok… aku tunggu sepulang kerja di sana”. Jawabku. Wajahnya kembali berubah ceria. Aku sudah sampai di lanta satu, saatnya untuk keluar. Sebelum keluar aku mencoba memegang tangannya. Tidak ada upaya penolakan darinya. Dia hanya tersenyum. Aku sebetulnya ingin terus berdua dengan dia tapi pintu lift sudah terbuka.

“Aku duluan ya…”. Sambil melepaskan tangannya aku berkata.
“Sampai nanti sore ya…”.
“Ok…”. Jawabku. Kemudian pintu lift tertutup.

“Janjian nih ye…”. Cewek operator telepon di front office menggodaku.
“Mau tau aja…”. Jawabku
“Katanya udah putus…”. Eh nih anak tau dari mana lagi.
“Mau tau aja urusan orang dewasa”. Jawabku seenaknya.
“Mau nyambung lagi nih…”.
“Udah…udah tuh ada telepon masuk”. Aku berkata sambil berlalu masuk ke ruangan kantor. Dia hanya mencibir.

Aku bertemu Siska lagi. Perasaanku jadi tak karuan. Perasaan yang lama aku pendam kini muncul lagi. Ternyata aku masih sangat merindukannya. Senyumnya, matanya, bibirnya, ah segalanya tentang dia masih bisa aku ingat. Tapi dia terlihat agak kurusan, apa dia melakukan program diet ya, tak tahulah. Tapi mungkin ini yang menjadi pertanda hari ini aku ingin semangat, aku ingin tersenyum, aku ingin bahagia. Ternyata aku bertemu kembali dengan pujaan hatiku.

Tapi ada apa dengan dia? Kok sepertinya dia murung saat aku tanya kabar pacarnya? Apa dia sedang bertengkar, dan dia mau curhat sama aku? Bagaimana kalau pacarnya itu melihat, seperti dulu aku melihat dia berdua? Kalau aku ingat kejadian itu rasanya hatiku tergores kembali. Tapi biarlah, mungkin dia sedang memerlukan seseorang yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah saat ini. Biarlah hatiku sedikit perih asal dia bisa bahagia.
Setelah pertemuan tadi hatiku jadi gelisah. Aku tidak bisa berkonsentrasi kerja. Aku teringat dia terus. Siska… sebetulnya aku masih sayang sama kamu. Tiba-tiba HP ku berbunyi. Siska yang telepon, sepertinya dia tahu isi hatiku saat ini.

“Halo…”.
“Hai…”. Jawabku.
“Andi… aku kangen sama kamu…”. Suara Siska di seberang sana.
“Aku juga…”. Jawabku spontan, mulutku tidak bisa di ajak kompromi. Padahal aku ingin berbicara lain.
“Bener Ndi…?”.
“Iya Sis… tapi aku tau kamu sudah punya orang lain di hatimu”. Jawabku.
“Stop talking about that please…”. Dia berkata memohon.
“Ok… ok…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanya dia sepertinya ingin memastikan perbincangan di lift tadi padi.
“Iya, pulang kerja aku langsung ke sana ya”. Jawabku.
“Ok deh kalo gitu, sampai nanti ya daah…”.
“Daah…”. Jawabku menutup pembicaraan.

Sore hari sepulang kerja aku langsung menuju ke sana. Aku tidak membawa motor hari ini jadi aku naik angkutan umum ke tempat aku dan dia biasa bertemu. Toh jaraknya tidak jauh dari kantorku dan kebetulan jalanan tidak terlalu macet hari ini. Di tempat parkir tadi aku tidak memperhatikan apakah mobilnya masih ada atau tidak. Aku tidak tahu apakah dia keluar kantor hari ini. Kalau dia keluar kantor biasanya dia sudah menunggu di sana.

Sesampainya di pintu masuk mall aku bergegas menuju ke cafe. Aku berjalan setengah berlari. Entah kenapa aku ingin segera bertemu dengannya, hampir saja aku menabrak seorang ibu yang sedang menjinjing kantong belanjaan. Setelah meminta maaf aku berjalan kembali, kali ini aku berjalan cepat tapi lebih hati-hati. Sesampainya di depan cafe ternyata dugaanku tidak meleset. Dia sudah ada di sana. Dia duduk sambil matanya menatap lurus ke arah datangnya aku. Begitu melihatku dia langsung berdiri dan tersenyum.

Hal yang tidak aku duga terjadi. Begitu sampai di hadapan dia, aku dipeluknya. Dia berkata tersendat.

“Andi… aku kangen sama kamu…”. Dia berkata sambil terus memeluk tubuhku.
“Iya aku juga kangen sama kamu, tapi lepasin dulu pelukanmu, banyak orang yang melihat tuh…”. Aku berkata sambil melepaskan pelukannya perlahan.
“Ayo duduk”. Kemudian dia duduk dan aku duduk di samping nya. Tidak seperti biasa aku duduk didepannya.

Setelah memesan minuman aku memulai pembicaraan.
“Kamu baik-baik saja kan…?”.
“Aku baik-baik saja”. Jawabnya sambil tersenyum. Tapi sepertinya dia menyimpan sesuatu di balik senyumnya itu.
“Tapi aku lihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan”. Aku melihat gelagat yang agak lain di matanya.
“Mau cerita…?”. Tanyaku. Dia menarik nafas panjang.
“Tapi sebelum cerita aku ingin bertanya sama kamu”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Yah minimal telepon atau sms gitu…”.
“Aku tidak ingin mengganggu kamu, aku ingin kamu bahagia, dan lagi kamu juga tidak pernah mencoba menghubungiku”. Jawabku.
“Ok deh lupakan soal itu, lalu aku ingin bertanya lagi, kamu…. masih sayang kan sama aku?”.
“Siska… seperti yang aku pernah bilang dulu sebelum aku berpisah bahwa aku akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun, dan hal itu berlangsung sampai sekarang. Aku tidak bisa memberikan rasa sayangku sama orang lain kecuali sama kamu”. Jawabku

“Jadi…?”. Aku kembali bertanya. Dia terdiam sejenak.
“Kamu masih ingat waktu kita terakhir kali kesini?”.
“Iya masih”. Jawabku.
“Sebetulnya waktu itu…”. Dia diam lagi. Kemudian aku mendengar jawaban yang membuatku kaget.
“Aku ingin memilih kamu…”. Dia berkata sungguh-sungguh. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi kamu tidak memberikan aku kesempatan, kamu langsung memutuskan untuk meninggalkanku. Aku tidak bisa berbuat banyak, akhirnya aku terima saja keputusanmu itu”. Aku hanya terdiam mendengar penuturannya.
“Aku minta maaf, aku tidak memberikan kamu kesempatan, aku egois ya… maafin aku”.
“Gak apa-apa, semua sudah terjadi, dan kamu tidak salah”.
“Tapi kamu tau apa yang membuat aku tambah menderita?”. Sungguh aku tidak tau arah pembiraan nya ini.
“Kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelum kamu pergi”. Tanya dia kemudian.
“Iya… aku mencium keningmu dan kemudian kamu menangis”. Jawabku
“Kevin melihat kita waktu itu…”. Aku seperti di sengat lebah mendengar perkataannya.

“Jadi dia tau?”.
“Ya dia tau, setelah kamu pergi lalu dia mendatangiku dan menanyakan tentang kamu. Aku tidak bisa berbohong dan aku menceritakan semuanya. Semuanya tentang kita, tentang perasaanku padamu, tentang perasaan kita, tentang sayangku padamu. Dia tidak bisa menerima semua itu. Walaupun aku berkata bahwa aku masih sayang sama dia, tetapi dia tidak bisa menerimaku. Akhirnya saat itu juga dia memutuskanku, memutuskan hubungan yang sudah berjalan hampir dua tahun. Bisa kamu bayangkan perasaanku waktu itu. Setelah kamu memutuskanku, Kevin juga memutuskan hubungannya denganku. Hari itu aku diputuskan oleh dua orang laki-laki. Dua orang yang sangat aku sayangi. Tapi mungkin itu balasan untukku. Aku memang salah sudah mendua”. Dia mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.

Aku kembali tidak bisa berkata apa-apa. Tidak aku sangka semuanya akan berakhir begini.

“Lalu apa yang terjadi kemudian”. Aku kembali bertanya karena aku lihat dia belum selesai berbicara.
“Setelah itu aku pulang, tapi sampai di rumah aku tidak sadarkan diri di depan pintu rumah, untungnya aku bisa mengendarai mobil dengan selamat tanpa terjadi apa-apa. Aku kemudian di rawat di rumah sakit selama seminggu. Mamaku bilang wajahku sangat pucat dan tekanan darahku turun sangat drastis. Aku tidak bisa apa-apa selama seminggu itu, hanya berbaring saja di rumah sakit. Makanya aku sekarang kelihatan agak kurusan kan? Tapi sekarang aku sudah sembuh dan baik-baik saja, kan kejadiannya sudah hampir empat bulan yang lalu”. Dia mengakhiri pembicaraannya.

Aku kemudian memeluknya. Ada sedikit air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian aku mengusap dengan tanganku.

“Kenapa kamu tidak memberitahu aku Sis…?”. Aku jadi sangat menyesal telah memutuskannya waktu itu.
“Aku tidak ingin mengganggumu Ndi… lagi pula mamaku selalu menemaniku di rumah sakit, jadi aku tidak merasa kesepian”. Jawabnya
“Tapi setidaknya kamu harus bilang sama aku”.
“Iya aku memang salah tidak memberitahu kamu, tapi sekarang aku sudah sehat kok…”. Jawabnya, dan sekarang dia sudah bisa kembali tersenyum.

“Lalu sekarang perasaanmu bagaimana?”. Tanyaku
“Yah… aku sekarang sudah lega, sebetulnya aku ingin membicarakan hal ini dari pertama kali aku masuk kerja. Tapi aku takut kamu masih marah sama aku. Aku sebetulnya sering melihat kamu tapi aku tidak berani menyapamu duluan”.
“Siska… kalau tau akhirnya akan begini, aku tidak akan memutuskan kamu”.
“Gak apa-apa Ndi… semuanya sudah terjadi. Yang penting sekarang aku sudah sehat dan sudah ada di depanmu, bisa ngobrol lagi”. Aku hanya tersenyum.
“Tapi aku tidak berharap banyak, aku tahu kamu pasti masih marah sama aku. Aku juga tidak berharap yang telalu muluk bahwa kamu mau kembali lagi sama aku. Kembali mencintaiku, menyayangiku seperti dulu”.

Aku terenyuh mendengarnya. Sungguh dia laksana bidadari yang turun dari kayangan. Hatinya sangat mulia, dia bisa merelakan aku kalaupun aku tidak bisa lagi menjadi kekasihnya.

“Jadi sekarang mau kamu bagaimana?”. Akhirnya aku berkata.
“Aku terserah kamu, kalau kamu masih sayang sama aku, aku berharap kamu bisa kembali lagi padaku. Melanjutkan kisah kita yang dulu tertunda”. Dia berkata sambil menatap mataku. Menembus relung sanubariku yang paling dalam.

Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berpikir. Aku tidak ingin membuatnya berlama-lama terlarut dalam penderitaan. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin membuat bidadariku ini tersenyum. Biar dia bisa membawaku terbang ke awan dengan sayapnya.

“Kalau begitu maumu, aku bersedia kembali menjadi kekasihmu, aku akan selalu di sisimu, kita arungi hidup ini berdua”.
“Bener Ndi…?”. Dia menguncang-guncangkan tanganku seperti tidak percaya.
“Iya Sis…”. Jawabku.
“Makasih Ndi… Aku sayang sama kamu”.
“Aku juga sayang sama kamu”. Jawabku.

Kemudian aku dan dia berpelukan. Aku tak perduli banyak mata yang memperhatikan kami. Rasanya tak ingin berpisah. Setelah melepaskan pelukan kemudian dia berkata.

“Besok lusa kan Hari Natal…”.
“Lalu…?”. Tanyaku.
“Kamu adalah hadiah Natal ku yang paling indah, makasih sayang”.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku berharap perbedaan ini tidak akan memisahkan kami. Justru aku berharap perbedan ini bisa menyatukan hati kami.

“Siska…”.
“Hmmm… apa…?”. Jawabnya dengan mesra.
“Aku dan kamu memang berbeda keyakinan, dan kamu juga tau itu. Tapi aku harap perbedaan ini jangan sampai memisahkan kita. Aku ingin menjalani hubungan ini di atas perbedaan itu, aku ingin menjalani hubungan ini dengan serius, kamu bagaimana?”.
“Aku setuju, jangan sampai semua itu mempengaruhi hubungan kita ya…”. Jawabnya.
“Asal kamu jangan menduakan aku lagi”. Aku berkata sambil bercanda.
“Nggak akan… Ndi, aku gak akan menduakan kamu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Swear…”. Dia berkata sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
“Iya…iya… aku percaya”. Jawabku sambil tersenyum.

“Kita pulang yuk…”.
“Terus kita kemana?”. Tanyaku.
“Ke rumahku…”.
“Lho mau ngapain?”.
“Aku ingin mengenalkan kamu sama mamaku”.
“Tapi…”. Terus terang aku belum siap bertemu dengan orang tuanya.
“Tenang aja, aku sudah menceritakan semuanya. Waktu sakit kemarin aku sudah bercerita banyak tentang kamu kepada mamaku, dan dia ok ok saja. Mamaku orangnya pengertian, bahkan dia menyuruhku untuk mengundangmu ke rumah, bagaimana?”. Aku sedikit lega mendengar penjelasannya. Walau bagaimanapun aku agak sungkan bertemu orang tuanya. Bukan apa-apa, aku baru kali ini bertemu orang tua dari wanita yang aku sayangi.
“Ok deh…”. Jawabku.

Kemudian kami pulang setelah membayar makanan dan minuman yang kami pesan. Seperti biasa sepanjang koridor mall banyak mata yang memperhatikan kami, karena tangan Siska seperti tidak mau lepas dari lenganku. Tapi sekarang aku tidak perduli, toh aku tidak merugikan mereka dan Siska pun sepertinya berpikiran sama denganku.

Sepanjang perjalanan pulang aku dan dia banyak berbicara sambil bercanda. Aku sempat mencium pipinya, hampir saja mobilnya oleng ke kiri karena dia yang mengemudikan mobil.

Sesampainya di rumah Siska aku tidak langsung turun. Terus terang hatiku berdebar-debar.

“Ayo turun”. Ajak Siska
“Ok…”. Setelah beberapa saat akhirnya aku turun juga dari mobilnya.

Rumahnya lumayan besar juga. Untuk ukuran kota metropolitan dia sepertinya dari keluarga berada. Mungkin bekerja di kantor hanya sebagai pengisi waktu saja.

“Hei… kok malah bengong, ayo masuk”. Ajaknya
“Eh iya…”. Jawabku. Kenapa aku mendadak jadi kikuk ya. Ah biarlah, yang terjadi, terjadilah.

“Maa… mama…”. Setelah membuka pintu, Siska memanggil mamanya.
“Iya sayang… gak usah teriak-teriak gitu ah…”. Jawab seseorang dari dalam. Suara perempuan, mungkin itu ibunya. Tak lama kemudian datang seorang wanita yang wajahnya mirip Siska. Oh ini ternyata ibunya Siska. Wajahnya mirip dengan dia dan sepertinya umurnya masih muda.
“Ini lho ma, ada yang ingin aku kenalin”. Siska menunjuk ke arahku. Dia kemudian melihat ke arahku. Aku tersenyum dan mengangguk, kemudian membungkuk menyalaminya.
“Mama ini yang namanaya Andi, Andi ini mamaku”. Dia bergantian menyebut mamanya dan aku.

“Oh ini yang namanya Andi”. Mamanya berkata sambil tersenyum.
“Ayo silahkan duduk”.
“Makasih tante”. Jawabku.
“Maaf tante saya sudah merepotkan, sudah membuat Siska sakit”.
“Oh itu… gak apa-apa mungkin sudah jalannya harus begitu, yang penting sekarang Siska sudah sehat”.
“Iya tante”. Jawabku.
“Cuma tante titip Siska ya, jaga dia baik-baik, dia anak perempuan tante satu-satunya soalnya yang lain laki-laki semua”.
“Eh iya tante”. Aku melirik ke arah Siska, dia terseyum sambil menutup mulutnya.

Kemudian Aku, Siska dan memanya terlibat obrolan ringan. Tapi yang aku salut, mamanya tidak sekalipun menyinggung masalah keyakinanku. Aku sangat menghargai sikapnya tersebut.

Setelah berbasa-basi dan ngobrol ini itu aku akhirnya pamit pulang. Sekali lagi mamanya berpesan agar aku menjaga Siska baik-baik dan aku mengiyakan.

Siska mengantarku sampai ke depan gerbang rumahnya sementara mamanya sudah masuk.

“Sis… kok mama kamu sudah tahu tentang kita?”. Aku berkata ketika aku sudah berada di luar gerbang.
“Kaget ya… aku sudah menceritakan semuanya tadi siang sebelum kita ketemu. Dan aku berkata apabila aku bisa membawamu ke rumah berarti aku sudah jadian lagi sama kamu”. Jawabnya.
“Oh gitu… nakal ya kamu, bagaimana kalau aku tidak bersedia datang…”. Aku berkata sambil mencubit hidungnya. Dia hanya tertawa.
“Aku pulang ya… sampai besok”.
“Nggak ada yang kelupaan?”. Tanya dia
“Apa…”. Jawabku. Dia menunjuk pipinya, manja juga nih anak. Aku kemudian mencium pipinya kiri kanan lalu mencium keningnya. Matanya terpejam.
“Aku pulang ya sayang…”. Aku berbisik di telinganya.
“Hati-hati di jalan ya…”. Aku mengangguk.

Aku kemudian berjalan meninggalkan rumahnya. Dia masih melihat ke arahku walaupun jarak aku dan dia sudah jauh. Dia melambaikan tangan. Sampai aku naik angkutan pun sepertinya dia masih melihatku.

Babak baru kehidupanku sudah di mulai. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya. Aku yakin perbedaan ini akan menyatukan kami.

Jakarta, Akhir Desember 2006

NB : Boeat Elisa… maaf ya kalau cerita ini kurang berkenan. Aku sengaja mengganti namamu. Sampai sekarang aku masih tetap mengharapkanmu. Tapi sayang kita sekarang sudah jauh.

Warna baru

Pfuiih….. setelah berhari-hari tertunda, akhirnya jadi juga aku ganti tampilan.Sebetulnya dari hari senin kemarin aku ingin ganti template tapi berhubung kerjaan banyak jadi tertunda terus. Tapi walaupun setting template sambil bekerja bolak-balik akhirnya kelar juga.
Sekalian aku mengubah tampilan blog link. Aku sertakan foto dari blogger. Kalau ada yang tidak berkenan fotonya di tampilkan silahkan melakukan unjuk rasa hehehe… tapi apabila berkenan saya haturkan terimakasih.

Pindahan

Akhirnya jadi juga aku pindah. Hari minggu kemarin dengan menggunakan mobil box (pinjam dari kantor hehehe) aku pindahan ke rumah baruku di Cibinong. Memang sih jauh dari Jakarta tempat kerjaku tapi setidaknya aku sekarang punya status baru bukan lagi sebagai anak kost hehehe.

Rumah tampak depan.


Ruang tengah yang masih kosong.

Barang-barang bawaanku dari Jakarta masih berserakan.

Kamar yang masih kosong.

Dapur yang belum jadi.

Chelsea sama Everton lagi maen.

Akhirnya Chelsea menang 3-2 setelah sebelumnya ketinggalan 1-2. Drogba emang hebat, eh gak ada hubungannya sama pindahan ya hehe.

Semoga saja rumah ini bisa menjadi tempatku ‘berteduh’. Bisa menjadi sumber inspirasiku. Bisa lebih menjelajahi alam imajinasiku.
Tapi aku masih sendiri hiks.

Ada yang mau nemenin gak 😀

Selamat tinggal Jakarta

Tak terasa sudah hampir empat tahun aku mengembara di belantara ibukota. Mencari sesuatu yang belum pasti. Mengejar cita-cita mewujudkan mimpi. Sudah saatnya untuk memulai sesuatu yang baru.

Jakarta yang sesak. Jakarta yang padat. Jakarta yang hiruk pikuk. Tapi membuatku betah berlama-lama di kota ini. Jakarta yang siang hari bising dengan kendaraan yang lalu-lalang. Jakarta yang malam hari disinari dengan kerlap-kerlip lampu jalanan.

Jakarta yang memberiku berjuta kenangan. Ya… kenangan yang tak kan terlupakan. Jakarta yang membuatku menjadi laki-laki. Jakarta yang membelalakkan mataku. Membuatku hampir beberapa kali ‘terpeleset’ di dunia malam yang gelap. Walau terkadang gelap itu tak sampai gelap.

Tapi Jakarta juga memberikan aku arti. Arti dari sebuah perasaan. Membuatku merasa memiiliki. Membuatku merasa mencintai dan dicintai. Meninggalkan kenangan yang teramat manis untuk dilupakan namun terlalu sakit untuk di kenang. Siska… namamu akan selalu berada dalam sanubariku. Namamu akan di kenang sepanjang hidupku. Sebagai mutiara hati yang tak akan lekang di makan waktu.

Tapi sekarang saatnya untuk melangkah. Menuju kehidupan yang baru. Menuju rumah masa depanku.

Selamat tinggal Jakarta. Selamat tinggal kenangan.

Siska (Bag.3 – Tamat)

Malam nya sebelum tidur aku dapet sms. Siska yang kirim. Ada apa ya, gak biasanya. Jangan-jangan…

 

Ndi makasih ya makan malam nya. Unforgetable evening. Sebetulnya sih aku…. ah nggak deh nanti aja. Met tidur ya…

 

Hmmm… apa maksudnya ya…? aku mencoba menghubungi Hp nya tapi sepertinya dia sengaja mematikan HP nya. Tadinya aku berniat membalas sms nya tapi aku urungkan niatku karena aku pikir percuma saja kalau HP nya dia matikan. Akhirnya aku tertidur dengan bayangan Siska menemaniku.

 

Setelah kejadian makan malam itu, aku semakin sering jalan bareng dia. Seminggu bisa tiga sampai empat kali aku jalan bareng dia. Entah itu ke mall, makan, ataupun nonton film. Selama itu kita semakin dekat. Dia sudah tidak malu lagi berjalan bergandengan tangan denganku. Layaknya sepasang kekasih saja. Padahal aku belum mendengar sepatah katapun bahwa dia menerimaku sebagai pacarnya.

 

Suatu saat aku bertanya kepadanya sewaktu kita sedang berjalan-jalan di mall.
 
“Sis…”.
“Hmm…”. Dia menjawab tanpa melihatku karena tangan nya sedang sibuk memilih baju.
“Siska… liat sini dong…”.
“Apa…”. Jawabnya sambil masih memili-milih baju
“Aku mau ngomong”.
“Serius amat… kita duduk di cafe saja…”. Jawabnya sambil menarik tanganku menuju cafe.
“Mas… lemon tea dua…”. Teriak Siska kepada pelayan cafe. Dia sudah mengerti karena kami sering datang ke sini.
 
“Ok… sekarang kita sudah duduk, kamu mau ngomong apa…?”. Tanya dia. Matanya menatap lurus kepadaku.

 

“Tapi jangan marah ya…”.
“Marah kenapa…”. Tanya dia sambil sedikit tertawa.
“Janji ya…”.
“Iya…iya…”. Jawabnya.
“Aku pengen tau status hubungan kita”. Aku bicara serius sambil menatap matanya.
“Status apa…?”. Jawabnya sambil sedikit tersenyum. Nampaknya dia sudah tau apa yang akan aku bicarakan.
“Ya… aku dan kamu…”.
“Maksudnya?”. Sambil masih tersenyum.
“Aku pengen tau aja… kita ini sudah pacaran belum sih…?”. Tanyaku. Aku pengen nyubit pipinya yang terus tersenyum itu… gemas.

 

“Maksudmu aku sudah jadi pacarmu apa belum gitu…?”.
“Iya Siska….”. Aku berkata semakin gemas.
“Kamu pikir aku sudah sering jalan sama kamu, makan bareng kamu, nonton bareng, curhat dan sebagainya kamu anggap apa…?”. Eehhh dia malah balik nanya.
“Ya… aku gak tau…”. Jawabku agak bingung.
“Kamu pikir aku mau jalan sama kamu kalau aku ga punya perasaan sama kamu…?”. Yah… nanya lagi.
“Kamu kan gak pernah ngomong, gak pernah ngasih jawaban apa-apa…”. Jawabku
“Memang harus dikatakan ya…?”.
“Aku hanya ingin ketegasan aja…”.
“Tapi kan gak harus… dengan sikapku selama ini juga harusnya kamu sudah tau…”. Bodohnya diriku.

 

“Jadi selama ini…”. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu…”. Aku tidak meneruskan bicara.
“Kamu apa…?”.
“Aku sudah jadi pacar kamu…?”. Antara bahagia dan heran aku bertanya. Dia hanya mengangguk.
“Jadi sekarang aku sudah resmi jadi pacar kamu…?”.
“Memang nya harus di resmikan, kayak yang merried aja…”. Jawabnya.
“Yes…”. Aku berkata agak keras.
“Huss…. pelan-pelan, orang-orang pada liat tuh…”. Aku menutup mulutku. Habisnya aku gak tahan ingin mengungkapkan kebahagiannku.
“Tapi sejak kapan…?”. Tanyaku.
“Gak penting… yang jelas aku punya perasaan yang sama dengan kamu”. Jawabnya. Aku pegang tangannya membawanya ke arah mukaku, dan aku menciumnya.

 

“Andi…. apa-apaan…”. Dia berusaha menarik tanganya tapi tidak sungguh-sungguh menariknya sehingga aku bebas memegang tangannya.
“Pulang yu…”.
“Ayo…”. Jawabnya.
“Kita mau kemana…?”. Tanya dia
“Kita jalan aja yuk…”. Jawabku
“Kamu mau ngajak aku kemana…?”. Tanya dia lagi.
“Ke ujung dunia…”. Jawabku. Dia hanya tersenyum kecil. Dia menggelayut manja dilenganku. Aku serasa menjadi laki-laki sejati. Langkahku tegap, dadaku membusung, hahaha kayak tentara.

 

Aku benar-benar bahagia, apa yang aku cita-citakan terlaksana juga. Aku bahagia karena ternyata aku bisa memilikinya. Aku sudah tidak ragu-ragu lagi dengan perasaanku kepadanya. Aku bisa menumpahkan seluruh kasih sayangku kepadanya tanpa ada ganjalan sedikitpun.
 
Sejak hari itu aku resmi jadi pacarnya. Aku bisa dengan bebas meng-ekspresikan kasih sayangku.

 

Tapi tidak selamanya kisah cinta itu indah. Itu juga yang terjadi kepadaku. Aku dipertemukan dengan suatu peristiwa yang membuatku harus membuang jauh rasa sayangku kepasa Siska. Yang membuatku harus mengubur dalam-dalam harapan dan angan-anganku selama ini kepadanya.

 

Aku mengurung diri di dalam ruangan kerjaku. Aku tidak pernah keluar ruangan. Makan siangpun aku minta di antar ke meja kerjaku. Aku datang ke kantor tepat waktu dan langsung duduk di depan meja. Aku pulang juga tepat waktu tanpa ada kegiatan menunggu dia dulu. Telepon Siska tidak pernah aku jawab, begitupun sms nya tidak pernah sekalipun aku balas.

 

Seminggu kejadian ini berlangsung sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Siska di dalam lift seperti yang pernah aku ungkap di awal cerita. Mungkin memang harus begini akhir kisah cintaku. Lebih baik sekarang dia tahu kenapa aku menjauhinya. Aku sudah siap melupakan dia untuk selamanya.

 

Sore hari selepas jam kerja aku berangkat ke cafe tempat biasa kita bertemu. Aku berjalan santai di dalam mall karena waktu pulang Siska masih lama. Jadi aku pikir masih ada waktu menunggu dia. Tapi aku salah duga, ketika aku sampai dia sudah ada di sana menungguku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku juga tersenyum tapi hambar kurasa.

 

Masih cantik seperti biasa. Sungguh…aku selalu terpesona apabila menatap wajahnya. Matanya selalu menampakkan binar-binar kasih. Aku kemudian duduk di depan dia. Di depannya sudah ada gelas kosong satu dan satu lagi masih tersisa setengahnya pertanda dia sudah cukup lama menungguku disini. Di depanku juga sudah ada minuman yang tampaknya sengaja dia pesan untukku.

 

“Hai… sudah lama nunggu aku..?”. Aku membuka pembicaraan. Dia hanya mengangguk. Matanya agak meredup pertanda ada sesuatu yang mengganjal perasaannya, mungkin tentang aku.
“Kenapa Ndi…?”.
“Apanya yang kenapa?”. Jawabku
“Yang tadi siang aku tanyakan…?”.
“Ooh itu… gak apa-apa…”.
“Gak ada apa-apa kamu bilang…?”. Tanya dia keheranan.
“Kamu tidak menjawa teleponku, tidak membalas sms ku, tidak pernah kelihatan di kantor, tapi kamu bilang tidak ada apa-apa… kamu gimana sih…?”. Tanya dia dengan semangat.

 

“Aku…. gimana ya aku ngasih tau sama kamu…”. Jawabanku menggantung.
“Kenapa Ndi…”. Dia memegang tanganku dan menarik nya. Aku tidak menjawab.
“Kamu sudah bosan sama aku…?”. Wah bosan… tidak mungkin aku bosan menatap wajahnya. Tidak mungkin aku bosan berjalan berduaan dengannya. Tidak mungkin aku bosan berlama-lama berbicara dengannya.
“Nggak…”. Hanya itu kata yang keluar dari mulutku.
“Lalu kenapa… apakah karena aku orang chinesse…?”. Wah dari mana pula pertanyaan itu berasal.

 

“Siska… aku sudah tahu dari pertama melihat kamu bahwa kamu tuh orang chinesse, so what… aku suka kamu”. Jawabku
“Atau apakah aku bukan seorang muslim, jadi kamu menjauhiku…?”. Tanya dia tak kalah sengit.
“Aku sudah tau resiko itu dari semenjak aku menyukai kamu. Jadi tidak menjadi masalah buatku apakah kamu seorang muslim atau bukan. Yang jelas aku menyukai kamu”. Jawabku
“Jadi kenapa Ndi… jawab dong…”. Dia terus mendesakku.
 
“Siska… kamu tahu kan aku menyukai kamu, aku sayang sama kamu bahkan aku sudah menumpahkan seluruh perasaanku kepadamu. Tapi mengapa disaat perasaanku begitu besar kepadamu terjadi sesuatu yang membuatku perasaanku hancur…”.
“Sesuatu apa…?”. Tanya dia

 

“Aku melihat kamu berjalan berduaan di mall ini seminggu yang lalu. Aku tadinya berpikir itu adalah teman kamu, tapi setelah aku perhatikan nampaknya dia bukan sekedar teman karena kamu terlihat mesra sekali berjalan berdua dengannya. Aku sempat iri dibuatnya, kamu terlihat bahagia sekali”. Akhirnya aku menjelaskan juga duduk perkaranya. Dia hanya terdiam mendengar penjelasanku.
“Dan aku tidak hanya sekali melihat kamu bersama dia, dua hari kemudian aku kesini lagi dan seperti malam minggu sebelumnya aku melihat kamu lagi, sedang berjalan berdua dengan dia. Sampai tiga kali berturut-turut aku lihat kamu di sini dan dengan orang yang sama”.
“Itu pacar kamu kan…?”. Tanyaku. Dia hanya diam.

 

“Jawab Sis…”. Aku bertanya lagi. Aku berkata pelan. Walaupun aku tahu dia telah menduakan aku tapi aku masih teramat sayang kepadanya.
“Iya…”. Hanya itu yang terlontar dari bibirnya.
“Duluan siapa dia sama aku…?”. Tanyaku lagi. Dia terdiam lagi.
“Siska…”. Aku terus mendesaknya.
“Dia…”. Jawabnya. Aku mengeluarkan nafas panjang. Terasa berat sekali.
“Berarti kamu menduakan dia…”.
“Tapi Ndi…”.
“Tapi apa…”.
“Aku sayang sama kamu”. Dia berkata lirih.
“Aku juga sayang sama kamu Sis… walaupun ternyata aku kamu jadikan yang kedua tapi rasa sayangku tak akan berubah. Walaupun sakit tapi aku tetap sayang sama kamu”.
 
“Siapa namanya…?”. Tanyaku. Dia terdiam lagi
“Katakan Sis…?”. Tanyaku lagi
“Memang harus ya…?”. Dia balik bertanya
“Aku hanya ingin tau”. Jawabku.
“Kevin… namanya Kevin”. Jawabnya
“Orang mana…?”.
“Orang Kelapa Gading juga”. Jawabnya
“Sejak kapan kamu berhubungan sama dia?”.
“Dia teman kuliahku dulu”. Jawabnya.
Berarti kamu sudah lama pacaran sama dia”. Dia hanya mengangguk.
“Maafkan aku Ndi… aku gak bermaksud menduakan kamu, tapi aku gak punya pilihan lain. Aku sudah punya pacar tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, aku juga sayang sama kamu”.
“Semenjak kita jalan bareng aku sudah bimbang. Tadinya aku ingin nolak kamu, tapi aku gak bisa. Gak tau kenapa aku gak bisa menjawab tidak sama kamu, makanya aku tidak berani menjawab langsung”. Dia berusaha menjelaskan duduk persoalannya. Tapi buatku, melihat dia berdua sama orang lain juga sudah cukup menjelaskan duduk persoalannya.

 

“Tidak ada yang perlu di maafkan”. Aku berkata sambil menyandarkan diri di sandaran kursi.
“Jadi kamu ingin aku memilih antara kamu atau dia…”.
“Aku tidak berkata begitu”. Jawabku.
“Atau kamu ingin aku putus dengan dia dan jalan sama kamu…”.
“Sekali lagi aku tidak berkata begitu Sis…”. Jawabku.
“Setelah apa yang aku lakukan, kamu masih mau menerimaku…?”. Tanya dia lagi.
“Siska… sebaiknya kamu kembali lagi sama dia. Aku rela melepaskan kamu walau sebetulnya berat sekali”.
“Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian, aku tau rasanya diduakan, bagaimana seandainya dia tahu apa yang kamu lakukan, pasti dia juga merasa sakit”.
“Tapi aku juga sayang kamu”. Berkali-kali dia berkata begitu seolah tidak ingin aku tinggalkan.
“Kamu juga tau kan, aku sangat sayang sama kamu”. Dia hanya mengangguk.
“Simpan saja rasa sayang mu padaku, mudah-mudahan suatu saat kita di pertemukan kembali”.
“Tapi apabila suatu saat aku kembali padamu, kamu masih mau menerimaku…?”. Dia bertanya sungguh-sungguh. Aku tidak menjawab apa-apa, tapi kepalaku perlahan mengangguk. Dia sedikit tersenyum tapi masih nampak sedikit kegetiran disana. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, aku tak tahu. Tapi semoga saja apa yang akan dia lakukan sesuai dengan apa yang di cita-citakannya.
“Aku pulang ya… jaga diri baik-baik”. Dia hanya mengangguk.
“Tapi aku masih bolehkan menelpon kamu, sms kamu”. Tanya dia.
“Ya…”. Jawabku, walaupun aku belum tau apakah nanti aku akan menjawab teleponnya atau membalas sms nya.

 

Aku beranjak dari tempat duduk. Tidak ada gunanya aku berlama-lama disini. Hanya akan membuatku semakin sakit. Aku berdiri kemudian menghampirinya. Aku menunduk kemudian mencium keningnya sambil berbisik…

 

“Aku sayang kamu…”. Dia hanya mengangguk. Aku lihat ada bulir-bulir airmata yang siap jatuh. Aku sebetulnya ingin mendekapnya, membawanya kedalam dadaku dan mengatakan bahwa aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan menunggunya. Tapi aku ingin segera pergi dari sini.

 

Aku berbalik dan melangkah menjauh. Aku tidak lagi menengok ke arah dia. Tapi aku rasakan bahwa dia masih menatapku, melihat kepergianku. Biarlah semuanya berlalu menjadi kenangan. Cerita indah bersamanya akan aku simpan rapi di dalam dalam hatiku.