Siska (Bag. 2)

Semenjak tahu nomor HP nya aku jadi sering menelepon dia. Ternyata di rumah dia bisa lebih santai kalau aku hubungi. Tapi walaupun begitu aku enggan menanyakan nomor telepon rumahnya. Lebih enak kalau menelepon dia di Hp, lebih privat gitu.

 

Biasanya aku telpon dia sekitar jam tujuh malam. Biasanya dia sudah ada di rumah dan sudah santai.

 

“Hai Siska…”. Aku sudah tidak lagi memulai pembicaraan dengan basa-basi selamat malam atau apalah itu. Soalnya sudah mulai akrab berbicara dengan dia. Aku rasa dia juga demikian. Sudah mulai berbicara terbuka kepadaku.
“Hai ndi…, ih kesel deh hari ini…”. Katanya.
“Ada apa memang nya…?”. Tanyaku.
“Aku di marahin customer Ndi, sebel banget deh. Bukan aku yang salah kok. Dia sendiri yang salah order, bukan salah aku dong kalau aku kirim sesuai dengan yang dia pesan”. Dia bicara panjang lebar.

 

“Oh gitu… terus akhirnya gimana?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Ya akhir nya di batalin, aku jadi di omelin sama atasanku, sama orang gudang, ah sebel deh pokok nya”. Dia bicara masih agak kesal.
“Sabar aja ya… kalau kerja memang gitu, harus tahan kalau ada kesalahan”. Aku mencoba menghiburnya.
“Tapi kan bukan salahku…”. Masih dengan nada kesal.
“Iya memang bukan salah kamu, tapi kamu harus sabar kalau jadi sasaran kemarahan orang. Kamu kan bekerja baru beberapa bulan, masih banyak yang harus kamu pelajari”. Aku menambahkan.

 

“Tapi aku masih kesel…”. Jawabnya lagi.
“Iya kesel boleh..tapi jangan keterusan ya… senyum dong… biar keselnya hilang…”. Aku mencoba mencairakan kekesalannya.
“Hehe iya sih.. kenapa aku keterusan ya?”. Jawabnya.
“Nah gitu dong… kan enak, jadi gak stress hehe”. Akhirnya.
 
“Kamu dah makan?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Belum nih… kenapa? Mau ngajakin? Mau dong di traktir… hehe”. Jawabnya. Kali ini dia sudah mulai bisa bercanda.

 

“Boleh ntar aku jemput ke rumah ya hehe”. Jawabku.
“Nggak usah… aku udah makan kok, tadi waktu pulang kerja makan dulu”. Kepancing juga dia.
“Kamu tuh… lagian aku juga belum tau rumah kamu, bagaimana aku bisa ke sana?”.
“Eh iya deng… kamu belum tau rumahku ya”. Jawabnya.
“Boleh dong sekali-kali main ke sana”. Tanyaku.
“Boleh aja… tapi di sini ada anjing galak, tar kamu di gigit”. Jawabnya.
“Kan ada kamu yang ngobatin hehe”. Jawabku sekenanya.
“Huuu maunya tuh”. Aku tertawa mendengarnya karena di ujung sana pastinya dia sedang mencibir.

 

“Mmmm Sis… mau gak satu saat aku ajak kamu makan?”. Aku nekad bertanya. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Mumpung aku sudah dekat sama dia.
“Boleh…boleh… Kapan?”. Jawabnya. Wah dia langsung mau. Aku bingung juga nih, kapan ya.. dan dimana soalnya aku belum tau selera dia.
“Kalo pulang kerja gimana?”. Tanyaku
“Boleh… kapan?”. Wah nembak lagi dia. Kapan ya…
“Besok jumat gimana? kan besoknya libur jadi waktunya lebih santai”. Jawabku
“Boleh… kamu mau ngajak makan di mana?”. Bingung lagi aku.
“Nah itu dia… aku belum tau selera kamu, jadi mending kamu deh yang pilih tempatnya”. Jawabku.

 

“Kok aku yang pilih… kan kamu yang ngajak. Aku jadi gak enak”.
“Gak apa-apa… kalo aku makan di mana aja ok, tapi kalo cewek kan biasanya punya tempat favorit gitu”. Alasan yang aku cari-cari sebetulnya. Tapi mau bagaimana lagi, daripada nanti dia kecewa mendingan dia yang pilih sendiri.
“Oh gitu ya… kalau begitu di La Piazza Kelapa Gading aja bagaimana…?”. What… La Piazza… bisa bangkrut nih, batinku.
“Ok deh kalo gitu, besok pulang kerja kita ketemu di sana ya…”. Jawabku
“Udah dulu ya… besok aku telepon lagi”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Ok daah”.
“Daah”. Jawabku.

 

Yes… aku besok akan makan malam sama dia. Tapi… La Piazza nih, bisa abis duitku. Tapi gak apalah, yang penting aku bisa berduaan sama Siska.

 

Besok nya aku sudah gak sabar menanti sore. Rasanya lama hari ini. Apa aku sudah jatuh hati sama dia. Sampai tidak karuan begini perasaanku. Padahal hanya makan malam saja, nothing else. Tapi rasanya seperti mau menghadapi ujian matematika yang gurunya killer. Huh… hatiku tidak bisa di ajak kompromi, selalu aja dagdigdug. Padahal yang di ajak makan mungkin tidak punya perasaan apa-apa. Ah biar saja, toh cuma makan malam bukan ketemu calon mertua…lho apa maksudnya hehehe…

 

Siang hari akhirnya ku telepon dia di kantornya.
 
“Halo Sis…”.
“Halo Ndi…”.
“Sore nanti jadi kan…?”. Tanyaku
“Mmmm apa ya…?”. Jawabnya
“Lho… yang semalam itu…?”.
“Yang malam apa…?”. Jawabnya lagi.
“Masa sudah lupa… kan janji mau makan malam…”. Aku mulai kesal di buatnya. Baru malam tadi bicara masa sudah lupa lagi.
“Oh aku janji ya… lupa tuh…”. Jawab dia seenaknya.
“Ya udah kalo gitu, udah ya daah”. Aku memutuskan hubungan telp tanpa menunggu dia menjawab apa-apa lagi. Biarlah kalau memang dia lupa.

 

Satu menit kemudian Hp ku berbunyi. Aku lihat di layar HP ku yang telp Siska. Angkat jangan ya… Akhirnya telepon aku jawab juga.
 
“Halo…”. Aku mulai bicara.
“Ndi… marah ya… hahaha…”. Terdengar dia tertawa di seberang sana. Kalo dalam keadaan biasa mungkin akan terdengar indah di telingaku, tapi berhubung aku sedang kesal kepadanya jadi terdengar aneh di kupingku.
“Jangan marah ya… aku bercanda kok”. Masih terdengar sisa tawa di ujung sana.
“Oh gitu… kirain…”. Jawabku
“Kirain apa… hehehe… Serius amat… kenapa sih kamu…?”. Tanya dia.
“Gak apa-apa sih cuma… ya… gak apa-apa sih”. Jawabanku menggantung. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku sangat mengharapkan untuk bisa jalan bareng dia.

 

“Kenapa sih pengen banget jalan sama aku?”. Uh dia langsung nebak isi hatiku.
“Ya… pengen aja jalan sama kamu, pengen kenal lebih dekat”. Jawabku
“Lho kan sekarang juga sudah kenal”.
“Kan belum dekat”. Jawabku lagi
“Sedekat apa?”. Tanya dia lagi. Ini anak maunya apa sih sebetulnya. Kayak mau introgasi aja.
“Sangat dekat”. Aku jawab sekenanya saja. Akan aku layani pertanyaanya.
“Kalau sudah dekat, mau apa?”. Dia nanya makin jauh.
“Mau lebih dekat lagi”. Jawabku. Permainan apa yang sedang dia jalankan? Pertanyaanya semakin menjurus.
“Kalau sudah semakin dekat?”. Aduh apa sih maunya.
“Nempel kali…”. Jawabku sekenanya.
“Hahaha…”. Dia tertawa.

 

“Jadi bagaimana entar sore? Jadi kan…?”. Aku tanya setalah dia selesai tertawa.
“Ya jadi lah…”. Jawabnya.
“Aku tunggu di sana ya”.
“Apa nggak bareng aja dari sini?”. Hah bareng… Bisa heboh kantorku.
“Wah gak usah, aku bawa motor. Jadi aku duluan saja ya…”. Jawabku
“Oh begitu… ya udah. Aku sampe di sana sekitar jam enam”.
“Ok… sebelum jam enam aku sudah di sana”. Jawabku
“Kalau begitu sampai nanti sore ya… dah…”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Daah…”. Jawabnya sebelum menutup telepon.

 

Lega deh… mudah-mudahan nanti sore segalanya lancar tidak ada halangan apa-apa. Soalnya aku sudah ingin mengajak dia jalan semenjak aku kenal sama dia. Hmmm… kenapa ya? Ada sesuatu yang membuat aku ingin dekat sama dia. Entah apa itu.

 

Sore hari selepas pulang kerja aku langsung menuju ke Kelapa Gading tempat kita janjian. Sementara dia belum kelihatan karena memang jam pulang kantornya lebih lembat setengah jam dari kantorku.

 

Tempat parkir motorku cukup jauh dari La Piazza tidak seperti parkir mobil yang bisa langsung masuk ke sana. Sampai di dalam aku berjalan berkeliling. Bingung juga nih dimana aku makan sama dia. Akhirnya aku duduk di depan panggung yang biasanya menggelar live music. Aku lihat sekeliling masih sepi. Tapi kios yang menjajakan makanan sudah buka semua. Aku tinggal menentukan akan menunggu dia di mana dan rencana makan malamku di mana.

 

Sudah jam enam sore. Tapi dia belum kelihatan juga. Mungkin kena macet di jalan. Maklum ini akhir pekan. Biasanya semua orang keluar rumah. Akibatnya jalan menjadi macet. Jam enam seperempat HP ku berbunyi. Siska yang telepon.
 
“Halo Ndi… aku sudah sampai nih, kamu di mana?”. Tanya dia.
“Aku ada di tempat makan yang ada panggung musik nya”. Jawabku
“Oh di sana… aku ke sana sekarang”.
“Ok aku tunggu”. Jawabku

 

Tidak sampai sepuluh menit yang aku tunggu akhirnya datang juga. Dia memakai atasan jas hijau tua dan bawahan memakai rok hijau tua juga. Hmm gaya eksekutif muda nih, pikirku. Padahal yang aku tahu sehari-hari dia memakai pakaian biasa saja. Biasanya dia memakai kemeja lengan pendek dan bawahan memakai celana panjang. Malam spesial kali. Kan mau makan malam sama aku. Huh geer kamu.

 

Dari jauh aku lihat dia sudah tersenyum dan melambaikan tangan. Aku juga tersenyum dan melambaikan tangan. Benar-benar cantik dia malam ini. Setelah sampai aku berdiri menyambutnya.
 
“Hai Sis… pa kabar”. Entah kenapa aku jadi grogi. Kenapa harus kata itu yang muncul. Apa tidak ada kata lain, misalnya hai sayang atau hai honey, hey dia belum jadi pacar kamu.
“Baik… lama ya nunggu aku?”.
“Nggak sebentar kok, lagian lama juga gak apa-apa. Aku pasti nunggu kamu”. Jawabku
“Maaf ya soalnya macet tadi di jalan”. Dia nampaknya tidak merespon jawabanku. Kenapa ya, kok kelihaannya dia jadi agak kaku. Tidak seperti di telepon selalu penuh canda.
“Nggak apa-apa Sis, oh iya jadi kita makan di mana?”. Aku langsung menanyakan tempat dimana kami akan makan.

 

“Kalau di sana gimana?”. Dia menunjuk ke arah pojok. Di sana ada kedai seafood.
“Ok… yuk kita ke sana”. Jawabku. Akhirnya aku berjalan berdua dengannya menuju ke arah kedai seafood. Suer… aku jadi kikuk, grogi. Tampaknya diapun demikian.
 
Setelah sampai di sana kamipun langsung duduk. Aku menggeser kursi dan mempersilahkannya duduk duluan.
 
“Makasih…”. Dia berkata. aku hanya tersenyum dan kemudian menggeser kursi di depannya lalu duduk berhadap-hadapan dengannya. Seorang pelayan datang menghampiri kami.
“Selamat malam mas, mbak, mau pesan apa?”. Si pelayan bertanya.
“Kamu mau pesan apa Sis…?”. Aku bertanya kepada Siska. Dia kemudian melihat ke arah daftar menu yang ada di depan kami.

 

“Aku pesan… udang goreng saus mentega, kalau kamu Ndi…?”. Dia balik betanya kepadaku. Aku juga melihat ke arah daftar menu yang aku pegang.
“Aku udang goreng juga tapi yang saus pedas”. Jawabku.
“Minumnya…?”. Si pelayan bertanya lagi.
“Kamu minum apa Sis..”. Tanyaku lebih dulu pada Siska.
“Aku Jus jeruk”. Jawabnya.
“Aku teh botol mbak, tapi pakai es”.
“Saya ulangi pesanannya ya… Udang goreng saus mentega satu, udang goreng saus pedas satu, jus jeruk satu dan teh botol pakai es satu”. Pelayan tersebut mengulangi pesanan kami. Aku mengangguk dan mengiyakan. Kemudian pelayan tersebut berlalu.

 

“Eh kok sama… pesan udang juga?”. Tanya Siska
“Ah nggak apa-apa cuma pengen saja pesan udang”. Jawabku, padahal aku kurang familiar sama seafood dan yang aku suka cuma udang goreng.
“Oh begitu…”. Hanya itu komentarnya. Kami saling diam untuk beberapa saat. Siska hanya diam dan sekali-kali melihat ke arahku. Aku pun demikian. Tapi bedanya aku selalu memperhatikan dia. Dia benar-benar cantik. Aku tidak salah menyukai dia.
 
“Kenapa…?”. Dia mulai membuka suara.
“Apa… eh kenapa…”. Aku tergagap.
“Kamu kok seperti menelanjangi aku…”.
“Aku emm… habis kamu cantik sih…”. Jawabku spontan. Wah aku salah ngomong nih. Tapi dia hanya tersenyum. Pipinya bersemu merah. Kelihatan sekali karena kulit nya putih.

 

“Gimana kerjaan hari ini, lancar…”. Aku mencoba membuka percakapan dengan dia.
“Lancar…”. Jawabnya.
“Nggak ada yang bikin kesel lagi…”. Tanyaku
“Nggak ada sih hehe…”. Dia mulai tersenyum.
“Syukur deh kalau begitu”. Jawaban standar keluar dari mulutku. Tak lama kemudian makanan sudah datang. Aku mempersilahkan dia makan.
“Ayo Sis, di makan…”. Aku berkata sambil mempersilahkan.
“Iya…”. Jawabnya. Dia menunduk sebentar, sepertinya dia sedang berdoa. Aku hanya memperhatikannya. Setelah selesai dia kemudia mulai makan setelah sebelumnya mengajakku.

 

Sambil makan kami mulai berbicara.

“Boleh aku nanya Ndi…?”.
“Boleh…”. Jawabku.
“Kenapa kamu pengen banget ngajak aku jalan?”. Wah masih yang tadi siang nih.
“Emang nggak boleh…”. Jawabku
“Ya boleh aja… tapi kenapa”. Tanya dia masih penasaran. Aku diam sejenak.
“Aku ingin lebih mengenal kamu. Seperti yang aku bilang tadi siang”.
“Memang kamu mau temenan sama aku? aku kan bukan… apa ya namanya…?”. Dia tidak melanjutkan.

 

“Memang ada apa…?”. Tanyaku lebih lanjut.
“Gimana ya ngomongnya… maaf ya Ndi, sebelumnya. Aku kan bukan dari golongan kamu”.
“Golongan… maksudnya apa… golongan apa…?”. Aku jadi penasaran.
“Kamu tahu sendiri kan, aku ini dari golongan minoritas. Biasanya jarang ada yang mau bergaul dengan orang seperti aku”. Jawabnya. Aku sudah mengerti yang dia maksud.
“Maksud kamu Etnis…”. Dia mengangguk mengiyakan.
“Siska… aku berteman sama siapa aja. Sama orang apa aja, yang penting dia baik”. Jawabku.
“Tapi biasanya mereka selalu menganggap rendah orang-orang seperti aku”. Terlihat nada serius dalam tatapannya.

 

“Siapa bilang… setahuku tidak ada yang bersikap seperti itu, kalaupun ada mungkin hanya segelintir orang saja yang bersikap demikian. Jangan kan kamu, aku aja sering di rendahkan orang. Jadi jangan di anggap orang-orang seperti itu. Dihadapan Tuhan kita semua sama, tidak ada yang rendah tidak ada yang tinggi. So lupakan saja hal-hal seperti itu, Ok”. Fuih… dari mana datangnya kata-kata itu, aku sendiri heran. Tapi memang betul, aku sendiri menganggap semua orang sama tidak ada yang beda. Aku harus mencairkan suasana ini. Tapi ternyata dia yang memulai duluan.
 
“Tapi aku masih penasaran… kenapa kamu pengen ngajak aku jalan”. Ya…. itu lagi. Tapi sekarang dia sudah mulai tersenyum lagi.
“Nah gitu dong… kan enak… tapi kenapa itu lagi yang ditanyakan…?”.
“Ya pengen tau aja… ga boleh…”. Jawabnya.
 
Karena aku suka kamu. Dari pertama melihat kamu aku sudah suka. Mau gak kamu jalan bareng sama aku. Mau gak kamu jadi pacarku. Mau gak kamu jadi kekasihku. Aku hanya berkata dalam hati. Masa harus aku ungkapkan sekarang… aku pikir belum saatnya. Dia belum tahu siapa aku.

 

“Ndi… Ndiiiii… “. Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mataku.
“Kok jadi bengong sih…”.
“Ada yang dipikirin ya… “.
“Mikirin siapa… hayo…”.
“Nggak… nggak apa-apa…”. Jawabku.
“Tapi kok diam begitu… sambil ngeliatin aku”.
“Ada yang aneh dengan diriku…”. Dia mulai menggoda.
“Kamu cantik…”. Walah aku kelepasan lagi. Raut mukanya langsung berubah. Dia diam kemudian menunduk. Aku semakin merasa bersalah. Tapi kemudian dia melihatku lagi, tersenyum. Aku lega.

 

“Ah masa… sudah dua kali kamu bilang aku cantik tapi kan di kantor yang cantik gak cuma satu lho”. Nih anak… kayakanya menggodaku.
 
Iya tapi aku suka kamu. Jawabku dalam hati.
 
“Hei… diam lagi… aku pulang nih…”.
“Eh jangan… jangan…”. Dia berdiri tapi kemudian dia duduk lagi sambil tersenyum. Kena deh aku dikerjain.
“Jawab dong…”.
“Jawab apa…”.
“Yang tadi…”.
“Yang mana…”.
“Yang barusan… kalau nggak jawab aku pulang aja…”. Dia mengancam tapi tampaknya tidak sungguh-sungguh.
“Iya… iya… aku jawab”. Aku kumpulkan keberanian. Tidak mudah ternyata untuk mengungkapkan perasaan kepada cewek yang satu ini.
“I’m waiting….”. Dia berkata lagi.
“Karena dari sekian cewek yang aku kenal… yang cantik hanya kamu, yang manis hanya kamu, yang kuingat hanya kamu, dan… yang aku suka hanya kamu”. Meluncur juga kata-kata itu.

 

Tapi apa jawaban yang aku dapat.

 
“Hahaha…. gombal…gombal…”. Dia tertawa. Serius kok dibilang gombal sih.
“Kamu tuh ada-ada aja, jangan gara-gara sering telepon aku dan ngajak jalan aku trus kamu jadi suka sama aku”.
“Jalan juga kan baru sekali ini, masa langsung suka”. Dia meneruskan.
“Kalau jalannya sering gimana…?”. Tanyaku.
“Ya… pikir-pikir dulu lah…hehehe…”. Jawabnya
“Maksudnya…”.
“Ya… kita lihat saja nanti…”. Jawabannya menggantung. Membuatku penasaran.

 

Aku kemudian diam setelah mendengar kata-katanya. Tapi memang benar sih, masa baru kenal beberapa minggu aku langsung suka. Tapi dia juga yang terus-menerus mendesak aku, ingin tahu maksudku mengajak dia jalan.
 
“Kok jadi diem… marah ya…”.
“Kenapa harus marah… kamu nggak nolak aku kan”. Jawabku.
“Masih banyak waktu yang bisa aku gunakan untuk menunjukkan bahwa aku serius, betul gak…?”. Lanjutku lagi.
“Betul juga… kita lihat saja nanti, ok”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Kita pulang yu…. sudah malam…”. Ajaknya. Memang waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Tak terasa waktu berlalu.
“Iya ya… sudah malam. Lagian aku besok ada kerjaan di kantor…”. Jawabku.
“Besok aku telepon ya…”.
“Iya.. iya… “. Jawabnya.

 

Setelah membayar makanan, aku berjalan berdua dengannya. Sambil berjalan aku lihat kiri-kanan sepertinya banyak orang yang melihat ke arah kami. Sepertinya Siska pun menyadari hal itu. Kami saling pandang lalu tertawa kecil. Reflek aku menarik tangannya dan berjalan cepat. Aku mengantar nya ke tempat mobilnya di parkir. Aku masih menggenggam tangannya walau sudah ada di depan mobilnya.

 

“Kenapa… aku gak akan kemana-mana kok…”. Dia berkata sambil tertawa kecil.
“Eh iya sorry… “. Aku melepaskan genggaman tanganku.
“Habis… banyak orang ngeliatin tadi”.
“Biarin aja… asal jangan mengganggu kita”. Jawabnya.
“Makasih ya udah ngajak aku makan”.
“Sama-sama”. Jawabku.
“Boleh ya lain kali aku mengajak kamu jalan…”.
“Boleh aja… asal kamu yang traktir… hehehe…”. Jawabnya.
“Jangan takut… itu pasti…”.
“Nggak deng… nanti sekali-kali aku yang traktir kamu dech…”. Dia meralat ucapannya.
“Udah ya aku pulang dulu”. Dia berkata setelah berada di belakang kemudi mobilnya.
“Hati-hati ya di jalan”.

 

“Iya… kamu juga hati-hati ya… daah”. Kemudian mobilnya melaju meninggalkan aku.
“Daah… “. Aku melambaikan tangan. Dia tersenyum.

 

Aku kemudian berjalan meninggalkan tempat parkir mobil. Kemudian aku masuk lagi ke dalam Mall karena tempat parkir motorku berada jauh di belakang Mall. Selama berjalan ke tempat parkir aku mengingat lagi dia. Makan malam yang… bagaimana ya. Makan malam yang membuatku penasaran. Aku akan terus mendekatinya. Sampai dapat.
 

 

Siska (Bag. 1)

“Hai ndi…”. Suara yang sangat kukenal menyapaku.
“Hai Sis…”. Aku menoleh dan tersenyum. Aku paksakan tersenyum walaupun sebetulnya aku gak mau. Mungkin lebih mirip melebarkan bibir saja.

 

Aku bertemu dia di dalam lift. Uh… sialan kenapa jam segini dia bisa keluar kantor ya, gak biasanya. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya seminggu terakhir ini.

 

“Kamu kemana aja…? Kok gak pernah kasih kabar? Aku telpon gak pernah di angkat, sms ku gak pernah di balas… kenapa?”. Tanya dia seperti berondongan pistol yang menerjangku. Aku hanya terdiam. Dia menatapku menanti jawabanku.

 

“Andi…”. Dia berkata lagi.
“Ya…”. Jawabku
“Kok diam… kenapa? Aku salah apa sama kamu?”. Tanya dia lagi.
“Nggak apa-apa, cuma…”.
“Ting… Tong…”. Bel dalam lift berbunyi. Tak terasa sudah sampai lantai satu. Aku keluar dari dalam lift dan Siska pun keluar. Aku masih diam.
“Ok deh… Sepertinya kita harus bicara. Aku tunggu di tempat biasa kita makan. Pulang kerja aku langsung ke sana. Aku keluar kantor dulu sekarang. Daaah…”.
“Daaah”. Jawabku. Aku masih terdiam. Berdiri di depan ruangan lift. Didepanku aku lihat Siska sudah masuk ke dalam mobil. Kemudian mobilnya melaju dari tempat parkir. Saat melewatiku dia membunyikan klakson. Aku melambaikan tangan sampai mobilnya melaju melewatiku.
 
Aku masih berdiri. Masih belum menyangka bertemu dia lagi.

 

“Woi…”. Ada yang berteriak di telingaku. Aku hampir saja melompat. Terdengar tawa dari belakang.
“Jangan banyak bengong, ayam tetangga gue mati kemaren”. Ternyata teman kerjaku si Erik.
“Apa hubungannya ama gue”. Jawabku
“Mati nya gara-gara bengong”.
“Iya bengong nya di tengah jalan”. Jawabku. Dia hanya tertawa. Aku kemudian berjalan bersama dia masuk ke dalam ruangan kantorku. Ruangan kantorku berada di lantai paling bawah bersatu dengan tempat parkir. Sampai di kantor aku duduk dan kemudian terdiam. Teringat kejadian tiga bulan terakhir ini.
 
***

 

Aku pertama kali melihat dia di tempat parkir. Waktu itu sudah jam pulang kantor. Aku yang sedang berdiri di tempat parkir, menghalangi mobilnya yang akan keluar dari area parkir.
 
“Hei minggir…”. Temanku Reza yang bicara.
“Apaan sih…?”. Jawabku.
“Itu mobil mau keluar, gak liat apa…”. Dia bicara lagi. Aku kemudian menengok ke belakang.
“Oh…”. Mulutku spontan membetuk huruf O. Aku langsung minggir dan mempersilahkan mobil tersebut keluar. Yang membuatku melongo bukan mobilnya tapi yang berada di balik kemudinya. Cewek!!! cakep lagi. Ketika dia lewat di depanku dia tersenyum. Aku balas senyumnya. Wuihh maniiiis sekali. Aku masih melihat mobilnya sampai dia keluar dari pelataran parkir kantor.

 

“Hoi…. bengong aja… cakep ya…. emang cakep… hehe”. si Reza temanku cengengesan.
“Iya sih cakep…”. Jawabku.
“Naksir ya…”.
“Hus… enak aja, masa baru liat langsung naksir”. Jawabku.
“Lha… itu tadi sampai bengong melongo gitu, bukannya naksir”. Dia kembali cengengesan.
“Dah ah… tuh celana loe kena rokok…”. Jawabku sekenanya.
“Mana.. mana…”. Teriak Reza kaget.
“Cari sampai tua… emang nya eloeu lagi ngeroko… heheh”. Jawabku sambil pergi dan kemudian tertawa penuh kemenangan.
“Haah sialan.. kutukupret.. “. Teriaknya sambil mengejarku.

 

Aku dan Siska berkantor di gedung yang sama. Dia berkantor di lantai dua sedangkan aku berkantor di lantai dasar. Biasanya seluruh karyawan satu gedung makan siang bersama-sama di lantai empat. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dia atau aku yang tidak memperhatikan barangkali. Setelah beberapa hari melihat dia di kantin baru aku tahu dari rekan sejawatku di lantai dua bahwa dia adalah karyawan baru. Satu bulan yang lalu dia masuk katanya. Bahkan namanya pun belum ada yang mengenal di lingkungan kantornya. Setiap aku tanya kepada karyawan lantai dua jawabannya selalu tidak tahu. Heran ya, kok satu kantor nggak tahu nama. Apa aku yang terlalu bernafsu ingin mengenal dia. Tak tahulah. Yang jelas setelah beberapa hari berlalu aku semakin sering memperhatikan dia. Jadi ingin berkenalan. Biasalah, naluri laku-laki, setiap ada yang cakep sedikit pengen kenalan hehe.

 

Hari itu jumat sore. Aku jadi teringat dia terus. Apa benar aku naksir dia. Ah… aku harus tahu siapa namanya dimana rumahnya. Tapi bagaimana caranya ya? Masa aku harus ke lantai dua lalu mencari-cari dia hanya untuk kenalan… malu dong sama teman yang kerja di lantai dua. Bisa heboh dunia kalau aku melakukannya heheh. Atau aku cegat saja dia di tempat parkir. Biasanya kalau di tempat parkir tidak banyak orang. Hmm sepertinya cara terakhir yang akan aku pilih.

 

Ketika dia keluar dari lift aku hampiri dia. Dia berjalan cepat menuju mobilnya. Dia memakai celana panjang hitam dan kemeja pink lengan panjang. Serasi dengan warna kulitnya yang putih. Hampir saja aku tidak bisa mengejarnya. Sepertinya dia tahu kalau ada yang mengikutinya. Dia memperlambat langkahnya dan kemudian menoleh kesamping, kebetulan aku sudah ada di sampingnya.

 

“Hai…. boleh ganggu sebentar”. Sapaku
“Oh iya…”. Jawabnya sambil tersenyum. Geblek… cakep banget, pantes aja teman-tamanku selalu mebicarakan dia.
“Emmm boleh kenalan gak….?”. Aku bertanya sambil mengajak berjabat tangan.
“Andi…”.
“Siska…”. Jawabnya menerima jabatan tanganku sambil masih tetap tersenyum. Oh… jadi namanya Siska. Aku bergumam dalam hati.

 

“Kerja di lantai berapa?”. Aku pura-pura gak tahu.
“Aku di lantai dua, mas Andi sendiri kerja di mana?”. dia balik bertanya.
“Aku di lantai dasar”. Jawabku
“Kerja di bagian apa?”. Tanyaku lagi
“Di bagian Hypermarket”. Jawabnya.
“Kalo mas di bagian apa”. Dia balik bertanya
“Aku di bagian Logistik”. Jawabku
“Hmmm kayaknya baru lihat kamu akhir-akhir ini, baru masuk ya…”. Tanyaku lagi
“Iya aku baru satu bulan kerja di sini”. Jawabnya
“Oh begitu”. Jawabku.
“Kalau rumah di mana?”. Tanyaku lagi, eh kok langsung tanya rumah ya, emangnya mau ikut.
“Di Kelapa Gading…”. Jawabnya. Untung dia gak berprasangka macam-macam.
“Eh… makasih ya udah mau di ganggu”. Aku bermaksud mengkhiri pembicaraan.
“Iya.. gak apa-apa”. Dia pun sudah masuk ke mobilnya. Kemudian mobilnya melaju meninggalkanku. Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia juga balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

 

Berhasil juga akhirnya aku berkenalan dengan dia. Kesan pertama aku mengenalnya adalah orangnya ramah. Bisa di ajak bicara dan murah senyum. Dari pertama aku bicara dengannya sampai aku mengakhiri pembicaraan tak lepas-lepasnya dia tersenyum. Membuatku jadi agak berdebar-debar. Perawakannya kecil mungil, wajahnya bulat dengan mata yang tidak sipit kalau boleh aku bilang sih bulat. Tidak seperti kebanyakan cewek keturunan yang lain.

 

Semenjak aku berkenalan dengan nya aku semakin memperhatikan dia. Cara dia berjalan, cara berbicara, baju yang dia pakai sampai nomor polisi mobilnya pun aku hapal. Apakah aku sudah jatuh hati kepadanya? Tak tahulah, yang jelas aku selalu teringat dia. Ingin rasanya lebih mengenal dia. Sehari-hari aku hanya bertemu dia apabila datang ke kantor, makan di kantin dan sepulang kantor. Belum pernah lagi punya kesempatan untuk ngobrol banyak. Hanya ‘say hello’ saja setiap kali bertemu.

 

Seminggu setelah perkenalanku dengannya aku mencoba menghubungi dia lewat telepon kantornya.
 
“Hallo…”. Aku berbicara setelah ada yang mengangkat telepon.
“Hallo selamat sore”. Yang menjawab operator telepon kantor.
“Selamat sore, bisa bicara dengan Siska”.
“Di tunggu…”. Jawab operator, terdengar nada tunggu. Kemudian ada yang berbicara.

 

“Hallo sore…”. Suara yang aku kenal mulai bicara.
“Sore… Siska ya…”. Aku memulai pembicaraan.
“Iya… siapa nih?”. Dia bertanya.
“Andi…”. Jawabku.
“Andi yang mana ya?”. Tanya dia lagi. Huh sialan dia gak inget sama aku, tapi kalau di pikir-pikir memangnya aku siapanya dia sampai harus ingat segala. Tapi mungkin nama Andi banyak kali ya jadi dia perlu di ingatkan.

 

“Andi yang di lantai satu”. Jawabku. Hening sejenak.
“Oh… Andi”. Baru ingat dia…
“Apa kabar Sis…”. Tanyaku
“Baik…”. Jawabnya.
“Ehh ada apa ya Ndi…”. Dia sepertinya sedang sibuk atau mungkin sedang buru-buru.
“Oh gak apa-apa cuma pengen ngobrol aja”. Jawabku
“Nggg… tapi aku lagi sibuk”. Jawabnya
“Oh lagi sibuk ya… maaf ya kalau menggangu”.
“Nggak apa-apa sih…”. Jawabnya.
“Tapi aku boleh telepon lagi kan”. Tanyaku
“Boleh… tapi kalau bisa jangan ke kantor soalnya aku lagi sibuk”. Jawabnya lagi menegaskan.
“Ok deh kalau begitu, makasih ya”. Aku mengakhiri pembicaraan.
“Iya…”. Jawabnya dan kemudian hubungan telapon terputus.

 

Gagal. Usaha pertamaku mendekatinya. Mungkin memang dia sedang sibuk berat. Jadi gak bisa menerima telepon. Hmmm gak apa-apa sih, mungkin lain kali akan aku coba. Tapi yang jadi penasaran dia bilang jangan telepon ke kantor, lalu kemana? sedangkan nomor HP nya pun aku belum tahu. Apa dia memancing aku supaya menanyakan nomor HP nya? Bisa juga sih. Tapi masa iya ngasih nomor HP saja harus di pancing dulu(ikan kali di pancing). Tapi masuk akal juga. Memang aku yang harus menanyakan nomor HP nya. Tidak mungkin dia langsung menyebutkan nomor HP nya tanpa alasan tertentu.

 

Besoknya aku kembali mencoba menghubungi dia lewat telepon kantor. Walaupun dia bilang jangan menghubungi dia di kantor, tapi aku nekad aja. Tapi jawaban yang aku dapat masih sama.

 

“Aku lagi sibuk”.
 
Dan hari-hari berikutnya pun tetap sama.
 
“Lagi sibuk nih…”.
 
Atau
 
“Entar aja ya… soalnya lagi sibuk”.
 
Atau
 
“Bentar ya… aku sibuk benget nih”.
 
Dan jawaban standar ‘sibuk’ lainnya. Tapi yang mengherankan dia tidak pernah menolak teleponku. Pasti dia terima walau sedang sibuk dan walaupun jawabannya itu-itu juga. Padahal dia pernah bilang supaya jangan menelepon dia di kantor. Bingung… mana yang bener nih. Sepertinya harus di tempat parkir lagi nih. Menunggu dia dan menganjaknya ngobrol.

 

Sore itu aku kembali menunggunya di tempat parkir. Sebetulnya jam pulang kantorku sudah lewat. Tapi demi rasa penasaranku aku menunggu dia sampai jam pulang kantornya tiba. Jam pulang kantornya lebih lambat tiga perempat jam dari jadwal pulang kantorku.
 
Dia sudah keluar dari ruangan lift. Aku buru-buru mendekatinya.

 

“Hai Sis…”. Aku menyapanya. Dia kemudian menoleh.
“Hai…”. Dia menjawab sapaku sambil terseyum.
“Pa kabar…?”. Tanyaku.
“Baik…”. Jawabnya. Masih sambil tersenyum.
“Sibuk terus ya…”. Tanyaku.
“Iya nih…, eh maaf ya kalau aku gak bisa terima telpon lama-lama, soalnya sibuk banget”. Jawabnya menerangkan.
“Oh begitu ya… kalau tidak bisa terima telepon di kantor, boleh dong aku telp kamu di rumah?”. Tanyaku.

 

“Boleh…boleh”. Jawabnya
“Kalau begitu boleh tau nomor HP kamu?”. Tanyaku semakin nekat. Dia kemudian menghentikan langkahnya. Aku agak kaget juga, takut kalau dia tersinggung atau bagaimana.
 
“Siska…. boleh gak?”. Aku sudah kepalang basah. Dia diam sejenak, mungkin sedang berpikir. Kemudian dia berjalan lagi menuju mobilnya. Di depan pintu mobilnya aku kembali bicara.
“Jadi…?”. Tanyaku lagi
“081******…”. Dia menyebutkan nomor HP nya sambil membuka pintu mobil.
“Berapa Sis…?”. Tanyaku lagi, karena dua digit tearkhir kurang terdengar olehku.
“081******…”. Dia mengulangi sambil duduk di belakang kemudi mobilnya. Aku buru-buru mencatat di telapak tanganku karena kalau langsung aku masukkan ke HP takut lupa.

 

“Kalau sampai rumah biasanya jam berapa?”. Tanyaku. Waktu itu dia sudah ada di dalam mobil, tapi kaca mobilnya kebetulan masih di buka.
“Tergantung sih…”. Jawabnya.
“Kalau jam tujuh malam sudah sampai?”. Tanyaku lagi
“Coba aja entar telp ya…”. Jawabnya lagi.
“Ok deh kalo gitu, makasih ya”. Aku tidak ingin menghalangi nya. Karena takut kalau dia masih ada keperluan.

 

“Iya… “. Jawabnya singkat. Mobilnya kemudian melaju melewatiku. Dia membunyikan klakson mobil sambil tersenyum. Aku melambaikan tangan sambil tak lupa membalas senyumnya. Yes… akhirnya bisa juga aku tahu nomor HP nya.
 

Pusiiing!!!!

 


Pusiiiiing……

Bos marah-marah, kerjaan banyak, anak buah ngeyel. Cerpen belum selesai, belum browsing, belum baca e-mail, belum update blog, belum blog walking, belum kasih comment…. pusingggg….

Nasib anak kost

Pernah jadi anak kost? Atau sekarang sedang jadi anak kost? Bosen gak sih jadi anak kost terus?

 

Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta dan beberapa kora besar lainnya sudah pasti banyak anak kost nya. Baik itu yang masih pelajar maupun yang sudah bekerja. Salah satunya mungkin yang sedang membaca blog ini.

 

Aku sendiri sekarang masih menempati salah satu rumah kost di daerah Jakarta. Tepatnya di daerah kodam. Itu tuh di belakang ITC Cempaka Mas. Seberangnya Pengadilan Tinggi Jakarta. Atau seberangnya Universitas Yarsi. Masih nggak tau juga!!! berarti anda bukan orang situ.(Emang siapa yang nanya hehehe…)

 

Bosen juga sih terus-terusan nge-kost. Pagi berangkat kerja, pulang ke tempat kost sore bahkan kadang-kadang sampai larut malam kalau kerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Jadi tempat kost itu hanya di jadikan sebagai tempat tidur saja, numpang melepaskan lelah. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai seorang perantau beginilah nasib anak kost.

 

Kalau dipikir-pikir dari sekian lama tinggal di tempat kost sudah banyak uang kost yang aku setor. Dari hampir tiga tahun aku nge-kost. Taruhlah aku bayar kost 250 ribu perbulan. 250ribu dikali 36 bulan = 9 juta!!! gede juga ya. Wah lama kelamaan bisa bikin kaya yang punya kost nih hehehe. Di tempat kost ku ada sekitar 12 kamar. Semuanya terisi penuh bahkan ada yang satu kamar di isi dua orang. Coba bayangkan berapa pendapatan si empunya kost tiap bulan. Eh kok jadi ngomongin yang punya kost sih. Kan topiknya juga mengenai anak kost. Tapi tak apalah nyerempet dikit.

 

Pernah juga kepikiran untuk mencicil rumah saja daripada kost terus. Tapi harga rumah sekarang mahalnya bukan main. Ada juga yang murah tapi tempatnya itu lho… gak tanggung-tanggung. Dari mulai ujung timur Bekasi sampai daerah Cikarang dan Karawang. Waduh… jam berapa sampai ke kantorku yang ada di Sunter.

 

Tapi pada intinya aku masih bersyukur bahwa sampai hari ini masih diberikan rizki oleh yang maha kuasa. Tidak sampai terlunta-lunta di belantara ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Aku masih bersyukur bisa bekerja sampai sekarang, masih punya penghasilan, masih di berikan nikmat sehat, dan yang terutama masih bisa nge-blog hehehe. Tinggal istri nih yang belum punya. Tapi siapa yang mau ya sama anak kost? Rumah aja belum punya. Tapi siapa tahu ada yang mau sama aku. Mudah-mudahan dari sekian orang yang baca blog ini ada cewek cakep, anak orang kaya, anak tunggal, punya perusahaan banyak, dan tertarik sama aku… huahahahaha.

 

Dah ah kebanyakan ngayal… nggak baik buat kesehatan hehehe.

Jadwal Seminggu

Senin sore.

Ketemu Erna di cafe taman kota. Nggak pernah punya komitmen apa-apa, hanya rasa suka semata. Kemudian makan malam, memuji kecantikkanya dikit, gombal-gombalan sampai mukanya merah, di akhiri dengan sun di kening. Antar dia sampai rumah lalu balik.

Selasa siang.
Janji ketemu Wulan di Atrium. Begitu ketemu cipika cipiki sebentar lalu di lanjutkan dengan makan siang. Ngobrol kesana-kemari sambil tak lupa memuji kecantikannya sampai dia merasa malu sendiri. Janji ketemu lagi minggu depan lalu balik ke tempat kerja.

Rabu malam.
Jadwal ketemu dengan Endah dari kemarin siang. Sudah terlanjur janji dengan dia untuk makan malam di seafood kemayoran. Ketemu dia langsung pegang tangan dan mencium tangannya. Padahal dia agak enggan, malu katanya sama orang. Makan seafood sambil ngobrol masalah kuliah dia. Katanya ada dosen yang naksir dia. Aku pastikan hanya dia dihatiku, dengan sedikit rayuan dia percaya.

Kamis siang.
Jumpa Dina di MKG. Pengen di traktir katanya, soalnya hari ini dia ulang tahun. Aku kasih hadiah kalung emas berinisial namanya. Senengnya dia, sampai pipiku diciumi berulang kali, makasih banyak katanya. Setelah ngobrol dan makan aku antar dia ketempat kerjanya. Dan aku langsung kembali ke kantor.

Kamis malam.
Dari siang sudah terbayang akan ketemu dengan Sinta yang cantik dengan kulit nya yang putih. Aku sudah janji akan mengajaknya makan malam. Yang satu ini emang beda dari yang lain. Selain cantik dia juga seksi. Biar aku gak tergoda dengan cewek lain katanya, padahal hehehe…. tapi perasaanku agak lain. Ternyata dia menyuruhku segera melamarnya. Hah… kawin!!! entar dulu ah, masih pengen menikmati indahnya perempuan lain. Dengan rayuan gombal aku berhasil meyakinkannya bahwa hanya dia calon istriku dan berhasil.

Jumat siang.
Aku gak kemana-mana siang ini. Sadar woi… jumatan.

Jumat sore.
Aku kumat lagi hehehe. Ketemu Intan di Metropolitan Mall. Jauh ding kalo yang satu ini. Ketemu dia di KFC. Cape nya hilang setelah bisa membelai rambut dan tangannya. Setelah ngobrol dan makan aku antar dia ke Bulakkapal Permai karena di situ rumahnya. Pulang ke rumah cape lagi.

Sabtu.
Sabtu pagi aku masih mikir-mikir siang ini ketemu siapa ya? Ketemu Nina, Yanti atau Liza? Entar malam, malam mingguan ama siapa ya? Soalnya semuanya minta di temenin malam minggu nanti. Ah pusing…

Jadi inget lagunya Ratu…
Gue Buaya Darat bukan ya…??? Hahaha

Sebel…

Sebel banget hari-hari belakangan ini. Koneksi internet kantor lagi lelet banget. Gak bisa blog walking, gak bisa comment postingan orang, gak bisa browsing. Cuma bisa kirim email doang. Untung nya postingan di blog, bisa aku kirim lewat email.

Pokoknya sebel, sebel, sebeeeeeeel, Grrrrrrrrr.
@#@$%&%$##@!!!@#!

Kategori blogger

Selera menulis setiap orang bermacam-macam. Ada yang menulis berdasarkan kejadian sehari-hari, ungkapan hati, opini pribadi, pengalaman dalam bidang ilmu tertentu semisal ilmu kedokteran, kuliner, informasi teknologi atau juga merupakan khayalan si penulis semata dan lain sebagainya.

 

Blog yang saya kunjungi akhir-akhir ini kebanyakan berkisah mengenai pengalaman pribadi si penulis, belum banyak yang mengkhususkan diri menulis artikel yang berhubungan dengan bidang ilmu tertentu, atau mungkin saya yang kurang blog walking.

 

Saya sendiri mendefinisikan blog menjadi dua bagian besar. Pertama blog mengenai realita. Ralita ya itu tadi yang seperti saya jelaskan di atas. Ada yang berkisah mengenai kejadian sehari-hari di kantor, sekolah, perjalanan menuju tempat aktifitas, realita di masyarakat atau juga pengalaman dalam bidang ilmu tertentu.
Kedua adalah blog yang berdasarkan imajinasi. Blog imajinasi biasanya adalah blog yang berisi khayalan si penulis. Bisa berbentuk cerita bersambung, novel, ataupun cerita pendek dan puisi.

 

Blog saya sendiri terdiri dari beberapa kisah asli maupun imajinasi. Silahkan saja tentukan mana yang asli dan mana yang imajinasi(kuis bukan neeh…hehe). Saya sendiri lebih suka menggabungkan keduanya. Baik itu imajinasi ataupun realita. Akan lebih hidup saya rasa apabila suatu blog tidak berisi cerita keseharian saja.
 
Yup… betul, ini hanya pendapat pribadi saya saja, terlepas dari banyak tidaknya blog yang sudah saya kunjungi. Mungkin pendapat ini masih jauh dari realita mengingat ilmu penulis yang masih dangkal.

 

Tapi ada satu blog yang menjadi perhatian saya belakangan ini. Namanya Blog Intelejen Indonesia. Keren ya namanya mengingatkan kita akan film-film spionase dan memang isinya juga tidak jauh dari hal-hal tersebut. Hanya sayang… sudah lama tidak ada postingan baru.

 

So…. blog anda masuk dalam kategori apa?

Mood

Yang namanya mood memang susah di cari yach. Kalau kita sedang ‘on’ bisa sampai seharian betah duduk di depan komputer. Tetapi sekalinya mood untuk nulis hilang, malas lah diri ini untuk menulis. Mau nulis apa juga kadang kita bingung. Mending tidur atau cari kegiatan lain.

 

Sekarang aku sudah tahu solusinya. Ternyata menulis itu bukan hanya perkara mood2an. Menulis itu adalah menuangkan segala isi yang ada di kepala dan hati kita ke dalam tulisan. Apabila kita sedang kasmaran buatlah kasmaran itu menjadi sebuah tulisan. Jika kita sedih buatlah kesedihan itu menjadi sebuah tulisan. Kalau kita sedang bahagia buatlah kebahagiaan itu menjadi sebuah tulisan. Dan apabila kita sedang tidak mood buatlah ketidak-mood-an itu menjadi sebuah tulisan. Betul… apabila kita sedang malas tulislah kemalasan itu. Paksakan untuk menulis walau mungkin hasilnya akan amburadul hehehe. Tapi setidaknya kita sudah menulis kan.

 

Dah ah… ini juga lagi nggak mood nulis hehehe.
 
***

Nenek

Keluarga kami tidak terlalu banyak anggotanya. Nenek ku mempunyai dua orang anak laki-laki. Mereka adalah ayahku dan pamanku. Ayahku mempunyai empat orang anak, Aku dan ketiga orang adikku. Tiga laki-laki dan satu orang perempuan yang paling bungsu. Pamanku juga mempunyai empat orang anak. Anak ke satu dan kedua perempuan dan anak ketiga dan keempat laki-laki.

 

Nenek ku tinggal sendirian sehingga merasa memerlukan teman atau orang yang bisa dia urus. Jadilah aku dan satu adikku tinggal di rumah nenek dengan kata lain nenek ku lah yang mengurus aku dan adikku dari semenjak kecil. Selain itu nenek juga mengambil dua orang anak pamanku yang perempuan untuk tinggal di rumahnya. Sehingga dari masing-masing anak nya, nenek ku mengambil dua orang cucu.

 

Begitulah, kami berempat hidup dan di urus dari kecil oleh nenek sedangkan orang tuaku tinggal di kota C yang terkenal dengan tauco nya. Sementara pamanku masih tetap tinggal di S tetapi lain rumah dengan kami.
 
Awalnya aku tidak mengerti kenapa aku harus jauh dari orang tua dan tinggal di rumah nenek. Tetapi lama kelamaan pertanyaan itu mulai hilang seiring dengan berjalannya waktu hingga aku tumbuh dewasa.

 

Tetapi itu semua tidak mengurangi rasa hormat dan sayangku kepada orang tuaku sendiri. Walaupun dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah dan ibuku sendiri aku tetap menyayangi mereka karena tanpa mereka aku tak mungkin hidup di dunia ini.

 

Setelah dewasa aku baru mengerti mengapa nenek ku mengambil kami dari orangtua kami. Dan aku tambah mengerti setelah nenek ku jatuh sakit.

 

Kurang lebih satu tahun yang lalu kejadiannya. Siang itu hari minggu, aku sedang dalam perjalanan untuk suatu keperluan ke daerah D. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Aku lihat nama adikku yang muncul di layar HP.

 

“Halo…”. Aku berkata. Tidak biasanya adikku meneleponku siang-siang begini.
“Halo… Aa ini Fitri…”. Ternyata adik sepupuku yang berbicara.
“Aa…. si nenek A…”. Dia berbicara dengan nada khawatir.
“Ada apa… si nenek kenapa?”. Aku mulai menangkap ketidakberesan di rumah.
“Nenek jatuh…”.
“Jatuh dimana? Bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa jatuh segala?”. Aku langsung menghujani nya dengan pertanyaan.
“Tadi di kebun, untung ada Aa Dendi jadi tadi langsung di bawa ke rumah sakit”. Aku sudah membayangkan bagaimana keadaan nenek ku sekarang. Mungkinkah sekarang waktunya. Ah… aku tidak tahu. Semoga yang maha kuasa masih memberikan perlindungan kepada orang yang telah mengurusku selama ini.
 
Dendi adalah adikku, sedangkan Fitri adalah adik sepupuku yang kedua. Yang pertama bernama Yuli. Kami semua sudah dewasa sekarang. Aku dan adikku sekarang bekerja di Ibu kota dan setiap akhir pekan kami selalu menyempatkan diri pulang ke rumah nenek di kota S yang sejuk. Kebetulan adikku sedang berada di rumah.

 

Nenek ku sudah tua sekarang, aku tidak tahu persis berapa umurnya karena nenek ku pun tidak hapal, yang dia ingat waktu remaja dulu dia juga pernah ikut berjuang pada masa perang kemerdekaan walaupun hanya jadi perawat dan juru masak. Walaupun keadaan sudah tidak memungkinkan nenekku tetap ingin punya kegiatan. Di depan rumah kami dia membuat kebun kecil. Lumayan katanya untuk menanam singkong saja dan tanaman yang biasa di pakai untuk bumbu dapur. Walaupun kami sudah melarangnya tetap saja nenek ku memaksakan diri. Jenuh katanya kalau terus menerus diam di rumah tanpa ada kegiatan.

 

“Sekarang bagaimana keadaanya?”. Tanyaku.
“Sudah ada di rumah sekarang… tadi oleh dokter di sarankan untuk istirahat saja dan sudah di beri obat”.
“Hanya saja….”. Dia tidak meneruskan pembicaraan.
“Hanya saja apa…?”. Aku mendesak
“Tangan yang sebelah kiri dan kaki yang sebelah kiri tidak bisa di gerakkan”. Jawabnya.
“Jadi nenek kena stroke…?”. Tanyaku
“Dokter bilang sih stroke nya ringan, masih ada kemungkinan untuk sembuh, kalau untuk berbicara sih masih bisa. Tadi juga waktu tangan dan kaki nya di pijat sama dokter masih bisa berteriak”. Dia menjelaskan
 
Tubuhku langsung lemas. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nenek yang mengurusku dari kecil sekarang jatuh sakit. Terbayang sekarang dia berbaring di atas tempat tidurnya. Tidak bisa bergerak laluasa seperti sebelumnya. Air mataku sedikit menetes.

 

“Halo…. A…. masih di situ?”. Suara di seberang sana.
“Iya… iya… Aa masih di sini”. Aku tergagap.
“Ya udah sekarang Aa mau pulang ya. Paling lambat tiga jam sudah sampai. Bilang sama nenek kalau Aa lagi di perjalanan gitu”.
“Iya A…”. Jawabnya.

 

Setelah mengakhiri pembicaraan aku langsung bergegas pergi ke terminal dan naik bis yang ke arah jurusan B. Kalau aku ke B dulu biasanya banyak bis yang dari arah ibu kota lewat dan aku bisa cepat sampai di S.

 

Sesampainya di S aku langsung menuju rumah. Di rumah sudah berkumpul semua keluargaku kecuali ayahku yang belum sampai dari C. Pamanku menyambutku di luar. Setelah bersalaman aku masuk ke dalam rumah. Di dalam aku bertemu bibi dan yang lainnya. Aku langsung menyalami nenek ku yang sedang berbaring. Terlihat dia sedang menangis.

 

“Nek… apa yang terjadi? Bagaimana sampai bisa begini?”. Nenek ku hanya diam saja sambil menitikan air mata.
“Tadi kebetulan ada orang lewat dan melihat nenek terjatuh, dia langsung berteriak sehingga Dendi langsung keluar”. Yang menjawab bibiku.
“Untung ada A Dendi jadi bisa langsung di bawa ke rumah sakit”. Jawab Yuli adik sepupuku. Maklum di rumah apabila aku dan adikku bekerja yang tinggal hanya nenekku dan dua adik sepupuku yang perempuan.
 
“Apa yang terasa nek…?”. Tanyaku.
“Ini tangan dan kaki yang kiri tidak bisa di gerakkan, rasanya lemas”. Jawab nenekku
“Tapi masih bisa merasa kan…?”. Tanyaku lagi
“Iya masih, tadi juga bibi coba mencubit masih berteriak”. Jawab bibiku. Syukurlah masih ada harapan pikirku.

 

“Jadi apa rencana selanjutnya?”. Aku bertanya kepada semua orang.
“Besok kita bawa saja ke ahli pijat. Tadi paman sudah menghubungi ayahmu. Dia belum bisa ke sini. Besok kita akan ke C sama-sama, di sana ada ahli pijat yang bisa membantu. Sekalian bertemu dengan ayahmu di sana”. Jawab pamanku.
“Tapi aku besok tidak bisa ikut A… aku harus bekerja karena kabagian shift pagi”. Adikku berkata.
Aku juga sebetulnya harus bekerja besok senin. Tapi tak apalah, aku bisa mengambil cuti sehari untuk menemani nenek ku.

 

“Kalau begitu besok aku dan paman yang membawa nenek ke C. Yang lain bawa perlengkapan seadanya ya. Terus untuk kendaraan bagaimana?”. Bingung juga aku mengenai kendaraan.
“Tadi aku sudah bicara sama teman, dia bisa meminjamkan mobilnya untuk sehari”. Fitri yang menjawab.
“Tapi masa kita pinjam gratis”. Tanyaku
“Itu juga yang jadi masalah, dia tidak mau di bayar. Akhirnya fitri maksa buat mengisi bensin saja sampai penuh. Akhirnya dia setuju”. Jawabnya.
 
“Ok kalau begitu semuanya sudah siap”.
“Sekarang tinggal di siapkan apa yang mau di bawa”. aku mengakhiri diskusi kecil ini.

 

Semua orang bergegas menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa besok karena hari sudah menjelang malam. Bibiku dan Yuli yang menemani nenek di kamar sementara yang lain berbenah.

 

Besoknya kami berangkat pagi-pagi sekali menuju kota C. Mobil sudah siap dari tadi. Aku dan pamanku yang mengangkat nenek ke dalam mobil karena dia sudah tidak sanggup untuk berjalan. Yang lain memasukkan perlengkapan yang akan di bawa. Setelah semuanya siap kami langsung berangkat. Aku yang mengemudikan mobil. Pamanku duduk di depan. Ditengah nenek ku diapit oleh Bibiku dan Yuli sementara Fitri dan kedua adiknya duduk di belakang.

 

Di C aku menjemput ayahku yang sudah menunggu sejak tadi pagi. Ibuku dan adikku yang lain tidak bisa ikut karena kapasitas mobil yang tidak memungkinkan. Mereka hanya ikut mendoakan semoga nenek cepat sembuh.

 

Sesampainya di tempat yang kami tuju kami bergegas menurunkan nenek dan membawa masuk ke kamar perawatan. Di sana sudah menunggu ibu yang akan melakukan pengobatan. Kami menunggu di luar sementara nenek di obati. Kami hanya bisa berdoa dan berharap semoga nenek cepat sembuh seperti sediakala.

 

Dan begitulah, ternyata pengobatan tidak bisa di lakukan dalam sekali. Kami harus datang dan datang lagi ke tempat tersebut untuk terapi pemijatan. Satu dua kali kami masih bisa berangkat ke sana. Tetapi setelah beberapa kali kami berpikir untuk melakukan pengobatan di rumah saja. Selain karena masalah waktu dan tenaga, biaya juga yang menjadi faktor utama. Sekali jalan ke kota C, bolak-balik bisa menghabiskan dana sampai 500 ribu rupiah. Walaupun nenek ku setiap bulannya mendapatkan uang pensiun tapi tetap saja untuk kami yang mempunyai penghasilan menengah, dana sebanyak itu sungguh memberatkan.

 

Setelah berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga akhirnya di sepakati untuk memanggil saja orang yang bisa memijat ke rumah. Adikku yang mencari ke teman-teman kenalannya. Ada yang sanggup untuk datang ke rumah dan biaya nya pun tidak mahal. Bisa di bawah 100 ribu sekali datang. Lumayan bisa menghemat, sementara sisa dana bisa di gunakan untuk keperluan yang lain.

 

Lalu mengapa di awal cerita aku bisa berkata bahwa setelah dewasa aku baru mengerti mengapa nenek ku mengambil kami dari orangtua kami? Dan aku tambah mengerti setelah nenek ku jatuh sakit?

 

Ternyata permasalahannya ada pada orang tua kami. Ayahku dan pamanku ternyata kurang perhatian kepada nenekku. Yang mengurus nenek sehari-hari sekarang adalah dua adik sepupuku yang perempuan. Sementara yang lain tidak mau membantu. Hanya menanyakan sekedarnya saja lewat telephone. Datang menjenguk saja paling hanya sebulan sekali. Jangankan untuk membantu meringankan biaya pengobatan, untuk membantu sehari-hari saja susah. Ada saja alasan yang di kemukakan untuk menghindar.

 

Akhirnya aku sadar. Mungkin maksud nenek mengambil kami dari orang tua kami agar di masa tuanya nanti dia ada yang mengurus dan memperhatikan. Bisa di bayangkan apabila nenek ku tinggal sendirian. Mungkin tidak akan ada yang mengurus sampai akhir hayatnya. Kami ikhlas melakukannya. Bukan karena nenek yang mengurus kami semenjak kecil tetapi karena dia adalah nenek kami, orang tua kami juga. Apabila suatu saat nanti ayahku atau ibuku yang bernasib begini aku akan memperlakukannya sama seperti kepada nenekku.

 

Aku tidak akan berpikir karena tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibuku lalu aku tidak akan merawat mereka. Tidak… aku tidak mempunyai perasaan seperti itu. Mereka adalah orang tuaku. Karena mereka kita ada di dunia ini. Itu juga yang aku tanamkan kepada adikku dan kedua adik sepupuku. Aku bahagia karena mereka mengerti dengan jalan pikiranku dan sependapat denganku.

Sampai hari ini nenekku masih sakit dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Sampai hari ini juga aku dan adik-adikku yang lain merawatnya. Entah sampai kapan, yang jelas aku juga masih mengunjungi ayah dan ibuku di kota C yang hanya bisa menanyakan keadaan nenek ku sekarang. Sementara paman dan bibiku datang hanya sebulan sekali. Itupun hanya sebentar. Padahal kami berada di kota yang sama yaitu S.

 

Semoga saja suatu saat mereka mengerti dan di bukakan pintu hatinya. Walau bagaimanapun nenek ku adalah ibu bagi ayah dan pamanku.

 

Semoga semua ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Mengapa Aku Berubah

Kehidupan manusia memang tidak akan ada habisnya. Kisah demi kisah harus di jalani seiring berjalannya waktu. Mulai dari pangkuan ibu lalu tumbuh menjadi orang dewasa, dari tidak mengerti apa-apa menjadi orang yang tahu mana yang salah dan mana yang benar.

 

Aku menikah pada tahun 1996. Pernikahanku berlangsung cukup meriah. Walaupun dengan dana yang pas-pasan tetapi bisa dilaksanakan dengan meriah untuk ukuran kota tempat asalku.
 
Orang tuaku kurang menyetujui pernikahanku waktu itu. Alasannya aku belum cukup umur. Maklum saja aku baru berumur 23 tahun saat memutuskan untuk menikah. Aku di sarankan untuk bekerja dulu dengan sungguh-sungguh karena memang waktu itu aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Bogor. Di sanalah aku bertemu dengan calon istriku yang kebetulan satu pekerjaan denganku, Rina namanya. Dia juga sama-sama merantau ke kota Bogor dari kota asalku dulu.

 

Tapi atas dasar nafsu dan keangkuhan aku memaksakan kehendak untuk menikah. Nafsu… memang aku sangat ingin menikah dengan dia. Aku sudah berhubungan sangat jauh dengan dia. Selain memang hubungan ku sudah terlalu dekat, aku sudah seringkali menginap di rumah dia sehingga membuat orang tuanya khawatir akan keadaan ini. Mungkin takut anaknya terlanjur hamil hehe. Angkuh… ya, memang egoku sangat besar waktu itu. Selain merasa sudah mampu menghidupi seorang istri aku juga merasa mendapat dukungan dari kakek dan nenek ku sehingga orang tua ku tidak di dengar.

 

Padahal waktu itu ada seorang gadis yang menungguku di tempat asalku. Dia adalah tetangga dekat rumahku. Walaupun kami belum berikrar apa-apa tapi aku tahu dari pembicaraan sehari-hari kalau dia sangat mengharapkan aku, begitupun keluarganya. Orang tuanya malah sudah berterus terang kepadaku kalau dia sangat bangga bila nanti Rani bisa aku persunting.

 

Tapi memang pada dasarnya manusia serba ingin tahu. Setelah tahu ingin merasakan. Setelah merasakan sekali ingin lagi, dan setelah itu ingin memiliki. Setelah tahu nikmatnya bercinta, akhirnya aku ketagihan. Ingin lagi, lagi dan lagi. Tak perduli apa kata orang. Tak perduli nasehat orang tua. Semua norma yang ada aku dobrak. Telingaku sudah tidak lagi bisa mendengar. Tertutup oleh desahan-desahan manja. Mataku sudah tidak bisa melihat. Terbutakan oleh buaian-buaian mesra seorang perempuan.

 

Betapa kecewanya orang tuaku. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuanku. Tapi yang namanya orang tua memang selalu pemaaf. Melihat anaknya berkelakuan seperti itu tetap saja mereka terima dengan lapang dada. Yang paling merasa tersakiti adalah Rani. Betapa kecewanya dia mendengar aku menikah. Memberitahu dia pun aku tidak. Apalagi memberinya sepucuk undangan. Aku sama sekali tidak memperdulikan perasaanya waktu itu. Beberapa hari setelah resepsi pernikahaanku dia mengirimkan surat kepadaku. Dia mengungkapkan kekecewaanya atas keputusanku menikah saat itu. Dari isi suratnya aku mengetahui seberapa besar perasaannya kepadaku. Betapa bodohnya aku. Menyia-nyiakan orang yang selama ini menungguku. Pada saat resepsi pernikahan, orang tua Rani datang. Dia mencium kening dan pipiku serta memelukku habis-habisan. Sampai-sampai orang lain heran di buatnya. Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Aku sudah menikah sekarang. Tidak mungkin aku mengulang waktu.

 

Jadi mengapa aku berubah? Dari seorang laki-laki pendiam menjadi orang yang sangat ketagihan bercinta. Apakah perubahan selalu terjadi karena seorang wanita?