Elegi ban bocor

Pagi yang sejuk. Sejak kapan yah Jakarta sejuk hehehe. Perasaan ingin pake jaket. Ah pake jas aja biar gak terlalu gerah kalau nanti siang jadi berubah panas. Aku keluar dari tempat kost jam enam pagi. Aku ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja.

 

Seperti biasa aku berjalan menyusuri kawasan perbelanjaan ITC Cempaka Mas yang masih sepi. Setiap hari aku berjalan dari tempat kost menuju tempat pemberhentian Kopaja. Jurusan ke arah kantorku kebetulan biasa mangkal di sebelah timur parkir Cempaka Mas.

 

Sampai di ujung timur dari tempat parkir Cempaka Mas aku berbelok ke arah pabrik motor Honda. Hmm Kopaja nya belum kelihatan. Aku terus berjalan menyusuri jalan layang yang belum juga selesai. Entah sampai kapan jalan layang ini akan mulai dibangun sementara besi beton dan jembatan cor sudah jadi tetapi belum juga pondasinya didirikan.

 

Ketika aku sedang berjalan terlihat dikejauhan kendaraan yang sangat aku kenal. Hei… bukankan itu Hyundainya Elisa? Ngapain dia disini. Dan lagi ini kan masih pagi. Yang aku tahu biasanya dia sampai kantor saja jam delapan lewat. Mana mungkin dia jam segini sudah jalan dari rumah. Elisa adalah karyawan lantai dua di kantorku. Dia satu gedung dengan kantorku tapi beda perusahaan. Aku sebetulnya menyukai dia tapi belum sempat nembak dia(belum berani euy).

 

Aku pastikan lagi bahwa benar itu mobilnya dia. Yup betul, itu memang mobil dia. Aku tidak mungkin lupa dengan nomor polisinya B5668AZ. Hmm… sedang apa dia disini?

 

Aku berjalan pelan mendekati mobilnya. Takut dia kaget. Soalnya dia tidak tahu aku tinggal di daerah sini. Aku semakin dekat dengan mobilnya. Aku memperhatikan kebelakang kemudi mobilnya. Tapi sosok Elisa tidak aku temukan disana. Aku hapal betul sosoknya walaupun aku melihatnya dari belakang. Yang aku temukan disana adalah sosok wanita setengah baya dengan pakaian khas kantor. Dia kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah sisi sebelah kiri mobil dan melihat ke arah ban depan mobil. Oh itu masalahnya. Ban depan sebelah kiri mobilnya bocor.

 

Aku pikir kenapa tidak membantunya? Siapa tahu itu mamanya Elisa. Itung-itung pedekate ke anaknya, kan tidak salah mengenal ibunya juga. Aku memberanikan diri menyapa.

 

“Selamat pagi…”.
“Eh selamat pagi juga…”. Dia agak kaget menjawab.
“Ban nya kempes ya bu?”. Sebetulnya pertanyaan yang tidak perlu aku lontarkan karena aku juga sudah tahu kalau ban mobilnya bocor.
“Iya nih, mana harus cepat-cepat sampai kantor lagi”. Jawabnya.
“Boleh saya bantu?”. Aku mencoba mengajukan diri membantu.

 

Dia menatapku lurus tanpa senyum. Kayaknya kalau Elisa menatap tanpa senyum kepadaku mungkin seperti ini kali hehehe. Dia agak menyelidik kepadaku. Maklum ini Jakarta. Bisa saja tawaran pertolongan berakhir dengan kejahatan seperti yang terjadi di berita-berita televisi. Aku hanya tersenyum melihat sikapnya itu. Sebelum berbicara lagi aku berdehem sebentar.

 

“Emm… Ibu ada hubungan apa dengan Elisa?”. Aku mencoba memecahkan kesunyian diantara kami. Ibu itu terkejut dengan pertanyaan yang aku ajukan. Tapi kemudian rona mukanya berubah ramah.

 

“Oh Elisa… itu anak saya, mas ini siapa ya…?”. Dia menerangkan. Betul ternyata dugaanku, dia ibunya Elisa.
“Kenalkan bu, nama saya Andi. Saya kenal Elisa soalnya saya satu gedung sama dia, tapi kami lain perusahaan”. Aku menjelaskan.

 

“Oh begitu…, tapi dari mana mas tahu kalau ini mobilnya Elisa?”. Dia sedikit menyelidik. Untung dia tidak melanjutkan dengan pertanyaan yang terlalu jauh. Aku gak mau ditanya-tanya sama ibu dari cewek yang aku taksir. Malu dong.

 

“Saya hapal mobilnya bu, nomor nya juga saya hapal. B5668AZ kan”. Aku menjelaskan. Dia menyelidik lagi sambil agak sedikit tersenyum. Mungkin dia penasaran dengan orang yang baru dia kenal ini, kok bisa-bisanya hapal nomor mobil anaknya.

 

“Lho mas ini siapa sih, kok sampai hapal nomor mobil anak saya?”. Aduh pertanyaan ini benar-benar tidak ingin aku jawab. Bagaimana kalau nanti ketahuan aku sedang mengincar anaknya.
“Ya hapal saja bu, soalnya sering lihat mobilnya”. Dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ah bodo amat. Aku kemudian bertanya lagi sebelum dia berbicara lebih jauh.
“Boleh saya bantu bu, ada ban serep, kunci sama dongkrak tidak?”. Aku buru-buru menawarkan bantuan.
“Oh boleh-boleh, semuanya ada di bagasi belakang”. Dia kemudian menuju ke arah bagasi dan menunjukkan peralatan yang aku butuhkan.

 

Aku kemudian mengambil peralatan yang aku butuhkan. Ban serep, Kunci untuk membuka ban dan tidak lupa dongkrak untuk mengangkat mobil.

 

Setelah semuanya siap aku langsung membuka ban yang bocor tersebut untuk diganti dengan ban yang baru. Sambil aku bekerja dia bertanya kepadaku.

 

“Mas ini siapa? Kenal anak saya dimana? Kok mau bantuin saya?”. Aduh akhirnya dia menyelidik juga.
“Ah saya hanya kenal saja bu, satu gedung pasti sering bertemu. Lalu perihal membatu ya sesama orang harus saling tolong menolong kan, tapi maaf jangan panggil saya mas, panggil saja Andi”. Aku bisa menjelaskan juga walaupun aku takut dia semakin menyelidik.

 

“Tapi sepertinya tidak mungkin kamu teman biasa, kalau hanya teman saja mana mungkin hapal sama nomor mobil segala?” Dia semakin menyelidik. Aku tidak berusaha menjawabnya. Aku pura-pura sibuk membuka mur mobil satu-persatu.

 

“Ngomong-ngomong mobil ini tidak dipakai Elisa bu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Kalau aku jawab pasti dia semakin ingin bertanya lebih jauh.
“Eit… jangan coba mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia menjawab sambil tersenyum. Aku bisa melihatnya karena aku bertanya sambil melirik ke arahnya.

 

“Kebetulan mobil ibu lagi ke bengkel, sedangkan sekarang harus cepat-cepat sampai kantor soalnya ada rapat penting pagi ini di sana, yah terpaksa deh Elisa yang ngalah”. Akhirnya dia mau menjawab juga.
 
“Oh begitu, kalau mobil ini ibu pakai berarti Elisa gak pake mobil dong bu?”. Aku bertanya kembali.
“Iya… dia ada yang mengantar ke kantor”. Dia berkata sambil sedikit tertawa. Aku sudah selesai membongkar ban yang bocor. Dongkrak sudah aku naikkan dan sekarang tinggal memasukkan ban yang baru dan menguncinya dengan mur yang tadi.

 

“Tenang saja dia tidak di antar siapa-siapa kok, dia diantar papanya ke kantor”. Ada sedikit suara kemenangan disana. Aku sudah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.
“Oh begitu…”. Ada sedikit kelegaan dihatiku.
“Lega kan dia tidak di antar siapa-siapa”. Busyet… tau juga dia isi hatiku.
“Ah ibu bisa saja”. Aku hanya bisa tersenyum simpul.
“Ibu juga pernah muda, ibu tahu apa yang ada di pikiran kamu”. Dia berkata lagi.

 

Tak terasa akhirnya pekerjaanku selasai. Ban sudah kupasang dan mur-mur nya sudah aku kencangkan sedemikian rupa, tak lupa aku mengencangkan secara diagonal agar ban menjadi seimbang. Kemudian aku memasukkan ban yang bocor dan peralatan lainnya ke dalam bagasi mobil.

 

“Ok bu sudah selesai semua. Jangan lupa ban yang bocornya segera ditambal”. Aku berkata sambil membersihkan sisa-sisa tanah yang masih ada di tanganku.
“Aduh makasih banyak ya Andi…, sudah merepotkan kamu”.
“Sama-sama bu, saya senang kok bisa membantu”. Jawabku.
“Senang kan bisa membantu mobil cewek yang kamu taksir”. Tak henti-hentinya dia menggoda.
“Ah kata siapa saya naksir sama Elisa?”. Aku mencoba menghindar.
“Jangan pura-pura… dari semua yang kamu katakan, ibu tahu apa isi hati kamu”. Dia berkata lagi
“Pokoknya nanti ibu sampaikan deh sama Elisa kalau kamu yang membantu ibu, Ok”. Apa juga coba untungnya ngasih tahu Elisa.

 

“Kamu suka kan sama Elisa?”. Dia langsung menebak. Aku tidak bisa menjawab. Dan memang aku enggan untuk menjawabnya. Masa di depan orang tua cewek yang aku sukai aku terus terang sih.
“Sudah siang bu, bukannya ibu harus cepat-cepat ke kantor?”. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu pintar mengalihkan pembicaraan ya…”. Dia berkata sambil tersenyum penuh kemenangan.

 

“Sekali lagi terimakasih ya, coba kalau nggak ada kamu bisa-bisa ibu nggak bisa ngantor hari ini. Mana ada bengkel dekat sini”. Dia berbicara serius kali ini.
“Iya bu sama-sama, itu juga kebetulan saja saya lewat sini”. Jawabku.
“Ok deh kalo begitu, ibu jalan dulu yah, eh mau dianter gak?”. Dia bertanya
“Wah nggak usah bu, saya naik umum saja. Lagian ibu kan mau langsung naik tol”. Aduh aku salah ngomong lagi.
“Lho tau dari mana ibu mau naik tol?”. Dia kembali menyelidik.
“Ah cuma nebak aja kok, soalnya kalau ke arah tanjung priuk atau ke arah cawang tidak mungkin ibu putar balik di sini”. Aku menjelaskan.
“Kamu pasti bohong, pasti sudah tahu dari Elisa. Nanti ibu tanyakan sama dia, kamu pasti teman dekatnya Elisa”. Dia sedikit mengancam walaupun masih tersenyum.
“Saya bukan siapa-siapa nya Elisa bu, bener deh gak bohong”. Jawabku.
“Ok deh gak apa-apa kalau gak mau terus terang, yang jelas ibu mengucapkan terimakasih banyak sudah dibantu”. Dia sungguh-sungguh berkata.

 

“Iya bu sama-sama”. Jawabku
 
“Kalau ada waktu main ke rumah ya, biar bertemu sama Elisa, bisa ngobrol dengan tenang, ok”. Pintanya.
“Iya bu terimakasih”. Jawabku, kemudian dia masuk ke dalam mobil.
“Sudah tahu kan rumah ibu?”. Tanya dia.
“Eh iya… eh belum bu”. Aku tergagap. Aku keceplosan ngomong lagi.
“Tuh kan kamu berbohong lagi. Tapi ya sudahlah, pokoknya nanti ibu kasih tahu Elisa supaya mengundang kamu ke rumah”.
“Iya bu makasih”. Aku tidak bisa berkata lagi.

 

Setelah menutup kaca mobil kemudian mobilnya pun berjalan meninggalkanku. Dia membunyikan klakson sebelum berjalan. Aku melambaikan tangan. Kebetulan kopaja yang aku tunggu sudah datang. Akhirnya aku naik. Huh pengalaman yang sungguh diluar dugaan. Aku bertemu dengan ibunya Elisa. Eh aku lupa tidak menanyakan namanya. Ah gak apa-apa, aku kan bukan suka sama ibunya tapi suka sama anaknya hehehe.

Sepatu Besi

Waktu menunjukkan pukul 06.30 sewaktu aku sampai di halte angkutan umum. Masih pagi. Belum banyak orang yang menunggu angkutan. Teman-teman sekolahkupun belum ada yang kelihatan. Santai dulu ah. Jam masuk sekolah masih lama. Masih setengah jam lagi.
 

Jam 06.35 Pak Dodi guru bahasa Indonesia di sekolahku lewat. Kebetulan hari ini dia mengajar di jam pertama.

 

“Pagi pak….”. Aku menyapanya
“Pagi Boy, belum berangkat?”. Dia menjawab sekaligus bertanya
“Belum pak sebentar lagi”. Jawabku
“Ya udah Bapak duluan ya”. Dia berkata sambil menyetop angkutan yang lewat.
“Baik pak”. Aku menjawab.

 

Aku kembali duduk di bangku halte dan meneruskan cuci mataku. Mulai banyak orang yang berlalu-lalang di depan halte. Banyak juga cewek yang lewat. Biasa lah aku duduk sambil menggoda mereka.

 

Jam 06.45 Siska teman sekelasku lewat. Aku tahu dia naksir sama aku. Soalnya beberapa waktu yang lalu Reni temannya pernah bilang padaku kalau dia menitipkan salam kepadaku.

 

“Hai Boy….Belum berangkat?”. Dia bertanya
“Belum nih”. Aku menjawab
“Ngapain sih duduk disitu, ayo berangkat bareng aku”. Dia mengajak sambil mengembangkan senyum manis.
“Tar dulu ah, masih limabelas menit lagi kan bel”. Jawabku.
“Ya udah. Aku duluan ya, dah”. Dia berkata dengan sedikit kecewa. Langsung menyetop angkutan dan naik tanpa melihatku lagi.

 

Sebodo amat. Emang gue pikirin. Mending juga nongkrong dulu di sini sambil cuci mata. Menyegarkan pikiran dan otak hehehe. Aku belum berangkat ke sekolah karena memang jarak antara halte ini dan sekolahku tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam lima menit. Disekolah juga mau ngapain. Paling ngegodain cewek sekelas. Bosen 4L. Lu lagi lu lagi.

 

Jam 06.50 Aku bersiap-siap menyetop angkutan. Aku rasa sudah saatnya berangkat kesekolah. aku berusaha menyetop angkutan yang lewat di halte. Tapi ya ampun kok penuh semua. Aku berusaha menghentikan beberapa angkutan yang lewat tapi tidak ada yang berhenti. Temanku juga ada yang naik angkutan dan lewat didepanku. Dia juga kebagian berdiri di pintu. Wah gawat nih. Aku bisa kesiangan. Waktu bel sekolah tinggal lima menit lagi. Aduh gawat…gawat.

 

Akhirnya ada juga angkutan yang berhenti didepanku. Itu juga aku berebut dengan orang lain yang akan naik. Aku kebagian berdiri dipintu. Selamat-selamat…… akhirnya aku bisa juga naik angkutan. Mudah-mudahan tidak sampai kesiangan.

 

Sampai di sekolah aku berlari menuju pintu gerbang. Satpam sudah bersiap-siap menutup pintu karena memang bel sudah berbunyi. Banyak juga teman-temanku yang kesiangan. Mereka berlarian menuju ke arah pintu gerbang. Aku beruntung karena bisa masuk sebelum pintu gerbang ditutup satpam. Aku tidak melihat teman-teman yang lain yang kesiangan karena aku berkonsentrasi untuk mengejar pelajaran pertamanya pak Dodi. Mudah-mudahan di belum masuk ke kelas.

 

Aku berlari di lorong sekolah karena memang kelasku berada di ujung koridor. Sepi terlihat di sepanjang lorong karena memang pelajaran sudah dimulai. Akhirnya aku sampai juga di depan kelasku. Aku lihat Pak Dodi sudah memulai pelajaran. Dia sedang menerangkan sesuatu. Aku bisa melihat karena memang pintu masuk kelas terbuka lebar. Aku mengetuk pintu masuk kelas.

 

“Selamat pagi pak…..”. Aku mengucapkan salam. Pak Dodi kemudian menoleh ke arah pintu.
“Selamat pagi juga Boy, atau selamat siang tepatnya”. Dia berkata sambil menyindir.
“Maaf pak, saya kesiangan”. Aku berkata sambil menunduk malu.

 

Terdengar suara koor dari deretan teman-temanku. aku melirik ke arah teman-temanku. Mereka pada tertawa cekikikan sambil mencibir. Aku balik mencibir kearah mereka. Aku melihat kearah Siska. Dia hanya tersenyum kepadaku. Aku kembali menghadap ke arah Pak Dodi.

 

“Ya sudah, silahkan kamu duduk”. Pak Dodi akhirnya mempersilahkan aku duduk.
“Terimakasih pak”. Aku menjawab.
“Ya…ya…. tapi lain kali jangan pake sepatu besi ya, jadi kamu susah berjalan, akhirnya terlambat masuk kelas”. Pak Dodi kembali berkata sambil tetap menyindirku.
“Hahaha…….”. Terdegar ledakan tawa dari teman-teman sekelasku.

 

Mati aku.

First Post

Tempat dimana kehausanku akan tulisan terpenuhi. Tulisan yang mengungkapkan perasaan seseorang. Atau diwakili oleh orang lain. Selamat membaca.