Realita vs Imajinasi

Pernah dengar atau nonton film Inception? Film yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio ini rilis tahun 2010. Film ini menceritakan tentang mimpi yang bisa dikendalikan oleh manusia. Cerita dimana perbedaan antara realita dan imajinasi sangat tipis. Selain memang ceritanya bagus dari segi plot, yang membuat saya agak bertanya-tanya atau mungkin terkesan adalah ketika menceritakan tentang sekelompok manusia yang sedang dibius oleh suatu cairan tertentu, yang mengakibatkan mereka berada di suatu kondisi tidur atau lebih tepatnya mimpi yang bisa mereka kendalikan sendiri. Bahkan mimpi itu bisa mereka bagikan kepada siapa saja yang mereka mau atau mereka ajak ke dalam mimpi mereka.

Oke… saya tidak akan membahas panjang lebar tentang film ini. Apabila ada yang ingin menonton atau ingin bernostalgia kembali dengan film ini, bisa mencarinya di internet. Atau bisa membelinya di amazon. Yang ingin saya bahas disini adalah mimpi dan khayalan saya sendiri.

Saya mentasbihkan diri saya sendiri sebagai seorang novelis, walaupun belum pernah ada karya saya yang diangkat menjadi sebuah buku. Karya saya hanya saya publikasikan lewat blog novel ini.

Sebagai seorang penulis novel, tentu saja imajinasi atau khayalan adalah bahan utama saya. Boleh di tanyakan kepada penulis lain tentang ini. Tapi saya yakin mereka juga akan sependapat dengan saya.

Tahun 2018 sampai tahun 2019 ini adalah tahun produktif saya menulis. Walaupun saya sibuk bekerja di bidang IT, tapi saya sempatkan menulis novel ketika saya dalam perjalanan berangkat bekerja dan perjalanan pulang bekerja. Dalam dua tahun ini saya sudah menyelesaikan tiga buah novel. Novel terakhir sebelum saya vakum menulis adalah tahun 2006. Jauh sekali rentang waktunya sampai tahun 2018.

Tahun 2006 adalah tahun terakhir saya membuat novel. Setelah itu saya vakum menulis sampai menulis lagi tahun 2018 kemarin. Seperti yang saya sebutkan diatas, khayalan adalah bahan utama saya menulis novel. Pada tahun 2006 ke belakang, saya menulis novel berdasarkan imajinasi saya ketika saya sedang sendiri setelah pernikahan pertama saya kandas hanya dalam rentang waktu empat tahun. Ketika itu saya sedang menjalin hubungan dengan istri saya yang sekarang. Tapi saya tidak akan menceritakan kisah saya dengan istri saya yang sekarang, tapi saya akan menceritakan wanita lain. Ya… wanita lain. Terus terang saya tergoda dengan wanita lain. Wanita yang membuat saya penasaran. Anaknya mungil, lucu dan membuat saya ingin berkenalan semenjak saya pertama kali melihat dia. Memang waktu itu saya belum terikat janji suci pernikahan, tapi saya berkomitmen untuk menikah pada tahun berikutnya.

Wanita tersebut adalah karyawan perusahaan lain yang satu gedung dengan perusahaan saya. Saya sempat berkenalan dengan dia dan mengajak dia untuk ngedate. Namanya juga anak muda, pasti menggebu-gebu untuk mendekati wanita. Itu juga yang saya alami. Tapi sepertinya wanita tersebut kurang tertarik dengan saya. Entah karena saya terlalu menggebu-gebu, atau karena dia berlainan etnis dengan saya. Ya… dia orang chinese dan berbeda keyakinan dengan saya yang seorang muslim.

Dari sanalah awal mula imajinasi saya melayang kemana-mana. Mungkin karena keinginan saya yang tidak kesampaian, karena saya kecewa, jadilah saya menulis novel berdasarkan khayalan saya sendiri. Saya menulis novel seperti kesetanan. Dari pagi sampai sore saya menulis novel tersebut dan selesai hanya dalam tiga hari. Pekerjaan saya pun terbengkalai gara-gara saya menulis novel tersebut. Lalu saya publikasikan novel tersebut di blog saya, sebelum blog ini berganti nama menjadi website novel seperti sekarang. Banyak yang berkomentar dan bertanya apakah novel tersebut adalah kisah nyata? Saya tidak menjawab langsung, saya kembalikan lagi kepada para pembaca blog saya.

Kembali kepada khayalan, imajinasi atau khayalan saya sangat kuat waktu itu, sehingga mampu membuat beberapa cerpen dan novel saat saya menyukai wanita tersebut. Tapi karena keinginan saya tidak tercapai, saya akhirnya mundur teratur dan tidak mendekatinya lagi. Bertemu di lift atau di kantin pun hanya diam saja. Akhirnya saya menikah dengan pacar saya satu tahun kemudian. Satu tahun kemudian saya keluar dari perusahaan tersebut dan sudah melupakannya. Begitupun dengan kegiatan menulis novel, sudah saya lupakan dan blog ini tidak diurus sama sekali. Mati suri…!

Cerita berlanjut sepuluh tahun kemudian. Ya… sepuluh tahun! Rentang waktu yang sangat lama untuk kegiatan menulis. Tapi seperti dejavu, saya menulis lagi karena sedang suka dengan seseorang. Bukan suka kepada wanita seperti sepuluh tahun yang lalu, tapi suka sebagai fans saja. Saya sadar kalau saya sudah mempunyai keluarga yang harus saya sayangi sepenuh hati.

Ada seorang artis wanita muda penuh talenta. Cantik dan banyak judul sinetron dan FTV yang sudah dibintanginya. Mulai dari sinetron yang judulnya alay-alay, sampai sinetron serius dan sitkom. Akting nya memang diakui oleh semua orang terlebih kalau memerankan tokoh antagonis. Luar biasa memang wanita ini. Pesonanya bisa membius siapapun. Bahkan acara sekelas ‘The Comment‘ di Net. TV pun menamai artis ini dengan sebutan ‘Our Own Favorit’ atau kesukaan kita semua. Tinggi, langsing, putih dan cantik, standar wanita cantik di Indonesia. Sama satu lagi, dia sering banget ganti-ganti gaya rambut. Kadang juga rambutnya di highlight dengan warna rambut yang bermacam-macam sehingga kalau dilihat wajahnya sering berubah-ubah sesuai dengan gaya rambutnya.

Followersnya di Instagram sudah mencapai 348K lebih. Disanalah saya sering melihat keseharian dia, pulang pergi syuting dan keseharian dia selama di lokasi syuting. Selain di IG, banyak juga yang memposting videonya di Youtube. Saya sudah sering DM dia mengomentari setiap InstaStory nya. Tapi ya… namanya juga artis, gak mungkin dia balas DM orang yang nggak dikenal walaupun itu adalah fans nya sendiri. Lagipula saya memang tidak mengharapkan balasan DM dia, hanya ingin berkomentar saja di InstaStory nya.

Bulan Agustus tahun 2018 adalah awal mula saya melihat aktingnya di TV, ketika dia main di sebuah sitkom dan langsung jatuh hati. Insting saya menulis tiba-tiba hidup kembali dan saya mulai menulis lagi. Tentu dengan artis ini sebagai bahan khayalan saya. Tapi jangan salah ya, saya tidak mengkhayal yang jorok-jorok seperti kebanyakan cerita-cerita yang ada di internet. Syukur sekarang cerita-cerita seperti itu sudah di blok kominfo lewat google dan search engine besar lainnya seperti bing dan yahoo. Khayalan saya berkelana kemana-mana dengan artis ini sebagai pemerannya. Satu novel selesai bersamaan dengan selesainya sitkom tersebut. Ternyata bakat menulis saya masih ada. Khayalan saya bisa terbang kemana-mana dengan artis ini sebagai role model saya.

Mulai saat itu saya memutuskan untuk menekuni kegiatan menulis lagi. Berkhayal yang tinggi-tinggi sampai setinggi langit. Saya berkhayal kemanapun yang saya mau. Menjadi apapun yang saya mau. Menceritakan apapun yang saya mau. Ternyata dengan menulis, saya bisa menumpahkan perasaan saya yang selama ini hanya ada di pikiran saya. Saya bisa menuliskan apapun yang saya mau walaupun itu hanyalah sebatas khayalan semata.

Ternyata dunia khayalan memang indah. Saya bisa bebas mengekspresikan apapun yang saya mau. Tetapi realita tetaplah realita. Saya di dunia nyata sangatlah berbeda dengan saya di dunia khayalan. Walaupun apabila ada karakter laki-laki di novel saya, tidak akan jauh berbeda dengan karakter saya di dunia nyata. Tetapi khayalan tetapkah khayalan. Di dunia khayalan saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, tetapi tidak demikian dengan dunia nyata. Saya harus kembali lagi berhadapan dengan dunia nyata yang tidak seindah dunia khayal yang saya ciptakan. Dunia nyata bukanlah dunia yang bisa kita kendalikan sendiri. Dunia nyata milik semua orang. Ada orang tua, saudara, istri dan anak saya yang memerankan diri mereka masing-masing, tanpa bisa saya kendalikan seperti halnya di dunia khayalan saya.

Oh iya… istri saya sangat tidak setuju saya menulis novel atau cerpen. Suatu saat saya menulis salah satu novel saya waktu hari libur. Istri saya marah sekali melihat tulisan saya yang menceritakan salah satu tokoh novel saya. Dia bilang tidak ada gunanya menulis novel, untuk apa menulis novel, memang bisa menghasilkan uang dengan menulis novel, kamu menceritakan diri kamu sendiri dalam novel, dan lain sebagainya ocehan istri saya ketika mengetahui saya sedang menulis novel.

Akhirnya saya tidak pernah menulis novel ketika saya sedang liburan dan berada didalam rumah. Saya menulis novel saya saat saya sedang dalam perjalanan pergi dan pulang bekerja. Saya bekerja di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sedangkan rumah saya di daerah Gadog, Bogor. Jadi saya mempunyai waktu luang yang sangat banyak ketika melakukan perjalanan di dalam bis. Novel saya yang baru-baru ini ditulis, semuanya saya buat ketika dalam perjalanan pulang pergi Bogor-Jakarta. Editing pun saya lakukan dalam perjalanan pulang pergi bekerja. Setelah proses editing selesai, barulah saya pindahkan ke dalam format blog atau kedalam format MS-Word yang siap cetak apabila nanti ada kesempatan saya untuk mencetak novel tersebut. Tulisan ini pun saya buat ketika saya sedang dalam perjalanan pulang pergi bekerja Bogor-Jakarta.

Mungkinkah kegiatan menulis saya merupakan ekspresi dari semua khayalan saya yang tidak dapat saya ungkapkan di dunia nyata? Mungkinkah novel saya merupakan bentuk kekecewaan dari realita yang terjadi dalam kehidupan saya? Kekecewaan terhadap keluarga mungkin? Atau kekecewaan terhadap istri? Anak? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya hanya menulis apa yang ada di otak saya saat itu. Tapi saya tidak kecewa kepada kehidupan yang saya alami sekarang. Saya malah bersyukur diberikan anugrah untuk bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya. Tidak banyak orang yang bisa menuliskan apa yang ada di dalam pikiran mereka kedalam sebuah tulisan.

Namun akhir-akhir ini, khayalan yang saya tulis terasa menjadi hal yang nyata di depan saya. Terasa hanya ada awan tipis yang memisahkan antara dunia khayalan saya dengan dunia nyata. Terus terang nyali saya ciut membayangkan tulisan saya menjadi kenyataan. Apa yang harus saya lakukan apabila semua yang saya tulis merupakan perjalanan hidup saya sendiri? Apa yang harus saya katakan kepada semua orang kalau saya menulis masa depan saya sendiri? Kalau ingat itu semua saya bergidik, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tetapi saya sudah terlanjur menumpahkan khayalan saya ke dalam bentuk tulisan. Apakah saya harus menghapus semua novel saya? Novel yang sudah saya buat dengan segenap perasaan saya?

Tapi satu hal yang pasti bahwa realita tidaklah seindah khayalan.

Tetaplah menulis Aji!.

Diplomat Bag. 8 – Melamar

Mama Farah melihat anaknya termenung setelah menerima telpon. Dia sedang duduk di ruang tengah. Farah masih terdiam ketika mamanya duduk di sampingnya.

“Barusan Yudha yang telpon?”. Tanya mama.

“Eh iya mam, barusan Yudha yang telpon. Dia sudah sampai di bandara. Tadi aku tanyakan mau dijemput atau nggak. Katanya nggak usah mam, sudah pesan taksi online katanya”. Jawab Farah.

“Oh begitu, syukur kalau dia sudah sampai dengan selamat”. Ujar mama.

“Terus dia jadi mau ke rumah kita hari ini?”. Tanya mama.

“Iya mam jadi. Tapi dia mau menyimpan koper dulu di rumah katanya mam”. Jawab Farah.

“Tapi kok kenapa anak mama jadi melamun begitu?”. Tanya mama.

“Mam… bagaimana kalau benar Yudha mau melamarku sekarang ya…?”. Tanya Farah.

“Kalau benar memangnya kenapa?”. Tanya mama.

“Apakah aku sudah siap menerima lamaran Yudha mam? Apakah aku sudah mantap mam? Apakah aku sudah siap jadi seorang istri mam?”. Tanya Farah.

Mama kemudian mendekat dan mengusap-usap rambut anak cantiknya yang sebahu.

“Mama sewaktu dulu mengandung kamu sampai melahirkan kamu, mama sudah yakin akan punya anak perempuan. Anak perempuan yang cantik yang akan jadi rebutan laki-laki. Dari dulu mama sudah tahu resikonya bagaimana mempunyai seorang anak perempuan. Mama juga sudah menduga saat-saat seperti ini akan datang. Mama tau suatu saat kamu akan diminta oleh lelaki yang mencintaimu. Mama sudah tau kalau mama harus merelakan jika suatu saat kamu akan diperistri orang. Dari semenjak kamu menjadi artis sampai sekarang sudah banyak laki-laki yang menaruh hati sama kamu, tapi dari sekian banyak laki-laki tersebut tidak ada satupun yang meyakinkan mama untuk melepaskanmu”. Mama berkata panjang lebar. Farah kemudian tidur di atas pangkuan mamanya. Matanya berkaca-kaca mendengar mamanya bicara begitu.

“Tapi entah kenapa semenjak bertemu dengan Yudha, mama jadi yakin bahwa dia adalah jodoh kamu. Semenjak dia memasuki rumah ini mama sudah melihat kalau Yudha adalah anak yang baik. Anak yang akan bertanggung jawab kepada istrinya. Anak yang akan menjadi suami yang baik, suami yang akan mati-matian menjaga kamu. Mama tau ini mungkin terlalu cepat, tapi mama pikir kalau sudah jodoh mau bagaimana lagi. Mama tiap malam selalu berdoa memohon petunjuk-Nya. Mama selalu berdoa yang terbaik buat kamu sayang. Semakin mama berdoa ternyata mama semakin yakin kalau Yudha adalah jodoh kamu”.

“Iya mam, Farah mengerti”. Jawab Farah.

“Sekarang yang harus kamu lakukan adalah meyakinkan diri sendiri. Kamu harus siap dan mantap untuk menerima lamaran Yudha. Jangan ragu-ragu, apalagi mama juga sudah tau bagaimana perasaan kamu selama ini. Kalau kamu tidak punya perasaan sama Yudha, mana mungkin kamu tiap hari mau diantar jemput ke tempat syuting. Makan siang berdua, makan malam berdua. Kamu kan sebelumnya tidak pernah seperti ini”. Lanjut mama.

“Iya mam. Sebelumnya Farah memang tidak pernah seperti ini. Tapi entah kenapa dengan Yudha selalu mau kemanapun dia mengajak Farah”. Ujar Farah.

“Yakin kan dirimu sendiri. Mama tidak akan memaksamu untuk menerima lamaran Yudha. Tapi jangan jadikan kebimbangan ini menodai perasaanmu kepada Yudha”. Ujar mama.

“Iya mam, Farah ngerti”. Jawab Farah.

“Sekarang kamu siap-siap, pakai pakaian yang rapi. Kita siap-siap menerima Yudha nanti sore”. Ujar mama.

“Iya mam”. Jawab Farah. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.

***

Yudha sudah memasukkan kopernya ke dalam taksi online yang dipesannya. Dia sudah tidak sabar untuk datang ke rumah Farah dan melamarnya. Dalam hati dia merasa bahagia karena akhirnya dia sampai juga di Jakarta dan akan segera melaksanakan niatnya jauh-jauh hari untuk melamar Farah. Tapi ada juga perasaan gugup yang menghinggapinya.

Ada rasa berdebar-debar dihatinya menantikan peristiwa ini. Seandainya kedua orang tuanya masih ada, tentu semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua tentu dengan senang hati akan melamarkan Farah untuknya. Tapi sekarang keadaanya lain, dia sendiri yang harus melamar Farah untuk dirinya sendiri.

Apakah aku akan minta bantuan sahabatnya Myra dan Pras? Tapi aku tidak mau merepotkan mereka. Sudah dikenalkan dengan Farah saja merupakan anugerah yang tidak terkira untuk Yudha. Myra sudah mengenalkan nya dengan wanita yang selama dua bulan ini sudah mengisi kekosongan hatinya. Wanita yang selama dua bulan ini telah menghiasi hari-harinya dengan kebahagiaan.

Atau aku telpon mereka aja ya, mungkin dengan menelpon mereka bisa mengurangi kegugupanku, begitu pikir Yudha.

Dia kemudian membuka HP nya dan menelpon Myra.

“Halo Yud…”. Ujar Myra ketika telpon sudah tersambung.

“Halo Ya. Aku sudah sampai Jakarta. Sekarang lagi naik taksi mau ke rumah”. Ujar Yudha.

“Loh nggak langsung ke rumah Farah?”. Tanya Myra.

“Nggak Ya. Aku mau simpan dulu barang-barang yang aku bawa dari New York. Nanti sore rencananya aku mau ke rumah Farah”. Jawab Yudha.

“Jadi kan mau melamar Farah hari ini?”. Tanya Myra.

“Mmmm… jadi Ya”. Jawab Yudha.

“Loh kok kayak yang nggak yakin gitu”. Ujar Myra.

“Deg degan Ya. Walaupun hatiku sudah mantap tapi tetap saja ada rasa berdebar-debar”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kita temenin ya ke rumah Farah. Aku sama Pras sudah siap kok”. Ujar Myra.

“Nggak usah Ya. Aku nggak mau merepotkan kalian. Pras ada disitu kan?”. Tanya Yudha.

“Iya Yud, aku ada disini. Kenapa Yud? Butuh bantuan apa? Bilang saja, kita siap bantu kok”. Jawab Pras.

“Waktu dulu mau melamar Myra bagaimana Pras? Bagaimana rasanya?”. Tanya Yudha.

“Iya berdebar-debar juga sih. Tapi aku kan dilamarkan oleh orang tuaku. Jadi aku nggak terlalu punya beban berat”. Jawab Pras.

“Gimana caranya supaya tenang ya Pras?”. Tanya Yudha.

“Wah gimana ya Yud, aku juga nggak tau. Tapi sebelum berangkat ke rumah Myra, kita sekeluarga nyekar dulu ke makam kakek dan nenekku Yud. Mungkin kamu juga bisa meniru apa yang aku lakukan, kamu ziarah saja dulu ke makam orang tuamu sebelum pergi ke rumah Farah”. Jawab Pras.

“Oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu sebelum ke rumah Farah aku akan ziarah dulu ke makan orang tuaku. Terima kasih ya sarannya”. Ujar Yudha.

“Aku sudah sampai rumah nih. Tolong kalian doakan aku ya supaya lancar semuanya”. Lanjut Yudha.

“Iya kita selalu doakan kok”. Jawab Myra dan Pras.

“Sudah dulu ya. Bye”. Ujar Yudha mengakhiri pembicaraan.

“Bye…”. Jawab Myra dan Pras.

Yudha kemudian menurunkan kopernya dibantu mang Ukan. Setelah membayar ongkos taksi online, mereka kemudian masuk kedalam rumah sambil membawa koper Yudha. Bi Neni kemudian membantu mang Ukan membawa koper Yudha.

“Bi… mang… saya nggak punya waktu banyak. Tolong koper saya dibereskan. Saya mau mandi dulu”. Ujar Yudha.

“Loh… den Yudha mau kemana?”. Tanya bi Neni.

“Nanti saya jelaskan bi…”. Ujar Yudha setengah berteriak sambil berlalu ke kamar mandinya.

Setelah selesai mandi kemudian Yudha masuk ke kamarnya dan segera memakai baju batik yang paling bagus. Dia mengenakan baju batik Pekalongan berwarna merah dan hitam dengan motif kembang-kembang. Dia kemudian bergegas keluar kamar. Dia melihat kesana kemari seperti ada yang dicarinya. Kemudian mang Ukan menghampiri Yudha dan memberikan kunci mobilnya.

“Ini den…”. Kata mang Ukan.

“Oh iya terima kasih mang”. Ujar Yudha.

“Jum’at kemarin mang Ukan ke makam kan?”. Tanya Yudha.

“Iya den selalu, makam sudah mamang bersihkan”. Kata mang Ukan.

“Den Yudha mau kemana? Kok sudah rapih begitu?”. Tanya bi Neni.

“Begini bi, hari ini saya akan melamar Farah. Sebelumnya saya akan ziarah dulu ke makam mama sama papa”. Jawab Yudha.

Bi Neni dan mang Ukan kaget bukan main. Kok mendadak sekali majikannya melamar Farah. Tapi memang dari semenjak Yudha pulang dua bulan lalu mereka selalu bersama-sama. Sewaktu diajak makan dirumah ini pun sepertinya mereka sudah punya perasaan khusus dan sepertinya saling menyukai.

“Bi Neni dan mang Ukan tolong doakan semoga segalanya lancar dan lamaran saya diterima”. Lanjur Yudha.

“Perlu kami temani den…?”. Tanya bi Neni.

“Terimakasih bi. Tapi nggak usah bi. Saya sendiri saja kesana hari ini. Kalau lamaran saya diterima nanti kita akan melamar  secara resmi. Nanti bibi sama mamang juga ikut ya”. Jawab Yudha.

“Ya sudah saya berangkat dulu ya. Doakan berhasil ya”. Ujar Yudha.

“Iya den semoga berhasil”. Jawab bi Neni dan mang Ukan.

Yudha kemudian masuk kedalam mobilnya dan berangkat menuju pemakaman orang tuanya.

Sampai di sana, seperti biasa Yudha membeli dua botol air dan dua kantong bunga tabur. Setelah berada di makam orang tuanya kemudian Yudha berdoa. Setelah berdoa dia kemudian menyiramkan air diatas tanah makam orang tuanya. Setelah itu dia menaburkan bunga diatasnya.

Yudha kemudian berbicara.

“Mah… pah… Yudha hari ini akan melamar seorang wanita. Mudah-mudahan lamaran Yudha diterima. Yudha pulang ya…”. Ujar Yudha berbicara sendiri.

Dia kemudian melangkah keluar dari area pemakaman tersebut dan masuk kembali kedalam mobilnya. Benar kata Pras, ternyata setelah dia ziarah ke makam orang tuanya, hatinya jadi lebih tenang. Dia lebih bisa mengendalikan perasaan nya yang tadi tidak karuan. Dia kemudian mulai menjalankan mobilnya. Tujuannya hanya satu, ke rumah Farah.

***

Lama sekali rasanya waktu berlalu hari ini. Farah terlihat gelisah karena belum ada kabar sama sekali dari Yudha. Dia mengenakan setelan kebaya warna pink di bagian atas dan rok yang senada dengan kebayanya. Pakaian ini yang dia pakai sewaktu pertama kali bertemu dengan Yudha di resepsi pernikahan Myra dan Pras. Mama Farah melihat putri cantiknya gelisah. Dia kemudian menghampiri putrinya yang sedang gelisah tersebut. Farah terkadang duduk di sofa, sebentar kemudian dia berdiri dan melihat keluar rumah melalui jendela kacanya.

“Sudah nggak usah gelisah begitu, sebentar lagi juga Yudha datang”. Ujar mama.

“Iya mam. Tapi kok belum ada kabar dari Yudha mam. Ini kan sudah jam empat sore”. Jawab Farah.

“Dia siap-siap dulu kali di rumahnya”. Kata mama.

“Tapi semoga Yudha baik-baik saja ya mam”. Ujar Farah. Mama tersenyum melihat anak gadisnya terus-menerus gelisah.

“Kalau ada apa-apa pasti dia memberi kabar. Mama yakin dia juga sama gelisahnya seperti kamu sekarang. Mungkin dia sedang memantapkan hati buat melamar kamu”. Ujar mama.

Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Farah. Farah melihat dari kaca jendela ruang depan. Mobil Yudha ternyata yang berhenti di depan rumahnya. Farah kemudian buru-buru masuk ke kamarnya.

“Loh… kok malah masuk kamar? Itu Yudha sudah datang, kenapa kamu gak menyambutnya?”. Tanya mama heran.

“Nggak ah mam, Farah nggak sanggup. Farah deg degan”. Ujar Farah sambil duduk di pinggir tempat tidurnya. Mama tersenyum melihat kelakuan anak gadisnya.

Tok tok tok… terdengar pintu rumah ada yang mengetuk.

“Iya sebentar”. Mama Farah kemudian berjalan ke arah pintu masuk dan membuka pintu tersebut.

“Selamat sore tante…”. Yudha berdiri dan kemudian membungkuk menyalami mama Farah seperti biasa.

“Selamat sore juga, ayo masuk”. Ajak mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Yudha berkata agak gemetar. Biasanya dia tidak pernah begini ketika masuk ke rumah ini. Tapi sekarang suasananya lain sekali. Perasaan Yudha tegang kembali setelah tadi agak tenang sepulang dari makam orang tuanya. Dia lihat mama Farah berdandan rapi seperti mau pergi keluar rumah.

“Ayo silahkan duduk”. Ujar mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha. Dia melihat ke dalam ruang tengah mencari keberadaan Farah. Apa Farah masih di kamar nya ya, Yudha berkata dalam hati.

Mama Farah melihat itu dan kemudian tersenyum.

“Bagaimana perjalananmu, lancar?”. Tanya mama Farah.

“Alhamdulillah lancar tante”. Jawab Yudha.

“Syukur kalau lancar”. Ujar mama Farah.

“Jadi selanjutnya bagaimana? Tugas di Jakarta lagi?”. Tanya mama Farah. Dia berusaha mencairkan suasana karena dia lihat Yudha sepertinya tegang sekali.

“Iya tante, sepertinya satu atau dua tahun ini saya di Jakarta dulu. Biar yang muda-muda dulu katanya yang tugas di luar”. Jawab Yudha.

“Oh begitu, kalau di Jakarta ngantornya dimana?”. Tanya mama Farah. Dia melihat Yudha agak sedikit berkurang ketegangannya dengan mengajak ngobrol tentang pekerjaannya.

“Kantor saya yang di Gambir tante”. Jawab Yudha.

“Oh bukan yang di Kebayoran Baru sana ya…”. Ujar mama Farah.

“Oh bukan tante, yang di Kebayoran Baru buat training center, tapi terkadang saya juga kesana buat training staff baru kemenlu”. Jawab Yudha.

“Sekarang menterinya perempuan ya”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante, beliau menteri luar negeri perempuan pertama kita”. Jawab Yudha.

“Wah hebat ya bu menteri luar negeri kita ini”. Ujar mama Farah.

“Beliau juga kenal baik dengan almarhum orang tua saya tante, mereka satu angkatan di kementerian luar negeri”. Ujar Yudha tanpa bermaksud menyombongkan diri.

“Oh begitu…”. Ujar mama Farah.

“Sewaktu orang tua saya meninggal tiga tahun yang lalu beliau berpesan untuk menjaga amanat orang tua saya untuk terus berkarir sebagai diplomat. Beliau juga berpesan kepada saya untuk segera menikah, karena itu pesan terakhir orang tua saya tante”. Ujar Yudha. Mama Farah tersenyum mendengar ucapan Yudha. Dia sepertinya sudah memberikan tanda akan melamar Farah.

“Oh iya, kamu mau minum apa?”. Tanya mama Farah.

“Apa saja tante boleh, air putih juga nggak apa-apa”. Jawab Yudha.

“Sebentar ya tante ambilkan”. Kemudian mama Farah masuk ke ruang tengah dan terus ke arah dapur untuk mengambil air minum.

Farah dari tadi mendengarkan dengan seksama percakapan mamanya dengan Yudha. Sepertinya Yudha tadi agak tegang, terdengar dari suaranya. Tapi setelah ngobrol cukup lama dengan mamanya dia agak sedikit bisa mengurangi ketegangannya.

Mama Farah menengok ke dalam kamar anaknya sambil membawa gelas yang berisi air putih.

“Kamu nggak keluar?”. Tanya mama Farah setengah berbisik.

“Nggak ah mam… nanti saja”. Jawab Farah.

“Tapi nanti kalau mama panggil kamu keluar ya”. Ujar mama Farah.

“Iya…”. Jawab Farah sambil memberikan isyarat kepada mamanya untuk masuk lagi ke ruang tamu menemui Yudha. Mama Farah tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat sikap anak gadisnya ini.

“Ayo silahkan diminum”. Ujar mama Farah setelah dia meletakkan gelas yang berisi air putih kepada Yudha.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha kemudian dia meminum air putih yang disuguhkan mama Farah. Setelah minum dia menjadi agak segar dan tenggorokannya tidak terlalu kering akibat ketegangan tadi. Setelah selesai minum Yudha mulai berkata.

“Begini tante… saya datang hari ini ada maksud yang ingin saya sampaikan kepada tante”. Ujar Yudha kemudian dia berhenti sejenak. Mama Farah mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh anak muda ini. Walaupun dia sudah bisa menebak apa yang akan diutarakan Yudha, tapi dia juga ingin mendengar langsung maksud kedatangan Yudha sekarang.

“Saya memang baru mengenal Farah selama dua bulan. Tapi kebersamaan saya selama seminggu saya di Jakarta sudah memberikan kesan yang banyak sekali. Walaupun hanya satu minggu bersama dengan Farah tapi saya sudah merasa sangat cocok dengan Farah tante”. Ujar Yudha. Mama Farah mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan Yudha.

“Iya tante mengerti. Tante juga memperhatikan sikap kalian selama seminggu itu”. Jawab mama Farah.

“Jadi maksud nak Yudha bagaimana?”. Tanya mama Farah. Farah yang mendengarkan di kamarnya menjadi tegang, dia mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan Yudha kepada mamanya.

“Saya tahu ini mungkin terlalu cepat. Maksud saya baik tante dan saya juga tidak mau berlama-lama menunggu lagi”. Jawab Yudha. Dia masih bicara berputar-putar, dia tidak ingin mama Farah berpikiran yang tidak-tidak terhadap dirinya.

“Jadi begini tante…”. Yudha masih agak tegang untuk mengutarakan maksudnya.

“Iya tante mendengarkan…”. Ujar mama Farah.

“Saya… bermaksud… untuk…”. Yudha berhenti dulu sejenak. Dia menarik nafas panjang. Mama Farah masih menunggu dengan seksama apa yang akan dikatakan Yudha. Farah pun menantikan apa yang akan dikatakan Yudha kepada mamanya.

“Saya bermaksud melamar Farah untuk menjadi istri saya”. Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulut Yudha. Mama Farah tersenyum, keluar juga kata-kata itu dari Yudha yang sudah dia perkirakan jauh-jauh hari. Di Dalam kamar, Farah menutup mukanya dengan kedua tangannya. Benar yang dikatakan mamanya, Yudha memang berniat untuk melamar dia menjadi istrinya.

Yudha merasa lega dengan apa yang baru saja dia katakan kepada mama Farah. Akhirnya bisa juga dia mengutarakan niatnya selama ini kepada mama Farah. Dia berharap semoga lamarannya diterima oleh Farah dan mamanya.

Sebagai orang tua rasanya dia harus bersikap bijak dan arif kepada anak muda ini. Walaupun dia sekarang menjadi ‘single parent’ tetapi dia sudah bisa menjaga dan merawat putri cantiknya ini dengan baik. Dia juga tidak mau maksud Yudha memperistri anaknya hanya keinginan sesaat saja tanpa didasari niat yang tulus, begitu pikir mama Farah.

“Begini Yudha…”. Mama Farah memulai pembicaraan untuk menjawab maksud kedatangan Yudha hari ini. Dia tidak lagi memanggil Yudha dengan sebutan nak.

“Seperti yang Yudha tahu, Farah sudah tidak mempunyai ayah. Tante membesarkan Farah seorang diri selama sepuluh tahun terakhir. Tante tahu apa yang diinginkan anak tante. Tante ingin dia selalu bahagia. Makanya selain dia terus main film, tante juga mulai berbisnis untuk bisa terus memberikan yang terbaik kepada Farah”. Ujar mama Farah.

“Apakah Yudha sudah yakin ingin menjadikan Farah sebagai istri? Jangan sampai niat Yudha ini hanya keinginan sesaat saja tanpa ada persiapan”. Tanya mama Farah.

Yudha menarik nafas, kemudian mulai berbicara lagi.

“Begini tante, saya sudah di usia yang tidak muda lagi. Saya dari semenjak lama memang tidak punya niat untuk pacaran. Apabila saya menemukan orang yang cocok, saya ingin segera melaksanakan niat saya untuk menjadikan dia istri saya. Niat saya sudah bulat untuk menjadikan Farah sebagai istri saya. Saya sudah merasa yakin dengan pilihan saya”. Jawab Yudha.

“Iya tante mengerti itu. Sama satu lagi, kami ini bukan dari golongan orang yang berada. Kami hidup biasa-biasa saja tanpa bergelimang harta dan kemewahan. Apakah kamu yakin dengan keputusanmu? Setelah Farah menikah nanti mungkin dia akan berhenti berkarir sebagai artis film. Dengan begitu sebagai suami kamu yang harus menafkahi anak tante”. Ujar mama Farah.

“Iya tante saya mengerti akan hal itu. Untuk soal golongan, saya sudah diajarkan oleh orang tua saya untuk tidak membeda-bedakan orang dari status sosialnya. Saya diajarkan untuk selalu menyamakan semua orang tanpa melihat status sosial mereka. Mengenai kebutuhan nafkah Farah dan tante saya sudah siap tante. Mohon maaf sebelumnya, selain saya berkarir sebagai diplomat ada juga beberapa peninggalan orang tua saya yang masih ada. Ada beberapa ruko yang saya sewakan, ada juga beberapa rumah peninggalan almarhum orang tua saya yang saya kontrakan. Ada yang di Jakarta dan ada juga yang di Surabaya. Saya merasa itu sudah cukup untuk menafkahi Farah tante”. Jawab Yudha.

Farah yang tadi mendengarkan dengan seksama percakapan mamanya dengan Yudha menjadi tau apa yang ada di hati Yudha. Dia ternyata sudah menyiapkan semuanya untuk calon istrinya kelak. Farah tau mamanya bukan tipe yang materialistis tapi mamanya ingin meyakinkan anaknya nanti bahagia lahir dan batin.

Hening sejenak di ruang tamu. Farah yang mendengarkan dari tadi juga menantikan apalagi yang akan dibicarakan mamanya dan Yudha.

“Jadi bagaimana tante. Lamaran saya diterima atau tidak?”. Tanya Yudha. Kali ini ketegangan nya sudah hilang. Dia berinisiatif untuk kembali melanjutkan pembicaraan dengan mama Farah. Mama Farah kemudian tersenyum, dia salut kepada Yudha. Dia sudah memberanikan diri untuk melamar putrinya seorang diri.

“Tante salut sama kamu Yudha. Orang lain apabila ingin melamar pasti minta dilamarkan oleh orang lain. Tapi kamu punya keberanian yang besar untuk melamar Farah seorang diri kepada tante”. Jawab mama Farah.

“Iya tante”. Yudha sudah mulai bisa tersenyum.

“Begini Yudha, semenjak kamu masuk ke rumah ini, tante kok melihat ada yang beda dengan kamu. Kamu orang nya sopan, rendah hati dan kelihatannya baik”. Ujar mama Farah.

“Terima kasih tante”. Jawab Yudha.

“Dan lagi tante melihat ada yang beda juga dengan penerimaan Farah kepada kamu. Sebelumnya Farah tidak pernah seperti ini sikapnya kepada laki-laki. Terus kalian kok semakin hari sepertinya semakin dekat. Terus terang tante juga heran dengan sikap Farah selama seminggu itu. Dia sering melamun dan menyendiri di kamarnya”. Ujar mama Farah lagi. Mama kok yang begitu diceritain sih, Farah berkata dalam hati.

“Tante juga sudah menduga kalau kamu akhirnya akan melamar Farah. Tante juga sudah melihat gejala itu semenjak Farah memakai cincin yang kamu berikan”. Lanjut mama Farah.

“Jadi bagaimana tante?”. Tanya Yudha sudah tidak sabar mendengar jawaban mama Farah.

“Iya… tante terima lamaran kamu”. Jawab mama Farah.

“Benar tante?”. Tanya Yudha ingin meyakinkan.

“Iya benar…”. Jawab mama Farah.

“Terima Kasih tante”. Ujar Yudha tersenyum lalu kemudian dia mencium tangan mama Farah.

“Tapi tunggu dulu”. Ujar mama Farah.

“Apalagi tante?”. Yudha bingung.

“Kan yang mau menikah Farah bukan tante, jadi ada baiknya kamu juga mendengar jawaban Farah”. Jawab mama Farah.

Wah mama kok gitu, masa aku harus jawab juga lamaran Yudha. Aduh bagaimana ini, aku kok gemeteran begini, Farah berkata dalam hati.

“Farah… sini sayang”. Panggil mama Farah.

“Iya mam…”. Kemudian perlahan Farah keluar dari kamarnya. Mukanya masih menunduk tidak berani menatap wajah Yudha.

“Sini duduk disamping mama”. Ujar mama Farah. Kemudian Farah duduk di samping mamanya. Yudha melihat dengan seksama kearah Farah. Dia tidak salah dengan pilihannya. Selain cantik alami, Farah juga anak yang penurut kepada orang tuanya. Dia yakin Farah juga akan menerima lamarannya.

“Seperti yang kamu dengar tadi, Yudha sudah mengutarakan maksudnya untuk melamar kamu. Mama sudah setuju untuk menerima lamaran Yudha. Tinggal sekarang kamu yang harus menjawab iya atau tidak”. Ujar mama Farah.

“Harus dijawab ya mam…”. Farah berbisik kepada mamanya.

“Ya iya dong, kan kamu yang mau menikah. Jadi kamu harus jawab mau apa nggak menerima lamaran Yudha”. Jawab mama Farah. Farah masih terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana menjawab lamaran Yudha.

“Jadi bagaimana?”. Mama Farah tersenyum melihat anak gadisnya bersikap seperti ini.

“Kamu terima gak lamaran Yudha?”. Tanya mama Farah.

Farah kemudian perlahan mengangguk tanda setuju.

“Kok gak ada suaranya?”. Tanya mama Farah.

“Mama…”. Kata Farah sedikit berbisik.

“Mau gak menerima lamaran Yudha?”. Mama Farah kembali tersenyum melihat kelakuan anak gadisnya.

“Iya… mau…”. Jawab Farah sambil mengangguk, suaranya hampir tidak terdengar saking pelannya dia berbicara. Dia menjawab sambil masih menundukkan kepalanya.

Yudha sekarang sudah lega. Farah dan mamanya sudah menerima lamarannya walaupun jawabannya agak lama.

“Yudha sudah mendengar sendiri kan jawaban anak tante. Dia bersedia menjadi istri kamu. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai hari pernikahan kalian nanti”. Ujar mama Farah.

“Nah sekarang tante masuk dulu, kalian ngobrol saja dulu, tapi ingat… kalian belum menikah ya”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante”. Jawab Yudha, dia mengerti apa yang dimaksud mama Farah. Mama Farah kemudian masuk ke ruang tengah.

Tinggal Yudha dan Farah yang ada di ruang tamu. Mereka berdua masih diam, tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Padahal sewaktu Yudha masih ada di Jakarta dua bulan lalu mereka selalu ngobrol apa saja.

“Farah…”. Ujar Yudha memulai pembicaraan.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Terimakasih ya. Kamu sudah menerima lamaranku. Aku bahagia sekali hari ini”. Ujar Yudha.

“Iya mas… sama”. Jawab Farah pelan.

“Oh iya aku mau nanya. Andre bilang katanya kamu nggak mau menerima job film lagi? Kenapa?”. Tanya Yudha.

“Disuruh sama mama mas”. Jawab Farah.

“Kata mama aku harus istirahat dulu main film”. Lanjut Farah.

“Kenapa harus istirahat main film?”. Tanya Yudha keheranan.

“Kan mas mau melamar aku, terus kita nikah, masa nanti aku menikah sambil terus main film”. Jawab Farah.

“Kok mama kamu sudah bisa menebak niat aku ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas, dari semenjak mas Yudha berangkat lagi ke New York mama sudah punya keyakinan kalau mas Yudha akan datang lagi dan melamarku, apalagi mas Yudha sudah memberikan aku cincin. Ternyata benar yang dikatakan mama, hari ini mas benar-benar melamar aku. Ujar Farah.

“Oh begitu”. Jawab Yudha.

“Terus kok Andre bisa bilang kalau aku ini calon suami kamu?”. Tanya Yudha. Farah kemudian tersenyum. Dia sudah tidak merasa tegang lagi sekarang.

“Jadi begini mas… aku kan gak mau terima job film dulu. Nah sekarang tuh lagi ada film baru yang akan produksi. Pemeran utama prianya itu ya Andre. Tapi dia minta sama produser untuk memintaku jadi pemeran utama wanitanya. Aku kan sudah bilang sama manajerku kalau aku mau istirahat akting dulu”. Jawab Farah.

“Oh begitu, terus…”. Kejar Yudha.

“Tapi dia maksa terus mas, dia nanya kenapa aku nggak mau jadi pemeran utama wanitanya. Nanya nya terus-terusan mas sampai Myra juga ditanya-tanya. Myra mungkin kesal ditanya-tanya terus sama Andre. Jadi ya sudah dia jawab saja kalau aku mau menikah. Eh dia bilang waktu diwawancarai wartawan kalau aku mau menikah. Jadilah rame di infotainment kalau aku mau menikah. Aku juga dikejar-kejar wartawan infotainment terus sampai hari ini. Makanya aku nggak keluar rumah dari kemarin mas”. Lanjut Farah.

“Oh begitu, sampai segitunya ya dunia infotainment kita”. Ujar Yudha.

“Tapi mulai hari ini kamu nggak usah menghindar ya. Kan aku sudah resmi melamar kamu”. Lanjut Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Eh sebentar…”. Ujar Yudha. Kemudian dia mengeluarkan HP nya. Dia kemudian menghubungi Myra. Yudha memperlihatkan kepada Farah siapa yang dihubunginya. Farah kemudian tersenyum.

“Halo Ya…”. Yudha memulai pembicaraan ketika telpon nya sudah terhubung dengan Myra. Dia mengeraskan suara HP nya supaya Farah juga mendengar percakapan mereka.

“Halo Yud, gimana lamaran kamu diterima?”. Tanya Myra langsung menanyakan kabar lamaran Yudha.

“Alhamdulillah diterima Ya. Ini ada Farah juga disampingku”. Jawab Yudha.

“Ya ampun selamat ya buat kalian. Aku bahagia banget. Selamat ya cantik… akhirnya kamu akan menikah juga”. Ujar Myra.

“Iya Yaya… terima kasih. Terima kasih juga buat semuanya ya. Kamu sudah mengenalkan aku sama Yudha dan akhirnya kita akan menikah”. Jawab Farah.

“Iya sama-sama cantik. Tapi kan ini juga karena kalian sama-sama suka. Kalau kalian tidak saling suka, kan nggak mungkin kalian sampai sejauh ini”. Ujar Myra. Yudha dan Farah saling pandang dan tersenyum.

“Oh iya Ya, sampaikan juga terima kasih sama Pras ya. Tadi aku ziarah dulu jadi perasaanku agak tenang”. Ujar Yudha.

“Iya sama-sama Yud. Selamat ya buat kalian berdua”. Pras yang menjawab. Dia juga mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.

“Jadi kapan lamaran resmi nya?”. Tanya Myra.

“Nanti aku kabari Ya. Aku harus menyiapkan semuanya termasuk memilih tanggal pernikahan kita”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau gitu, nanti kabarin ya kalau sudah pasti. Aku juga mau ikut sama Pras”. Ujar Myra.

“Oke Ya. Terimakasih ya. Bye…”. Jawab Yudha. Kemudian dia menutup telpon nya.

“Mas tadi ke makam dulu?”. Tanya Farah.

“Iya sayang… aku tadi tegang sekali. Terus Pras ngasih saran bagaimana kalau aku ziarah dulu ke makam orang tuaku”. Jawab Yudha. Dia sudah berani memanggil Farah dengan kata sayang.

“Oh begitu. Pantesan lama banget sampai kesini. Aku sampai gelisah nunggu kamu”. Ujar Farah.

“Kamu nungguin aku ya dari tadi…?”. Ujar Yudha menggoda Farah.

“Iya… aku kan kuatir mas. Takut ada apa-apa di jalan”. Jawab Farah.

“Nggak kok, nggak ada apa-apa, tadi aku cuma ziarah doang, terus langsung kesini”. Ujar Yudha.

“Terus tadi mas bilang mau melamar secara resmi, maksudnya gimana mas?”. Tanya Farah.

“Nanti Yudha akan datang bersama dengan keluarganya kesini untuk meresmikan lamarannya kepada kamu, terus mungkin tukar cincin dan kita tentukan tanggal pernikahan kalian”. Jawab mama Farah yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu.

“Iya betul tante”. Ujar Yudha.

“Oh gitu mam”. Jawab Farah.

“Tadi juga mama sudah menghubungi saudara-saudara kita yang disini maupun yang di Bandung kalau kamu akan segera menikah. Nanti mereka juga akan menyambut keluarga Yudha disini kalau tanggal lamarannya sudah ditentukan”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante, saya juga akan menghubungi ibu saya di panti, terus saya juga akan meminta kesediaan ibu menteri untuk datang, mudah-mudahan beliau juga bisa hadir”. Ujar Yudha.

“Oh begitu, wah mama harus siap-siap dong kalau begitu. Mama harus menyiapkan semuanya dari sekarang”. Ujar mama Farah.

“Iya tante kalau begitu saya pamit ya. Saya harus menyiapkan semuanya dirumah. Nanti akan saya kabari tante dan Farah perihal waktu lamaran resminya”. Ujar Yudha. Yudha kemudian berdiri dan menyalami mama Farah seperti biasa.

“Ya sudah, hati-hati ya dijalan”. Jawab mama Farah. Kemudian dia masuk lagi ke ruang tengah.

Farah dan Yudha berjalan keluar rumah.

Sebelum naik mobil, Yudha menggenggam kedua tangan Farah. Farah tersenyum, dia masih merasa canggung ada laki-laki yang memegang tangannya, walaupun laki-laki ini adalah calon suaminya.

“Aku pulang ya, nanti kalau ada apa-apa aku kabari ya. Nanti juga kalau kamu ada apa-apa segera kabari aku ya”. Ujar Yudha.

“Terus nanti untuk acara lamaran kita, bagaimana kalau pakai jasa WO saja, jadi kita nggak pusing mikirin semuanya. Nanti tolong bilangin sama mama kamu ya”. Lanjut Yudha.

“Iya mas nanti aku bilangin sama mama”. Jawab Farah. Yudha kemudian melepaskan tangan Farah.

“Aku pulang ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas, hati-hati ya dijalan”. Jawab Farah. Kemudian Yudha masuk kedalam mobilnya. Dia kemudian membuka kaca mobilnya sebelah kiri. Dia mulai menjalankan mobilnya dan melambaikan tangan kepada Farah. Farah balas melambaikan tangan, dia melihat terus mobil Yudha sampai mobilnya menghilang di tikungan jalan.

***

Diplomat Bag. 7 – Pulang ke Jakarta

Yudha kemudian turun dari apartemennya. Dia berencana mau sarapan pagi di cafe seberang apartemen nya. Biasanya dia makan roti dan minum juice disana. Cafe tersebut terletak di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Meja dan kursinya pun di tempatkan di trotoar dengan payung kain di atasnya. Sekarang bulan Februari sedang peralihan dari musim dingin ke musim semi sehingga udara tidak terlalu dingin disana.

“Good morning Yudha”. Sapa seorang waiters wanita di sana yang sudah mengenal Yudha karena hampir tiap hari dia sarapan disana.

“Morning… as usual please…”. Kata Yudha kepada waiters cafe tersebut. Dia memang biasa memesan Roti dan Juice di cafe tersebut dan waitersnya juga sudah tahu pesanan langganannya. Dia pun tahu Yudha dari Indonesia dan seorang muslim, jadi penyajiannya pun berbeda dengan yang biasa mereka sajikan kepada warga setempat.

“Okay…”. Jawab waiters tersebut. Kemudian dia masuk ke dalam cafe sementara Yudha duduk di kursi yang ada di trotoar.

Dia kemudian mengeluarkan HP nya dan mencoba melakukan ‘video call’ dengan Farah. Semoga Farah sudah ada di rumah.

“Hai Farah…”. Yudha melambaikan tangan ke HP nya ketika sudah ada wajah Farah disana. Sepertinya dia sudah ada di rumah dan ada ruang tengah rumahnya.

“Hai juga… Eh sekarang pagi ya disana…”. Tanya Farah.

“Iya disini sekarang pagi. Kamu sudah pulang syuting?”. Tanya Yudha.

“Iya sudah pulang tadi sore”. Jawab Farah.

“Nggak jalan-jalan dulu…?”. Tanya Yudha.

“Nggak ah mas males… pengen pulang aja langsung. Ini berdua aja sama mama lagi nonton tv”. Jawab Farah.

“Oh gitu, salam aja sama mama. Kalau aku masih di Jakarta pasti aku ajak kamu jalan, terus kita makan…”. Ujar Yudha.

“Hehe… iya mas”. Jawab Farah malu-malu.

Yudha kemudian mengencangkan jaketnya.

“Masih dingin ya mas disana?”. Tanya Farah.

“Iya masih, tapi sekarang sudah lumayan hangat jadi aku keluar apartemen nggak pake baju berlapis-lapis”. Jawab Yudha.

“Seru ya mas di New York”. Ujar Farah.

“Ya begitulah. Nanti suatu saat aku ajak kamu kesini…”. Ujar Yudha.

“Hehe… makasih mas”. Jawab Farah.

“Breakfast ready…”. Ujar seorang waiters.

“Oh thank you”. Jawab Yudha.

“Mas lagi sarapan…?”. Tanya Farah.

“Iya… nih sarapanku hanya ini…”. Ujar Yudha sambil mengarahkan HP nya ke arah makanan yang baru saja dipesannya.

“Kalau disana sarapan gitu aja mas…?”. Tanya Farah.

“Iya… ini saja yang bisa aku makan. Kalau di Jakarta kan banyak macamnya kalau sarapan. Jadi pengen cepat-cepat pulang kangen sama Jakarta”. Ujar Yudha.

“Sama kangen sama seseorang juga…”. Lanjut Yudha sambil tersenyum.

“Kangen sama siapa hayo…”. Tanya Farah, padahal dia juga tahu Yudha kangen sama siapa, siapa lagi kalau bukan kangen sama Farah.

“Sama seseorang yang kemarin aku kasih cincin…”. Jawab Yudha sambil tersenyum. Farah juga tersenyum.

“Eh barusan Myra telpon, katanya tadi pagi ke tempat kamu syuting ya…”. Tanya Yudha.

“Iya tadi dia mampir sambil ngasih oleh-oleh kain Bali”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Yudha berkata sambil menyantap sarapannya.

“Tadi juga ngobrol sama mama”. Ujar Farah.

“Dia godain kamu ya…”. Tanya Yudha.

“Biasa mas memang dia suka gitu…”. Jawab Farah.

“Apartemen mas Yudha dekat dari situ?”. Tanya Farah.

“Iya dekat. Tuh yang lantai dua yang warna hijau”. Jawab Yudha sambil mengarahkan kameranya ke arah apartemennya yang ada di lantai dua.

“Terus ke tempat kerja jauh?”. Tanya Farah

“Agak lumayan sih, aku naik bis dari sini ke tempat kerja”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas”. Ujar Farah.

“Aku berangkat kerja dulu ya… sampai nanti”. Ujar Yudha setelah menyelesaikan sarapannya.

“Iya mas hati-hati”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mengakhiri komunikasi nya dengan Farah. Ah lega rasanya sudah bisa melihat Farah dan bisa ngobrol lagi, pikir Yudha. Dia kemudian meletakkan uang di meja cafe tersebut dan beranjak dari sana menuju tempat kerjanya.

Farah pun senang bisa melihat lagi Yudha dan bisa ngobrol walaupun hanya lewat ‘video call’, dia jadi lega bisa kembali ngobrol sama Yudha. Ah aku kenapa begini ya… apakah aku jatuh cinta sama dia? Masa sih aku jatuh cinta? Tapi ada rasa kangen kalau belum melihat dia sehari, Farah berkata dalam hati.

“Kenapa… senang ya bisa ‘video call’ sama Yudha?”. Tanya mama Farah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri setelah ngobrol sama Yudha.

“Kenapa ya kok aku jadi kangen sama dia mam? Padahal kita kan baru kenal satu minggu”. Ujar Farah.

“Ya mungkin kalian sudah sama-sama cocok, sudah sehati”. Jawab mama Farah.

“Tapi aku nggak pernah kayak gini sebelumnya mam…”. Ujar Farah.

“Ya sudah nggak apa-apa, mungkin ini sudah takdir kamu harus sama Yudha”. Jawab mama.

“Mama setuju aku sama Yudha?”. Tanya Farah.

“Kan mama sudah bilang, mama setuju saja. Tinggal kamu nya yang harus mantap sama Yudha”. Jawab mama.

“Kalau nanti Yudha benar-benar melamar aku bagaimana mam? Punya komitmen saja belum…”. Ujar Farah. Dia melihat lagi ke arah jarinya yang disana melingkar cincin berlian pemberian Yudha.

“Loh kan nggak harus diungkapkan. Kalian juga sudah saling komitmen dalam hati kan. Coba sekarang mama tanya, kalau sekarang ada laki-laki lain yang mendekati kamu dan misalnya mengajakmu pacaran bagaimana?”.

“Nggak mau…”. Jawab Farah sambil cemberut.

“Kenapa…?”. Tanya mama.

“Ingat Yudha…”. Jawab Farah.

“Nah kan… begitu pun Yudha. Mama yakin dia juga tidak akan kelain hati walaupun dia sekarang jauh dari kamu”. Ujar mama.

“Begini saja… kalau besok pagi Yudha telpon kamu pas dia pulang kerja, terus telpon lagi malam hari seperti sekarang pas dia disana mau berangkat kerja, berarti sudah bisa mama pastikan kalian sudah punya komitmen dalam diri kalian masing-masing”. Lanjut mama.

“Atau kalau Yudha telat telpon kamu, terus kamu yang inisiatif telepon duluan, sudah pasti kalian sudah satu hati”. Lanjut mama lagi.

“Gitu ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya… sudah malam ayo kamu tidur, kan besok harus berangkat syuting pagi”. Ujar mama.

“Iya mam, Farah tidur dulu ya…”. Ujar Farah sambil mencium pipi mamanya. Kemudian dia masuk kamar dan berbaring di kasurnya. Matanya masih belum bisa dipejamkan. Dalam pikirannya masih ada bayangan Yudha yang belum bisa hilang dari ingatannya. Tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk.

‘Sweet dream ya’

Ternyata whatsapp dari Yudha.

‘Kok tahu aku mau tidur’

Balas Farah

‘Tahu dong…kan aku bisa lihat kamu lagi tiduran :D’

Balas Yudha

‘Bisa aja…’

Balas Farah

‘Selamat tidur ya’

Balas Yudha

‘Iya mas…’

Balas Farah

Kemudian Farah tertidur dengan bayangan Yudha menemani tidurnya.

***

Benar apa yang dikatakan mama Farah. Sejak saat itu setiap pagi ketika Farah mau berangkat syuting atau sedang liburan di rumah, pasti Yudha telpon dia. Begitupun malamnya waktu Yudha mau berangkat kerja pasti dia menelpon Farah lewat ‘video call’. Apabila Yudha telat telpon Farah, Farah yang berinisiatif untuk menelpon duluan. Walaupun mereka belum punya komitmen apapun tapi hati mereka masing-masing seperti sudah terikat janji.

Hampir dua bulan berlalu semenjak Yudha dan Farah berpisah. Sebentar lagi tugasnya  di New York hampir selesai. Dua bulan yang sangat indah namun sedikit menyiksa buat mereka berdua. Mereka harus berhubungan jarak jauh karena tugas Yudha.

Besok pagi dia akan kembali ke Jakarta. Tugasnya di New York sudah selesai, dia pun sudah berpamitan kepada kepala KJRI New York untuk kembali ke Jakarta. Dia juga sudah berpamitan kepada teman-teman sejawatnya untuk kembali bertugas di Jakarta.

“Saya pamit ya pak. Besok saya kembali ke Jakarta”. Ujar Yudha kepada Pak Mintoharjo atau biasa dipanggil pak Minto atasanya di KJRI New York.

“Oke Yudha, semoga selamat sampai Jakarta ya… salam sama semua tim yang ada di Jakarta”. Kata pak Minto.

“Terimakasih kamu sudah bantu-bantu saya selama tiga tahun ini”. Lanjut pak Minto.

“Iya sama-sama pak. Oh iya pak, kalau nanti saya jadi menikah saya harap bapak bisa datang menghadiri pernikahan saya”. Pinta Yudha.

“Loh sudah mau nikah? Sama siapa? Orang mana? Kok kamu nggak kelihatan sedang pacaran?”. Tanya pak Minto.

“Saya belum pacaran pak, tapi saya mau langsung lamaran. Rencananya sepulang dari sini saya mau langsung melamar dia di rumahnya pak”. Jawab Yudha.

“Kok sudah yakin mau diterima?”. Tanya pak Minto penasaran.

“InsyaAllah yakin pak”. Jawab Yudha mantap.

“Ya sudah kalau kamu yakin dan mantap, saya doakan lancar dan sukses lamarannya. Nanti kalau kamu sudah tentukan tanggalnya segera kasih tahu saya. Nanti saya jadwalkan ke resepsi pernikahan kamu. Mudah-mudahan saya bisa datang kesana”. Jawab pak Minto.

“Baik pak, kalau begitu saya izin pamit mau langsung beres-beres”. Kata Yudha.

“Iya… hati-hati ya”. Jawab pak Minto. Kemudian mereka berdua bersalaman.

Yudha bergegas pulang ke apartemennya. Dia sudah memegang tiket pesawat untuk pulang. Dia harus membereskan pakaian dan semua barang-barang yang ada disana. Rencananya apartemen yang ditempati sekarang akan diserahkan kepada penggantinya yang akan datang dari Jakarta. Biar penggantinya tersebut tidak usah susah-susah lagi mencari apartemen.

***

Yudha sudah memberitahu Farah bahwa dia akan pulang besok ke Jakarta. Dia juga sudah memberitahu mang Ukan dan bi Neni bahwa besok dia akan pulang ke Jakarta. Tinggal Myra yang belum dikasih tahu perihal kepulangannya ke Jakarta.

“Halo Ya…”. Kata Yudha membuka pembicaraan ketika dia sudah terhubung dengan Myra melalui telpon.

“Aku besok balik ke Jakarta”. Lanjut Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung ke rumah Farah?”. Tanya Myra.

“Iya tapi besok aku pulang dulu sebentar ke rumah, nyimpen koper sama barang-barangku”. Jawab Yudha.

“Bener nih nggak usah aku temenin? Aku sama Pras siap kok kalau kamu butuh bantuan”. Tanya Myra.

“Besok aku sendiri dulu saja ke rumah Farah, nanti pas lamaran resmi baru kamu sama Pras ikut ya”. Jawab Yudha.

“Rencananya kalau pas lamaran resmi aku mau minta bantuan sama bu Menteri”. Lanjut Yudha.

“Wuih… beneran nih kayaknya…”. Ujar Myra.

“Iya Ya. Kan bu Menteri juga sudah aku anggap orang tua sendiri. Beliau juga kan teman dekat orang tuaku”. Ujar Yudha.

“Ya sudah… kamu hati-hati ya besok. Jadi sampai Jakarta jam berapa?”. Tanya Myra.

“Besok dari sini jam sepuluh malam waktu New York, sampai Jakarta jam sepuluh malam juga waktu New York, jadi kalau nggak ada delay berarti aku sampai jam sepuluh pagi waktu Jakarta”. Jawab Yudha.

“Perlu dijemput nggak? Nanti aku suruh sopirku ke bandara”. Tanya Myra.

“Nggak usah Ya. Kamu kan lagi syuting. Tenang aja aku nanti naik taksi online saja”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, bye Yud…”. Ujar Myra.

“Oke bye…”. Mereka mengakhiri pembicaraan.

Yudha kembali membereskan barang-barang pribadinya untuk dibawa ke Jakarta. Ternyata lumayan banyak juga barang-barang pribadinya yang ada disini. Ada juga beberapa barang pemberian Farah. Dia sengaja mengirimkan lewat paket kilat. Selama dua bulan ini ada beberapa barang yang Farah kirimkan kepadanya di New York. Farah juga sih… padahal nggak usah kirim barang ke New York segala, nanti juga aku akan ke rumahnya, pikir Yudha. Tapi Farah bersikeras mengirimkan barang tersebut sebagai kenang-kenangan.

Ada juga beberapa cinderamata dari teman-teman sejawat Yudha di KJRI New York yang diterima hari ini. Mereka semua begitu baik kepada Yudha. Bukan karena kedekatan Yudha dengan bu Menteri, ataupun karena orang tua Yudha yang adalah senior mereka di Kemenlu, tapi karena Yudha disenangi oleh semua orang. Yudha cekatan dalam bekerja dan tidak segan-segan membantu permasalahan yang sedang dihadapi rekan sejawatnya disana.

***

Pagi-pagi Yudha sudah berkemas-kemas di apartemennya. Dia tidak ingin ada barang miliknya yang tertinggal di apartemen tersebut. Ada tiga koper besar barang Yudha yang sudah di packing bersama dengan satu tas ransel yang berisi barang-barang pribadinya termasuk foto Farah. Dia melihat lagi Foto Farah. Dia tersenyum melihat foto itu. Farah adalah penyemangatnya bekerja selama dua bulan ini. Setiap pagi dan malam mereka selalu saling memberi kabar. Apabila Yudha telat menghubungi Farah, Farah yang berinisiatif menanyakan kabar Yudha. Terasa aneh hubungan ini, mereka belum punya komitmen apapun tapi seperti sudah pacaran saja, begitu pikir Yudha.

Terdengar HP Yudha berbunyi tanda ada telpon yang masuk. Dia lihat Farah yang telpon, Yudha tersenyum dan membuka HP nya.

“Hai Farah…”. Ujar Yudha membuka percakapan ketika telpon nya tersambung dengan Farah.

“Hai mas…”. Jawab Yudha.

“Sudah malam kok belum tidur…?”. Tanya Yudha.

“Iya belum… mau telpon mas Yudha dulu hehe…”. Jawab Farah.

“Disana pagi ya mas…? Mas Yudha sudah sarapan?”. Tanya Farah.

“Sudah… tadi sebelum beres-beres aku ke bawah dulu sarapan di cafe”. Jawab Yudha.

“Oh sudah beres-beresnya mas…?”. Tanya Farah.

“Sudah… ini ada tiga koper pakaian dan barang-barang yang pernah aku beli disini. Sama satu tas ransel yang isinya cinderamata dari teman kantor sama ada juga barang-barang yang kamu kirim”. Jawab Yudha.

“Wah banyak juga ya mas…”. Ujar Farah.

“Iya lumayan”. Ujar Yudha.

“Nanti mas berangkat jam berapa ke bandara?”. Tanya Farah.

“Nanti jam satu siang aku berangkat ke bandara. Pesawatnya kan jam sepuluh malam waktu sini, jadi aku masih punya banyak waktu buat beres-beres lagi. Aku harus merapikan apartemen ini, soalnya rencananya ada penggantiku dari Jakarta yang akan menempati apartemen ini”. Jawab Yudha.

“Oh jadi ada pengganti mas Yudha yang akan tinggal disitu…”. Ujar Farah.

“Iya… biar dia gak usah lagi nyari apartemen. Lagian disini suasananya enak dan nyaman, jadi nanti penggantiku nggak susah beradaptasi sama lingkungan disini”. Jawab Yudha.

“Oh gitu… mas nanti kasih kabar ya kalau sudah berangkat ke bandara. Biarpun aku sudah tidur tapi HP ku nggak aku matikan mas”. Ujar Farah.

“Iya… nanti aku kabari kalau sudah berangkat ke bandara”. Jawab Yudha.

“Ya sudah aku tidur dulu ya… hati-hati nanti pas berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya…. sayang”. Jawab Yudha, tapi dia berkata pelan sekali ketika menyebut kata sayang. Ingin sekali dia menyapa Farah dengan kata sayang, karena memang sudah tumbuh rasa sayang di hatinya selama dua bulan ini, walaupun belum ada komitmen tapi perasaan Yudha dengan Farah sudah berkomitmen tanpa harus diungkapkan.

“Apa mas… gak kedengeran…”. Ujar Farah, dia sebetulnya mendengar kata sayang yang diucapkan Yudha barusan, tapi dia pura-pura tidak mendengar. Hatinya berbunga-bunga ketika Yudha memanggilnya dengan kata sayang. Rasanya bahagia sekali.

“Mmm nggak… nggak apa-apa. Selamat tidur ya… ‘sweet dream’ ya…” Ujar Yudha menutup pembicaraan mereka kali ini.

“Iya mas bye…”. Farah menutup telponnya. Dia tersenyum dan menutup mukanya dengan selimut. Dia senang sekali dipanggil sayang oleh Yudha. Kemudian dia tertidur ditemani bayangan Yudha.

***

Siangnya Yudha sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Dia sudah menurunkan koper dan tas ranselnya ke depan apartemennya. Dia sudah memesan taksi untuk berangkat ke bandara.

Ketika taksinya sudah datang dia kemudian memasukkan koper dan tasnya kedalam bagasi taksi tersebut. Yudha kemudian masuk kedalam taksi tersebut.

“JFK Airport please…”. Ujar Yudha.

“Okay…”. Kata pengemudi taksi tersebut. Kemudian taksi meluncur menuju bandara John F. Kennedy New York.

Yudha ingat harus memberitahu Farah kalau dia sudah berangkat ke bandara.

‘Farah aku sudah berangkat ke bandara’

Yudha mengirim pesan lewat whatsapp. Tidak ada jawaban karena Farah memang sudah tidur tapi terlihat pesannya sudah diterima pertanda HP Farah memang tidak dimatikan.

Perjalanan dari apartemen Yudha ke bandara JFK tidak memakan waktu lama. Sekitar tiga perempat jam dia sudah sampai ke bandara. Dia segera masuk ke bandara setelah membayar taksi yang ditumpanginya. Kemudian Yudha mengambil troli bandara dan menaikkan koper beserta tas nya ke atas troli tersebut. Disini memang tidak ada petugas yang bisa membawa troli seperti di bandara Soetta. Disini semuanya dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

Yudha kemudian duduk di kursi tunggu penumpang. Check in pesawatnya masih belum dibuka. Dia kemudian membuka HP nya dan mengirim pesan kepada Farah.

‘Farah aku sudah di bandara JFK. Masih nunggu counter check-in. Kayaknya satu jam lagi baru buka’

Begitu isi pesannya kepada Farah.

Sekarang masih jam tiga sore berarti sekarang masih jam tiga pagi waktu Jakarta. Farah sepertinya masih tidur.

Jam empat sore counter check-in akhirnya dibuka. Para penumpang segera antri. Banyak juga ternyata penumpang pesawat yang satu jurusan dengan Yudha. Terlihat dari wajah-wajah mereka yang tidak jauh berbeda dengan Yudha, wajah orang Indonesia. Yudha juga melihat artis film laki-laki yang pernah main bareng dengan Myra sahabatnya. Sepertinya dia juga melihatnya waktu resepsi pernikahan Myra. Dia juga sepertinya mengenali Yudha. Yudha kemudian mengangguk dan tersenyum. Dia sudah duluan check-in kemudian dia berjalan kembali ke ruang tunggu. Giliran Yudha untuk melakukan check-in dia menyerahkan berkas kelengkapan untuk naik pesawat. Tiket, paspor dan visa sudah dia berikan. Yudha membayar kelebihan kopernya karena yang boleh dibawa secara gratis hanya satu koper. Dia serahkan koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi sementara tas ranselnya akan dibawa kedalam kabin pesawat.

Setelah semuanya selesai dan dia sudah menerima tiket masuk pesawat, Yudha kemudian duduk di ruang tunggu. Satu jam kemudian pintu ruang boarding sudah dibuka, seluruh penumpang jurusan Jepang dan selanjutnya Indonesia dipersilahkan untuk masuk. Pesawat yang akan Yudha tumpangi merupakan maskapai penerbangan Jepang, pesawat tersebut akan transit sebentar di Bandara Narita Tokyo Jepang dan selanjutnya akan terbang ke Indonesia.

Setelah antri cukup lama akhirnya Yudha masuk juga ke ruang boarding. Walaupun masih empat jam lagi pesawat akan terbang ke Indonesia tapi demi kenyamanan penumpang, ruang pintu ruang boarding sudah bisa dimasuki oleh penumpang. Ruang boarding di JFK ini sangat luas. Ada juga beberapa cafe yang ada disini. Bisa digunakan untuk makan cemilan dan minum kopi. Tapi Yudha memilih untuk duduk saja di ruang tunggu.

Sudah jam enam pagi waktu Jakarta. Farah seharusnya sudah bangun. Yudha membuka HP nya. Di ruang boarding ini tersedia wifi yang bisa digunakan untuk para penumpang sambil menunggu masuk pesawat. Dia hubungi Farah lewat ‘video call’.

“Hai Farah”. Yudha melambaikan tangan ketika wajah Farah sudah terlihat di HP nya.

“Hai mas… lagi dimana?”. Tanya Farah.

“Ini aku sudah boarding, tapi pesawatnya masih lama”. Jawab Yudha.

“Aku tadi masih tidur waktu mas Yudha berangkat ke bandara”. Ujar Farah.

“Iya nggak apa-apa, yang penting aku sudah kasih tahu kamu kalau aku sudah berangkat, jadi kamu nggak kuatir hehe…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hehe… tapi aku belum mandi nih mas… baru bangun”. Ujar Farah. Baru bangun tidur saja segitu cantiknya, apalagi sudah mandi dan berdandan, seperti ini barangkali yang disebut cantik alami, pikir Yudha.

“Iya nggak apa-apa, belum mandi saja sudah cantik”. Ujar Yudha.

“Mas bisa aja…”. Ujar Farah tersenyum simpul.

“Aku mandi dulu ya mas, nanti disambung lagi kalau aku sudah beres mandi, bye..”. Ujar Farah.

“Bye… kemudian sambungan ‘video call’ terputus.

Tiba-tiba ada suara laki-laki yang berbicara di samping Yudha.

“Itu tadi Farah ya…”. Kata orang tersebut. Ternyata orang yang tadi bertemu ketika antri mau check-in. Yudha kemudian menoleh dan tersenyum.

“Iya betul… mas kenal dengan Farah?”. Tanya Yudha.

“Ternyata anda yang beruntung mendapatkan hati Farah”. Ujar orang tersebut tanpa menjawab pertanyaan Yudha.

“Oh gitu…”. Yudha masih menerka-nerka maksud orang ini. Kemudian orang tersebut mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.

“Kenalkan nama saya Andre, saya pernah jadi lawan main Farah di satu film. Saya juga kenal dengan Myra sahabatnya. Kalau nggak salah anda juga hadir kan waktu pernikahan Myra?”. Tanya orang tersebut yang ternyata bernama Andre. Salah satu aktor film Indonesia.

“Yudha…”. Yudha menjawab sambil menerima uluran tangan Andre.

“Saya sebetulnya suka sama Farah sejak lama. Selain orang nya cantik, bakat aktingnya juga bagus. Tapi selain itu Farah orang nya nggak macam-macam. Dia tidak seperti artis kebanyakan yang baru main satu film saja lagaknya sudah seperti artis senior”. Ujar Andre. Yudha mengangguk-anggukan kepalanya. Orang disamping nya ini baru kenal sudah banyak cerita tentang Farah.

“Tapi sayang, Farah memang sepertinya belum mau berhubungan dengan laki-laki. Dia fokus di karirnya”. Lanjut Andre.

“Mas Andre sedang ada syuting di New York?”. Tanya Yudha.

“Ah nggak, saya sedang berkunjung ke saudara yang tinggal disini, sekalian ingin liburan”. Jawab Andre.

“Eh mas… tapi yang suka sama Farah banyak loh, mulai dari artis sampai pengusaha top berlomba-lomba mendapatkan hati Farah. Tapi tidak ada satupun yang diterima Farah”. Lanjut Andre.

“Oh gitu mas…”. Jawab Yudha.

“Mas Yudha lagi liburan di New York. Kok Farah nggak ikut?”. Tanya Andre.

“Oh nggak, saya bukan dalam rangka liburan di New York. Saya kerja mas, saya sedang ada tugas disini. Sekarang tugas saya sudah selesai dan hari ini pulang kembali ke Jakarta”. Jawab Yudha.

“Kerja di bidang apa?”. Tanya Andre.

“Saya kerja di konsulat mas”. Jawab Yudha.

“Oh… mas diplomat…”. Ujar Andre.

“Iya mas…”. Jawab Yudha.

“Oh jadi anda ini yang dibicarakan di infotainment”. Ujar Andre.

“Infotainment…?”. Tanya Yudha sambil mengernyitkan dahi.

“Menurut acara gosip yang tayang di beberapa stasiun TV, Farah sedang tidak menerima Job dulu jadi pemain film. Paling hanya jadi bintang tamu saja di beberapa acara TV”. Jawab Andre.

“Oh gitu mas…”. Ujar Yudha.

“Gosipnya Farah akan segera melangsungkan pernikahan. Ternyata anda yang akan menjadi suaminya Farah”. Ujar Andre. Yudha hanya tersenyum dan berkata aamiin dalam hati.

“Waktu di desak perihal pernikahan dan calon suaminya, Farah nggak mau jawab langsung, Myra juga sama jadi ‘miss no comment’ sekarang”. Lanjut Andre.

“Oh begitu mas”. Jawab Yudha. Dia tidak menyangka sudah begitu hebohnya berita tentang Farah di infotainment. Tapi perihal dia tidak terima job main film, Yudha baru tahu dari Andre. Farah tidak pernah menyinggung soal itu.

“Tapi satu waktu Myra keceplosan ngomong kayaknya. Dia bilang calon suami Farah seorang diplomat”. Ujar Andre.

Di Pertengahan obrolan mereka, ada ‘video call’ yang masuk ke HP Yudha. Farah yang menghubunginya.

“Hai mas…”. Ujar Farah ketika sudah terlihat wajah Yudha di telponnya.

“Hai Farah… sudah mandinya?”. Terlihat Farah sudah rapi dan berdandan. Yudha tersenyum melihat Farah yang bertambah cantik setelah dandan.

“Sudah mas… masih belum berangkat mas?”. Tanya Farah.

“Iya belum nih, tapi sepertinya sebentar lagi mau datang pesawatnya”. Jawab Yudha.

“Farah… kenal nggak sama ini?”. Yudha kemudian mengarahkan HP nya ke arah Andre.

“Hai Farah…”. Ujar Andre menyapa Farah.

“Andre… kok bisa ada disitu?”. Tanya Farah.

“Aku lagi liburan, sambil berkunjung ke saudara yang ada disini. Hari ini kebetulan aku pulang. Tadi aku lihat Yudha sedang ‘video call’, ternyata sama kamu…”. Jawab Andre. Wah Andre kan biang gosip, jangan-jangan dia tadi cerita macam-macam sama Yudha, begitu pikir Farah.

“Ternyata ini calon suami kamu…”. Ujar Andre.

“Andre… jangan gosip ya…”. Ujar Farah.

“Nggak apa-apa kali ngaku aja…”. Farah mukanya memerah, tapi Andre tidak memperhatikan itu. Yudha yang melihat perubahan raut muka Farah. Yudha kemudian tersenyum. Dia mengarahkan kembali HP nya ke arah mukanya.

“Aku harus segera masuk pesawat, sudah ada panggilan”. Ujar Yudha.

“Iya mas… hati-hati ya…”. Ujar Farah.

“Sampai ketemu di rumah ya… sayang…”. Kali ini Yudha tidak mengecilkan suara ‘sayang’ nya. Dia sudah bertekad menggunakan kata sayang untuk memanggil Farah.

“Iya mas…”. Farah tersenyum bahagia. Kemudian komunikasi terputus. Andre melihat perubahan raut muka Fara ketika berkomunikasi dengan Yudha barusan. Berarti benar ini calon suaminya Farah, beruntung sekali dia bisa mendapatkan cintanya Farah, begitu pikir Andre.

“Yuk mas Andre. Pintu pesawat sudah dibuka”. Ajak Yudha kepada Andre.

“Oh iya… duduk di kursi nomor berapa?”. Tanya Andre kepada Yudha ketika mereka sedang antri masuk ke dalam pesawat.

“Saya di 7F. Mas Andre di kursi berapa?”. Tanya Yudha.

“Wah saya di belakang di 15A. Padahal kalau duduknya dekat kita bisa ngobrol lagi”. Jawab Andre.

“Oh iya ya…”. Jawab Yudha. Betul juga pemikiran Andre. Daripada bengong sendiri bisa ada teman ngobrol kalau dekat sama dia. Sebelum HP nya dimatikan, Yudha menerima pesan whatsapp dari Farah.

‘Mas jangan dekat-dekat sama Andre, dia suka gosip’

Kata Farah di pesan whatsapp nya.

‘Iya, aku juga jauh kok duduknya sama dia’

Balas Yudha.

‘HP aku matikan ya. Sampai jumpa besok’

Balas Yudha.

‘Iya mas, hati-hati’

Balas Farah.

Yudha kemudian mematikan HP nya. Dia kemudian masuk ke dalam pesawat setelah tiketnya diperiksa oleh pramugari yang bertugas di sana.

Setelah semua penumpang duduk dan pramugari memperagakan beberapa informasi mengenai keselamatan penerbangan, pesawat kemudian lepas landas dari bandara JFK New York. Farah tunggu aku ya, aku akan datang untuk melamarmu. Begitu Yudha berkata dalam hati. Kemudian dia tertidur.

***

“Yudha sudah berangkat mam dari New York…”. Ujar Farah kepada mamanya.

“Senangnya mau kedatangan pangeran…”. Kata mama.

“Mama ada-ada saja”. Jawab Farah.

“Tapi senang kan Yudha sudah pulang dari New York…”. Ujar mama.

“Mama…”. Jawab Farah sambil memeluk mamanya.

“Jadi jam berapa Yudha sampai di bandara?”. Tanya mama.

“Besok jam sepuluh pagi mam…”. Jawab Farah.

“Eh mam… tadi dia bareng Andre naik pesawatnya”. Lanjut Farah.

“Andre yang pernah jadi lawan main film kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam, dia kan biang gosip. Pasti sudah ngomong macam-macam sama Yudha”. Jawab Farah.

“Hus… gak boleh gitu, jangan berprasangka buruk sama orang”. Ujar mama.

“Hehe… iya mam…”. Jawab Farah.

“Tapi dia kan nanya-nanya terus sama Farah kenapa nggak mau terima peran yang kemarin mam, dia berharap banget aku jadi lawan mainya di film itu mam. Dia juga nanya-nanya sama Myra mam”. Lanjut Farah.

“Paling sering nanya sih ke Myra mam. Myra kan jadi kesel dia nanya-nanya terus. Akhirnya Myra bilang sama dia bahwa aku mau nikah mam. Jadi deh rame di infotainment kalau aku mau nikah. Kan dari siapa mereka tahu kalau bukan dari Andre mam”. Ujar Farah.

“Oh gitu ceritanya… mama baru tahu”. Jawab mama.

“Tapi ada baiknya juga ya kamu nggak terima job film dulu. Nanti kalau acara nikah kamu waktunya sudah dekat gimana coba, mama kan yang pusing”. Ujar mama.

“Mama yakin banget aku mau nikah secepat itu?”. Tanya Farah.

“Mama yakin… feeling mama gak akan salah”. Jawab mama.

“Mama… aku sayang sama mama…”. Farah memeluk mamanya.

***

Selama dua bulan terakhir ini memang Farah tidak menerima job dulu. Dia hanya memenuhi kontrak yang sudah ada. Dia sudah memberitahukan kepada manajemen nya bahwa dia mau istirahat syuting film dulu. Farah memenuhi nasihat mamanya untuk tidak menerima job dulu.

“Memang ada apa, kok mau istirahat dulu?”. Tanya Jojo manajernya suatu saat.

“Nggak apa-apa, mau istirahat dulu aja”. Jawab Farah.

“Bukan mau pindah manajemen kan…”. Tanya Jojo.

“Ya ampun Jo, sejauh itu pikiran kamu. Kita kan sudah lama kerja bareng. Nggak mungkin lah aku pindah manajemen”. Jawab Farah.

“Ya terus kenapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Nanti saja ceritanya…”. Jawab Farah.

“Padahal si Andre pengen banget tuh kamu jadi pemeran utama wanitanya di film dia”. Ujar Jojo.

“Nggak ah Jo, Andre doyan banget ‘gimmick’ aku nggak suka”. Jawab Farah.

“Tapi serius nih… kenapa sih mau ‘break’ syuting dulu…”. Tanya Jojo penasaran.

“Nggak apa-apa…”. Jawab Farah.

“Eh tunggu sebentar…”. Ujar Jojo kemudian dia membuka HP nya.

“Kayaknya si Andre ngomong apa gitu tentang kamu Far…”. Jojo kemudian membuka Youtube dan melihat Andre sedang di wawancara.

Di Dalam video infotainment tersebut, Andre sedang diwawancarai oleh beberapa media infotainment mengenai film barunya yang akan segera melaksanakan proses syuting.

“Bagaimana proses syuting film terbaru anda mas?”. Tanya wartawan.

“Syuting nya masih belum mulai”. Jawab Andre.

“Jadi kapan syuting nya?”. Tanya wartawan lainnya.

“Kita masih mencari pemeran utama wanitanya”. Jawab Andre.

“Jadi pemeran utama wanitanya belum ada?”. Tanya wartawan.

“Iya belum ada. Sebetulnya sih saya berharap Farah menjadi lawan main saya. Sayang dia nggak mau”. Jawab Andre.

“Jadi Farah menolak menjadi lawan main anda?”. Tanya wartawan.

“Iya begitulah…”. Jawab Andre.

“Kenapa Farah menolak menjadi lawan main anda”. Lanjut wartawan.

“Katanya sih Farah mau menikah…”. Jawab Andre.

“Farah mau menikah… menikah sama siapa… kapan… dimana…”. Semua wartawan serentak bertanya kepada Andre yang segera berlalu dari tempat wawancara tersebut.

“Saya nggak tahu, tanya saja sama orangnya”. Teriak Andre sambil masuk ke mobilnya dan berlalu. Tapi wartawan masih mengejar dia sampai mobilnya jalan menjauh.

Jojo kemudian menutup HP nya.

“Jadi kamu mau menikah… Kok nggak bilang-bilang sih…”. Tanya Jojo.

“Dasar tuh si Andre biang gosip”. Jawab Farah.

“Tapi beneran… kamu mau nikah?”. Tanya Jojo lagi.

“Baru rencana…”. Jawab Farah.

“Sama siapa? Artis juga? Atau pengusaha?”. Tanya Jojo penasaran.

“Masih rencana Jo. Nanti kalau sudah pasti, aku pasti ngasih tahu kamu”. Jawab Farah. Dilamar aja belum, sudah ramai gosip kalau aku mau nikah, pikir Farah.

“Tapi sama siapa? Ayo dong cerita…?”. Jojo makin penasaran.

“Ada yang lagi deket sih…”. Jawab Farah.

“Siapa…?”. Tanya Jojo lagi.

“Seorang diplomat…”. Jawab Farah.

“Wow… diplomat… diplomat mana… siapa namanya Far…?”. Desak Jojo.

“Nanti aja Jo, aku kasih tahu kalau sudah pasti”. Jawab Farah.

***

“Kamu apa nggak sebaiknya jemput Yudha?”. Tanya mama. Sabtu ini pesawat yang ditumpangi Yudha rencananya akan mendarat di bandara Soetta.

“Aku gak kepikiran mam, sampe lupa nawarin jemput Yudha di bandara”. Jawab Farah.

“Kamu sih telpon sama ‘video call’ mesra-mesraan terus, sampai lupa segalanya”. Ujar mama.

“Mesra-mesraan gimana mam…?”. Tanya Farah.

“Itu kemarin panggil sayang segala…”. Jawab mama sambil tersenyum.

“Kok mama tau sih”. Tanya Farah.

“Iya kan mama dengar”. Jawab mama.

“Yudha mam yang manggil begitu bukan Farah”. Ujar Farah.

“Tapi kamu senang kan…”. Mama menggoda anaknya.

“Ah mama…”. Farah menjawab sambil malu-malu.

“Sejak kapan Yudha memanggil kamu sayang begitu?”. Tanya mama.

“Semalam…”. Jawab Farah.

“Semalam? Kok mama nggak dengar?”. Tanya mama.

“Semalam di kamar mam waktu Farah mau tidur”. Jawab Farah.

“Hmmm… mau tidur aja harus telpon dulu. Anak mama ini sudah nggak tahan ya…”. Ujar mama.

“Nggak tahan bagaimana mam…?”. Tanya Farah.

“Nggak tahan pengen cepat-cepat ketemu pujaan hati”. Jawab mama.

“Ah mama bisa aja”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Eh sudah jam sepuluh mam, kok belum ada kabar dari Yudha ya…”. Ujar Farah.

“Tuh kan… yang sudah kangen…”. Ujar mama.

“Mama apaan sih…”. Ujar Farah.

“Mungkin delay pesawatnya”. Kata mama.

“Iya kali ya mah. Mudah-mudahan aja nggak ada apa-apa”. Jawab Farah.

“Mmm… yang lagi kasmaran”. Ujar mama. Farah hanya tersenyum.

***

Sementara itu pesawat yang di tumpangi Yudha sudah mendarat di bandara Soetta. Terjadi keterlambatan di bandara Narita Jepang sehingga jadwal kedatangan pesawat tersebut terlambat dua jam.

Yudha kemudian turun dari pesawat. Dia menengok ke arah belakang dimana Andre sedang antri untuk turun dari pesawat. Ketika mengambil koper dari ban berjalan kemudian Andre menghampiri Yudha.

“Dijemput siapa pulang nya?”. Tanya Andre.

“Saya naik angkutan umum”. Jawab Yudha.

“Nggak dijemput Farah?”. Tanya Andre lagi.

“Nggak mas, kasihan kalau Farah harus jemput jauh-jauh ke bandara”. Jawab Yudha.

“Kalau mau ikut saya saja, nanti saya antar sampai rumah”. Ajak Andre.

“Nggak usah mas terima kasih. Koper saya banyak dan lagi saya sudah pesan taksi online, sudah nunggu di depan lobby”. Tolak Yudha.

“Oh begitu, ya sudah. Sampai jumpa ya, nanti kabarin tanggal nikah kalian ya”. Ujar Andre sambil berjalan meninggalkan Yudha yang masih menunggu kopernya yang berada di ban berjalan.

“Iya mas terima kasih”. Jawab Yudha.

Setelah semua kopernya terkumpul kemudian Yudha memasukkannya ke dalam troli. Dia kemudian mendorong troli tersebut ke arah lobby terminal kedatangan bandara Soetta.

Dia ingat belum memberitahu Farah kalau dia sudah sampai di bandara. Yudha kemudian membuka HP nya yang sudah diganti dengan nomor lokal Jakarta.

“Halo Farah”. Yudha memulai pembicaraan setelah HP nya tersambung dengan Farah.

“Halo mas, sudah sampai ya. Syukur kalau sudah sampai”. Ujar Farah.

“Kok telat mas…?”. Tanya Farah.

“Iya tadi pesawatnya delay di bandara Jepang. Jadinya telat dua jam sampai sini”. Jawab Yudha.

“Oh begitu mas. Eh mas aku jemput ya ke bandara…”. Ujar Farah.

“Nggak usah, ini aku sudah pesan taksi online. Sebentar lagi juga datang”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya mas”. Ujar Farah.

“Iya, sampai ketemu di rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Mmmm… mas Yudha jadi datang ke rumahku hari ini?”. Tanya Farah ingin meyakinkan perkataan Yudha sewaktu akan berangkat ke New York dua bulan yang lalu.

“Iya aku akan ke rumahmu. Tapi aku simpan dulu barang-barangku ke rumah ya. Setelah itu aku langsung ke rumahmu”. Jawab Yudha.

“Eh taksinya sudah datang, aku berangkat ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati”. Jawab Farah, kemudian telpon terputus. Farah berdebar-debar menantikan kedatangan Yudha.

Apakah benar perkiraan mamanya kalau Yudha akan melamarnya hari ini?

Apakah aku akan menerimanya kalau benar dia melamarku? Apakah aku sudah siap menikah? Apakah aku sudah yakin dengan perasaanku kepada Yudha, begitu pikir Farah. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Ada keyakinan kepada Yudha, tapi ada juga rasa bimbang yang menghampirinya. Semuanya berputar-putar di kepalanya.

***

Cerita lucu – Nenek panjang umur

Patut dicontoh…

Dokter: Nenek… Minum jamu apa, koq bisa umur sampai 120 tahun?

Nenek: apaa.., dok…???

Dokter: (agak keras) Nek… koq bisa umur sampai 120 tahun..???

Nenek: apaaaa.., dok…???
nenek kagak dengeeer…

Dokter : (berteriak) Nek… koq bisa umur sampai 120 tahun..???!!!

Nenek : OOooooooowww…
Kalo mau umur panjang, harus punya penyakit…

Dokter : (berteriak) penyakit apa itu nek…???!!!

Nenek: penyakit BUDEG..

Dokter: (berteriak) apa hubungannya penyakit BUDEG dan umur, nek..???

Nenek: Jadi kalo dipanggil TUHAN…
Kagak dengeeeer…

Cerita lucu – Cerpen huruf T

Ternyata kita Bisa bikin cerpen dr kata2 yg diawali Dg huruf yg sama, yaitu huruf “T”.
Huruf “T” ternyata luar biasa…  :

Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang Tempe Tetap Tabah, “Tempe-tempe”, Teriaknya. Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, “Tahu.. Tahu… Tahu.. !”
“Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!”, Timpal Tukang Tempe.
Tukang Tahu Tidak Terima, “Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek… !” Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, “Teplakkk..!” Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu. Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe.
Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu.
Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut, “Tidak Takut!!” Tantang Tukang Tahu.
Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan! Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab. “Tolong.. Tolong.. Tolong..”, Teriaknya Terdengar Tinggi. Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, ”Tempe.. Tempe.. Tempe.. Tapi Terus Terdengar Tembakan.. Tukang Tempepun Tertembak Tentara Teroris…Teretet tetet!! Tukang Tempe Terkapar Tertembak…. Tukang Tahupun Tertawa Terbahak…

Teletai Tudah Telitanya … Tapek Tekali… Telima Tatih…😃😜

Telamat Tilawah…

Missing U

Aku kehabisan kata-kata untuk menulis.

Dimanakah kamu?

Diplomat Bag. 6 – Kembali ke New York

Besoknya Yudha sudah bersiap-siap pagi sekali, dia ada sedikit urusan yang mendadak ingin dia lakukan. Yudha berangkat menggunakan mobilnya menuju kawasan perumahan di Jakarta Timur. Dia bermaksud untuk mencari tahu kondisi rumah yang ada disini. Apabila cocok dia memberikan tanda jadi kepada pengelola perumahan ini.

Setelah berputar-putar mengelilingi kawasan perumahan ini, dia menjatuhkan pilihan kepada rumah yang sudah siap huni yang ada disini. Kemudian Yudha masuk ke kantor pengelola perumahan ini dan membayar tanda jadi setelah dia menyetujui syarat-syarat kepemilikan rumah tersebut.

Yudha kemudian menghubungi Farah lewat whatsapp.

‘Hari ini pulang syuting jam berapa’

Yudha mengirimkan pesan kepada Farah.

‘Saya sampai rumah sekitar jam 7 malam mas’

Balas Farah

‘Boleh nggak saya ke rumah kamu nanti malam?’

Balas Yudha

‘Iya boleh mas’

Balas Farah

‘Kamu sedang break syuting?’

Balas Yudha

‘Iya mas saya lagi break syuting’

Balas Farah

‘Ya sudah kalau gitu, sampai nanti malam ya’

Balas Yudha

‘Iya mas’

Balas Farah

Mereka kemudian mengakhiri komunikasi.

Siang ini Yudha berencana untuk pergi ke Jatinegara. Dia akan mengambil pesanannya berupa cincin berlian yang akan diberikan kepada Farah. Dia tidak punya ide lain untuk memberikan kenang-kenangan kepada Farah. Dia ingin memberikan sesuatu yang membuat Farah ingat terus kepada dia. Tadinya dia berniat untuk membeli kalung, tapi setelah dipikir-pikir cincin sepertinya lebih cocok.

***

Farah memainkan HP nya ketika sedang ‘break’ syuting. Dia melihat-lihat HP nya tapi terlihat matanya menerawang pertanda pikirannya tidak sedang disini. Mama Farah melihat itu dan kemudian bertanya kepada Farah.

“Kenapa sayang…”.

“Eh… nggak apa-apa mam”. Jawab Farah.

“Barusan Yudha yang whatsapp kamu?”. Tanya mama.

“Iya mam”. Jawab Farah.

“Kok jadi diem?”. Tanya mama

“Nanti malam dia mau ke rumah katanya mam, dia mau pamitan mau balik ke New York”. Jawab Farah.

“Oh sudah mau berangkat lagi ya”. Ujar mama.

“Katanya  besok sabtu dia mau berangkat mam, jadi malam ini mau pamitan ke rumah kita”. Ujar Farah.

“Oh gitu, ya sudah nanti kita tunggu saja di rumah”. Ujar mama.

“Kamu sedih ditinggal Yudha?”. Tanya mama.

“Nggak sedih sih mam, tapi gimana ya, perasaan ada yang hilang gitu mam”. Jawab Farah.

“Anak mama kayaknya sudah menyimpan perasaan ya sama Yudha…”. Ujar mama

“Ah mama… tapi gimana ya mam… Farah juga bingung”. Jawab Farah.

“Nggak usah bingung, kalau kalian sudah saling suka ya nggak apa-apa”. Ujar mama lagi.

“Mama hanya bisa mendoakan kalau kalian memang jodoh ya nggak akan kemana”. Lanjut mama.

“Mama kok sudah bicara jauh seperti itu sih”. Ujar Farah. Mama Farah tersenyum sambil mengusap rambut anak gadis kesayangannya.

“Udah mau ‘take’, ayo…”. Ujar mama.

“Iya mam…”. Farah kemudian berdiri dan memulai lagi syuting nya.

Sore hari setelah syuting selesai, Farah dan mamanya bergegas untuk pulang ke rumahnya.

“Kok buru-buru tante?”. Tanya bang Yopy ketika Farah dan mamanya sudah bersiap-siap untuk pulang dari tempat syuting.

“Ini ada yang mau datang ke rumah jadi kita buru-buru pulang”. Jawab mama Farah.

“Oh gitu, kok nggak dianter siapa itu namanya, Yudha… iya Yudha…”. Kata bang Yopy.

“Yudha nya sudah mau pulang lagi ke New York”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Mama Farah hanya tersenyum melihat anaknya sedikit cemberut.

“Ooo… pantesan nggak antar jemput lagi”. Ujar bang Yopy.

“Kita duluan ya…”. Kata mama Farah.

“Iya tante”. Jawab bang Yopy.

Mereka kemudian masuk kedalam mobil.

“Pak maman, kita langsung pulang saja ya, nggak usah kemana-mana dulu”. Ujar mama Farah.

“Baik bu”. Jawab pak Maman. Pak Maman mulai menjalankan mobilnya. Sementara Farah masih terdiam.

“Sudah nggak usah banyak pikiran, mama yakin kalau Yudha juga punya perasaan yang sama seperti kamu”. Ujar mama.

“Gitu ya mam…”. Jawab Farah.

“Kalau Farah ngasih sesuatu sama Yudha malu nggak ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kamu mau ngasih apa?”. Tanya mama.

“Menurut mama apa ya kira-kira?”. Tanya Farah.

“Ya sesuatu yang bisa mengingatkan dia sama kamu, kayak foto gitu misalnya”. Jawab mama.

“Kok foto sih mam…”. Tanya Farah.

“Fotonya jangan yang kecil, yang agak besar terus pakai figura yang bagus”. Jawab mama.

“Kalau yang kayak gitu kan ada mam di kamar Farah”. Ujar Farah.

“Ya sudah kamu pilih aja salah satu, terus kamu kasih ke Yudha”. Ujar mama. Farah berpikir kira-kira foto yang mana yang akan dia kasih ke Yudha. Kenapa ya dengan perasaanku. Kok seperti ini kepada Yudha. Padahal mereka baru kenal selama satu minggu. Apa karena selama satu minggu ini mereka berdua terus. Tapi kalau dipikir-pikir, aku juga nggak akan mau jalan sama dia kalau memang aku juga nggak ada perasaan sedikitpun kepada Yudha, begitu pikir Farah dalam hati. Mama Farah melihat anaknya melamun, dia kemudian tersenyum.

“Tuh kan melamun lagi…”. Ujar mama.

“Eh iya mam hehe”. Farah menjawab sambil tersenyum malu.

“Yuk turun, sudah sampai”. Ajak mama.

“Iya mam…”. Jawab Farah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Sebelum masuk, Farah menengok ke arah jalan, siapa tau Yudha sudah ada disitu, tapi ternyata dia belum datang.

“Ayo masuk sayang… nanti juga dia datang kok”. Ajak mama.

“Hehe iya mam…”. Jawab Farah.

Pak Maman kemudian pamit setelah memarkirkan mobilnya.

“Saya pamit ya bu”. Ujar pak Maman.

“Iya pak, terima kasih ya. Oh iya besok pak Maman masuk ya. Ada yang harus diantar besok”. Mama Farah tidak biasanya menyuruh pak Maman masuk hari sabtu. Tapi dia sudah punya firasat kalau pak Maman akan berguna besok.

“Baik bu, besok saya datang pagi, saya pamit”. Ujar pak Maman.

“Iya pak”. Jawab mama Farah.

“Kok pak Maman di suruh masuk besok mam…?”. Tanya Farah setelah pak Maman pergi.

“Nggak apa-apa, besok mungkin pak Maman berguna buat nganter kamu”. Jawab mama.

“Nganter kemana mam…?”. Tanya Farah masih bingung.

“Sudah… percaya deh sama mama”. Jawab mama.

Setengah jam kemudian terdengar ada suara mobil yang berhenti didepan rumah Farah. Yudha ternyata sudah sampai di rumah Farah.

“Tuh yang kamu tunggu sudah datang, ayo cepat temui”. Ujar mama kepada Farah.

“Iya mam…”. Farah tersenyum, tapi dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya berpisah dengan Yudha. Dia kemudian keluar rumah untuk menyambut Yudha.

“Hai Farah…”. Yudha berkata setelah turun dari mobil.

“Hai mas… ayo masuk”. Ajak Farah. Mereka berdua kemudian masuk ke ruang tamu. Lalu mama Farah masuk dari ruang tengah.

“Malam tante”. Ujar Yudha sambil membungkuk menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam juga, katanya besok mau kembali ke New York ya?”. Tanya mama Farah.

“Iya tante, besok saya berangkat ke New York, makanya saya datang malam ini untuk pamitan”. Jawab Yudha.

“Oh gitu, ya sudah kalian ngobrol dulu ya. Tante masuk dulu”. Kata mama Farah, dia sudah mengerti kalau Yudha ingin ngobrol berdua dengan Farah.

Sejenak mereka berdua terdiam. Hanya duduk saja sambil melamun. Kemudian Yudha yang memulai pembicaraan.

“Farah…”.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Besok saya berangkat lagi ke New York”. Ujar Yudha.

“Besok ya mas…”. Jawab Farah.

“Iya… saya terbang sekitar jam tiga sore dari bandara”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah, dia hanya menjawab iya karena tidak tahu harus menjawab apa. Ada apa dengan perpisahan ini? Padahal mereka belum punya ikatan apa-apa tapi kok terasa berat ya berpisah dengan Yudha, pikir Farah.

“Terima kasih ya, selama seminggu ini sudah menemani saya”. Ujar Yudha.

“Saya yang seharusnya berterima kasih sama mas Yudha. Saya sudah diantar jemput ke tempat syuting, ditraktir makan, diajak makan di rumah mas Yudha”. Jawab Farah menata kembali kenangannya selama seminggu ini dengan Yudha.

“Iya sama-sama, saya senang kok bisa antar jemput kamu, bisa ngobrol berdua sama kamu sambil makan, saya nggak akan melupakan semua itu”. Jawab Yudha. Farah merasa bahagia dengan perkataan Yudha. Ternyata dia juga senang berdua terus dengan aku, apakah aku juga senang? Tapi aku nggak tahu bagaimana perasaanku sekarang, yang jelas aku merasa berat berpisah dengan dia, ada apa denganku, pikir Farah.

“Besok diantar siapa ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Saya berangkat sendiri, sudah biasa sendiri tidak ada yang menemani ke bandara”. Kalau kamu yang menemani sih aku mau Farah, Yudha berkata dalam hati.

“Oh sendiri ya mas”. Ujar Farah.

“Iya sendiri”. Jawab Yudha.

Mereka kemudian terdiam kembali.

Yudha sudah memegang kotak cincin yang ada di saku jaketnya, tapi masih belum dikeluarkan. Dia masih bimbang apakah akan memberikan cincin ini kepada Farah. Apakah nanti Farah tidak berpikiran macam-macam ya, begitu pikir Yudha. Sebelum berangkat ke rumah Farah, dia mampir dulu di toko cincin untuk mengambil pesanannya dua hari yang lalu.

Farah sudah menyiapkan kotak putih yang berisi foto dia dan sebuah boneka, boneka kelinci kesayangannya akan dia berikan kepada Yudha. Dia ingin agar Yudha tidak melupakan dia apabila sudah di New York nanti. Apakah akan aku berikan sekarang saja kotak itu? Bagaimana ya tanggapan Yudha menerima kotak itu nanti? Apakah dia tidak berpikiran macam-macam kepadaku? Norak nggak ya memberikan foto kepada orang yang baru dikenal? Pikiran Farah dipenuhi dengan banyak pertanyaan.

Mereka masih terdiam tanpa berkata apa-apa. Yudha sedang berpikir untuk memberikan cincin kepada Farah, sedangkan Farah sedang berpikir untuk memberikan foto dan boneka kepada Yudha.

“Farah…”. Akhirnya Yudha mulai lagi bicara.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya pamit ya, saya harus siap-siap untuk membereskan barang di rumah”. Ujar Yudha. Kok pulang sih, kenapa cepat sekali, kok nggak nunggu aku ngasih foto dulu? Farah berkata dalam hati.

“Farah…”. Yudha berkata lagi setelah melihat Farah diam lagi.

“Eh iya mas, sebentar ya…”. Dia kemudian masuk ke ruang tengah untuk memanggil mamanya. Tak lama kemudian Farah dan mamanya masuk kembali ke ruang tamu.

“Sudah mau pulang ya”. Kata mama Farah.

“Iya tante, saya harus siap-siap biar besok nggak terburu-buru berangkatnya”. Jawab Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, selamat jalan ya, semoga selamat sampai New York”. Ujar mama Farah.

“Iya tante terima kasih”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Farah dan Yudha kemudian berjalan berdua keluar rumah Farah, mama Farah masuk lagi ke ruang tengah, dia masih heran dengan sikap anaknya, sepertinya dia berat melepas kepergian Yudha, dasar anak muda, begitu pikiran mama Farah.

“Saya berangkat ya Farah”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Saya dua bulan lagi selesai tugas di New York, setelah itu saya kembali tugas di Jakarta”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas”. Hanya itu yang bisa dijawab oleh Farah.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Saya tidak akan melupakan kamu”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Aku juga tidak akan melupakan kamu, aku akan selalu ingat kamu mas, Farah berkata dalam hati.

“Saya berangkat ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas, hati-hati ya dijalan, semoga selamat sampai New York”. Jawab Farah. Yudha tersenyum kemudian dia masuk kedalam mobilnya. Mobilnya kemudian berjalan dan dia melambaikan tangan kepada Farah, Farah balas melambaikan tangan.

Farah kemudian masuk kedalam ruang tamu rumahnya. Dia kemudian duduk dan terdiam. Dia menyesali diri sendiri kenapa dia tidak jadi memberikan fotonya kepada Yudha. Kenapa dia tadi diam saja tidak langsung memberikannya kepada Yudha.

***

Sabtu ini adalah jadwal Yudha kembali ke New York. Pagi ini dia sudah siap-siap untuk berangkat ke Bandara Soetta. Sewaktu berangkat dari New York seminggu yang lalu dia hanya mendapat tiket pesawat kelas ekonomi karena terburu-buru memesan tiket. Hari ini dia masih bisa memesan kelas bisnis jauh-jauh hari. Hari ini dia terbang jam tiga sore dari Bandara Soetta.

Yudha masih duduk di ruang tamu. Koper yang berisi baju dan perlengkapan dia sudah ada di samping nya, siap untuk dibawa. Dia tidak membawa banyak perlengkapan karena toh dia pikir hanya sebentar tugas di New York. Tangannya masih menggenggam HP, dia masih teringat dengan Farah yang telah mengisi hari-harinya seminggu belakangan ini.

Dia masih ingat sewaktu kemarin berpamitan kepada Farah dan mamanya di rumah Farah. Terasa ada ruang yang kosong yang hilang dari hatinya. Walaupun dia baru mengenal Farah selama seminggu, tapi ternyata hatinya sudah terpaut oleh gadis ini. Entah dengan Farah, apakah dia mempunyai perasaan yang sama dengan Yudha.

Sehari sebelumnya Yudha membeli sebuah cincin putih bermata berlian. Cincin mungil itu sedianya akan dia berikan kepada Farah sebagai kenang-kenangan. Tapi kemarin sewaktu dia akan memberikan cincin itu dia masih ragu untuk memberikannya. Takut Farah menganggapnya gampang memberikan hadiah kepada gadis yang baru dikenalnya. Yudha kemudian merogoh jaketnya dan mengambil kotak perhiasan kecil yang berisi cincin berlian tersebut. Dia melihat cincin itu lagi, sepertinya sangat cocok dikenakan di jari manis Farah.

Mang ukan dan bi Neni melihat majikannya sedang memperhatikan cincin. Mereka melihat satu sama lain. Mungkin majikannya sedang jatuh cinta dengan gadis barunya. Hari Kamis kemarin Farah dibawa ke rumah dan dikenalkan kepada mang Ukan dan bi Neni. Gadis cantik teman Myra, seorang artis film yang sedang naik daun. Mungkin gadis ini sudah mencuri hati majikannya ini, sampai-sampai mau kembali ke New York pun masih ragu untuk berangkat.

Yudha juga teringat pesan Myra sebelumnya. Walaupun dia sedang berbulan madu di Bali tapi Myra menyempatkan waktu untuk menanyakan kabar hubungan Yudha dan Farah. Myra sepertinya sudah tahu apa yang dirasakan Yudha dan Farah saat ini. Makanya dia berpesan kepada Yudha untuk tidak menyia-nyiakan Farah.

“Pesawatnya berangkat jam berapa den…”. Tanya bi Neni.

“Jam tiga sore bi”. Jawab Yudha.

“Ingat sama non Farah ya den…”. Tanya bi Neni lagi.

“Hehe… iya bi, kemarin rencananya cincin ini mau saya berikan kepada Farah bi, tapi saya masih ragu takut dia berpikir macam-macam”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih saja den ke non Farah”. Ujar bi Neni.

“Iya ya bi…. tapi saya sudah mau berangkat bi. Nanti saja kalau saya sudah pulang dua bulan lagi”. Jawab Yudha.

“Kalau menurut bibi mah kasih sekarang saja den, kalau nanti-nanti sudah keburu kadaluarsa”. Ujar bi Neni.

“Jangan sampai non Farah diambil orang den…”. Lanjut bi Neni.

Yudha jadi terdiam. Benar juga apa yang dikatakan bi Neni. Bagaimana kalau ada yang suka sama Farah dan aku keduluan sama dia? Begitu pikir Yudha. Lebih baik aku telpon dia sekarang dan mengajaknya bertemu.

Yudha sedang membuka kontak Farah di HP nya, tiba-tiba HP nya berbunyi. Farah yang telpon dia. Kemudian dia mengangkat telpon nya.

“Halo… Farah…”. Ujar Yudha memulai pembicaraan.

“Halo mas… belum berangkat…?”. Tanya Farah.

“Belum Far…”. Jawab Yudha.

“Oh belum ya…”. Farah berkata.

“Rencananya mau berangkat jam berapa mas…?”. Tanya Farah.

“Nanti sih sebentar lagi, santai kok. Kan aku terbang jam tiga sore, paling aku check-in jam dua belas siang”. Jawab Yudha. Eh kok jadi aku… Farah pun menyadari ada kata-kata yang berubah dari Yudha.

“Mmmm Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya….”. Jawab Farah.

“Bisa nggak kita ketemu sebelum aku berangkat?”. Tanya Yudha.

“Mmmm boleh mas, tadinya aku juga mau bilang begitu. Tapi mas nggak usah kesini ya, aku saja yang ke rumah mas Yudha”. Kata Farah.

“Oh gitu…”. Jawab Yudha.

“Aku berangkat sekarang”. Ujar Farah.

“Oh iya…”. Jawab Yudha.

Kemudian telpon terputus, Farah juga ingin ketemu aku. Apakah ini pertanda? Begitu pikir Yudha.

***

Sebelumnya di rumah Farah…

Pagi itu dia masih duduk di ruang tamu. Di pangkuannya ada kotak putih berisikan boneka kelinci warna pink berukuran sedang dan pigura berukuran poster berisikan foto Farah sedang tersenyum. Sebetulnya dia ingin memberikan kotak ini kemarin malam sewaktu Yudha berpamitan kepadanya untuk berangkat lagi ke New York. Tapi dia tidak jadi memberikan kotak itu kepada Yudha. Dia tidak ingin lelaki ini berpikiran macam-macam kepadanya. Dia jadi ragu untuk memberikan kotak ini. Tapi pagi ini dia memutuskan untuk memberikan kotak ini kepada Yudha supaya hatinya lega.

Apa aku telpon dia saja ya, mumpung masih pagi siapa tahu dia belum berangkat, begitu pikir Farah.

Kemudian dia menghubungi Yudha dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Yudha sebelum dia terbang. Ternyata Yudha pun mempunyai keinginan yang sama untuk bertemu dengan nya sebelum terbang ke New York. Tapi kali ini Farah yang akan datang ke rumahnya.

“Mam… aku ke rumah Yudha ya…”. Ujar Farah kepada mamanya. Mama Farah tersenyum melihat anaknya bersemangat pergi ke rumah Yudha. Mama Farah sudah tahu apa yang ada di pikiran anak gadisnya. Dia pikir tak apa-apa dia menemui Yudha di rumahnya.

“Kamu berangkat sama pa Maman saja. Terus antar Yudha sampai ke bandara ya…”. Ujar mama.

“Mam…”. Farah memandang mama nya.

“Sudah ayo cepat, nanti keburu siang…”. Ujar mama.

“Mama…”. Farah kemudian memeluk mamanya. Mamanya sangat mengerti dia, walaupun tidak berkata apa-apa tapi dia tahu apa yang diinginkan anaknya.

“Farah berangkat ya mam…”. Ujar Farah.

“Iya hati-hati di jalan…”. Mama berkata sambil mencium pipi putrinya kiri kanan.

Farah kemudian berangkat ke rumah Yudha. Sepanjang perjalanan dia teringat terus kepada Yudha. Dia akan berpisah dengan pemuda ini, walaupun Yudha sudah berkata bahwa dia hanya dua bulan di New York dan akan secepatnya pulang ke Jakarta, tapi seperti ada sesuatu yang akan hilang. Selama seminggu ini semenjak dia dikenalkan dengan Yudha di pesta pernikahan Myra sahabatnya, dia selalu bersama pemuda ini setiap hari. Walaupun hanya sebentar tapi kesan yang ditinggalkan terlalu banyak untuk dilupakan.

Malam tadi Myra menelpon dia dari Bali. Dia sudah bercerita semua kepada Myra dan kebersamaan dia dengan Yudha selama seminggu ini. Myra pun sempat heran dengan kebersamaan mereka berdua. Tapi dibalik itu semua Myra sangat bersyukur bisa mengenalkan Farah dan Yudha. Myra berpesan kepada Farah untuk bersabar, kalau jodoh tak kan kemana.

***

Jam sepuluh pagi akhirnya Farah sampai di rumah Yudha. Tadi dia sudah memberikan alamat rumah Yudha kepada pak Maman sehingga supirnya tersebut dengan mudah sampai di rumah Yudha. Pintu pagar kemudian dibuka oleh mang Ukan. Mang Ukan mempersilahkan Farah untuk langsung ke ruang tamu, dia bilang Yudha sudah menunggu dari tadi. Sementara pak Maman dan mang Ukan berjalan menuju ruang belakang.

Pintu ruang tamu sudah terbuka. Kemudian Farah perlahan-lahan masuk ke ruangan tersebut. Dia lihat Yudha duduk sendiri sambil memegang sesuatu di tangan nya. Sepertinya sebuah kotak, tapi dia tidak melihat apa isinya.

“Ehem… mas…”. Farah berkata pelan.

Yudha agak kaget dan buru-buru memasukkan kota yang di pegang nya ke dalam saku jaket nya. Dia melihat Farah berdiri di pintu masuk.

“Eh sudah datang…”. Kata Yudha.

“Iya baru saja mas…”. Jawab Farah.

“Ayo duduk…”. Ajak Yudha. Kemudian Farah duduk bersebelahan dengan Yudha. Dia lihat di samping sudah ada koper yang akan Yudha bawa, dia sepertinya sudah siap berangkat.

“Mas Yudha berangkat ke bandara naik apa?”. Tanya Farah.

“Naik bis dari terminal Rawamangun”. Jawab Yudha. Dia biasanya berangkat ke bandara  dari terminal tersebut.

“Oh begitu, bagaimana kalau aku antar saja ke bandara mas?”. Tanya Farah.

“Memang nya pak Maman ada?”. Tanya Yudha. Biasanya supir Farah libur di hari sabtu dan minggu. Tapi hari ini mama Farah meminta pa Maman untuk masuk.

“Iya mas, tadi mama minta pak Maman masuk buat nganterin mas Yudha ke bandara”. Jawab Farah.

“Ya sudah kalau begitu, kita berangkat sekarang saja ya”. Ajak Yudha.

“Iya mas kita berangkat sekarang saja”. Ujar Farah.

Kemudian mereka berdua berjalan keluar rumah. Farah berjalan duluan diikuti Yudha sambil membawa koper.

“Pak Maman… yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Iya mbak…”. Jawab pak Maman, dia tinggalkan kopi yang baru diminumnya setengah gelas, tadi bi Neni menyuguhkan kopi buat temen ngobrol sama mang Ukan.

“Mang Ukan, bi Neni saya berangkat ya, baik-baik ya di rumah”. Ujar Yudha.

“Saya berangkat diantar Farah langsung ke bandara”. Lanjut Yudha.

“Iya den…”. Kata mang Ukan dan bi Neni.

“Saya berangkat ya mang… bi…”. Kata Farah kepada mang Ukan dan bi Neni.

“Iya non… hati-hati di jalan”. Kata bi Neni.

Farah dan Yudha kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka duduk bersebelahan. Mobil tersebut selanjutnya berjalan meninggalkan rumah Yudha. Sejenak mereka berdua terdiam. Baik Yudha maupun Farah sama-sama tidak tahu harus mulai bicara apa. Mereka masih sibuk dengan khayalan nya masing-masing.

Farah berpikir seandainya saja Yudha masih lama tinggal di Jakarta dan terus menemaninya setiap hari. Tapi toh hanya dua bulan Yudha di New York. Nanti setelah itu dia akan kembali lagi ke Jakarta dan bertemu dengannya. Farah tersenyum sendiri.

Yudha masih berpikir untuk memberikan cincin yang ada di sakunya. Apa yang akan dia katakan ketika memberikan cincin ini? Apakah aku akan melamarnya langsung? Terlalu cepatkah?

“Mas sampai New York jam berapa?”. Tanya Farah membuka pembicaraan.

“Besok sekitar jam tiga sore juga, sama dengan waktu berangkat. Tapi kalau waktu disana berarti jam tiga pagi”. Jawab Yudha.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya nanti aku kabari kalau sudah sampai New York. Nanti aku ganti nomor HP ya sampai disana. Nanti aku whatsapp nomor barunya ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Mereka berdua kemudian terdiam kembali. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Padahal dari pertama kali mereka bertemu biasanya terus-terusan ngobrol, ada saja yang mereka jadikan topik pembicaraan. Tapi sekarang Yudha akan berangkat ke New York, Farah seperti kehilangan semangat untuk ngobrol. Bicara pun hanya sekedarnya saja dengan Yudha.

Akhirnya mobil yang dikemudikan pak Maman sampai juga di bandara Soetta. Mobil kemudian bergerak masuk ke terminal tiga bandara Soetta tempat terminal keberangkatan keluar negeri. Yudha melihat ke arah Farah, dia masih diam dan pandangan nya masih keluar jendela mobil. Di pangkuannya ada kotak warna putih, dia tidak memperhatikan mulai kapan Farah memegang kotak tersebut.

“Farah… turun yuk…”. Ajak Yudha setelah pak Maman menghentikan mobilnya di depan lobby terminal tiga.

“Eh… iya…”. Farah berkata tergagap karena dia masih melamun. Yudha menyadari itu dan sepertinya dia mantap untuk memberikan cincin berlian yang ada di sakunya kepada Farah.

Mereka kemudian berjalan berdua masuk ke dalam kawasan terminal tiga bandara Soetta sementara pak Maman membawa mobil ke tempat parkir.

Yudha langsung melakukan proses check-in dengan memberikan dokumen-dokumen yang biasanya diperlukan seperti paspor dan visa, tidak lupa tiket pesawat juga dia berikan. Farah melihat dari kejauhan, Yudha melihat ke arah Farah dan tersenyum.

Setelah semuanya selesai kemudian Yudha menghampiri Farah. Dia mengajak Farah untuk duduk dulu di Cafe yang ada disana sebelum Yudha masuk ke ruang boarding. Farah hanya diam saja ketika tangan nya ditarik Yudha untuk duduk di meja cafe tersebut. Mereka berdua kemudian duduk berhadap-hadapan. Farah masih memegang kotak putih yang berisi boneka dan fotonya.

“Mas… ini aku ada sesuatu buat mas Yudha”. Ujar Farah sambil memberikan kotak tersebut kepada Yudha.

“Apa ini…”. Tanya Yudha.

“Dibuka saja mas…”. Jawab Farah.

Kemudian Yudha membuka kotak tersebut. Ternyata isinya sebuah boneka kelinci warna pink dan sebuah foto Farah. Yudha kemudian tersenyum.

“Biar mas Yudha nggak lupa sama aku… itu boneka kesayanganku mas…”. Ujar Farah. Malu rasanya memberikan sesuatu kepada lelaki yang baru dikenalnya ini. Tapi dia tepis semua ini demi perasaannya kepada Yudha.

“Terima kasih ya… aku akan ingat kamu terus kok…”. Jawab Yudha.

“Iya mas, walaupun kita baru seminggu kenal tapi entahlah aku sepertinya sudah lama mengenal mas Yudha”. Lanjut Farah.

Yudha kemudian menggeser kotak tersebut ke sebelah kirinya. Dia kemudian memasukkan tangan ke saku jaketnya dan mengambil kotak kecil berisi cincin berlian yang dibelinya tempo hari. Yudha kemudian menggenggam tangan Farah. Jantung Farah berdetak kencang ketika Yudha menggenggam tangan nya, dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh seorang lelaki. Tapi kemudian Yudha melepaskan genggaman tangannya. Farah kemudian melihat ke arah telapak tangannya. Sepertinya ada sesuatu yang diletakkan Yudha disana. Sebuah kotak kecil berwarna perak.

“Apa ini mas…?”. Tanya Farah.

“Dibuka saja…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah membuka kotak tersebut. Isinya sebuah cincin putih, bermatakan berlian. Farah menutup mulut dengan telapak tangannya, bagus sekali cincin ini. Walaupun sekilas Farah bisa melihat bahwa cincin tersebut adalah cincin berlian. Apakah Yudha…

“Kamu nggak usah bilang apa-apa. Cincin itu boleh dipakai boleh juga nggak. Cincin itu aku berikan biar kamu nggak melupakan aku”. Ujar Yudha.

“Tapi mas…”. Farah berkata.

“Mas Yudha… bukan melamarku kan…?”. Tanya Farah. Hatinya tak karuan.

“Kalaupun ini kamu anggap bahwa aku melamar kamu nggak apa-apa”. Jawab Yudha.

“Yang pasti aku akan datang dua bulan lagi ke rumahmu”. Lanjut nya.

“Dua bulan lagi…”. Ujar Farah.

“Ya… sekembalinya dari New York aku akan langsung datang ke rumahmu”. Jawab Yudha mantap.

“Buat apa mas… kan sekarang juga aku ada disini”. Ujar Farah. Yudha tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Dia harus berangkat sekarang. Pintu ruang boarding sudah dibuka dan penumpang tujuan New York sudah bisa masuk ke ruang tunggu boarding.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Aku harus berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik ya…”. Kata Yudha.

“Eh… iya mas…”. Jawab Farah.

“Terutama jaga hatimu…”. Lanjut Yudha. Farah tersenyum dan mukanya bersemu merah. Mereka memang belum mempunyai komitmen apa-apa, tapi sepertinya keduanya sudah mengerti akan perasaan masing-masing.

Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu ruang boarding. Koper Yudha sudah masuk ke bagasi jadi dia berjalan santai tanpa membawa apa-apa, hanya sebuah kotak putih pemberian Farah yang dia pegang di tangan kiri. Di sebelah kanan nya Farah berjalan perlahan, dia masih menggenggam kotak yang berisi cincin pemberian Yudha. Yudha mencoba memegang tangan Farah. Farah hanya diam saja melihat Yudha memegang tangannya. Kenapa hatiku jadi tak karuan begini, pikir Farah.

Mereka berdua berhenti di depan pintu masuk pemeriksaan penumpang.

“Aku hanya bisa mengantar sampai sini mas”. Ujar Farah.

“Terima kasih untuk semuanya ya, semoga mas selamat sampai tujuan”. Lanjut Farah.

“Terima kasih juga ya, kamu sudah mau mengantarku sampai bandara”. Jawab Yudha. Farah mengangguk.

“Nanti kabari aku ya kalau sudah sampai New York”. Ujar Farah.

“Iya… aku berangkat ya…”. Yudha berkata sambil melepas genggaman tangan Farah.

“Iya mas…”. Jawab Farah. Yudha tersenyum dan berjalan ke arah petugas pemeriksaan penumpang. Farah masih berdiri melihat Yudha yang sedang menyerahkan berkas-berkas keberangkatan dia untuk diperiksa petugas. Setelah selesai kemudian dia melangkah masuk menuju koridor ruang boarding. Hanya sampai disini dia bisa melihat Farah. Dia kemudian berbalik, Farah masih berdiri disana dan melambaikan tangan. Yudha pun melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan. Farah berkata hati-hati dari kejauhan tanpa suara, Yudha mengangguk dan kemudian melangkah masuk ke ruang tunggu boarding.

***

Farah menarik nafas panjang. Dia kemudian melangkah menuju lobby terminal tiga. Dia menghubungi pak Maman untuk menjemputnya di lobby. Dia berjalan sambil masih memegang kotak cincin pemberian Yudha. Pak maman sudah sampai depan lobby, Farah kemudian masuk kedalam mobil.

“Kita kemana lagi mbak…”. Tanya pak Maman.

“Kita langsung pulang saja pak”. Jawab Farah.

“Baik mbak…”. Ujar pak Maman. Dia kemudian mengarahkan mobil menuju rumah Farah.

Sepanjang jalan Farah masih melihat kotak cincin tersebut. Tutup kotak tersebut dibuat transparan di atasnya sehingga dia bisa melihat cincin itu. Farah perlahan membuka kotak tersebut, tak ada salahnya dia mencoba memakai cincin tersebut. Farah kemudian memasukkan cincin tersebut ke jari manis tangan kanan nya. Cincin itu pas sekali di jarinya, dari mana Yudha tahu ukuran jarinya, pikir Farah. Dia kemudian tersenyum dan membolak-balikan tangannya.

Sesampainya di rumah, Farah langsung masuk ke ruang tamu.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah kemudian duduk di sofa ruangan itu.

Mama Farah keluar dari ruang tengah. Dia melihat anak gadisnya senyum-senyum sendiri.

“Yudha sudah berangkat?”. Tanya mama.

“Sudah mam, tadi aku antar sampai pintu ruang boarding”. Jawab Farah.

“Oh begitu, syukur kalau sudah berangkat. Eh itu apa…?”. Tanya mama sambil melihat ke arah jari manis kanan anaknya.

“Tadi Yudha yang ngasih mam”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Jadi… Yudha melamar kamu…?”. Tanya mama kaget.

“Nggak sih mam… tadi dia ngasih buat kenang-kenangan saja katanya. Tadi aku juga nanya apa dia melamarku tapi dia nggak bilang iya atau tidak. Nanti saja katanya dua bulan lagi dia mau datang kerumah”. Terang Farah.

“Oh begitu, berarti dia ingin memastikan kamu tidak kelain hati”. Ujar mama sambil tersenyum.

“Nggak tahu juga sih mam…”. Jawab Farah.

“Tapi perasaan kamu gimana…?”. Tanya mama.

“Ya… senang sih mam”. Jawab Farah.   

“Seandainya nanti Yudha melamar kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama…”. Farah memeluk mamanya.

“Kalau memang Yudha jodoh kamu, mama nggak keberatan sama sekali. Mama merasa kamu juga punya pemikiran yang sama dengan Yudha. Sejak dia masuk rumah ini mama lihat sikap kamu lain kepada dia, beda dengan sikap kamu kepada lelaki lain sebelum ini yang mencoba mendekati kamu”. Ujar mama.

“Tadi dia bilang apa sebelum berangkat?”. Tanya mama.

“Tadi dia bilang jaga diri baik-baik dan terutama jaga hatimu… gitu mam…”. Jawab Farah.

“Hmmmm… romantis banget sih, kalian tuh belum juga jadian tapi sikapnya udah kayak pacaran…”. Kata mama.

“Ah mama…”. Kata Farah malu-malu.

“Kira-kira dua bulan lagi dia mau ngapain ya mam…?”. Tanya Farah.

“Kalau nanti ternyata dia melamar kamu bagaimana? Mau langsung diterima?”. Tanya mama.

“Ah gak tau ah mam…”. Jawab Farah.

“Ih… anak mama malu-malu”. Ujar mama.

“Farah… mama ini sudah mulai tua… jadi alangkah baiknya kamu segera menikah”. Lanjut mama.

“Ih mama… kok langsung nyuruh Farah menikah sih…”. Ujar Farah.

“Belum tentu juga Yudha ngajak aku nikah”. Lanjutnya.

“Tapi mama yakin, dia akan datang kesini dan melamar kamu”. Ujar mama.

“Mama tahu dari mana?”. Tanya Farah.

“Ya… feeling mama saja. Feeling mama nggak pernah salah loh…”. Jawab mama.

“Kalau nanti dia melamar kamu sama mama, mama akan langsung terima. Itu juga kalau kamu mau”. Lanjut mama.

“Kalau nanti kamu nikah, jadi karir artis kamu bagaimana?”. Tanya mama.

“Mama… belum apa-apa udah bicara sejauh itu sih…”. Jawab Farah.

“Kamu belum ada kontrak baru lagi kan…?”. Tanya mama.

“Belum sih mam… tapi setelah film yang sekarang aku main di dua FTV lagi mam, paling satu bulan lebih syuting nya”. Jawab Farah.

“Setelah itu kamu nggak usah terima kontrak dulu ya…”. Ujar mama.

“Mama… itu semua kan masih jauh, Farah aja masih belum mikir sejauh itu”. Jawab Farah.

“Udah… feeling mama gak akan salah. Mama juga ingin cepat-cepat punya cucu…”. Kata mama Farah sambil tersenyum.

“Ya ampun mama… sampai sejauh itu pemikiran mama…”. Ujar Farah. Mereka berdua kembali berpelukan.

Mama hanya tersenyum mendengar anaknya berkata begitu. Tapi dia yakin dengan perasaannya bahwa Yudha akan melamar anaknya sepulang dari New York nanti. Sudah saatnya untuk Farah bahagia, dia juga ingin secepatnya punya cucu. Yudha anak baik, walaupun mereka baru saling kenal selama seminggu, tapi dalam seminggu ini mereka selalu jalan berdua, menemani Farah di tempat syuting, makan bareng dan diantar pulang sampai rumah. Mama Farah senang dengan perkembangan anak gadisnya. Dia pun percaya sama Yudha sehingga dia tidak berkata apa-apa ketika mereka berdua jalan bareng.

***

Dua puluh empat jam kemudian Yudha sudah sampai di New York. Selama di pesawat pikiran nya tak bisa lepas dari sosok Farah. Kotak yang berisi boneka dan foto Farah tak lepas dari pangkuannya selama di pesawat. Yudha sudah yakin sekali dengan perasaannya. Dia akan segera melamarnya setibanya kembali ke Jakarta. Setelah pesawatnya mendarat dia memesan taksi dan bergegas menuju apartemennya. Waktu menunjukkan jam empat pagi ketika dia tiba di apartemen nya. Besok pagi dia harus segera bertugas di KJRI. Yudha tak sabar ingin segera menyelesaikan tugas nya disini dan kembali ke Jakarta.

Yudha membuka kotak yang diberikan Farah. Dia mengambil boneka dan disimpan di tempat tidurnya. Kemudian dia mengambil foto Farah kemudian ditempatkan di meja kerjanya. Dia tersenyum melihat foto tersebut. Farah memang cantik… Oh iya aku harus segera memberitahukan nomorku disini kepada Farah, pikir Yudha. Dia kemudian mengambil HP nya, dia mengetikkan nomor barunya dan mengirimkannya kepada Farah lewat whatsapp.

‘Farah ini nomor baruku. Aku sudah sampai di New York, sekarang lagi istirahat di apartemen.’

Begitu pesan Yudha, dia kemudian menyimpan HP nya di meja. HP nya kemudian berbunyi tanda ada pesan masuk.

‘Iya mas, syukur kamu sudah sampai dengan selamat.’

Balas Farah

‘Kamu lagi ngapain?’

Balas Yudha

‘Aku lagi duduk di kamar’

Balas Farah

‘Kamu nggak kemana-mana?’

Balas Yudha

‘Nggak ah mas lagi males pengen di rumah aja.’

Balas Farah

‘Eh sebentar mas aku mau kirim foto.’

Kemudian ada pesan masuk yang berisi foto. Ternyata itu foto tangan Farah, di jarinya sudah memakai cincin yang diberikan Yudha kemarin.

Yudha tersenyum melihatnya. Dia tidak salah dengan perasaannya.

‘Bagus nggak mas?’

Balas Farah

‘Iya bagus, pas sekali ya di jari manismu’

Balas Yudha

‘Terimakasih ya mas, kok mas Yudha tahu ukuran jariku?’

Balas Farah

‘Aku kira-kira saja, ternyata pas juga ya di jarimu.’

Balas Yudha

‘Oh iya, mas Yudha langsung kerja pagi ini?’

Balas Farah

‘Iya langsung kerja, masih banyak tugas.’

Balas Yudha

‘Ya sudah mas istirahat dulu jadi nanti kerja sudah segar lagi.’

Balas Farah

‘Iya, aku istirahat dulu ya. Salam sama mama ya.’

Balas Yudha.

Yudha kemudian merebahkan diri di tempat tidur. Sebelumnya dia mengambil fotonya dengan boneka pemberian Farah. Dia kemudian mengirimkannya kepada Farah, lalu tertidur pulas.

***

Farah sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Dia sudah mulai melakukan proses syuting film nya. Tapi hari-harinya terasa kosong sekarang, tidak ada Yudha yang menjemput dia sehabis syuting.

Yudha pun sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Bedanya sekarang Yudha lebih semangat bekerja, dia ingin segera menyelesaikan tugas nya yang hanya tersisa dua bulan lagi di New York. Dia ingin segera kembali ke Jakarta dan segera melamar Farah. Secepat inikah dia akan melamar Farah? Menyatakan perasaan saja belum, apalagi sampai pacaran. Tapi niat Yudha dari semenjak bertemu dan kenalan adalah ingin mencari istri bukan mencari pacar. Kapan lagi dia punya kesempatan langka seperti ini. Ada wanita cantik yang sepertinya juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya, begitu pikir Yudha.

Farah seperti biasa diantar mamanya ke lokasi syuting. Kali ini mama Farah tidak ada urusan apa-apa jadi seharian menemani Farah syuting. Ketika Farah sedang ‘break’ syuting, dia dikagetkan dengan kedatangan sahabatnya Myra.

“Hai Farah…”. Sapa Myra.

“Hai Yaya… ya ampun kapan kamu pulang dari Bali?”. Tanya Farah. Mereka kemudian berpelukan. Myra kemudian menyalami mama Farah.

“Siang tante…”. Kata Myra.

“Eh Myra… sudah pulang bulan madu, tambah cerah kayaknya…”. Ujar mama Farah.

“Ah tante bisa aja”. Jawab Myra.

“Eh… bagaimana Yudha…”. Tanya Myra kepada Farah.

“Bagaimana apanya…”. Jawab Farah.

“Ya… hubungan kalian…”. Tanya Myra.

“Ya… biasa aja…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yee… biasa aja tapi senyum-senyum malu gitu”. Ujar Myra.

“Eh itu apa…?”. Myra melihat di jari manis Farah ada cincin berkilau melingkar disana. Itu pasti cincin berlian, pikir Myra.

“Oh ini… dikasih sama Yudha…”. Jawab Farah malu-malu.

“Hah… Yudha sudah melamar kamu… kapan… kok gak bilang-bilang sih… awas ya Yudha…”. Kata Myra gemas.

“Bukan… Yudha belum melamarku. Dia hanya bilang ini kenang-kenangan saja dari dia katanya”. Jawab Farah.

“Waah… kenang-kenangan kok cincin berlian sih… eh tadi kamu bilang Yudha belum melamar kamu”. Kata Myra.

“Iya belum…”. Jawab Farah.

“Berarti dia mau melamar kamu dong…”. Kata Myra menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih…”. Jawab Farah tersenyum malu-malu.

“Tuh… kan malu-malu… kamu tuh semenjak kenal sama Yudha kok jadi suka malu-malu gitu sih. Kemarin-kemarin kayaknya kamu nggak pernah gini deh…”. Ujar Myra.

“Ah biasa aja kali…”. Jawab Farah.

“Terus Yudha sudah berangkat ya sabtu kemarin…”. Ujar Myra.

“Iya sabtu kemarin jam tiga sore dia terbang ke New York”. Jawab Farah.

“Iya Farah juga ikut nganter kok ke bandara”. Mama Farah yang tadi diam saja ikut berbicara. Farah hanya tersenyum.

“Oohhh… nganterin sampai bandara… cie… cie… yang nganterin ke bandara…”. Kata Myra kembali menggoda Farah.

“Yaya… apaan sih. Seneng banget ya godain aku…”. Muka Farah sedikit memerah.

“Ih tante… liat mukanya Farah merah gitu. Kayaknya ada sesuatu nih… cerita dong…”. Mama Farah hanya tersenyum.

“Yudha bilang jaga hatimu ya…”. Mama Farah yang bicara.

“Mama… apaan sih…”. Muka Farah semakin merah.

“Ya ampun… ’so sweet’… Yudha bilang gitu… kayaknya sepulang dari New York mau langsung lamaran nih…”. Kata Myra terus-terusan menggoda Farah.

“Udah ah… aku mau ‘take’ dulu…”. Ujar Farah menghindari Myra yang terus-terusan menggodanya. Myra hanya tertawa melihat Farah malu-malu dia godain. Kemudian Myra duduk disamping mama Farah.

“Menurut tante bagaimana Yudha…?”. Tanya Myra kepada mama Farah.

“Yudha anaknya baik, sopan dan kelihatannya memang mereka saling suka. Tapi masih belum saling menyatakan”. Jawab mama Farah. Myra merasa lega, tidak salah dia mengenalkan Yudha kepada keluarga ini.

“Terus selanjutnya bagaimana tan?”. Tanya Myra.

“Yudha bilang dua bulan lagi sehabis dari New York akan datang langsung ke rumah”. Jawab mama Farah.

“Wah jangan-jangan Yudha memang berniat melamar Farah tan…”. Ujar Myra.

“Feeling tante juga begitu…”. Jawab mama Farah.

“Terus bagaimana tan… kalau memang benar Yudha mau melamar Farah, diterima gak kira-kira…?”. Tanya Myra penasaran.

“Tante sih setuju-setuju saja, hanya Farah nya masih malu-malu gitu kalau ditanya”. Jawab mama Farah. Myra semakin lega. Sepertinya dia harus memberitahu Yudha soal ini biar dia tambah semangat.

“Oh iya tan… ini ada oleh-oleh dari Bali”. Kata Myra sambil memberikan dua kantong yang masing-masing berisi kain pantai khas Bali.

“Waduh yang bulan madu sempat-sempatnya beli oleh-oleh. Terimakasih ya…”. Jawab mama Farah.

“Iya sama-sama tante. Oh iya saya langsung jalan ya mau ke tempat syuting”. Ujar Myra pamitan.

“Iya terimakasih ya oleh-olehnya”. Jawab mama Farah.

Myra kemudian melambaikan tangan ke arah Farah yang bersiap melakukan adegan syuting. Farah juga melambaikan tangan.

Myra kemudian melangkah menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari lokasi syuting Farah. Dia harus segera berangkat ke lokasi syuting. Tadi dia menyempatkan datang ke tempat syuting Farah, dia ingin tahu perkembangan hubungan sahabatnya itu dengan Yudha. Ternyata perkembangan nya sangat positif, dia juga tidak menyangka akan secepat ini mereka berhubungan. Mungkin sudah saling cocok jadi tidak harus nunggu lama untuk saling memahami satu sama lain.

***

Pagi ini Yudha sudah siap-siap berangkat ke tempat kerjanya di KJRI New York. Kemarin seharian dia mulai menyesuaikan diri lagi dengan situasi kerja yang ada di New York. Dia belum sempat menghubungi Farah lagi karena kesibukan pekerjaannya. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikannya karena seminggu cuti pulang ke Jakarta.

Dia kemudian duduk di sofa dan melihat ke arah tempat tidurnya. Apartemen Yudha memang tidak terlalu besar, hanya satu ruangan saja ukuran studio. Tidak ada ruang tamu atau ruang yang lain, jadi tempat tidur dan sofa berada dalam satu ruangan. Dia sengaja tidak menyewa apartemen yang terlalu besar. Selain karena harga sewa apartemen di New York yang begitu mahal, juga karena dia pikir hanya tiga tahun saja dia tugas di New York.

Kelinci pink yang diberikan Farah masih ada disana. Juga foto Farah yang sedang tersenyum masih ada di mejanya. Yudha tersenyum mengingat kembali Farah. Dia akan menghubunginya hari ini. Semoga dia sudah pulang syuting. Baru saja Yudha akan berangkat, ada telpon whatsapp yang masuk, Myra ternyata yang telpon.

“Halo Yud…”. Myra memulai percakapan.

“Halo Ya… kamu sudah pulang dari Bali…?”. Tanya Yudha.

“Ah aku gak mau jawab dulu. Kamu melamar Farah? Kok gak bilang-bilang sih…”. Tanya Myra.

“Kamu sudah ketemu Farah?”. Tanya Yudha.

“Ih Yudha… bukanya jawab malah nanya lagi…”. Ujar Myra.

“Aku belum melamar dia. Hanya ngasih kenang-kenangan saja supaya dia nggak lupa sama aku”. Jawab Yudha. Sepertinya Myra sudah tahu kalau dia memberikan cincin kepada Farah.

“Kenang-kenangan kok cincin berlian sih…”. Myra mencibir.

“Ya habis apalagi… yang ada dipikiranku hanya cincin yang cocok. Kalau kalung nanti terlalu gimana gitu…”. Jawab Yudha.

“Wah kalung… lebih-lebih kalau itu”. Ujar Myra. Yudha tertawa mendengar sahabatnya bicara begitu.

“Eh… terus apa kata Farah…?”. Tanya Yudha.

“Biasa lah… dia masih malu-malu. Aku godain habis-habisan tadi siang sampai mukanya merah hehe…”. Kata Myra.

“Yaya… tega banget sih kamu… kasian kan Farah…”. Ujar Yudha.

“Duh… yang kasian…”. Kata Myra tertawa. Dia juga ingin menggoda Yudha. Yudha hanya tertawa digodain Myra seperti itu.

“Eh… tapi gimana rencana kamu selanjutnya? Mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Iya… mau sih… tapi kecepetan nggak sih Ya… aku kan baru kenal dia seminggu”. Ujar Yudha.

“Ya nggak apa-apa Yud, kalian nggak usah pacaran, langsung nikah aja. Nanti pacaran nya kalau sudah nikah aja”. Jawab Myra.

“Langsung nikah ya…”. Ujar Yudha.

“Ya iya lah… habis mau ngapain lagi. Nggak usah nunggu lama. Mamanya Farah juga udah setuju kok..”. Ujar Myra.

“Masa… dari mana kamu tahu?”. Tanya Yudha.

“Tadi waktu aku ke tempat syuting Farah, ada mamanya juga disana. Aku tanya langsung sama mamanya Farah. Dia bilang sih setuju-setuju saja kalau kamu melamar Farah. Hanya Farah nya masih malu-malu kalau ditanya. Jadi kamu harus meyakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Oh gitu ya…”. Jawab Yudha.

“Katanya pas pulang nanti ke Jakarta kamu mau langsung ke rumahnya? Mau langsung melamar dia kan…”. Tanya Myra.

“Loh kok tau…?”. Tanya Yudha.

“Mamanya Farah yang bilang. Kamu tuh nggak ngasih tau aku sih perkembangan terakhir hubungan kamu sama Farah”. Ujar Myra.

“Bukan begitu, aku belum sempat Ya. Kemarin pas sampai disini aku langsung kerja, banyak kerjaan yang tertunda karena aku pulang ke Jakarta. Lagian aku nggak mau ganggu bulan madu kamu”. Jawab Yudha.

“Jadi gimana… mau langsung melamar Farah?”. Tanya Myra.

“Kayaknya gitu sih…”. Jawab Yudha.

“Jangan kayaknya dong… kamu harus yakin. Udah lamar aja langsung”. Ujar Myra.

“Iya Ya…. Aku nanti pas pulang ke Jakarta mau langsung ke rumahnya buat melamar dia”.

“Sendirian…? Kalau kamu mau, nanti aku sama Pras bisa kok nemenin”. Ujar Myra.

“Gimana Yud…”. Tanya Myra.

“Apa mau sendirian aja?”. Lanjut Myra.

“Iya sendirian aja dulu kali”. Jawab Yudha.

“Nanti kalau semuanya lancar, aku akan mengadakan lamaran secara resmi. Kamu juga nanti datang ya…”. Lanjut Yudha.

“Ya sudah kalau begitu. Kamu mau kerja kan…”. Tanya Myra.

“Iya ini aku mau jalan, tapi mau sarapan dulu di cafe”. Jawab Yudha.

“Jangan lupa, kamu harus yakinkan Farah kalau kamu serius sama dia”. Ujar Myra.

“Iya nanti aku telpon lagi Farah”. Jawab Yudha.

“Udah dulu ya bye…”. Myra mengakhiri pembicaraan.

“Bye juga…”. Jawab Yudha kemudian menutup HP nya.

Yudha kemudian bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya di KJRI.

***

Amal dan Niat

_INSPIRASI_

🎇*AMAL & NIAT*🎇

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah…barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia…barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

*Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan sama sekali, maka tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti… setidaknya itu menjadi sedekah untuk dirimu.*

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum”.(HR. Muslim)

💦 Mari Awali hari ini dg Pikiran dan prilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan… Aamiin…

Puisi terakhir WS Rendra

Puisi terakhir WS Rendra
(beliau buat sesaat sebelum beliau wafat)

                               
Hidup itu seperti UAP,  yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA, 
harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku, Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …

Sebab aku yakin….
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU  adalah yang ter BAIK bagiku ..

Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

Ketika aku berat utk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
….aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN, Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA

Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.

Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi LENTERA yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk kebaikan.

Diplomat Bag. 5 – Binar-binar Bahagia

Farah kemudian masuk ke ruang tengah dimana mama nya sedang menonton TV. Farah kemudian duduk di samping mamanya dan terdiam. Raut mukanya nampak murung.

“Kamu kenapa…?”. Tanya mama.

“Aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh gitu… tumben…”. Tanya mama.

“Tadi aku ikut Yudha ziarah ke makam orang tuanya mam, dia tadi sedikit menangis disana, aku jadi ingat papa mam…”. Jawab Farah.

“Oh begitu…”. Mama tersenyum.

“Terus kamu kemana lagi?”. Tanya mama.

“Sebelum ziarah tadi dia ke panti asuhan dulu mam, dia bagi-bagi tas sama bingkisan disana”. Jawab Farah.

“Oh begitu, dia sudah biasa mungkin berkunjung kesana”.  Ujar mama.

“Bukan biasa mam, ternyata Yudha tuh anak panti sana mam, dia diadopsi sama orang tuanya yang meninggal kecelakaan itu mam. Tadi juga aku ketemu sama ibu asuhnya disana dan dia cerita banyak tentang Yudha mam”. Ujar Farah.

“Oh begitu, eh… tapi tunggu, kok kalian sudah sejauh itu sih…?”. Tanya mama. Wajah Farah kemudian sedikit memerah.

“Loh kok anak mama malu gitu…”. Tanya mama tersenyum. Farah kemudian memeluk mamanya.

“Mama…”. Farah berkata. Dia masih memeluk mamanya.

“Kamu kenapa…? Suka ya sama Yudha?”. Tanya mamanya.

“Ah mama… baru saja kenal dua hari…”. Jawab Farah.

“Tapi kok kalian sudah akrab begitu…”. Tanya mama.

“Ya… gak tahu sih mam, Farah juga nggak ngerti, kalau ngobrol sama Yudha kok aku nyambung ya mam…”. Jawab Farah. Dia memang tidak pernah menyimpan rahasia kepada mamanya. Apa yang dia rasakan biasanya selalu diceritakan kepada mamanya.

Mamanya sudah tahu sifat anak gadisnya ini, biasanya dia tidak pernah seperti ini kepada lelaki yang dia kenal sebelumnya. Apa benar anaknya suka sama Yudha? Mungkin juga Yudha suka sama anaknya, besok juga dia mau lihat anaknya syuting lagi. Tapi biarlah, anaknya sudah pantas punya pendamping. Kalau memang Yudha jodohnya Farah apa mau dikata. Yudha juga sikapnya baik, walaupun baru dua hari mengenal dia tapi sepertinya dia anak yang baik dan penurut, buktinya kalau ketemu dia selalu menyalaminya seperti kepada orang tuanya sendiri.

***

Sesuai dengan janjinya kemarin, jam sepuluh pagi Yudha sudah ada di lokasi syuting Farah. Sebelumnya dia sudah kontak Farah untuk memberikan lokasi tempat dimana dia syuting hari ini lewat whatsapp. Yudha memarkirkan kendaraannya di lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat syuting. Dia melihat Farah sedang melaksanakan proses syuting. Tidak terlihat mobilnya di sana, jadi benar mamanya Farah hanya mengantarkan Farah ke lokasi syuting dan langsung pergi bertemu dengan teman bisnisnya.

Sudah waktunya istirahat siang, syuting pun sementara berhenti untuk istirahat. Setelah jam makan siang biasanya syuting akan dilanjutkan kembali. Farah sedang duduk di kursi pemain. Dia melihat sekeliling, belum terlihat Yudha atau mobilnya, padahal Yudha sudah ada disekitar lokasi syuting hanya tempatnya agak jauh sehingga tidak terlihat Farah. Mungkin Yudha tidak jadi datang, begitu pikir Farah.

Yudha sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah Farah yang sedang duduk. Dia melambaikan tangan ke arah Farah, Farah tersenyum dan mengajaknya mendekat ke kursi tempat duduknya, ternyata dia datang juga, Farah berkata dalam hati.

“Hai mas… Kok jalan nya dari sebelah sana? Jauh ya parkir mobilnya?”. Tanya Farah.

“Nggak kok dekat, cuma mobilnya nggak kelihatan dari sini, saya sudah datang dari tadi dan lihat kamu syuting”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ternyata dia sudah datang dari tadi, Farah tersenyum.

“Kamu lagi istirahat kan?”. Tanya Yudha, Farah mengangguk mengiyakan.

“Kita makan yuk…”. Ajak Yudha.

“Iya boleh”. Kali ini Farah mulai terbiasa dengan ajakan makan dari Yudha sehingga tidak berpikir dua kali menerima ajakan lelaki ini.

“Bang Yopy saya makan dulu ya…”. Farah berkata kepada bang Yopy yang sedang duduk di kursi sutradara.

“Oke, nanti kita ‘take’ lagi jam dua ya, jangan telat…”. Kata bang Yopy.

“Iya bang…”. Jawab Farah sambil berjalan bersama Yudha menuju mobilnya.

“Kita makan dimana?”. Tanya Yudha setelah mereka berdua berada didalam mobil Yudha.

“Saya terserah mas Yudha saja makan dimana”. Jawab Farah.

“Kita makan ayam saja mau nggak?”. Tanya Yudha sambil menjalankan mobilnya.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

“Ada tempat makan ayam yang enak disini”. Ujar Yudha.

“Oh gitu mas…”. Ujar Farah.

“Namanya Ayam Kriwil”. Ujar Yudha.

“Mas Yudha hobi kuliner ya, banyak tahu tempat makan di Jakarta”. Kata Farah.

“Nggak juga, hanya saja semenjak kecil mama papa selalu mengajak makan di luar rumah setiap pekan, dan tempatnya beda-beda, jadi saya banyak mengenal berbagai makanan”. Terang Yudha.

“Mama sama papa mas Yudha sayang banget ya kayaknya sama mas Yudha”. Ujar Farah,

“Iya begitulah, mungkin karena mereka tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain saya, jadi saya selalu mereka bawa kemana saja termasuk ke tempat makan favorit mereka”. Jawab Yudha.

“Nah… kita sudah sampai”. Ujar Yudha.

Setelah Yudha memarkirkan kendaraan di depan, mereka kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam area resto ayam tersebut. Mereka berdua memesan makanan dan makan berdua di resto tersebut. Mereka makan sambil ngobrol tentang film yang sekarang sedang diperankan oleh Farah. Dari obrolan mereka Yudha menjadi tahu banyak tentang industri film yang ada di Indonesia khususnya di Jakarta. Farah banyak bercerita tentang perjalanan karirnya di dunia film. Entah mengapa dia selalu ingin bercerita apa saja kepada lelaki di hadapannya ini. Yudha juga selalu menjadi pendengar yang baik apabila Farah sedang bercerita tentang dirinya.

Selesai makan mereka kembali ke tempat syuting Farah.

“Kamu selesai syuting jam berapa?”. Tanya Yudha ketika Farah sudah kembali duduk di kursi pemain.

“Sekitar jam lima sore mas, soalnya hari ini nggak ada ‘scene’ malam jadi saya bisa pulang sebelum malam”. Jawab Farah.

“Mama kamu jemput jam berapa?”. Tanya Yudha lagi.

“Belum tahu mas”. Jawab Farah.

“Suka lama kalau dia pergi sama tante Tika”. Lanjut Farah.

“Gini aja, saya ada keperluan sebentar, nanti saya jemput kamu jam lima sore”. Ujar Yudha.

“Jangan mas… saya sudah banyak merepotkan mas Yudha”. Ujar Farah, padahal dalam hatinya dia ingin Yudha menjemputnya sore nanti dan mengantarkannya sampai rumah.

“Nggak kok… nggak repot…”. Jawab Yudha.

“Saya pergi dulu ya, nanti saya jam lima kesini lagi”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

Yudha kemudian pergi dari lokasi syuting Farah. Dia ingin memberikan sesuatu kepada Farah sebelum dia kembali ke New York. Dia bergegas mengendarai mobilnya menuju ke arah Jatinegara, disana ada sesuatu yang akan dibelinya dan diberikan kepada Farah.

Jam empat sore Yudha sudah tiba kembali ke lokasi syuting. Sepertinya syuting sudah selesai karena kru sudah membereskan peralatan syuting dan para pemain pun sudah duduk di tempatnya masing-masing. Yudha melihat Farah sedang duduk dan memainkan HP nya. Dia kemudian mendekatinya.

“Sudah selesai syuting nya?”. Tanya Yudha ketika sudah berada di samping Farah.

“Eh mas Yudha, sejak kapan ada disini, kok gak bilang-bilang, kaget saya…”. Jawab Farah, dia kaget karena sedang membuka kontak HP nya dan berencana menghubungi Yudha, untung Yudha tidak memperhatikan, pikirnya.

“Baru saja datang, tadi saya lihat kok sudah selesai syutingnya, jadi saya langsung saja kesini”. Ujar yudha.

“Iya mas, ini cuacanya mendung jadi kurang mendukung buat syuting, jadi bang Yopy putuskan besok saja syuting dilanjutkan”. Jawab Farah.

“Oh gitu… jadi kita pulang sekarang?”. Tanya Yudha.

“Mmmm sebentar saya telpon mama dulu ya…”. Jawab Farah kemudian dia menghubungi mamanya.

“Halo mam… masih lama sama tante Tika?”. Tanya Farah.

“Iya masih lama, kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah,

“Iya sudah selesai, kalau gitu Farah pulang diantar Yudha saja ya…”. Kali ini dia tidak meminta izin dan langsung bilang mau diantar Yudha.

“Ya sudah kalau begitu, mama sampai rumah jam tujuh malam. Hati-hati ya…”. Ujar mama.

“Iya mam… daah”. Farah kemudian menutup HP nya.

“Ayo mas kita pulang…”. Ajak Farah. Kemudian dia menghampiri bang Yopy.

“Bang saya pulang duluan ya, sampai besok…”. Ujar Farah kepada bang Yopy.

“Oke… kok sekarang dijemput terus…”. Ujar bang Yopy.

“Sekalian pulang bang…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Ya sudah, sampai besok…”. Jawab bang Yopy. Yudha mengangguk ke arah bang Yopy. Mereka kemudian berjalan ke arah mobil Yudha.

“Kita kemana dulu Far…?”. Tanya Yudha.

“Mama kamu masih lama kan sampai rumah…”. Lanjut Yudha.

“Iya sih masih lama…”. Jawab Farah.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu…”. Ajak Yudha.

“Jalan-jalan kemana?”. Tanya Farah.

“Kalau ke mall gimana? Ke Mall Kelapa Gading saja yang dekat dari sini”. Jawab Yudha.

“Mmmm boleh deh…”. Jawab Farah, mereka berdua tersenyum. Yudha segera mengarahkan mobilnya menuju ke arah Kelapa Gading.

Farah dan Yudha sudah terbiasa untuk ngobrol berdua sejak dua hari ini. Ada saja topik pembicaraan mereka, mulai dari film yang dibintangi Farah sampai urusan politik yang menjadi bidang pekerjaan Yudha di New York. Mereka betah berlama-lama ngobrol, walaupun berbeda profesi tetapi mereka selalu nyambung dalam setiap obrolan.

Setibanya di mall, mereka langsung turun dan Yudha menyerahkan mobilnya ke vallet service yang ada disana. Mereka kemudian berjalan memasuki lobby mall. Yudha melihat ada beberapa orang yang melihat ke arah Farah dan berbisik-bisik. Wajar mereka memperhatikan Farah karena dia kan artis, begitu pikir Yudha.

“Kamu mau makan apa jalan dulu aja…?”. Tanya Yudha.

“Kita jalan dulu aja yuk…”. Jawab Farah. Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor mall, mereka berjalan sambil terus ngobrol.

“Eh ada baju yang bagus, mampir ya sebentar”. Ujar Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha, kemudian mereka mampir di salah satu butik yang ada di mall tersebut. Farah masih memilih-milih baju sementara Yudha masih setia mendampinginya. Sesekali Farah meminta pendapat Yudha mengenai baju yang dipegang nya, Yudha selalu bilang bagus ketika Farah menanyakan pendapatnya.

“Kok bilang bagus terus mas…?”. Tanya Farah.

“Iya memang bagus, baju apapun cocok kalau kamu yang pakai”. Jawab Yudha. Farah tersenyum simpul. Kenapa dia selalu malu-malu ya di depan pemuda ini. Farah sudah memilih baju dan akan membayarnya di kasir. Yudha berinisiatif untuk membayar baju yang dibeli Farah.

“Udah mas gak usah, saya merepotkan mas Yudha terus dari kemarin”. Ujar Farah.

“Tapi bener kok nggak merepotkan”. Jawab Yudha.

“Lain kali saja ya mas…”. Ujar Farah.

“Ya sudah, tapi kalau sekarang kita makan nanti saya yang bayar ya”. Ujar Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah.

Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berjalan kembali di koridor mall tersebut.

“Kita makan yuk…”. Ajak Farah.

“Ayo, kamu mau makan dimana?”. Tanya Yudha.

“Di ‘Japanese Food’ aja yuk, disini ada menu ‘all you can eat’ yang enak”. Jawab Farah.

Mereka kemudian memasuki gerai masakan Jepang yang ada di mall tersebut.

“Silahkan mas… mbak.. untuk berapa orang?”. Sapa pelayan yang ada disitu.

“Dua orang saja”. Jawab Yudha.

“Silahkan lewat sini”. Kemudian pelayan yang ada disana menunjukkan meja untuk berdua yang ada disana.

“Kamu sering kesini?”. Tanya Yudha.

“Nggak juga sih, sama Myra juga pernah makan disini”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar Yudha. Kemudian ada pelayan yang menyuguhkan beberapa makanan yang siap untuk diolah di depan meja mereka.

“Kamu mau ngambil sayuran…?”. Tanya Yudha.

“Nggak mas, saya yang ada disini saja”. Jawab Farah.

“Ya sudah saya ambil sayuran dulu ya…”. Yudha kemudian berdiri dan menghampiri meja buffet yang ada disana. Walaupun Farah bilang tidak akan ambil sayuran tapi dia berinisiatif untuk mengambil beberapa sayuran dan beberapa makanan lagi disana.

“Kok dua piring mas…?”. Tanya Farah ketika Yudha kembali ke meja mereka dan membawa dua piring yang berisi sayuran dan makanan lain.

“Siapa tahu kamu mau jadi nggak usah ngambil lagi…”. Jawab Yudha.

“Oh iya mas… terima kasih ya…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

Kemudian mereka berdua mulai memasukkan makanan kedalam panci rebus yang ada disana. Setelah matang mereka mulai menyantap makanan tersebut. Selama itu mereka sesekali meneruskan obrolan apa saja tentang mereka berdua. Yudha merasa semakin mengenal wanita cantik di depannya ini.  Terasa tidak ada batasan lagi apabila ngobrol dengan Farah. Apa saja selalu Farah ceritakan, sesekali mereka tertawa apabila ada obrolan lucu yang mereka bicarakan.

Satu jam kemudian mereka selesai makan di restoran Jepang tersebut. Setelah melakukan pembayaran kemudian mereka berdua berjalan kembali menelusuri lorong mall menuju ke lobby mall tersebut.

“Kita langsung pulang?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, sudah mulai gelap”. Jawab Farah.

Yudha kemudian menghampiri petugas vallet untuk mengambil mobilnya sementara Farah duduk menunggu di kursi tunggu yang ada disana. Yudha kemudian menghampiri Farah yang sedang duduk, sementara petugas valet mengambil mobil Yudha yang sedang di parkir di basement mall tersebut.

“Farah…”. Ujar Yudha.

“Ya mas…”. Jawab Farah.

“Aku kan sudah beberapa kali ini ke rumah kamu, terus sudah bertemu juga dengan mama kamu”. Kata Yudha.

“Iya.. terus kenapa mas…?”. Tanya Farah.

“Mau nggak aku ajak kamu ke rumahku?”. Tanya Yudha.

“Oh gitu mas. Boleh sih mas…”. Jawab Farah.

“Besok atau lusa aku ajak kamu ke rumah ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Eh itu mobilnya sudah datang mas”. Lanjut Farah.

“Oh iya…”. Kemudian dia membuka pintu untuk Farah seperti biasa.

“Terima kasih mas”. Ujar Farah ketika dia masuk kedalam mobil. Yudha kemudian bergegas masuk ke mobilnya.

“Nanti aku kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan, mereka sudah menemaniku semenjak kecil, semenjak masih ada mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Iya mas boleh…”. Ujar Farah tanpa berusaha menolak ajakan Yudha. Sepertinya Farah memang ingin terus berada di dekat Yudha.

Yudha kemudian mengarahkan mobilnya menuju rumah Farah. Sepanjang perjalanan mereka masih terus ngobrol. Selalu ada saja topik pembicaraan mereka. Mereka bicara apa saja sampai tiba di rumah Farah. Terlihat mobil Farah sudah ada di depan rumahnya. Yudha kemudian turun diikuti oleh Farah.

“Farah pulang mam…”. Ujar Farah ketika dia masuk ke rumahnya. Yudha mengikutinya dari belakang. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu.

“Kalian jalan lagi…?”. Kata mama Farah ketika dia keluar dari ruang tengah.

“Iya mam…”. Kata Farah sambil tersenyum.

“Maaf ya tante saya mengajak Farah jalan terus”. Ujar Yudha sambil menyalami mamanya Farah seperti biasa.

“Kok minta maaf sih, seharusnya tante yang mengucapkan terimakasih. Nak Yudha sudah menjemput Farah dari lokasi syuting”. Jawab mama Farah.

“Oh iya kalian sudah makan…?”. Tanya mama Farah.

“Sudah mam, tadi makan di Mall Kelapa Gading”. Jawab Farah.

“Hmmm… makan berdua terus..”. Ujar mama Farah sambil tersenyum menggoda Farah.

“Mama apaan sih…”. Jawab Farah malu-malu.

“Tadi siang kalian makan dimana…?”. Mama Farah sudah punya firasat kalau tadi siang pun mereka makan berdua.

“Maaf tante tadi siang juga saya ngajak makan Farah”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Tuh kan… pasti kalian makan berdua lagi”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa kok, tante senang kalau Farah ada yang memperhatikan, kadang kalau nggak ada tante dia susah makannya. Makan di tempat syuting juga jarang, padahal kan ada nasi box tapi dia suka nggak mau makan”. Lanjut mama Farah.

“Iya tante…”. Jawab Yudha.

“Oh iya, besok mama mau berangkat pagi sama jeng Tika. besok kamu berangkat agak siang kan, naik taksi saja ya…”. Ujar mama kepada Farah.

“Oh kalau tidak keberatan biar saya saja yang antar Farah ke lokasi syuting tante”. Ujar Yudha antusias.

“Oh begitu, tapi merepotkan nggak…?”. Tanya mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Nggak kok tante, nggak sama sekali. Saya juga sedang tidak ada kegiatan seminggu ini. Biar saya saja besok yang antar Farah”. Ujar Yudha.

“Tuh kan Yudha nya juga mau kok…”. Kata mama kepada Farah.

“Kalau begitu saya pamit dulu tante, besok pagi saya kesini lagi”. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Terima kasih ya sudah bersedia nganter Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha. Kemudian dia keluar diikuti oleh Farah.

“Saya pulang dulu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas, terima kasih ya, hati-hati dijalan”. Jawab Farah.

“Iya…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

Dia kemudian masuk ke mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Farah, dia melambaikan tangan kepada Farah dan Farah pun membalas lambaian tangan Yudha.

***

Besoknya sesuai perkataan Yudha kemarin, dia sudah ada di rumah Farah pagi-pagi. Farah masih bersiap-siap membereskan keperluan syutingnya. Mama Farah juga sudah bersiap-siap berangkat diantar pak Maman sopir mereka. Setelah ngobrol sebentar kemudian mereka bertiga berangkat dari rumah Farah. Mama Farah berangkat diantar pak Maman sopirnya sementara Farah berangkat ke tempat syuting diantar Yudha.

Farah dan Yudha semakin sering ngobrol berdua dan makan berdua. Sepertinya sudah terjalin hubungan antara mereka berdua, tapi mereka berdua belum saling menyatakan. Hanya saja Yudha selalu bilang bahwa dia nyaman berdua terus dengan Farah. Farah masih malu-malu menjawab perkataan Yudha.

Besoknya pun Yudha mengantar Farah lagi ke tempat syuting. Seperti biasa mereka bertiga berangkat bersama dari rumah Farah dengan tujuan masing-masing. Mama Farah berangkat menemui jeng Tika sementara Farah dan Yudha berangkat ke tempat syuting.

Siang ini Farah syuting tidak sampai sore. Tadi siang mereka kembali makan berdua di daerah rawamangun, tempat makan baru lagi yang Yudha kenalkan kepada Farah. Yudha sudah menghubungi bi Neni untuk masak makanan kesukaan Yudha di rumah. Dia akan mengajak Farah makan di rumahnya hari ini.

“Sudah selesai syuting nya…?”. Tanya Yudha ketika Farah menghampirinya di tempat duduknya.

“Sudah mas…”. Jawab Farah.

“Masih siang, mama kamu juga belum pulang kan…”. Tanya Yudha.

“Iya nih mas, mama sekarang bisnis terus sama tante Tika”. Jawab Farah.

“Ya sudah, kalau begitu mau nggak hari ini saya ajak kamu ke rumah saya?”. Tanya Yudha.

“Tapi malu ah mas…”. Jawab Farah.

“Nggak ada siapa-siapa kok di rumah, hanya ada bi Neni dan mang Ukan”. Ujar Yudha.

“Mau ya…”. Lanjut Yudha.

“Tapi saya minta izin mama dulu ya…”. Jawab Farah.

“Iya boleh…”. Jawab Yudha.

Kemudian Farah menelpon mamanya.

“Mam… masih lama sama tante Tika…?”. Tanya Farah.

“Iya nih… mama masih ada sedikit urusan. Kamu sudah selesai syuting nya?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam sudah beres dari tadi. Masih siang mam beresnya”. Jawab Farah.

“Mam… aku minta izin mau ke rumahnya Yudha, boleh…?”. Tanya Farah.

“Hmmm… anak mama nih, sudah mau serius kayaknya…”. Jawab mama Farah.

“Mama…”. Farah sedikit cemberut.

“Mama sih… bisnis sama tante Tika terus”. Lanjut Farah.

“Iya ini juga kan demi kamu sayang…”. Jawab mama Farah.

“Jadi gimana… boleh nggak…”. Tanya Farah.

“Iya boleh… hati-hati ya sayang”. Jawab mama Farah. Dia tidak berprasangka macam-macam kepada Yudha. Dia yakin Yudha tidak bermaksud apa-apa dengan mengajak Farah main ke rumahnya. Mama Farah yakin Yudha anak baik dan tidak punya itikad buruk kepada Farah.

“Makasih ya mam… sampai ketemu di rumah ya…”. Farah kemudian menutup telponnya.

“Gimana… boleh…”. Tanya Yudha.

“Iya boleh mas…”. Jawab Farah sambil tersenyum.

“Yuk berangkat”. Ajak Farah.

“Ayo…”. Jawab Yudha.

Kemudian mereka berdua berangkat dari tempat syuting. Tujuannya hanya satu, ke rumah Yudha.

Sesampainya di rumah Yudha kemudian mereka berdua turun. Mang Ukan yang membuka pintu pagar rumah Yudha. Rumah yang masih asri, pikir Farah. Masih ada pohon-pohon besar di halamannya yang luas. Ada taman juga yang terawat rapih di depan rumah tersebut. Rumahnya pun masih bergaya klasik khas jaman dulu dengan atap yang masih tinggi. Farah tidak menyangka di Jakarta masih ada rumah seperti ini.

“Yuk masuk…”. Ajak Yudha setelah melihat Farah hanya berdiri sambil melihat ke sekeliling rumah.

“Iya mas…”. Jawab Farah.

“Kamu kaget ya… masih ada rumah seperti ini di Jakarta”. Ujar Yudha sambil melangkah masuk ke ruang tamu.

“Iya mas, jarang loh ada rumah seperti ini di Jakarta. Rumahnya adem mas, banyak pohon dan ada taman juga di depan. Nggak seperti rumah saya, halaman depan habis semua untuk parkir mobil”. Ujar Farah. Yudha tersenyum mendengar perkataan Farah.

“Ayo silahkan duduk”. Ujar Yudha kepada Farah. Kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu. Ruang tamunya juga masih bergaya klasik. Lantainya pun terbuat dari batu pualam yang sudah jarang sekali ditemukan sekarang ini.

“Kamu mau minum apa?”. Tanya Yudha.

“Apa saja boleh mas…”. Jawab Farah.

“Sebentar ya…”. Ujar Yudha. Kemudian dia masuk ke dalam. Tak lama kemudian Yudha sudah masuk ke ruang tamu lagi, kali ini dia ke ruang tamu bertiga dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi Neni masuk sambil membawa nampan yang berisi dua gelas Jus Jeruk. Seperti kata Yudha kemarin, dia ingin mengenalkan Farah kepada bi Neni dan mang Ukan.

“Farah… ini saya kenalkan dengan bi Neni dan mang Ukan. Bi… mang… kenalkan ini namanya Farah. Dia artis juga seperti Myra, dia sahabatnya Myra”. Ujar Yudha memperkenalkan bi Neni dan mang Ukan. Kemudian mereka bersalaman. Farah tersenyum, bi Neni dan mang Ukan mengangguk. Bi Neni kemudian meletakkan dua gelas Jus Jeruk di atas meja tamu.

“Bi Neni sama mang Ukan ini sudah menemani keluarga saya sejak saya kecil, jadi sudah saya anggap keluarga saya sendiri, bi Neni biasanya yang masak sehari-hari, kalau mang Ukan merawat taman yang ada di depan”. Terang Yudha.

“Oh dirumah non ini kemarin den Yudha ketinggalan kamera ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi benar”. Jawab Farah.

“Hehe… benar bi… Saya ketinggalan kamera di rumah Farah”. Yudha juga menjawab.

“Bibi sama mamang masuk dulu ya…”. Ujar bi Neni.

“Iya bi…”. Jawab Farah. Kemudian mereka berdua masuk lagi ke ruang dalam.

“Jadi tiga tahun ini mereka hanya berdua saja disini sementara saya tugas di New York”. Ujar Yudha setelah bi Neni dan mang Ukan masuk kedalam.

“Oh gitu mas”. Jawab Farah.

“Kalau mang Ukan tiap hari Jum’at suka membersihkan makam mama sama papa”. Ujar Yudha.

“Oh iya mas, pantes saja waktu kemarin kita ziarah, makamnya bersih dan rapih ya…”. Ujar Farah. Yudha kemudian terdiam.

“Mas Yudha ingat mama papa ya…”. Ujar Farah.

“Selalu ingat Far… tapi sudah takdir”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Hanya saja saya belum bisa memenuhi amanat mereka untuk segera menikah”. Lanjut Yudha.

“Tapi calonnya sudah ada kan…”. Tanya Farah memancing Yudha.

“Dulu sih saya sempat dikenalkan sama beberapa orang, tapi ya gitu, nggak ada yang cocok. Myra juga sempat mengenalkan teman nya tapi sama juga, belum ada yang cocok. Mungkin karena pekerjaan saya yang harus terus bepergian keluar negeri, jadi susah cari yang cocok”. Jawab Yudha.

“Oh gitu mas. Tapi sekarang nggak ada yang lagi deket sama mas Yudha?”. Tanya Farah lagi.

“Ada sih yang lagi deket”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Siapa mas…?”. Tanya Farah. Hatinya jadi tak karuan. Ternyata ada yang lagi deket sama Yudha selain aku, begitu pikir Farah.

“Kan kamu yang lagi deket sama saya sekarang”. Jawab Yudha. Farah mukanya agak sedikit memerah.

“Mas bisa aja”. Ujar Farah.

Bi Neni tiba-tiba masuk ke ruang tamu.

“Makanannya sudah siap den”. Kata bi Neni.

“Oh iya bi terima kasih”. Jawab Yudha, kemudian bi Neni masuk lagi kedalam.

“Yuk Far, kita makan”. Ajak Yudha.

“Oh iya mas. Mas Yudha ngajakin aku kesini buat ngajak makan…”. Ujar Farah.

“Iya… sekalian nyobain masakan bi Neni. Dari kemarin kan kita makan di luar terus, sekali-kali kamu nyobain masakan rumah saya”. Jawab Yudha.

“Yuk…”. Ajak Yudha sambil berdiri.

“Iya mas”. Jawab Farah. Kemudian dia ikut berdiri.

“Yuk ke sebelah sini”. Yudha menunjukkan ruang dalam rumahnya kepada Farah.

Yudha kemudian berjalan duluan diikuti Farah. Farah melewati ruang tengah yang sepertinya ruang keluarga. Ruangannya luas, isinya ada sofa dan beberapa peralatan elektronik seperti TV yang besar dan ada juga yang sepertinya satu set ‘home theater’. Yudha berjalan terus melewati ruang tengah. Sampailah kemudian mereka di ruang makan. Ada meja panjang yang berisi beberapa kursi. Kursinya model lama yang terlihat mewah dengan ukiran di sandaran kursinya. Ada beberapa mangkuk yang berisi makanan sudah tertata rapih diatas meja makan.

“Ayo silahkan duduk”. Ajak Yudha sambil menggeserkan kursi untuk Farah.

“Terima kasih mas”. Jawab Farah. Lalu dia duduk di kursi yang barusan digeser oleh Yudha. Yudha pun duduk di samping Farah.

“Silahkan non dicicipi makanannya, ini makanan kesukaan den Yudha”. Kata bi Neni.

“Iya bi, terima kasih ya”. Jawab Farah, kemudian bi Neni meninggalkan mereka berdua.

Yudha kemudian memberikan piring dan sendok kepada Farah. Dia kemudian mengambil mangkuk nasi dan menyendokkan nasi ke atas piring yang ada di depan Farah.

“Sudah mas, cukup segini aja”. Ujar Farah.

“Kalau ini biasanya saya yang banyak makan, ini makanan favorit saya”. Kata Yudha setelah dia mengambil nasi dan menaruh nya di atas piring. Kemudian dia mengambil daging gepuk dan kemudian sayur lodeh. Ketika Yudha akan mengambilkan lauk dan sayur kemudian Farah berkata.

“Biar saya yang ambil sendiri mas…”. Ujar Farah. Kemudian dia mengambil sendiri lauk dan sayuran yang ada di meja makan.

“Silahkan pilih saja ya yang kamu mau”. Ujar Yudha sambil mulai makan.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Biasanya dulu kami selalu makan bertiga, saya disini dan mama papa disitu”. Ujar Yudha sambil menunjuk ke arah depannya.

Selanjutnya mereka ngobrol lagi seperti biasa. Yudha banyak bercerita tentang rumahnya dan orang tuanya ketika mereka masih ada. Farah banyak bertanya mengenai keadaan rumah dan situasi disini ketika orang tua Yudha masih ada. Sekarang tidak nampak kesedihan di raut wajah Yudha ketika dia menceritakan orang tuanya yang sudah tiada. Dia nampak bahagia ada Farah disampingnya yang bisa diajak untuk berbicara.

Setelah selesai makan kemudian mereka duduk kembali di ruang tamu, sementara meja makan dibereskan oleh bi Neni.

“Oh iya besok hari Jum’at kamu masih syuting ditempat tadi?”. Tanya Yudha.

“Besok pindah lagi mas syuting nya, tadi kata bang Yopy syutingnya di daerah Matraman”. Jawab Farah.

“Oh gitu, syuting memang sering pindah-pindah begitu ya…”. Ujar Yudha.

“Iya mas tergantung dari set lokasinya, tapi pernah juga sih saya syuting di satu tempat saja, seperti di studio Persari yang di Ciganjur”. Jawab Farah.

“Oh gitu ya, jadi semua adegan dilaksanakan di satu tempat saja?”. Tanya Yudha.

“Iya mas, kalau di studio Persari tempatnya sangat luas, mau adegan apapun ada disana. Dirumah, dikebun, di jalan atau setting seperti hutan juga ada disana. Jadi bisa menghemat budget kalau kata bang Yopy”. Jawab Farah.

“Oh gitu, jadi bang Yopy yang menentukan budget?”. Tanya Yudha.

“Bukan mas, produser yang menentukan budget, bang Yopy hanya melaksanakan saja di lapangan”. Jawab Farah. Dia sedikit banyak mengetahuinya dari pembicaraan dengan bang Yopy.

“Oh begitu”. Ujar Yudha.

“Oh iya sudah hampir malam, mama kamu sudah pulang belum?”. Tanya Yudha.

“Sebentar mas, saya telpon mama dulu”. Ujar Farah kemudian dia membuka HP nya.

“Halo mam… sudah dimana?”. Tanya Farah.

“Mama sudah mau sampai rumah nih, kamu masih di rumah Yudha?” Tanya mama Farah.

“Iya mam, kalau gitu aku pulang sekarang ya”. Jawab Farah.

“Iya hati-hati ya…”. Ujar mama Farah. Kemudian Farah menutup telponnya.

“Mama sudah pulang mas…”. Ujar Farah kepada Yudha.

“Kalau begitu kita pulang sekarang saja”. Ujar Yudha.

“Iya mas”. Jawab Farah.

“Bi… saya nganter Farah pulang dulu ya”. Ujar Yudha kepada bi Neni yang segera datang menemui mereka.

“Oh iya den”. Ujar bi Neni.

“Terima kasih ya bi, masakan nya enak…”. Ujar Farah sambil tersenyum.

“Iya sama-sama non, bibi senang masakannya bisa cocok sama non Farah”. Jawab bi Neni.

“Saya pulang dulu ya bi”. Ujar Farah.

“Iya non hati-hati dijalan”. Jawab bi Neni.

“Iya bi”. Jawab Farah sambil melangkah keluar dari rumah diikuti Yudha. Mereka kemudian masuk kedalam mobil dan Yudha mulai menjalankan mobilnya. Yudha berpikir seandainya Farah menjadi istrinya pasti bisa sering berduaan dirumah seperti tadi. Belum apa-apa sudah berpikir jauh, Yudha jadi tersenyum sendiri.

“Hayo senyum-senyum sendiri, kenapa… mikir yang jorok lagi ya…”. Ujar Farah menyelidik.

“Nggak…”. Jawab Yudha sambil tersenyum.

“Terus kenapa senyum-senyum sendiri?”. Tanya Farah.

“Senang aja sudah bisa mengajak kamu main kerumah. Bisa makan berdua, bisa ngobrol berdua”. Jawab Yudha.

“Oh gitu…”. Ujar Farah. Dia pun sebetulnya merasa senang bisa berdua dengan Yudha. Hanya saja dia masih malu untuk mengungkapkan ini semua.

Jarak antara rumah Yudha dengan rumah Farah memang tidak terlalu jauh. Sebentar saja mereka sudah sampai di depan rumah Farah. Yudha sebetulnya masih ingin berdua dengan Farah, tapi nggak enak sama mama Farah terus-terusan berdua begini padahal mereka belum lama kenal dan tidak punya ikatan apa-apa. Tampak mobil Farah sudah ada didepan rumahnya pertanda mama Farah sudah sampai rumah. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan memasuki rumah Farah. Waktu itu hari sudah gelap pertanda malam sudah datang.

“Farah pulang mam…”. Seperti biasa Farah memanggil mamanya ketika sudah sampai rumah. Mama Farah kemudian keluar dari ruang tengah.

“Oh kalian sudah pulang. Hari ini kemana saja?”. Tanya mama Farah. Yudha kemudian menyalami mama Farah seperti biasa.

“Malam tante…”. Ujar Yudha.

“Iya malam juga”. Jawab mama Farah.

“Ah mama, kan tadi Farah sudah bilang kalau ke rumahnya Yudha”. Jawab Farah.

“Iya siapa tau kalian kemana lagi gitu”. Ujar mama Farah.

“Nggak kok tante, tadi sepulang dari syuting kita langsung ke rumah saya”. Kali ini Yudha yang menjawab.

“Kalian sudah makan? Pasti sudah kan…”. Ujar mama Farah tanpa menunggu jawaban dari keduanya.

“Iya sudah mam, tadi aku makan di rumah Yudha mam. Masakannya bi Neni enak mam”. Ujar Farah.

“Bi Neni…?”. Tanya mama Farah.

“Iya mam, bi Neni itu yang selama ini selalu masak dan bantu-bantu di rumahnya mas Yudha”. Jawab Farah.

“Oh gitu…”. Ujar mama Farah.

“Bi Neni di bagian dapur terus mang Ukan yang merawat rumah dan taman”. Terang Farah.

“Oh gitu, anak mama sudah hafal ya sama orang yang ada di rumah Yudha…”. Ujar mama Farah. Yudha tersenyum mendengar percakapan Farah dan mamanya.

“Mama apaan sih”. Kata Farah tersenyum malu.

“Oh iya tante, besok tante masih ada keperluan tidak? Kalau tante masih sibuk biar saya saja yang antar Farah”. Ujar Yudha menawarkan diri.

“Besok tante tidak kemana-mana, jadi besok biar tante saja yang antar Farah”. Jawab mama Farah.

“Oh iya baik tante”. Jawab Yudha, padahal dia masih ingin berdua terus sama Farah. Besok adalah hari terakhir dia di Jakarta. Hari sabtu dia harus kembali ke New York untuk bertugas.

“Lagipula tante nggak enak sama nak Yudha, dari kemarin antar jemput Farah terus, merepotkan nak Yudha terus”. Ujar mama Farah.

“Nggak apa-apa tante, nggak merepotkan kok”. Jawab Yudha.

“Iya terimakasih sudah antar jemput Farah terus, tapi besok biar tante saja yang antar Farah”. Ujar mama Farah.

Mama Farah sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Yudha. Dia pasti ingin berdua terus sama anaknya. Tapi besok dia memang tidak ada kegiatan, jadi sebaiknya dia saja yang mengantar Farah ke lokasi syuting.

“Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante, sudah malam”. Ujar Yudha.

“Oh iya, sekali lagi terima kasih ya sudah bersedia antar jemput Farah”. Ujar mama Farah.

“Iya tante sama-sama”. Jawab Yudha kemudian dia menyalami mama Farah seperti biasa.

Yudha kemudian keluar dari rumah diantar Farah. Sebelum masuk ke mobilnya, Yudha berbicara kepada Farah di teras rumahnya.

“Hari sabtu lusa saya mau berangkat lagi ke New York. Kalau kamu tidak ada acara lagi sehabis pulang syuting, saya mau kesini lagi untuk pamitan ya”. Ujar Yudha.

“Oh iya ya, mas Yudha sudah seminggu ya di Jakarta, jadi sabtu berangkat lagi ke New York ya…”. Ada nada kecewa disana.

“Iya saya berangkat hari sabtu, padahal saya masih ingin berlama-lama disini”. Ujar Yudha.

“Oh mas Yudha masih ada urusan di Jakarta?”. Tanya Farah.

“Iya masih ada urusan disini”. Jawab Yudha.

“Urusan apa mas?”. Tanya Farah.

“Urusan hati sama kamu…”. Ujar Yudha tersenyum. Dia ingin sekali-kali bicara seperti ini kepada Farah.

“Mas bisa aja… bisa ternyata ya mas Yudha ngegombal”. Jawab Farah. Pipinya bersemu merah.

“Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu ya”. Ujar Yudha.

“Iya mas hati-hati ya”. Jawab Farah. Yudha mengangguk dan berjalan menuju pintu mobilnya. Dia kemudian mulai menyalakan mobilnya, dia melambaikan tangan kepada Farah sambil tersenyum. Farah balas melambaikan tangan. Yudha kemudian meninggalkan rumah Farah.

***